Tampilkan postingan dengan label Militer dan Intelejen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Militer dan Intelejen. Tampilkan semua postingan

Mengenal Istilah-istilah Agen Rahasia (Spy)

Spy atau Spionase (pengintaian, memata-matai dari bahasa Perancis espionnage) adalah suatu praktik untuk mengumpulkan informasi mengenai sebuah organisasi atau lembaga yang dianggap rahasia tanpa mendapatkan izin dari pemilik yang sah dari informasi tersebut. Yang membedakan spionase dengan bentuk pengumpulan informasi intelijen lainnya adalah bahwa spionase bisa mengumpulkan informasi dengan mengakses tempat di mana informasi tersebut disimpan atau orang yang mengetahui mengenai informasi tersebut dan akan membocorkannya melalui berbagai dalih.

Kamus Hukum Black (1990) mendefinisikan spionase sebagai: "...mengumpulkan, mengirimkan, atau menghilangkan...informasi yang berhubungan dengan pertahanan nasional." Mata-mata (disebut juga agen rahasia atau agen intelijen) adalah seseorang yang bekerja untuk mengumpulkan rahasia-rahasia sebagaimana dijelaskan di atas.

Spionase biasanya dianggap sebagai bagian dari upaya institusional (misal, pemerintahan atau badan intelijen). Istilah spionase pada mulanya dianggap sebagai suatu keadaan memata-matai musuh potensial atau aktual, terutama untuk tujuan militer, tetapi kini telah berkembang untuk memata-matai perusahaan, yang dikenal secara spesifik sebagai spionase industrial.

Banyak negara secara rutin memata-matai baik musuh maupun aliansi mereka, walaupun mereka memiliki kebijakan untuk tidak berkomentar akan hal ini. Selain mempekerjakan agen-agen pemerintah sendiri, banyak yang juga menyewa perusahaan swasta untuk mengumpulkan informasi seperti SCG International Risk dan yang lainnya.

Istilah pejabat intelijen juga digunakan untuk merujuk kepada anggota angkatan bersenjata, polisi, atau agen intelijen swasta yang bekerja khusus mengumpulkan, memadukan, dan menganalisa informasi dan data intelijen degan tujuan untuk menyediakan pertimbangan bagi pemerintahan mereka atau organisasi lainnya. Secara umum, para pejabat intelijen dapat bepergian ke negara-negara lain untuk merekrut dan "menjalankan" agen intelijen, yang akan memata-matai pemerintahan mereka sendiri.

Resiko spionase sangat bervariasi. Seorang pejabat dapat dituduh melanggar hukum negara yang dimata-matai dan dapat dideportasi atau bahkan dipenjarakan. Seorang agen yang memata-matai negaranya sendiri dapat dipenjarakan karena spionase atau bahkan dihukum atas dasar pengkhianatan.

Intelijen

Intelijen(bahasa Inggris: intelligence) adalah informasi yang dihargai atas ketepatan waktu dan relevansinya, bukan detail dan keakuratannya, berbeda dengan "data", yang berupa informasi yang akurat, atau "fakta" yang merupakan informasi yang telah diverifikasi.

Intelijen kadang disebut "data aktif" atau "intelijen aktif", informasi ini biasanya mengenai rencana, keputusan, dan kegiatan suatu pihak, yang penting untuk ditindak-lanjuti atau dianggap berharga dari sudut pandang organisasi pengumpul intelijen. Pada dinas intelijen dan dinas terkait lainnya, intelijen merupakan data aktif, ditambah dengan proses dan hasil dari pengumpulan dan analisis data tersebut, yang terbentuk oleh jaringan yang kohesif.

Kata intelijen juga sering digunakan untuk menyebut pelaku pengumpul informasi ini, baik sebuah dinas intelijen maupun seorang agen. Seorang agen intelegen bergerak secara perorangan.

Operasi intelijen

Pada dasarnya, intelijen adalah bersifat mengumpulkan informasi. Pada perkembangannya terutama yang berurusan dengan masalah negara, juga ditambah dengan usaha sejauh mana menyelesaikan setiap ancaman yang dilakukan secara efektif, rahasia, dan langsung menuju sasarannya yang dikenal dengan operasi intelijen yang sering dikenal juga dengan operasi klandestin.

Sebagai contoh di Amerika Serikat terdapat undang-undang intelijen yang isinya "..serta usaha usaha yang dilaksanakan untuk menghadapi ancaman terhadap kepentingan nasional". Maka mucullah operasi-operasi seperti usaha penggulingan terhadap Presiden Soekarno dengan memberikan bantuan senjata kepada kaum pemberontak pada dekade 1950-an, Invasi Teluk Babi di Kuba tahun 1960-an, usaha pembunuhan Presiden Saddam Hussein dan lain-lain.

Kriminalitas

Prinsip prinsip intelijen juga digunakan untuk mengatasi kriminalitas dan kejahatan yang terjadi di masyarakat umumnya dugunakan oleh kepolisian dengan menggunakan unit-unit reserse atau kejaksaan seperti di Amerika Serikat (FBI), detektif bahkan wartawan untuk mencari sumber berita. Masing masing memiliki kode etik tersendiri.

Badan intelijen

Umumnya setiap negara memiliki badan-badan atau lembaga intelijen intelijen baik yang berdiri sendiri ataupun dibawah institusi lain. Ada badan intelijen yang keberadaannya diketahui publik atau bahkan rahasia. Beberapa badan Intelijen yang dikenal di dunia antara lain:

  • Amerika Serikat : CIA (Central Intelligence Group)
  • Rusia : FSB (Federal Security Service)
  • Inggris : SIS (Secret Intelligence Service) atau MI6
  • Israel : Mossad
  • Prancis: DGSE (Direction Generale de la securite Exterieure)
  • Cina: MSS (Ministry of State Security)
  • Pakistan: ISI (The Inter-Services Intelligence)
  • Indonesia : BIN (Badan Intelijen Negara)

Istilah-istilah dalam Agen Rahasia:

Whistleblowers (Pengungkap Aib)

Whistleblowers atau pengungkap aib adalah istilah bagi karyawan, mantan karyawan atau pekerja, anggota dari suatu institusi atau organisasi yang melaporkan suatu tindakan yang dianggap melanggar ketentuan kepada pihak yang berwenang. Secara umum segala tindakan yang melanggar ketentuan berarti melanggar hukum, aturan dan persyaratan yang menjadi ancaman pihak publik atau kepentingan publik. Termasuk di dalamnya korupsi, pelanggaran atas keselamatan kerja, dan masih banyak lagi.

Whistle blower bukanlah sesuatu yang baru melainkan sesuatu yang sudah lama ada. Whistle Blower menjadi sangat polpuler di Indonesia karena akhir-akhir ini sangat marak pemberitaan yang menimpa Komisi Pemilihan Umum dengan pihak Whistle Blower (Khairiansyah, mantan auditor Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)).

Contoh kasus di negara lain Jeffrey Wigand adalah seorang Whistle Blower yang sangat terkenal di Amerika Serikat sebagai pengungkap sekandal perusahaan rokok di Amerika Serikat, Brown & Williamson. Perusahaan ini tahu bahwa rokok adalah produk yang menyebabkan kecanduan dan perusahaan ini menambahkan bahan lain yang dapat menimbulkan kanker di dalam ramuan rokok tersebut.

Yang perlu diingat bahwa Whistle Blower tidak hanya pekerja atau karyawan dalam bisnis melainkan juga anggota di dalam suatu institusi pemerintahan (Contoh Khairiansyah adalah auditor di sebuah institusi pemerintah benama BPK).

Leaks (Pembocoran)

Pembocoran terjadi dimana informasi rahasia dalam suatu badan intelijen diungkapkan kepada masyarakat tanpa adanya otorisasi dan terkadang tanpa diketahui siapa yang membocorkannya.

Pada tahun 1972, Presiden ke-37 Amerika Seritkat, Richard Nixon diperiksa karena menyuruh dan menyembunyikan pembongkaran kantor Partai Demokrat di kompleks perkantoran Watergate, salah satu rangkaian skandal yang melibatkan CREEP (Komite Pengangkatan Kembali Presiden), yang juga mencakup daftar musuh dan berbagai "tipuan kotor."

Deep Throat

Istilah dimana saat seorang politikus memberitahukan kepada wartawan “Off The Record”, artinya si politikus tidak mau pembicaraan ini diberitakan. Kebanyakan hal ini dikarenakan politikus melakukan sesuatu hal yang dirahasiaoan dan tidak ingin diketahui oleh publik. Hal seperti ini sering sekali terjadi, disaat di mana terjadi sebuah skandal yang melibatkan si politikus.

Spin

Terkadang informasi diberitakan dengan cara tertentu (Spin) dengan tujuan agar public atau masyarakat bereaksi atau menanggapi berita tersebut sesuai dengan maksud dan tujuan dari si penyebar berita. Cara ini disebut Spin. Istilah Spin diambil dari istilah dalam permainan baseball dimana cara melempar Spin yang dilakukan seorang pitcher memanipulasi perputaran bola di udara untuk mengelabuhi atau membuat si pemukul bola tertipu. Cara ini juga dipakai dalam permainan sepak bola (Tendangan Pisang).

Sebagai contoh, kebanyakan pemberitaan di media selalu menggunakan cara Spin yang mana hanya memberitakan segala sesuatu yang baik tentang si politikus atau pemerintahan. Contoh konkrit: beberapa media televisi di Indonesia hanya memberitakan hal yang positif tentang beberapa politikus pendukungnya (atau bahkan media tersebut tidak lain adalah milik si politikus).

Moles (Penyusup)

Istilah penyusup dalam Spy diartikan untuk seorang mata-mata yang menggunakan cara tersendiri untuk menyusup kedalam agent rahasia di Negara lain untuk mencuri rahasia.

Kasus penyusupan yang sangat terkenal ialah pada masa Perang Dingin (periode abad ke-20 dimana menyangkut Amerika Serikat dan Eropa Barat serta Negara-negara komunis pecahan Rusia). Pada tahun 1965, seorang bernama Karel Koecher berpura-pura meninggalkan Cekoslovakia dan tinggal di Amerika Serikat. Beberapa tahun kemudian dia bergabung dengan CIA (Agen Intelijen International Amerika Serikat) dan mulai menyuguhkan rahasia-rahasia internal AS ke Rusia. Karel Koecher melakukan hal itu selama 20 tahun hingga akhirnya ketahuan.

Double Agent (Agen Ganda)

Double Agent atau agen ganda adalah istilah dimana seorang spy yang bekerja sebagai agen rahasia di suatu Negara namun pada kenyataanya adalah agen rahasia musuh.

Pada era 1930-an, seorang pelajar dari Inggris Guy Burges direkrut secara diam-diam oleh KGB (Badan Intelijen Internasional Rusia) saat dia sedang kuliah di Cambridge University. Beberapa tahun kemudian dia bergabung dengan MI5 (Agen Rahasia Inggris) dan membocorkan rahasia-rahasia Inggris kepada KGB.

Sleepers

Istilah Sleepers lebih kepada keadaan dimana seorang agen rahasia masuk ke suatu Negara dan tinggal disana serta berbaur layaknya warga biasa. Pada mulanya mereka tidak akan melakukan hal-hal berkaitan dengan agen rahasia, mereka mencari pekerjaan yang nantinya berkaitan dan berguna untuk tujuannya. Saat waktunya tepat (biasanya beberapa tahun kemudian) mereka baru mulai melakukan agresi-agresi sebagai agen rahasia.

Gunter Guillaume adalah seorang agen sleeper yang bekerja untuk Negara komunis Jerman Timur pada masa Perang Dingin. Dia lalu dikirim ke Jerman Barat pada tahun 1956, bekerja untuk patai politik di sana. Sampai akhirnya dia sangat dekat dengan pemimpin Jerman Barat pada waktu itu Chancellor Wily Brandt. Dia mengirimkan pesan-pesan rahasia ke agen rahasia Jerman Timur. Aksi Gunter Guillaume akhirnya terungkap pada tahun 1974. Dia ditangkap, namun Chanchellor Brandt dipaksa mundur karena skandal ini.

Undercover

Seorang undercover (biasanya Polisi atau Agen Intelijen) melakukan aksinya dengan bergabung dengan komplotan gangster kriminal atau komunitas tertentu yang hendak dimata-matai. Mereka biasa mendapat identitas baru, lengkap dengan KTP dan dokumen-dokumen palsu serta latar belakang hidup yang palsu pula. Untuk melancarkan aksinya, terkadang seorang undercover harus ikut serta dalam aksi criminal (untuk meyakinkan Boss Gangster).

sumber: kaskus.co.id

Penjelasan Ilmiah Tentang Tulisan Tangan Akseyna yang Gagal Dipalsukan

Polisi menyimpulkan mahasiswa Biologi UI Akseyna Ahad Dori (Ace) yang ditemukan tewas di Danau UI dibunuh. Akseyna sempat menuliskan surat wasiat yang kalau dilihat sepintas mirip tulisan tangannya. Namun setelah diperiksa, teryata tulisan ini dibuat Akseya dan seorang lainnya yang masih misterius.

Pesan bertuliskan 'Will not return for please dont search for existence my apologies for everything eternally' ini awalnya menjadikan jadi indikasi Akseyna bunuh diri dengan menenggelamkan diri ke Danau UI. Namun ternyata ada bagian di surat wasiat ini yang ditulis orang lain. Orang misterius ini mencoba memalsukan tulisan Akseyna, sehingga seolah-olah pemuda ini bunuh diri. Lalu mengapa langkah tersebut gagal ?.

Penganalisis tulisan tangan (grafolog) dari American Handwriting Analysis Foundation, Deborah Dewi, yang sempat dimintai keterangan oleh polisi terkait surat wasiat itu menjelaskan tulisan tangan sulit dipalsukan.

"Hampir mustahil sebuah dokumen tulisan tangan bisa dipalsukan secara sempurna," kata Debora seperti dikutip dalam websitenya, Jumat (5/6/2015).

Deborah menyatakan, dari bedah prosedur neuropsychology ditemukan tulisan tangan adalah sebuah alat ukur yang bisa menunjukkan kaitan kompleks antara otak dan pikiran manusia. "Otak setiap manusia tidak sama, maka tulisan tangan praktis akan memberikan informasi yang berbeda-beda pula pada setiap orang," katanya.

Deborah menjelaskan terdapat lima tingkatan otak manusia yang terlibat dalam pembuatan sebuah tulisan. Bagian-bagian itu adalah cerebral cortex, thalamus, hypothalamus dan limbic system; basal ganglia dan brainstem; cerebellum; syaraf tulang belakang.

"Jika salah satu bagian tersebut terluka misalnya stroke atau penyakit lainnya, hal tersebut pasti mempengaruhi kendali saraf motorik dan akan terlihat juga dalam tulisan tangan. Sehingga menurunnya kondisi kesehatan seseorang secara drastis juga dapat mempengaruhi kualitas tulisan tangannya," katanya.

Deborah mengatakan tulisan tangan dihasilkan oleh otak sadar dan otak bawah sadar sekaligus. Pernyataan apa yang akan ditulis dihasilkan oleh otak sadar, sedangkan bentuk tulisan tangan dibuat merupakan hasil dari goresan otak bawah sadar.

"Ketika sebuah tulisan tangan dipalsukan, otomatis goresan-goresan yang dihasilkan oleh otak bawah sadar dari si pemilik tulisan tangan asli mustahil bisa ditiru oleh si pemalsu," katanya.

Debora memberikan contoh penulisan huruf 'g' yang bisa berbeda dari satu orang ke orang lainnya. Orang pertama bisa menarik tangkai bagian bawah huruf 'g' dari atas ke bawah, sedangkan orang lainnya menarik tangkai bagian bawah huruf tersebut dari bawah ke atas. Hal ini menyebabkan hasil goresan dari huruf 'g' tersebut akan berbeda.

Bisa saja seorang pemalsu tulisan tangan meniru gaya orang yang menarik tangkai bagain bawah huruf 'g' dari bawah ke atas. Namun hal ini bisanya tak bisa dilakukan secara spontan dan juga dalam proses penulisan panjang.

"Perasaan tertekan atau kalut karena berbohong ketika membuat sebuah pernyataan tertulis pasti mempengaruhi ritme tulisan tangan yang bersangkutan dan menimbulkan kejanggalan," kata Deborah.

Hal ini disebabkan limbic system, salah satu bagian otak manusia yang berfungsi mengatur perubahan emosi manusia, dalam proses menghasilkan sebuah tulisan tangan. Perubahan yang terjadi dalam limbic system tercermin juga dalam tulisan tangan kita. Sehingga perasaan sedih, senang hingga stress semuanya tercermin dalam tulisan tangan dan bisa diukur secara jelas.

Deborah telah melakukan pemeriksaan surat wasiat yang ditinggalkan Akseyna atas permintaan polisi. Dia melakukan perbandingan tulisan surat wasiat ini dengan tulisan tangan yang biasa digunakan Akseyna sehari-hari.

"Setelah melakukan proses analisa dengan dokumen asli dari pihak kepolisian, melalui pembesaran mikroskopik 200x saya temukan bahwa tulisan tangan dalam surat tersebut milik 2 orang," kata Deborah kepada detikcom, Jumat (22/5) lalu.

Menurutnya ada indikator grafis yang menunjukkan bukti bahwa tulisan tangan di surat wasiat tersebut dibuat oleh 2 orang. Pada bagian pertama ditulis oleh Akseyna dan di bagian revisi oleh orang lain.

"Tulisan tangan bagian pertama identik dengan tulisan tangan almarhum (asli), sementara ada bagian tulisan tangan dan tanda tangan yang dibuat oleh orang lain. Bagian yang ditulis oleh orang lain adalah bagian yang direvisi berikut penambahannya (not, for eternity, existence) dan tanda tangan," ucapnya.

Soal indikator grafis tersebut sudah dijelaskan Deborah kepada pihak kepolisian. Info detail soal itu belum bisa diberikan karena masih menjadi bahan penyelidikan.

"Hal ini sangat teknis sekali dan ada dalam 30 lembar report saya ke tim penyidik kemarin dan butuh waktu hampir 6 jam untuk menjabarkannya," kata dia.

sumber: detik.com

Cara Perang Neocortex

Oleh: Sayidiman Suryohadiprojo

Cara Perang Neocortex (Neocortical Warfare) adalah cara perang tanpa penggunaan kekerasan. Jadi menyimpang dari definisi perang yang diberikan Von Clausewitz, yaitu Perang adalah tindakan kekerasan untuk memaksa musuh tunduk kepada kehendak kita. Lebih sesuai dengan pernyataan Sun Tzu , yaitu panglima perang yang unggul adalah ia yang dapat menundukkan musuhnya tanpa menggunakan pertempuran.

Berkembangnya pemikiran ini dipicu oleh kemajuan Iptek, khususnya dalam biologi dan psikologi. Orang berpikir bahwa inti Perang adalah menundukkan kehendak musuh sehingga mau mengikuti kehendak penyerang, tidak melawan atau mempersulit keinginannya. Untuk menundukkan kehendak musuh yang penting adalah menundukkan kehendak pemimpin musuh tanpa harus berperang secara formal. Kalau pemimpin mau tunduk, ia tidak akan membawa pengikutnya untuk melawan penyerang. Bahkan ia akan mengikuti kehendak penyerang. Dan menundukkan kehendak pemimpin musuh tidak harus dengan tindakan kekerasan. Malahan penggunaan tindakan kekerasan mengandung risiko macam-macam, mungkin serangan dikalahkan atau mengundang pihak lain membantu yang diganggu. Selain itu tindakan kekerasan pasti perlu biaya besar yang amat berbeda kalau tanpa tindakan kekerasan.

Iptek menunjukkan bahwa kehendak orang bersumber pada otaknya , khususnya bagian otak yang namanya neocortex. Kalau otak itu dapat dipengaruhi sehingga pikiran orang itu bergerak menguntungkan , maka kehendak orang itu dapat dimanupulasi sesuai kehendak penyerang. Contoh paling sederhana adalah penyuapan yang membuat orang yang terima suap lebih dekat kepada pemberi suap. Dan suapan tidak hanya uang, bisa juga hal lain yang menyenangkan penerima suap sehingga berubah pikirannya. Iptek kemudian menemukan bahwa tidak hanya suap saja jalan untuk mengubah cara berpikir orang. Berbagai teknik dapat dikembangkan yang dapat mencapai tujuan sama.

Cara Perang Neocortex mulai digunakan pemimpin Jerman Adolf Hitler pada tahun 1930-an ketika ia berambisi menguasai Eropa. Hitler pada tahun 1938 berhasil menundukkan Austria tanpa penggunaan kekerasan. Hitler pula yang mengembangkan tindakan penetrasi ke negara-negara Eropa Barat tanpa kekerasan dengan apa yang oleh pihak lawannya di Barat disebut kolonne kelima dan kemudian berkembang menjadi istilah subversi yang sekarang lazim digunakan.

Cara Perang Neocortex terutama tertuju kepada pimpinan pihak yang diserang. Sedangkan Kolonne Kelima dengan jalan propaganda mempengaruhi masyarakat lawan. Hanya Hitler kemudian masih menggunakan tindakan kekerasan untuk menguasai Eropa Barat, meskipun cara perang neocortex dan kolonne kelimanya sudah berhasil mempengaruhi dan melemahkan masyarakat Eropa Barat. Keberhasilan cara berperang baru itu dibuktikan dengan runtuhnya negara-negara Eropa Barat satu persatu dalam waktu singkat, bahkan Perancis yang dalam Perang Dunia I mengalahkan Jerman dapat dikalahkan dalam kampanye yang hanya berlangsung tiga minggu. Hitler baru gagal ketika hendak merebut Inggeris.

Cara Perang Neocortex dan subversi ini kemudian juga diambil Uni Soviet dan diterapkan dalam ambisi Josef Stalin dan Partai Komunis menguasai dunia setelah memenangkan Perang Dunia II. Amerika Serikat relatif lambat dalam penggunaan cara baru itu, karena cenderung terlalu menitikberatkan pada keunggulan teknologi militernya serta kekuatan pembiayaan. Baru setelah menyadari bahwa perang modern perlu pembiayaan amat besar, apalagi mengalami kegagalan seperti di Vietnam yang membuktikan bahwa keunggulan teknologi bukan segalanya, para pakar AS mulai menyadari pentingnya cara berperang tanpa kekerasan, khususnya perang neocortex.

Tidak mustahil pemimpin Uni Soviet Mikhail Gorbachev salah satu korban perang neocortex AS. Setelah memenangkan Perang Dingin AS melancarkan offensif tanpa kekerasan besar-besaran untuk menguasai dunia. Kekurangberhasilan operasi militernya di Irak dan Afghanistan, padahal sudah dikeluarkan biaya amat besar dan dikorbankan banyak pemudanya, membuat orang AS makin sadar bahwa teknologi dan kekuatan ekonomi bukan segalanya. Apalagi setelah ditimpa krisis ekonomi yang hingga kini belum teratasi.

Sebab itu dapat diperkirakan bahwa Cara Perang Neocortex akan makin digunakan AS unntuk mencapai tujuan-tujuannya dan memelihara dominasi dunia. Karena Indonesia termasuk negara yang menonjol dalam kepentingan AS maka kita harus siap dan waspada untuk tidak menjadi korban dari usaha AS itu. Kita tidak perang dengan AS tapi tanpa perang AS akan memperjuangkan kepentingannya yang banyak di Indonesia. Kiranya keberhasilan mengubah UUD 1945 dengan 4 kali amandemen sehingga batang tubuh konstitusi itu menjadi berbeda dengan Dasar Negara, dengan bantuan orang Indonesia sendiri, merupakan salah satu usaha tanpa kekerasan AS yang merugikan NKRI dan bangsa Indonesia.

Akan tetapi kita juga waspada terhadap China yang sedang bersaing kuat dengan AS, karena cukup banyak kepentingannya di Indonesia. Dan pasti China lebih mahir dan cekatan dari pada AS dalam melakukan Cara Perang Neocortex.

sumber: sayidiman.suryohadiprojo.com

Memunculkan Paranoid dalam Barisan Lawan, Strategi Ampuh Minim Biaya


Sebuah gagasan yang coba dimunculkan oleh seorang kolumnis Barat, David Ignatius hendaknya dapat dijadikan perhatian. Dalam laman yang dirilis oleh Washingtonpost, pada Selasa (02/12), David membeberkan idenya yang berjudul “Paranoia could be the best weapon against the Islamic State”, paranoid bisa menjadi senjata terbaik melawan Daulah Islam.

Tulisan itu dimulai dari satu hal menarik yang terkait dengan Daulah Islam. Pekan lalu, sebuah kicauan di twitter muncul menyebarkan selebaran dari Daulah Islam yang menawarkan hadiah $5.000 AS bagi siapa pun yang dapat memberikan informasi tentang “agen tentara salib” dalam jajaran mereka.

Selebaran itu dapat dinilai bahwa dalam tubuh mereka benar-benar ada agen Barat. Namun, bukan tidak mungkin selebaran itu adalah palsu. Tujuannya untuk mempengaruhi mentalitas mereka, sehingga muncul kecurigaan dan keraguan di antara pendukung Daulah, bahkan sampai ke jajaran pimpinannya.

Bagi David, selebaran itu menjadi satu bahan pemikiran sendiri. Ini merupakan sebuah tehnik peperangan untuk melemahkan, bahkan menghancurkan Daulah Islam, yaitu “Perang Non Konvensional”. Ini seperti seni berperang yang diajarkan Sun Tzu dalam karya terkenalnya “The Art of War”. Trik tipuan ini dapat membuat musuh melemah dengan sendirinya, menimbulkan tanda tanya atas doktrin mereka dan membuat keraguan atas pemimpin mereka.

Gaya bertempur non konvensional ini dapat menekan biaya perang, jauh lebih murah daripada konfrontasi langsung di medan perang. Dibandingkan dari serbuan rudal dari helikopter Apache, tehnik ini dapat membunuh musuh dengan sendirinya. Dengan menggunakan tehnik penipuan, koalisi pimpinan AS akan dapat menyaingi infiltrasi “tentara hijau” Rusia di Ukraina.

Beberapa gaya pertempuran semacam ini dicontohkan David Ignatius berikut ini:

Pada akhir tahun 1980an, Organisasi Abu Nidal hancur karena perselisihan internal yang dibangun oleh intelijen AS, Inggris, dan Yordan.

Koran The New York Times, November 1989 memuat headline yang berjudul “Arabs Say Deadly Power Struggle Has Split Abu Nidal Terror Group” (Orang-orang Arab Mengatakan Hancurnya Kekuatan Perjuangan Kelompok Teroris Abu Nidal yang Telah Terpecah).

Perpecahan itu bukanlah kebetulan. Seorang sumber mengatakan bahwa anggota kelompok teroris diberikan informasi yang membuat mereka mencurigai adanya pencurian, penculikan wanita, dan penyerangan yang dilakukan oleh teman mereka. Pada akhirnya, terjadi benturan dalam kelompok mereka, antara satu dengan yang lain.

Perang Dunia II juga memberi contoh rangkaian kasus penipuan dan manipulasi. Kasus paling terkenal adalah operasi “Double Cross” yang dilakukan Inggris. Ben Macintyre tahun 2012 menjelaskan dalam bukunya bahwa Inggris berhasil mengendalikan dan memanipulasi setiap agen Jerman yang diutus untuk memata-matai mereka. Mereka (Inggris) meniupkan kedustaan yang dapat meyakinkan mereka bahwa Komandan Jerman pada hari-H akan datang di Calais, bukan di Normandia.

Bentuk penipuan lain adalah dalam karya Macintyre tahun 2010 yang berjudul “Operation Mincemeat”. Diceritakan tentang kejadian mengambangnya mayat orang Inggris di pantai Spanyol yang diduduki Jerman – dihembuskanlah isu bahwamayat-mayat tersebut membawa surat rahasia yang menggambarkan rencana sekutu untuk menyerang Jerman melalui Yunani.Operasi ini dimaksudkan untuk menyembunyikan musuh Jerman yang sebenarnya yang menyerang melalui Sisilia.

Selain memuat contoh, David juga mengemukakan tulisan blogger favoritnya, Clint Watts, seorang mantan perwira angkatan darat dan agen khusus FBI. Pada 20 Oktober, dia memposting dalam tulisan berjudul “War on Rocks” sebuah penjelasan tentang berbagai cara untuk mendorong perselisihan dan perpecahan. “Cobalah untuk menaruh seiris keju antara (Negara Islam) Iraq yang menguasai masalah kepemimpinan dan pasukan tentara asing mereka,” kata Watts dalam blog militernya.

Atheel al-Nujaifi, Gubernur Provinsi aNinawa di Iraq mengatakan kepada David dalam sebuah wawancara hari Senin lalu bahwa gesekan antara orang asing dan warga setempat sudah mulai ada antara para jihadis di Mosul, di samping ketegangan yang terjadi antara orang Turki dan anggota kelompok dari Arab sunni.

Clint Watts juga menunjukkan harapan dari perselisihan yang semakin melebar antara kelompok preman dengan Daulah Islam dan kelompok agama yang lain. Dia mengusulkan untuk mengirim infiltran untuk membuat ekstrimis menjadi “paranoid terhadap mata-mata” dalam barisan mereka. Agen ganda semacam ini sudah berhasil dilakukan di Somalia dan Aljazair.

Tampaknya, Ignatius mendapat inspirasi dari blogger favoritnya. Ia menyarankan agar AS dan sekutu-sekutunya memikirkan operasi yang “tidak biasa” ini atas Iraq dan Suriah untuk merusak Daulah Islam.

Seni berperang tersebut diharapkan menjadi cara efektif menghancurkan Daulah Islam. Sebenarnya bukan terbatas pada Daulah Islam, tetapi terhadap musuh-musuh AS yang lain. Operasi yang minim biaya, namun berdampak maksimal.

sumber: http://www.washingtonpost.com/opinions/david-ignatius-paranoia-could-be-the-best-weapon-against-the-islamic-state/2014/12/02/771de21e-7a5f-11e4-9a27-6fdbc612bff8_story.html

dikutip dari: kiblat.net