Tampilkan postingan dengan label Proses Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Proses Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Internet Aman dan Sehat (Bahan Presentasi untuk Sosialisasi kepada Remaja dan Pendidik/Orangtua)


7 MANFAAT BERINTERNET

Sebagai seperti alat lainnya, internet memiliki sisi positif dan negatif. Berikut adalah tujuh manfaat yang bisa kita ambil dari internet:

1. Korespondensi dan pertukaran data digital dengan pihak lain dapat dilakukan dengan mudah, murah, dan cepat menggunakan layanan e-mail atau file sharing.

2. Komunikasi langsung (via text, audio, atau video) secara real time dapat dilakukan dengan biaya yang sangat murah bahkan gratis menggunakan layanan instant messenger dan telepon VoIP.

3. Data dan informasi terkini dapat diperoleh dengan sangat cepat dari berbagai sumber informasi, di dalam dan luar negeri, dengan mengakses berbagai situs berita dan informasi.

4. Mudah dalam mencari dan memperoleh sumber referensi untuk keperluan pendidikan secara lengkap dengan menggunakan mesin pencari.

5. Lebih cepat dan mudah dalam memperluas jaringan pertemanan secara nasional dan global dengan menggunakan berbagai situs pertemanan.

6. Dapat memperoleh beragam hiburan dengan variasi yang sangat banyak dari seluruh dunia dengan mengakses situs video sharing, online radio, dll.

7. Transaksi bisnis dapat dilakukan lebih cepat dengan menggunakan layanan e-commerce, online banking, dll.

6 RISIKO & BAHAYA INTERNET

Selain sisi baik, internet juga punya resiko dan bahayanya lho. Berikut enam resiko dan bahaya internet kalau tidak berhati-hati:

1. Spam, yaitu email sampah yang kerap datang bertubi-tubi tanpa dikehendaki. Isi dari spam tersebut bermacam-macam, dari menawarkan produk / jasa hingga penipuan berkedok kerjasama bisnis, dari tawaran multi-level marketing hingga penyebaran virus.

2. Informasi palsu yang menyesatkan (Hoax), biasanya berkaitan dengan suatu produk, perusahaan, tokoh, atau kepercayaan/agama.

3. Pencurian identitas (phising/pharming). selanjutnya identitas yang dicuri tersebut dapat dipergunakan untuk melakukan pencurian, penipuan, atau perbuatan ilegal lainnya.

4. Kekerasan menggunakan media internet (cyberbullying), seperti pelecehan melalui tulisan, ancaman, tuduhan, dll. Lebih parah lagi dapat mengarah ke kekerasan fisik berupa pelecehan seksual terutama ke pengguna internet berusia muda atau anak- anak (pedophilia).

5. Konten ilegal, seperti perjudian dan pornografi. Situs-situs yang berisi konten ilegal biasanya menjerat pengguna dengan memunculkan iklan yang tidak dikehedaki (pop-up trap).

6. Pelanggaran hak cipta jika material yang ditampilkan melalui internet tanpa melalui persetujuan pemiliknya.

6 BAHAYA SOCIAL NETWORKING DAN ANTISIPASINYA

1. Virus Komputer
Antisipasi: Pasang aplikasi anti malware, jangan sembarang unduh file, pastikan tidak mengandung malware.

2. Berita Bohong
Antisipasi: Tidak semua informasi yang beredar di internet benar, lakukan pengecekan ulang, jika menerima e-mail sampah (spam) segera masukkan ke folder spam.

3. Kekerasan & Penculikan
Antispasi: Jangan terlampau percaya pada kenalan online, batasi pemberian informasi yang bersifat pribadi (data keluarga, alamat, dll).

4. Penipuan
Antispasi: Pastikan penjual dan pembeli yang melakukan transaksi dapat dipercaya, pastikan situs tempat melakukan transaksi merupakan situs yang benar, biasanya ditandai dengan awalan https.

5. Penghinaan
Antispasi: Hati-hati dalam mempublikasikan atau menyatakan pendapat secara online (email, status, komentar), harus sesuai aturan/ norma yang berlaku.

6. Penyebaran Foto/ Video Pribadi
Antisipasi: Pastikan foto/ video yang dipasang tidak akan merugikan diri sendiri atau orang lain, jika menggunakan video call, pastikan penampilan sopan, bisa jadi direkam.

10 TIPS BERINTERNET SEHAT AMAN UNTUK REMAJA

Berhati-hati dalam menggunaan internet itu wajib hukumnya, terutama bagi kalangan remaja yang memang merupakan kelompok umur yang paling banyak menggunakan internet. Berikut adalah sepuluh tips berinternet sehat dan aman untuk remaja:

1. Pasang aplikasi pencegah konten yang tidak dikehendaki (anti virus, anti malware, anti spyware, anti spam, anti adware, dll) di komputer.

2. jangan merespon e-mail dari pengirim yang tidak dikenal (spam) dan jangan membuka link yang diberikannya.

3. Batasi pemberian informasi yang bersifat pribadi (seperti alamat, nomor telepon, data orangtua, dll) melalui internet, baik di akun pribadi atau kepada teman chating.

4. Batasi pemasangan foto atau video pribadi di internet, pastikan foto atau video yang dipasang tidak akan merugikan diri sendiri atau orang lain.

5. Segala sesuatu yang bersifat pribadi lebih baik tidak dipublikasikan di halaman yang bisa di akses umum. Beri porsi komentar yang sewajarnya. Ingat pada siapa kita berkomentar, pada teman, guru, dosen atau orangtua.

6. Jangan terpancing untuk menambah teman sebanyak-banyaknya, di situs pertemanan, dengan cepat dan tidak melakukan penyaringan.

7. Tidak semua informasi yang beredar di internet adalah benar. Lakukan pengecekan ulang dan kenali sumber informasi tersebut.

8. Kenali pengguna yang berpotensi melakukan tindakan asusila, putuskan kontak dengan segera.

9. Jika akan bertemu dengan teman chat, selalu memilih lokasi di tempat umum, mengajak teman, serta menginformasikan rencana tersebut pada orang rumah.

10. jangan mengakses konten ilegal, seperti pornografi, perjudian, rasisme, pelecehan SARA, dll.

6 HAL YANG MUNGKIN DIALAMI ANAK DI INTERNET YANG PERLU DIWASPADAI ORANG TUA

Orang tua perlu waspada saat anak menggunakan internet. Ada beberapa hal yang perlu diketahui untuk melindungi anak dari resiko dan sisi negatif internet. Berikut adalah enam hal yang mungkin dialami anak dalam menggunakan internet:

1. Menemukan dan mengakses konten ilegal, seperti perjudian dan pornografi. Situs-situs yang berisi konten ilegal biasanya menjerat pengguna dengan memunculkan iklan yang tidak dikehedaki (pop-up trap).

2. Mengalami pencurian identitas (phising/pharming) karena memberikan informasi pribadi terlalu terbuka. Selanjutnya identitas yang dicuri tersebut dapat dipergunakan untuk melakukan pencurian, penipuan, atau perbuatan ilegal lainnya.

3. Mengalami kekerasan menggunakan media internet (cyberbullying) karena berinteraksi dengan orang tidak dikenal yang memiliki itikad buruk, seperti pelecehan melalui tulisan, ancaman, tuduhan, dll. Lebih parah lagi dapat mengarah ke kekerasan fisik berupa pelecehan seksual atau pemerasan.

4. Menerima informasi palsu yang menyesatkan (Hoax) yang berbahaya jika dipercaya, biasanya berkaitan dengan suatu produk, perusahaan, tokoh, atau kepercayaan/agama.

5. Menerima email sampah yang kerap datang bertubi-tubi tanpa dikehendaki (spam). Isi dari spam tersebut bermacam-macam, dari menawarkan produk / jasa hingga penipuan berkedok kerjasama bisnis, dari tawaran multi-level marketing hingga penyebaran virus.

6. Melakukan pelanggaran hak cipta karena menampilkan material melalui internet tanpa melalui persetujuan pemiliknya.

5 HAL UNTUK ORANGTUA MEMBANTU REMAJA MENGGUNAKAN INTERNET SEHAT DAN AMAN

1. Sedapat mungkin letakkan komputer di ruang tengah yang dapat terpantau.

2. Internet dapat juga diakses menggunakan ponsel tertentu, maka usahakan dapat mengecek penggunaan internet melalui ponsel anak Anda.

3. Pasang dan aktifkan aplikasi pencegah konten yang tidak dikehendaki (anti virus, anti malware, anti spyware, anti spam, anti adware, dll) di komputer.

4. Pasang dan aktifkan aplikasi Parental Control di komputer. Aplikasi ini dapat diunduh secara gratis dan dapat membatasi serta mengawasi penggunaan internet oleh anak Anda.

5. Buat aturan penggunaan internet untuk anak Anda dan lakukan komunikasi berkelanjutan dengan baik.

sumber: www.insan.or.id

Prof. Yohanes Surya : Carikan Saya Anak Yang Paling Bodoh

"Carikan saya anak yang paling bodoh dari Papua, akan saya latih"

Prof. Yohanes Surya PhD. yang dilahirkan di Jakarta 6 Nopember 1963 ini, tidak asing lagi bagi telinga kita karena telah melahirkan segudang prestasi ditingkat internasional. Proffesor lulusan College of William and Mary, Jurusan Fisika dari USA, dibawah bimbingan beliau, pelajar dari Indonesia telah mmapu berbicara di tingkat dunia. 54 medali emas, 33 medali perak dan 43 medali perunggu telah diraih pelajar indonesia didalam berbagai lomba olimpiade tingkat internasional. Bahkan pada tahun 2006, Pelajar Indonesia menjadi juara dunia, mengalahkan 86 negara.

Hari ini beliau banyak berbincang dengan anggota PPI Kyoto, di Universitas Kyoto, Jepang. Beliau bercerita rahasia resepnya untuk menjadi seorang pengajar yang luar biasa. Mengapa luar biasa? Tentu saja, karena sudah membuat Pelajar Indonesia menjadi Juara Dunia di bidang Fisika.

Tetapi yang menarik buat saya adalah, beliau mengatakan bahwa orang Indonesia itu cerdas, jika diberi kesempatan dan dilatih dengan baik. Beliau mengatakan,”Tidak ada anak yang bodoh, yang ada hanya anak yang tidak mendapat kesempatan belajar dari guru yang baik dan metode yang benar.” Untuk membuktikan pendapatnya ini, maka beliau pergi ke Papua untuk mencari murid yang paling bodoh, yang paling sering tinggal kelas, yang tidak bisa menjumlahkan, pokoknya yang bodohnya tak ketulungan lah kata orang Jakarta.

Mereka dibawa ke Jakarta, dalam tempo 6 bulan anak anak itu sudah menguasai pelajaran kelas 1 sampai kelas 6 SD. Ada satu orang anak yang sudah 4 tahun tinggal kelas di kelas 2 SD, dilatih kemudian menjadi juara nasional untuk olimpiade matematika, dan juga menjadi juara lomba membuat robot tingkat nasional. Banyak dari antara anak anak papua yang paling bodoh itu, yang kampungnya paling terpencil, dimana semua orang masih pakai koteka, setelah di latih oleh guru yang baik dan metode yang benar, setelah di beri kesempatan, maka pada tahun 2011, anak-anak itu menjadi juara Olimpiade Sains dan Matematika Asia , dengan merebut emas, perak dan perunggu.

Masih sungguh banyak prestasi yang dicapai Sang Guru ini, yang tak mungkin saya ceritakan dalam tulisan singkat ini. Tetapi cukuplah mewakili bahwa dengan memberi kesempatan bagi anak anak dari desa terpencil di Indonesia, mereka bisa menjadi Juara Dunia.

Prof. Yohanes Surya PhD, setelah menyelesaikan studinya di USA, beliau sempat kerja disana dan ditawari berbagai hal menarik supaya tetap di USA. Tetapi beliau memilih untuk pulang ke Indonesia untuk berbuat sesuatu. Beliau punya mimpi 15 tahun kedepan untuk mendidik anak-anak Indonesia yang paling tertinggal didaerah daerah, sehingga mereka menjadi Doktor (PhD), 30000 doktor, yang disebar diseluruh pelosok negeri. Jika ini terwujud, maka Indonesia akan bisa berbicara di Tingkat Internasional, bahkan kita akan bisa bertanding dengan negara maju seperti USA.

Jika anak-anak Papua bisa menjadi juara olimpeade fisika, juara olimpiade matematika, Juara membuat robot, maka semua anak-anak Indonesia yang paling bodoh sekalipun diseluruh nusantara, jika diberi kesempatan dan dibimbing dengan metode yang benar, maka sangat mungkin menciptakan 30000 doktor yang tersebar diseluruh Indonesia, ketika itu terjadi maka kemajuan negeri kita akan sama dengan USA, bahkan seperti pelajar Indonesia yang juara Olipiade Fisika, maka kita bisa jadi juara dunia, semua mungkin jika kita berusaha. Mestakung, kata beliau, semesta akan mendukung jika kita berusaha.

Apa rahasianya menjadi guru yang baik? ”Guru yang baik adalah guru yang bisa menginspirasi para muridnya, guru yang baik adalah guru yang bisa mengajarkan muridnya dengan mudah, ceria dan senang.” Metode yang diyakininya ini ternyata telah berhasil dengan luar biasa. selain menjadi Juara Dunia di bidang Fisika dan Matematika, sudah banyak anak didiknya menjadi ilmuwan dan PhD terkemuka didunia. Satu lagi kita sudah menjadi lawan yang tangguh di bidang matematika dan fisika. Seumpama ini adalah pertandingan bola, maka kita adalah Brazil atau Jerman. Lawan yang sudah ditakuti lawan sedunia.

Contoh video pak Yohanes mengajar anak-anak Papua tidak pakai rumus, tapi logika: http://www.youtube.com/watch?v=mW-aDX7X3Sg



sumber: kaskus.co.id

Mendorong Siswa Gemar “Menulis”

Oleh ASEP JUANDA (Dimuat dalam surat kabar Tribun Jabar,Selasa, 26-07-2011)

Sudah tidak disangsikan lagi bahwa dewasa ini setiap pelajar sudah begitu akrab dengan internet. Terutama para siswa yang berada diperkotaan, atau yang berada di daerah yang telah bisa mengakses perangkat tersebut. Berbagai fasilitas di internet, tampaknya tidak  terlewatkan oleh sebagian siswa. Mulai jejaring sosial Facebook, twitter, ym, sampai alat pencari data (google). Namun, tidak menutup mata kalau game daring (online) pun justru menjadi pilihan banyak siswa.Sebenarnya, internet tidak hanya sebatas ajang hiburan, mencari data, dan sarana komunikasi saja. Selain itu, terdapat banyak hal lainnya, seperti menerjemahkan tulisan dari bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia atau sebaliknya. Hal itu dapat di lakukan pada alat penerjemah yang terdapat dalam  internet yang sehalaman dengan google.

 Selain hal di atas, kalau kita memperhatikan hal lainnya yang berkaitan dengan kreativitas siswa, ternyata banyak ragamnya. Termasuk  di dalam karya tulis. Di sekolah terdapat berbagai media untuk menampung tulisan siswa, di antaranya dalam  majalah dinding (mading), buletin, dan majalah sekolah. Pada dasarnya setiap siswa mampu untuk “menulis”, tinggal ada kemauan yang kuat, latihan, berproses, dan tentunya adanya stimulan serta gagasan untuk menulis.  Namun, tentunya tidak semua siswa mempunyai keinginan yang kuat untuk menulis. Di sinilah di antara peran guru yang terkait untuk memberikan pembinaan, perhatian, dan arahan yang positif terhadap siswa yang gemar menulis.

Berkaitan dengan menulis tersebut, Bambang Trim dalam bukunya “Menjadi Powerful Da’i dengan Menulis Buku” memberikan tiga tips aktivitas yang bisa memunculkan  stimulan dan gagasan untuk menulis, yaitu:

Pertama, banyak membaca (instal ilmu). 

Membaca merupakan salah satu sarana untuk menambah ilmu pengetahuan melalui berbagai media, misalnya dengan membaca buku, majalah, dan koran. Dengan membaca berbagai informasi dan berbagai karya orang lain, maka sebagai salah satu asupan untuk menambah perbendaharaan ilmu pengetahuan. Dalam sejarah Islam, membaca mempunyai sejarah yang sangat penting bagi kaum Muslimin karena kata pertama dalam surah Al-Alaq sebagai wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad saw. di Gua Hiro adalah perintah tentang membaca, iqra’,  bacalah !

Kedua, banyak berjalan (instal pengalaman). 

Setiap individu mempunyai berbagai kebutuhan. Untuk memenuhi segala yang dibutuhkan tersebut tak lepas dari kegiatan yang memerlukan perjalanan, baik sedikit atau pun banyak. Dalam kesempatan perjalanan inilah sebagai salah satu munculnya stimulan. Berbagai keadaan atau situasi yang kita lewati mungkin saja di antaranya ada yang menarik perhatian kita dan menjadi insfirasi bahan tulisan.

Ketiga,  banyak silaturahmi (instal pengalaman orang lain). 

Silaturahmi merupakan suatu amalan yang diperintahkan oleh Allah SWT dan Rasulullah saw. Selain untuk mempererat rasa persaudaraan sesama saudara senasab dan segama, terdapat pula beberapa hikmah dari silaturahmi tersebut. Hal itu di antaranya “Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah bersilaturahmi.” (HR. Bukhari Muslim). Kelapangan rezeki yang berkaitan dengan menulis bisa saja berupa tambahan ilmu dari orang yang kita kunjungi atau pun bisa berupa insfirasi baru.

Apabila kita sudah mampu menulis yang baik dan mapan, bahkan sampai menjadi sebuah buku, artikel, atau tulisan di laman. Bukankah itu juga sebagai salah satu bentuk hikmah memperpanjang usia . Hal itu karena walaupun suatu saat si penulis tersebut sudah wafat, tetapi karyanya tidak mati. Lihat saja misalnya para “penulis besar” yang sudah puluhan malah ratusan tahun wafat, tetapi namanya masih sering disebut-sebut dan ilmu yang terdapat di dalam tulisannya bermanfaat bagi pembacanya. Seolah-olah dia masih hidup.

Seanjutnya, kreativitas siswa dalam menulis dapat dituangkan dalam berbagai bentuk, misalnya dalam buku catatan harian,  majalah dinding, buletin sekolah, dan koran sekolah.  Bahkan, dapat dituangkan dan dikembangkan pula dalam internet.  Jadi, tidak ada salahnya apabila internet dimanfaatkan sebagai ajang tulis menulis kreatif. Di dalam internet terdapat bermacam sarana pengembang yang menyediakan pembuatan laman secara gratis. Di antaranya wordfress atau dagdigdug.com.

Melalui laman tersebut bisa merupakan ajang tulis menulis yang kreatif. Siswa  bisa membuat artikel, puisi, cerpen, dan yang lainnya. Kecenderungan membuat tulisan untuk dibaca orang lain akan semakin mudah karena internet dapat diakses oleh hampir seluruh dunia .

Jadi pada dasarnya terdapat beberpa nilai plus dengan membuat karya tulis di laman, di antaranya,

Pertama, sebagaimana halnya tersebut di atas. Pembaca karya tulis di laman lebih banyak karena dapat diakses dari seluruh dunia. Di banding dengan buletin sekolah yang diperuntukkan untuk kalangan sendiri.
Kedua, bebas berekspresi dan  tidak  dibatasi dengan model dan gaya tulis. Namun, sebaiknya penulis tetap patuh aturan menulis.
Ketiga, ketika terjadi kejenuhan menulis pada buletin, majalah, atau koran sekolah, maka bisa mengirimkan tulisan ke koran atau majalah umum. Namun, untuk menulis di media massa yang terkenal perlu proses. Sebagai aternatifnya tulisan dapat ditulis di laman.  Apabila dianggap sudah mapan, maka tidak ada salahnya dikirim ke berbagai media, misalnya surat kabar dan majalah yang mempunyai rubrik untuk siswa.
Keempat, dapat berintraksi dengan pengguna laman lainnya. Di dalam laman ada tanggapan dan koreksi dari orang lain, sehingga merupakan sarana untuk lebih mempertajam dan mematangkan karya tulis siswa.

Dengan demikian, internet dapat diambil manfaatnya sebagai media menulis siswa. Tidak hanya digunakan untuk fun  saja. Selanjutnya, apapun dan bagaimanapun hasil tulisan siswa jangan sampai mengabaikan unsur manfaat. Pada dasarnya setiap karya tulis akan lebih bermakna apabila diniatkan untuk memberi manfaat kepada orang lain (para pembacanya).

Penulis, pengajar di YPP Darul Falah dan Staf Teknis Balai Bahasa Bandung)

sumber: asjun.wordpress.com

Sekolah Tanpa Komputer (Malah) Disukai Petinggi Silicon Valley

"Ide bahwa iPad dapat mengajarkan anak-anak saya membaca dan melakukan aritmatika itu konyol,” kata seorang petinggi Google.

Silicon Valley terkenal sebagai tempat berkumpulnya perusahaan-perusahaan teknologi dunia. Namun, para petinggi perusahaan-perusahaan di Silicon Valley justru menyekolahkan anak mereka di sekolah yang tidak memiliki komputer sama sekali di Waldorf School of The Peninsula.

Di era digital dan komputasi saat ini, mengapa petinggi Google, Apple, Yahoo, dan Hewlett-Packard (HP) menyekolahkan anak mereka di sana?

Sebagian besar sekolah-sekolah di Amerika sedang berlomba-lomba untuk menjadikan sekolah mereka menjadi sekolah digital dengan memasukkan pendidikan komputer ke dalam kurikulum dan memasok komputer dalam jumlah besar. Sekolah Waldorf justru sebaliknya, yang sebisa mungkin menjauhkan anak-anak dari komputer dan menekankan pendidikan kepada aktivitas fisik dan belajar secara kreatif. Alat-alat belajar yang digunakan para siswa adalah pena, kertas, bahkan bisa menggunakan alat rajut dan lumpur.

Di sekolah Waldorf tidak akan ditemukan satu layar komputer pun. Para pendidik dan orangtua percaya bahwa pendidikan dan teknologi tidak bisa dicampuradukkan. Para pendidik di sekolah Waldorf percaya bahwa komputer menghambat pemikiran dan gerakan kreatif anak, serta mengurangi interaksi antarmanusia secara langsung. “Saya secara fundamental menolak gagasan bahwa pendidikan pada sekolah dasar membutuhkan alat bantu teknologi. Ide bahwa iPad dapat mengajarkan anak-anak saya membaca dan melakukan aritmatika itu konyol,” jelas Alan Eagle (50), salah satu orangtua murid yang menyekolahkan putrinya di sekolah Waldorf.

Eagle sendiri mengerti tentang teknologi. Ia bahkan memegang gelar Ilmu Komputer dari Dartmouth dan bekerja sebagai Communication Executive di Google Inc, di mana ia pernah menulis pidato untuk eksekutif Google, Eric E Schmidt. Ia mengatakan, putrinya bahkan tidak tahu bagaimana cara menggunakan Google dan itu tidak masalah baginya.

Eagle menambahkan, tiga per empat siswa di sekolah ini memiliki orangtua dengan koneksi teknologi yang kuat. Ia melihat tidak ada kontradiksi dengan memilih menyekolahkan anaknya di sekolah tanpa teknologi. Sementara sekolah lain memenuhi ruang kelas dengan kabel, sekolah ini justru hanya berhiaskan papan tulis dengan kapur warna-warni, rak buku ensiklopedi, meja kayu penuh workbook, dan pensil-pensil.

Sekolah Waldorf mengajarkan anak-anak kelas lima untuk melakukan keterampilan merajut, membuat kain, sampai membuat kaus kaki. Anak-anak juga diajari berhitung dengan cara-cara unik, seperti memotong buah menjadi beberapa bagian dan kegiatan lainnya yang menuntut kreativitas guru dan siswa.

Beberapa ahli pendidikan mengatakan, dorongan untuk melengkapi ruang kelas dengan komputer adalah tidak beralasan karena belum ada studi yang menyatakan bahwa teknologi membuat anak-anak di sekolah dasar lebih cepat mengalami perkembangan kreativitas. Namun, apakah belajar merajut dan belajar pecahan melalui potongan kue atau buah adalah alternatif yang lebih baik, juga belum dipastikan secara ilmiah.

Paling tidak, sekolah Waldorf bisa membuktikan bahwa 94 persen lulusan sekolah mereka banyak yang sukses di perguruan tinggi terkenal, seperti Oberlin, Berkeley, dan Vassar. Alumni tersebut adalah yang lulus antara tahun 1994 hingga 2004.

”Mengajar adalah pengalaman manusia. Teknologi adalah gangguan ketika kita perlu melakukan studi literatur, berhitung, dan berpikir kritis,” ujar Paul Thomas, seorang mantan guru dan profesor pendidikan di Furman University.

Di antara pro dan kontra sistem pendidikan yang diterapkan oleh sekolah Waldorf, sekolah ini justru telah berjumlah 40 buah di California dan terus memiliki jumlah siswa yang signifikan setiap tahun. Pengakuan dari seorang siswa, Finn Heilig (10), yang ayahnya bekerja di Google, menyatakan bahwa ia lebih nyaman menulis dengan tangan daripada dengan komputer. Heilig ingin melihat perkembangan tulisan tangannya dari tahun ke tahun.

Pada akhirnya, sekolah Waldorf mengatakan bahwa menghilangkan teknologi pada sekolah dasar bukan berarti menutup akses anak untuk bisa menguasai teknologi. Pada usia tertentu, anak akan bisa mempelajari teknologi dengan sendirinya tanpa harus kehilangan kreativitas mereka di masa kanak-kanak. Bahkan untuk anak-anak yang orangtuanya bekerja di perusahaan-perusahaan Silicon Valley, komputer tentu sudah diajarkan orangtua di rumah.

Sumber: Kompas.com

Berbagi Pengetahuan (Metode Kreatif Mengajar)

oleh : Rulan Kis (guru SMP-SMA)

Selama dua tahun awal sebagai guru di tahun 2009 dan 2010, saya melihat kenyataan di kelas bahwa yang mendapat nilai 80 ke atas hanya sekitar 20% dari jumlah siswa di kelas. Hal ini terjadi karena input yang masuk di sekolah saya bukanlah anak-anak unggulan bernilai bagus, rata-rata mereka lemah di matematika dan fisika.

Saya pun berpikir bagaimana meningkatkan persentase siswa yang bernilai 80 ke atas ini secara signifikan. Akhirnya tahun ini saya menemukan cara ini dan saya terapkan di tiap kelas, baik di SMP maupun SMA.

Cara ini saya terapkan untuk bab-bab yang banyak menggunakan analisa dan perhitungan, caranya sebagai berikut :

1. Setiap saya selesai menjelaskan sebuah materi dengan disertai contoh soal,maka saya akan mengadakan kuis mendadak.Dalam kuis ini setiap siswa boleh melihat buku tapi tidak boleh bekerjasama dengan temannya.

2. Saya akan mengoreksi hasilnya secara kilat untuk memilah mana jawaban yang benar dan yang salah untuk melihat mana murid yang sudah paham dan mana yang belum.

3. Murid-murid yang sudah paham akan saya tulis di papan tulis dan mereka berhak menyandang status sebagai teacher.

4. Murid-murid yang belum paham boleh memilih gurunya masing-masing dari teman-temannya yang namanya ditulis di papan tulis tersebut.

5. Saya beri kesempatan bagi murid-murid yang belum paham untuk belajar pada murid-murid yang telah paham yang namanya ditulis di papan tulis.

6. Bagi yang telah siap boleh menemui saya untuk saya uji pemahamannya untuk mengerjakan sebuah soal dalam waktu 1 menit, jika jawaban si murid benar maka si murid dan teman yang mengajarinya akan mendapatkan poin nilai yang menambah nilai ujian nanti.

Cara ini meningkatkan pemahaman siswa meningkat drastis, siswa yang bernilai 80 ke atas yang awalnya cuma 20% meningkat pesat menjadi 60%-80%.

Salah satu manfaat yang tidak saya duga adalah suasana keakraban dan kebersamaan kelas meningkat, murid-murid pintar yang biasanya pelit berbagi sekarang sangat antusias mengajari temannya karena makin banyak murid yang dia ajari makin banyak poin yang dia kumpulkan untuk menambah nilai ujiannya nanti.

Menyenangkan sekali ... :)

Learning Pyramid


Saya mendapatkan gambar learning pyramid ini dari seorang guru sekolah jerman, Ines Setiawan. Ketika melihatnya pertama kali, gambarnya terkesan sangat sederhana, tapi memiliki arti yang mendalam untuk saya.

Piramida tersebut adalah hasil dari penelitian National Training Laboratories, Bethel, Maine. Begini kira-kira yang diterangkan oleh gambar tersebut. Konon tingkat retensi (bertahannya ingatan akan suatu ilmu, cmiiw) dilihat dari cara belajarnya seseorang adalah sebagai berikut:

1. Lecture (dari mendengarkan orang bicara)
2. Reading (dari membaca) 10%
3. Audiovisual (dapat dinikmati oleh mata dan telinga) 20%
4. Demonstration (dengan praktek) 30%
5. Discussion (dengan diskusi) 50%
6. Practice Doing (dipraktekkan kekehidupan nyata) 75%
7. Teach Others (Mengajarkan ilmu tsb pd orang lain) 90%

Ternyata tingkat retensi yang paling tinggi adalah bila kita mengajarkan ilmu tersebut pada orang lain, yaitu sebesar 90%. Kemudian saya membicarakan tentang jadwal belajar dan piramida ini dengan anak saya, Abbas. Hasilnya ia mau ada sesi “mister Abbas” dalam jadwal belajarnya. Dimana dalam sesi ini, ia akan mengajari saya pelajaran-pelajaran yang menurutnya penting untuk saya tahu. Jadi hari pertama saya sempat mendapatkan kuliah dari Abbas tentang zaman prasejarah. Bagaimana hiu zaman dulu berevolusi, menjadi hiu zaman sekarang, begitu katanya.

Begitu juga ketika menemui badak prasejarah yang berbulu lebat. Saya katakan, “Ah, masa badak bulunya lebat begitu…”. Lalu dijawab olehnya, “Ya mungkin saja Mi, khan dilihat dari zaman apa dia hidup.” Saya tanya lagi, “Lho kok? apa hubungannya zaman dengan bulu?”. Begini kira-kira jawabannya, “Kalau dia hidup dizaman es, dia harus berbulu lebat. Karena kalau tidak, badaknya bisa mati beku. Coba ummi inget khan, orang-orang eskimo perlu baju hangat yang tebal biar tidak membeku. Badak juga perlu bulu yang tebal.” MasyaAllah…. Demikian sedikit kisah belajar yang dikaruniakan Allah kepada kami. Alhamdulillah dari sesi mister abbas ini ia jadi terlatih setidaknya untuk berbicara, dan juga menyampaikan sesuatu.

Mengenai teori evolusi, tentu saja kami bukan penganutnya! Tapi kami (ayah abbas dan saya) berpendapat bahwa mengenalkan teori sains pd anak, bukan berarti menganutnya. Tapi mengenalkan saja bahwa ada fulan yang berpendapat demikian dan demikian. Allahu a’lam.

Kami telah belajar bahwa manusia pertama adalah nabi Adam alayhis salam. Alhamdulillah abbas dengan sendirinya bilang, mana mungkin monyet berubah jadi manusia dan manusia pertama itu adalah Nabi Adam. Sampai sekarang Abbas tidak bisa terima gambar manusia purba yang ada dibuku ensiklopedinya. Menurutnya Nabi Adam itu pasti ganteng. Yha iyalah, khan Nabi Adam alahissalam adalah manusia yang diciptakan langsung oleh tangan Allah Azza wa Jalla. Beda dengan manusia lainnya, yang ditiupkan ruhnya ^^

Kaitannya dengan dinosaurus, saya sendiri menganggap bahwa Dinosaurus itu adalah karunia Allah. Dengan adanya peninggalan fosil-fosilnya (bukti berupa tulang-tulangnya). Manusia diuntungkan dengan adanya fosil tsb yaitu berupa minyak bumi. Abbas juga pernah bilang, mungkin saja dino itu tinggi-tinggi, bukankah Nabi Adam juga setinggi gunung? Saya cuma senyum-senyum saja, terus inget perkataan Aisyah -radhiyallahu anha- ketika beliau ditanya tentang mengapa kudanya bersayap? Aisyah -radhiyallahu anha- menjawab “bukankah kuda Nabi Sulaiman bisa terbang?” ^^ Jawaban yang cerdas sekali, hingga Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam tertawa. Allahu a’lam.

sumber: tarbiyatulabna.wordpress.com

Mind Mapping (Pemetaan Pikiran)





Pemetaan Pikiran (bahasa Inggris Mind Mapping) adalah yaitu suatu metode untuk memaksimalkan potensi pikiran manusia dengan menggunakan otak kanan dan otak kirinya secara simultan. Metode ini diperkenalkan oleh Tony Buzan pada tahun 1974, seorang ahli pengembangan potensi manusia dari Inggris.


Upaya Tony Buzan sebenarnya muncul dari pengamatannya dalam bidang perkembangan teknologi komputer pada tahun 1971. Tony Buzan berpikir, “kenapa komputer perlu manual pemakaian ribuan lembar untuk dapat beroperasi?” tetapi “Kenapa manusia sebagai makhluk berpikir bisa jauh lebih hebat. Tanpa manual manusia bisa melakukan rekayasa dan tindakan yang dahsyat, misalnya mengubah dunia?”. Perbedaan kemampuan antara komputer dan manusia itu Tony Buzan kemudian mengeksplorasi daya pikir manusia dengan merekayasa model pengembangan potensi manusia yang disebutnya Pemetaan Pikiran. Pemetaan Pikiran saat ini sudah dikenal luas di berbagai bidang pengembangan sumber daya manusia (SDM). Penerapannya mencakup manajemen organisasi, penulisan, pembelajaran, pengembangan diri, dll. Namun, yang paling potensial adalah dalam bidang pengembangan diri.

Prinsip Dasar

Pemetaan pikiran menggunakan teknik curah gagasan dengan menggunakan kata kunci bebas, simbol, gambar, dan melukiskannya secara kesatuan di sekitar Tema Utama seperti pohon dengan akar , ranting, dan daun-daunnya. Tahap pertama setelah tema ditentukan dan kata kunci hasil curah gagasan dituliskan, dilukis, dan ditandai dengan warna atau simbol tertentu adalah menyusun ulang kata kunci tersebut. Kemudian proses curah gagasan diteruskan kembali secara bebas. Kata kunci yang digunakan disarankan hanya satu kata tunggal. Tony Buzan mengusulkan menggunakan struktur dasar Pemetaan Pikiran sebagai berikut :

  1. Mulai dari tengah dengan gambar Tema, gunakan minimal 3 warna.
  2. Gunakan gambar, simbol, kode, dan dimensi diseluruh Peta Pikiran yang dibuat.
  3. Pilih kata kunci dan tulis dengan huruf besar atau kecil .
  4. Tiap kata/gambar harus sendiri dan mempunyai garis sendiri.
  5. Garis-garis itu saling dikaitkan, mulai dari tengah yaitu gambar Tema Utama. Garis bagian tengah tebal, organis, dan mengalir dari pusat keluar, menjulur seperti akar, atau pancaran cahaya.
  6. Buat garis sama panjangnya dengan gambar/kata.
  7. Gunakan warna – kode rahasia sendiri di peta pikiran yang dibuat.
  8. Kembangkan gaya penuturan, penekanan tertentu, dan penampilan khas di Peta Pikiran yang dibuat. Jadi peta pikiran setiap orang tidak harus sama, meskipun tema yang dibahas sama.
  9. Gunakan kaidah asosiasi di peta pikiran yang dibuat.
  10. Biarkan peta pikiran itu jelas, menggunakan hirarki yang runtun, urutan yang jelas dengan jangkauan sampai ke cabang-cabang paling ujung.

Dengan cara yang lebih bebas, warna-warni, dan gambar, pemetaan pikiran menjadi berbeda dengan metode curah gagasan yang sudah dikenal luas. Hasilnya bisa mencengangkan karena dapat menemukan solusi inovatif untuk suatu Tema Utama yang menjadi fokus perhatian. Selain itu, pemetaan pikiran juga dapat mengidentifikasi masalah di bagian sub-tema yang disusun oleh kata kunci hasil curah gagasan.

Penerapan Praktis

Beberapa penerapan praktis pemetaan pikiran diulas oleh Joyce Wycoff dalam buku "Menjadi Superkreatif Dengan Pemetaan Pikiran". Delapan manfaat pemetaan pikiran yang dijelaskan oleh Wycoff untuk pengembangan diri antara lain:

Pertama, dalam bidang penulisan.
Kedua, bidang manajemen projek.
Ketiga, untuk memperkaya kegiatan curah gagasan.
Keempat, untuk mengefektifkan rapat.
Kelima, menyusun daftar tugas.
Keenam, melakukan presentasi yang dinamis.
Ketujuh, membuat catatan yang memberdayakan diri.
Kedelapan, untuk mengenali diri.

Meskipun demikian, sebenarnya banyak sekali penerapan praktis metode pemetaan pikiran misalnya untuk mengatasi kelemahan karena kurang suka membaca, bahkan bisa juga untuk memecahkan masalah nasional misalnya "Kenaikan BBM".

Bagi anda yang lebih sering bekerja dengan menggunakan komputer, bisa memanfaatkan software Mind Mapping yang cukup banyak ditemukan, baik yang sifatnya online (aplikasi web) maupun offline (software aplikasi biasa).
Untuk aplikasi web, anda bisa menggunakan MindMeister (http://www.mindmeister.com)














Sedangkan untuk software biasa, XMind cukup bagus untuk digunakan. Keduanya bersifat free (gratis). XMind yang bersifat portable bisa download di sini, atau di http://xmind.net.

Menumbuhkan Tradisi Membaca

Oleh: Ummu Hafizh

Membaca merupakan salah satu fungsi tertinggi dari otak manusia. Semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca. Saat kita membaca, 8 aspek bekerja secara bersamaan, yaitu aspek sensori, persepsi, sekuensial (tata urutan kerja), pengalaman, berpikir, belajar, asosiasi, dan afeksi.

Kemampuan membaca berbanding lurus dengan kemajuan suatu bangsa. Amerika, Rusia, Inggris, Perancis, Jepang, dan berbagai Negara maju lainnya, masyarakatnya gemar membaca. Ibu rumah tangga, pegawai swasta, tukang kebun, sampai pejabat pemerintahnya memiliki tradisi membaca. Orang-orang di segala usia membaca buku di taman, terminal, halte, dan perpustakaan.

Hasil survei UNESCO PBB menunjukkan bahwa Indonesia sebagai negara dengan minat baca masyarakat paling rendah di Asean (antaranews.com, 26/01/2011)

Padahal Indonesia termasuk negara muslim terbesar didunia. Membaca termasuk kewajiban pertama bagi seorang muslim. Alloh berfirman dalam wahyu yang pertama kali turun:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS Surat Al Alaq: 1-5)

Manfaat Membaca

Efek membaca dapat terlihat dalam waktu relatif singkat dan ada juga yang terlihat setelah 20 tahun kemudian. Membacakan buku kepada anak sejak dini otomatis mengajarkan dasar-dasar cara membaca, karena otak dilatih untuk melukiskan bentuk melalui kata yang didengarnya.

Hubungan orang tua dan anak menjadi lebih erat dan harmonis.

Ketika anak bisa menikmati bacaan dengan penuh semangat, berarti dia sudah berlatih konsentrasi.

Membaca membuka cakrawala pengetahuan menjadi luas, merangsang imajinasi dan kreativitas, menumbuhkan rasa ingin tahu dan dorongan untuk menemukan yang lebih besar, sehingga anak terpacu belajar lebih keras.

Membaca bisa mengasah kecakapan berbahasa anak, kemampuan berkomunikasi, keterampilan berpikir logis dan sekuensial, ketrampilan menulis dan berdiskusi, mengajari anak tentang intonasi, struktur kalimat dan tata bahasa yang baik.

Anak bersikap kritis karena mampu menyerap, menyaring, mengolah dan memaknai informasi.

Perkembangan otak anak menjadi lebih sehat dan kuat, berfikir lebih matang dan tertata. Kepekaan emosi anak terasah dengan latihan memberi tanggapan terhadap buku yang dibacanya. Akhirnya anak mampu mengontrol sikap dan tindakannya.

Anak menjadi mandiri dalam mengambil keputusan dan mampu belajar seumur hidup, sehingga mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman dan dapat bersaing menuju kesuksesan.

Tips Menghidupkan Tradisi Membaca

Banyak cara untuk membiasakan anak membaca. Orangtua membimbing anak untuk menyeleksi buku yang harus dibaca, yaitu buku-buku Islami atau ilmu pengetahuan.

Ajak anak membaca buku sejak dini. Pilih buku yang banyak gambar dengan warna mencolok dan menarik, tebal dan kuat agar tidak mudah robek, sehingga anak terbiasa memegang, membaca, dan menyukai kehadiran buku dalam kehidupannya.

Membacakan buku. Anak yang belum mampu duduk sendiri dipangku atau digendong. Biarkan ia memegang buku. Jika sudah besar, biarkan anak duduk di samping orangtuanya. Anak merasa dirinya spesial karena orangtuanya mau meluangkan waktu khusus untuknya. Baca cerita tetap dilakukan walaupun anak sudah bisa membaca.

Bacakan buku favorit dan sering mengulangnya. Anak belajar tentang kisah tersebut dan belajar tentang mengapa membaca itu penting dan menarik. Mereka akan mengenang kegiatan tersebut dan ingin mengulanginya kembali dengan cara membaca buku yang membawanya ke ingatan masa lalu. Pilih waktu tertentu, misalnya sebelum tidur. Bacakan kisah nabi/sahabat untuk membentuk idola anak yang Islami.

Luangkan waktu ke toko buku/perpustakaan untuk melihat beragam buku bacaan. Biarkan anak memilih buku kesukaannya asalkan sesuai usianya. Utamakan buku tentang fardhu ‘ain seperti do’a, sholat, puasa ramadhon, birrul walidain,dll.

Hadiah buku untuk momen special anak atau untuk diberikan kepada seseorang. Anak memandang buku sebagai benda berharga. Oleh-oleh perjalanan jangan melulu makanan atau benda-benda antik.

Orangtua menjadi model anak. Teladan orang tua lebih efektif daripada perintah dengan kata-kata, karena akan terekam seumur hidup.

Buku menjadi sahabat anak, kemanapun pergi selalu dibawa. Untuk membiasakan membaca, anak dilatih dengan Program Membaca Harian minimal 20 menit sampai 2 jam sehari.

Sebagai seorang muslim sudah pasti Al Qur’an menjadi bacaan wajib, baik membaca surat tertentu atau membaca berurut sampai khatam. Selain itu, anggota keluarga bisa berkumpul untuk mendiskusikan kandungan ayat Al Qur’an yang dibaca agar bisa menjadi pedoman hidupnya. Setiap hari anak harus dapat menemukan hal-hal baru.

Mulai dengan buku sederhana, misalnya kartun favorit (Upin Ipin) sebagai perangsang awal anak untuk membaca, kisah nabi dan sahabat untuk mengenalkan perjuangan membela agama,dll.

Hindari bacaan negatif yang mengandung pornografi, kekerasan dan perilaku destruktif, atau bacaan yang bertentangan dengan ajaran Islam, karena potensi meniru anak sangat besar dan dapat mempengaruhi kepribadian anak.

Pergi ke suatu tempat yang menarik perhatian anak, sehingga mereka terkesan dan terus bercerita tentang hal itu. Setelah pulang, carilah buku tentang hal yang menarik itu. Apakah ke masjid, pengajian, tabligh akbar, demo perjuangan Islam, atau ke kebun binatang, ke pegunungan, dll.

Jika anak melihat sesuatu yang menarik di TV atau berita aktual, temukan buku atau tulisan tentang hal tersebut.

Ceritakan isi buku yang baru saja kita baca. Bacakan bagian yang menarik dan letakkan di tempat yang mudah dijangkau anak jika ingin membacanya sendiri. Orangtua meneladani untuk menceritakan rangkuman buku secara sederhana dalam bahasa yang mudah dimengerti anak. Anak dapat mempelajari hal-hal penting yang menjadi sorotan orangtuanya.

Jawablah selalu pertanyaan anak dengan penuh perhatian dan kesabaran. Jika perlu, ajak anak mencari jawaban bersama di toko buku/perpustakaan atau dalam ensiklopedi, kamus atau browsing google.

“Program Apa Ceritamu Hari Ini”. Saling berbagi cerita di ruang keluarga tentang buku yang sudah dibaca, sehingga merangsang anak lebih memahami isi buku yang dibacanya, serta lebih bersemangat untuk membaca buku lain untuk bisa diceritakan kembali.

Buat daftar buku yang dimiliki anak, tempel di majalah dinding keluarga, dan beri tanda buku yang selesai dibaca. Berikan reward kepada anak yang paling banyak membaca buku dalam kurun waktu tertentu. Adakan lomba bercerita tentang buku yang sudah dibaca sebulan sekali. Hadiah tidak perlu mahal.

Tidak memaksa anak membaca atau menyelesaikan buku yang tidak dia sukai, karena akan memberi pengalaman buruk dan membuatnya benci membaca. Orangtua harus membimbing agar anak menyukai buku-buku Islami.

Buatlah komunitas baca dengan mendirikan rumah baca misalnya. Anak lebih termotivasi jika beraktivitas dengan teman sebayanya.

Anak dilatih menulis, sehingga terdorong untuk membaca berbagai buku acuan dan pustaka. Menulis melatih anak menganalisis, memahami, menumbuhkan kepercayaan diri melalui keberanian mengeluarkan pendapat, mengasah kepekaan, dan melatih kemampuan motorik menulis.

Buat perpustakaan di rumah, tempat koleksi buku dan baca buku, sebaiknya tidak menyatu dengan ruang TV/tape recorder dan bisa menjadi tempat paling nyaman di rumah. Ciptakan suasana membaca yang tenang dan menyenangkan.

Dukung minat anak/keluarga untuk berlangganan majalah atau bacaan sesuai kemampuan dan kebutuhan.

Membuat buku sendiri dari guntingan koran atau majalah dan ditempel di kertas putih, kemudian dijilid.

Batasi dan Seleksi TV dan Game (playstation atau game computer). Ubahlah kebiasaan menonton dengan kebiasaan membaca. Larang secara tegas menonton acara televisi berbau mistik, pornografi, kekerasan (sinetron, berita kriminal, dll), acara yang tidak sesuai untuk anak, atau acara yang bertentangan dengan Islam. Waspadai selingan berupa iklan orang dewasa. Arahkan pada acara TV/game edukatif yang mengajak anak belajar sambil bermain, atau game yang dilengkapi buku yang mengajarkan mencintai buku.

Semoga kaum muslimin kembali bangkit, karena kembali kepada tradisi membaca yang diwajibkan oleh Alloh. Buku bacaan wajibnya adalah Al Qur’an, Hadits nabi, Tafsir Qur’an, Siroh Rosul, dll.

sumber: suara-islam.com

Pembelajaran Aktif melalui Visualisasi dan Multimedia

Diterjemahkan dari : Active Learning and Its Implementasion for Teaching, by Moti Frank (Holon Institute of Technology, Israel)

Oleh : Reza Ervani

Bismilahirrahmanirrahiim



Istilah multimedia merujuk pada kombinasi dari beragam sumber teknis yang digunakan untuk tujuan menyampaikan informasi dengan merepresentasikannya pada beragam format yang bisa ditangkap beragam alat indera (Schnotz & Lowe, 2003)

Karenanya, sumber-sumber multimedia dapat dianggap memiliki tiga level yang berbeda :

  • Level Teknis (misalnya : Komputer, Jaringan, Tampilan, dll)
  • Level Semiotik, merujuk pada format representasinya (Teks, Gambar, Suara dll)
  • Level Sensori/Penginderaan (misalnya : Visual atau Auditori)

Disini kita akan menghubungkan utamanya pada level penginderaan dan semiotik.

Kebanyakan pendidik berasumsi bahwa membuat sebuah lingkungan pembelajaran yang memiliki efek visual dan auditori seperti animasi dan video sudahlah cukup untuk menghasilkan proses kognitif dan membangun struktur pengetahuan terelaborasi.

Padahal, dalam banyak penelitian, ditemukan bahwa penggunaan efek visual dan auditori tidak cukup untuk meningkatkan pembelajaran sehingga karenanya penggunaan teknologi sendiri tidaklah menjamin kesuksesan pembelajaran.

Untuk mencapai peningkatan proses pembelajaran, seorang instruktur mestilah merencanakan secara benar informasi apa yang akan disampaikan dan dilakukan pada aspek sensori dan semiotik.

Ilustrasi : Efek pada Pembelajaran

Dalam serangkaian eksperimen laboratorium, Mayer (2003) meneliti kondisi apa penambahan ilustrasi baik dalam bentuk tulisan maupun vokal teks bisa memberikan makna berarti pada pembelajaran.

Ditemukan bahwa seseorang belajar lebih baik :

  • Dari kata-kata dan gambar, dibandingkan dengan kata-kata saja.
  • Ketika materi tambahan ditempatkan terpisah, bukan disertakan dalam materi utama
  • Ketika kalimat keterangan ditempatkan dekat dengan gambar, bukan terpisah
  • Ketika kata-kata ditampilkan dalam bentuk percakapan, bukan dalam bentuk formal

Penjelasan yang mungkin untuk penemuan ini adalah bahwa pembelajaran lebih bermakna ketika informasi diserap via dua saluran – auditori dan visual, ketika seseorang memberikan perhatian yang sama tingginya pada kalimat dan gambar, dan ketika mereka mengintegrasikan representasi verbal dengan representasi virtual.

Penelitian lab yang lain (Shcnot & Bannert, 2003) menemukan bahwa penyertaan grafis tidak selalu menguntungkan dalam akuisisi pengetahuan.

Penggunaan grafis yang tepat dapat mendukung pembelajaran, sementara penggunaan grafis yang tidak tepat dapat mengganggu konstruksi model mental.

Gambar-gambar dapat memfasilitasi pembelajaran hanya jika pembelajar memiliki pengetahuan yang minim dan jika materi divisualisasikan dengan cara yang tepat.

Jika seorang pembaca yang baik dengan pengetahuan yang bagus mendapati teks dengan gambar yang disampaikan dengan cara yang tidak tepat, maka gambar-gambar tersebut akan tumpang tindih dengan konstruksi model mental.

Para peneliti dibelakang riset ini menyimpulkan bahwa struktur grafis mempengaruhi struktur model mental. Dalam perancangan materi instruksional yang menyertakan teks dan gambar, bentuk visualisasi yang digunakan pada suatu gambar mestilah dipertimbangkan dengan sangat seksama.

Animasi : Efeknya pada Pembelajaran

Animasi adalah penggambaran dinamis yang dapat digunakan untuk membuat proses perubahan menjadi jelas bagi pembelajar (Schnotz & Lowe, 2003).

Banyak pendidik yang percaya bahwa animasi adalah perangkat yang superior dibandingkan ilustrasi statik untuk pembelajaran aktif.

Untuk memahami situasi dinamis yang secara eksternal direpresentasikan oleh suatu grafik statik, pembelajar mestilah pertama-tama membangun sebuah gambaran model dinamis dari suatu informasi statik yang diberikan. Sebaliknya, animasi menawarkan kepada pembelajar suatu representasi dinamis yang jelas dari sebuah keadaan/situasi.

Di sisi lain, sifat sementara (transitory) dari tampilan dinamis dapat menyebabkan beban kognitif lebih tinggi, dikarenakan pembelajar memiliki kendali yang lebih rendah pada kecepatan pemrosesan informasi mereka.

Lowe (2003) dan Lewalter (2003) menunjukkan bahwa sekedar memberikan pembelajar informasi dinamis dalam bentuk yang jelas/eksplisit tidak selalu menghasilkan pembelajaran yang lebih baik.

Eksperimen yang melibatkan pelajar fisika, dilakukan oleh Lewalter (2003), menyelidiki efek penggunaan visual statik atau dinamik dalam suatu tampilan teks terhadap outcome pembelajaran. Dia menemukan bahwa, baik penambahan animasi maupun ilustrasi statis dapat menghasilkan pembelajaran yang lebih baik. Dia tidak menemukan perbedaan antara penggunaan animasi dan ilustrasi statik dalam hal akuisisi pengetahuan tentang fakta-fakta tertentu. Dia juga menemukan hanya ada sedikit perbedaan yang kurang berarti berkaitan dengan pemahaman pengetahuan di kelompok pengguna animasi.

Kozma (2003) menemukan bahwa terkait penggunaan representasi semacam animasi dan potongan-potongan video eksperimen laboratorium kimia, membuat seorang ahli kimia dapat menggali informasi lebih banyak, tapi tidak bagi seorang pembelajar kimia pemula.

Lowe (2003) mendapati bahwa presentasi yang gamblang tentang suatu aspek dinamis dalam suatu konten di lingkungan pembelajaran berbasis/berorientasi multimedia tidak selalu memberikan dampak positif bagi pembelajaran. Dalam banyak kasus, penggunaan tampilan statis yang menyertakan tanda-tanda konvensional untuk gerakan, seperti tanda panah, atau penggunaan serangkaian gambar, sudah cukup untuk pembelajaran.

Sebagai kesimpulan, penggunaan animasi, visualisasi, eksperimen virtual dalam suatu pembelajaran aktif tidak menjamin efek positif pada pembelajaran. Guna meningkatkan pembelajaran, pendidik/instruktur mestilah memiliki rencana penggunaan gambar-gambar dan animasi berdasarkan prinsip-prinsip berikut :

  1. Siswa belajar lebih banyak dari gambar-gambar dan kata-kata, dibandingkan dengan kata-kata saja
  2. Gambar hanya memfasilitasi pembelajaran jika pembelajar memiliki pengetahuan yang sedikit dan jika subjek terkait divisualisasikan dengan cara yang tepat.
  3. Animasi menjadi lebih efektif jika pembelajar dapat mengendalikan kecepatan dan arahnya, tapi walaupun ada suatu animasi yang memungkinkan kendali penuh bagi pengguna, penyertaan lebih banyak dukungan dan panduan mestilah dipertimbangkan jika ingin difungsikan sebagai perangkat yang efektif bagi pembelajaran.
  4. Lebih jauh, ketika mengajarkan sains, tidaklah cukup untuk menampilkan eksperimen virtual. Pelajar mestilah berpartisipasi dalam sebuah eksperimen langsung.

Referensi

  • Schnotz, W., & Lowe, R. (2003) Introduction. Learning and Instruction: The Journal of the European Association for Research on Learning and Instruction, 13(2), 117-124.
  • Mayer, R. E. (2003). The promise of multimedia learning: using the same instructional design methods across different media. Learning and Instruction: The Journal of the European Association for Research on Learning and Instruction, 13(2), 125-140.
  • Schnotz, W., & Bannert, M. (2003). Construction and interference in learning from multiple representations. Learning and Instruction: The Journal of the European Association for Research on Learning and Instruction, 13(2), 141-156.
  • Kozma, R. (2003). The material features of multiple representations and their cognitive and social affordances for science understanding. Learning and Instruction: The Journal of the European Association for Research on Learning and Instruction, 13(2), 205-226.
  • Lewalter, D. (2003). Cognitive strategies for learning from static and dynamic visuals. Learning and Instruction: The Journal of the European Association for Research on Learning and Instruction, 13(2), 177-190.
  • Lowe, R. K. (2003). Animation and learning: Selective processing of information in dynamic graphics. Learning and Instruction: The Journal of the European Association for Research on Learning and Instruction, 13(2), 157-176.
  • Schnotz, W., & Lowe, R. (2003) Introduction. Learning and Instruction: The Journal of the European Association for Research on Learning and Instruction, 13(2), 117-124.

Antara Efek Mozart dan Efek Murottal

by : Alwi Alatas, SS

Kehidupan ini sungguh unik, banyak hal-hal yang sudah langka dan banyak ditinggalkan orang, tiba-tiba dipasarkan ulang secara besar-besaran dan laku keras. Salah satu barang antik yang kini sedang naik daun adalah musik klasik. Selama bertahun-tahun, jenis musik ini hanya dinikmati oleh kelompok sosial tertentu yang sangat terbatas jumlahnya. Jika kita bertanya pada remaja-remaja perkotaan yang umumnya menyukai musik dan menguasai judul lagu-lagu berikut isinya, mungkin tidak satupun di antara mereka yang tahu tentang musik klasik karya-karya Mozart, Vivaldi dll. Jangankan kalangan remaja, orang-orang dewasa pun mungkin hanya tahu nama-nama pemusik klasik sekadarnya saja, adapun lagu-lagu klasiknya sendiri boleh jadi tidak pernah mereka dengar.

Namun, kini keadaannya menjadi berbeda. Musik klasik sekarang menjadi dewa yang dilahirkan kembali. Atas nama penelitian-penelitian intensif di negara-negara Barat, musik klasik dipromosikan sebagai sebuah produk seni yang tidak sekadar berefek menghibur (entertaining effect), tapi juga punya efek menunjang belajar (learning-support effect) serta efek memperkaya fikiran (enriching-mind effect).

Dalam perkembangan pendidikan terbaru saat ini, musik klasik (dengan ketukan tertentu yang selaras dengan detak jantung manusia—jadi tidak semua jenis musik klasik) menjadi sarana penting dalam belajar di ruang-ruang kelas. Buku-buku pendidikan dengan penjualan best seller international, seperti Quantum Learning, Quantum Teaching dan The learning Revolution, semuanya mempromosikan musik klasik untuk digunakan sebagai program belajar. Sebagai dampak dari ide yang kompak dan serempak ini, beberapa lembaga pendidikan saat ini sedang berlomba-lomba membunyikan musik klasik sebagai pengiring kegiatan belajar mengajar di kelas. Fenomena ini bisa kita sebut sebagai “efek promosi Quantum Learning”. Efek promosi Quantum Learning ini juga merembet ke lembaga-lembaga pendidikan luar sekolah. Banyak lembaga-lembaga kursus dan pelatihan di kota-kota besar Indonesia saat ini yang memperdagangkan program-program learning skill berbasis Quantum Learning.

Lalu mengapa musik klasik? Atau bahkan mengapa musik digunakan dalam program belajar? Alasannya karena musik merupakan salah satu “makanan” penting dari otak kanan. Selama ini program belajar hanya memfungsikan otak kiri semata yang melulu bersifat linear, logis dan matematis. Penggunaan otak yang tidak seimbang ini kemudian cepat menimbulkan kelelahan dan kejenuhan bagi orang yang belajar. Otak kanan yang tidak punya kerjaan tadi kemudian berfungsi sebagai pengganggu saudaranya, otak kiri yang sedang pusing dengan rumus-rumus dan hafalan. Di sinilah fungsi musik klasik (begitu pula warna-warni dan gambar) dalam belajar. Ia memberi sebuah aktifitas bagi otak kanan sehingga ia tidak lagi mengganggu otak kiri di saat belajar.

Pengalaman penulis sendiri, pada semester terakhir di SMP (kira-kira 10 tahun yang lalu), penulis selalu ditemani musik radio saat belajar. Tentu saja musik yang didengarkan adalah musik pop, bukan musik klasik. Pada saat itu memang ada perubahan yang sangat signifikan dalam stabilitas semangat belajar serta hasilnya. Penulis yang tidak pernah mendapat ranking sepuluh besar sepanjang belajar di SMP (bahkan sejak di SD), muncul dengan NEM tertinggi di sekolah yang tentu saja membuat banyak siswa lain terkejut. Musik tentu saja bukan satu-satunya faktor sukses, tapi siapa tahu ia memang memberi pengaruh positif dalam mendukung kegiatan belajar.

Bagi kalangan muslim, hal ini tentu saja tidak sederhana, karena musik pop atau bahkan musik klasik tidak mendapatkan pembolehan dari mayoritas ulama Islam yang terpercaya karena alasan-alasan yang syar’i. Namun, pada saat ini nasyid berkembang dengan baik di berbagai belahan dunia muslim. Jadi, bagi setiap muslim, tidak perlu mendengarkan musik-musik pop yang isinya seronok dan melalaikan itu untuk meningkatkan hasil belajar, dengarkan saja nasyid Islami sebagai alternatif. Hasilnya juga tentu tidak kalah dari musik klasik.

Apa yang dibahas di atas merupakan efek pendukung belajar dari musik klasik. Musik klasik juga punya efek memperkaya fikiran. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa musik klasik yang diperdengarkan secara terpola pada janin di dalam kandungan bisa meningkatkan kecerdasan janin-janin ini kelak ketika lahir. Dalam buku Cara Baru Mendidik Anak Sejak Dalam Kandungan oleh Van de Carr dan Lehrer, diceritakan tentang seorang konduktor simfoni terkenal, Boris Brott, yang suatu hari merasa akrab dengan irama selo yang belum pernah ia dengar sebelumnya. Ketika ia menceritakan hal itu pada ibunya yang merupakan seorang pemain selo profesional, ibunya menjadi heran. Ternyata musik selo tersebut sering ia mainkan ketika Brott masih di dalam kandungannya.

Ketika membaca cerita ini, penulis tersentak dan teringat dengan banyak ulama klasik dan modern yang mempunyai prestasi-prestasi raksasa. Banyak dari para ulama ini yang sangat cerdas dan mampu menghafalkan seluruh Al-Qur’an pada usia sepuluh atau belasan tahun, sebut saja misalnya Imam Syafi’I, Hasan Al-Banna atau Sayyid Qutb. Mungkinkah ini karena bacaan Al-Qur’an orang tua mereka sangat efektif dan memberi stimulus (rangsangan) bagi akal para ulama ini sejak mereka masih di dalam kandungan? Jadi bagi setiap muslim yang memiliki keimanan di dalam hatinya ketika mendengar tentang teori-teori terbaru yang ada sekarang terkait dengan efek musik (klasik) terhadap kecerdasan janin hendaknya jangan terlalu kaget, terperangah apalagi merasa inferior. Semua hal positif dari penelitian-penelitian itu sudah menjadi tradisi Islam sejak lama. Jadi ketimbang anda ikut-ikutan jadi korban promosi “Efek Mozart” ala Barat, lanjutkan saja tradisi “Efek Murottal” para ulama Islam, dan silahkan bandingkan hasilnya.

Sumber :
medicalzone.org
ruqyah-online.blogspot.com
khaznah.wordpress.com

Membaca Cepat

Pernahkah Anda dibilang "kurang piknik buku"? Atau "kurang panjang napas logika"? Itu karena Anda kurang menggauli buku. Itu karena Anda jarang untuk mengatakan "tidak" membaca buku. Kalau buku adalah jendela dunia, maka tidak menyentuh buku sama dengan tidak tahu apa-apa. Tidak tahu apa-apa dekat sekali dengan kebodohan. Dan kebodohan masuk dalam kelompok kemiskinan. Masalahnya, tersebar begitu banyak buku yang terbit nyaris "kesetanan". Terlambat satu buku sama dengan terlambat beberapa informasi.

Supaya Anda tidak terlambat, berikut ini kami sajikan tip membaca cepat cepat dan efektif. Banyak orang menganggap bahwa berkonsentrasi atau memusatkan perhatian pada suatu hal adalah pekerjaan berat dan sulit dilakukan. Apalagi orang berada di tengah himpitan pekerjaan dan kesibukan yang tidak sedikit. Tak heran, perhatian orang sering lari tak karuan ke beberapa hal. Jika anggapan ini masih tetap dipertahankan, kemungkinan besar hasilnya tidak seberapa. Jika Anda membaca buku, tetapi pada saat yang sama konsentrasi Anda terbang ke mana-mana, isi atau pesannya tak akan kuat melekat. Anda mesti ingat baik-baik bahwa berkonsentrasi berarti memusatkan kesadaran. Untuk bisa memahami isi sebuah buku, Anda mesti bisa sadar pada apa yang sedang Anda baca. Itu harus.

Hasrat dan gairah

Untuk bisa tenggelam dan kemudian betah pada halaman-halaman buku, Anda harus punya hasrat dan gairah yang besar. Hasrat untuk memahami isinya dan gairah untuk meraup ilmu dan pengetahuan. Tanpa kedua elemen kunci ini, Anda hanya akan membuang-buang waktu. Tanpa kedua sukma membaca ini, Anda tak ubahnya patung di tengah lautan kalimat, kata, huruf, dan angka yang terbuka lebar. Hasrat dan gairah yang besar akan melecut semangat Anda untuk "menghabisi" isi buku dalam batas waktu tertentu.

"Menghilangkan" suara batin

Anda pasti sering berhadapan dengan godaan dari dalam hati. Baru saja beberapa halaman Anda lewati, muncul suara batin yang menggoda Anda untuk mengalihkan perhatian ke hal-hal lain di luar buku atau tema yang sedang Anda hadapi. Suara batin seperti itu jelas menghambat gerak mata dan kecepatan pikiran Anda. Tak heran, Anda bisa menghabiskan satu atau dua jam di atas satu atau dua halaman buku. Supaya Anda tidak tergoda, apalagi terjebak, Anda harus bisa "menghilangkan" suara itu. Salah satu cara sederhana adalah meyakinkan diri bahwa sekarang adalah saat untuk membaca buku dan mengerti persoalan dan bukannya berkhayal. Usaha ini jelas tak sekali jadi. Butuh keberanian yang besar, kehendak yang kuat dan latihan yang terus menerus.

Gunakan jari sebagai penunjuk

Salah satu cara sederhana untuk menghilangkan suara batin dan mempertahankan konsentrasi adalah melibatkan jari tangan sebagai penunjuk. Banyak orang mungkin beranggapan bahwa campur tangan jari ketika membaca dapat mengganggu konsentrasi. Padahal, gerakan jari tangan justru merangsang kesadaran dan konsentrasi Anda untuk terlibat penuh dan terarah pada halaman dan barisan kalimat yang sedang Anda hadapi. Gerakan jari tangan bisa membuat Anda tetap fokus dan berada dalam kecepatan membaca yang konstan.

Warnai dengan stabilo

Selain dengan jari tangan, trik sederhana lain yang bisa Anda gunakan adalah mewarnai kalimat, frasa atau kata dengan stabilo atau spidol. Kata, kalimat, klausa atau frasa yang digarisbawahi mesti penting dan punya arti. Mengapa? Tidak semua kata atau kalimat dalam buku atau halaman yang dibaca itu penting. Bisa jadi banyak kata atau kalimat yang menjadi penjelasan atau penjabaran lebih lanjut. Di sini Anda ditantang untuk menemukan inti yang tepat. Frasa, kata atau kalimat yang digarisbawahi berguna sebagai benang merah atau penuntun untuk mendapatkan idenya. Jika perlu, gunakan satu atau dua warna untuk membedakan makna dan arti.

Maju terus

Kadang-kadang, ketika Anda sedang membaca sebuah kalimat, Anda merasa ingin membaca keterkaitannya dengan kalimat sebelumnya. Ada baiknya demikian. Tapi jika Anda tetap berpegang pada prinsip itu, Anda tak akan maju-maju. Yang harus Anda lakukan adalah maju terus. Baca terus. Pasti ada penjelasan di depan yang mempertahankan laju pemikiran Anda. Biarkan saja kalimat yang telah Anda lewatkan dan tetaplah fokus untuk membaca bagian selanjutnya.

Yang penting adalah idenya

Seorang penulis pasti tidak ingin memamerkan keindahan kata atau kalimatnya. Yang ia tunjukkan pasti idenya. Dan ide inilah yang harus Anda jadikan hal penting. Karena itu, ketika Anda membaca buku, tangkap dan pahami idenya. Dengan demikian, Anda tidak perlu penghapal barisan kalimatnya. Yang Anda butuhkan adalah pemadatan idenya dalam satu atau dua kalimat. Itu yang penting.

Lompati hal yang tidak menarik

Tidak semua yang ditulis itu perlu diingat. Tidak semua pokok bahasan yang diulas itu penting. Bisa juga ulasan atau rentetan kalimat yang panjang itu hanyalah permainan bahasa semata. Karena itu, lewati saja bagian-bagian yang tidak penting. Itu sebabnya minat yang tadi muncul menjadi sangat bermanfaat di sini.

Setengah jam, setengah jam

Tidak disarankan untuk membaca dua jam penuh sekaligus. Lebih baik dibagi empat sesi, di mana masing-masing sesi berlangsung selama 30 menit plus istirahat 5-10 menit. Menurut penelitian tentang cara kerja otak, otak manusia memiliki kemampuan menerima informasi yang penuh (100 persen) ketika pertama kali membaca. Kemampuan ini akan terus berkurang selama proses membaca. Jeda itu bisa Anda gunakan untuk meneguk segelas air putih, mendengarkan musik, jalan-jalan sebentar atau relaks sejenak.

Membuat peta pikiran (Mind Mapping)

Ini adalah teknik meringkas suatu tema atau pokok pikiran yang ada di dalam buku. Awali dengan menuliskan tema pokok di tengah-tengah halaman kertas kosong, lalu kembangkan seperti sebuah pohon dengan banyak akar. Akar-akar itu adalah penjabaran atau subtema. Dengan cara seperti itu, pikiran Anda akan tertata mengikuti pokok pikiran buku yang sedang Anda baca.

Sekelompok kata atau kalimat

Coba tangkap sekelompok kata dengan mata Anda setiap kali menggerakannya. Jangan tergoda untuk membaca kata per kata atau kalimat per kalimat. Untuk buku-buku berbahasa Indonesia, Anda hanya perlu menggerakkan sekali mata pada setumpuk kata atau kalimat. Demikian pun untuk menerjemahkan kata demi kata. Tangkap sekelompok kata atau sebaris kalimat dan pahami isinya. Itu sudah sangat membantu.

sumber: bukucatatan-part1.blogspot.com

Kenali Bakat Anak dari Gaya Belajar

Pengantar dari Webmaster:
Setiap anak memiliki semua jenis bakat yang disebutkan di bawah ini karena semua hal tersebut adalah potensi dasar manusia yang dikaruniakan oleh Allah. Hanya saja dengan porsi yang berbeda-beda. Sebagai orang tua kita harus jeli melihat masing-masing bakat tersebut, melatih dan meningkatkan dimana yang kurang, mengarahkan dimana yang dominan untuk dimanfaatkan seoptimal mungkin dalam berbagai bidang kehidupan. Selamat mengikuti!

Dengan Mempelajari kebiasaan anak, kita bisa tahu bakat-bakatnya.

Gaya belajar kecerdasan linguistik :

  • mengarang puisi, merangkum pelajaran, menulis kisah sejarah
  • suka bercerita panjang lebar dan berkisah
  • menyukai permainan kata-kata
  • suka membaca buku
  • banyak bicara
  • cepat menangkap pelajaran yang disampaikan lewat penuturan

Gaya belajar kecerdasan matematis logis :

  • Menyukai pelajaran berhitung
  • Mudah memahami cara kerja computer
  • Suka memikirkan hal dan kejadian yang berkaitan sebab akibat
  • Pandai bermain catur, halma dan berbagai permainan strategis lain
  • Menjabarkan segala sesuatu secara logis
  • Cepat memahami pelajaran IPA dan matematika
  • Suka bereksperimen terhadap apa yang ingin diketahui

Gaya belajar kecerdasan spasial :

  • Menonjol dalam bidang seni
  • Mampu menggambarkan secara visual segala sesuatu
  • Mudah membaca peta, grafik dan diagram
  • Menggambar sosok orang atau benda sesuai aslinya
  • Senang melihat film, slide atau foto
  • Menyukai teka teki jigzaw, maze dan puzzle
  • Asyik dengan permainan konstruksi 3 dimensi seperti lego
  • Terbiasa mencoret-coret kertas jika jenuh
  • Lebih mudah membaca gambar daripada kata

Gaya belajar kecerdasan kinestetis-jasmani :

  • Kompetitif dalam bidang olahraga
  • Suka menggerak-gerakkan anggota badan di luar sadar
  • Sangat ingin menyentuh benda yang sedang dipelajari
  • Menikmati gerakan atletik atau sekedar menontonnya
  • Lebih mampu dalam bidang kerajinan tangan motorik halus
  • Suka menirukan gerakan dan kebiasaan orang
  • Gemar membongkar dan menyusun kembali benda-benda

Gaya belajar kecerdasan intrapersonal :

  • Pandai menyenangkan hati teman
  • Mudah beradaptasi dengan lingkungan dan orang baru
  • Suka bersosialisasi dengan lingkungan sekolah dan rumahnya
  • Menyukai kegiatan dan permainan kelompok
  • Bisa memahami dan berempati pada perasaan teman
  • Mampu bersikap netral di tengah pertikaian antar teman
  • Memiliki kemampuan mengkoordinir dan memimpin teman-temannya.

Gaya belajar kecerdasan natural :

  • Peka terhadap benda-benda alam
  • Suka memelihara binatang piaraan
  • Suka berkebun, berada di dekat kebun atau menikmati gambarnya
  • Menikmati system kehidupan seperti akuarium
  • Mengoleksi gambar, foto yang berkaitan dengan benda-benda alam
  • Suka mengumpulkan dan membawa pulang daun, batang, ranting, rumput atau bunga
  • Suka bermain-main dan berkreasi dengan bahan-bahan alam

sumber: strawberrysekolahbakatprestasi.wordpress.com

Mitos dan Fakta tentang Pemrograman

Ada beberapa mitos yang berkembang terkait dengan dunia pemrograman. Beberapa di antaranya benar dan ada juga yang salah. Mari kita lihat mitos-mitos yang ada ini satu-persatu dan penjelasannya.

Mitos 1. Pemrograman membutuhkan tools yang mahal

Inilah mitos yang paling banyak berkembang di kalangan programmer. Jelas ini adalah salah. Banyak sekali orang yang pada prinsipnya menyukai pemrograman namun khawatir dengan mahalnya tools yang akan digunakan. Saat ini sudah banyak sukarelawan dari kalangan pengembang project yang memberikan tools opensource atau free. Salah satu contohnya adalah Free Pascal dan masih ada beberapa lagi yang lain.

Mitos 2. Seorang programmer harus lulusan sarjana komputer

Ini juga salah. Selama seseorang menguasai konsep logika dan algoritma, maka orang tersebut berpotensi menjadi seorang programmer. Bahkan anak-anak SMU sekarang sudah banyak yang mahir, toh.. yang dikirim ke olimpiade informatika juga anak-anak SMU dan bukannya lulusan sarjana komputer :-). Banyak juga orang matematika yang terjun di dunia pemrograman lho :-)

Mitos 3. Belajar pemrograman butuh waktu tahunan

Ini bisa benar bisa salah, tergantung komitmen dan kerja keras orang yang belajar. Kunci dalam belajar pemrograman hanyalah masalah jam terbang, dan bukan pada penghapalan sintaks. Maksudnya adalah, semakin banyak jam terbang orang dalam belajar komputer maka semakin cepat dia menguasinya. Sedangkan sintaks atau aturan penulisan program, itu bisa dikuasai dengan mudah. Bagaimana cara memperbanyak jam terbang? ya… banyak-banyak cari masalah dan cari solusinya.

Mitos 4. Pemrograman hanya ditujukan kepada orang-orang muda

Ini jelas-jelas salah. Setiap orang yang berminat dengan pemrograman boleh belajar. Tidak ada aturan dan hukum yang mengharuskan pemrograman hanya untuk orang muda.

Mitos 5. Untuk belajar pemrograman harus butuh perangkat komputer yang canggih

Ini juga Salah… Untuk belajar pemrograman tidak harus butuh komputer yang canggih, misalnya dengan prosesor Core 2 Duo atau Quad Core. Kalau tidak ada kocek, jangan dipaksakan untuk membeli komputer yang canggih. Seperti misalnya bahasa pemrograman Pascal, dalam hal ini Anda cukup membutuhkan komputer Pentium II atau III atau bahkan 486. Memang… komputer yang canggih akan memiliki kecepatan proses yang lebih dibandingkan yang biasa-biasa saja. Namun, untuk sarana belajar, tidak begitu urgen membeli perangkat komputer yang canggih mengingat kasus yang dipilih buat latihan dan belajar masih sangat simpel.

Mitos 6. Pemrograman membuat orang kecanduan

Yang ini memang benar. Setelah Anda bisa menyelesaikan suatu kasus dengan program, maka Anda akan merasa tertantang untuk mencoba menyelesaikan kasus yang lain. Bahkan… saking asyiknya bisa bikin lupa makan, tidur, mandi dan lupa sama pacar, Tapi jangan sampai lupa sholat.

Mitos 7. Bahasa pemrograman selalu berubah setiap waktu

Ini adalah mitos yang salah. Struktur dasar atau sintaks suatu bahasa pemrograman adalah tetap. Kalaupun ada yang berubah, perubahan itu dalam skala kecil. Nah… biasanya yang berubah adalah tampilan atau fitur compiler atau IDE (integrated development environment). Sebagai contoh misalnya compiler untuk bahasa pemrograman Pascal, yaitu Turbo Pascal 5 dan Turbo Pascal 7. Tampilan fitur dan menu yang ada di keduanya berbeda.

Mitos 8. Sekali kita menguasai salah satu bahasa pemrograman, maka dapat dengan mudah kita menguasai bahasa pemrograman yang lain

Betul sekali. Bila seseorang sudah mengerti konsep pemrograman serta paham bagaimana menyatakan suatu algoritma ke dalam bentuk program menggunakan salah satu bahasa pemrograman, maka dapat dengan mudah ia menguasai bahasa pemrograman yang lain. Dalam hal ini ia hanya butuh menghapalkan sintaks perintah bahasa pemrograman yang baru saja. Tentu hal ini lebih mudah dilakukan daripada memahami konsep pemrograman. [rosihanari]

Perpustakaan Sekolah dan Lingkungan

Pada tahun 1998-2000 kami melaksanakan penelitian untuk meningkatkan mutu peran teknologi dalam pelajaran bahasa di Sekolah Menengah Umum. Kami mengujungi ratusan sekolah di pulau Jawa, Bali, dan Lombok. Salah satu hal yang sangat terkait dengan pengembangan teknologi dan bahasa adalah fasilitas dan sumber bahan bahasa yang ada di perpustakaan sekolah. Apakah perpustakaan sekolah anda seperti perpustakaan di foto?

Dari penelitian kami delapan faktor muncul yang sangat mengagetkan:

  • Biasanya tidak ada siswa-siswi di dalam perpustakaan.
  • Perpustakaannya hanya buka pada jam kelas (paling tambah 15 minet).
  • Guru-guru tidak secara rutin menyuruh siswa-siswi dalam jam kelas ke perpustakaan untuk tugas, mencari informasi atau solusi sendiri.
  • Jelas, guru-guru tidak dapat minta siswa-siswi mencari informasi di perpustakaan di luar jam kelas karena perpustakaannya tidak buka.
  • Guru-guru sendiri jarang kunjungi perpustakaan, dan kurang tahu isinya.
  • Seringkali pengelola perpustakaan adalah guru yang juga jarang ada di perpustakaan.
  • Pada umum, pengelola perpustakaan kelihatannya tidak mempromosikan perpustakaannya (atau berjuang untuk meningkatkan minat baca) secara aktif dan kreatif.
  • Lingkungan sekolah (termasuk rakyat) kurang aktif membangunkan perpustakaan.
Sebenarnya Perpustakaan Sekolah Begini Hanya Sebagai "Gudang Buku" !

Kebiasaan ini belum merubah di kebanyakan sekolah sampai sekarang.

Padahal Perpustakaan Seharusnya Sebagai "Jantung Sekolah".

Banyak siswa-siswi belajar dalam keadaan sulit di rumah, karena tempatnya sempit, ada adik-adik yang suka menggangu, mereka sering harus belajar di meja makan sesuai dengan waktu tidak dipakai, mereka tidak dapat belajar bersama teman-teman sekelas, dll.

Mengapa perpustakaan sekolah tidak buka satu sampai dua jam setelah jam kelas? Misalnya tutup jam 3 atau 3.30. Dari pengalaman kami alasan-alasan yang muncul adalah banyak! Masalah yang disebut termasuk; biaya karyawan, sekuriti, kendaraan untuk siswa, dll. Tetapi tidak ada alasan sebenarnya, dan untungannya untuk siswa-siswi kalau buka adalah banyak!

Perpustakaan juga sangat cocok untuk sebagai tempat di mana siswa-siswi dapat mengakses sumber-sumber informasi di Internet di luar jam kelas karena di awasi (melindungi siswa-siswi dari situs, kekerasan, porno, dll), dan siswa-siswi dapat dibantu oleh pustakawan/wati tanpa kebutuhan staf khusus.

Sering perpustakaan diurus oleh karyawan Tata Usaha (TU). Kita hanya perlu salah satu staf TU yang masuk 2 jam lebih siang dan pulang 2 jam lebih sore, tidak kena biaya. Kalau ada staf perpustakaan yang khusus - dibuat shift saja. Seringkali masuk lebih siang dan pulang lebih sore adalah keadaan yang cocok untuk anggota staf tertentu.

Yang kami melihat, di kebanyaan sekolah staf sekuriti sudah bertugas sampai sore. Kalau tidak, sistem shift juga dapat dilakukan.

Kalau masalahnya ada kendaraan, ini dapat dinegosiasi oleh staf sekolah. Biasanya bisnis dari siswa-siswi sekolah adalah sangat penting kepada perusahaan kendaraan, supir angkot, tukang becak, atau tukang ojek, dan mereka akan fleksibel.

Kami belum membahas hal "jumlah atau jenis koleksi buku", yang biasanya sangat kurang. Tetapi selama perpustakaan sekolah hanya sebagai "gudang buka" jumlah buku dan peraturan buku (Sistem/Katalog) tidak termasuk hal-hal utama.

Kita harus berjuang untuk mengatasi isu-isu (1-8 di atas yang tidak kena biaya) dan meningkatkan minat, kesempatan, dan kebiasaan baca. Kalau belum, perpustakaannya akan gagal sebagai jantung sekolah. Kebiasaan baca adalah kunci untuk mengembangkan pengetahuan dan pendidikan kita terus selama hidup (lifelong learning).

"Perpustakaan Online" tidak sebagai pilihan yang rialistik untuk mayoritas siswa-siswi tingkat sekolah (atau masyarakat) di Indonesia karena mereka tidak punya komputer atau akses ke Internet di rumah. Waktu untuk menggunakan komputer di sekolah adalah sangat terbatas, dan untuk "print" (cetak) dokumen-dokomen atau ebook dari Internet adalah sangat mahal dibanding dengan pinjam buku dari perpustakaan "yang gratis".

Buku-buku di perpustakaan sekolah dapat dipinjam dan dibaca kapan saja, di mana saja (di becak, di tempat tidur), dan buku-buku perpustakaan sekolah dapat "diakses oleh semua siswa-siswi secara adil". Ayo, membangun perpustakaan sekolah yang lengkap dengan akses di luar jam kelas.

Perpustakaan Nasional Indonesia menyatakan bahwa perpustakaan harus menjadi "pusat belajar mengajar".

Perpustakaan Lingkungan (Community Libraries)

Beberapa bulan yang lalu kami membaca salah satu 'contoh aktivitas menulis' untuk ujian bahasa Inggris yang sebagai standar bahasa Inggris internasional: "Discuss the benefits and weaknesses of your local library" (Membahas keuntungan dan kekurangan perpustakaan lokal anda). Ujian ini disebut adalah 'bebas dari "bias" (pengaruh) kebudayaan'. Tetapi waktu kami mencoba bertanya beberapa orang Indonesia "Di mana perpustakaan lokal anda?" tidak ada satupun yang dapat menjawab. Perpustakaan Lokal (Lingkunan) atau "Community Libraries" kelihatannya tidak ada, atau kalau ada masyarakat secara umum tidak menggunakan perpustakaan-perpustakaan itu sampai tidak tahu di mana perpustakaannya.

Mengapa pertanyaan begini dapat muncul di ujian internasional?

Secara internasional perpustakaan lingkungan sebagai kebiasaan, termasuk di negara yang sedang berkembang. Kalau begitu, mengapa masyarakat tidak biasa menggunakan perpustakaan lingkungan di Indonesia. Mengapa perpustakaan lingkungan yang biasannya sebagai pusat untuk informasi lingkungan dan sumber pinjam buku-buku gratis tidak sebagai hal penting di Indonesia? Di mana masyarakat dapat pinjam buku-buku gratis, bagaimana mereka dapat terus meningkatkan pengetahuan dan pendidikannya?

Seperti perpustakaan sekolah, dan di luar negeri begitu, perpustakaan lokal dapat sebagai sumber akses ke Internet untuk masyarakat yang murah yang menyediakan bantuan karyawan yang sudah akli mencari informasi, di banding dengan warnet biasa di mana staf biasannya tidak berpendidikan tinggi atau memiliki keaklian mencari informasi.

Ide! Kalau semua anak (bersama orang tuanya) membeli sata buku saja mengenai sesuatu yang menarik, misalnya sains, elektronik, kimia, komputer, fotografi, Internet, kewirausahaan, pembangunan, olahraga, penerbangan, kejuruan apa saja, dan lain-lain, buku-buku ini dapat dikumpulkan di salah satu tempat (kalau tidak di sekolah) dan buku-buku ini dapat dipinjam gratis oleh semua siswa-siswi. Majalah, komik, surat kabar, dll juga dapat disimpan terus akhirnya kita dapat mempunyai koleksi sumber informasi yang sangat bermanfaat, namanya perpustakaan! Kita harus kreatif!

sumber: pendidikan.net

8 Tips Manajemen dan Disiplin Kelas

Disiplin dan manajemen kelas saat proses belajar mengajar adalah suatu komponen penting untuk mengefektifkan pembelajaran. Disiplin dan manajemen kelas bukan hanya harus dipelajari oleh setiap guru tetapi juga harus dipraktekkan setiap hari. Berikut ini adalah beberapa tips yang mungkin dapat membantu guru untuk mendisiplinkan dan memanajemen kelas, sehingga interupsi dan gangguan pada proses belajar mengajar menjadi lebih berkurang.

Tips 1 Tonggak pada hari pertama masuk kelas

Sadarkah kita para guru, bahwa pada awal-awal pembelajaran di tahun ajaran baru atau awal semester kita sering melewatkan suatu hal yang amat penting? Ya, para guru sering lupa bahwa sebenarnya awal tahun ajaran baru dan awal semester baru dihari pertama kita masuk kelas adalah tonggak awal penerapan disiplin dengan membuat sebuah kesepakatan awal tentang tata tertib di kelas atau mata pelajaran kita. Jadi buatlah tata tertib dan disiplin yang disepakati bersama antara guru dan siswa.

Tips 2 Keadilan Amatlah Penting

Siswa sangat mampu merasakan adanya suatu keadilan atau ketidakadilan. Oleh karena itu, guru harus selalu bersikap adil kepada seluruh siswa tanpa kecuali. Bila guru tidak memperlakukan siswa secara adil satu sama lain, maka guru akan diberi cap sebagai guru pilih kasih. Akibatnya siswa tak akan mengikuti aturan-aturan yang guru buat. Yakinkan bahwa siswa terbaikpun bila melakukan kesalahan akan mendapatkan konsekuensi yang sama seperti siswa-siswa lain.


Tips 3 Tangani Gangguan Sesegera Mungkin

Saat guru mengalami gangguan dalam kelas saat proses pembelajaran sedang berlangsung, adalah sangat baik jika guru segera menanganinya selagi masih dalam taraf yang ringan. Teknik-teknik tertentu dapat digunakan agar pembelajaran dapat terus berjalan. Misalnya, guru dapat sambil tetap mempresentasikan suatu materi, berjalan ke arah sumber gangguan (siswa) lalu menggunakan isyarat-isyarat tertentu agar gangguan yang mereka timbulkan itu dihentikan. Guru juga dapat memberikan pertanyaan kepada siswa yang perilakunya tidak sesuai dengan kegiatan belajar agar ia kembali berfokus pada pembelajaran yang sedang berlangsung.

Tips 4 Hindari Konfrontasi Di Hadapan Siswa

Suatu saat bisa saja terjadi konfrontasi antara guru dengan salah satu siswa di dalam kelas karena siswa tersebut telah melakukan sesuatu yang bersifat melanggar disiplin atau norma kesopanan dan membuat “guru yang juga manusia” menjadi “marah”. Jika hal ini terjadi, jangan sampai guru berkonfrontasi di depan siswa-siswa lainnya. Meskipun siswa-siswa lain tersebut mungkin akan dapat memahami guru, tapi siswa yang berkonfrontasi dengan guru tersebut akan kehilangan muka dan menjadi pecundang di hadapan kawan-kawannya. Dengan demikian, guru bisa saja akan kehilangan kesempatan untuk mengajari siswa itu baik tentang disiplin, norma kesopanan, bahkan materi pelajaran. Cara terbaik adalah meminta waktu di luar jam belajar untuk berbicara dari hati ke hati dengan siswa tersebut.

Tips 5 Hentikan Gangguan dengan Sedikit Humor

Kadangkala ada perlunya setiap orang di dalam kelas dapat tertawa bebas. Untuk ini, guru dapat menggunakan humor-homor yang masih relevan dengan pembelajaran. Sayang sekali, pada penggunaan humor di dalam pembelajaran, guru sering tak dapat membedakan mana yang benar-benar humor dan mana kata-kata yang bersifat sarkasme (sindiran yang bisa menyinggung perasaan) dan mengarah para bullying. Sayang sekali, kenyataannya banyak guru yang sering membuat lelucon dengan menggunakan siswa sebagai bahan lelucon. Hati-hati, sesuatu yang guru dan siswa lain anggap lucu bisa saja bermakna pelecehan bagi siswa yang dijadikan bahan lelucon.

Tips 6 Beri Kepercayaan Pada Siswa

Berharaplah bahwa siswa akan berdisiplin dan memahami tata tertib di dalam pembelajaran guru. Dan yakinlah akan hal itu. Kepercayaan bahwa mereka mampu belajar dengan baik akan terpancar dari komunikasi nonverbal guru dengan sendirinya, bahwa siswa tetap “on the track”, tetap berada dalam kondisi belajar. Selain itu, tunjukkan juga kepercayaan itu dengan menggunakan komunikasi verbal (kata-kata) semisal: “Saya yakin, hari ini kita dapat belajar dengan baik. Karena itu bila ada hal-hal yang ingin didiskusikan, ungkapkan saja dengan terlebih dahulu mengangkat tangan.” Atau “Saya berharap semua bekerja di dalam kelompoknya masing-masing. Kalian dipersilakan untuk berdiskusi di dalam kelompok masing-masing, dengan suara yang tidak mengganggu kelompok lain yang juga sedang berdiskusi atau bekerja.”

Tips 7 Rencanakan Pembelajaran dengan Matang

Tinjau ulang lagi rencana pembelajaran yang akan digenjot. Hal ini butuh pemikiran mendalam sehingga pembelajaran tidak akan terstagnasi (macet). Terstagnasinya suatu pembelajaran karena adanya celah-celah pada setiap segmen pembelajaran dapat menyebabkan siswa hilang fokus dari kegiatan pembelajaran. Pertimbangkan matang-matang bagaimana peralihan dari suatu segmen kegiatan belajar dengan segmen kegiatan belajar lainnya.

Tips 8 Selalu Konsisten

Jika kita memutuskan suatu hal atau menjanjikan suatu hal kepada siswa, konsistenlah untuk melaksanakannya. Misalnya saja, jika guru telah berjanji minggu depan akan mengadakan ulangan, maka sesibuk apapun guru, ulangan harus tetap diadakan. Jika guru berjanji akan mengadakan praktikum, maka guru harus konsisten untuk melaksanakannya. Guru yang dengan mudah membatalkan janji atau melanggar kesepakatan yang telah dibuatnya di kelas bersama-sama siswanya akan tidak dihargai dengan baik oleh para siswa. Tak ada respek untuk guru macam ini.

sumber: suhadinet.wordpress.com