Tampilkan postingan dengan label Falsafah Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Falsafah Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Visi Rasulullah untuk Pendidikan Generasi Abad 21

Oleh: Budi Ashari, Lc.

Visi Umat Saat Ini

Suatu peradaban terbentuk dari masyarakat, sedangkan masyarakat terbentuk dari komunitas terkecil yaitu keluarga.  Maka tinggi/rendahnya suatu peradaban diawali dengan tinggi/rendahnya kualitas keluarga-keluarga di dalamnya.

ISLAM meminta kita untuk memiliki VISI yang BESAR.  Namun sayangnya fakta berkata bahwa umat Islam di zaman ini hanya memiliki visi yang kecil dan remeh dalam sudut pandang Islam.

Apa contohnya?

Perhatikan tujuan para orangtua menyekolahkan anak-anaknya: Supaya kelak bisa punya pekerjaan yang bagus, punya rumah yang bagus, punya kendaraan sendiri?
Perhatikan betapa bangga dan puasnya para orangtua yang anak-anaknya "sukses": punya pekerjaan bagus, punya rumah, punya kendaraan, sudah menikah, punya anak...

Itulah definisi SUKSES yang diadopsi oleh umat Islam di zaman ini.  Diadopsi?  Ya, diadopsi dari orang-orang kafir yang tidak mengetahui, tidak mengerti apalagi meyakini akhirat.  Hal yang dianggap kesuksesan luar biasa oleh orang-orang kafir, namun sesungguhnya sangat remeh dalam pandangan Islam.

Dari contoh di atas, ternyata saat ini kita menuntut ilmu untuk tujuan dunia.  Sudah tahukah Anda apa sabda Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. tentang orang yang menuntut ilmu untuk tujuan dunia?

    حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا سُرَيْجُ بْنُ النُّعْمَانِ حَدَّثَنَا فُلَيْحٌ عَنْ أَبِي طُوَالَةَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ مَعْمَرٍ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنْ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِي رِيحَهَا
"Barangsiapa mempelajari suatu ilmu yg seharusnya karena Allah Azza Wa Jalla, namun ia tak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan sebagian dari dunia, maka ia tak akan mendapatkan baunya Surga pada Hari Kiamat." [HR. Abu Daud No.3179].

Melemahnya Umat Islam

Umat Islam saat masih bersatu di bawah pimpinan seorang khalifah yang menerapkan hukum (syari'at) Allah adalah suatu umat yang kuat.  Daulah Islam menguasai peradaban yang tinggi. Rakyat yang hidup di dalamnya, baik Muslim maupun non-Muslim, hidup aman sejahtera dan ilmu pengetahuan mengalami kemajuan yang pesat.  Namun saat kaum Muslim mulai menurunkan standar visinya dan disibukkan oleh hal-hal remeh (duniawi), saat itulah dimulainya kemunduran.

Belajarlah dari sejarah salah satu penyebab lepasnya Andalus dari tangan kaum Muslimin, yaitu hadirnya seorang pemusik dari Iraq yang pindah ke Andalus, bernama Abu Al Hasan Ali bin Nafi' (atau dikenal juga dengan sebutan Ziryab).  Dialah yang mengajari masyarakat Andalus tentang menyanyi, table manner (termasuk urutan makan dari appetizer - main course - dessert), makan 3 kali sehari, dress code, hairstyle dsb.  Sehingga umat Muslim mulai menyukai dan disibukkan dengan hal-hal remeh tersebut. Maka masjid-masjid di Andalus mulai sepi. Muslimin makin jauh dari Islam karena makin cinta dunia.

Benarlah sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berikut:

    عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا ». فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ « بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ ». فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ « حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ
Dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hampir saja para umat (yang kafir dan sesat) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring”. Kemudian seseorang bertanya,”Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata,”Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagai sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ’Wahn’. Kemudian seseorang bertanya,”Apa itu ’wahn’?” Rasulullah berkata,”Cinta dunia dan takut mati.” [HR. Abu Daud no. 4297 dan Ahmad 5: 278].

Visi Misi Keluarga Muslim

Sumber hukum Islam telah menjelaskan visi dan misi keluarga Muslim dalam dalil-dalil sebagai berikut:

Menjaga Diri dan Keluarga dari Api Neraka

Dalil: Al Qur'an surah At Tahrim (66): 6

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan."

Ini adalah perintah Allah subhanahu wata'ala kepada orang-orang yang beriman.  Menjaga diri dan keluarga dari api neraka berarti tidak boleh ada perbuatan ahli neraka yang masuk ke dalam keluarga dan rumah kita.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. sebagai suri teladan telah memberi contoh betapa beliau tidak pernah berkompromi dalam hal ini, bahkan kepada anak-anak.  Hal ini terlihat dari riwayat saat cucu beliau, Hasan, mengambil sebiji kurma dari tempat kurma-kurma zakat/sedekah.  Beliau segera menyuruh cucunya yang masih kecil itu untuk mengeluarkan kurma itu dari mulutnya. Namun Hasan tidak mengeluarkannya, sehingga Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. memasukkan jarinya ke mulut cucu beliau dan mengeluarkan kurma itu.  Saat itu usia Hasan masih kecil, namun Rasulullah tidak memberi kompromi.

Bagaimana dengan kita? Kita biasa memakai kata "maklum" atas perbuatan anak-anak.  Bahkan saat ini kita berstandar ganda; di satu sisi mengakui harus menjauhi yang haram, tapi di sisi lain kita menikmati perbuatan/hal-hal yang haram karena membuat hidup lebih mudah (contoh: pinjaman/cicilan dengan riba dan transaksi/muamalah dengan akad-akad bathil).  Ingatlah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. mencontohkan bahwa tidak boleh ada kompromi dalam menjauhkan diri dan keluarga dari neraka.  Tegakah kita jika salah satu anggota keluarga kita disiksa di neraka?

Mewujudkan Pasangan dan Keturunan Penyejuk Mata dan Pemimpin bagi Masyarakat Bertakwa

Dalil: Al Qur'an surah Al Furqan (25): 74

    وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً
"Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami pasangan-pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa."

Perhatikanlah do'a yang indah ini:
  • Ayat ini mendahulukan kata 'pasangan', baru kemudian menyebut 'keturunan'.
  • Ayat ini mendahulukan do'a meminta 'penyejuk hati', baru memohon 'jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.'

Al Qur'an sebagai mu'jizat, berisi kalamullah yang begitu sempurna baik dalam pemilihan kata maupun urutan peletakan kata.  Mari kita renungkan kedua poin di atas:

Poin 1.
Sudah sewajarnya bahwa kita mempunyai pasangan yang sah secara syari'at sebelum mempunyai keturunan. Keturunan baru akan menjadi penyejuk mata saat kita berhasil mewujudkan pasangan yang menjadi penyejuk mata bagi kita.  Amat sulit mewujudkan keturunan yang istimewa saat hubungan pasangan tidak baik.

Poin 2.
Pemimpin yang baik lahir dari keturunan yang menjadi penyejuk mata dalam keluarga.  Rumah adalah tempat utama lahirnya para pemimpin istimewa. Kegagalan menghadirkan pemimpin yang adil dan penuh belas kasih adalah bukti kegagalan keluarga Muslim menanamkan pondasi awal seorang calon pemimpin yang menyejukkan mata di rumah. Mewujudkan pemimpin yang baik, yang lahir sebagai penyejuk mata dalam keluarga inilah yang menjadi masalah umat saat ini.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. dan para sahabatnya memberi teladan kepada kita betapa mereka saat menjadi pemimpin umat, tetap memiliki waktu untuk bercengkerama bersama keluarga dan bermain bersama anak-cucu mereka.

Dalam sebuah riwayat bahkan Khalifah Umar bin Khatthab radhiyallahu 'anh pernah batal memberikan jabatan kepada seseorang setelah mengetahui bahwa orang tersebut tidak pernah memeluk dan mencium anak-anaknya.

Bersama Hingga di Surga

Dalil: Qur'an surah At Thur (52): 21

    وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ ۚ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ
"Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya."

Tidakkah kita ingin berkumpul kembali dengan keluarga kita kelak di surga?

Jadikanlah pembicaraan tentang surga sebagai pembicaraan dalam keluarga.  Sampaikanlah betapa inginnya kita berkumpul kembali bersama pasangan dan anak-anak kita di surga kelak, sehingga visi ini akan tertanam dalam hati setiap individu dalam keluarga dan akan bersama-sama mengusahakan terwujudnya visi ini.

Melahirkan Generasi Penegak Khilafah

Dalil: Hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. diriwayatkan oleh Ahmad: Dari Hudzaifah bin Al Yaman, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. bersabda:

    تكون النبوة فيكم ما شاء الله أن تكون ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها ثم تكون خلافة على منهاج النبوة فتكون ما شاء الله أن تكون ثم يرفعها إذا شاء الله أن يرفعها ثم تكون ملكا عاضا فيكون ما شاء الله أن يكون ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها ثم تكون ملكا جبرية فتكون ما شاء الله أن تكون ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها ثم تكون خلافة على منهاج النبوة ثم سكت
"Adalah Kenabian (nubuwwah) itu ada di tengah-tengah kamu sekalian, yang ada atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang menempuh jejak kenabian (Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah), yang ada atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Kekuasaan yang menggigit (Mulkan ‘Aadhdhon), yang ada atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Kekuasaan yang memaksa (diktator) (Mulkan Jabariyah), yang ada atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya, apabila Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang menempuh jejak Kenabian (Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah)." Kemudian beliau (Nabi) diam.

Dalam hadits di atas Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. menjelaskan tentang 5 fase zaman:
  1. Masa Kenabian (Nubuwwah);
  2. Masa Khilafah yang menempuh jejak kenabian (Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah);
  3. Masa Kekuasaan yang menggigit (Mulkan ‘Adhdhon);
  4. Masa Kekuasaan yang memaksa (diktator) (Mulkan Jabariyyah);
  5. Masa Khilafah yang menempuh jejak Kenabian (Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah).

Fase ke-1. Masa Kenabian (Nubuwwah)
Ini adalah masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam., hingga beliau wafat. Beliaulah yang menjadi pemimpin dan mengurus kesejahteraan dan keamanan seluruh umat Islam, baik masyarakat Arab maupun non-Arab yang berada dalam naungan Daulah Islam.

Fase ke-2. Masa Khilafah Berdasar Sistem Kenabian (Khilafah 'ala minhaj an-Nubuwwah)
Khilafah adalah sistem kepemimpinan untuk seluruh umat Muslimin di seluruh dunia, dengan satu pemimpin, satu aturan berdasarkan syari'at Islam. Ini adalah masa para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. memimpin, diawali dengan Abu Bakar radhiyallahu 'anh (2 tahun), dilanjutkan oleh Umar bin Khatthab radhiyallahu 'anh (10 tahun), Utsman bin Affan radhiyallahu 'anh (12 tahun), Ali bin Abu Thalib radhiyallahu 'anh (6 tahun), diakhiri dengan kepemimpinan Hasan bin Ali radhiyallahu 'anh (6 bulan) yang mengundurkan diri pada bulan Rabi'ul Awwal, tepat 30 tahun wafatnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Fase ke-3. Masa Kekuasaan yang menggigit (Mulkan 'Adhdhon)
Fase yang muncul selanjutnya adalah kerajaan, ditandai dengan berdirinya Dinasti Bani Umayyah. Dalam fase ini kekuasaan masih berada di tangan Muslimin. Namun dalam fase ini terjadi naik-turun keadilan tergantung pemimpin, kadang baik dan adil, terkadang juga zhalim.  Tapi pemimpin pada fase ini masih menegakkan syari'at Islam.

Fase ke-4. Masa Kekuasaan yang memaksa (diktator) (Mulkan Jabariyyah)
Pada fase ini dimulailah keterpurukan umat diawali dengan hilangnya kekuasaan kepemimpinan umat Muslim di muka bumi sehingga syari'at Allah (Islam) tidak lagi diterapkan, dan umat Muslim menjadi korban terbesar dari masa ini. Para ulama mengatakan bahwa saat ini kita berada di fase ke-4.

Fase ke-5. Masa Khilafah Berdasar Sistem Kenabian (Khilafah 'ala minhaj an-Nubuwwah)
Fase ini belum terjadi, dan akan terjadi karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidaklah bersabda melainkan apa yang disampaikan beliau adalah wahyu dari Allah subhanahu wata'ala.  Pada fase ke-5 ini akan hadir para pemimpin yang adil dan membawa kesejahteraan bagi rakyat. Rasulullah menamakan fase ini sama seperti fase ke-2.  Generasi seperti apa yang diperlukan untuk masa khilafah 'ala minhaj an-nubuwwah?  Ternyata kita telah diberi contoh yang lengkap dari sejarah di fase ke-2.

Melahirkan Generasi Pembuka Roma

Dalil: Hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.:

    فقال عبد الله بينما نحن حول رسول الله صلى الله عليه وسلم نكتب إذ سئل رسول الله صلى الله عليه وسلم أي المدينتين تفتح أولا قسطنطينية أو رومية فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم مدينة هرقل تفتح أولا يعني قسطنطينية
Abdullah bin Amru bin Al-Ash berkata, "Bahwa ketika kami duduk di sekeliling Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk menulis, tiba-tiba beliau shallallahu 'alaihi wasallam ditanya tentang kota manakah yang akan difutuh (dibebaskan) terlebih dahulu, apakah kota Konstantinopel atau kota Roma”. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab, “Kota Heraklius terlebih dahulu (maksudnya Konstantinopel)” [HR Ahmad]

Pernyataan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. ini disampaikan sekitar tahun 5 H atau 627 M, dan menjadi kenyataan di tahun 857 H atau 1453 M  yaitu lebih dari 8 abad kemudian.  Dulu Romawi terbagi menjadi 2 wilayah yaitu Romawi Barat yang terletak di Italia dan Romawi Timur yang meliputi wilayah Syam (Suriah, Palestina, Libanon, Yordania) dengan ibukota Konstantinopel (saat ini Istambul, Turki).  Konstantinopel adalah lambang kebanggaan Kristen Ortodoks dan merupakan benteng yang kuat tak terkalahkan pada masa itu.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. bersabda:

    لتفتحن القسطنطينية فلنعم الأمير أميرها ولنعم الجيش ذلك الجيش
"Kalian pasti akan membebaskan Konstantinopel; sehebat-hebat amir (panglima perang) adalah amir-nya dan sekuat-kuatnya pasukan adalah pasukannya." [HR Ahmad]

Selama berabad-abad para pejuang Muslim berusaha memantaskan diri untuk menjadi pembebas Konstantinopel seperti yang disebutkan dalam hadits tersebut, namun belum ada yang berhasil. Hingga akhirnya pertahanan kokoh Konstantinopel runtuh oleh pasukan Muslim yang dipimpin oleh seorang anak muda berusia 24 tahun yang dikenal dengan nama Muhammad Al Fatih.

Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di atas telah menjadi kenyataan, untuk Konstantinopel.  Maka apa yang ada di depan mata kita kelak adalah pembebasan Roma.  Inilah yang akan menjadi masa generasi yang akan datang. Maka, ajarkanlah ilmu-ilmu yang akan bermanfaat kelak di zaman anak-anak kita dewasa. Jangan ajarkan ilmu yang hanya akan dikubur kelak saat kebangkitan Islam.  Dan luruskanlah visi mendidik anak-anak dengan visi yang besar (akhirat), tidak lagi visi duniawi.

Bagaimana melahirkan generasi pembuka Roma? Inilah pertanyaan terpenting, yang jawabannya menjadi tugas kita.

Semua Berawal dari Sini:

    قال جندب بن جنادة رضي الله عنه: كنا مع النبي صلى الله عليه وسلم ونحن فتيان حزاورة فتعلمنا الإيمان قبل أن نتعلم القرآن ثم تعلمنا القرآن فازددنا به إيمانا، وأنتم اليوم تعلمون القرآن قبل الإيمان. رواه ابن ماجه وصححه الألباني
Jundub bin Junadah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kami telah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika kami masih sangat muda. Kami mempelajari iman sebelum belajar al-Quran, kemudian barulah kami mempelajari al-Quran hingga bertambahlah keimanan kami karenanya.” [HR. Ibn Majah dan disahihkan oleh al-Albani]

Dalam hadits di atas diriwayatkan bahwa yang pertama diajarkan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. adalah  IMAN. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. selama masa-masa awal di Mekah membina umat Muslim dengan aqidah (keimanan). Ayat-ayat Qur’an yang turun di Mekah banyak berisi tentang kejadian di Hari Kiamat, surga dan neraka.

Maka hendaklah kita mengajarkan IMAN terlebih dahulu kepada anak-anak. Jangan diubah urutannya!

Iman yang tertanam dalam dan kuat membuat umat Muslim tidak tawar-menawar akan syari’at Allah.  Jika kita ajarkan halal/haram (syari’at) terlebih dahulu, jangankan anak-anak, orang dewasa pun akan ‘lari’ duluan.

Tanamkan pengertian tentang tauhid, sifat-sifat ketuhanan-Nya, Allah-lah yang menciptakan dan mengatur seluruh langit dan bumi beserta isinya, Allah-lah yang memberikan rezeki dan kenikmatan, hanya Allah-lah yang diibadahi, dan seterusnya.  Jelaskan tentang nama-nama baik Allah (asma’ul-husna) dan pengertian di dalamnya, sehingga saat membaca surah-surah Al Qur’an anak-anak akan semakin terdorong untuk memahaminya.

Belajar dari Sejarah

Imam Malik radhiyallahu 'anh: "Generasi ini tidak akan pernah bisa baik kecuali dengan cara yang pernah dipakai untuk memperbaiki generasi awal."

Sejarah itu berulang. Keadaan umat Muslim dahulu sama seperti kita sekarang. Jika kita mengeluh tentang teknologi, maka teknologi sudah ada sejak dahulu, hanya berubah bentuk.  Media? Media pun sudah ada sejak dulu, hanya berubah bentuk.  Tantangan dari lingkungan terhadap umat Muslim? Itu pun sudah ada sejak awal--Islam hadir sebagai sesuatu yang asing di tengah masyarakat Arab jahiliyah.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
"Islam muncul pertama kali dalam keadaan terasing dan akan kembali terasing sebagaimana mulainya, maka berbahagialah orang-orang yang terasing tersebut."

Maka percayalah pada janji Allah yang disampaikan melalui lisan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam., bahwa umat Muslim akan kembali bangkit.  Untuk itu siapkanlah anak-anak kita untuk berperan di zamannya nanti, zaman kebangkitan Islam. In sya Allah.

Wallahu a’lam

sumber: catatankajianislam.blogspot.in

5 Metode Yang Bisa Merevolusi Pendidikan Pada 20 Tahun Mendatang

5 Ways Education Could Be Revolutionized Over the Next 20 Years
5 Metode Yang Bisa Merevolusi Pendidikan Pada 20 Tahun Mendatang

By Sofia Rasmussen

Over the next twenty years, within an increasingly global economy, better technology, less public funding for schools, and more diversity, education in the United States will change dramatically. Below are five areas in education that will be altered in the next two decades.
Dua puluh tahun ke depan, dalam  perekonomian yang semakin global, teknologi yang lebih baik, dana yang kurang untuk sekolah, dan keragaman masyarakat yang lebih kompleks, pendidikan AS (juga di negara kita) akan berubah secara dramatis. Di bawah ini adalah lima area di bidang pendidikan yang akan berubah dalam dua dekade mendatang.

Better Online Education
Pendidikan Online Yang Lebih Baik

Because of students’ increasing ability with computers, and because of the growing ubiquity of the Internet, online education is transitioning from outside-the-box to the norm. Look no further than North Carolina, which now has a Virtual Public School, which provides online courses to school-age residents who are unable to take difficult or unusual courses in their area. Currently, distance-learning programs like Stanford’s EPGY are geared towards gifted children, but there are plans to change this so that children at all learning levels have access to top-tier virtual instruction.  Universities have already implemented bachelor’s, master’s, and PhD programs online with a high degree of success; primary and secondary schools are eager to use this model to their advantage.
Karena kemampuan siswa meningkat dalam penggunaan  komputer dan Internet berkembang di mana-mana, pendidikan online adalah salah satu pilihan yang perlu dipertimbangkan. Semakin bangyak negara bagian di Amerika yang kini memiliki Virtual Public School , yang menyediakan sekolah online untuk warga yang tidak mampu atau tidak tersedia di daerah mereka. Saat ini, program pembelajaran seperti EPGY Stanford diarahkan pada anak-anak berbakat, tetapi ada rencana untuk mengubah ini sehingga anak-anak pada semua tingkatan  memiliki akses belajar secara virtual. Universitas telah dilaksanakan program  online sarjana, master, dan PhD  dengan tingkat keberhasilan yang tinggi. Sekolah dasar dan menengah juga sangat ingin untuk menggunakan model ini untuk kemanfaatan dan keuntungan mereka.

The Rise of Homeschooling
Bangkitnya Homeschooling

While homeschooling has been around for centuries, by the twentieth century it was a fringe, seldom-used movement, and was shunned. That’s changing in the twenty-first century for three reasons. The first is that many public schools are not receiving the funding necessary to provide adequate education. Considering the current economy, this trend is only getting worse, which makes pulling one’s child out of school to educate him or her at home all the more appealing. Second, with significant online educational advances (see below), teaching a child at home through a broad base of classes online is relatively easy. Third, a large segment of the United States population are evangelical Christians (approximately 30% based on a poll released by CNN), many of whom want their children to have a Christian-centered education, which is often not available in public schools. Therefore, because of the confluence of these three factors, homeschooling is on the rise.
Homeschooling telah ada selama berabad-abad. Namun pada abad kedua puluh, ini gerakan yang jarang digunakan dan dihindari. Itu berubah di abad kedua puluh satu untuk tiga alasan. Yang pertama adalah bahwa banyak sekolah umum yang tidak menerima dana yang diperlukan untuk menyediakan pendidikan yang memadai. Mengingat perekonomian saat ini, tren ini semakin parah, yang menarik anak  keluar dari sekolah untuk mendidiknya di rumah. Kedua, dengan kemajuan signifikan pendidikan secara online, mengajar anak di rumah relatif mudah. Ketiga, segmen besar dari populasi Amerika Serikat adalah orang yang taat bergama, banyak dari mereka ingin anak-anak mereka memiliki pendidikan yang berpusat pada keagamaan, yang seringkali tidak tersedia di sekolah umum. Oleh karena itu, karena tiga faktor di atas, homeschooling terus meningkat.

Teaching Computer Literacy
Pengajaran Literasi Komputer

While there have been computer courses in school for approximately two decades, the courses often focused on very discrete tasks (such as how to enter numbers into a spreadsheet) and served in large part as a medium through which children were taught how to type effectively. Such limited computer education is no longer viable – students today need to know how to use a variety of programs and apps. For example, look for students to be formally trained in the intricacies of PowerPoint and Excel, but also on video-editing and using Google Map in orienteering.
Meskipun telah ada kursus komputer di sekolah selama kurang lebih dua dekade, kursus sering terfokus pada tugas-tugas yang sangat spesifik (seperti cara memasukkan angka ke dalam spreadsheet). Serta hal ini disajikan sebagian besar dimana anak-anak diajarkan bagaimana untuk mengetik secara efektif. Pendidikan komputer tersebut terbatas dan tidak layak lagi  - siswa saat ini perlu tahu bagaimana menggunakan berbagai program dan aplikasi. Misalnya, selain mengajari siswa untuk secara resmi dilatih dalam seluk-beluk PowerPoint dan Excel, tetapi juga  video-editing dan cara menggunakan Google Map.

Using Computer Literacy
Menggunakan Literasi Komputer

Going hand-in-hand with the above, students will likely be expected to use computers in every class – not just computer class. The most stable jobs require employees to use computers for hours a day – so look for computer education integrated into daily school life.
Bersamaan dengan hal di atas, siswa diharapkan untuk menggunakan komputer pada setiap pelajaran di kelas – bukan hanya kelas komputer. Pekerjaan yang paling stabil  dan menjajikan, membutuhkan karyawan yang menggunakan komputer selama berjam-jam sehari – sehingga pendidikan komputer harus diintegrasikan ke dalam kehidupan sekolah sehari-hari.

After all, in today’s world, a laptop or smartphone is used in conjunction with a person’s intelligence to help them learn and express themselves. This is a topic covered just about every single day on Edudemic and is going to be absolutely critical to any teacher looking to embrace the future of learning.
Selain itu, di dunia saat ini laptop atau smartphone  digunakan dalam membangun kecerdasan seseorang untuk membantu mereka belajar dan mengekspresikan diri. Ini adalah topik yang dibahas hampir setiap hari di Edudemic dan akan menjadi sangat penting untuk setiap guru yang ingin “merangkul” masa depan pembelajaran.

More Bilingual Education
Lebih Banyak Pendidikan Bilingual

According to the LA Times, the Hispanic population is now over 50 million, and has increased 43% in the past decade, with 23% of all Americans under the age of eighteen currently identifying as Hispanic. Moreover, Hispanic Americans are now the United States’ largest minority group. As the country moves to a bicultural nation, the focus on teaching Spanish and English in the classroom will increase, and more students will be truly fluent in both languages. In many areas, teachers will be expected to know both Spanish and English.
Menurut LA Times, populasi orang AS yang berbahasa Spanyol sekarang lebih dari 50 juta, dan telah meningkat 43% dalam dekade terakhir. Serta 23% dari semua orang Amerika di bawah usia delapan belas tahun saat ini diidentifikasi sebagai Hispanik. Selain itu, Amerika Hispanik sekarang kelompok minoritas terbesar di Amerika Serikat. Sebagai negara yang bergerak ke suatu negara Dwibudaya, fokus pada pengajaran bahasa Spanyol dan Inggris di dalam kelas akan meningkat, dan lebih banyak siswa akan benar-benar fasih dalam kedua bahasa. Di banyak daerah, guru akan diharapkan untuk mengetahui bahasa Spanyol dan Inggris.


sumber: edudemic.com | manajemenpembebas.wordpress.com

Membebaskan Diri dari Mitos-Mitos Pendidikan

Bayi kita berceloteh dalam ‘bahasa planet’, lalu pelan-pelan membunyikan suku kata. Kita menyemangatinya sampai akhirnya dia lancar bicara. Batita kita tertatih-tatih melangkah. Ia jatuh terjerembab, lalu berdiri lagi dan kembali melangkah. Kita terus menyemangati.  Balita kita susah payah berusaha mengancingkan bajunya. Kita menahan nafas dan memberi dukungan. Dengan sabar kita menunggu anak kita melampaui semua proses belajar ini dan dengan penuh sukacita merayakan setiap pencapaian mereka, sekecil apa pun capaian itu.

Namun, tanya Jan Hunt – aktivis senior unschooling Amerika dan penulis buku Natural Child yang diwawancari dalam sesi kedelapan Conscious Parenting Summit – mengapa ketika anak masuk ‘usia sekolah’ kita kehilangan iman kita bahwa anak itu pembelajar alami? Mengapa kita pikir bahwa kapasitas belajar itu berkurang atau menghilang kecuali dia masuk ke dalam sistem bernama sekolah? “Harus diceramahi oleh guru, harus duduk diam, harus menjalani berbagai macam ulangan dan tes” – apakah betul tanpa itu semua anak tidak mau belajar? Bagi unschooler seperti Jan Hunt, pernyataan bahwa “anak wajib ke sekolah” atau “sekolah adalah tempat belajar satu-satunya dan utama” adalah mitos-mitos keliru, tidak sesuai dengan kenyataan, yang kita harus bongkar.

Ketika kita begitu mendewa-dewakan sekolah, mata kita tertutup. Lalu kita memaksa anak-anak untuk tinggal di dalam sistem ini, sekalipun kita terus memperoleh lebih banyak bukti bahwa sistem ini tidak efektif. Mengapa tidak efektif? Karena anak dibuat belajar dengan rasa takut. “Anak-anak takut tidak mendapat nilai bagus, mereka takut guru akan memarahi mereka, mereka takut anak-anak lain akan mencemooh mereka.” Persis seperti pada orang dewasa, rasa takut akan mengganggu proses belajar anak-anak, membuat mereka terputus dari kesenangan belajar yang sesungguhnya. Dan jika situasi ini dilanjutkan selama berbelas-belas tahun, apa yang terjadi? “Pada usia 37 tahun, kita masih suka mimpi buruk tentang berada di ruang ujian akhir menghadapi soal yang sulit dan tidak bisa menjawabnya!”

Barangkali sebagian Anda belum akrab dengan istilah unschooling. Ini adalah nama untuk menyebut satu pendekatan spesifik dalam menjalan pendidikan berbasis rumah (home education). Seperti pernah saya bahas di bab 27 buku Cinta Yang Berpikir, gerakan unschooling diawali oleh John Holt, seorang guru Amerika tahun 1970-an. Sekian lama berkecimpung di dunia pendidikan formal, Holt akhirnya yakin bahwa pendidikan ideal yang ia harapkan tidak akan pernah tercapai lewat sistem sekolah, Holt lantas mengkampanyekan model pendidikan tanpa sekolah yang berpusat kepada anak (child-centered).

John Holt bilang bahwa merupakan satu kesalahan fatal ketika orangtua berpikir bahwa pendidikan identik dengan sekolah formal. Menurutnya, pemikiran bahwa sekolah itu sakral, wajib, tak tergantikan, satu-satunya penyedia pengetahuan adalah mitos yang harus dibongkar. Mengapa?

Pertama, sekolah tidak benar-benar memfasilitasi kodrat anak sebagai pembelajar. Holt memperoleh banyak surat dari para orangtua yang mengeluhkan bagaimana sekolah ‘mengkhianati’ rasa cinta belajar anak. Anak terlahir sebagai pembelajar, tetapi atas nama ‘sistem’, sekolah justru mendidiknya untuk tidak suka belajar. “Dia sudah bisa membaca sebelum masuk sekolah. Di kelas ia mendapati kemampuan membacanya satu sampai tiga tahun lebih maju ketimbang teman-temannya. Tentu saja ia malas mengerjakan latihan-latihan membaca yang kelasnya kerjakan, buat apa belajar apa yang dia sudah bisa lakukan? Tapi ketika dia bersikap seperti ini, dia mendapat masalah. Guru memerintahkannya untuk mengerjakan tugas yang anak-anak lain kerjakan, dan ketika dia berkata bahwa dia tidak mau, guru itu menghukumnya. Mungkin guru itu memarahinya di depan anak-anak lain, menyita bukunya, menyuruhnya berdiri di pojok kelas, menguncinya di dalam kamar mandi, memukulnya, memberinya nilai jelek, menyebutnya ‘hiperaktif’. Seringkali guru seperti ini juga menasihati orangtuanya bahwa kecuali si anak mau mengerjakan apa yang anak lain kerjakan, dia akan gagal dan harus tinggal kelas, yang berarti dia tidak bisa memperoleh bahan bacaan untuk tingkat kemampuan yang lebih tinggi.” (Teaching Your Own, hlm. 18)

Kedua, sekolah memiliki pandangan yang terlalu sempit tentang belajar dan pengetahuan. Sekolah meyakinkan kita bahwa proses belajar hanya terjadi di tempat tertentu (ruang kelas atau lingkungan sekolah), pada waktu tertentu (jam sekolah), dengan kurikulum tertentu, bersama orang berkualifikasi tertentu (guru), untuk mencapai standar tertentu (ijazah). Padahal, kenyataannya pengetahuan itu ada di mana-mana. Anak bisa belajar di mana saja, kapan saja, bersama atau dari siapa saja.

Ketiga, sekolah tidak memfasilitasi gaya belajar yang alamiah. Seharusnya, seseorang belajar berangkat dari kebutuhan dan minatnya. Belajar berdasar kebutuhan atau minat, menentukan sendiri target belajar apa yang ingin dicapai, kemudian mengatur sendiri seberapa intensif kita mau belajar, kegiatan belajar apa saja yang kita perlukan, lalu mencari bahan belajar secara eklektik (dari berbagai sumber), semuanya dikerjakan secara merdeka, itulah gaya belajar alamiah yang kita kerjakan “sebelum memasuki sekolah, juga setelah kita keluar dari sekolah dan memasuki dunia nyata,” kata Holt. Cara belajar di sekolah, ketika gurulah yang aktif mengarahkan pembelajaran, sementara siswa pasif menunggu penjelasan dan instruksi, akan mematikan inisiatif belajar anak. Dari pengalamannya sebagai guru selama bertahun-tahun, Holt mendapati bahwa model pembelajaran seperti ini sangat artifisial. Anak-anak hanya berpura-pura belajar demi nilai yang bagus, tetapi tidak memperoleh pengetahuan.

Jan Hunt sendiri mantap memilih opsi unschooling untuk mendidik anaknya setelah membaca buku-buku John Holt dan testimoni para unschooler lain di majalah Growing Without Schooling. “Saya percaya bahwa Jason sudah membawa kurikulum di kepalanya. Dialah yang paling tahu apa yang paling menarik minat belajarnya dan proses belajar akan terjadi paling efektif saat anak meminati pelajarannya. Tidak mungkin ada guru di sekolah mana pun yang bisa memenuhi kebutuhan belajar anak saya sementara dia harus menghadapi 10, 20, bahkan 30 anak. Kalau setiap anak punya minat yang spesifik pada satu waktu tertentu, perlu berapa banyak waktu bagi guru untuk mengenali semua minat itu, apalagi memenuhinya?”

Dengan  unschooling, tanggung jawab belajar sepenuh dipercayakan kepada anak. Anak bisa belajar apa yang dia mau, ketika dia mau, dengan cara yang dia mau, di tempat yang dia mau, untuk alasan-alasan yang dia mau. Proses pembelajaran sepenuhnya dikendalikan oleh anak. Bantuan dari orang lain, termasuk orangtua, hanya diberikan apabila dikehendaki olehnya. Tidak ada kurikulum, rancangan pelajaran (lesson plan), jadwal, atau agenda, bahkan tidak ada dua keluarga unschooler yang menjalankan unschooling dengan cara yang sama. Itulah yang dikerjakan Jan Hunt bersama Jason sejak anak tunggalnya itu berusia dua tahun – suatu proses belajar yang dia bilang “all fun!”, jauh dari rasa takut atau paksaan.

Ketakutan yang membelenggu para orangtua sehingga mereka tidak berani mempertimbangkan unschooling/homeschooling, kata Jan, antara lain adalah soal sosialisasi. “Di sekolah anak akan punya banyak teman,” kata mereka, “Kalau belajar di rumah bagaimana anak belajar bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya?” Dalam hal ini, Jan menggunakan asas falsifiabilitas dengan “Betulkah?” – lalu mencari bukti kebalikannya. Lalu ia mengangkat contoh salah satu keluarga unschooler yang tinggal di pedalaman Alaska karena sang ayah bekerja sebagai peneliti. Keluarga ini betul-betul terpencil dari masyarakat, sehingga si anak relatif hanya bergaul dengan ayah dan ibunya saja, kecuali saat mereka bisa pergi ke kota. Setelah dewasa dan masuk ke perguruan tinggi, teman-teman kuliah si anak merasa kaget mendengar riwayatnya, “Kau tidak pernah punya teman? Masa iya? Wah, kami sama sekali tak menyangka itu, sebab kau adalah salah satu pribadi paling manis yang pernah kami kenal!” Anak itu menyahut, “Tentu saja, ayah dan ibuku kan orang-orang baik!” Jadi, ternyata premis ‘anak hanya akan pandai bersosialisasi dengan teman sebaya kalau dia bersekolah’ itu adalah mitos juga!

Setahu Jan, anak-anak unschooler pandai-pandai saja dalam bergaul, bahkan relatif lebih percaya diri berinteraksi dengan semua kalangan dari semua umur dibandingkan anak-anak sekolahan. Bergaul dengan orang dewasa OK, dengan bayi pun OK. Bergaul dengan tetangga OK, dengan orang asing pun OK. Mereka tidak merasa bahwa mereka harus berkumpul hanya dengan teman sebaya saja. Lagipula, ketika tidak terus-menerus dikungkung oleh teman-teman sebaya, anak unschooler justru terbebas dari peer pressure. Tidak ada bullying, tidak harus mengikuti tren, mereka bebas merdeka menjadi diri sendiri, dus – menjadi lebih bahagia.

Secara akademis, anak unschooler atau homeschooler juga relatif berprestasi lebih baik. “Sampai-sampai beberapa perguruan tinggi ternama di Amerika, seperti Harvard, sekarang memprioritaskan calon mahasiswa unschooler/homeschooler sebab di kampus mereka selalu tampil menjadi siswa-siswa unggulan,” kata Jan. Rahasia prestasi akademis anak unschooler/homeschooler adalah “mereka mengenali minat mereka sendiri, mereka mengenali kekuatan-kekuatan mereka, jadi kalau mereka mendaftar ke perguruan tinggi, mereka tahu apa alasan mereka ke sana. Mereka kuliah bukan sekedar supaya lulus lalu dapat pekerjaan, tapi untuk mempelajari apa yang mereka sukai.”

Namun, yakin akan pilihan unschooling/homeschooling jangan lalu membuat kita bersikap arogan dan emosional. Belajar dari pengalamannya dulu, Jan menyarankan kepada para keluarga unschooler/ homeschooler untuk menjawab serangan atau kritik – terutama dari keluarga besar – dengan lemah lembut. “Saya sendiri dulu juga diserang habis-habisan oleh keluarga saya dan itu membuat saya merasa sangat tidak bahagia,” kenangnya. “Namun, setelah tahun demi tahun berlalu, anak saya tumbuh besar, mereka melihat betapa dia menjadi anak yang amat sangat baik, dia suka belajar dan begitu cerdas, dia juga bahagia dan baik hati, maka penolakan mereka makin berkurang. Mereka mengkritik karena cemas, sebenarnya. Mereka cemas cucu mereka tidak akan bisa membaca, tapi suatu hari mereka melihat dia sudah bisa membaca. Mereka cemas cucu mereka tidak bisa bergaul, tapi kemudian mereka melihat dia bisa. Dan semua kecemasan yang lain, satu demi satu lenyap karena mereka lihat bahwa segalanya baik-baik saja. Jadi, alat untuk meyakinkan yang terbaik adalah dengan memperlihatkan hasilnya. Dan akan sangat berguna jika Anda belajar teknik berkomunikasi yang tidak menciptakan lebih banyak konflik, jangan menjawab kritik mereka dengan amarah.”

sumber: cmindonesia.com

12 Aturan Cara Kerja Otak

Brain Rules ditulis oleh John Medina, seorang biologi molekuler perkembangan dan konsultan penelitian.Dia mengakui bahwa otak itu kompleks tapi ingin memperkenalkan cara kerja otak secara sederhana dengan membuat 12 aturan cara kerja otak. Tidak hanya penjelasan teoritis, John Medina menjelaskan konsekuensi praktis pada setiap aturan, dalam konteks rumah, sekolah dan tempat kerja.

1. Bergerak melejitkan kemampuan otak

Otak kita dirancang untuk berjalan kaki, sekitar 19 kilometer per hari, selama masa evolusi nenek moyang kita. Ketika kita bergerak, darah akan terpompa ke otak, mengalirkan oksigen dan glukosa.Aerobik 2 kali seminggu memangkas resiko terkena dementia (penurunan kapasitas otak) dan menurunkan resiko sampai 60% terkena Alzheimer. Aturan pertama ini menjelaskan mengapa kita mudah bosan ketika duduk diam di dalam kelas atau ruang kerja. Tanpa pergerakan membuat oksigen yang mengalir ke otak berkurang sehingga dianggap sebagai sinyal beristirahat (jadi menguap kan kalau kelamaan duduk? ). Persoalannya, ruang kelas dan kerja kita didesain dengan asumsi kita diam ketika belajar dan bekerja.

Praktisnya: Bila tubuh kita diam maka otak kita diam. Bergeraklah sambil belajar dan bekerja. Sekurang-kurangnya, lakukan pergerakan 10 menit setelah belajar atau bekerja

2. Otak kita juga berevolusi

Otak adalah organ bertahan hidup kita dalam menjalani evolusi. Kita mengatasi dunia dengan beradaptasi dengan perubahan lingkungan. Kita bukan makhluk yang terkuat di bumi ini, tapi otak kita berkembang menjadi yang terhebat. Otak kita berkembang selama menangani penyelesaian persoalan dan membangun relasi dengan orang lain. Kemampuan memahami persoalan dan membangun relasi dengan orang lain menjadi aktivitas bertahan hidup utama, bahkan hingga hari ini. Bukan saja di sekolah, kedua kemampuan itu juga kita butuhkan di tempat kerja.

Praktis: Bila kita tidak nyaman dengan orang lain maka kita tidak bisa efektif. Ketika murid tidak nyaman dengan gurunya maka belajar menjadi tidak efektif. Ketika bawahan tidak nyaman dengan atasannya maka bekerja menjadi tidak efektif. Belajar menyimak motivasi orang lain dan bangun relasi agar otak kita bekerja efektif.

3. Setiap otak tersusun secara berbeda

Otak dari kecil mengalami perkembangan yang luar biasa. Ada serangkaian hubungan yang terbangun antar ujung syaraf seiring dengan penghilangan hubungan yang lain. Apa yang kita lakukan dan pelajari dalan kehidupan mengubah bentuk fisik otak kita, mengubah susunan otak kita. Setiap orang mempunyai pengalaman yang berbeda dalam menjalani hidup. Tidak ada dua otak manusia yang sama yang menyimpan informasi yang sama dengan cara yang sama di tempat yang sama. Ada jutaan cara untuk menjadi cerdas sebagaimana diyakini konsep kecerdasan majemuk Howard Gardner. Sayangnya, banyak diantaranya tidak muncul dalam tes IQ.

Praktisnya: Perlakukan diri kita dan orang lain sebagai individu unik yang mempunyai cara belajarnya sendiri.

4. Kita tidak memperhatikan hal-hal membosankan

Otak bisa diibaratkan sebagai lampu sorot (spotlight) yang menyorot berbagai macam hal di sekitarnya. Lampu sorot otak ini hanya dapat fokus pada satu hal pada satu waktu: Tidak ada multitasking bagi otak. Lampu sorot otak itu menyukai sesuatu yang membangkitkan emosi dan mudah beralih ketika menyorot sesuatu yang membosankan. Ceramah atau pembicaraan yang biasa-biasa saja hanya mendapat perhatian dari otak kita kurang dari 10 menit.

Praktisnya: Pancing perhatian orang yang mendengarkan kita bicara setelah 10 menit melalui cerita yang menyentuh emosi. Hindari interupsi dalam mengerjakan suatu tugas karena akan meningkatkan jumlah kesalahan.

5. Ulangi untuk Mengingat

Otak itu ibarat mesin pengolah informasi yang mempunyai beragam mekanisme. Salah satunya, declarative memory yang mempunyai 4 tahap pengolahan informasi: mengodekan, menyimpan, memanggil dan melupakan. Kalau kita mengingat informasi dengan cara yang biasa-biasa saja, maka kita akan segera melupakan. Ibarat ketemu cewek yang biasa-biasa saja maka kita segera melupakan begitu saja. Beda kalau pertama bertemu begitu mempesona, wah sampai rumah pun masih terbayang-bayang wajahnya. (bener kan…?). Semakin rumit kita mengodekan informasi semakin kuat memori itu.

Praktisnya: Kaitkan suatu informasi baru dengan informasi lama. Buat jembatan keledai untuk merangkai suatu informasi. Ulangi untuk mengingat suatu informasi dengan pola yang berbeda.

6. Ingatlah untuk mengulang

Sebagian besar memori menghilang dalam hitungan detik. Proses melupakan itu bagus karena kita tidak perlu menyimpan informasi yang tidak relevan dan membantu menentukan prioritas. Ingatlah yang sekarang, bukan masa lalumu (uhuk). Tapi bila kita ingin mengingat suatu informasi, maka ingatlah untuk mengulang.

Praktisnya: Ingatlah suatu informasi secara bertahap dan mengulanginya dalam jeda waktu yang terpola waktunya.

7. Tidur baik, berpikir pun baik.

Otak mengalami ketegangan terus menerus sepanjang hari. Bahkan ketika tidur pun, otak kita tidak sepenuhnya beristirahat. Otak tetap aktif secara ritmis selama kita tidur. Kurang tidur akan menurunkan perhatian, pengambilan keputusan, memori kerja, mood, keterampilan kuantitatif, penalaran bahkan ketangkasan motorik.

Praktisnya: Tidur secukupnya.

8. Otak yang stress tidak belajar secara sama

Otak kita terlatih untuk menghadapi bahaya atau stress dalam durasi pendek, semacam ancaman dari hewan buas. Stress yang ringan meningkatkan kinerja kita, stress kronis melumpuhkan kemampuan kita belajar. Kita punya otak satu, otak yang sama yang kita pakai di rumah, sekolah maupun kantor. Stress di suatu tempat akan berpengaruh pada kinerja kita di tempat lain.

Praktisnya: Jangan stress. Bangun relasi dan emosi yang stabil di rumah, itu kunci.

9. Rangsanglah lebih banyak indera

Kita menyerap informasi tentang suatu kejadian melalui indera, menerjemahkan dalam bentuk sinyal listrik, menyebarkan ke bagian otak terpisah dan ketika mengingat kita merekonstruksikan ingatan kejadian itu. Semakin banyak indera yang mendapatkan informasi atas suatu kejadian maka semakin mudah kita merekronstruksi ingatan akan kejadian tersebut. Hasil riset, Efek Proust, bau dapat memicu memori, hingga 10-50% lebih baik. (apa bau badanmu sekarang? *eh salah). Bau bahkan memicu emosi kita.

Praktisnya: Gunakan multisensori dalam menyampaikan penjelasan ke murid atau bawahan, paling tidak kata dan gambar. Bila perlu ciptakan ruangan yang baunya bisa diasosiasikan positif.

10. Penglihatan mengungguli indera-indera kita.

Kita tidak melihat dengan mata kita, kita melihat dengan otak kita. Apa yang kita lihat bukanlah yang terlihat, tapi apa yang diberitahukan otak untuk kita lihat. Tak heran maka kita sering terjebak menilai orang dari tampilan luar, karena memang begitu cara kerja otak kita. Kita paling bagus belajar dan mengingat dengan gambar, bukan kata-kata tertulis atau terucap. Mendengar sekarang maka 3 hari kemudian hanya teringat 10%, sementara dengan melihat kita masih mengingat 65%. Teks mencekik otak kita, otak tidak mengenal kata-kata, tapi mengenal gambar. Ketika mengingat “Gajah pakai baju warna merah”, kita akan “melihat” gambar gajahnya, bukan tulisan g-a-j-a-h.

Praktisnya: Buang powerpoint yang penuh dengan teks dan poin-poin. Gunakan gambar yang berasosiasi dengan suatu informasi untuk belajar.

11. Otak pria dan wanita berbeda

Kalangan kesehatan mental sudah mengenali perbedaan antara pria dan wanita. Pria lebih mudah terkena schizophrenia dibandingkan wanita. Dengan rasio 2 banding 1, wanita memiliki kecenderungan lebih tinggi mengalami depresi dibandingkan pria, temuan setelah wanita mengalami pubertas dan terus stabil sampai 50 tahun berikutnya. Pria dan wanita merespon stress dengan cara yang berbeda. Pria mengaktifkan amygdala di sebelah kanan otak mereka, wanita mengaktifkan sebelah kiri. Aktivasi sebelah kiri akan membuat orang lebih mengingat detil, aktivasi sebelah kiri akan membuat orang mengingat intinya.

Praktisnya: Kelola kelas dengan pengaturan gender berbeda. Buat tim lintas gender dalam dunia kerja.

12. Kita adalah penjelajah alami yang kuat

Hasrat untuk mengeksplorasi begitu besar dalam diri kita. Hasrat itu tetap ada meski kita berada dalam ruang kelas dan ruang kerja. Bayi adalah model cara kita belajar. Bukan dengan pasif terhadap lingkungan, tapi aktif berksplorasi, melakukan pengamatan, membuat dugaan, lakukan pengujian dan kesimpulan. Hebatnya, beberapa bagian otak dewasa tetap lentur seoerti bagian otak bayi supaya kita dapat menciptakan syaraf-syaraf dan mempelajari baru sepanjang hayat.

Praktisnya: Teruslah menjadi anak kecil yang penuh takjub dan pertanyaan pada dunia.

sumber: http://dsperdana.wordpress.com

Reformasi Pendidikan

Reformasi pendidikan adalah proses yang kompleks, berwajah majemuk dan memiliki jalinan tali-temali yang amat interaktif, sehingga reformasi pendidikan memerlukan pengerahan segenap potensi yang ada dan dalam tempo yang panjang. Betapa kompleksnya reformasi pendidikan dapat difahami karena tempo yang diperlukan amat panjang, jauh lebih panjang apabila dibandingkan tempo yang diperlukan untuk melakukan reformasi ekonomi, apalagi dibandingkan tempo yang diperlukan untuk reformasi politik.

Seminar reformasi di Jerman Timur yang diselenggarakan sehabis tembok Berlin diruntuhkan mencatat bahwa untuk reformasi politik diperlukan waktu cukup enam bulan. Untuk reformasi ekonomi diperlukan waktu enam tahun, dan untuk reformasi pendidikan diperlukan waktu enam puluh tahun. Sungguhpun demikian, hasil dan produk setiap fase atau periode tertentu dari reformasi pendidikan harus dapat dipertanggung jawabkan. Di samping itu, yang lebih penting adalah reformasi pendidikan harus memberikan peluang (room for manoeuvre) bagi siapapun yang aktif dalam pendidikan untuk mengembangkan langkah-langkah baru yang memungkinkan peningkatan mutu pendidikan.

Reformasi pendidikan pada dasarnya memiliki tujuan agar pendidikan dapat berjalan lebih etektif dan efisien mencapai tujuan pendidikan nasional. Untuk itu dalam reformasi dua hal yang perlu dilakukan: a) mengidentifikasi atas berbagai problem yang menghambat terlaksananya pendidikan, dan, b) merumuskan reformasi yang bersifat strategik dan praktis sehingga dapat diimplementasikan di lapangan. Oleh karena itu, kondisi yang diperlukan dan program aksi yang harus diciptakan merupakan titik sentral yang perlu diperhatikan dalam setiap reformasi pendidikan. Dengan kata lain, reformasi pendidikan harus mendasarkan pada realitas sekolah yang ada, bukan mendasarkan pada etalase atau jargon-jargon pendidikan semata. Reformasi hendaknya didasarkan fakta dan hasil penelitian yang memadai dan valid, sehingga dapat dikembangkan program reformasi yang utuh, jelas dan realistis.

Upaya memperbaiki Pendidikan Nasional tidak hanya menyangkut masalah fisik dan dana saja. Tapi, harus lebih mendasar dan strategis. Sistem Pendidikan nasional perlu direformasi dengan memadukan wahyu Tuhan dan ilmu pengetahuan sebagai arena utama aktivitas pendidikan. Sekolah bukan hanya menjadi tempat pembekalan pengetahuan kepada anak bangsa, tapi juga lembaga penanaman nilai dan pembentuk sikap dan karakter. Anak-anak bangsa dikembangkan bakatnya, dilatih kemampuan dan keterampilannya. Sekolah tempat menumbuhkembangkan potensi akal, jasmani, dan rohani secara maksimal, seimbang, dan sesuai tuntutan zaman. Output keseluruhan proses pendidikan adalah menyiapkan peserta didik untuk bisa merealisasikan fungsi penciptaannya sebagai hamba Tuhan dan kemampuan mengemban amanah mengelola bumi untuk dihuni secara aman, nyaman, damai, dan sejahtera.

Pelaksanaan proses pendidikan harus efektif untuk menanamkan jiwa kebebasan, kemandirian, dan kewirausahaan. Dengan begitu anak-anak bangsa yang menjadi peserta didik bisa eksis dalam persaingan di masa datang berbekal keterampilan hidup (life skill) dan daya juang (adversity quotient) yang mumpuni. Kurikulum diarahkan untuk memberi pengalaman belajar yang seimbang yang meliputi aspek intektual (IQ), emosional (EQ), dan spiritual (SQ). Dan titik tekannya adalah membentuk karakter pembelajar agar anak bangsa yang menjadi peserta didik memiliki keinginan untuk belajar di sepanjang hayatnya. Tipe bangsa pembelajarlah yang bisa survive menghadapi persaingan global yang rivalitasnya bukan lagi di tataran negara vs negara atau kota vs kota. Tetapi, sudah di level individu vs individu.

sumber: karobby.wordpress.com

LifeSkills for Children (Keterampilan Hidup Anak)

Berikut ini “daftar” keterampilan yang perlu dibekalkan kepada anak-anak, agar mereka siap menghadapi kehidupan di dunia dewasa, kelak.

1. Keterampilan memahami dan menghargai diri.

Untuk itu, anak-anak perlu dibiasakan supaya dapat mengenal siapa dirinya. Tanda-tanda faktual yang dapat dijadikan acuan antara lain: bila ditanya, ia dapat menyebutkan namanya; ia dapat menunjukkan apa yang ia mau dan apa yang ia tidak mau; ia dapat menolak sesuatu yang tidak disukai atau tidak diinginkan; ia dapat meminta sesuatu yang ia suka atau ia inginkan.

2. Keterampilan merawat diri.

Untuk itu, anak-anak perlu dibiasakan agar dapat membedakan “bersih dan kotor”. Tanda faktual yang dapat dijadikan acuan antara lain: ia dapat berusaha membersihkan diri sendiri; ia dapat membuka dan mengenakan pakaian secara mandiri; ia mengerti keberadaan dan fungsi alarm tubuhnya (contoh: dapat memberitahu — secara verbal-lisan maupun secara non-verbal — kepada orang lain yang ada di dekatnya, bahwa ia lapar atau haus, ingin buang air kecil ataupun besar, kegerahan, kelelahan, kesakitan atau disakiti, dll).

3. Keterampilan menyelamatkan diri.

Untuk itu, anak-anak perlu dibiasakan memahami hal-hal yang dapat membahayakan diri. Tanda-tanda faktual yang dapat dijadikan acuan antara lain: ia dapat membedakan panas sehingga ia dapat menjaga diri untuk menghindari benda-benda yang panas (termasuk api); ia dapat menahan diri untuk tidak asal lompat dari tempat tinggi karena ada rasa takut terluka; ia dapat berusaha pegangan ketika naik-turun tangga; ia dapat memerhatikan jalan ketika sedang berjalan, agar tidak menabrak atau tersandung; ia dapat menjaga keseimbangan tubuh.

4. Keterampilan membuat keputusan dan menyelesaikan masalah.

Untuk itu, sejak dini anak-anak perlu dibiasakan memilih dan menghadapi konsekuensi atas pilihan yang dibuatnya. Itu sebabnya anak-anak perlu dibekali keterampilan berdagang. Jadi, orangtua sangat perlu membangun pola komunikasi yg mendukung. Kalau anak belum mahir berkomunikasi (atau bahkan ia mungkin belum lancar berbicara), bantulah dengan membuat simbol-simbol audio (suara), visual, atau gerakan, yang dimengerti oleh anak. Tujuannya, agar hal-hal yang dirasakan atau dipikirkannya tetap dapat dipahami oleh orangtua, walau bahasa verbalnya masih belum memadai.

5. Keterampilan menghadapi perubahan.

Hal ini penting, tapi bukan sesuatu yg besar. Untuk anak-anak dengan sifat dasar yang cenderung pasif dan sensitif, perubahan akan membuatnya limbung dalam waktu yang lebih lama dibanding anak-anak dengan kecenderungan sifat dasar yang berbeda. Jadi, walau ia tetap perlu belajar menghadapi situasi perubahan, berikan lebih banyak waktu untuk menyesuaikan diri. jadi, hindarilah pola-pola perlakuan yang memaksa agar anak dapat segera tune-in dalam situasi baru atau asing.

6. Keterampilan sosial.

Untuk itu, anak-anak perlu dibiasakan berinteraksi dan menjalin relasi dengan orang lain. Minimal ia dapat membiasakan diri dalam situasi relasi yang formal-normatif, walau polanya tetap pasif. Artinya, ia siap menghadapi situasi itu dan tidak berusaha menghindar, tapi ia boleh pasif menunggu orang lain memulai interaksi. Untuk alasan ini juga, keterampilan berdagang menjadi penting dikuasai tiap anak.

7. Keterampilan belajar.

Untuk itu, anak-anak perlu dibiasakan berada dalam kondisi siap belajar. Jadi, orangtua perlu berupaya agar setiap minggu ia dapat menunjukkan hal baru yang ia miliki atau kuasai. Orangtua dapat membuat catatan, apa aja perilaku yang tergolong baru, dalam seminggu. “Baru” itu termasuk sesuatu yang telah ada tapi kemunculannya belum stabil, lalu dalam seminggu itu jadi mulai stabil. Selain mengamati apa yang dipelajari, pastikan juga ia mendapat kesempatan menghadapi hal baru terus, setiap minggunya.

8. Keterampilan memanfaatkan pengetahuan.

Untuk itu, anak-anak perlu dibiasakan memiliki kesempatan memanfaatkan apa yang ia ketahui atau ia kuasai. Namun, perlu diperhatikan bahwa caranya bukan berupa perintah, ujian/ tes, atau pertunjukkan di hadapan publik. Alasannya, tidak semua anak menikmati perlakuan yang bersifat unjukdiri seperti itu. Jadi, orangtua juga perlu hati-hati mencermati sifat dasar tiap-tiap anak. Cara yang sebaiknya atau dapat dilakukan orangtua adalah mencoba mengemas pengetahuan atau keterampilan yang dikuasainya ke dalam aktivitas hidup keseharian. Misal: keterampilan melempar bola bisa kita periksa dengan cara membiasakan ia melakukan gerakan itu, di rumah. Jadi, kita biasakan ia membuang sampah kering ke keranjang sampah dengan cara melempar dari jarak tertentu. [catatan: dalam cara ini ada efek samping yang perlu diperhatikan, yaitu: kita juga perlu membiasakan anak untuk melakukan pengulangan, bila sampah kering yang dilempar tidak tepat sasaran. Jadi, biasakan ia mengambil dan meletakkan sampah yang tidak tepat sasaran itu, ke tempat seharusnya tanpa dilempar. Tujuannya, supaya kebiasaan buang sampah di tempatnya dapat tetap terjaga.

9. Keterampilan bekerja.

Untuk itu, anak-anak perlu dibiasakan memiliki pemahaman yang sehat tentang konsep bekerja, yaitu: berupaya mendapatkan sesuatu dengan usaha sendiri, bukan hasil meminta apalagi mencuri. Selain itu, orangtua juga perlu menunjukkan jenis-jenis pekerjaan yang biasa dilakukan orang. Misalnya dengan mengajaknya melihat pelaku beragam profesi dan menceritakan apa yang dilakukan si pelaku berkait profesi yang ditekuninya. Bila memungkinkan, anak boleh diajak mengalami apa yang dilakukan, agar ia memiliki wawasan tentang sensasi melakukan profesi tersebut. Harapannya, dari pengetahuan anak tentang beragam profesi itu, anak akan dapat membangun fantasi tentang profesi yang akan dilakukan kelak. Dari situ, orangtua juga dapat membantu anak merancang strategi pencapaian cita-cita.

Di sini tidak dicantumkan kapan rata-rata anak sewajarnya sudah punya keterampilan tertentu. Selain karena urusan tumbuh-kembang anak dipengaruhi oleh keunikan individual sehingga sangat sulit buat dibikin reratanya, keterampilan-keterampilan itu juga bukanlah sesuatu yang sifatnya bertahap. Jadi, urutannya bisa terbalik-balik dan tidak beraturan seperti urutan dalam tulisan ini. Beberapa keterampilan juga bisa berlangsung simultan (muncul bareng dalam kurun waktu yang sama). Terakhir, karena yang kita bicarakan adalah manusia, maka kita sebaiknya tidak mebandingkan anak satu dengan anak lain, tapi… kita bandingin anak kita saat ini dengan anak kita pada waktu sebelumnya.

Untuk itu, yang perlu diperhatikan adalah kepekaan kita dalam mengamati kesiapan anak. Prinsipnya, kalau anak sudah siap, maka ia akan menampilkan tanda-tanda kesiapan itu. Biasanya, kesiapan akan dimulai dari minat. Jadi, kalau anak mulai menunjukkan minat pada hal-hal yang berkaitan dengan “daftar” itu, berarti kita tahu itu tanda awal kesiapannya belajar menguasai keterampilan itu. Dari minat, biasanya anak juga akan mulai menampilkan tindakan yang berkaitan dengan hal itu, bisa dalam rupa pertanyaan, bisa dalam rupa coba-coba, bisa dalam rupa perilaku mengamati yang intens.

Kita juga bisa memeriksa kesiapan anak dengan memberikannya stimulasi sebagai cicipan. Apakah ia berminat, kita bisa cermati respon yang dia tunjukkan. Kalau oke, cermati apakah ia punya kemampuan untuk melakukan apa yang kita harapkan. Kalau belum mampu, stop dulu. Lain waktu dicoba lagi. Catatan: Di sini, kita juga perlu memahami sifat dasar si anak. Hal ini sulit tapi penting. Kadang kita salah memaknai perilaku anak sebagai “petunjuk belum mampu” sehingga kita stop dulu, padahal itu sebetulnya petunjuk bahwa daya juang si anak tergolong lemah, atau dia punya kecenderungan malas, minimalis atau lainnya, jadi terlihat seolah-olah petunjuk bahwa ia belum mampu.

*by Toge Aprilianto, psikolog pendidikan
[kusunting secukupnya, yang mana perlu, tidak mengubah esensi tulisan]

Pengajaran Berpikir dalam Pendidikan Ilmu-ilmu Sosial

Berpikir adalah memanipulasi data, fakta dan informasi untuk membuat keputusan berperilaku. Jangkauan pikiran dimulai dari lamunan biasa, selanjutnya pemecahan masalah yang kreatif. Aktivitas mental dalam perasaan dan pemahaman bergantung pada peransangan dari luar dalam proses yang disebut sensasi dan atensi. Proses mental yang lebih tinggi yang disebut berpikir terjadi di dalam otak. Mengingat kembali mengundang pengalaman terdahulu ke alam pikiran dan mulai membentuk rantai asosiasi. Rantai asosiasi tidak merujuk pada apa yang secara nyata kita lihat tetapi sebagai khayalan-khayalan mental.

Asosiasi bebas adalah melompat dari satu pemikiran kepemikiran lainnya. Asosiasi bebas merupakan pemikiran yang tidak terkendali tergantung daya imajinasi dan eksplorasi pikiran. Asosiasi bebas merupakan salah satu sifat dari melamun atau mengkhayal. Kebanyakan pemikiran manusia tidak terkendali.

Seseorang yang praktis berpikir melalui sesuatu yang nampak dari gerakan fisik tertentu yang ditangkap alat dria. Seorang ilmuan melihat hal yang sama akan memandang kejadian atau peristiwa dalam kerangka teori, konsep atau hukum tertentu. Pemecahan masalah terus berkembang dengan membayangkan hubungan baru antara abstrasi-abstraksi (bayangan/ khayalan mental). Suatu hubungan baru ditentukan berdasarkan suatu pemahaman atau pengertian.

Macam-macam kegiatan berpikir dapat digolongkan sebagai berikut:

1. Berpikir asosiatif, yaitu proses berpikir di mana suatu ide merangsang timbulnya ide lain. Jalan pikiran dalam proses berpikir asosiatif tidak ditentukan atau diarahkan sebelumnya, jadi ide-ide timbul secara bebas. Jenis-jenis berpikir asosiatif:

a.  Asosiasi bebas: Suatu ide akan menimbulkan ide mengenai hal lain, tanpa ada batasnya. Misalnya, ide tentang makan dapat merangsang timbulnya ide tentang restoran dapur, nasi atau anak yang belum sempat diberi makanan atau hal lainnya.

b.  Asosiasi terkontrol: Satu ide tertentu menimbulkan ide mengenai hal lain dalam batas-batas tertentu. Misalnya, ide tentang membeli mobil, akan merangsang ide-ide lain tentang harganya, pajaknya, pemeliharaannya, mereknya, atau modelnya, tetapi tidak merangsang ide tentang hal-hal lain di luar itu seperti peraturan lalu lintas, polisi lalu lintas, mertua sering meminjam barang-barang, piutang yang belum ditagih, dan sebagainya.

c. Melamun: yaitu menghayal bebas, sebebas-bebasnya tanpa batas, juga mengenai hal-hal yang tidak realistis.

d. Mimpi: ide-ide tentang berbagai hal yang timbul secara tidak disadari pada waktu tidur. Mimpi ini kadang-kadang terlupakan pada waktu terbangun, tetapi kadang-kadang masih dapat diingat.

e. Berpikir artistik: yaitu proses berpikir yang sangat subjektif. Jalan pikiran sangat dipengaruhi oleh pendapat dan pandangan diri pribadi tanpa menghiraukan keadaan sekitar. Ini sering dilakukan oleh para seniman dalam mencipta karya-karya seninya.

2. Berpikir terarah, yaitu proses berpikir yang sudah ditentukan sebelumya. Dan diarahkan pada sesuatu, biasanya diarahkan pada pemecahannya persoalan. Dua macam berpikir terarah, yaitu:
       
a. Berpikir kritis yaitu membuat keputusan atau pemeliharaan terhadap suatu keadaan.
b. Berpikir kreatif, yaitu berpikir untuk menentukan hubungan-hubungan baru antara berbagai hal, menemukan pemecahan baru dari suatu soal, menemukan sistem baru, menemukan bentuk artistik baru dan sebagainya.Dalam berpikir selalu dipergunakan simbol, yaitu sesuatu yang dapat mewakili segala hal dalam alam pikiran. Misalnya perkataan buku adalah simbol uang mewakili benda yang terdiri dari lembaran-lembaran kertas yang dijilid dan tertulis huruf-huruf. Di samping kata-kata, bentuk-bentuk simbol antara lain angka-angka dan simbol matematika, simbol simbol yang dipergunakan dalam peraturan lalu lintas, not musik, mata uang, dan sebagainya.

Menurut Dewey(1933), berpikir dimulai apabila seseorang dihadapkan pada suatu masalah. Ia menghadapi sesuatu yang menghendaki adanya jalan keluar. Situasi yang menghendaki adanya jalan keluar tersebut, mengundang yang bersangkutan untuk memanfaatkan pengetahuan, pemahaman, atau keterampilan yang sudah dimilikinya. Untuk memanfaatkan pengetahuan, pemahaman, keteram[pilan yang sudah dimilikinya, terjadi suatu proses tertentu di otaknya sehingga ia mampu menemukan sesuatu yang tepat dan sesuai untuk digunakan mencari jalan keluar terhadap masalah yang dihadapinya. Dengan demikian yang bersangkutan melakukan proses yang dinamakan dengan berpikir.dapat dikatakan tidak ada suatu proses berpikir yang tidak diawali dengan adanya suatu masalah yang dipertanyakan.

Menurut Beyer (1988:1-2) upaya berpikir melalui pembuatan keputusan yang penuh pertimbangan, pemecahan masalah secara terampil, dan mempertimbangkan secara hati-hati dan penuh perhitungan mengenai nilai, ketepatan dan harga suatu informasi, pikiran, tuntutan, preposisi.

Kasus adalah suatu peristiwa, kejadian, fenomena atau situasi tertentu yang terjadi di tempat tertentu dan berhubungan dengan aspek-aspek kehidupan manusia di masa lalu, masa kini atau masa yang akan datang. Untuk kepentingan pengajaran disiplin ilmu-ilmu sosial, suatu kasus dapat berupa sesuatu yang sesungguhnya terjadi. Informasi mengenai apa yang terjadi itu mungkin diperoleh dari sumber media cetak, media elektronik, sumber benda, atau bahkan dari manusia sumber. Pembelajaran berbasis kasus adalah pembelajaran yang di rancang untuk membantu siswa dalam memahami teori  secara mendalam melalui pengalaman belajar praktik empirik.Praktik belajar ini dapat menjadi program pendidikan yang mendorong kompetensi, tanggung jawab dan partisipasi siswa.

Kasus dapat pula dikembangkan berupa sesuatu yang diperkirakan terjadi, bahkan dapat berupa sesuatu yang direka guru dan disesuaikan dengan pokok masalah yang sedang dibahas. Dalam hal ini, guru memiliki banyak kebebasan dalam mengembangkan kasusnya tetapi harus berpegang pada kepedulian terhadap apa yang akan dipelajari siswa dan berbagai kemampuan berpikir tingkat tinggi yang akan dicapai melalui pokok bahasan.

Suatu kasus dapat merupakan sesuatu yang baru bagi siswa karena itu dapat memberikan berbagai tantangan bagi siswa untuk berpikir. Tantangan yang dikemukakan suatu kasus mengundang siswa untuk memanfaatkan pengetahuan, pemahaman dan pengalamannya dalam menghadapi berbagai masalah “baru” bagi dirinya. Potensi kasus semacam ini memberi kesempatan lain bagi siswa yaitu mereka selalu dapat menambah kasus lain yang dapat dipikirkannya dari berbagai kasus yang pernah dipelajarinya. Dnegan kata lain, kasus-kasus itu sendiri memiliki kemampuan untuk mengembangkan daya berpikir imajinatif pada diri siswa sehingga mereka mampu menciptakan tantangan berpikri bagi dirinya. Kasus dapat pula memberikan tantangan bagi siwa untuk mengumpulkan berbagai informasi baru yang diperlukan dalam mencari jawaban.

Studi kasus menghendaki partisipasi aktif siswa dalam proses berpikir. Studi kasus dapat digunakan dalam pengajaran disiplin ilmu-ilmu sosial mana pun. Berbagai percobaan telah dilakukan untuk setiap disiplin ilmu dan hasilnya menunjukkan adanya peningkatan dalam kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa.

Menurut Gilliom (1977) ada 9 jenis studi kasus, yaitu:

Kasus Pengadilan

Kasus pengadilan adalah peristiwa yang berhubungan dengan keputusan pengadilan menegani suatu peristiwa. Keputusan pengadilan yang dimaksud dapat saja berupa keputusan sesungguhnya dari pengadilan negeri ataupun pengadilan di atasnya, bahkan sampai kepada keputusan Mahkamah Agung. Keputusan yang digunakan hendaklah keputusan yang masih mengundang perdebatan dan bukan keputusan yang dianggap orang sebagai sesuatu yang wajar.

Episoda Terbuka

Uraian Tafsiran

Uraian tafsiran adalah kasus yang ditulis dengan maksud menggambarkan penafsiran penulis tentang suatu peristiwa. Bentuk kasus yang demikian disajikan untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam menemukan kerangka berpikri seseorang beserta bias pribadinya. Kasus yang demikian juga dapat digunakan untuk melatih siswa dalam mengenal upaya yang dilakukan orang untuk mempengaruhi pendapat umun. Bentuknya seperti editorial, artikel dan tulisan lepas lainnya dapat dikelompokkan sebagai materi kasus uaraian tafsiran. Materi kasus yang demikian dapat digunakan untuk pengajaran sejarah, politik, hukum dan juga sosiologi.

Dasar Dokumen

Dasar dokumen menggambarkan materi kasus yang berasal dari berbagai bentuk dokumen yaitu suatu materi tertulis yang memiliki nilai pribadi, keilmuan, hukum ataupun sejarah. Pidato seorang tokoh, catatan harian, laporan penelitian, kontak kerja, hukum ataupun surat wasiat dapat dimaasukkan sebagai materi kasus ini. Jenis-jenis dokumen itu dapat digunakan secara terpisah-pisah, artinya setiap satu jenis dokumen untuk suatu kasus tetapi dapat juga digunakan beberapa jenis dokumen untuk suatu kasus. Pendidikan sejarah, politik dan huku dapat menggunakan jenis kasus ini walaupun tidak tertutup untuk pendidikan disiplin ilmu lainnya.

Memoir

Memoir adalah suatu dokumen yang lebih bersifat pribadi.Umumnya ,memoir menggambarkan pengalaman pribadi seseorang setelah yang bersangkutan melaluinya dan bukan catatan pada eaktu kejadian itu sendiri. Catatan yang dibuat pada waktu yang bersangkutan mengalaminya (catatan harian) dapaat digunakan sebagai sumber untuk memoirnya tetapi meoir sudah mengandung unsur tafsiran terhadap catatan itu sendiri. Memoir dapaat berbentuk sesuatu yang sangat lengkap sehingga menjadi suatu biografi tetapi yang lebih ditekankan di sini adalah memoir lepas untuk suatu peristiwa, misalkan memoir seorang pelaku dalam peristiwa Surat Perintah Sebelas Maret.

Pada saat sekarang banyak tokoh politik dan masyarakat menerbitkan memoir mereka. Memoir yang cukup terkenal adalah yang berkenaan dengan ketahtaan Sultan Hamengku Buwono IX.

Laporan Saksi Mata

Laporan saksi mata adalah rekaman yang dibuat oleh orang yang menyaksikan suatu peristiwa. Rekaman tersebut dapat berbentuk tulisan, foto, rekaman audio, ataupun rekaman video. Bentuk yang menggunakan teknologi lebih canggih dari tulisan tentu dapat digunakan hanya apabila sekolah memiliki peralatan yang sesuai. Semakin canggih alat yang digunakan tentu semakin lengkap materi laporan uang diungkapakan tetapi hal ini tidak berarti bahwa kasus dari laporan saksi mata yang berbentuk tulisan kehilangan makna. Perbedaan antara laporan saksi mata dengan catatan harian ialah dalam laporan saksi mata pelapor tidak harus merupakan orang yang terlibat dalam peristiwa yang dilaporkannya. Pelapor dapat saja menjadi orang yang berdiri diluar lingkaran dari apa yang terjadi. Sedangkan dalam catatan harian, apa yang ditulis juga melibatkan dirinya dalam apa yang dituliskannya.

Laporan saksi mata dapat digunakan untuk mengembangkan sikap, nilai dan moral dapat juga digunakan untuk pengembangan kemampuan, mengidentifikasi hal-hal pokok dari laporan, melakuakn klasifikasi, membandingkan atau juga menarik kesimpulan-kesimpulan. Dengan demikian, laporan saksi mata dapat dimanfaatkan untuk banyak hal tergantung dari dimensi materi yang terdapat dalam laporan tersebut.

Vignet/Vignettes

Vignet sebenarnya banyak digunakan dalam pendidikan bahasa tetapi dapat pula dimanfaatkan dalm pendidikan ilmu sosial. Vignet adalah gambar lepas yang disertai suatu keterangan singkat. Beberapa vignet dapat dijejerkan dan digunakan untuk mengembangkan kemampuan menentukan keterhubungan anatara suatu peristiwa dengan peristiwa lain yang tergaambar dalam vignet. Oleh karena itu vignet sangat penting dalam menegmbangkan kemampuan analisis (mengelompokkan, memilah, menemukan hubungan, menemukan dasar berpikir yang mewarnai suatu informasi). Dalam hal ini vignet dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan berpikir analisis dalam pengajaran setiap disiplin ilmu.

Foto bukan vignet tetapi suatu rangkaian foto dapat pula dikelompokkan sebagai suatu bentuk studi kasus yang sejajar dengan vignet. Dalam banyak hal foto memiliki banyak kelebihan kedalaman persfektif yang sering tidak dimiliki vignet.

Kronik

Kronik adalah catatan peristiw berdasarkan urutan waktu. Kronik selalu berisikan beberapa peristiwa dan tidak hanya suatu peristiwa. Catatan yang digunakan seorang saksi mata mengenai apa yang terjadi dengan suatu kongres tertentu adalah suatu kronik  catatan seseorang tentang kegiatan sehari-hari seorang tokoh sejarah.. kronik tidak hanya digunakan dalam pendidikan hukum dan politik. Pemanfaatan kronik dapat untuk mengemabngkan kemampuan berpikir aplikasi ketika siswa menemukan hal-hal yang pokok dari suatu kronik. Kemampuan berpikir analisis diperoleh dengan melakukan pengelompokkan terhadap informasi yang ada sedangkan kemampuan berpikir sintesis diekmbangkan ketika membandingkan informasi. Kemampuan evaluatif dapat dikembangkan untuk setiap bentuk kasus dengan memeberikan penilain terhadap naskah kasus itu sendiri.

Uraian/Narasi

Uraian/narasi adalah ungkapan yang lebih lengkap dibandingkan kronik. Karena kronik sangat menekankan unsur waktu sedangkan uraian tidak. Uaraian dapat berkenaan dengan apa yang benar-benar terjadi, tetapi dapat pula mengenai sesutau yang sifatnya hipotesis. Dalam uraian keterhubungan anatara peristiwa yang diungkapakan dengan pendapat orang yang membuat uraian dikemukakan. Uraian yang dibuatnya itu dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan berpikir dalam aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Uraian juga dapat digunakan untuk pendidikan setiap disiplin ilme sosial tergantung dari materi uraian.

Dalam pengajaran dengan studi kasus langkah-langkah berikut ini dapat dilakukan, yaitu:

  • Menentukan pokok/sub pokok bahasan
  • Mengembangkan tujuan
  • Mengembangkan bahan pelajaran
  • Mengembangkan kasus
  • Merencanakan proses
  • Melaksanakan penilaian

Dalam bukunya yang diedit Muessig (1975), pengertian isu kontroversial dalam kalimat yang sederhana. Ia mengatakan isu kontroversial dengan kalimat “sesuatu yang mudah diterima oleh seseorang atau kelompok tetapi juga mudah ditolak oleh orang lain. Isu kontrovesial secara langsung menyebabkan orang atau kelompok berbeda pendapat. Perbedaan pendapat tersebut terjadi mungkin disebabkan asosiasi perasaan orang atau kelompok tertentu pada kelompok orang yang terlibat dalam apa yang disajikan. Isu kontroversial didasarkan atas kenyataan yang terakhir.

Melalui perbedaan pendapat tentang suatu isu maka materi isu kontroversial secara langsung membangkitkan kemampuan berpikir seseorang. Pengajaran melaui isu kontroversial dalam pendidikan ilmu-ilmu sosial dianggap sangat penting. Dalam mendukung pelaksanaan pengajaran melalui isu kontroversial ialah apa yang dikemukakan Nirtzsche dalam buku Muessig (1975: 21) ” kesalahan utama menurut pandangan ini ialah keyakinan yang berlebihan terhadap suatu kebenaran , padahal yang diperlukan adalah keberanian untuk mempertanyakan keyakinan itu”. Meskipun isu kontroversial memiliki kapasitas yang tinggi untuk melatih orang berbeda pendapat berbeda pendapat dan mengembangkan pendapat baru berdasarkan perasaan yang dijumpai dalam perbedaan pendapat tersebut, beberapa hal harus diperhatikam guru dalam memilih isu kontroversial:

1)  Isu tersebut tidak boleh menimbulkan pertentangan suku, agama, atau ras,
2)  Isu kontroversial hendaklah yang dekat dengan kehidupan siswa,
3)  Isu kontroversial itu sebaiknya sesuatu yang sudah menjadi milik masyarakat,
4)  Isu kontroversial dapat berkenaan dengan masalah setempat, nasional, maupun internasional,

Langkah-langkah dalam pengajaran dengan menggunakan isu kontroversial tidak berbeda jauh dengam pengajaran studi kasus. Karena pada dasarnya bahwa suatu kasus dapat digunakan untuk mengembangkan pengajaran isu kontroversial. Dalam tingkatan awal pengajaran isu kontroversial, sebaiknya guru tidak terlalu mengungkapkan banyaknya isu yang berbeda. Meskipun demikian tetap harus diingatkan bahwa jumlah isu bukan menjadi tujuan tetapi kemampuan siswa dalam berbeda pendapat menjadi tujuan tetapi kemampuan siswa dalam berbeda pendapat dan toleransi terhadap pendapat lain merupakan tujuan.

Dengan mengajarkan konsep dapat dikembangkan kemampuan kognitif dai yang paling rendah sampai yang paling tinggi. Definisi konsep dapat dikembangkan untuk tingkat ingatan pemahaman, tetapi dapat juga dikembangkan menjadi sesuatu yangt mengundang kemampuan berpikir tinggi.

Tujuan berpikir yang lebih tinggi dapat dikembangkan dengan mengajarkan konsep secara lebih mudah / kemampuan berpikir aplikasi melakukannya secara klasika tapi dapat pula secara individual. Kegiatan terakhir dinamakan mendiskusikan prosedur. Melaui kegiatan yang demikian diharapkan dalam kegiatan pengembangan konsep berikutnya jelas lebih bekerja secara efektif dan lebih bermanfaat.

KESIMPULAN

Manusia sebagai makhluk yang menjadi subjek kebudayaan merupakan penggerak adanya perubahan dalam berbagai segi kehidupan. Perubahan tersebut diawali dari tantangan yang dihadapi sehingga manusia berpikir dengan tujuan untuk memecahkan persoalan yang dihadapinya. Menurut Dewey (1933), berpikir dimula apabila seseorang dihadapkan pada sesuatu masalah (perplexity). Proses berpikir didukung pemanfaatan pengetahuan, pemahaman, atau keterampilan yang sudah dimiliki seseorang. Dapatdikatakan tidak ada suatu proses berpikir yang tidak diawali dengan adanya suatu masalah yang dipertanyakan. Dalam suatu proses berpikir kompleksitas masalah yang dijadikan dasar untuk berpikir akan menentukan banyaknya kegiatan berpikir yang diperlukan.

Model yang dianggap memenuhi kondisi yang diinginkan Dewey dan dapat dijadikan cara pengajaran ilmu-ilmu sosial adalah ; (1) pengajaran pendidikan ilmu-ilmu sosial dengan studi kasus, (2) melalui isu kontroversial, dan (3) pengajaran ilmu-ilmu sosial mengenai konsep.

DAFTAR PUSTAKA

Buku:
Fauzi, Ahmad.Drs. H. (1999). Untuk Fakultas Tarbiyah Komponen MKDK. Bandung: Penerbit: Pustaka Setia.
Hamid Hasan, S. (1995). Pendidikan Ilmu Sosial. Jakarta: Penerbit: B3PTKSM.
Slameto. (2003). Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Penerbit: PT. Asdi Mahasatiya.
Internet:
http://www.tugaskuliah.info/2009/06/makalah-psikologi-umum-berpikir-dan.html


sumber: rizkibeanpratama.wordpress.com

Makna Pendidikan dalam Islam

Dalam  Islam, pengertian pendidikan haruslah dikembalikan kepada Bahasa Arab yang merupakan bahasa al-Qur’an dan al-Sunnah yang menjadi sumber utama ajaran islam. Berdasarkan hasil dari Konferensi Dunia Pendidikan Islam Pertama (First World Conference on Islamic Education) di Universitas King Abdul Aziz, Jeddah, pada tahun 1977, merekomendasikan bahwa pendidikan dalam islam merujuk kepada makna-makna yang terkandung dalam tiga istilah, yaitu : al-Tarbiyah, al-Ta’lim dan al-Ta’dîb.[1]

1) Al-Tarbiyah

Menurut Abdurrahmân al-Nahlâwy kata Tarbiyah  dalam bahasa Arab berasal dari beberapa akar kata, yaitu:

a. Rabâ – yarbû (ربا – يربو):  yang berarti bertambah dan berkembang. Makna ini terdapat dalam Firman Allah Ta’ala: (al-Rûm : 39).

b. Rabbiya – yarbâ (ربي – يربى) : yang berarti tumbuh besar dan menjadi dewasa. Makna ini diungkapkan dalam sebuah sya’ir milik Ibnu al-A’raby:

فمن يــك ســائــلا عنـي فإنّـــي   بـمكة مــنزلي و بــها ربّـــيت

Maka siapa mencariku katakanlah aku sungguh, Di Mekkah lah rumahku dan disanalah aku dibesarkan.

c. Rabba – yurabbi (  ربّ – يربّ): yang berarti menangani urusan seseorang, memimpin, mengayomi dan membesarkannya. Makna ini tercermin dalam syair Hassân bin Tsâbit radhiyallahu 'anh yang diriwayatkan oleh Ibnu Mandzûr dalam Lisân al-‘Arab-nya:


و لأنت أحسن إذ برزت لنا                يوم الخروج بساحة القصر

من درة بيضاء صــافــيـة                مما  تربّب حائر الـبحــر

Ibnu Mandzûr menjelaskan bahwa dalam sya’ir tersebut Hassân bin Tsâbit radhiyallahu 'anh menggunakan kata “tarabbaba” untuk menggambarkan bahwa sebuah mutiara yang indah dilindungi, dibentuk dan dibesarkan oleh organisme-organisme hidup di dasar lautan.[2]

Dalam beberapa literatur klasik sebagian ulama mengambil makna-makna tersebut untuk menafsirkan kata al-Tarbiyah, Imam al-Baidâwy dalam kitabnya Anwâru al-Tanzîl wa Asraru al-Ta’wîl mengatakan: “al-Rabb pada mulanya dari makna al-Tarbiyah yaitu sampainya sesuatu kepada kesempurnaannya sedikit demi sedikit, kemudian disifatkan kepada Allah Ta’ala untuk mubâlaghah (ungkapan hiperbola).[3] Begitu juga al-Râghib al-Asfahâny mengatakan: “al-Rabb pada asalnya ialah al-Tarbiyah yaitu tumbuhnya sesuatu sedikit demi sedikit sampai batas kesempurnaan.”[4]

Abdurrahmân al-Bâni kemudian menyimpulkan bahwa al-Tarbiyah dari makna-makna diatas mengandung empat unsur:

Pertama, bersifat menjaga atas fitrah anak yang akan tumbuh dan merawatnya. Kedua, mengembangkan berbagai kemampuan dan kesiapan yang dimilikinya secara keseluruhan. Ketiga, mengarahkan fitrah dan kemampuan tersebut menuju ke arah yang lebih baik dan kesempurnaanya yang sesuai dengannya. Keempat, bertahap dalam proses ini, sebagaimana diisyaratkan oleh al-Baidhâwi dan ar-Raghib: “sedikit demi sedikit…”.[5]

Penggunaan kata at-Tarbiyah dalam artian pendidikan saat ini menjadi populer dikarenakan cakupan at-Tarbiyah dinilai lebih luas dari istilah lainnya dalam pengertian pendidikan seperti diungkapkan oleh Athiyyah al-Abrasy.

2) Al-Ta’lîm

Kata al-Ta’lim yang berasal dari akar kata : ‘allama – yu’allimu (علّم - يعلّم) yang berarti mengajarkan ilmu. Ibnu Mandzûr menjelaskan bahwa makna ‘allamahu al-‘ilma’ (mengajarkan ilmu) serupa dengan a’lamahu al-ilma (menjadikannya tahu akan ilmu), walaupun menurutnya Sibawaih membedakan antara keduanya.[6] Hal yang sama dijelaskan oleh Imam Raghib Al-Asfahâni menurutnya: “Kata a’lamtuhu dan ‘allamtuhu pada dasarnya adalah satu makna, hanya saja kata al-I’lam dikhususkan untuk pemberitahuan yang sekilas, sedangkan al-Ta’lim dikhususkan dengan pemberitahuan yang membutuhkan pengulangan dan pengayaan sampai muncul pengaruh pada diri al-Muta’allim (obyek dari ta’lim).”[7]

Menurut Abdul Fattâh Jalâl istilah ini lebih tepat digunakan karena menurutnya proses al-ta’lîm justru lebih universal dibandingkan dengan proses al-tarbiyah. Pendapatnya ini berdasarkan pada penggunaan kedua istilah tersebut dalam Al-Qur’an. Allah subhanahu wata'ala  menggunakan kata al-ta’lim ini dalam surat Al-Baqoroh ayat 30 – 34, juga ayat 151.

Menurut Jalal, dari ayat-ayat tersebut terkandung pengertian bahwa kata at-ta’lim mempunyai makna yang universal. Dalam menjelaskan ayat 151, Jalal berpendapat bahwa ketika Rasul shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan bacaan Al-Qur’an kepada kaum muslimin, tidak terbatas membuat mereka sekedar dapat membaca, tetapi membaca dengan perenungan yang berisi pemahaman, tanggung jawab dan amanah. Dari membaca semacam ini Rasul membawa mereka kepada tazkiyah (penyucian) diri, dan menjadikan diri itu pada kondisi yang memungkinkan untuk menerima al-hikmah serta mempelajari segala yang bermanfaat untuk dipelajari. Al-Hikmah, menurut Jalal, tidak dapat dipelajari secara parsial tetapi harus menyeluruh terintegrasi. Karena kata al-hikmah berasal dari al-ihkam, yang berarti kesungguhan dalam ilmu, amal atau didalam kedua-duanya.[8]

Sebaliknya, kata al-tarbiyah, menurut Jalal, hanya dapat ditemukan pada dua tempat dalam Al-Qur’an, yaitu al-Isra: 24 dan Al-Syu’ara: 18. Dalam kedua ayat diatas, kata al-tarbiyah mengandung makna proses pengasuhan pada fase permulaan pertumbuhan manusia atau yang kita kenal dengan periode kanak-kanak. Dari kedua ayat ini, Jalal menyimpulkan, bahwa kata al-tarbiyah lebih sempit maknanya dibandingkan al-ta’lîm.

3) Al-Ta’dîb

Kata al-Ta’dîb merupakan masdar dari kata kerja: addaba – yuaddibu (أدّب - يؤدّب). Dalam Kamus Al-Muhith kata addabahu sinonim dengan kata ‘allamahu yang berarti mengajarkan ilmu.[9] Adapun yang dimaksud dengan al-Adab yaitu pengetahuan yang dengannya dapat menjauhkan seseorang dari kesalahan.[10] Menurut Muhammad Naquib Al-Attas, kata adabun berarti pengenalan dan pengakuan tentang hakikat bahwa pengetahuan dan wujud bersifat teratur secara hierarkis sesuai dengan berbagai tingkat dan derajat tingkatan mereka dan tentang tempat seseorang yang tepat dalam hubungannya dengan hakikat itu serta dengan kapasitas dan potensi jasmaniah, intelektual maupun rohaniah seseorang.[11]

Menurut Al-Attas, kata al-Ta’dib merupakan istilah yang paling tepat digunakan untuk menggambarkan pengertian pendidikan islam, sementara kata al-Tarbiyah dinilai terlalu luas karena maknanya mencakupi juga pelatihan dan budidaya hewan,[12]berbeda dengan al-Ta’dib yang dikhususkan bagi manusia.

Footnote:
[1] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Rosda Karya, hlm 28
[2] Abdurrahmân al-Nahlâwy, Ushul al-Tarbiyah al-Islamiyyah,  hlm. 12 – 13
[3] An-Nahlawy, hlm. 13
[4] An-Nahlawy: 13
[5] An-nahlawy 13
[6] Lisanu al-‘Arab, 3083
[7] Raghib al-Asfahany, Mufrodat fi Gharib al-Qur’an 446
[8] Ahmad Tafsir, 30 – 31
[9] Kamus Al-Muhith, 58
[10] Mu’jam Ta,rifat, 16
[11] Ahmad Tafsir, 29
[12] Ahmad Tafsir, 29


sumber: akhsyahirul.wordpress.com

Deep Understanding

Oleh: Rhenald Kasali



Salah satu teka-teki yang masih saya ingin tahu jawabannya sepanjang lebih dari 25 tahun menjadi pendidik adalah: mengapa anakanak kita kesulitan mengungkapkan isi pikirannya?

Maksud saya,kalau diberi pertanyaan, kok jawabannya pendek sekali dan ingin cepatcepat selesai. Selain tidak argumentatif, terasa miskin dalam konsep.Di Harvard Michael Porter, guru besar ilmu manajemen terkemuka yang menularkan metode pengajaran partisipatif pernah memberi tahu resepnya.

”Ajukan cold call, tunjuk seseorang secara mendadak, lalu gali perlahan-lahan. Mereka mungkin kurang siap, tetapi buatlah sebersahabat mungkin agar mereka nyaman berbicara.” Saya pun menerapkannya, dan ternyata hanya berhasil di tingkat pendidikan S-2 dan S- 3. Di tingkat S-1, saya butuh waktu banyak sekali untuk menggali dan mengeluarkan isi pikiran mahasiswa saya.

Dan kalau dikejar lebih jauh, mereka menjawab seragam: ”Ya gitu deh!” Dan kalau sudah mentok, keluarkanlah jargon asyiknya: ”Au ah, gelaap…” Tetapi,saya tidak menyerah. Sampai di pertengahan semester, satu persatu mulai berani memberi jawaban yang agak panjang, lebih panjang, lebih menyatu, dan sistematis.

Dan tahukah Anda, di situlah letak kebahagiaan seorang pendidik, yaitu saat anak-anaknya mendapatkan apa yang disebut ”deep understanding”.

Hubungan Kompleks

Orang dewasa seperti bapak dan ibu yang telah lulus menjadi sarjana dan bekerja barangkali pernah merasakan betapa sulitnya memahami hubungan-hubungan yang kompleks dalam sebuah teori. Nah, kemampuan seorang anak menangkap hubunganhubungan yang kompleks dalam sebuah teori atau konsep itulah yang kita sebut sebagai deep understanding.

Jadi bukan sekadar tahu banyak hal namun serbasedikit. Bukanlah sekadar menguasai permukaan-permukaan yang ngepop atau sekadar fragmented pieces of information. Deep understanding sangat diperlukan dalam dunia pendidikan, dan untuk itulah seorang guru dituntut untuk bersabar dan memeriksa apakah betul murid-muridnya sudah paham dan bisa mengerjakannya.

Pendidikan seperti itulah yang sebenarnya dirindukan anak-anak kita. Bukan seperti sekarang yang dikenal anakanak dengan istilah SKS (sistem kebut semalam). Guru-guru yang bijak tahu persis otak manusia memerlukan waktu untuk merangkai satu elemen dengan elemen-elemen lainnya.

Ibarat orang membuat kue lapis legit, dibuatnya harus dengan penuh kesungguhan, dari selapis tipis yang satu ke lapisan tipis berikutnya. Sebaliknya, metode sistem kebut satu malam yang banyak dianut dewasa ini sepertinya sangat mengabaikan kapasitas belajar para murid.Guru ingin cepat-cepat berpindah dari satu halaman ke halaman berikutnya.

Penjelasan-penjelasan mendasar sebuah konsep sering terputus,sehingga anakanak kesulitan memahami suatu konsep secara mendalam. Cara seperti ini sungguh kejam. Ibarat sopir metromini atau taksi liar, guru bisa dipacu menjadi ”sopir tembak” yang ugal-ugalan ”kejar setoran”.

Tidak mengherankan bila menjelang ujian, guru, dan murid sama-sama panik. Guru-guru yang cerdik tentu tak kehilangan akal, digunakanlah dulu yang kita kenal sebagai ”jembatan keledai” saat ujian di SLTA dulu tentu mengerti mengapa disebut demikian. Guru dan murid telah kehilangan sesuatu yang sangat berarti dalam pendidikan, yaitu waktu. Kita tak bisa menyimpan waktu, apalagi membelinya.

Tetapi, kita tidak bisa memberi mereka waktu yang lebih banyak untuk pen-dalaman suatu konsep. Caranya sederhana saja, rampingkan jumlah mata ajaran yang harus diberikan dan berikan metode yang lebih aktif –kolaboratif.

Saya sering diprotes oleh orang-orang yang khawatir mata ajarnya tidak relevan lagi bila pemerintah kelak mendengarkan tulisan reflektif ini dengan mengurangi jumlah mata ajaran yang harus diambil para murid.Tetapi selalu saya katakan,kita harus berani berkata jujur bahwa anakanak kita telah mengalami penyiksaan otak yang rawan.

Dan dampaknya sudah kita rasakan saat ini dengan beredarnya orang-orang bergelar hebat, pintar, tahu banyak, tetapi selalu bingung harus bergerak ke mana dan harus memulai dari mana.

Kreatif dan Reflektif

Saat menulis kolom ini saya pun tengah membongkarbongkar program-program belajar dari berbagai sekolah di mancanegara. Bila disimak tulisan-tulisan saya dua minggu terakhir, perampingan-perampingan telah diambil sejumlah bangsa dalam beberapa tahun terakhir ini.

Di sebuah sekolah di Jepang, saya menemukan sebuah buku pedoman belajar dengan tujuh pilar, yaitu berpengetahuan dengan ”deep understanding”, mampu berpikir kompleks dan menjadi pemecah masalah,kreatif namun reflektif, menjadi kontributor yang bertanggung jawab, termotivasi dan terkendali, independen namun interdependen, dan mampu menjadi komunikator yang efektif.

Ketika saya masukkan katakata kunci di atas di mesin pencari di internet, saya pun menemukan kesamaan dari banyak sekolah di negara-negara maju bahwa melahirkan orang kreatif saja tidak cukup, tapi juga harus menjadi kontributor yang bertanggung jawab dan reflektif.

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana kita membentuk manusia-manusia seperti itu? Anda mungkin mulai merasakan kegalauan- kegalauan saat orangorang kota yang sudah memiliki kendaraan (roda dua maupun roda empat) tidak bisa membedakan (bahkan tidak tahu cara memakai) antara klakson dengan rem.

Saat posisi di jalan raya kejepit atau tidak bisa menyusul, bukan rem yang dipijak, melainkan klakson. Saya tidak tahu apa jawaban yang harus diberikan untuk membuat seseorang menjadi hebat, tetapi mungkin saya tahu apa kunci kegagalan yang akan dialami bangsa ini.

Yaitu, saat kita merasa bangga dengan banyak pelajaran yang kita dapatkan, padahal semua itu hanya kulit-kulitnya.Hanya sepotong-sepotong, miskin pendalaman dan tidak reflektif. ?

RHENALD KASALI Ketua Program MM UI

sumber: seputar-indonesia.com