Tampilkan postingan dengan label Bisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bisnis. Tampilkan semua postingan

Kangkung Hidroponik: Kisah Sukses dan Teknik

Kisah Sukses Petani Kangkung Berpenghasilan 97.2 Juta/Bulan

Beberapa minggu ini nama Charlie Tjendapati seorang praktisi hidroponik dari Bandung mendadak menjadi viral dan menjadi perbincangan hangat di media sosial, terutama dikalangan pecinta hidroponik dan penggemar tanaman. Kisah tersebut berawal setelah beliau memposting sebuah status diberandanya, beliau menceritakan tentang pendapatannya dari budidaya kangkung hidroponik yang mencapai Rp. 97.200.000/bulan.

Saya pribadi setuju dengan apa yang telah dilakukan oleh pak Charlie, beliau memposting status tersebut bukan untuk menyombongkan diri atau pamer. Tapi beliau melakukannya untuk tujuan yang sangat mulia, yaitu agar menginspirasi orang lain. Beliau berkeinginan agar petani Indonesia maju, agar anak-anak muda menekuni dunia tani. Beliau prihatin dengan pertanian di negeri kita ini, semua anak muda tidak berminat untuk bertani, tidak ada regenerasi petani di negeri kita ini yang konon adalah negeri agraris.

sumber: mitalom.com

Cara Menanam Kangkung Hidroponik Sederhana

Hidroponik menjadi pilihan yang tepat bagi mereka yang ingin bercocok tanam tetapi memiliki keterbatasan lahan di rumah. Salah satu tanaman yang umum untuk sistem ini adalah kangkung. Pada dasarnya, cara menanam kangkung hidroponik cukup mudah bahkan bagi pemula sekalipun karena alat dan bahan dapat dibeli di toko pertanian tersekat.

Sebelum membahas lebih lanjutnya, ada baiknya memahami terlebih dahulu apa yang dinamakan hidroponik, secara sederhana, hidroponik menggunakan media air atau larutan yang berisi nutrisi untuk menggantikan tanah. Tidak semua tanaman dapat tumbuh di media air. Sebagian besar tumbuhan hidroponik adalah sayuran yang memiliki akar serabut sehingga mudah mengambil nutrisi secara langsung dari air. Selain itu, sayuran memiliki ukuran yang kecil dan jangka waktu panen yang singkat.


Alat-alat yang dipersiapkan untuk menumbuhkan tanaman hidroponik kangkung antara lain adalah keranjang besek, kaleng plastik bekas cat ukuran 5 kg, busa filter akuarium dan nutrisi AB mix. Dan terakhir adalah benih kangkung yang berkualitas baik. Tahap awal adalah merendam benih kangkung sebanyak 2-3 sendok makan dalam air selama 1 malam. Saat melakukan perendaman, benih kangkung yang mengapung harus dibuah karena tidak memiliki kemampuan untuk tumbuh kecambah.


Pada tahap ini tidak diperlukan nutrisi hidroponin cukup air bersih saja. Ketika benih telah siap, letakkan pada kaleng bekas cat dengan berisi air seperti di bawah ini. Perlu diperhatikan bahwa, sistem hidroponik bukan memasukkan benih ke dalam air lalu dibiarkan tumbuh. Jadi pastikan hanya akar dari kangkung yang menyentuh air sedangkan bagian batangnya tetap berada di luar jangkauan.
bertanam kangkung hidroponik


Pada saat biji atau benih kangkung sudah pecah dan muncul daun lembaga langkah selanjutnya buang air dan ganti dengan larutan nutrisi ABmix 400 ppm. Ketika kangkung sudah berusia lebih dari satu minggu, kandungan nutrisi ditingkatkan sampai maksimal 800 ppm. Karena kondisi tumbuhan yang membutuhkan banyak unsur hara. Cara menanam kangkung hidroponik ini dapat dilakukan di pekarangan rumah yang sempit. Cukup letakkan bejana di tempat terbuka yang terdapat sinar matahari langsung.

sumber: kebunhidro.com

15 Kiat Sukses Bisnis Kuliner

Bagi anda yang ingin terjun dalam bisnis kuliner, baik itu bisnis rumahan, restoran, maupun bisnis waralaba, diperlukan beberapa pengetahuan penting mengenai bisnis ini. Pemikiran mengenai jangka panjang merupakan hal penting yang perlu anda tahu sebelum akhirnya membuka bisnis kuliner. Jika anda memiliki investor, mintalah pada investor untuk memercayakan sepenuhnya bisnis ini padamu sebab campur tangan banyak pihak dalam urusan bisnis tidaklah baik.

Berikut ini 15 tips sukses bisnis kuliner yang dirangkum dari beberapa sumber.

1. Buatlah Produk yang Antimainstream:
Produk yang sudah banyak dijual di pasaran memang akan lebih mudah menjangkau pasar. Namun, anda perlu inovasi untuk menjadikan bisnismu punya kekuatan unik yang tidak dimiliki oleh pebisnis kuliner lainnya. Gunakan kreativitasmu untuk menunjukkan pada masyarakat betapa uniknya produk kuliner yang anda jual.

2. Menu andalan:
Sebelum memulai usaha, sebaiknya anda melakukan survei terlebih dahulu tentang menu yang beredar di pasar. Lalu, pilihlah menu yang belum banyak dijual di sana guna mengurangi tingkat persaingan. Namun pilihan menu tersebut harus disesuaikan dengan target pasar atau konsumen.

3. Optimis dan Berpikir Positif:
Kuasai keahlian secara mendalam pada beberapa hal. Jangan memiliki keahlian banyak tetapi hanya pada level rata-rata. Sanggup bekerja keras untuk bisnis yang dibangun ketika orang lain hanya sekedar coba-coba atau bermain dengan bisnis yang dibangun. Hapus ego, karena jika menjalankan bisnis dengan mengikuti ego, maka bisnis kamu akan lebih mudah menemui kegagalan.

4. Partner yang Bisa Dipercaya:
Saat memilih partner, pilihlah partner yang bisa dipercaya. Jika menggunakan sistem kemitraan, gunakan komposisi kemitraan yang seimbang atau rasio kepemilikan saham 50:50. Jika perlu, kembangkan saham yang anda miliki agar lebih besar dari saham yang dimiliki partner agar anda bisa memegang keputusan penuh dalam perusahaan.

5. Modal awal usaha:
Banyak cara untuk menutupi kekurangan modal, misalnya melalui mencari rekanan yang bisa diajak kerja sama, meminjam ke koperasi atau bank melalui penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) untuk pelaku UKM. Bila modal anda sangat tipis dan ingin melakukannya sendiri itu lebih baik, karena anda tak akan pusing dalam hal lain anda dapat fokus dalam hal pemasaran, namun berhematlah untuk tambahan modal kelak, misakan anda ingin menjadi pengusaha keripik, anda membuat keripik singkong dengan modal hanya 10 ribu, anda goreng dan bungkus menjadi 40 bungkus dengan harga satuan Rp.500, sisihkan separuh keuntungan untuk tambahan modal, menjadi 50, 60, 100, 500 dan bukan hal mustahil hingga ribuan bungkus atau pabrikan. Bila memilih usaha patungan, sebaiknya Anda membuat surat perjanjian yang mengatur pembagian wewenang dan hasil usaha guna menghindari masalah di kemudian hari. Bila meminjam dari lembaga keuangan, maka biasakan untuk membuat laporan keuangan setelah usaha berjalan. Laporan keuangan tersebut mencantumkan pemasukan, pengeluaran, dan aset usaha yang dimiliki. Hal ini dilakukan agar lembaga keuangan tersebut mengetahui secara pasti perkembangan usaha anda.

6. Lokasi usaha:
Pilihlah lokasi usaha yang banyak dikunjungi atau dilalui banyak orang. Saat menentukan lokasi usaha juga harus memperhitungkan modal yang akan dikeluarkan. Jangan sampai modal anda terkuras hanya untuk menyewa atau membeli tempat usaha, anda pun dapat melakukannya tanpa mempunyai tempat usaha tapi dengan menitip produk usaha anda dengan memilih ke strategisan lokasi atau tempat usaha mitra anda. Sejumlah lokasi usaha makanan yang strategis antara lain di sekitar sekolah atau kampus, kawasan perkantoran, lingkungan pasar dan mal, perumahan, dan tempat wisata.

7. Bukalah Bisnis Secara Sederhana dan Bertahap:
Jangan langsung menginginkan bisnis dibuka secara besar-besaran. Bukalah dengan konsep sederhana, namun tetap terorganisasi dengan baik sehingga bisa mengembangkannya secara bertahap. Jangan terlalu cepat melakukan ekspansi bisnis, karena justru dapat merusak bisnis secara keseluruhan.

8. Pemasok Bahan Baku:
Memiliki pemasok tetap yang dapat memasok semua bahan baku produksi setiap harinya sangat dianjurkan guna kelancaran proses produksi. Selain bisa mendapatkan harga relatif murah, anda pun dapat menjadi orang kepercayaan jika anda dalam keadaan sulit atau terjepit modal, selain itu anda juga bisa diprioritaskan bila suatu saat bahan baku yang anda butuhkan langka di pasaran. Usahakan memiliki lebih dari satu pemasok sebagai alternatif bila pemasok yang satu tidak bisa menyediakan permintaan. Pembelian bahan baku dari pemasok ini biasanya menggunakan sistem pembayaran kredit atau tunai dengan potongan harga. Besarnya potongan harga relatif, tergantung kesepakatan kedua belah pihak, tapi pada umumnya berada pada kisaran 15-20 persen.

9. Kebersihan adalah Hal Penting dalam Bisnis Kuliner:
Kebersihan merupakan hal penting yang selalu harus diperhatikan dalam bisnis ini. Percuma makanan enak tapi tidak diproses secara baik dan higienis. Oleh sebab itu, gunakan peralatan kaca agar kebersihannya bisa terlihat oleh pelanggan.

10. Sumber Daya Manusia:
Idealnya, karyawan terbagi ke dalam kelompok tukang masak, pelayan, dan kasir. Tapi, bila usaha tergolong kecil, seorang asisten yang dapat mempermudah pekerjaan anda itu saja sudah lebih dari cukup. Jangan lupa untuk memerhatikan kesejahteraan karyawan dengan memberi gaji sepadan dan tepat waktu. Hal ini untuk menjaga kestabilan keterampilan dan kesiapan karyawan.

11. Sikap dan Perilaku:

Penting untuk menjaga sikap maupun perilaku anda saat berhadapan konsumen, semakin anda ramah dan sopan maka akan semakin banyak konsumen yang berniat menjadi pelanggan anda. Coba anda bayangkan apakah anda mau berbelanja pada pedagang yang sombong, pelit atau jutek? Apalagi kalau kucel dan dekil.

12. Kepuasan Pegawai Juga Harus Diperhatikan:
Selain mengutamakan kepuasan pelanggan, kepuasan pegawai juga perlu diperhatikan. Pelanggan yang senang akan susah diperoleh jika tak mempunyai pegawai yang juga senang. Fokus pada para pegawai dan hargai serta perlakukan mereka dengan baik. Jangan tertutup pada pegawai, lakukan transparasi agar dapat memenangkan kepercayaan dan kesetiaan mereka. Persaingan terbesar dengan bisnis makanan lainnya adalah memperoleh pegawai yang terbaik, bukan kompetisi memperoleh pelanggan. Jika memiliki pegawai yang bagus, maka secara otomatis pelanggan akan berdatangan.

13. Target Pemasaran:
Menyesuaikan jenis usaha dengan target pasar merupakan salah satu kunci sukses menjalankan usaha makanan dan minuman. Walaupun anda menawarkan harga murah meriah, tapi tidak sesuai dengan selera konsumen ini bisa menjadi kendala.

14. Promosi yang Tepat:

Promosi dari mulut ke mulut hingga saat ini tetap menjadi andalan promosi usaha anda ke banyak orang. Ini berhasil jika anda bisa memuaskan konsumen dan nantinya mereka pun bisa menjadi pelanggan setia. Dari pelanggan setia ini lah cerita tentang keunggulan usaha anda akan menyebar ke publik. Bila ada dana lebih, tak ada salahnya mempromosikan usaha lewat media, seperti spanduk, papan nama, pamflet, leaflet, atau via jejaring sosial seperti Facebook atau twitter.

15. Perizinan Usaha:

Demi keamanan dan kenyamanan usaha, pastikan anda mengurus surat izin usaha dari instansi pemerintahan atau pihak berwenang setempat. Jika usaha semakin berkembang dan besar, ada baiknya segera mengurus Nomor Pokok Wajib pajak (NPWP) bagi usaha anda, mengurus perizinan ke Kementerian Kesehatan, bahkan kalau bisa mengurus sertifikasi halal untuk semua produk usaha anda ke Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Akhirnya, bekerja sambil berdoa adalah kunci keberhasilan anda. Berjuanglah dan teruslah berdoa kepada Yang Maha Pemberi dan Pengatur rezeki, karena dialah yang menilai hasil kerja keras anda. Jangan sesekali memakai magic dalam usaha karena sudah pasti akan hancur walau cepat berkembang. Berusahalah bersih!

sumber: kaskus.co.id

Inilah 5 Tanda Bisnis Anda Akan Gagal

Jika Anda merasakan tanda-tanda berikut, itu artinya bisnis Anda akan segera mengalami kegagalan.

Ketika Anda memulai suatu bisnis, Anda harus membenahi sifat Anda terlebih dahulu. Pertama yang harus Anda benahi adalah, membuat bisnis tidak dalam sekejap mata, Anda harus melalui proses. Bahkan proses kegagalan bisa Anda alami berulang-ulang kali sebelum Anda sukses. Nah, sekarang Anda harus tahu 5 sifat yang membuat bisnis Anda akan gagal.

Tujuan Anda

Sekali lagi, dalam berbisnis, tujuan Anda bukanlah uang. Memang siapa yang tidak mau mendapatkan uang dengan berbisnis. Menjadi seorang entrepreneur adalah untuk memecahkan masalah disekitar Anda, Anda membuat produk atau membuat inovasi agar masyarakat dapat memperoleh kemudahan. Misalnya Anda membuat website untuk melihat cuaca di suatu daerah, bukan lagi kota tetapi lebih detail. Atau Anda membuat kuliner baru. Ketika Anda berfokus dalam mengembangkan produk, uang akan datang dengan sendirinya.

Dukungan

Anda jangan terlalu sok untuk membuat bisnis hanya seorang diri. Perlu diketahui, setiap bisnis yang sudah terkenal diseluruh dunia, pasti dikerjakan oleh 2 orang lebih atau minimal 2 orang. Kenapa? Karena kekuatan kolaborasi sangat tinggi. Anda tidak akan bisa bertahan selama 1 tahun jika semuanya Anda kerjakan sendiri, walaupun Anda mempunyai karyawan sekalipun. Ingat, we better me.

Terlalu percaya diri

Ketika Anda memutuskan untuk menjadi seorang entrepreneur, Anda pasti mempunyai pikiran yang liar. Anda mempunyai pikiran liar tersebut karena membaca kisah-kisah sukses, Anda pasti ingin menjadi seperti mereka. Tetapi, jangan terlalu percaya diri. Dalam dunia entrepreneur, semuanya serba mendadak. Anda bisa mendadak bangkrut atau bahkan Anda bisa mendadak kaya mendadak. Jadi, pertama yang harus Anda lakukan adalah selalu berkonsultasi. Anda dapat menjadikan entrepreneur yang sukses menjadi panutan. Tetapi ingat, selalu percaya pada diri Anda sendiri, bukan orang lain.

Melupakan nilai

Seperti yang disebutkan di nomor pertama, apa tujuan Anda menjadi seorang entrepreneur. Untuk mendapatkan uang? Itu sudah pasti, tetapi itu bukan tujuan sebenarnya. Anda harus mempunyai nilai, nilai yang bisa bermanfaat. Misalnya, Anda mengetahui bahwa ada website, sebut saja Studentpreneur.co, website tersebut ternyata sangat sukses dalam bisnis untuk anak muda. Lalu Anda mencoba hal yang sama, membeli domain dan menulis soal bisnis. Padahal, Anda tidak mempunyai passion dibidang itu. Anda harus fokus pada bidang yang memang Anda kuasai dan memang berguna untuk masyarakat nantinya.

Waktu

Anda tidak membuat bisnis dan mendapatkan kesuksesan hanya selama 2 bulan atau bahkan setahun. Anda tidak boleh menentukan deadline kapan Anda sukses, misalnya “Saya harus sukses selama 1 tahun, jika tidak sukses maka saya akan mundur”. Anda boleh menentukan deadline agar bisnis Anda terus berjalan, tetapi jangan sampai Anda akhirnya mundur karena lamanya mendapatkan kesuksesan.

 Itulah 5 sifat yang harus Anda hindari sebagai seorang entrepreneur.

sumber: studentpreneur.co

Contoh Kisah Sukses Orang yang Pantang Menyerah

Miliarder Ini Pernah Ditolak untuk 30 Pekerjaan Berbeda

Jack Ma saat ini merupakan salah satu pengusaha paling sukses di dunia. Perusahaannya, Alibaba, menarik 100 juta konsumen dalam sehari. Kekayaannya saat ini diperkirakan $20,4 miliar.

Tapi sebelum memiliki kekayaan lebih dari Rp 262 triliun, yang membuatnya menjadi orang terkaya di China, dia ternyata telah mengalami banyak penolakan saat melamar pekerjaan.

Dikutip dari laman Business Insider, Rabu, 18 Februari 2015, Ma mengungkap setelah lulus kuliah, dia melamar 30 pekerjaan berbeda, termasuk di restoran cepat saji KFC. Semuanya ditolak.

"Saya melamar pekerjaan di kepolisian, mereka bilang Anda tidak cukup bagus. Saya melamar ke KFC, ada 24 orang yang juga melamar dan 23 orang diterima. Saya satu-satunya yang ditolak," kata Ma.

Saat Ma membuat Alibaba pada 1998, dia menemui lebih banyak kendala. Situs retail di internet itu tidak mendatangkan keuntungan selama tiga tahun pertama, memaksanya untuk kreatif.

Salah satu tantangan utamanya adalah, karena Alibaba tidak menyediakan cara melakukan pembayaran, serta tidak ada bank yang mau bekerjasama dengannya.

Ma kemudian memutuskan untuk membuat sendiri program pembayaran, yang dinamakannya Alipay. Program itu secara otomatis menukarkan kurs, pada pembayaran antara pembeli dan penjual internasional.

"Begitu banyak orang yang saya ajak bicara saat itu tentang Alipay, mengatakan bahwa ini ide terbodoh yang pernah saya miliki. Saya tidak peduli jika itu bodoh, selama orang dapat menggunakannya," ucap Ma.

Hari ini, 800 juta orang menggunakan Alipay. Jadi, apakah itu ide terbodoh?

sumber: viva.co.id

Paradigma Baru Bisnis Penerbitan Buku di Era Digital

Oleh: Bambang Trim

Memintal Bisnis Digital untuk “Anak BerBuDI”

Bulan November dan awal Desember  2014 ini rasa-rasanya saya terkoneksi terus dengan isu BuDI alias buku digital Indonesia. Pertama, ketika diundang menjadi pembicara dalam sharing session bersama Qbaca Telkom pertengahan November lalu. Kedua, ketika beraudiensi dengan Menteri Anies Baswedan pada minggu yang sama. Terakhir, ketika menjadi peserta sekaligus moderator untuk acara Digital Creative Camp & Business Gathering bersama Kemenpar dan Ikapi.

Topiknya semua menjurus pada pengembangan buku digital di samping isu krusial soal minat baca. Tentu yang menjadi sasaran adalah anak-anak kini yang umumnya lahir pada tahun 2000-an atau disebut-sebut sebagai Generasi Z. Generasi yang menunjukkan tanda-tanda mampu beradaptasi sangat cepat dengan teknologi.

Event-event itu menggumpalkan semangat bahwa bagaimanapun penerbitan digital sudah menjadi tantangan sekaligus peluang di depan mata. Bakal lahir anak-anak yang berBuDI alias belajar dan bermain dengan buku digital. Dari semula muncul buku digital generasi pertama dengan hanya menyajikan teks, kini telah ada buku digital Gen III dan Gen IV yang mulai menggabungkan unsur video, audio, animasi, dan game.

Hari S. Tjandra, pendiri perusahaan pengembang konten edukasi Pesona Edu dan juga Ketua Komunitas Pengembang Software Edukasi MIKTI, menyebutkan betapa peluang bisnis konten digital ini terbuka di ranah edukasi. Indonesia memiliki puluhan juta siswa yang tersebar di seluruh Nusantara dan pola belajar multimedia akan menjadi pilihan yang membuat peserta didik atau siswa menikmati proses belajar sekaligus bermain.

Dua hal pokok dari pengembangan produk penerbitan digital ini disebutkan adalahscript dan programming sehingga para penerbit akan menggabungkan dua kekuatan, yaitu pengembangan konten (content developing) dan penggunaan teknologi IT. Dengan kekayaan konten yang dimiliki penerbit Indonesia, semuanya dapat ditampilkan kini secara audio-visual sekaligus interaktif.

Dalam pertemuan dengan Menteri Anies, beliau menyampaikan salah satu kompetensi yang harus ditanamkan pada guru adalah kemampuan berkisah. Secara teori akademis, ini disebut kemampuan komunikasi naratif. Berkisah itu tidak harus identik dengan story telling atau mendongeng karena story telling adalah bagian dari berkisah. Namun, berkisah contohnya adalah kemampuan menyampaikan materi pembelajaran dengan pengantar  yang membangkitkan rasa ingin tahu anak.

Saya jadi teringat teman saya, Tasaro GK, penulis novel yang kini senang menyebut dirinya sebagai juru cerita. Tasaro yang juga memiliki sekolah PAUD di Jatinangor ini dalam beberapa bulan terakhir kerap mengisi kelas untuk guru terkait teknik menyampaikan pembelajaran secara berkisah. Akhirnya, kami berdua bersepakat ampuhnya komunikasi naratif ini digunakan dalam metode pembelajaran. Bahkan, hal itu semakin menemukan momentumnya dengan pembelajaran multimedia.

Nah, dalam hal ini perangkat pembelajaran digital atau multimedia akan sangat membantu guru mengembangkan sebuah kisah. Contoh sederhana dari sebuah video yang diunduh melalui Youtube, guru sudah bisa menyampaikan pembelajaran secara berkisah berbasis multimedia. Tentu akan lebih mantap jika ada produk yang menyiapkan segalanya untuk guru menjelaskan sebuah pembelajaran dilengkapi animasi, game edukasi, dan tentunya audio-video.

Guru dan  peserta didik sama-sama menikmati aktivitas BerBuDI tadi alias belajar dan bermain dengan buku digital. Ya, produk ini tetap dinamakan sebagai BUKU yang menghimpun segalanya, bukan dinamakan bahan ajar multimedia atau game edukasi. Sebut saja BUKU atau biar lebih spesifik disebut BuDI alias buku digital Indonesia. Jadi, BuDI adalah buku generasi terbaru untuk generasi kini dan masa mendatang Indonesia.

Benang merah, kuning, dan hijau untuk masuk ke dalam ranah atau rimba digital sudah tersedia. Ada Ikapi atau Ikatan Penerbit Indonesia yang memiliki kompetensi pengembangan skrip atau konten dasar buku digital. Ada MIKTI atau Masyarakat Industri Kreatif Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia yang memiliki kompetensi di bidang programming. Tentulah Indonesia tidak kalah-kalah amat dari negara maju seperti Amerika Serikat ataupun Korea Selatan dalam soal pengembangan teknologi digital. Jadi, tinggal bagaimana benang-benang itu dipintal menjadi sebuah peluang dan kompetensi di ranah bisnis buku digital.

Saya sendiri sudah coba memintal jalan digital itu sejak 2013. Teknologi begitu digjaya dan tidak ada yang mampu membendungnya, termasuk kita. Bahwa buku fisik masih akan tetap bertahan, ya. Namun, bahwa buku digital tidak akan berpengaruh hebat, ini yang masih bisa didebat.

Tidak ada kata lain memang bahwa content is king dan king maker-nya adalah orang-orang kreatif yang mampu membaca peluang dan menciptakan karya yang bergigi. Jadi, tidak peduli apa pun medianya, mau kertas atau bukan kertas, orang-orang kreatif tetap punya lahan untuk berkarya, termasuk di ranah BuDI. Karena itu, bersiaplah menyambut Generasi BerBuDI itu.

Catatan dari Digital Creative Camp: Ko-Penerbitan, Era yang Segera Tiba

Eloklah saya mengulas kembali tentang penerbitan digital setelah beberapa waktu lalu diselenggarakan Digital Creative Camp & Business Gathering, kerja sama Kemenpar dan Ikapi. Banyak hal sebagai catatan tersisa dan tentunya menarik untuk diungkapkan.

Salah satunya paparan Pak Hari S. Tjandra, pendiri Pesona Edu yang juga menjadi Ketua Bidang Pengembangan Komunitas Software Edukasi MIKTI, tentang peluang para penerbit untuk masuk ke dalam bisnis digital. Hal menarik yang dikemukakan Pak Hari bahwa peluang terbesar untuk pengembangan produk digital adalah di dunia edukasi dengan pangsa pasar jutaan siswa di Indonesia, terutama untuk siswa PAUD dan SD.

Ya, kita maklumi bersama bahwa kini telah lahir generasi Z atau disebut juga generasi digital yang begitu mampu beradaptasi dengan perangkat (gadget) berbasis digital. Mungkin untuk generasi kita saat ini, buku fisik masih menjadi pilihan. Namun, tiada yang dapat menebak apakah buku fisik masih akan tetap menarik bagi anak-anak generasi digital tersebut?

Mau tidak mau, penerbit harus masuk ke dalam “rimba digital”. Mau tidak mau karena jika tidak mau, ya alamat tidak akan mampu berkiprah banyak di tengah geliat bisnis digital yang terus tumbuh.

Melanjutkan paparan Pak Hari, patut dicatat bahwa pengembangan produk digital, semacam aplikasi pembelajaran, buku digital, ataupun game sebaiknya tidak berbasis internet (online) karena belum ada satu pun negara yang berhasil melaksanakan. Ya, bayangkan jika jutaan siswa mengakses konten yang sama pada satu waktu, bisa dipastikan server akan down.

Karena itu, basis offline adalah yang paling mungkin dilakukan. Pesona Edu contohnya, hanya menggunakan internet untuk verifikasi dan seterusnya dijalankan secara offline.

Lebih jauh Pak Hari mengungkapkan bahwa kunci pengembangan penerbitan digital ada dua, yaitu script dan programming. Dua hal ini memerlukan kompetensi spesifik. Dalam hal skrip, tentu diperlukan para penulis dan editor berjiwa pengembang konten. Lalu, dalam hal pemograman tentu diperlukan progamer komputer yang andal. Plus tambahannya dalam konteks pengembangan buku, terutama buku anak yaitu ilustrator/desainer yang juga mantap.

Kompetensi penerbit tentu ada sebagai pengembang konten alias mengembangkan buku cetak menjadi skrip penerbitan digital. Di sini terjadi kolaborasi antara penulis, editor, ilustrator, dan desainer. Hal ini terutama berlaku untuk buku-buku digital generasi II, III, dan IV yang menanamkan (embedded) konten, seperti animasi, game, film, berikut audio.

Kompetensi pemograman tentu dimiliki beberapa perusahaan berbasis IT. Lebih mudah menandai perusahaan seperti ini adalah dengan melihat anggota asosiasi Masyarakat Industri Kreatif Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia (MIKTI) yang memang bergerak dalam bidang pengembangan komunitas industri kreatif berbasis digital, seperti animasi, game, dan software. Hal lain terkait pemograman ini tentu soal sekuriti untuk melindungi karya digital dari pembajakan yang tidak bertanggung jawab.

Karena itu, satu hal yang lebih cepat dilakukan daripada penerbit harus berinvestasi di bidang IT adalah melakukan kerja sama ko-penerbitan (co-publishing) dengan perusahaan berbasis digital. Pola ini sangat dimungkinkan seperti halnya ditawarkan Pesona Edu yang mulai membuka peluang kerja sama seperti ini pada awal 2015.

Saya sangat bersetuju dengan pendapat Mas Putut Widjanarko dari Mizan bahwa sebaiknya penerbit berkonsentrasi atau mengubah pola pikirnya sebagai pengembang konten, bukan sekadar produsen buku fisik. Sebagai pengembang konten, penerbit tidak akan terpengaruh dengan perubahan yang terjadi pada media penyampai informasi.

Going digital? Tentu hal itu tidak semestinya menjadi kebimbangan lagi. Era generasi digital sudah di depan mata. [BT]

sumber: manistebu.com

Jalani SMA Hanya Setahun, Lulus Cum Laude di UI

”Saya tidak memaksa murid untuk punya nilai bagus. Tapi, menekankan pentingnya kejujuran. Lihat, koruptor itu adalah orang-orang pintar, namun sudah tidak jujur sejak dalam pikiran”

Bunyi lonceng di salah satu sudut sekolah menandai berakhirnya ujian nasional (unas) pada pertengahan 2006 lalu. Andri Rizki Putra yang saat itu masih SMP bergegas keluar kelas. Terik siang yang menyelimuti Jakarta kala itu menemani langkah kakinya yang cepat menyusuri teras-teras panjang kelas. Dia buru-buru ingin bertemu kepala sekolah. Belum sampai mengetuk pintu ruang kepala sekolah, dia bertemu salah seorang guru.

”Kenapa ingin ke kantor kepala sekolah?” tanya sang guru. Tanpa takut, remaja dengan seragam putih biru itu bilang bahwa dirinya ingin mengadukan buruknya sistem ujian nasional. Bagaimana bisa, tanya Rizki, guru-guru tutup mata bahwa murid-murid peserta ujian menyontek dengan bebas? Bahkan, guru mengirim kunci jawaban lewat pesan pendek? ”Buat apa pintar kalau didapat dari ketidakjujuran?” tegasnya.

Bagi Rizki, apa yang dia alami adalah suatu yang tidak masuk akal. Apalagi, saat sang guru justru balik bertanya kenapa. ”Kenapa Rizki tak bilang ke saya (untuk dapat sontekan)? Nanti pasti kamu dapat nilai yang lebih bagus,” kata guru itu, lantas mencegah Rizki bertemu kepala sekolah.

Padahal, tanpa menyontek, Rizki bisa lulus dengan nilai bagus. Rata-rata nilai yang dia dapatkan dalam tiga mata pelajaran, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan Matematika, adalah 8,75. Ironi tak mandek di situ. Teman-teman sekolah Rizki yang notabene siswa salah satu SMP unggulan di Jakarta Selatan justru mengucilkannya.

Keluar dari Sekolah

Tentangan sosial membuat hari-hari kelulusan semakin berat. Sempat dia berpikir hendak melapor ke Indonesia Corruption Watch (ICW) dan mengekspose ke media, namun ditahan orang-orang dekatnya. Rizki drop dan depresi. Dia menghabiskan masa-masa menjelang SMA dengan mengurung diri di kamar dan enggan keluar rumah.

Saat masuk SMA pada 2006 juga, Rizki merasakan kekosongan hati yang luar biasa. Meski diterima di SMA unggulan, mendapat beasiswa prestasi, dan mencetak nilai tertinggi, dia sudah tak bersemangat sekolah. Akhirnya Rizki hanya satu bulan di SMA dan memilih putus sekolah. Kepercayaannya terhadap sekolah formal luntur.

Namun, jangan dikira Rizki akan menyerah untuk mendapat pendidikan. Dia meyakinkan sang ibu, Arlina Sariani, 50, bahwa dirinya mencari pola belajar dengan caranya sendiri. ”Saya menamakan jalur pendidikan SMA saya adalah unschooling,” ceritanya saat ditemui Jawa Pos di Grand Indonesia akhir pekan lalu (26/7).

Bukan homeschooling yang harus membayar mahal biaya pendidikannya. Bukan juga bimbingan belajar yang masuk pendidikan nonformal. Unschooling merupakan jalur pendidikan tanpa lembaga, bahkan tanpa pengawasan orang tua. Dia belajar sendiri di rumah. Sumber pendidikannya dia raih dari membaca dan mempelajari buku-buku bekas dari saudara-saudaranya.

Belajar Sendiri untuk Ikut Ujian Nasional

Sebetulnya unschooling yang dijalani Rizki merupakan program pemerintah untuk pendidikan informal berupa pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM). Sistem itulah yang melahirkan ijazah paket. Sayang, ijazah paket sudah kadung bercitra negatif. Hanya karena lulusan ijazah paket, mayoritas anak-anak putus sekolah dan tak mampu secara akademik. Akses ke perguruan tinggi juga susah karena beberapa kampus tidak menerima pelamar dengan ijazah tersebut.

Selain research melalui internet, Rizki pergi ke dinas pendidikan untuk meyakinkan tetap bisa mengikuti ujian kesetaraan dengan pola pendidikan seperti itu. Bahkan, dia tertantang mengambil ujian paket C setara SMA dengan sistem akselerasi. Ternyata, diknas mengizinkan Rizki dengan beberapa syarat. Salah satunya, mengikuti placement test yang berisi ujian akademik dan tes IQ. Rupanya Rizki berhasil melampaui syarat ujian paket kesetaraan di bawah 17 tahun.

Untuk lolos tes paket, dalam sehari dia menghabiskan 22 jam untuk belajar. Dia melumat pelajaran yang normalnya diambil tiga tahun menjadi setahun saja. Pelajaran yang dirasa sulit dia cari jawabannya lewat internet. Dia juga rajin membaca surat kabar. ”Ujian paket seharusnya juga lebih sulit karena saya harus belajar enam mata pelajaran. Sebaliknya, ujian nasional hanya tiga mata pelajaran,” tuturnya yang saat ditemui mengenakan setelan jaket kuning dan celana jins warna cerah. Begitu hasil ujian paket keluar, Rizki mencetak nilai sangat tinggi dengan rata-rata 9 tiap pelajaran. Dia lulus SMA pada usia 16 tahun! ”Saat itu pun pengawas ujian sempat menyodori saya kunci jawaban agar saya lulus. Pasti saja saya tolak,” ujarnya, lantas tersenyum mengenang kisah ironi itu. Pendidikan pun dia dapatkan dengan sangat murah. Selama unschooling, dia hanya mengeluarkan biaya Rp 100 ribu. ”Untuk fotokopi ijazah,” candanya.

Kuliah di UI dan Lulus Cum Laude

Pada 2007 Rizki tembus SNM PTN dan diterima sebagai mahasiswa Fakultas Hukum (FH) Universitas Indonesia (UI). Bahkan, dekan fakultasnya heran karena ada mahasiswa dengan ijazah paket. Toh, pada 2011, pada usia 20 tahun, dia justru menjadi lulusan terbaik dengan predikat cum laude.

Mendirikan Masjidschooling

Pengalaman panjangnya dalam bersekolah itu memicu Rizki untuk membuat sekolah gratis. Tak sekadar gratis, dia membantu murid-muridnya mendapatkan ijazah paket A, B, dan C. Yayasan pertama yang dia dirikan adalah masjidschooling. Dia menamai masjidschooling karena proses pembelajarannya bertempat di teras Masjid Baiturrahman di bilangan Bintaro.

Rizki pun menjadi guru bagi puluhan muridnya yang putus sekolah. Selain itu, dia dibantu mengajar oleh ibu-ibu rumah tangga dan para mahasiswa STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara). Hingga kini masjidschooling berjalan empat tahun.

Mendirikan Yayasan untuk Orang Tidak Mampu

Selain samping itu, Rizki yang saat ini menjadi konsultan di firma hukum Baker and MzKenzie juga menjadi founder Yayasan Pemimpin Anak Bangsa (YPAB) pada 2012. Berbeda dengan masjidschooling yang cenderung segmented untuk warga muslim karena dikelola ibu-ibu pengajian, YPAB lebih plural. Konsep pendidikan di YPAB juga fleksibel. Sebab, tutor di YPAB merupakan anak-anak muda berusia 20–30 tahun dengan berbagai latar belakang pendidikan dan profesional. Mereka menjadi relawan setia yang mengajar tanpa bayaran.

Tantangan dan Capaiannya

Terkadang Rizki juga menjalin kerja sama dengan relasinya di luar negeri seperti Meksiko dan Malaysia untuk mengajar di YPAB. Tidak pelak, murid-murid putus sekolah yang selama ini dipandang sebelah mata oleh masyarakat akhirnya mau tidak mau belajar ngomong Inggris. Yang membanggakan, sudah banyak murid ”schooling” Rizki yang ”naik kelas”. Dari tukang jual koran menjadi pegawai admin di media. Dari pembantu rumah tangga (PRT) menjadi admin di perkantoran.

Bahkan, Prihatin, salah seorang murid yang sehari-hari berjualan pisang goreng di Tanah Abang, menjadi peraih nilai ujian nasional paket B tertinggi nasional. Kini Prihatin melanjutkan paket C. Dua murid lainnya yang bekerja sebagai PRT, ungkap Rizki, akan melanjutkan kuliah.

Kendati demikian, mengembangkan YPAB hingga memiliki ratusan murid dari hanya dua murid bukan hal mudah. Banyak pula tekanan dari masyarakat. Misalnya, warga pernah memprotes Rizki karena mengira yayasannya adalah tempat berbuat mesum. Sebab, awal-awal berdiri, proses pembelajaran YPAB di dalam kamar dan garasi. ”Pernah juga dikira tengah melakukan kristenisasi dengan antek-antek asing,” papar Rizki yang ingin melanjutkan kuliah school of education di Amerika Serikat.

Namun, semua itu dilalui dengan baik. YPAB kini memiliki beberapa cabang. Selain di Tanah Abang, juga di Bintaro, kantor Badan Koordinasi Penanaman Modal, dan Medan. Rencananya Rizki juga mendirikan YPAB di luar Jawa. Dari sisi kurikulum, selain menggenjot kemampuan bahasa, dia akan menambahkan praktik entrepreneurship.

”Saya tidak memaksa murid untuk punya nilai bagus. Tapi, menekankan pentingnya kejujuran. Lihat, koruptor itu adalah orang-orang pintar, namun sudah tidak jujur sejak dalam pikiran,” tegas Rizki yang juga giat di Brunch Club, komunitas pencetus ide-ide pemula bisnis TI atau Start Up itu.

sumber: jawapos.com

Menengok Warung Sodaqoh untuk Fakir Miskin dan Kaum Dhuafa di Alun-Alun Kota Pekalongan


Anggapan bahwa tidak ada yang gratis di zaman serba mahal saat ini, ternyata salah. Buktinya, di Kota Pekalongan, tepatnya di kawasan Alun-alun, sejak sekitar 10 hari terakhir berdiri sebuah tempat makan sederhana bernama’Warung Sodaqoh’. Warung ini khusus untuk fakir miskin dan kaum dhuafa yang ingin makan. Seperti apa?

SESUAI namanya, warung itu memang diperuntukkan bagi mereka orang-orang yang tidak mampu. Namun, siapapun boleh ikut makan di situ. Tidak akan dipungut bayaran sama sekali. Maka, bagi siapa saja yang merasa lapar, ingin makan tetapi tidak punya uang, bisa mampir ke warung yang buka setiap hari, sejak pukul 06.00 sampai 09.00 itu. Lokasi tepatnya berada di sisi timur Alun-Alun Kota Pekalongan.

Sebuah 'Warung Sodaqoh' khusus untuk fakir miskin dan kaum dhuafa sejak sekitar dua minggu ini berdiri di salah satu sisi Alun-Alun Kota Pekalongan. Warung ini melayani para warga, terutama dari golongan tidak mampu, untuk menikmati makanan dengan harga super murah bahkan gratis.

Sekilas, warung itu tak beda dengan warung makan lainnya. Namun bentuknya sangat sederhana. Dipayungi selembar terpal berwarna biru, dengan tiang penyangga terbuat dari batang-batang bambu. Yang cukup mencolok adalah, adanya tulisan merah pada selembar kain putih, yang juga digunakan sebagai tabir untuk menutupi ‘para pembeli’ yang makan di situ. Kain itu dipasang di sisi luar sebelah timur, menghadap ke pusat perbelanjaan di situ.

Tulisannya sangat jelas, ditulis dengan huruf balok. Bunyinya: “Warung Sodaqoh. Khusus untuk Fakir Miskin & Kaum Dhuafa”. Selembar kain dengan tulisan yang sama juga dipasang di sisi satunya, namun menghadap ke dalam warung.

Adapun menu makanan yang disajikan, cukup beragam. Seperti nasi megono, opor ayam, telur ceplok, sayur lodeh, telur bacem, sampai rendang daging. Semuanya diletakkan di atas meja panjang yang ada di situ. ‘Para pembeli’, atau lebih tepatnya, warga-warga yang kurang mampu yang menikmati makanan di situ, bebas memilih menu apa saja yang tersedia. Juga, memesan minum teh hangat ataupun es teh.

Setiap hari, ada lebih dari lima orang yang akan melayani warga yang akan makan di situ dengan sepenuh hati. Sedangkan para pelanggannya, berlatarbelakang dari berbagai macam profesi. Namun sebagian besar adalah golongan tidak mampu. Mereka diantaranya, para tukang becak, kuli panggul, pengemis, dan sebagainya.

Salah satu warga yang menikmati pelayanan makanan gratis di warung tersebut adalah Slamet Riyadi (32), warga Kelurahan Poncol, Pekalongan Timur. Pria yang sehari-harinya berprofesi sebagai tukang becak ini, Kamis (13/2) pagi datang bersama sang istri, Fatonah, dan seorang anaknya yang masih berusia 8 bulan. Slamet sengaja datang ke situ untuk menikmati sarapan, sembari mengajak jalan-jalan sang istri dan anaknya. “Alhamdulillah, kok ya ada warung seperti ini. Ini sangat membantu orang-orang seperti kami ini yang kurang mampu, supaya bisa makan. Menunya juga cukup enak,” ujarnya.

Slamet mengaku, dirinya mengetahui keberadaan warung tersebut sejak empat hari lalu. Saat itu, ungkap dia, kebetulan dia hendak berangkat menarik becak di kawasan alun-alun, sembari mencari penumpang. “Saya pas kebetulan lewat, kok lihat ada warung tulisannya warung sodaqoh untuk fakir miskin. Akhirnya saya mencoba makan di sini. Ternyata memang gratis, tidak ditarik biaya,” ungkapnya.

Hamba Allah

Lantas, siapakah sosok dermawan yang punya inisiatif untuk membuka warung khusus untuk warga miskin seperti itu? Ternyata, sang dermawan tersebut menolak untuk disebutkan namanya. Seperti yang disampaikan Karmin (30), warga Noyontaan, Pekalongan Timur, yang diberi amanah untuk melayani para warga yang akan makan di situ. “Beliau berpesan, kalau ada yang tanya, bilang saja dari hamba Allah,” ujarnya.

Setiap hari, sejak pagi hari pukul 06.00 sampai 09.00, Karmin dan beberapa orang lainnya bersama-sama diberi tugas untuk membuka warung tersebut. Selain Karmin, ada lagi beberapa orang, seperti Topan, Lilis, Mila, Amel, dan lainnya, bekerja sebagai ‘relawan sosial’ di warung tersebut. “Ada sekitar delapan orang yang tiap hari menjaga warung ini. Beberapa dari kami juga ada yang bertugas belanja, memasak, memasang tenda, menghidangkan ke warga, mencuci gelas dan piring, sampai membongkar warung setelah selesai. Ini sudah kita lakukan sejak sekitar dua minggu lalu,” imbuh Topan.

Mereka membenarkan bahwa siapapun yang menikmati makanan di situ tidak akan ditarik bayaran. “Kalau tidak punya uang, tidak usah bayar. Kalau misal, punya uang sedikit, silakan kalau mau bersodaqoh. Berapa saja. Apakah itu seribu rupiah, atau berapapun. Tapi rata-rata, uang yang disedekahkan di sini sekitar seribu sampai dua ribu rupiah,” tambahnya.

Untuk menampung uang sedekah itu, sudah disediakan sebuah tempat terbuat dari plastik yang ditaruh di atas meja. Tempat sedekah itu transparan dan tidak diberi tutup. Sehingga, berapapun uang yang disedekahkan akan bisa dilihat oleh siapa saja yang berada di warung itu.

Dikatakan, setiap hari jumlah sedekah yang didapat berkisar antara Rp 90 ribu sampai Rp 120 ribu. Tergantung dari berapa banyak orang yang memberikan sedekahnya setelah makan di situ. Hasil dari sedekah itu, sementara ini dipakai untuk tambahan belanja bahan makanan yang akan dimasak.

Namun, tandas Karmin, jumlah uang sedekah yang didapat itu masih jauh di bawah uang dari si dermawan yang dibelanjakan untuk keperluan warung tersebut setiap hari.

Ia mengungkapkan, setiap hari, ia dan rekan-rekannya berbelanja beberapa bahan-bahan makanan sampai Rp 650 ribu. Itu hanya untuk belanja saja.

Uang itu antara lain untuk membeli 15 kilogram beras, 8 kg telur ayam, 4 sampai 5 kg daging ayam, beberapa kilo daging sapi, dan bahan-bahan lainnya.

Setiap hari, ungkapnya, jumlah orang yang datang untuk makan di warung tersebut bervariasi. Sehingga, terkadang dalam tempo dua jam, masakan yang disajikan sudah habis. “Bahkan kalau hari Minggu, setengah jam sudah habis,” ungkapnya.

Ditambahkan, setiap pagi, warung itu akan ditutup sekitar pukul 09.00. Meskipun masih ada menu makanan yang tersisa. Makanan yang masih ada itu selanjutnya dikirimkan ke sejumlah panti asuhan di kota batik menggunakan sebuah becak. “Jadi, makanannya tetap bermanfaat untuk mereka yang membutuhkan,” tuturnya.

Sentilan

Dia membeberkan, maksud dari pendirian warung tersebut selain untuk membantu pemenuhan gizi warga tidak mampu, juga punya maksud lain. “Dengan adanya warung seperti ini, sekaligus untuk menyentil orang-orang kaya, para saudagar, pejabat, atau siapapun untuk ikut peduli terhadap nasib rakyat miskin yang kesusahan,” bebernya.

Tujuan lainnya, adalah untuk mengembalikan fungsi Alun-alun Kota Pekalongan agar kembali menjadi tempat pilihan rakyat kecil untuk berkumpul dan menikmati makanan murah namun sehat dan bergizi.

Sebab, katanya, saat ini seolah Alun-alun sudah tidak lagi menjadi milik rakyat kecil. “Saat ini, makanan yang ada di kawasan alun-alun ini harganya mahal. Maka, fakir miskin tidak lagi bisa menikmati makan makanan murah di Alun-alun. Dengan adanya warung seperti ini, Alun-alun kembali menjadi pilihan rakyat kecil untuk bisa menikmati makanan,” ujarnya.

Sedangkan mengenai jam buka dan jam tutup warung sedekah itu, menurut dia sengaja dibuka sejak pagi, dan tutup di pagi itu juga. Hal ini karena mereka menghormati aturan dari Pemkot setempat yang sebenarnya tidak membolehkan lokasi itu untuk berdirinya sebuah warung makan. “Padahal kalau boleh buka di sini sampai sore, ya kita akan buka sampai sore. Bahkan kalau perlu, sampai malam hari maupun selama 24 jam,” tandasnya.

Maka dari itu, pihaknya berharap agar Pemkot mengizinkan warung tersebut buka di lokasi tersebut sampai malam, ataupun sampai 24 jam. Jika tidak diizinkan di lokasi sekarang pun tidak masalah, namun setidaknya harus diberi lokasi khusus asal masih di sekitar Alun-alun Kota Pekalongan. “Sehingga rakyat kecil bisa tetap menikmati makan murah di sini, selama 24 jam. Alun-alun Kota Pekalongan akan kembali menjadi tempat pilihan masyarakat kecil untuk menikmati makanan dengan harga murah bahkan gratis,” pungkasnya. (way)

sumber: radarpekalonganonline.com

Engkau Bisa Menerbitkan Bukumu Sendiri

Menerbitkan buku sendiri secara indie atau biasa disebut dengan “self publishing” nampaknya mulai mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Banyak penulis yang memilih menerbitkan bukunya sendiri, dan tidak menyerahkannya ke penerbit besar yang sudah mapan. Alasannya, antara lain, dengan menerbitkan buku sendiri, seorang penulis bisa terlibat secara penuh terhadap proses penerbitan bukunya, mulai dari layout, pembuatan desain cover, bahkan sampai pencetakan dan pendistribusiannya. Hal ini bisa menambah kepuasan jiwa dibanding bila bukunya diterbitkan oleh penerbit lain.

Di samping itu, alasan lainnya, margin keuntungan yang diperoleh juga jauh lebih besar dibanding ketika bukunya diterbitkan penerbit lain. Jikalau diterbitkan penerbit lain, paling-paling ia hanya memperoleh 10% dari harga jual bukunya (itupun masih dikurangi pajak 15%). Akan tetapi bila diterbitkan sendiri, ia akan mendapatkan seluruh laba dari penjualan bukunya.

Banyak penulis yang memilih jalan ini, yaitu menerbitkan bukunya sendiri. Yudi Pramuko adalah contoh penulis yang memilih menerbitkan bukunya sendiri. Penulis yang banyak menelorkan karya cemerlang itu, memulai mendirikan wirausaha penerbitan buku Taj Mahal pada akhir tahun 2003 dengan karya perdananya “Rahasia Sukses Dakwah dan Bisnis Aa Gym".

Tak sekedar menerbitkan bukunya sendiri, Yudi Pramuko juga terlibat aktif untuk mendorong lahirnya banyak penerbitan mandiri (selfpublishing). Sampai sekarang mungkin sudah ratusan penulis yang berhasil mendirikan penerbitan sendiri berkat motivasi penulis yang pernah meraih penghargaan ADIKARYA IKAPI tahun 2002 terbaik kedua kategori sastra anak itu.

Bahkan dalam bukunya “Rapor Merah Jaringan Islam Liberal, Hartono Ahmd Jaiz Dkk…” dengan tegas Yudi Pramuko menulis, “Apakah Anda ingin jadi pengarang yang kaya raya dan banyak uang? Jika jawabannya ya, maka jalannya adalah mendirikan dan mengelola penerbitan sendiri.”

“Katakanlah, mengarang adalah proyek idealis. Sedang, penerbitan adalah proyek bisnis. Maka gabungkan saja keduanya, mengarang dan penerbitan. Otomatis Anda menjadi pengarang yang banyak uang,” tulis Yudi Pramuko lebih lanjut.

Tak sekedar omdo alias omong doang, Yudi Pramuko telah membuktikan diri sebagai penulis yang sukses mendirikan wirausaha penerbitan buku. Sebagaimana ditulis dalam bukunya, ia menyebutkan banyak hal positif yang diperolehnya setelah menerbitkan bukunya sendiri, antara lain: bebas utang, menjadi pemilik penerbitan sendiri (bussines owner), ilmu bertambah, pergaulan dengan teman bisnis bertambah, citra diri kian positif, kebebasan menulis relatif besar (karena tidak kuatir ditolak dan diedit oleh penerbit lain), kemampuan infaq dan zakat mal bertambah, ibadah qurban menyembelih kambing dapat terlaksana setiap tahun, dan sebagainya.

Bahkan dengan suara gagah ia menulis, “Marilah berpikir bersamaku dengan teduh hati. Naskah buku yang sudah jadi, usahakan diterbitkan sendiri. Menjual naskah ke penerbit lain hanya dilakukan oleh orang yang menghindari sikap wirausaha. Namun, perlu kuingatkan juga, jalan wirausaha hanyalah sebuah kemungkinan yang selalu terbuka, dan menjanjikan. Bukan satu-satunya pilihan hidup yang tersedia.”

“Tidak semua orang tahan hidup sebagai seorang entrepreneur. Namun, lelaki yang ingin merintis jalan baru, jalan wirausaha, sebaiknya ia berenang dengan gagah perwira di lautan yang baru dan asing. Jangan jual naskah ke penerbit lain,“ tulisnya.

Pelajaran dari Mujahid Press

Apakah Anda pernah mendengar nama Mujahid Press? Ya, Mujahid Press adalah nama sebuah penerbit buku-buku Islami di Bandung. Penerbit ini sempat meroket namanya. Buku-buku yang diterbitkannya sempat merajai pasar buku. Di antara bukunya yang laris manis antara lain Kudung Gaul Berjilbab Tapi Telanjang, Pacaran Islami Adakah?, Bila Jodoh Tak Kunjung Datang, Muslimah yang Kehilangan Harga Diri, Remaja Korban Mode, Gelombang Kejahatan Seks Remaja Modern, dan sebagainya.

Tahukah Anda, buku-buku laris bak kacang goreng itu ditulis sendiri oleh Abu Al-Ghifari, yang merupakan nama pena dari Toha Nasrudin, yang tak lain adalah owner (pemilik) dari penerbit Mujahid Press itu sendiri. Memang, Toha Nasrudin alias Abu Al-Ghifari merintis penerbitan Mujahid Press melalui apa yang disebut self publishing.

Mujahid Press dirintis pada tahun 2002 dengan modal minim. Seperti yang dikemukakan Toha Nasrudin dalam e-book-nya berjudul Peta Harta Karun, ia mendirikan Mujahid Press dengan pinjaman modal satu juta rupiah hasil jual emas istrinya. Emas itu adalah mahar yang diberikan saat menikahi istrinya.

Buku pertama yang diterbitkannya berjudul Muslimah yang Kehilangan Harga Diri. Buku pertama itu beroplag seribu eksemplar, dengan hanya mengeluarkan dana kurang dari Rp 1.500.000,-. Toha Nasrudin bisa menekan biaya cetak sedemikian rupa, karena memang hampir semua proses penerbitan bukunya dilakukannya sendiri, seperti membeli kertas dan penjilidan.

Buku pertamanya terbilang sukses di pasaran. Cetakan pertamanya ludes terserap pasar dalam hitungan hanya tiga minggu. Kemudian disusul cetakan kedua. Begitu seterusnya, sehingga Toha Nasrudin mencetak buku-buku lainnya, seperti Kudung Gaul Berjilbab Tapi Telanjang, kemudian Gelombang Kejahatan Seks Remaja Modern, kemudian Bila Jodoh Tak Kunjung Datang.

Nyaris buku-buku yang diterbitkannya meledak di pasaran. Sehingga menjadikan Mujahid Press melesat bak meteor. Kurang dari tiga tahun sejak resmi berdiri januari 2002, omzet yang dihasilkan mencapai lebih dari lima milyar rupiah. Dari omset itu, di tempat kelahirannya, Toha Nasrudin dapat membangun bangunan cukup megah senilai Rp 2 milyar sebagai tempat tinggal sekaligus kantor utama Mujahid Press, lengkap dengan gudang dan tempat (sebagian) proses cetak serta sarana olah raga. Gedung itu dibangun kurang lebih satu tahun setelah Mujahid Press dikukuhkan badan hukumnya sebagai CV pada September 2003.

Semua capaian itu berawal dari statement seorang penulis kawakan yang didengarnya. Statement itu berbunyi “Penulis Indonesia tak mungkin kaya”. Dalam kesempatan lain ia mendengar, “Penulis harus siap miskin”. Benarkah?

Bertahun-tahun pertanyaan itu membekas di hatinya dan menjadi bahan pemikirannya. Apalagi realitas menunjukkan, penulis kawakan itu memang hidup miskin. Telah berkiprah di dunia kepenulisan selama 50 tahun, namun belum mampu membangun rumah sendiri. Hingga usianya yang hampir kepala tujuh, ia masih saja ngontrak.

Namun, Toha Nasrudin tidak serta merta terbuai dengan statement itu. Bartahun ia berpikir untuk menumbangkan statement itu. Ia yakin nasib penulis tidak akan separah itu jika menjalaninya dengan penuh kreativitas. Dan kini, Toha Nasrudin telah membuktikan, bahwa penulis itu bisa kaya.

“Penulis insya Allah kaya, bukan sekedar kaya hati, wawasan dan pengalaman, tapi sejahtera dari segi materi. Menerbitkan karya sendiri (self publishing) adalah satu-satunya jalan pintas untuk semua itu,” tulis Toha Nasrudin alias Abu Al-Ghifari dalam sebuah e-booknya.

Masih banyak sebenarnya kisah-kisah sukses penulis yang melakukan self publishing. Namun cukuplah dua kisah saja yang saya hadirkan, guna memberikan spirit dan suntikan motivasi bagi Anda untuk BERANI menerbitkan buku sendiri. Pertanyaan yang menyeruak di benak Anda barangkali adalah, sebenarnya apakah yang dimaksud self publishing itu? Dan bagaimana melakukannya?

Inti dari self publishing sebenarnya adalah menerbitkan karya kita sendiri, tidak menyerahkannya ke penerbit lain untuk diterbitkan mereka. Dengan demikian, kitalah yang menjadi penerbit bagi karya kita sendiri. Untuk lebih memudahkan pemahaman, mungkin bisa meminjam penjelasan yang disampaikan oleh Jonru, seorang writerpreneur, dalam e-book-nya yang berjudul Menerbitkan Buku Itu Gampang.

Jonru menulis, “menerbitkan sendiri” (self publishing) sebenarnya tak ubahnya seperti seorang ibu rumah tangga yang berbisnis kue. Ia mencari sendiri bahan-bahannya ke pasar, mulai dari tepung terigu, telur, minyak goreng, dan sebagainya. Lalu, ia pulang ke rumah dan mengolah bahan-bahan itu menjadi kue yang lezat cita rasanya. Setelah jadi, kue-kue itu dikemas semenarik mungkin, lalu ia distribusikan ke sejumlah toko di dekat rumahnya. Esoknya, ia mendatangi toko-toko itu satu per satu untuk menagih uang hasil penjualan.

Menurut Jonru, self publishing sama dengan do it yourself. Semua Anda kerjakan sendiri, mulai dari menulis buku, mengeditnya, mendesain tampilannya, mencetaknya, mendistribusikannya, hingga mempromosikannya. Anda adalah penulis merangkap editor, merangkap penerbit, merangkap desainer, merangkap distributor, merangkap staf marketing dan promosi. [halaman 74].

Pada praktiknya, Anda tidak harus melakukan semua deretan pekerjaan itu. Karena toh Anda mungkin tidak bisa melay-out isi buku, apalagi membuat desain sampul buku yang menawan. Anda pun tidak memiliki mesin cetak dan mesin wrapping untuk mengemas buku. Untuk itu, Anda bisa menyewa orang atau meminta lembaga yang melayani jasa penerbitan buku.

Tugas Anda hanya menulis naskah dan mengeditnya serapi mungkin untuk siap diterbitkan, kemudian pihak lembaga jasa yang akan melay-out naskah Anda, membuatkan desain sampul yang menarik, mengurus ISBN (International Standard Book Number), kemudian mencetaknya, dan mengemasnya menjadi buku siap jual. Anda tinggal menyiapkan biayanya.

Kemudian kalau Anda masih buta terhadap cara mendistribusikan buku ke toko-toko buku besar seperti Gramedia, Anda juga bisa sekaligus meminta bantuan lembaga jasa itu. Pertanyaan yang mungkin ada di benak Anda, berapa perkiraan dana yang harus dipersiapkan untuk menerbitkan sebuah buku dan menyewa lembaga jasa? Mahalkah?

Insya Allah hal itu akan dibahas di pembahasan selanjutnya. Sekarang, kita cukupi sekian dulu pembahasan “Engkau Bisa Menerbitkan Bukumu Sendiri”. Simak catatan-catatan kami selanjutnya. Semoga bermanfaat!

Memperkirakan Kebutuhan Dana Selfpublishing

Berapakah dana yang dibutuhkan untuk menerbitkan sebuah buku? Pertanyaan ini banyak dilontarkan, terutama oleh mereka yang tertarik dengan wacana selfpublishing alias ingin menerbitkan bukunya sendiri.

Tentu, pertanyaan di atas tidak bisa dijawab dengan memberikan kepastian, karena kebutuhan dana self publishing ditentukan oleh banyak variabel menyangkut spesifikasi dan atau kualifikasi buku yang akan diterbitkan, termasuk juga sejauh mana Anda bisa menyiapkan sendiri tahapan-tahapan dalam penerbitan buku Anda.

Untuk lebih mudahnya, Anda akan saya ajak untuk menyimak simulasi berikut ini:

Misalnya Anda mau menerbitkan buku setebal 200 halaman, dengan oplag 500 eksemplar, maka perkiraaan dana yang dibutuhkan adalah sebagai berikut:

Tahap 1: Proses Pra Cetak

Tahap pra cetak ini meliputi:
1. Penyuntingan dan mengemasan naskah sehingga siap untuk diterbitkan.
2. Lay out isi buku.
3. Pengurusan ISBN
4. Pembuatan sampul buku (cover)

Asumsinya Anda belum memiliki pengalaman, sehingga seluruh proses pra cetak Anda serahkan kepada lembaga jasa, maka dana yang harus Anda keluarkan untuk tahap pra cetak penerbitan buku Anda adalah:

1. Jasa penyuntingan : -+ Rp 500.000,-
2. Jasa Lay out : -+ Rp 400.000,-
3. Jasa Pengurusan ISBN : Rp 100.000,-
4. Jasa pembuatan cover : -+ Rp 500.000,-

Hasilnya, total naskah siap terbit, dana yang perlu Anda persiapkan adalah: -+ Rp. 1.500. 000,-

Tahap 2: Proses Cetak

Tahap selanjutnya adalah proses pencetakan buku Anda. Tentu, karena tidak memiliki percetakan sendiri, Anda mempercayakannya ke lembaga jasa atau pihak percetakan. Adapun spesifikasi buku Anda sebagai berikut:

~Ukuran : 20,5 x 14 cm
~Tebal : 200 halaman
~Isi : HVS putih 70 gr
~Perlakuan cover : DOFT (cover lembut permukaan dan warnanya)
~Jumlah/oplag : 500 eks
~Finishing : jilid binding + sring plastik

Berdasarkan spesifikasi di atas, harga per buku jatuhnya sekitar Rp 8.500,-.
Dengan demikian, perkiraan biaya cetak adalah 500 eks x @ Rp 8.500,- = Rp 4.250.000,-

Berarti jasa penerbitan (prose pra cetak) + jasa percetakan adalah:

Total biaya = Rp. 1.500.000 + Rp 4.250. 000 = Rp. 5.750.000,- (Lima Juta Tujuh ratus Lima Puluh Ribu rupiah)

Jumlah di atas masih bisa berkurang jika Anda bisa melakukan tahap-tahap pracetak sendiri. Juga jika Anda mencetak lebih banyak lagi (misalnya sampai 3000 atau 5000 eks), maka harga per buku pun akan jauh semakin murah.

Demikian, mudah-mudahan bermanfaat. Selamat Menerbitkan Buku Anda Sendiri!

10 Langkah Penting Selfpublishing

Ketika Anda memutuskan untuk menerbitkan buku sendiri (self publishing), berarti semua proses penerbitan, mulai dari penyuntingan naskah, lay out isi, pembuatan sampul/desain cover, pengurusan ISBN, pencetakan, pengemasan, bahkan sampai distribusi, Andalah yang mengerjakannya. Meskipun pada akhirnya, karena sesuatu dan lain hal, misalnya karena kesibukan dan keterbatasan kemampuan, Anda tidak mengerjakannya sendiri semua proses itu, namun Andalah yang memimpin dan mengendalikan “proyek” itu. Andalah yang mengorganisir semua pekerjaan itu.

Sulitkah melakukan semua itu? Kalau belum pernah melakukannya dan mengerti tahapan-tahapannya, mungkin terasa njlimet. Namun pada dasarnya sangat mudah. Apalagi kalau sudah terbiasa melakukannya. Untuk lebih jelasnya, berikut ini saya sampaikan langkah-langkah atau tahapan-tahapan penting yang harus Anda persiapkan dan lalui ketika ingin melakukan selfpublishing. Apa saja itu? Simak berikut ini:

Pertama, menyiapkan naskah. Sebelum semuanya dimulai, siapkanlah naskah yang akan diterbitkan. Naskah yang siap diterbitkan adalah naskah yang sudah lengkap dan telah tersunting rapi. Bila naskah itu diterbitkan untuk tujuan komersial, naskah yang akan diterbitkan harus sudah dipertimbangkan kemungkinan akan bisa diterima pasar. Artinya, buku itu berpotensi untuk laris karena memiliki nilai jual tinggi. Dalam hal ini, yang penting dicatat, dalam logika dan fakta buku laris, “buku berkualitas” tidak identik dengan “buku laris”.

Banyak buku yang berkualitas, namun tidak laku di pasaran. Dan banyak buku yang “biasa-biasa saja”, namun laris tersedot pasar. Fakta ini bukan lantas menyurutkan langkah untuk menulis buku yang berkualitas, tapi justru merupakan tantangan untuk menulis buku laris yang berkualitas. [Insya Allah di kesempatan lain akan saya ulas tentang “Rahasia Buku Best Seller”].

Kedua, menyiapkan dana. Setelah mempersiapkan naskah, dana untuk membiayai proses penerbitan buku Anda harus Anda persiapkan. Besaran dana yang perlu Anda persiapkan bersifat relatif menyesuaikan spesifikasi dan kualifikasi buku yang akan Anda terbitkan, misalnya ketebalan buku dan jenis kertas.

Hitungan besaran dana juga menyesuaikan, apakah proses penerbitan pada tahap pra cetak, seperti penyuntingan, lay out isi, pembuatan sampul, dan pengurusan ISBN, bisa Anda kerjakan sendiri, atau menyewa lembaga jasa. Bila Anda lakukan sendiri (baik sebagian atau keseluruhan), hal itu akan menekan kebutuhan dana penerbitan. Namun, bila dikerjakan oleh lembaga jasa, maka dana penerbitan akan sedikit membengkak. Bila belum berpengalaman, langkah amannya memang menggandeng lembaga jasa yang sudah berpengalaman.

Ketiga, menciptakan nama dan logo penerbitan. Namanya juga self publishing, menerbitkan karya sendiri, maka nama penerbitan juga harus Anda persiapkan dan rumuskan, berikut logonya. Jangan asal memberi nama. Nama penerbitan itu harus mengandung brand yang kuat, mudah diingat, dan memuat intisari visi penerbitan yang akan Anda bangun. Saya misalnya, menamai penerbitan saya dengan OASE QALBU. Nama itu saya pilih karena saya bertujuan untuk menggugah jiwa dan mencerahkan hati masyarakat dengan serangkaian buku-buku penuh hikmah dan motivasi ibadah yang saya terbitkan.

Keempat, melay-out naskah. Ini pekerjaan cukup vital yang menjadi salah satu inti dari penerbitan buku Anda. Bila Anda tidak terbiasa atau belum bisa melay-out sendiri naskah Anda, maka sebaiknya, pekerjaan ini diserahkan kepada lay-outer freelance yang terbiasa menerima order lay-out naskah buku atau bisa lewat lembaga jasa yang memiliki tim yang berpengalaman di dalamnya. Tugas Anda cukup menyampaikan naskah mentah (biasanya dalam file microsoft word) dan ukuran buku serta style layout yang Anda inginkan.

Kelima, membuat desain cover. Cover memegang peranan penting dalam sebuah penerbitkan buku. Nilai jual buku Anda, salah satunya ditentukan oleh daya tarik cover buku Anda. Karena itulah, jangan main-main dengan desain cover. Buatkah desain cover yang bagus dan menarik. Bila Anda tidak bisa membuat desain cover yang bagus dan menawan, Anda bisa memesannya kepada desainer freelance yang biasa menerima order pembuatan cover buku. Anda tinggal mempersiapkan teks dan ornamen atau ilustrasi (bila ada) yang akan dimasukkan dalam cover buku tersebut.

Keenam, mengurus ISBN. Apa itu ISBN? ISBN adalah kepanjangan dari International Standard Book Number. Menurut Pamusuk Eneste dalam “Buku Pintar Penyuntingan Naskah” [edisi 2], ISBN adalah “….bahasa internasional sebagai sarana informasi, komunikasi, dan transaksi perbukuan, memiliki manfaat sangat banyak, antara lain dapat digunakan sebagai unsur-unsur inventarisasi, pemesanan, dan pengangkutan….”.

Di Indonesia, lembaga yang mengelola ISBN adalah Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI), berkedudukan di Jakarta. Pengurusannya relatif mudah dengan biaya yang murah. Per bukunya hanya Rp 60.000,- untuk mendapatkan nomor ISBN dan Barcode.

Ketujuh, menentukan kualifikasi buku. Setelah semuanya beres, naskah telah dilayout dan cover telah dibuat, maka langkah penting selanjutnya adalah menentukan kualifikasi buku Anda, misalnya menyangkut jenis kertas, proses percetakan, dan perlakuan untuk finishing cover buku.

Jenis kertas misalnya, apakah Anda akan menggunakan kertas buram atau HVS putih. Proses percetakan misalnya, apakah halaman isi buku akan dicetak dengan kalkir atau film. Dan finishing cover buku Anda, misalnya akan menggunakan UV atau DOF, semuanya Andalah yang menentukan. Kalau Anda belum memahami istilah-istilah itu, bisa ditanyakan kepada pihak percetakan. Anda mungkin bisa memberikan contoh kualifikasi buku yang Anda inginkan dengan menyodorkan buku yang sudah ada.

Kedelapan, mencetak dan mengemas buku. Dalam mencetak dan mengemas (wraping) buku, pilihlah percetakan yang telah berpengalaman. Jangan mengambil risiko dengan menyerahkan naskah Anda untuk dicetak di percetakan yang masih coba-coba. Pilih percetakan yang berpengalaman dan telah terbukti hasil cetakannya bagus dan berkualitas. Apa jadinya bila cetakan buku Anda buruk? kredibilitas buku Anda diragukan, dan di pasaran bisa-bisa buku Anda jeblok alias tidak laku.

Kesembilan, menentukan harga jual buku. Setelah buku jadi dan terkemas rapi serta menjadi produk yang siap dipasarkan, maka tugas Anda adalah menentukan harga jual buku Anda. Bagaimana caranya? Rumus yang umum digunakan adalah, keseluruhan biaya produksi (biaya penyuntingan, layout, cover, ISBN, dan biaya cetak) dibagi jumlah oplag buku, lalu dikalikan lima [bahkan ada yang mengalikan 5,5 atau 6]. Hasilnya adalah harga buku Anda.

Contoh, biaya produksi Rp 10.000.000,- dibagi jumlah cetak 2.000,- eksemplar (ketemu harga produksi @ Rp 5.000,-) dikalikan 5 = Rp 25.000,-. Dengan demikian, harga jual (bruto) buku Anda di toko adalah Rp 25.000,-. Gampang bukan?

Kesepuluh, menditribusikan buku. Dalam mendistribusikan buku, misalnya ke Gramedia, Anda tidak perlu susah payah mengantarkannya sendiri. Anda bisa bekerja sama dengan lembaga distribusi profesional. Merekalah yang akan mendistribusikan buku Anda ke seluruh tokoh buku di seluruh Indonesia. Biasanya mereka meminta rabat, yang kemudian akan di-share dengan toko buku, sekitar 50 – 55 %.

Apakah rabat sebesar itu akan membuat Anda rugi? InsyaAllah tidak. Toh Anda telah mengkalikan biaya produksi lima kali lipat, sehingga apabila dikurangi rebat sebesar itu, Anda masih akan tetap untung. Sekedar contoh, dengan asumsi hitungan di atas, keseluruhan asset Anda bila terjual adalah harga jual buku (Rp 25.000,-) dikali jumlah oplag buku (2000 eks) hasilnya adalah Rp 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah). Inilah asset keseluruhan Anda sebelum dishare dengan distributor.

Bila dikurangi, misalnya 50% untuk distributor, maka total asset bersih Anda menjadi Rp 25.000.000,- (dua puluh lima juta rupiah). Sedang modal Anda tadi adalah Rp 10.000.000,-. Masih untung bukan?

Begitulah kira-kira, langkah-langkah atau tahapan-tahapan penting yang perlu Anda persiapkan dan lalui dalam melakukan selfpublishing. Sangat mudah bukan? Semoga bermanfaat dan selamat menerbitkan buku sendiri, semoga sukses! Amin.

*)Catatan kreatif: Badiatul Muchlisin Asti
Godong, Grobogan, 3 Mei 2010 http://jasapenerbitanbuku.blogspot.com/2010/05/10-langkah-penting-selfpublishing.html

Abadikan Namamu dengan Menerbitkan Buku

Alangkah bahagianya bila buku yang kita tulis itu terbit dan dibaca oleh banyak orang. Itulah kebahagiaan jiwa seorang penulis yang tidak bisa dikalkulasi dengan uang. Dengan buku, berarti kita telah mendokumentasikan ide dan pikiran kita, untuk terus dikenang dan terus abadi. Simaklah dua kutipan berikut ini:

“Karya-karya tulis akan kekal sepanjang masa. Sementara penulisnya hancur terkubur di bawah tanah.” [Ali Mustafa Yaqub]

"Jika engkau tidak ingin dilupakan segera setelah berkalang tanah nantinya, tulislah sesuatu yang layak dibaca, atau lakukan sesuatu yang layak ditulis." [Benjamin Franklin]

Ketika mengisi pelatihan menulis buku, saya sering mengajukan ke peserta sebuah pertanyaan? “Tahukah Anda nama kakek-nenek dari kakek-nenek Anda?” Kebanyakan peserta menjawab, “Tidak tahu.”

Kemudian saya bertanya lagi, “Tahukah Anda Imam Al-Ghazali atau Imam Syafi’i?” Mereka rata-rata menjawab “Tahu.” Imam Al-Ghazali adalah penulis kitab Ihya’ Ulumuddin, dan Imam Syafi’i adalah ulama besar pendiri madzhab Syafi’i.
Saya pun bertanya, “Mengapa Anda tahu Imam Al-Ghazali dan Imam Syafi’i yang hidup ratusan tahun lalu, sementara Anda tidak tahu nama kakek-nenek dari kakek-nenek Anda sendiri?”

“Jawabannya adalah,” kata saya kemudian, “Karena Imam Al-Ghazali dan Imam Syafi’i menulis buku, sedang kakek-nenek dari kakek-nenek Anda tidak.”.

Ya, menulis buku memang merupakan salah satu cara mengabadikan nama kita, sekaligus mengabadikan ide dan pikiran kita, agar terus memancarkan manfaatnya sepanjang waktu. Ide dan pikiran yang tidak dibukukan, akan hilang tergerus zaman seiring kematian pemiliknya. Sedang ide dan pikiran yang dibukukan, manfaatnya akan terus abadi menembus zaman.

*) Catatan kreatif: Badiatul Muchlisin Asti

sumber: trimudilah.blogspot.com.

Arfi dan Arie, Lulusan SMK yang Ahli Design Engineering Internasional

Dikira Pelihara Tuyul karena Pekerjaan Tak Jelas

SUASANA ruang tamu di rumah Arfi’an Fuadi, 28, di Jalan Canden, Salatiga, Jawa Tengah, masih dipenuhi nuansa Idul Fitri. Jajanan Lebaran seperti kacang, nastar, dan kue kering memenuhi meja untuk menjamu tamu yang berkunjung.

Di sebelah ruang tamu terdapat ruangan yang lebih kecil. Di dalamnya ada tiga unit komputer. Rupanya, di ruangan kecil itulah Arfi –panggilan Arfi’an Fuadi– bersama sang adik M. Arie Kurniawan dan dua karyawannya mengeksekusi order design engineering dari berbagai negara.

Kiprah dua bersaudara itu di dunia rancang teknik internasional tak perlu diragukan lagi. Tahun lalu Arie memenangi kompetisi tiga dimensi (3D) design engineering untuk jet engine bracket (penggantung mesin jet pesawat) yang diselenggarakan General Electric (GE) Amerika Serikat. Arie mengalahkan sekitar 700 peserta dari 56 negara.

”Lomba ini membuat alat penggantung mesin jet seringan mungkin dengan tetap mempertahankan kekuatan angkut mesin jet seberat 9.500 pon. Saya berhasil mengurangi berat dari 2 kilogram lebih menjadi 327 gram saja. Berkurang 84 persen bobotnya,” ungkap Arie ketika ditemui di rumah kakaknya, Senin (4/8).

Yang membanggakan, Arie mengalahkan para pakar design engineering yang tingkat pendidikannya jauh di atas dirinya.

Misalnya, juara kedua diraih seorang PhD dari Swedia yang bekerja di Swedish Air Force. Sedangkan yang nomor tiga lulusan Oxford University yang kini bekerja di Airbus. ”Padahal, saya hanya lulusan SMK Teknik Mekanik Otomotif,” jelas Arie.

Sekilas memang tak masuk akal. Bagaimana bisa seorang lulusan SMK yang belum pernah mendapatkan materi pendidikan CAD (computer aided design) mampu mengalahkan doktor dan mahasiswa S-3 yang bekerja di perusahaan pembuat pesawat? CAD adalah program komputer untuk menggambar suatu produk atau bagian dari suatu produk.

Rupanya, ilmu utak-atik desain teknik itu diperoleh dan didalami Arie dan kakaknya, Arfi, secara otodidak. Hampir setiap hari keduanya melakukan berbagai percobaan menggunakan program di komputernya. Mereka juga belajar dari referensi-referensi yang berserak di berbagai situs tentang design engineering.

”Terus terang dulu komputer saja kami tidak punya. Kami harus belajar komputer di rumah saudara. Lama-lama kami jadi menguasai. Bahkan, para tetangga yang mau beli komputer, sampai kami yang disuruh ke toko untuk memilihkan,” kenang Arfi.

Sebelum menjadi profesional di bidang desain teknik, dua putra keluarga A. Sya’roni itu ternyata harus banting tulang bekerja serabutan membantu ekonomi keluarga. Arfi yang lulusan SMK Negeri 7 Semarang pada 2005 pernah bekerja sebagai tukang cetak foto, di bengkel sepeda motor, sampai jualan susu keliling kampung.

Sang adik juga tak jauh berbeda, jadi tukang menurunkan pasir dari truk sampai tukang cuci motor. ”Kami menyadari, penghasilan orang tua kami pas-pasan. Mau tidak mau kami harus bekerja apa saja asal halal,” tutur Arfi.

Baru pada 2009 Arfi bisa menyalurkan bakat dan minatnya di bidang program komputer. Pada 9 Desember tahun itu dia memberanikan diri mendirikan perusahaan di bidang design engineering. Namanya D-Tech Engineering Salatiga. Saksi bisu pendirian perusahaan tersebut adalah komputer AMD 3000+. Komputer itu dibeli dari uang urunan keluarga dan gaji Arfi saat masih bekerja di PT Pos Indonesia.

”Gaji saya waktu itu sekitar Rp 700 ribu sebagai penjaga malam kantor pos. Lalu ada sisa uang beasiswa adik dan dibantu bapak, jadilah saya bisa membeli komputer ini,” kenangnya.

Setelah berdiskusi dengan sang adik, Arfi pun menetapkan bidang 3D design engineering sebagai fokus garapan mereka. Sebab, dia yakin bidang itu booming dalam beberapa tahun ke depan. ”Kami pun langsung belajar secara otodidak aplikasi CAD, perhitungan material dengan FEA (finite element analysis), dan lain-lain,” jelasnya.

Tak lama kemudian, D-Tech menerima order pertama. Setelah mencari di situs freelance, mereka mendapat pesanan desain jarum untuk alat ukur dari pengusaha Jerman. Si pengusaha bersedia membayar USD 10 per set. Sedangkan Arfi hanya mampu mengerjakan desain tiga set jarum selama dua minggu.

”Kalau sekarang mungkin bisa sepuluh menit jadi. Dulu memang lama karena kalau mau download atau kirim e-mail harus ke warnet dulu. Modem kami dulu hanya punya kecepatan 2 kbps. Hanya bisa untuk lihat e-mail.”

Di luar dugaan, garapan D-Tech menuai apresiasi dari si pemesan. Sampai-sampai si pemesan bersedia menambah USD 5 dari kesepakatan harga awal. ”Kami sangat senang mendapat apresiasi seperti itu. Dan itulah yang memotivasi kami untuk terus maju dan berkembang,” tegas Arfi.

Sejak itu order terus mengalir tak pernah sepi. Model desain yang dipesan pun makin beragam. Mulai kandang sapi yang dirakit tanpa paku yang dipesan orang Selandia Baru sampai desain pesawat penyebar pupuk yang dipesan perusahaan Amerika Serikat.

”Pernah ada yang minta desain mobil lama GT40 dengan handling yang sama. Untuk proyek itu, si pemilik sampai harus membongkar komponen mobilnya dan difoto satu-satu untuk kami teliti. Jadi, kami yang menentukan mesin yang harus dibeli, sasisnya model bagaimana dan seterusnya. Hasilnya, kata si pemesan, 95 persen mirip,” jelasnya.

Selama lima tahun ini, D-Tech telah mengerjakan sedikitnya 150 proyek desain. Tentu saja hasil finansial yang diperoleh pun signifikan. Mereka bisa membangun rumah orang tuanya serta membeli mobil. Tapi, di sisi lain, capaian yang cukup mencolok itu sempat mengundang cibiran dan tanda tanya para tetangga.

”Kami dicurigai memelihara tuyul. Soalnya, pekerjaannya tidak jelas, hanya di rumah, tapi kok bisa menghasilkan uang banyak. Mereka tidak tahu pekerjaan dan prestasi yang kami peroleh,” cerita Arfi seraya tertawa.

Sayangnya, dari 150 proyek itu, hanya satu yang dipesan klien dalam negeri. ”Satu-satunya klien Indonesia adalah dari sebuah perusahaan cat. Mereka beberapa kali memesan desain mesin pencampur cat,” lanjutnya.

Meski punya segudang pengalaman dan diakui berbagai perusahaan internasional, Arfi dan Arie masih belum bisa berkiprah di desain teknik Indonesia. Penyebabnya, mereka hanya berijazah SMK.

”Kalau ditanya apakah tidak ingin membantu perusahaan nasional, kami tentu mau. Tapi, apakah mereka mau? Di Indonesia kan yang ditanya pertama kali lulusan apa dan dari universitas mana,” ujarnya.

Stigma ”hanya berijazah SMK” ditambah sistem pendidikan Indonesia yang dinilai kurang adil itulah yang ikut mengandaskan keinginan Arie melanjutkan pendidikan ke jenjang S-1 di Teknik Elektro Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Arie tidak bisa masuk jurusan itu karena hanya lulusan SMK mekanik otomotif.

”Saya ingin kuliah di jurusan itu karena ingin memperdalam ilmu elektro. Kalau mesin saya bisa belajar sendiri. Tapi, saya ditolak karena kata pihak Undip jurusannya tidak sesuai dengan ijazah saya. Padahal, lulusan SMA yang sebenarnya juga tidak sesuai diterima. Ini kan tidak adil namanya,” cetus Arie.

Meski ditolak, Arie tidak kecewa. Bersama sang kakak, dia tetap ingin menunjukkan prestasi yang mengharumkan nama bangsa. Dan itu telah dibuktikan dengan menjuarai kompetisi design engineering di Amerika yang diikuti para ahli dari berbagai negara. Selain itu, mereka tak segan-segan menularkan ilmunya kepada anak-anak muda agar melek teknologi 3D design engineering.

”Ada beberapa anak SMK yang datang ke kami untuk belajar. Sekarang ada yang sudah kerja di bidang itu. Ada juga yang bakal ikut kompetisi Asian Skills Competition sebagai peserta termuda,” jelasnya.

Mereka juga punya keinginan mengembangkan teknologi energi terbarukan. Salah satunya dengan mengembangkan desain pembangkit listrik tenaga angin.

”Kami bekerja sama dengan anak-anak SMK untuk mengembangkan biodiesel dari minyak jelantah. Lalu, Mas Ricky Elson (pembuat mobil listrik yang dibawa Dahlan Iskan dari Jepang, Red) pernah menghubungi lewat Facebook, ingin menjalin kerja sama dengan kami. Tentu saja kami terima,” ungkapnya.

Dengan semua upaya itu, mereka punya satu impian, yakni mengembangkan sumber daya lokal Salatiga untuk menjadikan kota kecil itu pusat pengembangan manufaktur teknologi kelas dunia. Layaknya Silicon Valley di San Francisco, Amerika Serikat.

”Kami ingin membuktikan bahwa Indonesia bisa menjadi pusat industri manufaktur dunia. Terlebih lagi, teknologi 3D printing bakal menjadi tulang punggung industri masa depan. Itulah kenapa 3D design engineering sangat penting,” tandasnya.  (*/c9/ari)

sumber: jpnn.com

Motivasi untuk Memulai Usaha Bisnis

Banyak pertanyaan yang klise dan senada tentang bagaimana memulai sebuah bisnis. Berikut ini beberapa tips yang berguna.

Pertama harus dimengerti dulu perbedaan antara pedagang, entrepreneur, bisnisman dan konglomerat.

1. Pedagang hanya sekedar mengambil selisih harga barang tanpa memberikan nilai tambah. Misal beli keju dari pabrik 5000 jual ke konsumen 6000. Itu saja!

2. Entrepreneur memberikan nilai lebih dari apa yang ia jual. Harus diingat definisi entrepreneur adalah orang yang memberikan solusi atas permasalahan yang ada. Sebagai contoh, kita beli singkong seharga 1000, lalu diolah menjadi keripik dan bisa di jual 10.000. Itu adalah pekerjaan entrepreneur.

3. Bisnisman. Ketika seorang entrepreneur mampu menguasai jalur produksi dari hulu ke hilir, maka bisa dibilang dia menjadi seorang bisnisman, karena dia telah memegang kendali dari seluruh proses produksi, distribusi, hingga marketing.

4. Konglomerasi, banyak orang berpendapat kalau konglomerasi ini adalah bagaimana memiliki modal besar. Tetapi menurut saya, konglomerasi adalah bagaimana, setelah kita memegang sebuah jaringan bisnis dari hulu ke hilir, kita menguasai sistem. Sistem yang memungkinkan kita menguasai pasar, baik dari segi produksi maupun distribusi. Contoh adalah Bill Gates, bagaimana microsoft bisa mengendalikan pasar dengan "meracuni" semua orang untuk menggunakan produk Microsoft.

Nah, anda mau di tingkat mana, itu terserah anda. Tapi ketika kita ingin menjadi seorang entrepreneur, sering kali kita terjebak pada hal yang sebenarnya tidak diperlukan untuk langkah awal. Misalnya pertanyaan-pertanyaan (menurut saya) "konyol" seperti ini :

1. Saya punya modal 3 juta, enaknya bisnis apa ya?
Bisnis itu bukan soal uang , bisnis itu bagaimana kita memberi untuk kemudian mengambil manfaat seperlunya.

2. Bisnis yang ramai sekarang apa ya?
Dalam bisnis itu ada siklus. Apa yang ramai hari ini tidak akan ramai selamanya. Buktinya demam snack. Tahun 2011 sampai 2012 booming. Tahun 2013 langsung surut. Bisnis yang baik itu adalah selalu bisa beradaptasi dengan permintaan pasar. Bisnis akan mati ketika berhenti berinovasi.

3. Saya mahasiswa, ingin berbisnis tapi belum punya duit/modal?
Ini pertanyaan paling banci menurut saya. Coba urutkan para entrepreneur sukses. Mana yang sudah kaya dari awal? Siapa yang tidak memulai bisnisnya dari kemiskinan? Kalau lulusan SD saja bisa sukses jual bakso, masa mahasiswa cuman bisa minta duit?

5. Saya tidak punya pengalaman bisnis?
Ini juga pertanyaan konyol yang paling tolol. Coba sebutkan hal baru apa yang harus dilakukan dengan pengalaman? Pengalaman itu bukan dilahirkan. Anda tidak akan pernah mendapatkan pengalaman kalau tidak pernah mencoba melakukan sesuatu.

Sebelum langkah-langkah konkrit, saya selalu punya sebuah motto untuk memulai "bermimpi, doa, action, action, action". Sebelum memulai, tentukan dulu mimpi yang ingin anda capai. Pastikan bahwa menjadi seorang entrepreneur memang pilihan hidup anda. Percayalah, mental adalah salah satu kunci pentingnya. Karena dalam perjalanan nanti, anda akan menjumpai 1001 alasan untuk berhenti berusaha.

Nah ini langkah-langkah yang harus anda lakukan untuk memulai bisnis:

1. Mulailah dengan menjadi pengamat atau pendengar yang baik.
Pasar adalah sesuatu yang unik, dan untuk memahaminya, kita hanya perlu mencoba menjadi pengamat yang baik.

2. Mulailah dari kebun sendiri, jangan pedulikan kebun tetangga.

Ketika anda sudah memahami permintaan pasar, mulailah dengan menginvetarisir apa yang kita punya, lalu cocokkan dengan kebutuhan pasar. Misal: di kampus banyak orang tidak bisa membuat power point yang bagus, dan kita punya kemampuan tersebut. Kenapa tidak memulai untuk menawarkan jasa? Atau misal kita pegawai pabrik tahu, ternyata banyak sekali limbah tahu yang tidak dioptimalkan, sedangkan banyak peternak di sekitar rumah yang sulit mendapatkan pakan. Nah kenapa tidak dihubungkan?

3. Setelah melakukan langkah 1 dan 2, lalu kemudian sharing dengan teman -teman.
Pahami resiko dan peluang lalu cari siapa yang paling bisa diajak kerjasama atau memiliki resource yang anda butuhkan untuk memulai bisnis. Contoh anda mau buka toko snack keliling, ternyata ada teman yang punya mobil yang bisa dipakai untuk usaha. Itu tandanya untuk kolaborasi.

4. Pemikiran cemerlang idak akan terlihat cemerlang jika tersimpan dalam otak.
Ketika sudah memiliki konsep, partner, dan strategi pemasaran; tuliskan dalam bentuk proposal atau bisnis plan. Fungsi bisnis plan juga untuk mencari investor. Lebih dari itu, bisnis plan yang baik akan membuat anda lebih percaya diri dalam memulai bisnis

5. Self Branding, tapi bukan jual diri.
Artinya, ketika anda sudah memilih sebuah produk atau jasa, mulailah membranding diri sendiri dengan produk atau jasa yang anda geluti. Misalnya anda jual tempe, buat orang mengenal anda sebagai tukang tempe. Jadi kalau dipanggil sama teman jadi "juragan tempe". Jadikan apa yang anda jual, bisa mendefinisikan anda, bukan sebaliknya. Lakukan penjualan secara sistematis dan anggun dengan melihat berbagai aspek. Tapi jangan pernah langsung obral besar-besaran. Boleh kasih bonus tapi harus dengan tujuan.

6. Jual apa yang anda tahu, bukan apa yang anda ingin.
Banyak pemula yang memiliki percaya diri berlebih dan ego yang tinggi. Sehingga dia percaya 100% pada produk yang dia jual adalah yang terbaik. Atau konsep bisnis yang dia mulai adalah yang terbaik. Padahal itu hasil dari mencontek bisnis orang lain. Seperti yang dijelaskan di awal, bisnis itu adalah bagaimana memberi. Artinya bisnis yang bisa survive adalah bisnis yang mampu memenuhi kebutuhan pasar, bukan yang paling laku. Kalau anda cuma berpatokan pada laku atau tidaknya sebuah barang, niscaya anda akan terkena sebuah hukum "siklus bosan" atau diserang "siklus bajakan". Artinya mulailah bisnis pertama kita dengan apa yang kita suka dan kenal baik. Sehingga kita paham berbagai macam aspek. Anda suka sepeda, mulailah dengan jual spare part sepeda, karena anda pasti paham kualitas dan supplier. Jangan malah jual smartphone, mentang-mentang saat ini smartphone lagi laris.

7. Lakukan dengan hati dan tetap bermimpi.
Pada akhirnya, langkah 1 hingga 6 akan menjadi omong kosong, jika anda tidak memiliki daya tahan. Ingat sukses itu adalah sebuah proses, artinya berkorelasi dengan waktu. Instan itu cuma mie, bukan kita... Kenapa harus hati? karena mungkin produk kita banyak yang punya, tapi hati kita tetap milik kita. Maksudnya dengan hati adalah beri produk atau jasa anda sebuah diffrensiasi (perbedaan) dengan kompetitor. Dan itu hanya bisa dilakukan dengan hati yang tulus.

Kesimpulan untuk memulai bisnis itu bisa disederhankan seperti ini:

konsep bisnis => team => bisnis plan => cari investor => buka usaha

tentang bisnis plan bisa dibaca di sini:
http://mediadidik.blogspot.com/2013/09/panduan-membuat-business-plan.html

sumber: kaskus.co.id

Bagaimana Mendirikan Penerbit Buku?

Apakah penerbit itu sebuah usaha (perusahaan) atau sebuah profesi? Pertanyaan ini kerap mengemuka di lingkungan Ikapi sendiri. Jika mendasarkan pada terminologi penerbitan, penerbit adalah sebuah profesi yang pekerjaannya mengembangkan dan mengemas naskah (manuskrip) menjadi buku yang siap cetak. Keahlian utama para penerbit adalah mengembangkan ide, naskah, hingga kemudian menjadi sebuah buku yang layak baca. Berkaitan dengan hal ini Ikapi sendiri disebut sebagai organisasi profesi, bukan organisasi perusahaan penerbitan buku.

Pada acara diskusi bertajuk “Menatap Masa Depan Perbukuan” yang diselenggarakan pengurus Ikapi Jawa Barat terkait Konferensi Kerja Daerah pada tanggal 28 April 2012, Putut Widjanarko (Mizan) yang menjadi narasumber kembali menegaskan kompetensi penerbit. Perubahan zaman yang melahirkan penerbitan digital semestinya tidak mencemaskan penerbit apabila para penerbit memahami kompetensi intinya sebagai pengembang konten (ide dan naskah), bukan sebagai penjual buku tradisional (cetak).  Uraian Putut ini kembali mengingatkan kita bahwa penerbit adalah sebuah profesi, bukan sekadar sebuah perusahaan yang menghasilkan dan menjual buku.

Dalam perkara kemudian penerbit didirikan menjadi sebuah perusahaan berpayung badan usaha atau badan hukum adalah dalam konteks bisnis sehingga kemudian penerbit juga disebut sebagai industri kreatif. Jadi, ada yang disebut publisher (penerbit) dan publishing house (perusahaan penerbitan). Walaupun demikian, Anda tidak perlu bingung dengan istilah penerbit atau penerbitan. Pada intinya kita harus memahami penerbit sebagai profesi dan kemudian penerbit juga sebagai usaha (bisnis) yang menghasil mampu mendatangkan keuntungan (profit). Sebagai sebuah usaha maka penerbit pun perlu memiliki unsur-unsur yang lazim dalam sebuah perusahaan.

Penerbit vs Pencetak

Apakah Anda termasuk orang yang masih suka mencampuradukkan pengertian penerbit dan pencetak? Jika ya, perlu ditegaskan lagi bahwa penerbit tidak identik dengan pencetak (percetakan). Penerbit adalah sebuah perusahaan yang dikelola untuk menyiapkan naskah mentah (manuskrip) hingga menjadi buku siap cetak dalam kegiatan editorial dan perwajahan (desain). Pencetak sendiri adalah perusahaan yang menerima order cetak dari penerbit dan melakukan kegiatan pracetak-cetak-pascacetak.

Karena itu, Anda jangan berpikir harus memiliki mesin cetak ketika hendak mendirikan sebuah badan penerbit buku. Berikut adalah tabel perbedaan antara Penerbit dan Pencetak.


Masalahnya memang sebagian besar masyarakat Indonesia, bahkan di kalangan pemerintah sendiri tidak mampu membedakan institusi penerbit dan institusi pencetak. Penerbit tidak identik harus memiliki mesin cetak karena modal utamanya adalah naskah dan kreativitas pengembangannya. Adapun perangkat keras ataupun mesin yang digunakan di penerbit sebatas komputer, printer, dan scanner. Hal inilah menyebabkan bisnis penerbitan dalam dijalankan dari sebuah ruangan kecil berukuran 3 x 2 meter atau menjadi bisnis rumahan (home industry).

Badan Usaha atau Badan Hukum

Bagaimana dengan badan usaha atau badan hukum penerbit buku? Sebenarnya tidak ada ketentuan perundang-undangan bahwa penerbit harus memiliki badan usaha seperti persekutuan komanditer (CV) atau badan hukum, seperti yayasan, koperasi, ataupun perseroan terbatas (PT). Karena itu, sangat mungkin ada perseorangan yang mendirikan penerbit dan menyebut diri mereka sebagai self-publisher (penerbit swakelola) tanpa memiliki badan usaha atau disebut perusahaan perseorangan. Akan tetapi, untuk orientasi bisnis, sebuah penerbit perlu memiliki badan usaha ataupun badan hukum. Lazimnya di Indonesia, para penerbit yang tergabung menjadi anggota Ikapi terdiri atas persekutuan komanditer (CV), perseroan terbatas (PT), dan juga yayasan.

Kepemilikan badan usaha atau badan hukum ini juga merupakan salah satu persyaratan untuk menjadi anggota Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi), termasuk juga ikut menjadi anggota Kamar Dagang dan Industri (KADIN). Selain itu, dalam soal pengurusan legalitas penerbitan, Perpustakaan Nasional pun kini mewajibkan para penerbit memiliki legalitas badan sesuai dengan peraturan perundang-undangan jika ingin mengajukan keanggotan International Standard Book Number (ISBN).

Jika ditilik dari fenomena penerbit di Indonesia, dapatlah diklasifikasi beberapa badan penerbit seperti berikut ini.


Dari Tabel dapat dilihat betapa usaha penerbitan bisa dijalankan siapa pun untuk berbagai kepentingan, baik itu bisnis ataupun penyediaan bahan-bahan terbitan yang relevan pada suatu lembaga (in-house publishing).  Buku ini sendiri diterbitkan oleh Ikapi yang notabene bukanlah perusahaan penerbitan, melainkan organisasi profesi. Buku ini diterbitkan sebagai bagian dari program kerja untuk memberikan informasi seluas-luasnya kepada anggota Ikapi maupun masyarakat tentang mekanisme penerbitan buku.

Penerbitan buku adalah usaha yang sangat aktif dan kreatif sehingga sangat bertumpu pada penerbitan buku baru (front list) setiap bulan atau setiap tahunnya. Saat Anda menetapkan untuk menjadi penerbit dan mengurus badan penerbitan buku maka Anda pun perlu menyiapkan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga penerbit (AD/ART). Pertimbangan memilih badan usaha atau badan hukum tentu terkait dengan permodalan, kemitraan, termasuk antisipasi perkembangan ke depan. Beberapa penerbit buku di Indonesia memang merupakan usaha keluarga (family business) yang dijalankan suami-istri dengan melibatkan anak-anaknya. Biasanya badan yang awal dipilih adalah CV dan kemudian berkembang menjadi PT.

Dalam soal memilih badan penerbit ini tentu Anda dapat dibantu seorang notaris untuk mengesahkan badan usaha atau badan hukum penerbit Anda. Untuk mengakomodasi kepentingan pengembangan usaha jangka panjang, Anda pun dapat memasukkan bidang usaha percetakan maupun penjualan buku di dalam akta notaris. Hal ini sudah lazim terjadi ketika penerbit berkembang kemudian meluaskan usahanya dalam satu atap menjadi usaha percetakan, pendistribusian, dan termasuk penjualan retail buku dengan mendirikan toko buku. Pengembangan ini membuat penerbit Anda kemudian dapat digolongkan sebagai penerbit besar.

Berdasarkan besar-kecilnya penerbit maka penerbit dapat dibagi menjadi:

Tabel Jenis Penerbit Berdasarkan Ukuran Penerbitannya


*) asumsi 1 judul menghabiskan biaya Rp12.000.000,00

Semua yang besar tentunya bermula dari yang kecil, kecuali jika seseorang yang berkeinginan mendirikan penerbit memiliki modal yang sangat besar untuk langsung mendirikan major publisher. Pada major publisher-lah umumnya dapat dilihat proses panjang penerbitan buku sebagai suatu alur kerja.

Paparan berikut ini adalah hal-hal penting yang perlu Anda persiapkan untuk mendirikan penerbit buku. Pada dasarnya usaha atau bisnis penerbit buku sama dengan bisnis lainnya, bahkan Thomas Woll (2002) menyatakan sebagai bisnis yang relatif mudah untuk dimulai karena hambatan untuk memasukinya sedikit.

Thomas Woll menyatakan mudah jika Anda memiliki hal-hal berikut ini:
  • sebuah ide baru atau konsep baru,
  • sebuah pandangan berbeda dari ide lama,
  • jumlah uang yang cukup untuk memproduksi produk anda,
  • beberapa sarana menjual atau mendistribusikan produk anda meskipun dari mobil anda atau menyalurkan penuh melalui distributor, dan
  • sebuah tempat untuk menyimpan produk Anda, apakah itu di lantai bawah ataupun gudan yang disewa atau dalam bentuk arsip digital, Anda dapat menjadi penerbit. (Woll 2002: xvii).

Memberi Nama Penerbit

Apalah artinya sebuah nama? Demikian ungkapan populer dari Shakespeare. Namun, tetaplah dalam mendirikan sebuah penerbit, Anda harus memberi nama yang tepat. Di dunia Barat lazim penerbit yang didirikan menggunakan nama pendirinya, seperti John Wiley and Son atau Simon and Schuster. Di Indonesia menggunakan nama diri untuk penerbit memang tidak lazim. Kalaupun ada hanya menggunakan singkatan nama seperti Penerbit Effhar yang merupakan singkatan nama pendirinya Effendi Harahap ataupun saya menggunakan nama penerbit TrimKom yang diambil dari nama belakang saya, Trimansyah.

Ada kosakata yang kerap digunakan penerbit Indonesia untuk memberi nama, seperti pustaka, aksara, grafika, ilmu, pena, dan media yang memang akrab dengan dunia buku. Anda dapat menggunakan gabungan kata (frasa) terdiri atas dua atau tiga kata untuk memberi nama penerbit Anda. Berikut contoh alternatif nama penerbit:

•    Pustaka Ananda
•    Titian Aksara
•    Mitra Grafika Sejati
•    Poros Ilmu
•    Akar Pena
•    Dwi Media Selaras

Tentu prinsip pemberian nama penerbit adalah mudah diingat, khas, dan tentunya menggambarkan karakter dan nilai-nilai yang dibangun penerbit Anda. Ceklah nama yang akan Anda berikan untuk menghindarkan kemiripan nama dengan penerbit lainnya. Pertimbangkan juga untuk membuat nama penerbit menjadi akronim ataupun singkatan yang pas dan baik untuk didengar. Contoh kalau Anda memilih nama “Mitra Sejati Grafika”, singkatan dapat disebut orang Penerbit MSG. Unik, tetapi terasa juga kurang pas karena MSG sudah populer sebagai bahan penyedap masakan. Contoh lain juga jangan sampai Anda memberi nama penerbit “Pustaka Suluh Kata” yang nantinya malah disingkat menjadi Penerbit PSK sehingga berkonotasi kurang baik.

Kaitan dengan akronim dan penyingkatan ini karena dunia perbukuan sudah sangat lazim menggunakannya seperti menyebut Penerbit GPU untuk Gramedia Pustaka Utama atau BP untuk Balai Pustaka. Untuk itu, tetap pertimbangkan pemilihan nama jika nantinya penyebutan disingkat.

Selain nama, tentu yang tidak kalah penting adalah desain logo penerbit buku. Logo harus eye catching dan menunjukkan karakter penerbit buku.

Menetapkan Haluan Penerbit

Haluan atau bidang yang Anda pilih untuk usaha penerbitan adalah penting sesuai dengan minat dan kompetensi yang Anda miliki ataupun Anda merasa mampu merekrut tim yang memiliki kekhususan di bidang tersebut. Haluan juga seperti sebuah jalan penerbitan yang hendak Anda tempuh dan Anda sudah mengetahui benar apa konsekuensi yang timbul dari pilihan Anda tersebut.

Coba Anda cermati contoh haluan penerbitan berikut ini.

Tabel Contoh Haluan Penerbitan dan Konsekuensi


Haluan juga terkait dengan idealisme penerbitan yang hendak Anda jalankan. Usaha penerbitan buku memang selalu dikaitkan dengan idealisme yaitu mencerdaskan (kehidupan) bangsa.

Walaupun demikian, ada kecenderungan beberapa penerbit tidak menetapkan haluan seperti ini dan mengarahkan usaha penerbitannya pada segala jenis buku. Faktor ini memang terkait dengan upaya memanfaatkan peluang. Saat terjadi booming buku anak maka penerbit pun mengubah haluan penerbitannya ke buku anak; saat terjadi booming buku religi maka penerbit juga ikut menerbitkan buku religi; dan saat terjadi booming buku motivasi maka sang penerbit pun banting stir ke buku-buku motivasi. Salahkah? Tentu bukan soal benar salah, tetapi dalam soal branding atau ciri dari penerbit tersebut maka masyarakat pembaca pun bingung dengan kecenderungan penerbitan sang penerbit.

Boleh jadi penerbit seperti itu menetapkan haluan penerbitnya sebagai penerbit buku umum saja. Pengertian ‘umum’ ini menjadi segala buku dapat diterbitkan. Namun, ketika kita menilik kompetensi, sebenarnya sang penerbit tidak memiliki tim dengan kompetensi ‘segala bisa’ seperti yang diharapkan. Ilustrasinya bahwa tidak semua editor buku ajar tiba-tiba dapat diminta untuk mengedit buku anak atau novel. Begitupun seorang layouter ataupun desainer buku ajar tiba-tiba diminta untuk mengonsep desain buku anak. Jika hal ini dipaksakan, akan terjadi penurunan kualitas produk karena tim yang menangani tidak memiliki kompetensi pada haluan yang diubah oleh penerbit.

Haluan memang dapat dikatakan juga sebagai positioning penerbit. Kembali pada paparan Thomas Woll sebenarnya Anda dapat memosisikan diri sebagai penerbit apa pun asalkan Anda memiliki ide atau konsep buku untuk dikembangkan. Walaupun demikian, haluan spesifik (niche) malah dapat menolong Anda untuk berkonsentrasi pada awal-awal menerbitkan buku.

Kecenderungan memanfaatkan peluang dengan memasuki haluan lain yang dapat dipahami adalah melakukan ekstensifikasi usaha penerbitan dengan mendirikan lini penerbitan atau dalam terminologi penerbitan disebut imprint. Imprint baru dapat diwujudkan dalam bentuk merek (brand) baru, bahkan tim kerja yang baru. Perihal imprint ini akan dibahas pada subbab selanjutnya.

Dikutip dariApa & Bagaimana Menerbitkan Bukukarya Bambang Trim
© 2012 oleh Ikatan Penerbit Indonesia

sumber: manistebu.wordpress.com