Oleh: AYAH EDY
Kami melihat banyak pertanyaan yang sama, yang berulang-ulang ditanyakan tentang homeschooling. Nah izinkan saya menjelaskan berdasarkan keterbatasan pengalaman kami:
1. Homeschooling itu kan mahal dan hanya untuk orang-orang kaya?
Homeschooling itu seperti kita makan, kita bisa masak yang enak dengan biaya yang sangat murah tapi juga bisa dengan biaya yang disesuaikan dengan kantong kita masing-masing. Kuncinya adalah bukan pada bahan apa yang diolah melainkan pada kemampuan mengolah bahan-bahan tersebut. Sepeti kebanyakan ibu kita dulu di kampung, meskipun bahannya diperoleh hanya dari kebun sekitar yang murah-murah saja, tapi rasanya wow luar biasa!! Itulah homeschooling. Jadi kuncinya belajarlah mengolah apa yang ada di sekitar kita sebagai bahan pembelajaran bagi anak kita. Itulah yang dulu dilakukan oleh ibunda Nancy Alliot untuk anaknya Thomas Edison.
2. Homeschooling itukan untuk anak bermasalah?
Sejarah homeschooling di Inggris dan Eropa dulu bukan karena anak-anaknya bermasalah tapi karena sistem sekolahnya yang lebih banyak membuat anak jadi bermasalah. Jadi dulu pertama kali ada homeschooling di Inggris dan Eropa itu adalah untuk menyelamatkan anak masing-masing dari sistem pendidikan yang di anggap bermasalah kala itu oleh para orangtua yang peduli anak dan pendidikan. Di Indonesia pun awalnya seperti itu. Itulah mengapa orang yang pertama-tama memulai HS secara terbuka adalah Kak Seto, dan terus di ikuti oleh para intelektual pendidikan lainnya seperti bu Ratna Megawangi istri Menag BUMN, Bunda Elly Risman dan bunda-bunda lainya yang peduli anak.
3. Siapa yang mengajar?
Karena namanya homeschooling tentu saja yang utama sebagai pengajar adalah kedua orangtuanya. Jika orang tuanya bekerja, bisa jadi salah satu orang tuanya. Bila orang tuanya dua-duanya bekerja, maka di inisiatifkan oleh Kak Seto untuk bisa datang ke komunitas homeschooling dengan tempat yang ditentukan dan belajar bersama pengajar yang ada disana. Tentu saja jika kita sendiri tidak menjadi pengajarnya maka ada biaya tambahan, wajar bukan?
4. Tapi sayakan orang bodoh, mana mungkin bisa mendidik anak?
Orang tua Thomas Edison juga bukan orang pintar dan ahli pendidikan. Zaman itu juga belum ada internet, tapi mampu melahirkan seorang ilmuan dunia. Padahal menurut cerita, orang tuanya single parent pula. Apa yang dilakukan oleh ibunya adalah meminta anaknya bertanya tentang apa saja yang ingin diketahuinya dan ibunya berusaha mengajak Thomas Edison mencari buku-buku yang bisa menjelaskannya, orang-orang yang bisa mengajarinya, dst. Dan akhirnya Thomas pun belajar sendiri tentang apa yang ingin di pelajarinya. Hingga akhirnya suatu ketika tidak ada lagi orang yang mampu menjawab pertanyaan Thomas tentang dunia ilmu pengetahuan yang sedang digelutinya. Lalu apa kata ibunya: Thomas jika tak satupun orang bisa menjawab pertanyaanmu, itu artinya Tuhan meminta kamulah yang menemukan jawabannya bagi orang lain. Karena kalimat itulah, akhirnya Thomas Edison menjadi Ilmuan dengan 1000 temuan lebih yang dipatenkan atas namanya. Ingat kata kuncinya adalah belajar dimana saja, melalui apa saja dan pada siapa saja. Anak itu sudah memiliki potensi pintar sejak lahir sepanjang dia masih punya rasa ingin tahu dan sering bertanya. Maka kita harus siap memfasilitasi mereka dengan media belajar apa saja, siapa saja dan dimana saja yang kita bisa dapatkan.
5. Dimana letak HOME SCHOOLING ayah Edy ?
Homeschooling itu adalah belajar di rumah, di lingkungan rumah, di alam dan dimana saja. Jadi jika ditanya dimana letaknya, ya yang pertama di rumah Ayah Edy, kedua di lingkungan rumah Ayah Edy, ketiga dimana saja di alam semesta ini. Ketika Ayah Edy pergi bersama anak-anaknya maka di situlah kelas dan tempat belajarnya dengan Ayah Edy sebagai tutor/mentor pendamping anak-anaknya belajar tentang kehidupan dan ilmu pengetahuan nyata.
6. Di tempat kami tinggal tidak ada home schooling?
Pasti ada, karena Homeschooling itu terletak dirumah yang kita tinggali tersebut :-) .Silahkan cari via Google tentang info homeschooling terdekat dengan tempat/lokasi kita tinggal atau segera bergabung di FB Rumah Inspirasi untuk mendapatkan info lebih jelas lagi tentang Homeschooling di Indonesia. Jadi ingat bahwa HOMESCHOOLING BUKANLAH SEBUAH GEDUNG YANG DIBERI TULISAN BESAR-BESAR "HOMESCHOOLING" (seperti sekolah). Homeschooling itu adanya di rumah kita sendiri.
7. Kurikulumnya bagaimana?
Ada jenis homeschooling yang mengadopsi kurikulum sekolah hanya dipelajari di rumah. Tapi kurikulum homeschooling kami cuma 2 macam. Yang pertama adalah membangun prilaku moral anak yang baik dengan menjadikan orang tua sebagai contoh langsung yang ditiru oleh anak. Dan yang kedua adalah menemukan minat dan bakat anak kemudian mencarikan kursus dan sekolah yang bisa mengembangkan minat dan bakat tersebut. Sisanya bekerja sama dengan lembaga bimbingan belajar untuk mempersiapkan anak ikut ujian penyetaraan agar bisa mendapat ijazah untuk melanjutkan ke perguruan tinggi.
8. Ijazahnya bagaimana? Apa bisa dapat ijazah?
Ijazah resmi dari Departemen Pendidikan sama seperti izajah anak bersekolah formal, dan bisa digunakan untuk melanjutkan perguruan tinggi, dengan cara mengikuti ujian penyetaraan pada institusi yang ditunjuk (lebih lengkap silahkan bergabung di FB Rumah Inspirasi)
9. Pergaulannya bagaimana? Nanti bisa-bisa jadi orang yang tidak pandai bergaul?
Kemampuan bergaul anak itu bukan ditentukan oleh apakah ia Homeschooling atau sekolah formal, melainkan dari bawaan lahir anak. Ada anak yang bawaan lahirnya memang pandai bergaul dan ada yang lebih suka diam menyendiri di rumah atau di kamar. Cobalah perhatikan pasangan kita atau salah satu keluarga kita, yang kebetulan kurang pandai/kurang suka bergaul. Apakah ia dulu sekolahnya Homeschooling? Anak yang bawaan lahirnya pandai bergaul memang oleh Tuhan dipersiapkan untuk profesi yang berhubungan dengan manusia dan sebaliknya anak yang tidak pandai bergaul biasanya memiliki kelebihan di bidang sains atau seni dan disiapkan oleh Tuhan untuk berprofesi di dalam ruangan tertentu untuk menghasilkan karya seni dan temuan-temuan sains.
10. Bagaimana kita ingin mendaftar Homeschooling dan umur berapa bisa dimulainya?
(selengkapnya bisa ibu baca pada buku Apa itu home schooling, yang bisa di beli via fb. Rumah Inspirasi). Mulai dari balita hingga SMA, bahkan sekarang di Eropa sudah ada Homeschooling University.
11. Adakah anak yang home schooling yang hidupnya berhasil?
Yang paling utama adalah Nabi Besar Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam yang homeschooling melalui kakeknya kemudian dilanjutkan oleh pamannya sebagai tutor pendamping. Hanya saja zaman itu belum dikenal istilah homeschooling. Yang lainnya, Leonardo Da Vinci jenius di segala bidang, Thomas Edison, jenius di bidak Elektrika Mekanika, KH Hasyim Ashari, KH Wachid Hasyim, Buya Hamka (tertulis di buku Homeschooling Kak Seto). Dan ada salah satu professor termuda di sekolah paling bergensi MIT di AS, Erik Demaine, juga Homeschooling.
12. Jika saya tertarik kemana saya harus belajar?
Nah ini saya suka, orang tua yang siap untuk menjadi pembelajar. Sekarang sangat mudah sekali, silahkan cari komunitas2 home schooling di seluruh dunia via google, atau jika ingin yang gampang silahkan bergabung di FB Rumah Inspirasi.
13. Apakah Universitas di Luar Negeri mengenal juga yang namanya HOMESCHOOLING?
Pertanyaan yang bagus sekali, bahkan jika ibu/bapak mau anak kita bisa bergabung secara on-line dengan Homeschooling yang di selenggarakan oleh Harvard University, Sekolah jarak jauh, overseas learning by home schooling. Itu info yang saya dapat dari klien-klien anak bimbingan saya yang ingin lebih mudah untuk bisa masuk ke Universitas Harvard di AS. Ada satu lagi anak bimbingan kami yang ingin bersekolah Psikology Forensik di Denver, juga mengambil Homeschooling di Primagama (Homeschooling plus Bimbel).
14. Kalo Universitas lokal bagaimana?
Salah satu putera dari ibu Herawati, Karima Edukasi, adalah anak homeschooling yang di terima di Universitas Padjajaran, dan sekarang kuliah disana. Dan saya yakin masih banyak anak-anak lainnya.
15. Apakah ada juga yang dapat beasiswa International?
Oh tentu saja ada karena HS itu di akui secara Internasional. Jadi jika anak kita bisa lulus ujian saringan penerima beasiswa dari universitas lokal dan International akan bisa mendapatkan beasiswa. Salah satu contoh yang tercatat tergabung di fb kita adalah anaknya Pak Suprajaka yang sempat mendapat beasiswa di salah satu perguruan tinggi di Australia.
16. Apa nanti gak kesepian karena Homescholing sering dirumah?
Jangan bayangkan bahwa anak yang Homeschooling itu setiap harinya di rumah, justru mereka sering pergi-pergi berkunjung ke tempat-tempat pembelajaran sesuai dengan bidang minat ketertarikan masing-masiang, seperti ke museum, pusat-pusat seni, pusat-pusat teknologi, pameran-pameran dsb. Jadi HOMESCHOOLING ITU TIDAK SAMA DENGAN HOME ALONE.
17. Kenapa kok kebanyakan Artist?
Mungkin karena artist itu dikenal masyarakat jadi langsung mendapat sorotan media. Tapi jika disensus, jumlah artis justru kalah jauh dengan para orang tua bukan artis yang menghomeschoolingkan anaknya. Bahkan Salatiga pernah menjadi pusat pertemuan komunitas Homeschooling seluruh Indonesia.
18. Katanya yang Homeschooling itu untuk anal-anak yang bermasalah prilakunya di sekolah?
Ada satu klien dari Bandung sebut saja Andi, prilakunya sangat bermasalah di sekolahnya, sudah minuman keras, merokok dsb. Kemudian konsultasi pada kami dan kami membantu anaknya untuk keluar dari stress sekolah, dengan MEMETAKAN POTENSI UNGGULNYA, dan Alhamdullilah ketemu. Lalu ibunya berhenti bekerja dan membantu anaknya untuk fokus pada potensi unggulnya dan memperbaiki prilaku anaknya di rumah. Dua tahun kemudian datang lagi konsultasi kedua bersama kami dan orangtuanya menangis karena anaknya kini sudah berubah total prilakunya, menjadi lebih baik, meninggalkan semua kebiasaan lamanya saat bersekolah dulu.
19. Kenapa Ayah Edi menghomeschoolingkan anaknya? Padahal katanya ayah juga memiliki sekolah dan bahkan di beberapa tempat?
Sekolah yang baik akan sama baiknya dengan Homeschooling. Bahkan kalau boleh saya mengatakan bahwa Homeschooling itu sebenarnya terjadi karena orangtua tidak lagi percaya pada sistem pendidikan yang ada (sebagaimana yang terjadi di Inggris dan negara Eropa pada tahun 1990an). Jadi jika di tempat kita tinggal belum ada sekolahnya baik yang ramah anak dan mengedepankan akhlak etika perilaku moral, maka Homeschooling bisa dijadikan jalan keluar.
Nah, sekolah yang baik mungkin sering kali tidak terjangkau oleh kita karena jaraknya yang terlalu jauh dari tempat kita tinggal atau biayanya yang tidak pas dengan penghasilan kita. Jadi saya ingin memberikan contoh bahwa kita boleh memilih MENYEKOLAHKAN ANAK DI TEMPAT YANG BAIK SEPERTI SEKOLAH PERCONTOHAN KAMI atau jika tidak bisa, ya jangan mengeluh terus, Homeschoolingkan saja seperti yang kami contohkan langsung dengan anak-anak kami.
20. Apa pandangan agama tentang Homeschooling?
Jika ingin jawaban singkat; lihatlah para Nabi, semuanya dididik langsung oleh orang tuanya, atau kakeknya atau pamannya. Dan hasilnya Para Nabi melahirkan nabi-nabi berikutnya. Jika ingin jawaban lebih panjang begini, Ada perintah Tuhan pada setiap orang tua, “Selamatkanlah diri dan keluargamu dari api neraka”.Jadi sesungguhnya yang diberi amamanah mendidik itu adalah setiap kepala keluarga dan bukan lembaga lainnya. Anak itu amanah Tuhan pada setiap orang tua jadi yang akan dimintai pertanggung jawaban adalah setiap orang tua dan bukan guru atau sekolahnya.
Tujuan utama didirikan sekolah pada awalnya adalah untuk MENGAWAL orang tua yang mungkin kurang mampu mendidik anak untuk bisa bersama-sama dengan para guru mendidik anak untuk bisa menghasilkan generasi yang baik, berakhlak, bermoral dan cerdas. Sekolah semestinya adalah Agent of Change yang memaksa orang tua yang kurang baik mendidik anak untuk menjadi baik; kalau tidak, pada siapa lagi anak-anak yang memiliki orang tua tidak baik bisa meminta pertolongan. Idealnya adalah sekolah dan rumah bekerjasama, tapi zaman sekarang kita dihadapkan pada masalah simalakama, terkadang guru sekolahnya yang tidak baik, tapi juga sering kali pola asuh orang tuanya yang tidak baik.
Oleh karena itu kami menggagas dan mendirikan sekolah yang mewajibkan orangtua bekerjasama dengan guru untuk menyelesaikan masalah prilaku buruk anak sampai tuntas selama 3-6 bulan sebelum memulai pembelajaran. Orang tua kami minta menandatangani kesepakantan kerjasama dan jika melanggar kami minta untuk mengundurkan diri dari sekolah kami. Tapi kami juga berkomitmen untuk menjadikan guru kami baik dan teladan terlebih dahulu sebelum memaksa orang tua belajar menjadi orang tua yang lebih baik bagi anaknya. Nah tapi kan tidak semua sekolah mau dan bisa melakukan ini, jadi akhirnya pilihan kedua kami menggagas Homeschooling dan memberikan contoh dengan menghomeschoolingkan anak-anak kami.
Semoga penjelasan ini bisa membantu kita semua dan memberikan jalan keluar bagi permasalah pendidikan yang ada di negeri kita. Selamat beraktifitas, dan salam syukur penuh berkah.
-ayah edy- www.ayahkita.com
Tampilkan postingan dengan label Homeschooling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Homeschooling. Tampilkan semua postingan
Otak Anak Zaman Sekarang Beda?
Menjadi guru selama berpuluh-puluh tahun, dengan sendirinya Jane Healy merasakan bahwa ada sesuatu yang berbeda dengan anak-anak zaman sekarang. Meskipun sekilas dari luar mereka tampak lebih terbuka dan spontan, tapi dari segi kecerdasan, sepertinya terjadi penurunan. Dan bukan Jane seorang diri yang punya kesan demikian. Ketika menanyai tiga ratus guru veteran lain – mereka yang telah mengabdi puluhan tahun di sekolah dan mencintai profesi ini – hampir semuanya berpendapat sama.
Anak zaman sekarang memang ‘beda’, dalam arti negatif. Dibandingkan generasi kakek-nenek atau ayah-ibu mereka, anak-anak sekarang lebih sulit diajar, malas membaca, lemah dalam daya konsentrasi, perhatian mudah terpecah, tidak sabaran, pasif berpikir, kalau mengerjakan tugas harus dituntun langkah per langkah, kurang rasa ingin tahu, kurang motivasi, kurang terampil bersosialisasi, kurang mampu mengungkapkan pikiran secara verbal, kurang mampu mendengar secara mendalam, kurang bagus keterampilan motoriknya, ... dan sejenisnya.
Kegelisahan Jane dan teman-teman gurunya didukung oleh data statistik. Memang terjadi penurunan rata-rata skor tes kemampuan akademik siswa dari dekade ke dekade. Jika diringkas, yang mengalami penurunan secara signifikan adalah: (1) segala aspek pembelajaran yang berkaitan dengan bahasa, mulai dari membaca, menulis, penalaran analitis, pengungkapan pikiran secara lisan; (2) kemampuan berkonsentrasi dalam rentang waktu panjang, contohnya: skor ujian akan lebih rendah untuk soal-soal yang penyelesaiannya butuh lebih dari satu langkah; (3) kemampuan memecahkan masalah.
Yang paling parah adalah fenomena krisis membaca di kalangan generasi muda. Oh ya, tolong diluruskan dulu bahwa ‘membaca’ yang Jane maksud bukan sekadar bisa membunyikan huruf-huruf. Banyak orangtua dan guru yang merasa lega ketika akhirnya, setelah jungkir balik mengajari, anak akhirnya bisa menyuarakan huruf-huruf. Namun bisa menyuarakan huruf barulah tahap membaca yang paling dasar. Berikutnya kita masih harus mencari tahu: Apakah anak memahami makna bacaan? Bisakah dia menceritakan ulang atau menuliskan kembali atau berdiskusi dan berargumentasi tentang isi bacaan?
Survei membuktikan, anak yang suka baca kini terbilang makhluk langka. Riset terhadap para siswa kelas 5 SD mendapati bahwa 50% anak hanya membaca selama 4 menit atau kurang per hari, 30% membaca 2 menit atau kurang, dan 10% tidak membaca sama sekali, sementara durasi harian mereka menonton televisi terus meningkat. Makin sedikit anak muda yang meminati karya sastra berbobot. Oplah buku-buku ‘serius’ mengalami tren menurun. Lebih celaka lagi, survei lain menunjukkan bahwa anak-anak yang tidak terampil dan/atau tidak suka membaca ini merasa diri mereka “baik-baik saja”, tidak merasa punya masalah dengan kemampuan membaca mereka, dan tidak merasa perlu bantuan untuk memperbaikinya.
Dari data ini, Jane dengan sedih menyimpulkan bahwa generasi muda kita sedang mengalami sindrom iliterasi (keterampilan membaca kurang) dan aliterasi (minat membaca rendah). Bernice Cullinan dari New York University merumuskan aliterate sebagai “orang yang tahu cara membaca, tapi memilih untuk tidak membaca” – mereka tidak menganggap membaca itu sumber kesenangan, lebih suka mencari informasi dari media audiovisual daripada tulisan. Karena akhirnya hanya memperoleh informasi secara dangkal, seorang yang enggan membaca secara substansial tidak lebih hebat dari mereka yang belum mampu membaca.
Banyak anak, mulai dari jenjang SD sampai perguruan tinggi, yang bilang membaca buku itu terlalu membosankan dan sulit. Mereka tak sabar mengikuti urutan ide yang disajikan pengarang. Jane Healy menduga bahwa mereka tak terlatih secara mental untuk menggarap bacaan, tak terbiasa berkonsentrasi dalam rentang waktu panjang. “Agar bisa membaca dengan baik, benak harus terlatih menggunakan bahasa, berefleksi, dan tekun mengatasi kesulitan. [Sebelum siswa berhasil] menangkap makna bacaan, bagi mereka membaca itu tetap terasa hampa dan tak memuaskan,” kata Jane. Maka, jangan keburu puas melihat anak bisa membunyikan kalimat. Kita baru boleh puas atas kemampuan membaca anak kita kalau dia sudah mampu ‘menaklukkan’ teks sungguhan dengan tata bahasa, kosakata, dan mutu literer yang tinggi.
Situasi iliterasi dan aliterasi ini semakin parah karena orang-orang dewasa juga memberi contoh serupa. Berapa banyak orangtua yang tidak suka membaca? Atau kalaupun membaca, bahan bacaannya tak lebih dari tabloid, koran (bahkan koran pun dipilih yang bahasanya mudah? berita kriminal dibaca tapi opini dan tajuk rencana ogah?) atau majalah yang banyak gambarnya dan tulisannya pendek-pendek. Guru pun demikian. Survei terhadap mahasiswa keguruan di Kent State University mendapati bahwa seperempat dari responden mengaku tidak suka membaca. Kalaupun terdesak membuat tugas makalah, mereka cenderung mencari bahan bacaan yang pendek (“google saja, beres!”?). Bisa dibayangkan, kalau minat baca orangtua atau gurunya saja seperti itu, kelak literasi anak dan siswanya bakal seperti apa?
Namun Jane menemukan paradoks yang aneh. Sementara kemampuan mental anak sekarang tampak menurun, data statistik lain menunjukkan bahwa tren skor IQ terus meningkat. Bukankah itu berarti anak zaman sekarang makin cerdas? Tapi mengapa skor akademis mereka menurun? “Seolah-olah para siswa yang masuk sekolah itu makin hari makin cerdas, tetapi mereka lulus dari sekolah dengan kemampuan akademis yang makin hari makin buruk. Generasi lebih cerdas yang makin tak terdidik, bagaimana mungkin ini terjadi?” keluh Dr. James R. Flynn dari Universitas Ontago di Selandia Baru, setelah mengumpulkan semua informasi mengenai tren IQ dari 14 negara maju.
Berarti sekolah dan guru yang salah? Tunggu dulu. Sebab sementara masyarakat menyalahkan para pendidik, sebenarnya sekolah dan guru pun mengeluh, betapa anak-anak yang orangtua titipkan kepada mereka sangat minim kesiapannya untuk belajar. “Saya menduga ini semua karena TV dan orangtua yang terlalu sibuk,” kecam seorang pendidik. “Dulu, orangtua punya waktu untuk mengajak anaknya mengalami berbagai hal bersama, punya waktu untuk berdiskusi, membacakan buku, olahraga bareng, tapi sekarang kalau pergi keluar paling-paling cuma untuk mengantarkan anaknya berangkat ke sekolah atau kursus. Padahal tanpa pengalaman, tidak akan terbentuk konsep. Tanpa konsep, rentang perhatian menjadi pendek, karena anak tidak paham isi percakapan.”
Nah, tuh kan, jadinya guru dan orangtua saling menyalahkan!
Jane berpendapat, tidak ada gunanya saling menyalahkan, sebab tak ada yang sepenuhnya salah. Baik orangtua maupun guru sering merasa tak berdaya di hadapan tekanan hidup serta tuntutan pekerjaan. Kedua belah pihak sama-sama bingung karena formula pengasuhan dan pendidikan tradisional sudah tak efektif lagi. Jalan terbaik untuk menghadapi fenomena ‘perubahan otak’ ini adalah memahami seluk-beluk tentang otak itu sendiri. Jane mengajak kita mendalami bagaimana pengetahuan neurosains bisa memperbaiki praktek pendidikan kita – di rumah maupun di sekolah – dan, dengan itu, menyelamatkan benak anak-anak kita.
Dengan memahami proses perkembangan otak, kita akan melihat bahwa otak itu sangat luwes. Dia berubah bersama lingkungan dan budaya tempat hidupnya. Ketika lingkungan dan budaya berubah, anak memperoleh pengalaman yang berbeda dari generasi terdahulu, maka otak mereka akan beradaptasi dan ikut berubah. Fenomena menurunnya kemampuan mental anak merupakan indikasi bahwa ada sesuatu dalam pola serta gaya hidup anak-anak masa kini yang berisiko menghambat dan merusak perkembangan otak anak, sehingga dia gagal mengaktualisasi potensi-potensi luar biasa dalam dirinya. Mulai dari lingkungan yang beracun, pola hidup yang tak sehat, pilihan kegiatan anak setiap harinya (termasuk intensitas pemakaian TV, gadget, dan video games), sampai metode pengajaran yang keliru dan minimnya interaksi orangtua-anak, semua faktor ini berperan membentuk otak generasi muda kita menjadi seperti sekarang.
Maka, langkah krusialnya adalah: terima tanggung jawab! Jangan hanya mengeluhkan generasi muda sekarang yang serba negatif begini-begitu. Orangtua dan guru ibarat supir yang memegang kemudi mobil. Kalaupun penumpangnya ribut dan banyak ulah, tetaplah kita punya privilese untuk membimbing anak-anak muda ini menuju ke arah yang kita anggap tepat. Bisa jadi di era informasi ini, kita merasa minder terhadap anak kita sendiri, merasa diri kita gaptek dan ketinggalan zaman. Jane berpesan, jangan jadikan gaptek sebagai alasan untuk memasrahkan kemudi pendidikan kepada anak, lalu membiarkan dia memakai piranti teknologis untuk menjelajah ke mana pun dia mau tanpa pengawasan. Jangan biarkan pula arah kehidupan anak kita disetir oleh desakan teman sebaya atau budaya populer di sekelilingnya.
sumber: cmindonesia.com
Tulisan yang dibuat oleh Elen Kristi ini adalah ringkasan dari salah satu bab dari buku Endangered Minds, yang ditulis oleh seorang psikolog pendidikan senior Jane Healy. Buku ini direkomendasikan oleh Ambleside Online sebagai “buku yang wajib dibaca oleh setiap orangtua!”
Anak zaman sekarang memang ‘beda’, dalam arti negatif. Dibandingkan generasi kakek-nenek atau ayah-ibu mereka, anak-anak sekarang lebih sulit diajar, malas membaca, lemah dalam daya konsentrasi, perhatian mudah terpecah, tidak sabaran, pasif berpikir, kalau mengerjakan tugas harus dituntun langkah per langkah, kurang rasa ingin tahu, kurang motivasi, kurang terampil bersosialisasi, kurang mampu mengungkapkan pikiran secara verbal, kurang mampu mendengar secara mendalam, kurang bagus keterampilan motoriknya, ... dan sejenisnya.
Kegelisahan Jane dan teman-teman gurunya didukung oleh data statistik. Memang terjadi penurunan rata-rata skor tes kemampuan akademik siswa dari dekade ke dekade. Jika diringkas, yang mengalami penurunan secara signifikan adalah: (1) segala aspek pembelajaran yang berkaitan dengan bahasa, mulai dari membaca, menulis, penalaran analitis, pengungkapan pikiran secara lisan; (2) kemampuan berkonsentrasi dalam rentang waktu panjang, contohnya: skor ujian akan lebih rendah untuk soal-soal yang penyelesaiannya butuh lebih dari satu langkah; (3) kemampuan memecahkan masalah.
Yang paling parah adalah fenomena krisis membaca di kalangan generasi muda. Oh ya, tolong diluruskan dulu bahwa ‘membaca’ yang Jane maksud bukan sekadar bisa membunyikan huruf-huruf. Banyak orangtua dan guru yang merasa lega ketika akhirnya, setelah jungkir balik mengajari, anak akhirnya bisa menyuarakan huruf-huruf. Namun bisa menyuarakan huruf barulah tahap membaca yang paling dasar. Berikutnya kita masih harus mencari tahu: Apakah anak memahami makna bacaan? Bisakah dia menceritakan ulang atau menuliskan kembali atau berdiskusi dan berargumentasi tentang isi bacaan?
Survei membuktikan, anak yang suka baca kini terbilang makhluk langka. Riset terhadap para siswa kelas 5 SD mendapati bahwa 50% anak hanya membaca selama 4 menit atau kurang per hari, 30% membaca 2 menit atau kurang, dan 10% tidak membaca sama sekali, sementara durasi harian mereka menonton televisi terus meningkat. Makin sedikit anak muda yang meminati karya sastra berbobot. Oplah buku-buku ‘serius’ mengalami tren menurun. Lebih celaka lagi, survei lain menunjukkan bahwa anak-anak yang tidak terampil dan/atau tidak suka membaca ini merasa diri mereka “baik-baik saja”, tidak merasa punya masalah dengan kemampuan membaca mereka, dan tidak merasa perlu bantuan untuk memperbaikinya.
Dari data ini, Jane dengan sedih menyimpulkan bahwa generasi muda kita sedang mengalami sindrom iliterasi (keterampilan membaca kurang) dan aliterasi (minat membaca rendah). Bernice Cullinan dari New York University merumuskan aliterate sebagai “orang yang tahu cara membaca, tapi memilih untuk tidak membaca” – mereka tidak menganggap membaca itu sumber kesenangan, lebih suka mencari informasi dari media audiovisual daripada tulisan. Karena akhirnya hanya memperoleh informasi secara dangkal, seorang yang enggan membaca secara substansial tidak lebih hebat dari mereka yang belum mampu membaca.
Banyak anak, mulai dari jenjang SD sampai perguruan tinggi, yang bilang membaca buku itu terlalu membosankan dan sulit. Mereka tak sabar mengikuti urutan ide yang disajikan pengarang. Jane Healy menduga bahwa mereka tak terlatih secara mental untuk menggarap bacaan, tak terbiasa berkonsentrasi dalam rentang waktu panjang. “Agar bisa membaca dengan baik, benak harus terlatih menggunakan bahasa, berefleksi, dan tekun mengatasi kesulitan. [Sebelum siswa berhasil] menangkap makna bacaan, bagi mereka membaca itu tetap terasa hampa dan tak memuaskan,” kata Jane. Maka, jangan keburu puas melihat anak bisa membunyikan kalimat. Kita baru boleh puas atas kemampuan membaca anak kita kalau dia sudah mampu ‘menaklukkan’ teks sungguhan dengan tata bahasa, kosakata, dan mutu literer yang tinggi.
Situasi iliterasi dan aliterasi ini semakin parah karena orang-orang dewasa juga memberi contoh serupa. Berapa banyak orangtua yang tidak suka membaca? Atau kalaupun membaca, bahan bacaannya tak lebih dari tabloid, koran (bahkan koran pun dipilih yang bahasanya mudah? berita kriminal dibaca tapi opini dan tajuk rencana ogah?) atau majalah yang banyak gambarnya dan tulisannya pendek-pendek. Guru pun demikian. Survei terhadap mahasiswa keguruan di Kent State University mendapati bahwa seperempat dari responden mengaku tidak suka membaca. Kalaupun terdesak membuat tugas makalah, mereka cenderung mencari bahan bacaan yang pendek (“google saja, beres!”?). Bisa dibayangkan, kalau minat baca orangtua atau gurunya saja seperti itu, kelak literasi anak dan siswanya bakal seperti apa?
Namun Jane menemukan paradoks yang aneh. Sementara kemampuan mental anak sekarang tampak menurun, data statistik lain menunjukkan bahwa tren skor IQ terus meningkat. Bukankah itu berarti anak zaman sekarang makin cerdas? Tapi mengapa skor akademis mereka menurun? “Seolah-olah para siswa yang masuk sekolah itu makin hari makin cerdas, tetapi mereka lulus dari sekolah dengan kemampuan akademis yang makin hari makin buruk. Generasi lebih cerdas yang makin tak terdidik, bagaimana mungkin ini terjadi?” keluh Dr. James R. Flynn dari Universitas Ontago di Selandia Baru, setelah mengumpulkan semua informasi mengenai tren IQ dari 14 negara maju.
Berarti sekolah dan guru yang salah? Tunggu dulu. Sebab sementara masyarakat menyalahkan para pendidik, sebenarnya sekolah dan guru pun mengeluh, betapa anak-anak yang orangtua titipkan kepada mereka sangat minim kesiapannya untuk belajar. “Saya menduga ini semua karena TV dan orangtua yang terlalu sibuk,” kecam seorang pendidik. “Dulu, orangtua punya waktu untuk mengajak anaknya mengalami berbagai hal bersama, punya waktu untuk berdiskusi, membacakan buku, olahraga bareng, tapi sekarang kalau pergi keluar paling-paling cuma untuk mengantarkan anaknya berangkat ke sekolah atau kursus. Padahal tanpa pengalaman, tidak akan terbentuk konsep. Tanpa konsep, rentang perhatian menjadi pendek, karena anak tidak paham isi percakapan.”
Nah, tuh kan, jadinya guru dan orangtua saling menyalahkan!
Jane berpendapat, tidak ada gunanya saling menyalahkan, sebab tak ada yang sepenuhnya salah. Baik orangtua maupun guru sering merasa tak berdaya di hadapan tekanan hidup serta tuntutan pekerjaan. Kedua belah pihak sama-sama bingung karena formula pengasuhan dan pendidikan tradisional sudah tak efektif lagi. Jalan terbaik untuk menghadapi fenomena ‘perubahan otak’ ini adalah memahami seluk-beluk tentang otak itu sendiri. Jane mengajak kita mendalami bagaimana pengetahuan neurosains bisa memperbaiki praktek pendidikan kita – di rumah maupun di sekolah – dan, dengan itu, menyelamatkan benak anak-anak kita.
Dengan memahami proses perkembangan otak, kita akan melihat bahwa otak itu sangat luwes. Dia berubah bersama lingkungan dan budaya tempat hidupnya. Ketika lingkungan dan budaya berubah, anak memperoleh pengalaman yang berbeda dari generasi terdahulu, maka otak mereka akan beradaptasi dan ikut berubah. Fenomena menurunnya kemampuan mental anak merupakan indikasi bahwa ada sesuatu dalam pola serta gaya hidup anak-anak masa kini yang berisiko menghambat dan merusak perkembangan otak anak, sehingga dia gagal mengaktualisasi potensi-potensi luar biasa dalam dirinya. Mulai dari lingkungan yang beracun, pola hidup yang tak sehat, pilihan kegiatan anak setiap harinya (termasuk intensitas pemakaian TV, gadget, dan video games), sampai metode pengajaran yang keliru dan minimnya interaksi orangtua-anak, semua faktor ini berperan membentuk otak generasi muda kita menjadi seperti sekarang.
Maka, langkah krusialnya adalah: terima tanggung jawab! Jangan hanya mengeluhkan generasi muda sekarang yang serba negatif begini-begitu. Orangtua dan guru ibarat supir yang memegang kemudi mobil. Kalaupun penumpangnya ribut dan banyak ulah, tetaplah kita punya privilese untuk membimbing anak-anak muda ini menuju ke arah yang kita anggap tepat. Bisa jadi di era informasi ini, kita merasa minder terhadap anak kita sendiri, merasa diri kita gaptek dan ketinggalan zaman. Jane berpesan, jangan jadikan gaptek sebagai alasan untuk memasrahkan kemudi pendidikan kepada anak, lalu membiarkan dia memakai piranti teknologis untuk menjelajah ke mana pun dia mau tanpa pengawasan. Jangan biarkan pula arah kehidupan anak kita disetir oleh desakan teman sebaya atau budaya populer di sekelilingnya.
sumber: cmindonesia.com
Tulisan yang dibuat oleh Elen Kristi ini adalah ringkasan dari salah satu bab dari buku Endangered Minds, yang ditulis oleh seorang psikolog pendidikan senior Jane Healy. Buku ini direkomendasikan oleh Ambleside Online sebagai “buku yang wajib dibaca oleh setiap orangtua!”
Mengenal Metode-metode "Homeschooling"
Kumpulkanlah segala informasi dan pengalaman keluarga yang telah memutuskan untuk menerapkan sekolah rumah alias homeschooling untuk anak-anaknya. Seperti keluarga Sumardiyono, salah satu keluarga yang menerapkan homeschooling. Sebelum memutuskan, mereka merangkum berbagai informasi terkait sekolah rumah. Nah, ada beberapa metode yang bisa Anda kenali dalam penerapan homeschooling, yang dirangkum Kompas.com dari berbagai sumber. Semoga bisa membantu!
1. Metode klasik homeschooling
Tahap pertama dari metode ini dimulai ketika siswa memelajari cara belajar dan mengasah kemampuan untuk mengingat banyak hal. Tahap selanjutnya, sudah ada sambungan yang mulai tercipta dari fakta-fakta yang sudah dipelajari. Tahap ketiga, ketika siswa sudah bisa menggunakan sambungan dari fakta-fakta, bisa merumuskan dan mengartikulasikan fakta tersebut dengan pendapatnya sendiri.
Metode ini baik digunakan jika Anda :
a. terstruktur;
b. memiliki keinginan untuk mengevaluasi cara belajar anak Anda berdasarkan standar akademik;
c. melihat nilai dari pendidikan yang menempatkan keutamaan pada kata-kata tertulis, baik dalam membaca dan menulis;
d. ingin berkonsentrasi pada sastra klasik barat sebagai alat untuk mengembangkan pemikirian kritis;
e. memiliki anak yang berorientasi akademis
2. Metode Charlotte Mason
Charlotte Mason adalah seorang pendidik Inggris yang metode pengajarannya menggunakan metode yang unik. Banyak homeschoolers menggunakan metode tersebut untuk mengajar putra-putrinya. Kenapa?
a. pelajarannya relatif singkat;
b. membuat narasi (dalam bentuk tulisan maupun lisan tergantung pada usia anak);
c. memiliki ujian (ujian dilakukan mengambil teori yang sudah dipelajari selama 12 minggu);
d. mepelajari gambar;
e. mempelajari musik;
f. mempelajari peta,
g. memiliki banyak subjek pelajaran.
3. Metode berbasis computer
Metode homeschooling menggunakan komputer menjadi lebih populer. Ada peningkatan varietas bagaimana siswa menggunakan komputer sebagai sarana homeschooling mereka. Kurikulum menggunakan komputer memiliki CD atau DVD sebagai sarananya. Selain itu, bisa juga mengambil kelas gratis secara online. Jadi, anak dibebaskan untuk memilih yang ia sukai.
Beberapa keuntungan menggunakan homeschooling berbasis komputer:
a. melihat nilai menggunakan teknologi modern dan tidak memiliki kekhawatiran berlebih dalam penggunaannya;
b. harus menemukan cara untuk tidak banyak terlibat dalam proses sehari-hari. Namun, Anda harus selalu ada jika dibutuhkan untuk memberi bantuan dan bimbingan umum;
c. harus mempunyai anak yang senang bekerja dengan kecepatan dan menggunakan komputer.
4. Metode elektik
Seperti namanya, dalam metode ini orangtua cenderung menggunakannya berbagai metode homeschooling yang tergantung pada kebutuhan anak. Daripada terhambat dengan satu filosofi atau satu metode, lebih baik mengambil sedikit dari berbagai metode.
Namun, metode ini bersifat umum dan baik dilaksanakan jika Anda:
a. tidak berkeberatan untuk mencari bahan yang sesuai dengan minat anak Anda;
b. tidak keberatan untuk mengikuti gaya dan urutan serta tidak senang menggabung beberapa kurikulum;
c. melihat nilai dengan menggunakan berbagai kurikulum dan metode homeschooling yang berbeda. Karena dengan melihat banyak metode homeschooling membuat Anda bisa memilih metode terbaik bagi anak Anda;
d. memiliki anak yang fleksibel dalam melakukan pembelajaran.
5. Metode textbook atau sekolah tradisional
Metode homeschooling berbasis model pada ide tradisional dari sebuah sekolah dengan menggunakan workbook atau buku pelajaran. Belajar dengan menggunakan buku yang digunakan di sekolah mengurangi potensi kesenjangan antara pelajaran yang dipelajari siswa.
Metode ini baik dilaksanakan jika Anda:
a. ingin anak Anda belajar materi yang sama dengan yang diajarkan di sekolah;
b. memelajari cara belajar di sekolah dan anak Anda ingin melakukannya;
c. ingin anak Anda dapat menjawab soal dengan baik seperti mengisi titik dibawah ini atau puzzles;
d. metode ini memiliki ide yang pasti tentang konten apa saja yang ingin anak Anda pelajari.
6. Metode independen atau belajar sendiri
Di dalam metode homeschooling independen, orangtua membantu anak untuk belajar cara belajar, kemudian secara bertahap anak akan menggunakan alat-alat membaca, menulis, aritmatika sendirian. Orangtua tidak hadir untuk mengajar, tetapi lebih untuk membantu anak dalam proses mengembangkan keyakinan agar anak bisa belajar sendiri.
Metode ini bisa berhasil jika Anda:
a. ingin anak Anda mengembangkan kemampuan untuk belajar sendiri;
b. melihat anak Anda mengembangkan keterampilan belajar yang baik selain bantuan keterlibatan Anda;
c. Lebih suka memiliki anak yang mengembangkan strategi belajar yang baik dan manajemen waktu sendiri daripada bertanggungjawab kepada orang lain di luar keluarga.
sumber: home-school-curriculum-advisor.com
1. Metode klasik homeschooling
Tahap pertama dari metode ini dimulai ketika siswa memelajari cara belajar dan mengasah kemampuan untuk mengingat banyak hal. Tahap selanjutnya, sudah ada sambungan yang mulai tercipta dari fakta-fakta yang sudah dipelajari. Tahap ketiga, ketika siswa sudah bisa menggunakan sambungan dari fakta-fakta, bisa merumuskan dan mengartikulasikan fakta tersebut dengan pendapatnya sendiri.
Metode ini baik digunakan jika Anda :
a. terstruktur;
b. memiliki keinginan untuk mengevaluasi cara belajar anak Anda berdasarkan standar akademik;
c. melihat nilai dari pendidikan yang menempatkan keutamaan pada kata-kata tertulis, baik dalam membaca dan menulis;
d. ingin berkonsentrasi pada sastra klasik barat sebagai alat untuk mengembangkan pemikirian kritis;
e. memiliki anak yang berorientasi akademis
2. Metode Charlotte Mason
Charlotte Mason adalah seorang pendidik Inggris yang metode pengajarannya menggunakan metode yang unik. Banyak homeschoolers menggunakan metode tersebut untuk mengajar putra-putrinya. Kenapa?
a. pelajarannya relatif singkat;
b. membuat narasi (dalam bentuk tulisan maupun lisan tergantung pada usia anak);
c. memiliki ujian (ujian dilakukan mengambil teori yang sudah dipelajari selama 12 minggu);
d. mepelajari gambar;
e. mempelajari musik;
f. mempelajari peta,
g. memiliki banyak subjek pelajaran.
3. Metode berbasis computer
Metode homeschooling menggunakan komputer menjadi lebih populer. Ada peningkatan varietas bagaimana siswa menggunakan komputer sebagai sarana homeschooling mereka. Kurikulum menggunakan komputer memiliki CD atau DVD sebagai sarananya. Selain itu, bisa juga mengambil kelas gratis secara online. Jadi, anak dibebaskan untuk memilih yang ia sukai.
Beberapa keuntungan menggunakan homeschooling berbasis komputer:
a. melihat nilai menggunakan teknologi modern dan tidak memiliki kekhawatiran berlebih dalam penggunaannya;
b. harus menemukan cara untuk tidak banyak terlibat dalam proses sehari-hari. Namun, Anda harus selalu ada jika dibutuhkan untuk memberi bantuan dan bimbingan umum;
c. harus mempunyai anak yang senang bekerja dengan kecepatan dan menggunakan komputer.
4. Metode elektik
Seperti namanya, dalam metode ini orangtua cenderung menggunakannya berbagai metode homeschooling yang tergantung pada kebutuhan anak. Daripada terhambat dengan satu filosofi atau satu metode, lebih baik mengambil sedikit dari berbagai metode.
Namun, metode ini bersifat umum dan baik dilaksanakan jika Anda:
a. tidak berkeberatan untuk mencari bahan yang sesuai dengan minat anak Anda;
b. tidak keberatan untuk mengikuti gaya dan urutan serta tidak senang menggabung beberapa kurikulum;
c. melihat nilai dengan menggunakan berbagai kurikulum dan metode homeschooling yang berbeda. Karena dengan melihat banyak metode homeschooling membuat Anda bisa memilih metode terbaik bagi anak Anda;
d. memiliki anak yang fleksibel dalam melakukan pembelajaran.
5. Metode textbook atau sekolah tradisional
Metode homeschooling berbasis model pada ide tradisional dari sebuah sekolah dengan menggunakan workbook atau buku pelajaran. Belajar dengan menggunakan buku yang digunakan di sekolah mengurangi potensi kesenjangan antara pelajaran yang dipelajari siswa.
Metode ini baik dilaksanakan jika Anda:
a. ingin anak Anda belajar materi yang sama dengan yang diajarkan di sekolah;
b. memelajari cara belajar di sekolah dan anak Anda ingin melakukannya;
c. ingin anak Anda dapat menjawab soal dengan baik seperti mengisi titik dibawah ini atau puzzles;
d. metode ini memiliki ide yang pasti tentang konten apa saja yang ingin anak Anda pelajari.
6. Metode independen atau belajar sendiri
Di dalam metode homeschooling independen, orangtua membantu anak untuk belajar cara belajar, kemudian secara bertahap anak akan menggunakan alat-alat membaca, menulis, aritmatika sendirian. Orangtua tidak hadir untuk mengajar, tetapi lebih untuk membantu anak dalam proses mengembangkan keyakinan agar anak bisa belajar sendiri.
Metode ini bisa berhasil jika Anda:
a. ingin anak Anda mengembangkan kemampuan untuk belajar sendiri;
b. melihat anak Anda mengembangkan keterampilan belajar yang baik selain bantuan keterlibatan Anda;
c. Lebih suka memiliki anak yang mengembangkan strategi belajar yang baik dan manajemen waktu sendiri daripada bertanggungjawab kepada orang lain di luar keluarga.
sumber: home-school-curriculum-advisor.com
Menjadi Pembelajar-Mandiri (Otodidak) Gaya Bajak Laut?
Buku Secrets of Buccaneer-Scholar: How Self-Education and the Pursuit of Passion Can Lead to a Lifetime of Success. Penulisnya bernama James Marcus Bach. Mau tahu siapa dia? Bach adalah pemuda drop-out dari SMA. Dia kemudian belajar secara otodidak dan berhasil bekerja di Apple Computer.
Apa yang dilakukannya di Apple Computer? Mari kita dengarkan sendiri cerita Bach: “Usia saya 24 tahun dan bekerja sebagai seorang manajer penguji perangkat lunak di Apple Computer, di Sillicon Valley.” Waktu berusia 24 tahun itu, dia diminta bicara di sebuah sekolah khusus untuk “anak-anak bermasalah.
Bach diminta berbicara di sekolah itu karena Bach dianggap “berhasil” sebagai seorang pelajar putus sekolah. “Saya belajar, tapi saya tidak sekolah. Sekolah hanya sementara. Pendidikan tidak. Jika kalian ingin berhasil dalam hidup: temukan sesuatu yang membuat kalian takjub dan pelajarilah,” demikian pesan Bach kepada anak-anak yang putus sekolah.
Buku Secrets of Buccaneer-Scholar memang merekam ide-ide gila Bach tentang bagaimana mendudukkan belajar mandiri dan belajar di sekolah. “Pendidikan memang penting. Sekolah tidak penting. Saya tidak membutuhkan sekolah,” katanya. Ketika seorang pelajar bertanya, "Bagaimana Apple bisa mempekerjakan Anda padahal Anda tidak memiliki gelar?", Bach dengan enteng menjawab: "Saya bisa memprogram komputer karena saya mendidik-diri-saya-sendiri dengan membaca dan mempelajari manual-manual teknis. Saya membuat program video-games secara profesional setelah meninggalkan bangku sekolah. Saat itu, seorang manajer perusahaan Apple menyukai pengalaman dan semangat saya. Sesudah itu, saya hanya perlu menunjukkan bahwa saya bisa belajar cepat dan bekerja dengan baik."
Ide-ide gila Bach tentang pendidikan memang mudah disalahpahami. Saya banyak menemukan hal-hal baru ketika membaca buku karya Bach ini. Seakan-akan saya diberi banyak "teropong" oleh Bach untuk memandang dunia pendidikan dari sisi yang lain sama sekali. Sekali lagi, ide-ide Bach mudah sekali disalahpahami. Namun, bukankah untuk menjadi hebat, kita perlu disalahpahami?
Ijazah adalah sebuah “mata uang” yang sangat penting di dunia kerja. Itulah sebabnya, hampir semua orang mengumpulkan mata uang jenis ini sebanyak-banyaknya. Terkadang, pengejaran terhadap ijazah itu dilakukan dengan cara apapun, termasuk cara-cara haram dan mengorbankan integritas anak/diri.
Bagi mereka yang ingin melihat alternatif jalan lain selain “jalan ijazah”, ada kisah menarik dari James Marcus Bach, seorang putus sekolah yang tidak tamat SMA. Gurunya meremehkannya dan menganggapnya akan gagal kalau dia tidak bersekolah dengan baik. Tetapi Bach memilih untuk menjadi pembelajar mandiri (otodidak) yang menekuni bidang pemograman hingga kemudian direkrut Apple Computer sebagai ahli software testing dan dikenal sebagai software tester yang diakui di dunia.
Pengalaman Bach itu dituangkan dalam buku berjudul “Tinggalkan Sekolah sebelum Terlambat, Belajar Cerdas Mandiri dan Mraih Sukses dengan Metode Bajak Laut”, diterbitkan oleh penerbit Kaifa. Judul aslinya “Secrets of Buccaneer-Scholar: How Self-Education and the Pursuit of Passion Can Lead to a Lifetime of Success”.
Dalam buku ini, Bach menceritakan tentang pengalaman hidupnya dan usahanya membangun credential/reputasi/akreditasi sebagai “mata uang” pengganti ijazah. Semuanya berawal dari proses panjangnya menggeluti bidang yang disukainya, ditekuninya dengan belajar keras, dan dibuktikannya melalui portofolio karya dan prestasinya. Buku ini juga menggambar strategi belajar Bach yang dinamakannya metode Bajak Laut (buccaneer).
Dalam konteks homeschooling, James Marcus Bach adalah salah satu contoh profil yang menempuh model unschooling, pendidikan yang didasarkan pada minat/passion, bukan berdasarkan model sekolah (dengan mata pelajaran, jenjang dan struktur yang melekat padanya).
Model yang dijalani oleh Bach ini memang sangat berbeda dibandingkan model sekolah. Tapi bukankah pendidikan itu tak hanya sekedar sekolah? Kegagalan di sekolah bukan berarti kegagalan kehidupan. Menempuh model pendidikan yang berbeda dengan sekolah juga bukan berarti kebodohan. Jalan-jalan pendidikan lain pun bisa menjadi pintu menuju keberhasilan sebagaimana yang ditunjukkan secara nyata oleh Bach.
Sebagian besar ketakutan orang untuk menempuh jalan non-sekolah dipicu oleh kekhawatiran terhadap dunia kerja. Sebagaimana hal itu juga ditanyakan kepada Bach: “Banyak majikan/perusahaan sama sekali tidak akan melirik Anda jika Anda tidak memiliki setumpuk ijazah formal.”
Dan Back menjawabnya dengan sudut pandang yang menarik. “Barangkali itu benar. Memangnya kenapa? Saya tidak mencari pekerjaan ke banyak majikan/perusahaan. Satu majikan sudah cukup buat saya. Selalu ada orang yang menghargai sesuatu yang benar-benar bermanfaat, seperti keahlian teknis dan kemampuan untuk bekerja sama dengan baik di dalam tim. Temukan orang-orang seperti itu.”
Ya... orang-orang yang belajar secara otodidak itu biasanya unique. Mereka sering mempunyai sudut pandang, cara berfikir, dan pendekatan-pendekatan yang berbeda. Mereka berbeda dari produk sekolah yang relatif memiliki pola pikir dan sikap yang sejenis. Keunikannya ini adalah kekuatan yang sering diperlukan untuk memicu inovasi-inovasi di dalam perusahaan. Para pembelajar mandiri ini biasanya juga akan sukses di bidang-bidang yang memang berorientasi output, yang lebih menghargai karya daripada sekedar formalitas ijazah.
Disarikan dari tulisan: Hernowo dan Sumardiono (rumahinspirasi.com)
Apa yang dilakukannya di Apple Computer? Mari kita dengarkan sendiri cerita Bach: “Usia saya 24 tahun dan bekerja sebagai seorang manajer penguji perangkat lunak di Apple Computer, di Sillicon Valley.” Waktu berusia 24 tahun itu, dia diminta bicara di sebuah sekolah khusus untuk “anak-anak bermasalah.
Bach diminta berbicara di sekolah itu karena Bach dianggap “berhasil” sebagai seorang pelajar putus sekolah. “Saya belajar, tapi saya tidak sekolah. Sekolah hanya sementara. Pendidikan tidak. Jika kalian ingin berhasil dalam hidup: temukan sesuatu yang membuat kalian takjub dan pelajarilah,” demikian pesan Bach kepada anak-anak yang putus sekolah.
Buku Secrets of Buccaneer-Scholar memang merekam ide-ide gila Bach tentang bagaimana mendudukkan belajar mandiri dan belajar di sekolah. “Pendidikan memang penting. Sekolah tidak penting. Saya tidak membutuhkan sekolah,” katanya. Ketika seorang pelajar bertanya, "Bagaimana Apple bisa mempekerjakan Anda padahal Anda tidak memiliki gelar?", Bach dengan enteng menjawab: "Saya bisa memprogram komputer karena saya mendidik-diri-saya-sendiri dengan membaca dan mempelajari manual-manual teknis. Saya membuat program video-games secara profesional setelah meninggalkan bangku sekolah. Saat itu, seorang manajer perusahaan Apple menyukai pengalaman dan semangat saya. Sesudah itu, saya hanya perlu menunjukkan bahwa saya bisa belajar cepat dan bekerja dengan baik."
Ide-ide gila Bach tentang pendidikan memang mudah disalahpahami. Saya banyak menemukan hal-hal baru ketika membaca buku karya Bach ini. Seakan-akan saya diberi banyak "teropong" oleh Bach untuk memandang dunia pendidikan dari sisi yang lain sama sekali. Sekali lagi, ide-ide Bach mudah sekali disalahpahami. Namun, bukankah untuk menjadi hebat, kita perlu disalahpahami?
Ijazah adalah sebuah “mata uang” yang sangat penting di dunia kerja. Itulah sebabnya, hampir semua orang mengumpulkan mata uang jenis ini sebanyak-banyaknya. Terkadang, pengejaran terhadap ijazah itu dilakukan dengan cara apapun, termasuk cara-cara haram dan mengorbankan integritas anak/diri.
Bagi mereka yang ingin melihat alternatif jalan lain selain “jalan ijazah”, ada kisah menarik dari James Marcus Bach, seorang putus sekolah yang tidak tamat SMA. Gurunya meremehkannya dan menganggapnya akan gagal kalau dia tidak bersekolah dengan baik. Tetapi Bach memilih untuk menjadi pembelajar mandiri (otodidak) yang menekuni bidang pemograman hingga kemudian direkrut Apple Computer sebagai ahli software testing dan dikenal sebagai software tester yang diakui di dunia.
Pengalaman Bach itu dituangkan dalam buku berjudul “Tinggalkan Sekolah sebelum Terlambat, Belajar Cerdas Mandiri dan Mraih Sukses dengan Metode Bajak Laut”, diterbitkan oleh penerbit Kaifa. Judul aslinya “Secrets of Buccaneer-Scholar: How Self-Education and the Pursuit of Passion Can Lead to a Lifetime of Success”.
Dalam buku ini, Bach menceritakan tentang pengalaman hidupnya dan usahanya membangun credential/reputasi/akreditasi sebagai “mata uang” pengganti ijazah. Semuanya berawal dari proses panjangnya menggeluti bidang yang disukainya, ditekuninya dengan belajar keras, dan dibuktikannya melalui portofolio karya dan prestasinya. Buku ini juga menggambar strategi belajar Bach yang dinamakannya metode Bajak Laut (buccaneer).
Model yang dijalani oleh Bach ini memang sangat berbeda dibandingkan model sekolah. Tapi bukankah pendidikan itu tak hanya sekedar sekolah? Kegagalan di sekolah bukan berarti kegagalan kehidupan. Menempuh model pendidikan yang berbeda dengan sekolah juga bukan berarti kebodohan. Jalan-jalan pendidikan lain pun bisa menjadi pintu menuju keberhasilan sebagaimana yang ditunjukkan secara nyata oleh Bach.
Sebagian besar ketakutan orang untuk menempuh jalan non-sekolah dipicu oleh kekhawatiran terhadap dunia kerja. Sebagaimana hal itu juga ditanyakan kepada Bach: “Banyak majikan/perusahaan sama sekali tidak akan melirik Anda jika Anda tidak memiliki setumpuk ijazah formal.”
Dan Back menjawabnya dengan sudut pandang yang menarik. “Barangkali itu benar. Memangnya kenapa? Saya tidak mencari pekerjaan ke banyak majikan/perusahaan. Satu majikan sudah cukup buat saya. Selalu ada orang yang menghargai sesuatu yang benar-benar bermanfaat, seperti keahlian teknis dan kemampuan untuk bekerja sama dengan baik di dalam tim. Temukan orang-orang seperti itu.”
Ya... orang-orang yang belajar secara otodidak itu biasanya unique. Mereka sering mempunyai sudut pandang, cara berfikir, dan pendekatan-pendekatan yang berbeda. Mereka berbeda dari produk sekolah yang relatif memiliki pola pikir dan sikap yang sejenis. Keunikannya ini adalah kekuatan yang sering diperlukan untuk memicu inovasi-inovasi di dalam perusahaan. Para pembelajar mandiri ini biasanya juga akan sukses di bidang-bidang yang memang berorientasi output, yang lebih menghargai karya daripada sekedar formalitas ijazah.
Disarikan dari tulisan: Hernowo dan Sumardiono (rumahinspirasi.com)
50 Reasons Why I Could Never Homeschool
April 12, 2006 By CarolynM
If you are a parent who thinks you could never homeschool, be encouraged: I used to be one of you. If someone had suggested back then that I should homeschool, I would have had a dozen reasons ready why I could not do it. One day, I ran out of reasons. Actually, the reasons why I wanted to try homeschooling began to outnumber my excuses for not trying it.
When my daughter was old enough for Kindergarten, I didn’t have to worry about homeschooling because it was not yet legal in my state. Later, I avoided homeschooling because I thought my toddler needed too much of my attention. Still later, it became obvious that the government’s public school system was failing both of my children, and I finally took a serious look at homeschooling. Our lives (and their education) changed completely within the next few months, and it has been a change that we have never regretted.
When people say they “could never homeschool,” they usually complete that thought with one of the lines listed below. Sometimes the line is spoken aloud, and other times it is merely implied. Still more often, the spoken phrase, “I could never homeschool,” stands alone as a substitute, a coded message, for one or more of these assertions. If you think you could never homeschool, give some consideration to these tongue-in-cheek explanations and reflect on why you feel homeschooling is not for you — be sure that you are not avoiding homeschooling for mere excuses.
I could never homeschool–
1. …I’m too disorganized. Homeschooling works with as much organization as you are willing to put forth. However, if you can keep your silverware sorted, you probably have what it takes.
2. …I don’t know how. Have you ever begun a new adventure already knowing everything about it? Like anything else in life, you learn as you go.
3. …I wouldn’t be any good at it. How do you know? Have you tried and failed at this before? If you have, then you know what problems to avoid this time.
4. …I’m too lazy. Are you saying that it is easier to get your children up, dressed, fed, and off to school at the crack of dawn five days a week, than it is to allow your children to do math in their pajamas?
5. …My husband/family won’t let me. Is that because you have run yourselves deeply into debt and need multiple incomes to keep up the payments? Or is it because of utopian ideas of what institutional schools can do for a child?
6. …I’m not smart enough. Did you teach your child to walk or talk? Did you help him learn to dress himself? Did you teach him to sing “Happy Birthday”? Then you probably have what it takes to teach him to print his name. The rest you can learn as you go.
7. …I don’t want my child to end up like that weird homeschooled kid I know. Don’t worry–your child will end up with his own brand of weirdness, whether he is homeschooled or not.
8. …I can’t stand to be around my children. This is a bigger problem that you need to resolve, no matter where your children go to school.
9. …My children can’t stand to be with me. Again, this is a bigger problem that you need to resolve, no matter where your children go to school.
10. …I want to support the local Christian school. That is an admirable goal, but is the Christian school more important than your own child? The quality of education (even at Christian schools) is far below what a child can receive at home. Also, Christian schools are populated with the thugs, bullies, and reprobates who managed to get themselves expelled from public school.
11. …I want to support the community through the public school. Again, is the community more important than your child’s welfare and education? The quality of education at public schools is far below what a child can receive at home.
12. …All my children’s friends go to public school. Any friends worth keeping can still be seen and played with after school or on weekends.
13. …I don’t have the patience to homeschool. Did you become impatient when your child was learning to walk or talk? Were you impatient when helping him learn to ride a bike? Homeschooling is no different–it is teaching new skills to the children you love.
14. …My child has “special needs.” Many parents homeschool their “special needs” children, feeling that no other teacher can understand or care for their child better than the parents can.
15. …I don’t know any other homeschoolers–I would need help. Homeschooling is growing so quickly that there are probably some homeschoolers in your area already. There are also resources on the internet for helping you connect with homeschooling families near you.
16. …I don’t want to insult my friends who are public school teachers. Right. Because their feelings are so much more important than your child’s feelings and education.
17. …I have to work. Some families have been able to adjust their work schedules and their homeschooling schedule to fit together. Other families have found financial benefits to homeschooling that eliminated the need for both parents to work.
18. …My children don’t want to homeschool. How do they know? Have they tried it before? My children loved having a fully stocked refrigerator available in their classroom.
19. …I have a degree, a career, and a corner office that I have worked hard for, and I’m not giving that up. Right. Because it’s all about you, isn’t it? But your child would like his own chance to obtain a degree, a career, and a corner office.
20. …I can’t teach algebra, geometry, calculus, or chemistry. 1.) If your child is just starting Kindergarten, you don’t have to worry about the advanced subjects just yet. 2.) The lessons are all explained in the textbooks.
21. …My children won’t listen to me, don’t respect me, or don’t think I am smart enough. Some of this will disappear the first time you answer a question as Teacher, and more will be conquered as you continue to homeschool. However, some of this may stem from bigger problems that will need to be resolved no matter where your children go to school.
22. …I have a life and social commitments, and I’m not giving those up. It’s still all about you, isn’t it? Many commitments outside the home can still be maintained–and some may be easier because of the lack of school-related commitments during after-school hours.
23. …I don’t want to wear a denim jumper, put my hair in a bun, kill my own chickens, or have 18 children. And you don’t have to. Homeschooling should fit your family’s lifestyle–no matter what your lifestyle is. Some athletes homeschool around hours and hours of daily training, and some families homeschool on the road in the cab of an 18-wheeler. Homeschooling adapts to you and your lifestyle.
24. …It costs too much money to homeschool. Many of the costs associated with homeschooling (such as curriculum purchases) can be spread out by re-using the materials for several students, or recouped by reselling the materials when you are finished with them.
25. …We can’t afford to start now; maybe we’ll start next year. Along with your financial costs, be sure to consider the personal costs to your child. In some cases, the emotional and mental anguish from one more year in public school can do irreparable harm.
26. …We might homeschool later when the kids really need it. How will you know if you’ve waited too long to start? In some cases, the emotional and mental anguish from one more year in public school can do irreparable harm.
27. …My child has been looking forward to going to public school, and I can’t break his heart. 1.) Your child is probably looking forward to either a ride on a school bus or a chance to play on the school playground. Are those more important than the quality of education? You can ride the city bus (or a church bus), visit a local playground, and then make cookies together at home (something he can’t do at school). 2.) Who is responsible for deciding what is best for the child–that child or you, the parent?
28. …I don’t want to go to jail–isn’t homeschooling against the law? No. Homeschooling is legal in all fifty states, as well as many foreign countries. Home School Legal Defense Association is consistently on top of homeschooling law cases and will support any member family at no cost. (info at http://hslda.org)
29. …I want my children to get into college. Homeschoolers are actively recruited by colleges for their dedication to excellence and self-motivated learning.
30. …Homeschooling isn’t really that important. Homeschooling can turn a poor student into a great student. Imagine what it can do for your student.
31. …I went to public school, and I turned out all right. The school you went to is no longer available. Schools are dramatically different now from what they were even five years ago. Ask a child who is currently in school what a typical day is like.
32. …I want my children to experience all the good things from public school. Again, the school you went to is no longer available, and you may have forgotten many of the painful or difficult times that accompanied your good experiences. Ask a child who is currently in school what a typical day is like.
33. …My baby/toddler takes up too much of my time. Have you found ways to prepare meals or do laundry with Baby around? Homeschooling can also be adapted around baby’s schedule, and toddlers and preschoolers love to join in the fun. There are many ways to homeschool with younger children about.
34. …My mother is a teacher! Then she should understand why you want to skip all of the undesirable elements of school and focus on personalized academics. It is a very rare grandmother who does not want the best for her grandchild. And you have the bonus that she can help teach your child how to stand in line for the bathroom or show you how to inspect him for head lice.
35. …My children won’t have any friends. Do they have friends now? They can still get together with the school friends they enjoy, and friends from the neighborhood or church will still be around. Homeschool support groups provide new friendship opportunities, plus field trips and group activities.
36. …I’m dyslexic–I can’t teach my child. Some dyslexia results from incomplete understanding of phonics and reading skills, which parents can learn right along with their students. Any other homeschooling adults would be understanding and happy to help you through any difficult spots.
37. …I’m not creative. But many other people are and are making their ideas available to other homeschoolers. Low-cost and no-cost ideas are available on the Internet, at public libraries, and through cooperative homeschooling support groups.
38. …I’m not religious–homeschoolers are all religious fanatics. Many homeschoolers have no religious preference but choose homeschooling for the excellence in academic instruction and opportunities for personally tailored learning.
39. …I want my child in the Gifted Program. “Gifted” in public school programs often means “compliant worker-bee.” Boat-rocking, buck-the-system, freethinking individuals are rarely admitted into Gifted Programs. Your child can develop his gifts and personal interests without all of the bureaucratic red tape or funding cuts.
40. …Homeschooling takes too much time, and it takes more time each year as the kids get older. Wrong. Homeschooling takes less time for the parent as the students get older and become able to work more independently.
41. …I could teach arithmetic, but I don’t know how to teach a child to read. There are many programs available for teaching reading, including some which guide everything the parent should say to the child. Teaching your child to read is much simpler than it seems and is an unbelievably rewarding experience.
42. …I want my child involved in sports. Homeschooled children are involved in sports through city recreation leagues, through dual-enrollment with public schools specifically for the sports, and through the many homeschool cooperative groups that are starting teams and hosting tournaments.
43. …I can’t teach art. 1.) “Art” must be your child’s name. 2.) Art can be taught, even if he is stubborn. 3.) Dump all of your crafty supplies on the floor and let Art loose. Library books can guide you into specific artistic techniques, but creativity is built in to all children.
44. …I can’t teach a foreign language. Excellent foreign language programs are available on CD-ROM that allow the student to hear the correct pronunciation, free of regional accents. (Have you ever heard French spoken with a Texas accent? I know a public school student whose teacher taught French with a heavy drawl. It’s funny.)
45. …My child is too active to keep up with. So you’d rather send him to a school where they will medicate him with drugs to make him sit still? At home, that child can run, jump, and play, and then do the schoolwork when his legs are finally tired and want to rest.
46. …I’m a single parent. Many single parents are finding ways to homeschool their children through flexible scheduling (of the job or the lessons) or work-at-home options.
47. …My neighbors will report me for child abuse. Do you need to be reported for child abuse? If not, try talking with your neighbors to help them understand your desire to provide your children with an excellent education. Bake cookies for the neighbors and have the children ask them about their hobbies, careers, or where they grew up, as part of a homeschool project. HSLDA will defend member families against false reports, but not homeschooling out of fear is cheating your children out of a wonderful educational opportunity, not to mention the emotional abuse they will actually endure at public school.
48. …I don’t have an extra room in my house for a classroom. You don’t need one. You can do lessons on whatever surface you currently eat dinner (kitchen snack bar, dining room table, or TV tray) and sit on the sofa for reading. Books and supplies can be stored in a box in the closet or in a corner to keep them from wandering off.
49. ...I don’t want to homeschool. It never stops being about you, does it? Is your leisure time really more important to you than your child’s education and your child’s welfare?
50. …I wouldn’t know how to start homeschooling. There are abundant resources for homeschooling, including the one you are reading right now.
I strongly urge you, if you are not homeschooling now, to give serious thought to why you have not considered homeschooling your children. If your reasons now seem as frivolous as the reasons stated above, perhaps you need to look at homeschooling as a real possibility for your family. Families have begun homeschooling as a way to care for dramatic health needs or because they had serious disagreements with the philosophies put forth in public school curriculum. However, homeschooling is proving itself to be an ideal way just to strengthen individual families and prepare children for college and the real life beyond. Besides all of the wonderful reasons for justifying homeschooling, it is just plain fun for both the children and the parents. Investigate this phenomenon called homeschooling–you may be very glad you did.
All content is Copyright 2004-2011 by Carolyn Morrison. Do not reprint without written permission from the author. If you repost this article or link to it, it must not be altered in any way and this copyright notice must be attached.
Guilt-Free Homeschooling is the creation of Carolyn Morrison, an 11 year veteran of homeschooling her two children, from leaving public school in the elementary grades through high school graduation and into college. Learn from our mistakes, so you can come up with new mistakes of your own!
sumber: guiltfreehomeschooling.org
If you are a parent who thinks you could never homeschool, be encouraged: I used to be one of you. If someone had suggested back then that I should homeschool, I would have had a dozen reasons ready why I could not do it. One day, I ran out of reasons. Actually, the reasons why I wanted to try homeschooling began to outnumber my excuses for not trying it.
When my daughter was old enough for Kindergarten, I didn’t have to worry about homeschooling because it was not yet legal in my state. Later, I avoided homeschooling because I thought my toddler needed too much of my attention. Still later, it became obvious that the government’s public school system was failing both of my children, and I finally took a serious look at homeschooling. Our lives (and their education) changed completely within the next few months, and it has been a change that we have never regretted.
When people say they “could never homeschool,” they usually complete that thought with one of the lines listed below. Sometimes the line is spoken aloud, and other times it is merely implied. Still more often, the spoken phrase, “I could never homeschool,” stands alone as a substitute, a coded message, for one or more of these assertions. If you think you could never homeschool, give some consideration to these tongue-in-cheek explanations and reflect on why you feel homeschooling is not for you — be sure that you are not avoiding homeschooling for mere excuses.
I could never homeschool–
1. …I’m too disorganized. Homeschooling works with as much organization as you are willing to put forth. However, if you can keep your silverware sorted, you probably have what it takes.
2. …I don’t know how. Have you ever begun a new adventure already knowing everything about it? Like anything else in life, you learn as you go.
3. …I wouldn’t be any good at it. How do you know? Have you tried and failed at this before? If you have, then you know what problems to avoid this time.
4. …I’m too lazy. Are you saying that it is easier to get your children up, dressed, fed, and off to school at the crack of dawn five days a week, than it is to allow your children to do math in their pajamas?
5. …My husband/family won’t let me. Is that because you have run yourselves deeply into debt and need multiple incomes to keep up the payments? Or is it because of utopian ideas of what institutional schools can do for a child?
6. …I’m not smart enough. Did you teach your child to walk or talk? Did you help him learn to dress himself? Did you teach him to sing “Happy Birthday”? Then you probably have what it takes to teach him to print his name. The rest you can learn as you go.
7. …I don’t want my child to end up like that weird homeschooled kid I know. Don’t worry–your child will end up with his own brand of weirdness, whether he is homeschooled or not.
8. …I can’t stand to be around my children. This is a bigger problem that you need to resolve, no matter where your children go to school.
9. …My children can’t stand to be with me. Again, this is a bigger problem that you need to resolve, no matter where your children go to school.
10. …I want to support the local Christian school. That is an admirable goal, but is the Christian school more important than your own child? The quality of education (even at Christian schools) is far below what a child can receive at home. Also, Christian schools are populated with the thugs, bullies, and reprobates who managed to get themselves expelled from public school.
11. …I want to support the community through the public school. Again, is the community more important than your child’s welfare and education? The quality of education at public schools is far below what a child can receive at home.
12. …All my children’s friends go to public school. Any friends worth keeping can still be seen and played with after school or on weekends.
13. …I don’t have the patience to homeschool. Did you become impatient when your child was learning to walk or talk? Were you impatient when helping him learn to ride a bike? Homeschooling is no different–it is teaching new skills to the children you love.
14. …My child has “special needs.” Many parents homeschool their “special needs” children, feeling that no other teacher can understand or care for their child better than the parents can.
15. …I don’t know any other homeschoolers–I would need help. Homeschooling is growing so quickly that there are probably some homeschoolers in your area already. There are also resources on the internet for helping you connect with homeschooling families near you.
16. …I don’t want to insult my friends who are public school teachers. Right. Because their feelings are so much more important than your child’s feelings and education.
17. …I have to work. Some families have been able to adjust their work schedules and their homeschooling schedule to fit together. Other families have found financial benefits to homeschooling that eliminated the need for both parents to work.
18. …My children don’t want to homeschool. How do they know? Have they tried it before? My children loved having a fully stocked refrigerator available in their classroom.
19. …I have a degree, a career, and a corner office that I have worked hard for, and I’m not giving that up. Right. Because it’s all about you, isn’t it? But your child would like his own chance to obtain a degree, a career, and a corner office.
20. …I can’t teach algebra, geometry, calculus, or chemistry. 1.) If your child is just starting Kindergarten, you don’t have to worry about the advanced subjects just yet. 2.) The lessons are all explained in the textbooks.
21. …My children won’t listen to me, don’t respect me, or don’t think I am smart enough. Some of this will disappear the first time you answer a question as Teacher, and more will be conquered as you continue to homeschool. However, some of this may stem from bigger problems that will need to be resolved no matter where your children go to school.
22. …I have a life and social commitments, and I’m not giving those up. It’s still all about you, isn’t it? Many commitments outside the home can still be maintained–and some may be easier because of the lack of school-related commitments during after-school hours.
23. …I don’t want to wear a denim jumper, put my hair in a bun, kill my own chickens, or have 18 children. And you don’t have to. Homeschooling should fit your family’s lifestyle–no matter what your lifestyle is. Some athletes homeschool around hours and hours of daily training, and some families homeschool on the road in the cab of an 18-wheeler. Homeschooling adapts to you and your lifestyle.
24. …It costs too much money to homeschool. Many of the costs associated with homeschooling (such as curriculum purchases) can be spread out by re-using the materials for several students, or recouped by reselling the materials when you are finished with them.
25. …We can’t afford to start now; maybe we’ll start next year. Along with your financial costs, be sure to consider the personal costs to your child. In some cases, the emotional and mental anguish from one more year in public school can do irreparable harm.
26. …We might homeschool later when the kids really need it. How will you know if you’ve waited too long to start? In some cases, the emotional and mental anguish from one more year in public school can do irreparable harm.
27. …My child has been looking forward to going to public school, and I can’t break his heart. 1.) Your child is probably looking forward to either a ride on a school bus or a chance to play on the school playground. Are those more important than the quality of education? You can ride the city bus (or a church bus), visit a local playground, and then make cookies together at home (something he can’t do at school). 2.) Who is responsible for deciding what is best for the child–that child or you, the parent?
28. …I don’t want to go to jail–isn’t homeschooling against the law? No. Homeschooling is legal in all fifty states, as well as many foreign countries. Home School Legal Defense Association is consistently on top of homeschooling law cases and will support any member family at no cost. (info at http://hslda.org)
29. …I want my children to get into college. Homeschoolers are actively recruited by colleges for their dedication to excellence and self-motivated learning.
30. …Homeschooling isn’t really that important. Homeschooling can turn a poor student into a great student. Imagine what it can do for your student.
31. …I went to public school, and I turned out all right. The school you went to is no longer available. Schools are dramatically different now from what they were even five years ago. Ask a child who is currently in school what a typical day is like.
32. …I want my children to experience all the good things from public school. Again, the school you went to is no longer available, and you may have forgotten many of the painful or difficult times that accompanied your good experiences. Ask a child who is currently in school what a typical day is like.
33. …My baby/toddler takes up too much of my time. Have you found ways to prepare meals or do laundry with Baby around? Homeschooling can also be adapted around baby’s schedule, and toddlers and preschoolers love to join in the fun. There are many ways to homeschool with younger children about.
34. …My mother is a teacher! Then she should understand why you want to skip all of the undesirable elements of school and focus on personalized academics. It is a very rare grandmother who does not want the best for her grandchild. And you have the bonus that she can help teach your child how to stand in line for the bathroom or show you how to inspect him for head lice.
35. …My children won’t have any friends. Do they have friends now? They can still get together with the school friends they enjoy, and friends from the neighborhood or church will still be around. Homeschool support groups provide new friendship opportunities, plus field trips and group activities.
36. …I’m dyslexic–I can’t teach my child. Some dyslexia results from incomplete understanding of phonics and reading skills, which parents can learn right along with their students. Any other homeschooling adults would be understanding and happy to help you through any difficult spots.
37. …I’m not creative. But many other people are and are making their ideas available to other homeschoolers. Low-cost and no-cost ideas are available on the Internet, at public libraries, and through cooperative homeschooling support groups.
38. …I’m not religious–homeschoolers are all religious fanatics. Many homeschoolers have no religious preference but choose homeschooling for the excellence in academic instruction and opportunities for personally tailored learning.
39. …I want my child in the Gifted Program. “Gifted” in public school programs often means “compliant worker-bee.” Boat-rocking, buck-the-system, freethinking individuals are rarely admitted into Gifted Programs. Your child can develop his gifts and personal interests without all of the bureaucratic red tape or funding cuts.
40. …Homeschooling takes too much time, and it takes more time each year as the kids get older. Wrong. Homeschooling takes less time for the parent as the students get older and become able to work more independently.
41. …I could teach arithmetic, but I don’t know how to teach a child to read. There are many programs available for teaching reading, including some which guide everything the parent should say to the child. Teaching your child to read is much simpler than it seems and is an unbelievably rewarding experience.
42. …I want my child involved in sports. Homeschooled children are involved in sports through city recreation leagues, through dual-enrollment with public schools specifically for the sports, and through the many homeschool cooperative groups that are starting teams and hosting tournaments.
43. …I can’t teach art. 1.) “Art” must be your child’s name. 2.) Art can be taught, even if he is stubborn. 3.) Dump all of your crafty supplies on the floor and let Art loose. Library books can guide you into specific artistic techniques, but creativity is built in to all children.
44. …I can’t teach a foreign language. Excellent foreign language programs are available on CD-ROM that allow the student to hear the correct pronunciation, free of regional accents. (Have you ever heard French spoken with a Texas accent? I know a public school student whose teacher taught French with a heavy drawl. It’s funny.)
45. …My child is too active to keep up with. So you’d rather send him to a school where they will medicate him with drugs to make him sit still? At home, that child can run, jump, and play, and then do the schoolwork when his legs are finally tired and want to rest.
46. …I’m a single parent. Many single parents are finding ways to homeschool their children through flexible scheduling (of the job or the lessons) or work-at-home options.
47. …My neighbors will report me for child abuse. Do you need to be reported for child abuse? If not, try talking with your neighbors to help them understand your desire to provide your children with an excellent education. Bake cookies for the neighbors and have the children ask them about their hobbies, careers, or where they grew up, as part of a homeschool project. HSLDA will defend member families against false reports, but not homeschooling out of fear is cheating your children out of a wonderful educational opportunity, not to mention the emotional abuse they will actually endure at public school.
48. …I don’t have an extra room in my house for a classroom. You don’t need one. You can do lessons on whatever surface you currently eat dinner (kitchen snack bar, dining room table, or TV tray) and sit on the sofa for reading. Books and supplies can be stored in a box in the closet or in a corner to keep them from wandering off.
49. ...I don’t want to homeschool. It never stops being about you, does it? Is your leisure time really more important to you than your child’s education and your child’s welfare?
50. …I wouldn’t know how to start homeschooling. There are abundant resources for homeschooling, including the one you are reading right now.
I strongly urge you, if you are not homeschooling now, to give serious thought to why you have not considered homeschooling your children. If your reasons now seem as frivolous as the reasons stated above, perhaps you need to look at homeschooling as a real possibility for your family. Families have begun homeschooling as a way to care for dramatic health needs or because they had serious disagreements with the philosophies put forth in public school curriculum. However, homeschooling is proving itself to be an ideal way just to strengthen individual families and prepare children for college and the real life beyond. Besides all of the wonderful reasons for justifying homeschooling, it is just plain fun for both the children and the parents. Investigate this phenomenon called homeschooling–you may be very glad you did.
All content is Copyright 2004-2011 by Carolyn Morrison. Do not reprint without written permission from the author. If you repost this article or link to it, it must not be altered in any way and this copyright notice must be attached.
Guilt-Free Homeschooling is the creation of Carolyn Morrison, an 11 year veteran of homeschooling her two children, from leaving public school in the elementary grades through high school graduation and into college. Learn from our mistakes, so you can come up with new mistakes of your own!
sumber: guiltfreehomeschooling.org
Homeschooling Approach
Pada dasarnya homeschooling bersifat unique. Karena setiap keluarga mempunyai nilai dan latar belakang berbeda, setiap keluarga akan melahirkan pilihan-pilihan model homeschooling yang unique.
Pendekatan homeschooling memiliki rentang yang lebar antara yang sangat tidak terstruktur (unschooling) hingga yang sangat terstruktur seperti belajar di sekolah (school at-home).
a. School at-home
b. Unit studies
c. Charlotte Mason atau The Living Book Approach
d. Classical, Waldorf, Montessori, dan Eclectic
e. Unschooling atau Natural Learning
School at-home approach adalah model pendidikan yang serupa dengan yang diselenggarakan di sekolah. Hanya saja, tempatnya tidak di sekolah, tetapi di rumah. Metode ini juga sering disebut textbook approach, traditional approach, atau school approach.
Unit studies approach adalah model pendidikan yang berbasis pada tema (unit study). Pendakatan ini banyak dipakai oleh orang tua homeschooling. Dalam pendekatan ini, siswa tidak belajar satu mata pelajaran tertentu (matematika, bahasa, dsb), tetapi mempelajari banyak mata pelajaran sekaligus melalui sebuah tema yang dipelajari. Metode ini berkembang atas pemikiran bahwa proses belajar seharusnya terintegrasi (integrated), bukan terpecah-pecah (segmented).
The Living Books approach adalah model pendidikan melalui pengalaman dunia nyata. Metode ini dikembangkan oleh Charlotte Mason. Pendekatannya dengan mengajarkan kebiasaan baik (good habit), keterampilan dasar (membaca, menulis, matematika), serta mengekspose anak dengan pengalaman nyata, seperti berjalan-jalan, mengunjungi museum, berbelanja ke pasar, mencari informasi di perpustakaan, menghadiri pameran, dan sebagainya.
The Classical approach adalah model pendidikan yang dikembangkan sejak abad pertengahan. Pendekatan ini menggunakan kurikulum yang distrukturkan berdasarkan tiga tahap perkembangan anak yang disebut Trivium. Penekanan metode ini adalah kemampuan ekspresi verbal dan tertulis. Pendekatannya berbasis teks/literatur (bukan gambar/image).
The Waldorf approach adalah model pendidikan yang dikembangkan oleh Rudolph Steiner, banyak ditetapkan di sekolah-sekolah alternatif Waldorf di Amerika. Karena Steiner berusaha menciptakan setting sekolah yang mirip keadaan rumah, metodenya mudah diadaptasi untuk homeschool.
The Montessori approach adalah model pendidikan yang dikembangkan oleh Dr. Maria Montessori. Pendekatan ini mendorong penyiapan lingkungan pendukung yang nyata dan alami, mengamati proses interaksi anak-anak di lingkungan, serta terus menumbuhkan lingkungan sehingga anak-anak dapat mengembangkan potensinya, baik secara fisik, mental, maupun spiritual.
The Eclectic approach memberikan kesempatan pada keluarga untuk mendesain sendiri program homeschooling yang sesuai, dengan memilih atau menggabungkan dari sistem yang ada.
Unschooling approach berangkat dari keyakinan bahwa anak-anak memiliki keinginan natural untuk belajar dan jika keinginan itu difasilitasi dan dikenalkan dengan pengalaman di dunia nyata, maka mereka akan belajar lebih banyak daripada melalui metode lainnya. Unschooling tidak berangkat dari textbook, tetapi dari minat anak yang difasilitasi.
(Referensi: “The Complete Idiot’s Guide to Homeschooling”, Marsha Ransom, 2001)
sumber: geniusinside.wordpress.com
Pendekatan homeschooling memiliki rentang yang lebar antara yang sangat tidak terstruktur (unschooling) hingga yang sangat terstruktur seperti belajar di sekolah (school at-home).
a. School at-home
b. Unit studies
c. Charlotte Mason atau The Living Book Approach
d. Classical, Waldorf, Montessori, dan Eclectic
e. Unschooling atau Natural Learning
School at-home approach adalah model pendidikan yang serupa dengan yang diselenggarakan di sekolah. Hanya saja, tempatnya tidak di sekolah, tetapi di rumah. Metode ini juga sering disebut textbook approach, traditional approach, atau school approach.
Unit studies approach adalah model pendidikan yang berbasis pada tema (unit study). Pendakatan ini banyak dipakai oleh orang tua homeschooling. Dalam pendekatan ini, siswa tidak belajar satu mata pelajaran tertentu (matematika, bahasa, dsb), tetapi mempelajari banyak mata pelajaran sekaligus melalui sebuah tema yang dipelajari. Metode ini berkembang atas pemikiran bahwa proses belajar seharusnya terintegrasi (integrated), bukan terpecah-pecah (segmented).
The Living Books approach adalah model pendidikan melalui pengalaman dunia nyata. Metode ini dikembangkan oleh Charlotte Mason. Pendekatannya dengan mengajarkan kebiasaan baik (good habit), keterampilan dasar (membaca, menulis, matematika), serta mengekspose anak dengan pengalaman nyata, seperti berjalan-jalan, mengunjungi museum, berbelanja ke pasar, mencari informasi di perpustakaan, menghadiri pameran, dan sebagainya.
The Classical approach adalah model pendidikan yang dikembangkan sejak abad pertengahan. Pendekatan ini menggunakan kurikulum yang distrukturkan berdasarkan tiga tahap perkembangan anak yang disebut Trivium. Penekanan metode ini adalah kemampuan ekspresi verbal dan tertulis. Pendekatannya berbasis teks/literatur (bukan gambar/image).
The Waldorf approach adalah model pendidikan yang dikembangkan oleh Rudolph Steiner, banyak ditetapkan di sekolah-sekolah alternatif Waldorf di Amerika. Karena Steiner berusaha menciptakan setting sekolah yang mirip keadaan rumah, metodenya mudah diadaptasi untuk homeschool.
The Montessori approach adalah model pendidikan yang dikembangkan oleh Dr. Maria Montessori. Pendekatan ini mendorong penyiapan lingkungan pendukung yang nyata dan alami, mengamati proses interaksi anak-anak di lingkungan, serta terus menumbuhkan lingkungan sehingga anak-anak dapat mengembangkan potensinya, baik secara fisik, mental, maupun spiritual.
The Eclectic approach memberikan kesempatan pada keluarga untuk mendesain sendiri program homeschooling yang sesuai, dengan memilih atau menggabungkan dari sistem yang ada.
Unschooling approach berangkat dari keyakinan bahwa anak-anak memiliki keinginan natural untuk belajar dan jika keinginan itu difasilitasi dan dikenalkan dengan pengalaman di dunia nyata, maka mereka akan belajar lebih banyak daripada melalui metode lainnya. Unschooling tidak berangkat dari textbook, tetapi dari minat anak yang difasilitasi.
(Referensi: “The Complete Idiot’s Guide to Homeschooling”, Marsha Ransom, 2001)
sumber: geniusinside.wordpress.com
Saat Homeschooling Harus 'Reses'
Menjalani keseharian bagi keluarga pesekolah rumah tak ada bedanya dengan keluarga lain. Hanya saja, intensitas bertemu kami lebih sering, dan oleh karena sebab itu pula salingketergantungan dan membutuhkannya juga lebih tinggi. Ahad kemarin akhirnya kami berkumpul kembali dalam suasana sehat dan segar, alhamdulillah. Setelah dua minggu satu per satu dari kami sakit, akhirnya kami 'kembali' segar dengan suasana favorit kami.
Aisyah segera membuka majalah bekas-tapi barunya. Mengerjakannya dengan semangat, sampai habis. Lem, krayon, gunting, pensil, spidol kembali berantakana. Inilah yang kurang selama 2 minggu ini. Suasana dimana anak-anak bersemangat dengan proyeknya masing-masing. Sayang, Jita harus menyelesaikan Ujian Akhir Semester PKn nya, yang dia anggap sebagai hal teraneh di dunia. Setelah itu, meluncurlah dia ke rak buku besar kami.
Sejak dulu saya sering heran, bagaimana para pesekolah rumah menghadapi kondisi di luar dugaan, misalnya saat harus melahirkan, terbaring sakit, atau ada anggota keluarga yang sakit. Sebenarnya saya sudah mengalaminya beberapa kali. Dari pengalaman inilah terpikir untuk menuliskan kisah di blog ini.
Seorang ibu yang 4 anaknya HS memberikan masukan hendaknya membuat persiapan-persiapan belajar anak-anak bila menjelang persalinan. Jadi walau sang ibu berjuang melahirkan anak ke 5, anak-anak yang lain sudah tau apa yang harus mereka lakukan. Ini berkaitan dengan sesuatu yang sudah bisa diprediksikan. bagaimana dengan kondisi si ibu sakit, atau ada anggota keluarga lain yang sakit, padahal fasilitator HS di rumah itu hanyalah si ibu? Kalau pengalaman saya, kami memilih untuk 'reses'.
Dalam masa istirahat itu, prioritas adalah merawat anak-anak yang sakit. Bahkan bukannya tak belajar sama sekali, anak-anak malah mengetahui hal baru dalam masa ini. Biasanya kalau masa reses seperti ini anak-anak saya biarkan istirahat di atas tempat tidurnya, sambil saya bercerita. Qodarulloh, kami bertiga kena diare. Jita bertambah pengetahuannya tentang diare. Kenapa saat kita diare tak boleh minum susu? Kenapa tak boleh makan buah-buahan? lalu saya pun bercerita tentang asam, serat dan sebagainya.
Beberapa orang tua merasa khawatir HS mereka berhenti di tempat saat si ibu sakit, atau saat mengalami hal-hal di luar dugaan yang mengharuskan si ibu tidak berada di rumah untuk waktu tertentu. Salah satu karakteristik pesekolah rumah adalah dorongan untuk belajar mandiri. Di saat giliran saya yang lemas karena diare, anak-anak mencari sendiri kegiatan mereka. Yang kecil menonton VCD, kakaknya membaca buku, mereka merasa rumah telah menjadi tempat belajar siap saji dengan pelayanan sendiri. Mereka sudah mengetahui tempat kertas, karton, gunting, lem. Mereka bisa dengan mudah meraih buku yang ingin mereka baca, dan sebagainya. Pembiasaan ini tentu terbangun sekian lama, dan biasanya akan mudah diikuti oleh anak ke dua, tiga, dan seterusnya.
Maka, Ibu-ibu yang harus melahirkan, yang sedang sakit, atau ada keperluan mendadak dan harus meninggalkan anak-anak, tak perlu terlalu khawatir. Insya Alloh anak-anak yang terbiasa belajar dengan motivasi besar dari dalam dirinya, dilandasi atas dasar kengintahuan, akan segera mencari kegiatan yang bermakna bagi dirinya, selama ada orang dewasa yang mengontrolnya.
sumber: catatan-ummujita.blogspot.com
Aisyah segera membuka majalah bekas-tapi barunya. Mengerjakannya dengan semangat, sampai habis. Lem, krayon, gunting, pensil, spidol kembali berantakana. Inilah yang kurang selama 2 minggu ini. Suasana dimana anak-anak bersemangat dengan proyeknya masing-masing. Sayang, Jita harus menyelesaikan Ujian Akhir Semester PKn nya, yang dia anggap sebagai hal teraneh di dunia. Setelah itu, meluncurlah dia ke rak buku besar kami.
Sejak dulu saya sering heran, bagaimana para pesekolah rumah menghadapi kondisi di luar dugaan, misalnya saat harus melahirkan, terbaring sakit, atau ada anggota keluarga yang sakit. Sebenarnya saya sudah mengalaminya beberapa kali. Dari pengalaman inilah terpikir untuk menuliskan kisah di blog ini.
Seorang ibu yang 4 anaknya HS memberikan masukan hendaknya membuat persiapan-persiapan belajar anak-anak bila menjelang persalinan. Jadi walau sang ibu berjuang melahirkan anak ke 5, anak-anak yang lain sudah tau apa yang harus mereka lakukan. Ini berkaitan dengan sesuatu yang sudah bisa diprediksikan. bagaimana dengan kondisi si ibu sakit, atau ada anggota keluarga lain yang sakit, padahal fasilitator HS di rumah itu hanyalah si ibu? Kalau pengalaman saya, kami memilih untuk 'reses'.
Dalam masa istirahat itu, prioritas adalah merawat anak-anak yang sakit. Bahkan bukannya tak belajar sama sekali, anak-anak malah mengetahui hal baru dalam masa ini. Biasanya kalau masa reses seperti ini anak-anak saya biarkan istirahat di atas tempat tidurnya, sambil saya bercerita. Qodarulloh, kami bertiga kena diare. Jita bertambah pengetahuannya tentang diare. Kenapa saat kita diare tak boleh minum susu? Kenapa tak boleh makan buah-buahan? lalu saya pun bercerita tentang asam, serat dan sebagainya.
Beberapa orang tua merasa khawatir HS mereka berhenti di tempat saat si ibu sakit, atau saat mengalami hal-hal di luar dugaan yang mengharuskan si ibu tidak berada di rumah untuk waktu tertentu. Salah satu karakteristik pesekolah rumah adalah dorongan untuk belajar mandiri. Di saat giliran saya yang lemas karena diare, anak-anak mencari sendiri kegiatan mereka. Yang kecil menonton VCD, kakaknya membaca buku, mereka merasa rumah telah menjadi tempat belajar siap saji dengan pelayanan sendiri. Mereka sudah mengetahui tempat kertas, karton, gunting, lem. Mereka bisa dengan mudah meraih buku yang ingin mereka baca, dan sebagainya. Pembiasaan ini tentu terbangun sekian lama, dan biasanya akan mudah diikuti oleh anak ke dua, tiga, dan seterusnya.
Maka, Ibu-ibu yang harus melahirkan, yang sedang sakit, atau ada keperluan mendadak dan harus meninggalkan anak-anak, tak perlu terlalu khawatir. Insya Alloh anak-anak yang terbiasa belajar dengan motivasi besar dari dalam dirinya, dilandasi atas dasar kengintahuan, akan segera mencari kegiatan yang bermakna bagi dirinya, selama ada orang dewasa yang mengontrolnya.
sumber: catatan-ummujita.blogspot.com
School, Homeschool, Flexi-School
Menarik sekali membaca cerita tentang HESFES, kegiatan kemah bersama keluarga home educator di Inggris yang dihadiri oleh 1000-an keluarga. Senang membaca liputan HESFES yang dibuat oleh mas Yanuar & mbak Ira yang berkesempatan mengikuti kegiatan HESFES 2011.
Banyak hal menarik ada dalam posting mbak Ira dan mas Yanuar itu. Salah satunya memberikan inspirasi buatku untuk menulis tentang penggunaan istilah homeschooling di Indonesia.
***
Berbeda dengan kebiasaan di Amerika Serikat yang lebih populer dengan sebutan homeschooling, para praktisi pendidikan rumah di Inggris lebih menyukai sebutan “home education” atau kalau diterjemahkan adalah pendidikanrumah. Sebab, education maknanya lebih luas dan daripada schooling yang merupakan satu bentuk pendidikan yang tersruktur.
Di luar sekolah (schooling) dan pendidikanrumah (home-ed), di Inggris mengenal model lain yaitu flexi-schooling. Ada lembaga-lembaga yang menyelenggarakan pendidikan beberapa hari dalam seminggu (2-3 hari) atau term, ke sekolah. Sisanya, siswa belajar sendiri di luar lembaga tersebut.
Nah, lembaga yang menyediakan layanan pendidikan 3 hari dalam seminggu itu tidak disebut home education atau homeschooling. Tetapi lembaga itu masuk kategori flexi schooling, alias sekolah fleksibel. Posisi flexi schooling berada di antara homeschooling/home education dan schooling.
***
Aku ingin menjadikan tulisan mengenai praktek pendidikan di Inggris itu sebagai refleksi tentang penggunaan istilah homeschooling di Indonesia.
Di belahan dunia manapun, baik di Amerika, Inggris, Australia, Philipina, dll; yang disebut homeschooling atau home education adalah pendidikan yang diselenggarakan oleh keluarga. Kalau pendidikan diselenggarakan oleh sebuah lembaga tertentu, maka sebutannya PASTI bukan disebut homeschooling atau home education. Sebutan untuk lembaga pendidikan itu bisa bermacam-macam: school, academy, dsb.
Nah, di Indonesia ini banyak sekali lembaga-lembaga yang menyebutkan diri sebagai homeschooling. “Homeschooling ABC” atau “XYZ Homeschooling”. Penyebutan lembaga-lembaga dengan sebutan homeschooling itu menimbulkan kerancuan dan tidak sehat dalam proses edukasi masyarakat. Masyarakat mendapatkan informasi yang salah tentang homeschooling. Akibatnya, pertanyaan-pertanyaan tentang homeschooling pun menjadi aneh: berapa biaya masuk homeschooling, adakah lokasi homeschooling di dekat rumah saya, bagaimana mendapatkan franchise homeschooling, bagaimana cara mendirikan homeschooling, dsb?
Beberapa praktisi dan pemerhati homeschooling sudah berulang kali mengingatkan bahwa sebutan homeschooling itu untuk keluarga, bukan lembaga. Tetapi, suara itu kalah gempita dibandingkan promosi “homeschooling ABC” yang dilakukan oleh lembaga-lembaga bisnis yang menggelontorkan banyak dana untuk mendapatkan siswa.
***
Melalui posting ini, aku ingin menuliskan sekali lagi tentang penggunaan istilah homeschooling ini, sebelum kondisinya semakin parah dan Indonesia menjadi bahan cemoohan di dunia internasional akibat nafsu bisnis yang disalurkan dengan cara yang tidak sehat ini.
Mengulang prolog posting ini, diantara sekolah (schooling) dan sekolahrumah (homeschooling) itu sebenarnya ada satu kategori yang disebut flexi-schooling. Nah, lembaga-lembaga di Indonesia yang menyebutkan diri sebagai “homeschooling ABC” atau “XYZ Homeschooling” itu sebenarnya masuk dalam kategori “flexi-school”. Dia disebut school (sekolah) karena dia adalah lembaga pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan serupa dengan sekolah formal. Dia dibedakan dengan sekolah yang biasa karena pendekatannya berbeda: masuk 2-3 hari/minggu, menggunakan pendekatan yg berbeda, dsb. Tetapi dia bukan homeschooling.
Apa yang salah dengan sebutan flexi-school? Mengapa tetap ingin menggunakan sebutan homeschooling untuk nama lemabaga? Bukankah flexi-school adalah sebuah inovasi pendidikan yang keren juga? Bukankah ada banyak kelompok masyarakat yang membutuhkan pendidikan dengan model flexi-school? Mereka tak cocok dengan sekolah, tetapi mereka juga tak sanggup menyelenggarakan sendiri pendidikan di rumah (homeschooling/home ed).
Bukankah keren juga kalau sebutannya adalah “PKBM ABC”, “Lembaga Pendidikan CDE”, “Sekolah Fleksi XYZ” atau sebutan-sebutan lain yang intinya adalah menyelenggarakan pendidikan yang fleksibel?
Mengenai sebutan itu, ada sebagian lembaga yang berdalih bahwa mereka adalah Komunitas Homeschooling. Sebutan komunitas ini juga perlu dilihat dengan cemat. Praktek yang umum di dunia internasional, yang disebut komunitas itu adalah kumpulan dari para anggota yang melakukan kegiatan bersama; model pengelolaan dan pembiayaannya bersifat kolektif. Komunitas bukanlah lembaga yang dimiliki satu orang, apalagi lembaga yang tujuannya untuk mencari keuntungan bisnis.
***
Sekali lagi, mari kita tempatkan istilah-istilah itu pada tempatnya yang tepat. Sekolah adalah sekolah, dia masuk dalam jalur pendidikan formal. Sekolah fleksi adalah lembaga pendidikan non-formal. Sekolahrumah atau pendidikanrumah adalah pendidikan keluarga yang berada dalam pendidikan informal.
Dengan mulai menempatkan hal-hal pada tempatnya yang tepat, semoga kita menjadi bagian dari solusi untuk mengedukasi masyarakat, bukan bagian dari pembuat masalah.
sumber: rumahinspirasi.com
Transisi Awal Proses Homeschooling

Salah satu hal krusial ketika memulai mengawali proses homeschooling adalah membangun kenyamanan, baik pada anak maupun kita. Itulah salah satu yang menjadi sasaran kami ketika memulai proses homeschooling untuk Abby (9), yang sekarang bersama kami. Selama ini, Abby menemani Mamanya yang sakit. Ketika Mamanya sudah kembali kepada-Nya, Abby pulang ke rumah dan tinggal bersama kami.
Ada beberapa tantangan yang harus kami hadapi. Pertama, menyiapkan diri kami sendiri untuk menjalani homeschooling dengan 4 orang anak. Kedua, menyiapkan Abby untuk transisi menuju homeschooling “ala keluarga kami”. Selama ini, Abby terbiasa ada guru yang mengajar, sementara kami tak menggunakan pendekatan mengajar. Tak sanggup kami kalau harus mengajar untuk 4 anak.
Tantangan ketiga adalah mengelola ekspektasi keluarga Abby. Ekspektasi keluarga masih belum beranjak dari model seperti sekolah. Sementara, model homeschooling kami lebih dekat dengan unschooling daripada schooling.
***
Langkah pertama yang kami lakukan adalah membuat kesepakatan dengan kakak tertua Abby mengenai peran apa yang menjadi bagian kami dan apa yang menjadi bagian keluarga Abby.
Hal pertama yang kami sepakati dengan Abby adalah dia berada di lantai 1 bersama kami sejak pagi hingga makan siang. Walaupun tidak ada kegiatan khusus, dia harus berada di bawah untuk bermain apapun. Tujuan kesepakatan ini adalah membuatnya beraktivitas bersama Yudhis dan Tata, sehingga tak hanya ada di depan komputer dan bermain game di kamarnya.
Secara teknis, kami kemudian mencoba memulai kegiatan Abby dengan membuatkan transisi kepadanya. Di hari-hari awal, kami minta Abby memulai harinya dengan kegiatan yang paling disukainya, yaitu menggambar. Kami membuatkan blog Dunia Abby (http://duniaabby.com) dan mengajarinya untuk mengupload hasil gambarnya. Kami menggunakan blog ini sebagai sarana untuk komunikasi dengan keluarga Abby dan untuk membangun kepercayaan dirinya. Kami minta kakaknya untuk memberikan komentar dan feedback atas karya-karya Abby.
Langkah kedua adalah belajar secara santai. Kami menggunakan keseharian melalui obrolan dan materi-materi yang ada di rumah. Ada bola dunia (globe), kami gunakan untuk tebak-tebakan tentang negara. Di dapur, kami melibatkannya untuk memotong sayuran bersama anak-anak, juga belajar memasak. Di meja makan, kami mengobrol tentang apa saja. Kami melibatkan Abby pada kegiatan sehari-hari kami.
Langkah ketiga, kami mulai materi akademis dengan santai. Kami berusaha untuk mencairkan “ketakutan”-nya terhadap matematika dengan menggunakan metode tebak-tebakan penjumlahan dan perkalian. Aku juga menggunakan tips matematika Gasing yang baru saja aku ikuti untuk memberikan sensasi mudah pada matematika yang dipelajarinya.
Langkah keempat, kami menggunakan materi belajar online. Setelah mulai siap belajar, kami menggunakan materi yang biasa kami gunakan untuk Yudhis dan Tata, yaitu IXL Math dan Raz Kids sebagai salah alat belajarnya. Untuk IXL Math, Abby memilih kelas 4, sementara Raz Kids dia memilih level J. Yang kami sukai dari dua tools itu adalah membuatnya bisa belajar mandiri (tanpa harus kami ajari) dan ada feedback langsung atas proses belajar yang dijalaninya.
***
Proses homeschooling Abby sudah berjalan sekitar 2 minggu. Kelihatannya dia sudah mulai menikmati hari-harinya. Feedback dari keluarga terhadap gambar Abby yang diupload ke blog memberikan dampak sangat positif secara psikologis. Beberapa kali mengerjakan soal IXL Math dengan nilai 100 juga membuat dia lebih percaya diri dan bisa bercerita kepada Ayahnya dengan bangga. Proses belajar bahasa Inggrisnya pun dengan cepat.
Tentu saja 2 minggu tak dapat digunakan untuk menilai keberhasilan. At least, sampai saat ini kami merasa nyaman dengan proses yang kami jalani. Keseharian kami tak terlalu berubah saat menjalani homeschooling untuk 4 anak. Proses belajar Abby mulai bisa terintegtrasi dalam keseharian kami.
Yang terasa kurang saat ini adalah komputer. Dengan dua komputer yang dipakai 5 orang, rasanya sudah semakin kurang memadai karena intensitas penggunaan komputer/internet kami relatif tinggi.
Kami masih berproses. Semoga proses ini dilapangkan dan diberkahi-Nya. Amin.
sumber: rumahinspirasi.com
Homeschooling…

Kalo diartikan secara bodhon, home berarti rumah.. school berarti sekolah. Jadi jelas bukan? Homeschooling = sekolah rumah. Homeschooling adalah salah satu alternatif yang ditawarkan oleh pemerintah bagi seseorang yang ingin mengembangkan pendidikannya dalam keluarga, proses pembelajarannya dilakukan dirumah, yang bisa dilakukan oleh orang tua dengan mendatangkan tutor atau guru les. Homeschooling disebut juga dengan home education atau home-based learning.
Pada umumnya orang tua memilih jalan homeschooling bagi anaknya karena merasa tidak puas dengan sistem pendidikan disekolah formal pada umumnya.
Homeschooling telah banyak dikenal masyarakat luas, namun demikian tidak semua orang awam mengerti banyak tentang homeschooling. Hal ini disebabkan karena mindset masyarakat bahwa “homeschooling hanya berlaku untuk orang ber-duit “. Padahal dalam kenyataannya beberapa orang justru memandang bahwa homeschooling lebih murah karena mereka dapat mengatur sendiri budget untuk pembayarannya, tidak terikat membayar uang sekolah, seragam, pembayaran buku baru atau pembayaran wisuda lepas lulus sekolah seperti di sekolah formal pada umumnya.
Keberadaan Homeschooling juga sudah di-legalkan oleh pemerintah. Dasar hukumnya jelas tercantum dalam UUD 1945 maupun dalam UU No 20 th 2003 tentang Sisdiknas. Secara eksplisit UU Sisdiknas mengakui keberadaan pendidikan berbasis keluarga dan lingkungan. Pendidikan keluarga yang disebut sebagai pendidikan informal.
Homeschooler juga dapat melanjutkan ke sekolah formal melalui ujian kesetaraan. Ujian kesetaraan keluarga homeschooling bersifat pilihan. Untuk mengikuti ujian kesetaraan maka keluarga homeschooling harus mengintegrasikan kurikulum dan bahan pelajaran yang diujikan dalam ujian kesetaraan kedalam program pembelajaran homeschooling. Ujian kesetaraan ini mencakup ujian kesetaraan paket A (setara SD), paket B (setara SMP/MTs) dan paket C (setara SMA/SMK/MA). Ujian kesetaraan ini dilakukan oleh lembaga nonformal seperti PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat), Komunitas sekolah rumah atau Umbrella school. Kemudahan mengikuti ujian ini dapat dilakukan dengan menggunakan kebijakan Alih Kredit Kompetensi (AKK),yaitu tes kemampuan dan pengakuan bagi para homeschooler yang tidak memiliki dokumen, sementara homeschooler yang memiliki dokumen seperti raport dan transkrip nilai,pembelajarannya bisa langsung dikonversi dan lagsung memiliki hak untuk mengikuti ujian kesetaraan.
Pembelajaran homeschooling sedikit berbeda dengan pembelajaran pada sekolah formal. Pada sekolah formal biasanya belajar dalam sebuah ruang dan menggunakan buku modul, sementara homeschooling biasanya justru menggunakan fasilitas umum dan sosial sebagai tempat dan obyek belajar, misalnya pasar, terminal, stasiun, panti, sawah, perpustakaan,musium, lembaga penelitian dan lain sebagainya. Oleh karena Homeschooling merupakan pendidikan nonformal, maka pelaksanaan pembelajaran juga lebih fleksibel. Sesuai kesepakatan antara kedua belah pihak.
Pada sekolah formal sering muncul istilah anak pandai dan tidak pandai. Padahal dalam kenyataannya sebenarnya semua memiliki hal yang sama untuk menyandang kata pandai dan cerdas. Meminjam istilah Howard Gardener tentang kecerdasan majemuk atau sering disebut multiple-intelligences. Bahwa pada dasarnya terdapat 9 macam kecerdasan yang dimiliki oleh manusia, meliputi: kecerdasan linguistik(bahasa), logis-matematis, spatial(keruangan), kinetis-jasmani(gerak), musikal, interpersonal, intrapersonal, naturalis, dan kecerdasan eksistensial. Pada sekolah formal biasanya hanya mengembangkan salah satu atau beberapa kecerdasan yang ada dan bersifat kognitif, tapi pada homeschooling membuka peluang bagi anak untuk mengembangkan semua kecerdasan yang dimilikinya. Dalam artian pengembangan individual lebih bisa ditekankan.
Metode dalam homeshooling meliputi 8 macam, yaitu:
1. School at-home, adalah model pendidikan serupa yang diselenggarakan, namun pelaksanaannya dirumah.
2. Unit Studies Approach, adalah model pendidikan yang berbasis tema. Dalam hal ini anak tidak belajar satu mata pelajaran tertentu saja, namun mempelajari banyak mata pelajaran sekaligus melalui sebuah tema yang dipelajari.
3. The Living Books Approach, adalah model pendidikan melalui pengalaman dunia nyata. Pendekatannya dengan mengajarkan kebiasaan baik, ketrampilan dasar (ca-lis-tung), dan mengenalkan anak dengan pengalaman nyata dalam hidup sehari-hari.
4. The Classical Approach, adalah model pendidikan dengan pendekatan kurikulum berbasis literatur/teks
5. The Waldrorf Approach, adalah model pendidikan yang menciptakan setting sekolah yang mirip dengan keadaan dirumah
6. The Montessori Approach, adalah model pendidikan dengan pendekatan penyiapan lingkungan pendukung yang nyata dan alami, mengamati proses interaksi anak-anak dengan lingkungan dan menumbuhkan lingkungan agar anak dapat mengembangkan potensinya.
7. Unschooling Approach, adalah model pendidikan yang berangkat dari keyakinan bahwa anak-anak memiliki keinginan naturak untuk belajar
8. The Ellectriv Approach, adalah model pendidikan dengan memberikan kesempatan pada keluarga untuk mendesain sendiri program homeschoolingnya.
Belajar dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja. Semua yang tersedia disekitar kita adalah obyek untuk belajar, mendapatkan ilmu. Hanya kita perlu sedikit sadar dan pandai-pandai mencari dan menggali untuk mendapatkannya.
sumber: bine5.wordpress.com
Islamic Homeschooling
”Upaya mengembalikan fungsi rumah sebagai wahana tarbiyah Islamiyyah sebagaimana diamalkan Salaful Ummah”
Oleh : Abu Muhammad Ade Abdurrahman
Home-Schooling secara harfiah berarti : bersekolah di rumah.
Home-Schooling diselenggarakan ketika orangtua berkeberatan atau merasa kesulitan menyekolahkan anaknya, baik karena alasan jarak (karena tinggal di pedalaman, misalnya) ataupun karena alasan-alasan tertentu lainnya.
Mengapa disebut Home-Schooling (bersekolah di rumah), bukan Home-Learning (belajar di rumah) ? Padahal istilah yang kedua sebenarnya lebih tepat. Barangkali ini adalah bias budaya. Kita maklum, saat ini bersekolah merupakan tradisi yang sudah sedemikian merata. Hingga kemudian dianggap suatu kelaziman, atau bahkan keharusan bagi anak-anak.
Karena itu, ketika seseorang mencoba untuk tidak menyekolahkan anaknya maka dia khawatir akan dianggap telah melakukan ‘pelanggaran terhadap hak asasi anak’.
Untuk itulah, barangkali, para orangtua yang menyelenggarakan pembelajaran anak-anak mereka di rumah seakan hendak ‘membela diri’, bahwa merekapun sebenarnya menyekolahkan anak-anak mereka juga. Hanya berbeda lingkungan dan metodenya. Itulah, mengapa kemudian disebut Home-Schooling. Untungnya, dalam hal ini pemerintah tidak salah kaprah sehingga menetapkan kebijakan : wajib belajar. Dan tidak menetapkan wajib bersekolah.
Substansi dari bersekolah (schooling) sebenarnya adalah belajar (learning). Belajar dapat dilakukan di manapun. Bersekolah hanyalah salah satu cara untuk belajar. Jadi, para orangtua tak perlu merasa bersalah atau rendah diri dengan menjalankan Home-Schooling. Juga, mereka yang menyekolahkan anaknya ke sekolah massal pun jangan dulu berbangga hati.
Sebab, kalau kita mau lebih menukik pada kedalaman realitas, kita patut mempertanyakan : Apakah benar bersekolah itu otomatis sama dengan belajar ? Jawabannya : Belum tentu !
Mari kita pelajari faktanya ! Saat ini, berapa puluh juta lulusan sekolah menengah atas dan perguruan tinggi ? Di sisi lain, berapa puluh juta pula yang berstatus pengangguran ? Padahal, betapa besar karunia Allah berupa kekayaan alam di negeri ini. Apa yang mereka pelajari di sekolah ? Inilah salah satu fakta bahwa belajar di sekolah belum tentu efektif. Dengan kata lain bersekolah belum tentu berarti belajar.
Dalam banyak kasus, bersekolah bahkan menjadi penyebab kegagalan hidup seorang anak. Tidak sedikit anak yang terjerumus kepada hal-hal negatif yang menghancurkan hidup mereka, justeru mereka dapatkan lewat pergaulan di sekolah, baik dari (oknum) guru-guru mereka atau dari (oknum) kawan-kawan mereka.
Tanpa perlu penelitian mendalam, banyak yang menilai bahwa metode pembelajaran dan sistem evaluasi yang sekarang berjalan pun cenderung menciptakan mental-block (hambatan mental) yang menghambat laju kreatifitas anak, padahal justeru hal itu amat dibutuhkan di era informasi global saat ini.
Sekiranya otak anak terus menerus hanya dijadikan keranjang informasi iptek (itupun hanya sebatas untuk keperluan menyelesaikan soal-soal ujian). Maka dapat dibayangkan, betapa akan kesusahannya dia mengejar laju pertambahan informasi iptek yang terus berkembang dalam hitungan jam, atau bahkan menit.
Mengapa tidak terpikirkan oleh kita - para orangtua - untuk melatih dan mengasah otak mereka yang ajaib itu agar mampu memola ulang informasi tersebut, sehingga akhirnya mereka mampu menciptakan informasi baru ?
Merangsang anak untuk bertanya ‘Apa .?’ , ‘Mengapa . ?’ dan ‘Bagaimana. ?’ adalah hal yang penting sekali. Keingintahuan adalah tabiat dasar mereka.
Namun di samping itu, kita pun perlu merangsang anak untuk bertanya : ‘Mengapa tidak .?’ dan ‘Bagaimana jika .?’. Agar mereka menjadi insan-insan kreatif. Jangan keliru, kreatifitas pun sebenarnya adalah bakat alamiah setiap anak, jika saja para orangtua tidak malas mengasahnya. Atau, malah menyia-siakannya.
Sayang sekali, keingintahuan (curiosity) dan kreatifitas (creativity) - dua mutiara terpendam dalam jiwa anak - saat ini justeru banyak ditelantarkan di sekolah massal (formal). Wajar kalau Robert T. Kiyosaki berteriak lantang : “If You Want To Be Rich And Happy, Don’t Go To School!”.
Ada alasan lain : “Keunikan”. Anak itu unik! Cara belajar mereka juga unik, seunik sidik jari mereka; yakni masing-masing anak secara individual memiliki pembawaan dan cara yang khas dalam menyerap serta menggali pengetahuan. Jadi, bagaimana mungkin anak-anak dapat menemukan cara belajar mereka yang unik, jika mereka dituntut harus “berseragam” di sekolah?
Berdasarkan penelitian bahwa seseorang menjadi jenius adalah pada saat dia mampu menemukan sendiri cara belajarnya yang unik dan orisinil. Seperti dikatakan Enstein: “Saya tidak memiliki bakat-bakat khusus, tetapi hanya memiliki rasa keingintahuan yang besar sekali.”.
Keingintahuan yang sangat besar - dilandasi keikhlasan - jugalah nampaknya yang membuat Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah mampu bersabar duduk berjam-jam lamanya di sudut sepi perpustakaan. Beliau lakukan itu berpuluh-puluh tahun lamanya hingga akhirnya menjadi jenius di bidang hadits dan ilmu-ilmu syar’i lainnya. Menjadi mujaddid abad ini sebagaimana diakui ulama besar yang sezaman dengan beliau, Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz rahimahullah.
Namun, agar tidak memunculkan kontroversi yang sia-sia, perlu ditegaskan di sini bahwa :
Tetapi yang kami yakini :
sumber: belajardirumah.webs.com
Oleh : Abu Muhammad Ade Abdurrahman
Home-Schooling secara harfiah berarti : bersekolah di rumah.Home-Schooling diselenggarakan ketika orangtua berkeberatan atau merasa kesulitan menyekolahkan anaknya, baik karena alasan jarak (karena tinggal di pedalaman, misalnya) ataupun karena alasan-alasan tertentu lainnya.
Mengapa disebut Home-Schooling (bersekolah di rumah), bukan Home-Learning (belajar di rumah) ? Padahal istilah yang kedua sebenarnya lebih tepat. Barangkali ini adalah bias budaya. Kita maklum, saat ini bersekolah merupakan tradisi yang sudah sedemikian merata. Hingga kemudian dianggap suatu kelaziman, atau bahkan keharusan bagi anak-anak.
Karena itu, ketika seseorang mencoba untuk tidak menyekolahkan anaknya maka dia khawatir akan dianggap telah melakukan ‘pelanggaran terhadap hak asasi anak’.
Untuk itulah, barangkali, para orangtua yang menyelenggarakan pembelajaran anak-anak mereka di rumah seakan hendak ‘membela diri’, bahwa merekapun sebenarnya menyekolahkan anak-anak mereka juga. Hanya berbeda lingkungan dan metodenya. Itulah, mengapa kemudian disebut Home-Schooling. Untungnya, dalam hal ini pemerintah tidak salah kaprah sehingga menetapkan kebijakan : wajib belajar. Dan tidak menetapkan wajib bersekolah.
Substansi dari bersekolah (schooling) sebenarnya adalah belajar (learning). Belajar dapat dilakukan di manapun. Bersekolah hanyalah salah satu cara untuk belajar. Jadi, para orangtua tak perlu merasa bersalah atau rendah diri dengan menjalankan Home-Schooling. Juga, mereka yang menyekolahkan anaknya ke sekolah massal pun jangan dulu berbangga hati.
Sebab, kalau kita mau lebih menukik pada kedalaman realitas, kita patut mempertanyakan : Apakah benar bersekolah itu otomatis sama dengan belajar ? Jawabannya : Belum tentu !
Mari kita pelajari faktanya ! Saat ini, berapa puluh juta lulusan sekolah menengah atas dan perguruan tinggi ? Di sisi lain, berapa puluh juta pula yang berstatus pengangguran ? Padahal, betapa besar karunia Allah berupa kekayaan alam di negeri ini. Apa yang mereka pelajari di sekolah ? Inilah salah satu fakta bahwa belajar di sekolah belum tentu efektif. Dengan kata lain bersekolah belum tentu berarti belajar.
Dalam banyak kasus, bersekolah bahkan menjadi penyebab kegagalan hidup seorang anak. Tidak sedikit anak yang terjerumus kepada hal-hal negatif yang menghancurkan hidup mereka, justeru mereka dapatkan lewat pergaulan di sekolah, baik dari (oknum) guru-guru mereka atau dari (oknum) kawan-kawan mereka.
Tanpa perlu penelitian mendalam, banyak yang menilai bahwa metode pembelajaran dan sistem evaluasi yang sekarang berjalan pun cenderung menciptakan mental-block (hambatan mental) yang menghambat laju kreatifitas anak, padahal justeru hal itu amat dibutuhkan di era informasi global saat ini.
Sekiranya otak anak terus menerus hanya dijadikan keranjang informasi iptek (itupun hanya sebatas untuk keperluan menyelesaikan soal-soal ujian). Maka dapat dibayangkan, betapa akan kesusahannya dia mengejar laju pertambahan informasi iptek yang terus berkembang dalam hitungan jam, atau bahkan menit.
Mengapa tidak terpikirkan oleh kita - para orangtua - untuk melatih dan mengasah otak mereka yang ajaib itu agar mampu memola ulang informasi tersebut, sehingga akhirnya mereka mampu menciptakan informasi baru ?
Merangsang anak untuk bertanya ‘Apa .?’ , ‘Mengapa . ?’ dan ‘Bagaimana. ?’ adalah hal yang penting sekali. Keingintahuan adalah tabiat dasar mereka.
Namun di samping itu, kita pun perlu merangsang anak untuk bertanya : ‘Mengapa tidak .?’ dan ‘Bagaimana jika .?’. Agar mereka menjadi insan-insan kreatif. Jangan keliru, kreatifitas pun sebenarnya adalah bakat alamiah setiap anak, jika saja para orangtua tidak malas mengasahnya. Atau, malah menyia-siakannya.
Sayang sekali, keingintahuan (curiosity) dan kreatifitas (creativity) - dua mutiara terpendam dalam jiwa anak - saat ini justeru banyak ditelantarkan di sekolah massal (formal). Wajar kalau Robert T. Kiyosaki berteriak lantang : “If You Want To Be Rich And Happy, Don’t Go To School!”.
Ada alasan lain : “Keunikan”. Anak itu unik! Cara belajar mereka juga unik, seunik sidik jari mereka; yakni masing-masing anak secara individual memiliki pembawaan dan cara yang khas dalam menyerap serta menggali pengetahuan. Jadi, bagaimana mungkin anak-anak dapat menemukan cara belajar mereka yang unik, jika mereka dituntut harus “berseragam” di sekolah?
Berdasarkan penelitian bahwa seseorang menjadi jenius adalah pada saat dia mampu menemukan sendiri cara belajarnya yang unik dan orisinil. Seperti dikatakan Enstein: “Saya tidak memiliki bakat-bakat khusus, tetapi hanya memiliki rasa keingintahuan yang besar sekali.”.
Keingintahuan yang sangat besar - dilandasi keikhlasan - jugalah nampaknya yang membuat Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah mampu bersabar duduk berjam-jam lamanya di sudut sepi perpustakaan. Beliau lakukan itu berpuluh-puluh tahun lamanya hingga akhirnya menjadi jenius di bidang hadits dan ilmu-ilmu syar’i lainnya. Menjadi mujaddid abad ini sebagaimana diakui ulama besar yang sezaman dengan beliau, Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz rahimahullah.
Namun, agar tidak memunculkan kontroversi yang sia-sia, perlu ditegaskan di sini bahwa :
- Menyelenggarakan home-schooling tidak berarti hendak mengingkari atau menggugat profesi keguruan.
- Menyelenggarakan home-schooling tidak berarti hendak mengingkari atau menggugat peran sekolah formal yang sudah ada dan banyak memberikan kontribusi kepada masyarakat.
- Kami pun tidak mengklaim bahwa : Home-schooling adalah satu-satunya cara untuk mendidik Anak.
Tetapi yang kami yakini :
- Home-Schooling adalah : Sarana paling efektif dalam upaya membangun hubungan baik dan hangat dengan Anak. Mendampinginya saat ia menjalani hari-harinya untuk terus tumbuh dan berkembang menjadi manusia dewasa.
- Home-Schooling adalah : Alternatif terbaik dalam mendidik Anak, memelihara fithrahnya serta mengembangkan potensinya yang unik. Karena berpijak pada orisinalitas dan individualitasnya sebagai hamba Allah.
- Home-Schooling adalah : Sebuah kesempatan emas (furshoh dzahabiyyah) untuk menunaikan secara optimal peran dan tugas keorangtuaan yang nanti akan dituntut pertanggungjawabannya di hadapan Allah.
- Home-Schooling adalah : Sebuah kesempatan emas (furshoh dzahabiyyah) untuk mengembangkan potensi orangtua dan anak dalam hal penguasaan ilmu syar’i, memperbaiki akhlaq diri, membina keluarga sakinah, mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan bersosialisai, bahkan mengembangkan potensi ekonomi.
sumber: belajardirumah.webs.com
Mitos Seputar Homeschooling
Saat berdiskusi tentang pendidikan, saya sering berusaha menyelipkan topik pendidikan alternatif dan homeschooling atau sekolahrumah. Setiap kali berdiskusi tentang sekolahrumah itu pula, saya selalu diberondong dengan pertanyaan-pertanyaan yang berulang mengenai kerugian sekolahrumah bagi anak-anak. Padahal semua pertanyaan itu bersifat mitos yang begitu mudah dibantah karena memang tidak sesuai dengan kenyataan sesungguhnya. Jadi sekarang saya tulis blog post ini agar lain kali bila ada yang bertanya seputar mitos homeschooling saya tinggal menjawab, “Lihat di blog saya saja.” So here goes…Siswa homeschooling tidak bersosialisasi.
Hmm, seandainya saya diberi Rp 10.000,- setiap kali ada yang bertanya soal yang satu ini, mungkin saya sudah menjadi jutawan sekarang. Sosialisasi dalam homeschooling adalah keberatan yang paling sering diajukan dan selalu ditanyakan pertama kali, padahal ini yang paling mudah dibantah. Mitos ini muncul dari ketidaktahuan tentang kegiatan homeschooling sebenarnya. Banyak orang berasumsi bahwa dalam homeschooling anak tidak keluar dari rumah dan hanya belajar sendiri atau berdua orang tuanya mulai dari pagi sampai sore. Kalau seperti itu ya pasti si anak jadi kuper. Pada kenyataannya, siswa homeschooling lebih sering mengadakan studi lapangan kapan pun mereka mau. Saat waktunya belajar sejarah, mereka pergi ke museum dan berinteraksi dengan komunitas pecinta sejarah. Ingin belajar bisnis? Sambil makan di McDonald’s dan berbincang dengan manajernya dan para karyawannya saja. Siswa sekolah formal berinteraksi hanya dengan teman-teman yang seusia dan dikumpulkan dalam satu kelas seharian. Kalau siswa homeschooling? Dengan banyak orang dari segala lapisan usia dan pekerjaan! Banyak riset yang membuktikan bahwa siswa homeschooling dapat bersosialisasi sebaik, atau bahkan lebih baik, dari para sebayanya di sekolah formal, dan mereka menunjukkan lebih sedikit masalah perilaku pula.
Siswa homeschooling tidak punya teman.
Mirip dengan mitos pertama, mitos yang satu ini berasumsi bahwa rekan sebaya siswa homeschooling yang bersekolah formal memiliki banyak teman sedangkan mereka tidak. Ok, coba kita jujur dulu dalam melihat fakta. Yang bisa didapat seorang anak dari “pertemanan” di lingkungan sekolah formal sebenarnya lebih banyak berupa “peer pressure”. Anak-anak ini saling memberi tekanan agar mereka bisa menjadi sama antara satu dengan yang lain. Silahkan baca blog post yang berjudul “Akhir Masa Kanak-kanak” untuk penjelasan mengenai pemanfaatan peer pressure dalam sistem pendidian untuk membentuk manusia-manusia seragam yang mudah dikendalikan. Seseorang bertanya pada orang tua homeschooler, “Anak-anakmu tidak punya teman dan tidak bisa belajar dari anak-anak sebayanya.” Orang tua homeschooler ini pun menjawab, “Coba kamu pergi ke sekolah formal saat siswanya beristirahat, perhatikan mereka, dan tunjukkan padaku, sifat-sifat mana dari mereka yang pantas ditiru anakku.” Benar juga. Sungguh tidak rugi siswa homeschooling kehilangan “pertemanan” dalam lingkungan sekolah formal bila pada kenyataannya ia bisa berteman dengan teman-teman dari klub olahraga, remaja masjid, paduan suara gereja, kelas musik. Ia pun bisa berteman dengan orang-orang dari segala lapisan usia dan pekerjaan seperti staff museum, manajer restoran, dan lainnya.
Siswa homeschooling tidak belajar berkompetisi.
Orang tua HS yang ditanya mengenai sosialisasi itu ditanya lagi, “Tapi anakmu tidak akan belajar berkompetisi seperti kalau di sekolah formal?” Ia pun menjawab lagi, “Anakku tidak berkompetisi dengan orang lain, namun ia berkompetisi dengan target performa yang ditetapkannya sendiri. Kalau dengan orang lain, ia belajar berkolaborasi.” Lagi-lagi jawaban tepat. Benarkah di sekolah formal anak diajarkan berkompetisi sehat? Dengan segala peer pressure yang ada, anak-anak memang diajarkan caranya menang dalam… office politics! Bukannya diajari berkolaborasi, malah diajari untuk berusaha menjadi yang terunggul di kelas (walaupun mungkin tidak sesuai dengan bakatnya), dengan cara-cara instan pula. Anak-anak sudah biasa kok, mengakali sistem pendidikan kita dengan cara sistem kebut semalam. Belajar fakta-fakta hanya beberapa waktu sebelum ujian. Kalau guru mintanya hanya nilai ujian yang baik, ya itu saja yang akan diberikan siswa. Jangan dikira Game Theory hanya dijalankan orang dewasa. Yang benar adalah anak diajarkan berkompetisi dengan standar performa yang ia tetapkan sendiri dengan bimbingan orang tua. Oh, btw, anak homeschooling juga belajar berkompetisi dalam artian konvensional juga kok. Mereka lebih sering mengikuti perlombaan atau kontes daripada teman-temannya di sekolah formal yang sudah tidak punya waktu lagi di luar kelas sekolah karena jadwalnya sudah penuh untuk ikut LBB untuk persiapan Ujian Nasional, ha3.
Homeschooling sangat mahal.
Jelas masalah uang adalah pertanyaan berikutnya yang muncul setelah pertanyaan pertama bisa dijawab dengan mudah. Sebenarnya mungkin ini adalah pertanyaan terpenting bagi banyak orang, hanya gengsi saja kalau ditanyakan pertama. Faktanya, homeschooling bisa mahal dan bisa murah. Banyak artis dan anak dari kalangan orang tua berada yang bisa menyewa guru-guru privat dan alat-alat pembelajaran yang mahal buat belajar di rumah (walaupun ini sebenarnya cuma memindah sekolah ke rumah, bukan homeschooling “sejati”). Namun ada juga para orang tua yang membentuk komunitas homeschooling bagi anak-anaknya dan berbagi biaya. Malah di daerah Pasar Minggu ada komunitas homeschooling buat anak orang miskin. Masalah biaya sangat tergantung dari bujet dan kreativitas orang tua serta komunitas. Yang jelas, value for money dari homeschooling seharusnya lebih tinggi daripada mengeluarkan biaya untuk sekolah formal.
Siswa homeschooling pemalu dan tidak pernah keluar rumah.
Ok, ini sebenarnya pun sudah terjawab di mitos pertama. Saya akan jelaskan lebih jauh. Soal pemalu, jelas tergantung dari si anak. Di sekolah formal pun ada anak pemalu. Sedangkan masalah tidak pernah keluar rumah, pada dasarnya ini salah. Bagi siswa homeschooling seluruh dunia ini adalah ruang kelas. Proses belajar bisa dilakukan di mana pun dan kepada siapa pun. Tidak seperti rekan-rekannya di sekolah formal yang “didatangi” oleh guru, siswa homeschooling terbiasa “keluar dan mencari jawaban”. Mereka akan pergi ke museum, kebun binatang, restoran, tetangga, bahkan ke mall dengan tujuan untuk belajar. Mereka akan berinteraksi dengan banyak kalangan dari berbagai usia dan pekerjaan, dan mereka akan banyak bertanya dan tidak menunggu diterangkan. Saya pernah mendengar tentang anak homeschooling yang masuk universitas negeri dan terheran-heran dengan sikap teman-temannya yang sangat jarang mengajukan pertanyaan di kelas sedangkan ia sendiri sudah biasa bertanya. Tunggu dulu, apa saya tidak salah tulis nih? Apa benar ada anak homeschooling masuk universitas negeri? Silahkan lanjutkan ke mitos berikutnya.
Siswa homeschooling tidak bisa masuk perguruan tinggi.
Mitos yang dulu bisa jadi benar. Salah satu yang membuat homeschooling kurang berkembang di Indonesia adalah dukungan pemerintah. Tapi itu dahulu, saat ini pemerintah sudah mulai gencar mendorong perkembangan pendidikan alternatif. (Sekaligus sebagai penegasan bahwa saya bukan oposisi buta yang asal menganggap semua yang dilakukan pemerintah itu buruk.) Masuk perguruan tinggi bisa dilakukan oleh siswa homeschooling yang telah mengikuti ujian persamaan Paket C. Sudah banyak siswa homeschooling yang masuk ke perguruan tinggi. Di Inggris, rata-rata siswa komunitas homeschooling yang melanjutkan ke perguruan tinggi tiga kali lebih besar daripada siswa sekolah formal.
Bukan hanya masuk perguruan tinggi, siswa homeschooling bahkan bisa masuk ke sekolah dasar maupun sekolah menengah formal di tingkat mana pun mereka mau. Model ini dinamakan multiple entry and multiple exit. Tentu ada prosedur-prosedur yang harus dilewati. Siswa homeschooling juga bisa bekerja sama dengan sekolah formal untuk menjadi “siswa paruh waktu” di sekolah tersebut. Misalnya, pada hari Senin sampai Rabu ia homeschooling, dan pada hari Kamis dan Jumat ia ikut bersekolah di sekolah formal dekat rumahnya. Ya, ini semua sudah dimungkinkan di Indonesia. Tinggal kembali kepada orang tua untuk melihat semua opsi yang ada dan memilih yang terbaik untuk anaknya.
Orang tua homeschooler harus memiliki sertifikat pengajar.
Banyak orang tua yang takut memilih homeschooling bagi anaknya karena merasa tidak bisa menjadi pengajar yang baik, walaupun sebenarnya mereka telah mengajari anaknya banyak hal setiap harinya saat membesarkan mereka. Namun memang tidak perlu kita menjadi pengajar yang ahli untuk membantu pendidikan anak. Banyak opsi yang bisa dipilih oleh orang tua yang merasa tidak bisa mengajar, seperti memilih kurikulum yang sudah disesuaikan dengan gaya belajar anak dan gaya mengajar dan preferensi keterlibatan orang tua. Anak-anak homeschooler juga bisa dikumpulkan dalam suatu komunitas untuk disewakan guru privat bersama untuk subjek tertentu. Seringkali orang tua malah cukup menjadi pendamping bagi anaknya, sedangkan anaknya bisa mengajari dirinya sendiri dengan berbagai sumber pembelajaran yang bertebaran di internet, perpustakaan, telekursus, dan lainnya. Orang tua juga bisa mencari manual bagi orang tua homeschooler dalam mendidik anak-anaknya.
Siswa homeschooling tidak mendapat kegiatan ekstrakurikuler yang cukup.
Salah besar! Homeschooling adalah metode pendidikan yang sangat efisien. Proses pembelajaran yang dilakukan selama beberapa jam pada homeschooling bisa lebih produktif daripada waktu yang sama di sekolah formal. Artinya, siswa homeschooling akan memiliki lebih banyak waktu untuk menyalurkan hobi, mengembangkan bakatnya dan melakukan hal-hal lain yang mereka suka. Mereka bisa mengikuti kegiatan olahraga dan seni dengan mengikuti klub di mana mereka akan bermain dengan kelompok yang lebih kecil. Di sekolah, dengan kelompok yang besar, tiap siswa hanya akan mendapat sedikit latihan olahraga dan seni. Sebagian besar waktunya akan digunakan untuk menunggu giliran.
Tidak ada laboratorium pengetahuan alam di rumah siswa homeschooling.
Tapi beberapa komunitas homeschooling punya. Orang tua juga bisa menyewa peralatan percobaan ilmiah. Yang lebih baik lagi adalah bila orang tua menggunakan kreativitas dalam membantu anak melakukan percobaan ilmiah. Kebanyakan percobaan ilmiah bisa dilakukan dengan peralatan dan bahan-bahan sederhana yang bisa didapat di rumah atau di pasar/supermarket.
Saya hanya bisa mendampingi satu anak belajar dalam satu waktu.
Mulai pelan-pelan saja. Seiring berjalannya waktu kita akan semakin terbiasa mendampingi anak yang lebih tua memulai proses belajarnya terlebih dahulu, baru kemudian mendampingi yang lebih muda saat yang lebih tua melanjutkan sendiri. Bisa juga kakak diminta mendampingi adiknya, atau salah satu anak melakukan pekerjaan rumah tangga seperti mencuci dan lainnya saat Ibu mendampingi anaknya yang lain belajar. Oh ya, Bapak juga harus aktif membantu. Bisa juga minta bantuan nenek, tante, dan lainnya. Orang tua harus menentukan dan mengawasi proses homeschooling, tapi pelaksanaannya bisa berbagi. Homeschooling itu memang kerja tim dan butuh waktu untuk membentuk tim yang solid dan saling mengerti.
Kedua orang tua harus bekerja.
Yakin? “Harus” atau “mau”? Coba cek dulu, untuk apa uang dari second income itu dipakai? Untuk jasa baby sitter yang menjaga anak saat orang tua bekerja? Untuk baju-baju kerja? Untuk makan ke luar karena tidak ada yang sempat menyiapkan makanan di rumah? Bukankah ini pengeluaran yang bisa dihilangkan saat salah satu tidak bekerja? Ada juga kasus di mana single parent bisa sukses melakukan homeschooling dengan cara mengatur jadwal kerja secara kreatif atau malah bekerja dari rumah (apalagi di era dengan kemajuan teknologi seperti sekarang). Bisa juga orang tua minta bantuan saudara seperti nenek atau tante, asal kurikulum dan pengawasan tetap ada di orang tua. Coba dipikir kembali.
Saya tidak bisa berlama-lama dekat dengan anak saya.
Dulu kok mau ya bikinnya? He he. Tapi sejujurnya, ini adalah masalah serius. Kalau kita tidak bisa dekat dengan anak kita sendiri, pasti ada yang salah dan harus diselesaikan. Cari konseling kalau diperlukan.
Homeschooling ok sih, tapi saya kan tiap hari juga ingin jalan ke mall sama teman-teman arisan.
Sumpah, pertanyaan ini pernah saya dapat dari seorang ibu-ibu di Jakarta. Tidak saya jawab karena langsung hilang mood waktu dapat pertanyaan ini. Ha ha.
Mitos-mitos homeschooling terbentuk karena sudah begitu dalamnya kita dicuci otak bahwa satu-satunya pendidikan bermutu yang menjamin kesuksesan anak adalah sekolah formal, serta kurangnya sosialisasi dari pemerintah dan komunitas homeschooling itu sendiri. Seiring bermunculannya sekolah-sekolah alternatif, masyarakat mulai terbuka dan bertanya-tanya tentang pendidikan yang terbaik bagi anaknya. Pendidikan formal tidak lagi dianggap dewa (salah mereka sendiri juga sih), namun masih banyak yang harus diperjuangkan bagi pendidikan alternatif yang juga tidak sempurna. Intinya, dengan semakin banyak pilihan metode pendidikan, jangan hanya terpaku pada sekolah formal, pilih yang terbaik bagi anak-anak kita.
sumber: wajibbelajar.com
Langganan:
Postingan (Atom)






