Tampilkan postingan dengan label Problema Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Problema Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Sistem Pendidikan Indonesia Memprihatinkan

Oleh: Ameliasari Tauresia Kesuma, SE
Penulis adalah Guru di MAN Salatiga

Sistem pendidikan saat ini seperti lingkaran setan, jika ada yang mengatakan bahwa tidak perlu UN karena yang mengetahui karakteristik siswa di sekolah adalah guru, pernyataan tersebut betul sekali, namun pada kenyataannya di lapangan, sering kali saya lihat nilai raport yang dimanipulasi, jarang bahkan mungkin tidak ada guru yang tidak memanipulasi nilainya dengan berbagai macam alasan, kasihan siswanya, supaya terlihat guru tersebut berhasil dalam mengajar, karena tidak boleh ada nilai 4 atau 5 di raport dan lain sebagainya. Mengapa guru bersikap demikian, mengapa nilai siswa-siswa banyak yang belum tuntas, salahkah guru?? Jawabannya bisa ya bisa tidak, bisa ya karena mungkin guru tersebut tidak memiliki kompetensi mengajar yang memadai, bisa tidak, karena sistem pendidikan Indonesia mengharuskan siswa mempelajari bidang studi yang terlalu banyak. Rata-rata bidang studi yang harus mereka pelajari selama satu tahun pelajaran adalah 16 bidang studi, dengan materi untuk tiap bidang studi juga banyak, abstrak dan tidak sesuai dengan kebutuhan siswa.

Terus terang dalam hal ini saya lebih senang menyalahkan sistem pendidikan Indonesia, sistem pendidikan kita terlalu memaksa anak untuk dapat menguasai sekian banyak bidang studi dengan materi yang sedemikian abstrak, yang selanjutnya membuat anak merasa tertekan/stress yang dampaknya membuat mereka suka bolos, bosan sekolah, tawuran, mencontek, dan lain-lain. Yang pada akhirnya mereka tidak dapat mengerjakan ujian dengan baik, nilai mereka kurang padahal sudah dilakukan remidi, dan supaya dianggap bisa mengajar atau karena tidak boleh ada nilai kurang atau karena kasihan beban pelajaran siswa terlalu banyak, kemudian guru melakukan manipulasi nilai raport. Nilai raport inilah yang kemudian dijadikan dasar untuk memperoleh beasiswa atau melanjutkan kuliah atau ikut PMDK dan lain sebagainya. Tahukah siswa akan kenyataan pahit ini? Lalu apakah UN solusi untuk melihat kemampuan siswa? Bukan, karena UN tidak adil, bahwa kemampuan siswa tidak dapat distandardisasi.

Saya yakin Allah menciptakan manusia tidak ada yang bodoh, yang ada adalah kita terlambat mengetahui kecenderungan kompetensi mereka, dari kecil mereka sudah dikondisikan kalau tidak boleh dibilang dipaksa, untuk melakukan atau mempelajari sesuatu yang tidak sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan psikologi mereka.

Menurut saya mendidik adalah mempersiapkan anak didik untuk menghadapi kehidupan nyata, kehidupan nyata adalah kehidupan dimana mereka sudah tidak lagi bergantung pada orang tua, kehidupan dimana mereka dapat menyelesaikan sendiri segala masalah yang mereka hadapi dengan bijaksana.

Saya jadi ingat petikan tulisan pada buku "Sekolah itu Candu": Pendidikan harus berorientsi kepada pengenalan realitas, yang obyektif maupun subyektif karena kesadaran subyektif dan kemampuan obyektif adalah fungsi dialektis dalam diri manusia sehubungan dengan kenyataan yang sering bertentangan yang harus dipahami dan dihadapinya. Proses pendidikan adalah memanusiakan manusia.

Kembali lagi dengan masalah UN, kompetensi manusia tidak bisa distandardisasi dan di rangking, semua memiliki kelebihan dan kekurangan, kalaupun mau dipaksakan ada standardisasi, sistem pendidikan Indonesia diperbaiki terlebih dahulu, standardisasi dikenakan pada kelompok yang memiliki kompetensi dasar sama, itu baru adil.

Sesungguhnya banyak sekali pemerhati pendidikan di Indonesia yang sudah menyadari hal ini, banyak sekali tulisan-tulisan mereka, baik pada artikel-artikel pendidikan, bahkan buku-buku pendidikan, namun pemerintah seolah menutup mata akan ide-ide cemerlang mereka. Sistem pendidikan kita adalah alat pemuas kebutuhan pemerintah, dan orang tua, bukan sistem yang dibuat sesuai kebutuhan siswa. Siswa secara tidak sadar dibelenggu oleh pemikiran-pemikiran yang ditanamkan orang tua dan pemerintah bahkan guru, padahal mereka manusia merdeka yang bebas menentukan nasibnya sendiri.

Beberapa tahun terakhir ini, beberapa teman mulai menerapkan home schooling pada anak-anak mereka, seorang teman melakukannya karena permintaan putranya yang berusia 14 tahun, karena si anak merasa sekolah membosankan, menghabiskan waktu dan tidak dapat menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang ada di benaknya, tidak sesuai dengan apa yang dibutuhkannya, oleh karenanya dia memutuskan untuk tidak bersekolah, dia lebih tertarik tenggelam dalam buku-buku bacaannya. Bersyukurlah si anak karena dia memiliki orang tua yang bisa mengerti bahwa sekolah bukan satu-satunya jalan untuk mencerdaskan anaknya. Menarik rasanya membaca tulisan Roem ini: "Tak kurang dua belas tahun waktu diselesaikan untuk bersekolah. Masa yang relatif panjang dan menjemukan, jika sekedar mengisinya dengan duduk, mencatat, sesekali bermain dan yang penting mendengarkan guru ceramah di depan meja kelas. Lewat sekolah orang bisa meraih jabatan sekaligus mendapat cemooh. Ringkasnya sekolah mampu mencetak manusia menjadi pejabat tapi juga penjahat. Masih pantaskah sekolah untuk mengakui peran tunggalnya dalam mencerdaskan seseorang".

Ternyata banyak pilihan yang bisa dilakukan oleh seorang siswa, terlepas apakah orang tua bisa mengerti ataupun tidak keinginan putra-putrinya. Tidak bersekolah memang keputusan yang sangat berat, berbagai macam keberatan akan muncul, bagaimana dengan diskusi, bagaimana dengan penyamaan persepsi terhadap suatu permasalahan, jika tidak bersekolah, bagaimana dapat menemukan lingkungan yang kondusif untuk belajar, atau yang lebih umum, karena bangsa kita adalah bangsa yang gila gengsi dan gelar, bagaimana dengan pekerjaan, jika tidak punya gelar. Puih inilah yang paling menjijikan, sekolah hanya untuk mencari gelar??.

Pada siswa, pertama kali yang saya tanyakan ketika masuk kelas adalah apa kesukaan mereka dan apa keinginan mereka, berbagai macam jawaban terlontar disana, dan sebagian besar dari mereka memiliki keinginan yang ditentang oleh orang tua. Memprihatinkan bukan? Ada seorang siswa saya yang suka kebut-kebutan di jalan, dimarahilah dia habis-habisan? Pernahkan orang tua menanyakan mengapa mereka melakukan itu? Siswa saya ini sebenarnya sangat mahir memodifikasi motor. Sesungguhnya bisa khan orang tua berdiskusi mencari solusi terbaik, tanpa memarahinya habis-habisan.

Jika memang tetap sekolah yang akan dijadikan satu-satunya alat untuk mencerdaskan seseorang, maka sistem pendidikan Indonesia harus diubah, tidak boleh memaksakan siswa, kurikulum disesuaikan dengan kompetensi dasar masing-masing siswa, bidang studi yang diajarkan tidak terlalu banyak dan materi untuk tiap bidang studi disesuaikan dengan perkembangan siswa. Ubo rampe yang lain seperti fasilitas pendidikan dan kesejahteraan guru mestinya ikut ditingkatkan. Subsidi pendidikan diperbesar, pungutan dan pemotongan dana dan lain-lain dihapuskan.

Bagi siswa yang berani mengambil keputusan untuk tidak melanjutkan sekolahnya, yang menyadari bahwa UN bukan segala-galanya, yang menyadari bahwa belajar bisa dimana saja sesuai dengan keinginan, minat dan kebutuhannya, salut buat mereka, percayalah gelar bukan jaminan keberhasilan seseorang. Banyak sarjana menganggur, belum menyadari apa keinginan dan minat mereka, karena selama ini disadari atau tidak mereka telah dijadikan robot sistem pendidikan Indonesia.

Tragedi Ujian Nasional, Tragedi Pendidikan

Gambar: Corat-coret para siswa, coreng-moreng dunia pendidikan

Hari-hari ini kita dapati berita yang mengharu perih, mengiris iris hati, sebuah tragedi yang dipertahankan dari tahun ke tahun, makin parah menjelang Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Padahal berita itu mengusung pendidikan sebagai tema utamanya, namun bukan pendidikan yang berhasil mencetak orang-orang terdidik, melainkan pendidikan yang tak tentu arah. Tayangan kolosal ujian nasional melibatkan pemeran yang tidak sedikit, ratusan ribu siswa SMA se-Indonesia yang menjadi pecundangnya.

Yang tidak lulus ujian nasional histeria menangisi nasib mereka yang terpaksa harus menghadapi kenyataan, betapa ujian nasional sebagai standar penentu kualitas lulusan SMA telah merenggut harapan mereka dari masa depan yang dianggap cemerlang. Beberapa dari mereka dengan tegar menerima takdir, untuk kemudian mempersiapkan diri mengulang ujian. Beberapa yang lain ada yang menangis berhari-hari, mengutuki dirinya dan juga penyelenggara ujian nasional. Bahkan ada yang sampai gelap mata menghabisi hidupnya dengan bunuh diri. Padahal, ketika ia bertemu dengan malaikat kubur, yang ditanyakan bukanlah berapa nilai ujiannya, melainkan tentang sejauh mana ia memahami agama dan peribadatannya kepada Allah Sang Pencipta.

Sementara itu yang lulus ujian nasional juga histeria merayakan rasa kemenangan mereka dengan mencoret-coret baju sekolahnya, membuat grafiti di dinding, di jalanan, di pakaian dan rambutnya dengan cat semprot. Konvoi sepeda motor dan melanggar peraturan lalu lintas dengan tidak mengenakan helm. Di antaranya sempat bentrok dengan rombongan sekolah lain, saling tikam karena egoisme yang sedang tinggi akibat kelulusan mereka. Bahkan ada juga yang berpesta narkoba dan minuman keras sebagai rasa syukur mereka. Namun kita pun harus membuka mata bahwa ada pula yang benar-benar bersyukur dengan berbagi kebahagiaan dengan orang-orang yang tidak berpunya.

Kita juga dapati protes dan komentar dari begitu banyak ahli dan praktisi pendidikan yang mengkritisi praktik ujian nasional yang tidak membuat keadaan lebih baik. Namun sejauh mana kita dapat berharap terhadap institusi pendidikan yang bernama sekolah? Sedangkan sejak zaman Ibu Kita Kartini pun, banyak sarjana yang tidak berkontribusi secara positif kepada bangsanya. Bahkan tidak menentukan bahwa orang yang lebih berpengetahuan, lebih mulia pula budi pekertinya.

Novel Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata sebenarnya telah mencoba memaparkan tragedi di antaranya dengan menampar potret suram pendidikan kita yang tidak berorientasi kepada pembentukan karakter, namun hanya mengejar angka dan materi. Bahkan jika mundur lebih jauh ke masa Soewardi Soeryaningrat, sang pendiri Taman Siswa, 3 semboyan Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, dan Tut Wuri Handayani yang dijadikan semboyan pendidikan nasional ternyata tidak mampu membingkai dan menggiring sistem pendidikan nasional kita menjadi lebih baik.

Barangkali ada peran yang tidak dilakoni dengan baik oleh salah satu faktor pendidikan sehingga ini semua dapat terjadi?

Dan kami pun sampailah pada kebenaran yang kedua: “Bukan saja sekolah yang harus mendidik jiwa anak, tetapi juga yang terutama adalah pergaulan di rumah harus mendidik! Sekolah mencerdaskan pikiran sedangkan kehidupan di rumah tangga hendaknya yang membentuk watak anak itu!” (4 Oktober 1902, surat Kartini kepada Tuan Prof. Dr. G.K. Anton dan Nyonya)

Inilah tragedi ujian nasional, tragedi pendidikan kita. Lalu dengan cara bagaimanakah bangsa Indonesia dapat memaknai dan merenungi Hardiknas nanti?

sumber: pondokecil.wordpress.com