Tampilkan postingan dengan label Artikel Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Finlandia Akan Menjadi Negara Pertama di Dunia yang “Menghapus” Mata Pelajaran di Sekolah

Sebelum kita memaparkan tentang revolusi pendidikan ala Finlandia yang akan "menghapus" mata pelajaran di sekolah, berikut ini kita uraikan lebih dahulu 10 fakta menarik tentang Sistem Pendidikan di Finlandia.

1. Anak-anak Finlandia belum disekolahkan sebelum 7 tahun
Di negara-negara Nordik, seperti Denmark, Swedia dan Finlandia, anak-anak belum menginjak sekolah formal sebelum berusia 7 tahun. Usia sebelum 7 tahun masih usia bermain-main. Orang Finlandia percaya, anak-anak bisa belajar dan mengembangkan diri melalui bermain, berimajinasi dan bersosialisasi dengan usia sebanyanya. Karena itu, masa pra-sekolah di Finlandia, yang dimulai pada usia 5 tahun, lebih menekankan pada bermain dan bersosialisasi.

2. Sedikit ujian dan tidak ada PR
Di Finlandia, setiap 12 anak diajar oleh 1 guru. Dengan begitu, kesempatan anak-anak untuk berinteraksi dengan gurunya lebih besar. Begitu juga sebaliknya, guru bisa lebih mengenal dan berinteraksi dengan muridnya. Finlandia tidak mengenal ujian nasional. Tidak ada tes wajib bagi siswa hingga usia 17-19 tahun. Guru-lah yang melakukan penilaian kepada siswa-siswa mereka. Penilaian itu pun bukan bahan untuk kelulusan, peringkat ataupun naik kelas, melainkan sekedar informasi untuk meningkatkan pembelajaran siswa. Selain itu, siswa di Finlandia tidak dibebani dengan pekerjaan rumah (PR) yang berat.

3. Semua guru harus magister
Di Finlandia, setiap guru harus bergelar minimal magister. Setiap guru bisa memperoleh gelar master itu di satu dari 8 perguruan tinggi negeri yang disubsidi oleh negara.

4. Guru diberi otonomi dalam mengajar
Finlandia punya standar nasional yang mirip dengan Common Core State Standards. Namun, guru sepenuhnya diberi kebebasan membuat kurikulum sendiri dan menerjemahkan standar itu. Profesi guru di Finlandia sangat terhomat. Seleksi untuk menjadi guru sangat ketat. Hanya mereka yang menempati peringkat 10 persen teratas yang bisa mendaftar sebagai guru. Selain itu, guru di Finlandia hanya mengajar selama 4 jam perhari. Kemudian selama 2 jam mereka mengembangkan kurikulum dan menilai kemajuan siswa.

5. Serikat guru yang kuat
Guru-guru di Finlandia sangat terorganisir. Menurut New York Times, 95 persen guru Finlandia bergabung dalam serikat. Dan mereka bersedia menyerahkan 1,2 persen dari gajinya untuk mendanai serikat. Serikat inilah yang menjadi alat guru-guru untuk memperjuangkan hak-haknya, seperti gaji, tunjangan dan lain-lain. Serikat juga menjadi corong untuk menyuarakan persoalan pendidikan.

6. Waktu istirahat yang cukup banyak
Pelajar di Finlandia menerima kesempatan beristirahat selama 75 menit perhari. Kemudian ada istirahat 15 menit per setiap pelajaran berakhir. Orang Finlandia yakin, waktu istirahat dan bersantai yang cukup membantu siswa untuk fokus kembali. Selain itu, waktu istirahat menyediakan kesempatan bagi siswa untuk berinteraksi lebih banyak dengan teman-teman sekolahnya. Selain itu, anak-anak diberi kesempatan mendapat tidur berkualitas di pagi hari. Karena itu, jam sekolah baru dimulai pukul 09.00 atau 09.45 dan pulang pukul 14.00 atau 14.45.

7. Tidak ada kompetisi
Sistim pendidikan Finlandia tidak mengenal kompetisi dan sistim peringkat. Tidak ada persaingan antar sekolah. Tidak ada istilah guru terbaik. Semua didorong bekerjasama satu-sama lain untuk kemajuan pendidikan. Jadinya, tidak ada istilah sekolah unggulan, sedang yang lain buruk. Di Finlandia, semua sekolah harus maju dan berkembang. Dan yang lebih penting, tidak ada istilah “siswa bodoh”.

8. Berbasiskan kesetaraan
Dengan sokongan negara yang sangat kuat untuk pendidikan, termasuk mendanai seluruh sekolah, Finlandia bisa mewujudkan slogan “pendidikan untuk semua”. Segregasi sosial berhasil dihindarkan berkat tidak adanya pengistimewaan terhadap anak-anak dari kalangan tertentu melalui sekolah-sekolah elit. Juga tidak ada kompetisi yang mendikomoti sekolah unggul dan buruk, anak pintar dan tidak pintar, kaya dan miskin, dan lain-lain.

9. Metode pengajaran yang inovatif
Sekarang ini Finlandia sedang menjalankan revolusi metode pengajaran, yakni mulai menggantikan metode konvensional “mengajar dengan subjek” menjadi “mengajar dengan topik/fenomena”. Dalam metode lama, siswa belajar dengan satu subjek tertentu per mata pelajaran, seperti sejarah, geografi, fisika, matematika, bahasa dan lain-lain. Dalam metode yang baru, pengajaran berbasiskan topik atau fenomena, pelajar akan belajar banyak subjek sekaligus. Sebagai misal, topik tentang Uni Eropa, di dalamnya ada soal sejarah, geografi, bahasa dan ekonomi.

10. Sekolah sepenuhnya didanai negara
Semua sekolah di Finlandia didanai oleh negara. Dengan begitu, sistim pendidikan Finlandia membuka ruang-ruang selebar-lebarnya bagi setiap warga negaranya untuk bisa mengakses pendidikan terbaik dan berkualitas. Selain mensubsidi penuh sekolah-sekolah, negara juga memberikan makan siang, layanan kesehatan dan angkutan umum gratis untuk pelajar.

sumber: portalmadura.com

Finlandia Akan Menjadi Negara Pertama di Dunia yang “Menghapus” Mata Pelajaran di Sekolah

Sistem pendidikan di Finlandia telah dianggap sebagai salah satu yang terbaik di dunia, bahkan selalu masuk dalam 10 besar peringkat Internasional. Namun ternyata Finlandia tak bermaksud untuk istirahat walaupun telah memenangkan banyak penghargaan terkait pendidikan. Mereka bahkan ingin melaksanakan revolusi nyata dalam sistem sekolah.

Pejabat Finlandia ingin menghapus mata pelajaran di sekolah dalam kurikulum. Nantinya tidak akan ada lagi kelas fisika, matematika, sastra, sejarah, atau geografi. Kepala Dinas Pendidikan di Helsinki, Marjo Kyllonen mengatakan bahwa, ada sekolah yang mengajar seperti cara kuno yang bermanfaat untuk era awal 1900-an, tetapi kebutuhan tidak lagi sama. Menurutnya sekolah harus mencari sesuatu yang cocok untuk abad ke-21.

Alih-alih untuk subjek individual, siswa akan mempelajari peristiwa dan fenomena dalam format interdisipliner. Misalnya saja, Perang Dunia II akan dibahas dari perspektif sejarah, geografi, dan matematika. Dan dengan mengambil kursus “Working in a Cafe” siswa akan menyerap seluruh pengetahuan tentang Bahasa Inggris, ekonomi dan keterampilan komunikasi.

Sistem ini akan diperkenalkan untuk siswa senior yang dimulai pada usia 16 tahun. Ide umumnya adalah bahwa siswa harus memilih sendiri mana topik atau fenomena yang ingin mereka pelajari, mengingat keinginan mereka di masa depan dan berdasar kemampuan masing-masing. Dengan cara ini, tidak ada lagi siswa yang diharuskan mengikuti kelas fisika atau kimia, dan kelas lainnya. Mereka hanya akan menghabiskan waktu untuk berpikir “Apa yang saya perlu ketahui?”

Tak hanya mata pelajaran namun juga format komunikasi yang tradisional antara guru dan murid juga akan berubah. Siswa tidak akan lagi duduk dibelakang meja dan merasa cemas ketika dipanggil untuk menjawab pertanyaan. Sebaliknya mereka akan dibagi kedalam kelompok kecil untuk membahas sebuah masalah.

Sistem pendidikan di Finlandia mendorong kerja kolektif, dimana perubahan juga akan mempengaruhi guru. Reformasi sekolah ini akan banyak membutuhkan kerjasama antara guru mata pelajaran yang berbeda. Sekitar 70% guru di Helsinki telah melakukan pekerjaan sebagai persiapan yang sejalan dengan sistem baru dalam menyajikan informasi, oleh karena itu mereka akan mendapatkan kenaikan gaji.

Perubahan ini diharapkan akan selesai pada tahun 2020. Bagaimana pendapatmu tentang sistem baru ini? Apa jadinya jika sistem ini diterapkan di Indonesia?

sumber: inovasee.com

Pesan K.H. Hasan Abdullah Sahal untuk Orangtua Santri

K.H. Hasan Abdullah Sahal merupakan salah satu Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor  Ponorogo. Putra keenam K.H.Ahmad Sahal ini, lahir di desa Gontor pada 24 Mei 1947.  Pondok Gontor telah meluluskan banyak santri yang menjadi tokoh terkemuka di Indonesia, di antaranya Nurcholish Madjid, Hasyim Muzadi, Hidayat NurWahid, dan lain sebagainya.

Dalam satu kesempatan, K.H. Sahal berpesan untuk orangtua yang anaknya sedang menuntut ilmu di pesantren. lni 5 uraiannya:

1. ANAK TERGANTUNG ORANGTUANYA

"Kalau mau punya anak bermental kuat, orangtuanya harus lebih kuat. Punya anak itujangan hanya sekedar saleh,tapijuga bermanfaat untuk umat. Orangtua harus berjuang lebih ikhlas,” begitu nasihat Kiai Abdullah Sahal. Pesantren adalah salah satu solusi untuk membendung anakAnda terjerumus dalam pergaulan bebas. Karenanya, pesan beliau dapat kita artikan bahwa anak itu tergantung orangtuanya. Jadi, ketika anak Anda dipilihkan pesantren sebagai tempatnya mencari ilmu, seharusnya Andajangan kalah dengan anak.  Jangan sebaliknya. Orangtua menyerahkan pendidikannya tergantung pilihan anak. Karenanya, bersyukurlah Anda yang anaknya dapat mudah diarahkan untuk memilih pesantren sebagai tempatnya menuntut ilmu.

2. JANGAN TAKUT ANAK MATI KELAPARAN

Rasa khawatir pada anak pasti dialami setiap orangtua santri. Apalagi mereka yang baru pertama kali menitipkan anaknya di pesantren. Bahkan terkadang ada orangtua santri yang merasakan khawatir berlebihan. Sehingga setiap saat kabar anaknya yang sedang nyantri selalu ditanyakan pada pengurus pesantren.  Perlu diketahui, pesantren bukanlah kos-kosan yang bebas melakukan apa yang dinginkan. Bukanjuga hotel yang memiliki fasilitas serba ada. Pesantren adalah lembaga pendidikan yang akan menggembleng anakAnda untuk prihatin. Prihatin makan,jajan, belajar, dan lain sebagainya. Karenanya, K.H. Hasan Abdullah Sahal berpesan agar orangtua santri tidak usah khawatir mati kelaparan.  .

3. JANGAN TAKUT TERBELAKANG

Kemajuan teknologi merupakan fasilitas yang dapat dinikmati siapa pun. Berkat teknologi, komunikasi yang kita jalin dengan keluarga, saudara, dan teman, sangat mudah. Namun hal tersebut menjadi kendala sementara bagi anak Anda, karena sebagian besar pesantren melarang santrinya membawa fasilitas yang berlebihan, termasuk alat eletronik. ltu tadi kuncinya seperti yang saya katakana. PRIHATIN!  K.H. Hasan Abdullah Sahal pun membesarkan hati parang orangtua santri. Menurutnya, para santri tidak akan bodoh karena tidak ikut les di lembaga-lembaga luar pesantren. Para santri juga tidak akan bodoh karena tidak punya gadget.

4. LEBIH BAIK ANDA MENANGIS SEKARANG

“Lebih baik kamu menangis karena berpisah sementara dengan anakmu, karena menuntut ilmu agama daripada kamu sudah tua menangis karena anak—anakmu lalai urusan akhirat, memikirkan dunia, rebutan harta, suka pamer, dan lupa surga," kurang lebih begitu nasihat beliau.  Sekali lagi saya ingatkan. Melepas anak untuk menuntut ilmu di pesantren yangjauh dari kita memang bukan hal mudah. Perlu kesabaran dan ketabahan buah hati kita terpisahjauh dari rumah. Yakinlah, hal tersebut demi kebaikan anakAnda di masa depannya.  Seburuk-buruknya santri, paling tidak dia tahu bagaimana cara bertobat dan minta ampun pada Tuhan.Apalagi Anda tidak selamanya hidup di dunia ini. Bila anakAnda pernah nyantri, dia tahu bagaimana cara mendoakan orangtuanya yang sudah meninggal.

5. ALLAH YANG MENJAGA LANGSUNG PARA SANTRI

K.H. Hasan Abdullah Sahal juga mengingatkan bahwa para santri yang sedang menuntut ilmu di pesantren akan selalu dilindungi Allah.Alquran selalu menjaganya. Semua orangtua santri harus yakin ini.  Bahkan dalam Hadis Nabi yang diriwayatkan dari Abu Darda menyatakan bahwa orang yang sedang menuntut ilmu didoakan oleh semua makhluk Allah yang berada di langit maupun bumi,termasuk ikan-ikan di sungai dan laut (H.R. lbnu Majah).

sumber: syiar.co.id

Home Schooling: Baik Buruk Alternatif Model Pendidikan di Indonesia

“Homeschooling (Sekolah Rumah) saat ini mulai menjadi salah satu model pilihan orang tua dalam mengarahkan anak-anaknya dalam bidang pendidikan. Pilihan ini muncul karena adanya pandangan para orang tua tentang kesesuaian minat oleh anak-anaknya. Homeschooling ini banyak dilakukan di kota-kota besar, terutama oleh mereka yang pernah melakukannya ketika berada di luar negeri. “

Homeschooling (Sekolah rumah), menurut Direktur Pendidikan Masyarakat Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) Ella Yulaelawati, adalah proses layanan pendidikan yang secara sadar, teratur dan terarah dilakukan oleh orang tua atau keluarga dan proses belajar mengajar pun berlangsung dalam suasana yang kondusif.

Tujuannya, agar setiap potensi anak yang unik dapat berkembang secara maksimal. Rumusan yang sama juga dipegang oleh lembaga-lembaga pendidik lain yang mulai menggiatkan sarana penyediaan program homeschooling.

Ada beberapa alasan mengapa para orang tua di Indonesia lebih memilih sekolah rumah. Kecendrungannya antara lain, bisa menekankan kepada pendidikan moral atau keagamaan, memperluas lingkungan sosial dan tentunya suasana belajar yang lebih baik, selain memberikan pembelajaran langsung yang konstekstual, tematik, nonskolastik yang tidak tersekat-sekat oleh batasan ilmu.

Menurut Ela Yuliawati, pandangan ini memberikan pengertian luas kepada setiap orang untuk lebih mengekspresikan keinginan dan kemampuan dalam menimba ilmu, tidak hanya di lingkungan yang dinamakan sekolah. Bahkan kesempatan mendapatkan ilmu yang lebih juga memiliki peluang besar sejalan dengan perkembangan pendidikan.

Hal ini yang kemudian membuat homeschooling dipilih sebagai salah alternatif proses belajar mengajar dalam perkembangan dunia pendidikan di Indonesia. Hingga kemudian model homeschooling (Sekolah Rumah) dimasukan dalam revisi UU pendidikan no 20 tahun 2003.

PENERAPAN HOME SCHOOLING

Menurut Seto Mulyadi, Ketua Komnas Anak, kemunculan homeschooling sebagai salah satu alternatif memang perlu dibuktikan keberhasilannya sebagai sebuah kompetisi proses menimba melalui sistem non formal.

Secara etimologis, home schooling (HS) adalah sekolah yang diadakan di rumah. Meski disebut home schoooling, tidak berarti anak akan terus menerus belajar di rumah, tetapi anak-anak bisa belajar di mana saja dan kapan saja asal situasi dan kondisinya benar-benar nyaman dan menyenangkan seperti layaknya berada dirumah. Keunggulan secara individual inilah yang memberi makna bagi terintegrasinya mata pelajaran kepada peserta didik.

Seto mengatakan, perlunya dukungan penuh dari orang tua untuk belajar, menciptakan pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan, dan memelihara minat dan antusias belajar anak. Karena dibalik kemudahan, Sekolah rumah juga memerlukan kesabaran orangtua, kerja sama antaranggota keluarga, dan konsisten dalam penanaman kebiasaan.

Seto menampik sejumlah mitos yang dinilainya keliru tentang homeschooling selama ini. Misalnya, anak kurang bersosialisasi, orang tua tidak bisa menjadi guru, orang tua harus tahu segalanya, orang tua harus meluangkan waktu 8 jam sehari, waktu belajar tidak sebanyak waktu belajar sekolah formal, anak tidak terbiasa disiplin dan seenaknya sendiri, tidak bisa mendapatkan ijazah dan pindah jalur ke sekolah formal, tidak mampu berkompetisi, dan homeschooling mahal. “Itu keliru,” ucapnya.

Ada beberapa klasifikasi format homeschooling, yaitu:

1. Homeschooling tunggal
Dilaksanakan oleh orangtua dalam satu keluarga tanpa bergabung dengan lainnya karena hal tertentu atau karena lokasi yang berjauhan.

2. Homeschooling majemuk
Dilaksanakan oleh dua atau lebih keluarga untuk kegiatan tertentu sementara kegiatan pokok tetap dilaksanakan oleh orangtua masing-masing. Alasannya: terdapat kebutuhan-kebutuhan yang dapat dikompromikan oleh beberapa keluarga untuk melakukan kegiatan bersama. Contohnya kurikulum dari Konsorsium, kegiatan olahraga (misalnya keluarga atlit tennis), keahlian musik/seni, kegiatan sosial dan kegiatan agama

3. Komunitas homeschooling
Gabungan beberapa homeschooling majemuk yang menyusun dan menentukan silabus, bahan ajar, kegiatan pokok (olah raga, musik/seni dan bahasa), sarana/prasarana dan jadwal pembelajaran. Komitmen penyelenggaraan pembelajaran antara orang tua dan komunitasnya kurang lebih 50:50.

Alasan memilih komunitas homeschooling antara lain:
  • Terstruktur dan lebih lengkap untuk pendidikan akademik, pembangunan akhlak mulia dan pencapaian hasil belajar
  • Tersedia fasilitas pembelajaran yang lebih baik misalnya: bengkel kerja, laboratorium alam, perpustakaan, laboratorium IPA/Bahasa, auditorium, fasilitas olah raga dan kesenian
  • Ruang gerak sosialisasi peserta didik lebih luas tetapi dapat dikendalikan
  • Dukungan lebih besar karena masing-masing bertanggung jawab untuk saling mengajar sesuai keahlian masing-masing
  • Sesuai untuk anak usia di atas 10 tahun
  • Menggabungkan keluarga tinggal berjauhan melalui internet dan alat informasi lainnya untuk tolak banding (benchmarking) termasuk untuk standardisasi

TANTANGAN HOME SCHOOLING

Dalam perkembangannya, homeschooling juga menghadapi beberapa tantangan, yaitu:

1. Homeschooling tunggal
  • Sulitnya memperoleh dukungan/tempat bertanya, berbagi dan berbanding keberhasilan
  • Kurang tempat sosialisasi untuk mengekspresikan diri sebagai syarat pendewasaan
  • Orang tua harus melakukan penilaian hasil pendidikan dan mengusahakan penyetaraannya

2. Homeschooling majemuk
  • Perlu kompromi dan fleksibilitas jadwal, suasana, fasilitas dan kegiatan tertentu
  • Perlu ahli dalam bidang tertentu walaupun kehadiran orang tua harus tetap ada
  • Anak-anak dengan keahlian/kegiatan khusus harus menyesuaikan/menerima lingkungan lainnya dengan dan menerima perbedaan-perbedaan lainnya sebagai proses pembentukan jati diri
  • Orang tua masing-masing penyelenggara homeschooling harus menyelenggarakan sendiri penyetaraannya

3. Komunitas homeschooling
  • Perlunya kompromi dan fleksibilitas jadwal, suasana, fasilitas dan kegiatan tertentu yang dapat dilaksanakan bersama-sama
  • Perlunya pengawasan yang professional sehingga diperlukan keahlian dalam bidang tertentu walaupun kehadiran orang tua harus tetap ada
  • Anak-anak dengan keahlian atau kegiatan khusus harus juga bisa menyesuaikan dengan lingkungan lainnya dan menerima perbedaan-perbedaan lainnya sebagai proses pembentukan jati diri.

KEKUATAN HOME SCHOOLING

Sebagai sebuah pendidikan alternatif, homeschooling juga mempunyai beberapa kekuatan dan kelemahan. Kekuatan/kelebihan homeschooling adalah:
  • Lebih memberikan kemandirian dan kreativitas individual bukan pembelajaran secara klasikal
  • Memberikan peluang untuk mencapai kompetensi individual semaksimal mungkin sehingga tidak selalu harus terbatasi untuk membandingkan dengan kemampuan tertinggi, rata-rata atau bahkan terendah
  • Terlindungi dari tawuran, kenakalan, NAPZA, pergaulan yang menyimpang, konsumerisme dan jajan makanan yang malnutrisi
  • Lebih bergaul dengan orang dewasa sebagai panutan
  • Lebih disiapkan untuk kehidupan nyata
  • Lebih didorong untuk melakukan kegiatan keagamaan, rekreasi/olahraga keluarga
  • Membantu anak lebih berkembang, memahami dirinya dan perannya dalam dunia nyata disertai kebebasan berpendapat, menolak atau menyepakati nilai-nlai tertentu tanpa harus merasa takut untuk mendapat celaan dari teman atau nilai kurang
  • Membelajarkan anak-anak dengan berbagai situasi, kondisi dan lingkungan sosial
  • Masih memberikan peluang berinteraksi dengan teman sebaya di luar jam belajarnya

Sedangkan kelemahan homeschooling adalah:

  • Anak-anak yang belajar di homeschooling kurang berinteraksi dengan teman sebaya dari berbagai status sosial yang dapat memberikan pengalaman berharga untuk belajar hidup di masyarakat
  • Sekolah merupakan tempat belajar yang khas yang dapat melatih anak untuk bersaing dan mencapai keberhasilan setinggi-tingginya
  • Homeschooling dapat mengisolasi peserta didik dari kenyataan-kenyataan yang kurang menyenangkan sehingga dapat berpengaruh pada perkembangan individu
  • Apabila anak hanya belajar di homeschooling, kemungkinan ia akan terisolasi dari lingkungan sosial yang kurang menyenangkan sehingga ia akan kurang siap untuk menghadapi berbagai kesalahan atau ketidakpastian

PRASYARAT KEBERHASILAN HOME SCHOOLING

Agar homeschooling dapat dilaksanakan dengan baik dan anak dapat merasa nyaman dalam belajar, maka ada beberapa prasyarat keberhasilan dalam menyelenggarakan homeschooling, yaitu:

  • Kemauan dan tekad yang bulat
  • Disiplin belajar-pembelajaran yang dipegang teguh
  • Ketersediaan waktu yang cukup
  • Keluwesan dalam pendekatan pembelajaran
  • Kemampuan orang tua mengelola kegiatan
  • Ketersediaan sumber belajar
  • Dipenuhinya standar yang ditentukan
  • Ditegakkannya ketentuan hukum
  • Diselenggarakannya program sosialisasi agar anak-anak tidak terasing dari lingkungan masyarakat dan teman sebaya
  • Dijalinnya kerjasama dengan lembaga pendidikan formal dan nonformal setempat sesuai dengan prinsip keterbukaan dan multimakna
  • Terjalin komunikasi yang baik antar penyelenggara homeschooling
  • Tersedianya perangkat penilaian belajar yang inovatif (misalnya dalam bentuk portofolio dan kolokium)

ORANG TUA, GURU JUGA TEMAN

Lalu, apa yang yang perlu diperhatikan oleh orang tua dalam menyelenggarakan sekolah rumah? Seto mengatakan, orang tua harus menjadikan anak sebagai teman belajar dan menempatkan diri sebagai fasilitator. “”Orang tua harus memahami bahwa anak bukan orang dewasa mini,” tuturnya.

“Anak,” kata Seto, “Perlu bermain. Itu yang perlu dipahami oleh orang tua. Karena itu pula, orang tua tidak boleh arogan dengan menempatkan diri sebagai guru, tapi belajar bersama. Kalau tidak siap dengan itu, menurut Seto, lebih baik jangan menyelenggarakan sekolah rumah.”

“Orang tua, tetap perlu terus menambah pengetahuan. Tidak mesti menguasai semua jenis ilmu, yang penting, memiliki pemahaman tentang anak. Bila orang tua kurang mengerti pelajaran biologi atau matematika, misalnya, orang tua bisa mendatangkan guru untuk pelajaran tersebut dan belajar bersama anak. Dengan demikian, anak akan merasa tidak lebih rendah, tapi sebagai sahabat dalam belajar,” ungkap Kak Seto menambahkan.

Bagaimana dengan kedua orang tua yang bekerja sehingga merasa tidak punya waktu untuk memberikan pembelajaran kepada anak dalam menyelenggarakan homeschooling? Seto mengatakan, “itu tidak boleh menjadi alasan.”

“Sesibuk apa pun orang tua, tetap harus punya waktu untuk anak. Kalau tidak punya waktu, jangan punya anak,” ucap psikolog yang juga menyelenggarakan homeschooling bagi anak sulungnya itu.

Pembelajaran sekolah rumah sebaiknya menyesuaikan dengan standar kompetensi yang telah ditentukan oleh Departemen Pendidikan Nasional. Ini agar sejalan dengan pertumbuhan dan kemampuan anak, di samping dapat diikutkan dalam evaluasi dan ujian yang diselenggarakan secara nasional.

Standar kompetensi menjadi panduan yang harus dimiliki seorang anak pada kelas tertentu. Anak kelas VI SD atau setara, misalnya, minimal sudah harus menguasai pelajaran matematika sampai batas tertentu pula. “Standar kompetensi ini,” kata Seto, “Dapat diperoleh di Dinas Pendidikan yang ada di daerah masing-masing.”

Evaluasi bagi anak yang mengikuti homeschooling dapat dilakukan dengan mengikutkan pada ujian Paket A yang setara dengan SD atau Paket B setara SMP. “Pada dasarnya,” kata Seto, “Evaluasi tersebut dapat pula dilakukan dengan menginduk ke sekolah formal yang ada.” Menurutnya, seharusnya ini bisa dilakukan karena sekolah rumah bukan sekolah liar. Kiranya para orang tua harus berkaca diri dulu sebelum menyelenggarakan sekolah rumah bagi sang buah hati.

sumber: pnfi.depdiknas.go.id

Guru Bukan Profesi Jalan Pintas

“BARANG siapa yang hidup untuk dirinya sendiri, maka ia akan hidup sebagai manusia kecil dan mati sebagai manusia kecil. Barang siapa yang hidup untuk orang lain, maka ia akan hidup sebagai manusia besar, dan tidak akan pernah mati selamanya” (Sayyid Qutb).

Pak Karno adalah seorang guru SD di sebuah desa terpencil. Ia sudah sekitar 20 tahun mengajar di sekolah itu. Yang menarik dari Pak Karno adalah bahwa ia begitu berdedikasi dan bersemangat untuk selalu membantu siswa-siswanya berkembang. Dengan tekun ia membantu siswa-siswanya membaca, menulis, berhitung, dan dengan sabar mengajarkan keterampilan-keterampilan hidup yang bermanfaat bagi anak.

Terkadang Pak Karno harus mengeluarkan uang dari gajinya yang kecil untuk membuat alat peraga dan perangkat pembelajaran lainnya. Bagi Pak Karno, membantu anak-anak terus berkembang merupakan tuntutan kemanusiaan dan kepenuhan batinnya sendiri. Semakin ia membantu anak-anak maju, ia semakin bangga dan bahagia menjalani profesinya sebagai guru.

Pengalaman Pak Karno ternyata berbeda dengan Pak Kardi. Ia adalah guru SMA. Kalau mengajar dia sesukanya sendiri, tidak pernah mempersiapkan diri menjelang pembelajaran karena sudah merasa tahu semua, tidak pernah mau ditanya oleh siswa dan menjadi marah bila dibantah siswa ketika ia mengajar di kelas.

Relasinya dengan anak-anak tidak harmonis dan sangat jauh. Ia tidak ambil pusing ketika siswa-siswanya tidak mengerti karena ia anggap itu urusan siswa, bukan urusannya. Tugas baginya adalah menyampaikan materi di dalam kelas, kemudian mendapat gaji.

Ia sering mengeluhkan gajinya yang kecil jauh dari keinginannya. Dia memilih menjadi guru karena terpaksa, dan sebenarnya tidak mau menjadi guru. Tapi demi uang untuk makan, ia melakukan tugas itu dengan berat hati sehingga ia tidak pernah merasakan kebahagiaan menjalani profesinya sebagai guru.

Dari dua profil guru di atas, sangat tampak perbedaan penghayatan mereka terhadap tugas mereka sebagai guru. Pak Karno jelas merasa senang dan bahagia menjadi guru dan menjalankan tugas itu dengan penuh dedikasi. Ia rela berkorban untuk kepentingan muridnya walau harus mengeluarkan dari uang gajinya yang kecil. Sebaliknya, Pak Kardi lebih merasakan tugas guru sebagai paksaan yang tidak membahagiakan. Pak Karno menghayati tugas guru sebagai “panggilan hidup”, sedangkan Pak Kardi tidak menghayatinya sebagai panggilan hidup, melainkan sebagai “panggilan perut” yang penuh keterpaksaan.

David Hansen dalam bukunya The Call to Teach mengungkapkan kriteria suatu panggilan hidup itu ada dua, yaitu 1. Pekerjaan itu membantu mengembangkan orang lain, ada unsur sosial, dan 2. Pekerjaan itu juga mengembangkan dan memenuhi diri kita sebagai pribadi.

Dalam tugasnya sebagai guru, sangat jelas bahwa mereka melakukan suatu pekerjaan yang berguna bagi perkembangan dan masa depan anak-anak bangsa, lingkungan sekolah, dan bahkan masyarakat tempat mereka hidup. Sebagai tugas panggilan hidup, pertama-tama mereka akan berpikir tentang anak didik mereka, bagaimana mereka dapat mengerti, berkembang, dan terampil. Mereka akan bangga dan bahagia bila anak didiknya sukses, dan akan sabar membantu dan membimbing anak didiknya yang kurang kemampuan dalam belajar.

Cukup jelas bahwa seorang guru yang menghayati tugasnya sebagai panggilan hidup, bukan pertama-tama mencari nafkah atau uang, tetapi bagaimana dapat membantu anak didik berkembang maju menguasai ilmu pengetahuan dan keterampilan. Bagi mereka, uang bukan tujuan utama, melainkan hasil dari kerja kerasnya karena panggilan guru memang bukan untuk menjadi kaya dalam hal uang. Kekayaan seorang guru adalah pada kemajuan anak didiknya.

Unsur kedua dari panggilan hidup adalah bahwa dengan melakukan pekerjaan itu, mereka bisa mendapat kepenuhannya sebagai pribadi, sebagai manusia yang utuh. Dengan menjalankan tugas sebagai guru secara baik, seorang guru akan merasa hidupnya lebih berarti, semakin menemukan identitas dirinya, semakin merasakan kepuasan batin yang mendalam.

Seorang guru akan semakin merasa sebagai pribadi yang utuh bila anak didiknya menjadi maju dan berkembang. Maka tidak mengherankan bila ada seorang guru yang meskipun harus membantu anak yang badung, ia gembira dan puas jika akhirnya anak itu berubah menjadi baik dan bersemangat di sekolah.

Dengan demikian, menjadi guru adalah sebuah pilihan, bukan profesi jalan pintas yang penuh keterpaksaan, karena guru kental dengan panggilan hidup, bukan panggilan perut. Jika menjalani tugas sebagai guru karena dorongan perut, maka ia dapat memenuhi kepuasan bagi perutnya, tapi tidak kepuasan batin yang mendalam. Jika menjalani tugas sebagai guru karena panggilan hidup, ia akan menjalaninya dengan penuh bangga, dedikasi tinggi, dan kekuatan komitmen yang membara karena uang adalah hasil dari kerja, bukan tujuan utama. (*)

RANI PARDINI SPd, Guru SMA KP dan Bina Muda Cicalengka

sumber: usepsaefurohman.wordpress.com

Antara Tradisi Keilmuan, Internet, dan Pewarisan Pengetahuan

“Perpustakaan digital tak lain adalah internet itu sendiri.”
Fuad Gani, MA. Ketua Departemen Ilmu Perpustakaan dan Informasi UI

Pada salah satu sesi seminar KISPI Fisip UI tahun 2008, penulis berkesempatan hadir sebagai peserta, pembicaranya pada sesi itu adalah mas Ganda Upaya, salah satu Sosialog UI. Pada sesi itu mas Ganda memaparkan tentang masyarakat madani, termasuk juga tentang tradisi keilmuan para ulama dan ilmuan muslim terdahulu.

Pada sesi tanya jawab penulis berkesempatan bertanya. Pertanyaan yang diajukan penulis adalah andai saja kitab-kitab ulama dan ilmuan muslim terdahulu tidak dihancurkan, yang menurut riwayat sungai di kota Baghdad menjadi hitam saking banyaknya kitab-kitab tersebut yang dibuang ke sungai. Kemudian kitab-kitab itu terwariskan pada kita, apakah umat ini akan lebih maju dari sekarang?

Belum tentu! Jawab mas Ganda. Yang perlu dibangun adalah tradisi keilmuan kita. Pada masa dahulu seorang ulama rela bermusafir berbulan-bulan hanya untuk meriwayatkan sebuah hadist. Bahkan Ibnu Khaldun pun untuk menulis kitab ia naik ke atap rumahnya dengan penerang sinar bulan. Atau Imam Syafii muda yang menulis catatatannya di pelepah pohon. Sampai seperti itu tradisi keilmuan umat terdahulu.

Kondisi Kita

Ada yang harus kita renungkan, yaitu tentang tradisi keilmuan kita di sini, di negeri dengan meyoritas umat Muslim, bahkan tercatat sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Dan saat ini, di mana ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang begitu pesat.

Kawan, Organisasi International Educatinal Achievment (IEA) pada tahun 2000 menempatkan Indonesia pada urutan ke 38 dari 39 negara, sekaligus terendah diantara negara ASEAN, yang diteliti soal kemampuan membaca anak usia SD-nya.

Hasil penelitian lainnya dari Education For All (EFA) Global Monitoring Report tahun 2005 menyebutkan Indonesia adalah negara ke 8 dengan populasi butu huruf (pada usia 10 tahun ke atas) terbesar, yaitu sekitar 18,5 juta penduduk. Angka yang tidak sedikit.

Dan sedihnya, kualitas sebuah bangsa salah satunya terukur dari angka melek huruf dan kemampuan membaca mayarakatnya. UNDP (United Nations Developmant Programme) menjadikan ukuran ini sebagai penentu tinggi rendahnya indeks pembangunan manusia atau HDI (Human Development Index). Dan tinggi rendahnya HDI akan menentukan kualitas suatu bangsa.

Menguatkan hasil penelitian–penelitian sebelumnya, survei UNDP pada tahun 2005, menempatkan HDI Indonesia di nomor 117 dari 175 negara. Memprihatinkan!

Ada yang bisa membaca tapi kemampuan berbahasanya sangat rendah. Tahun 2004 ketika indeks kelulusan anak SMA dinaikkan, banyak siswa SMA yang tidak lulus. UNESCO membuat riset, ternyata keterbacaan anak Indonesia hanya 0,9%. Artinya kalau mereka membaca 100 kata, hanya 9 kata yang mereka kuasai. Jauh sebelumnya pada tahun 1990, temuan Indra Ardiana menunjukkan bahwa siswa sekolah menengah belum dapat berbahasa tulis dengan baik.

Tak jauh berbeda dengan orang awan pada umumnya, ternyata kondisi kaum cendikia pun tak kalah tragis. Tradisi keilmuan kaum cendikia kita masih lemah. Bangsa ini lebih kuat tradisi lisannya ketimbang tradisi tulis. Dosen dan guru kita lebih pede mengajar dengan berceramah, sedikit sekali dosen dan guru kita yang memberikan bahan ajarnya berupa tulisan mereka sendiri.

Internet dan Pewarisan Pengetahuan.

Memang tradisi keilmuan kita lemah dan memang tradisi tulis kita buruk, tetapi orang yang tidak memiliki minat baca dapat diubah menjadi peminat baca jika kita mampu mengkondisikan orang tersebut menyukai bacaan, dimotivasi dengan bertahap dengan menyenangi bacaan – bacaan ringan menuju bacaan yang lebih berat. Orang yang takut menulis karena takut dibilang jelek, dapat kita rangsang dan motivasi untuk terus menulis dan melahirkan karya.

Dahulu untuk menerbitkan sebuah tulisan harus menggunakan media cetak, tapi sekarang semua orang bisa menerbitkan tulisannya sendiri dengan berbagai emdia yang ada. Tak perlu takut untuk menulis, karena ada tak perlu risau ditolak penerbit atau redekatur media massa. Anda bisa menulis lewat blog, facebook, twitter, dan media lain yang dapat anda gunakan.

Kelebihan internet juga dapat menghubungkan orang dari berbagai pelosok dunia. sehingga penyebaran sebuah infromasi dapat dengan mudah tersebar ke berbagai orang di belahan dunia ini. Kelebihan ini menutupi kelemahan ketika kita mengirim buku via pos yang memakan waktu lebih lama serta lebih mahal, karena disamakan dengan mengirim dokumen berharga.

Selain itu, konten digital juga mudah untuk diduplikasikan dan membutuhkan waktu yang relatif cepat. Berbeda dengan dunia cetak yang membutuhkan waktu yang lama untuk melakukan duplikasi.

Kemudahan-kemudahan yang ditawarkan oleh internet di atas, seharusnya dapat kita maksimalkan untuk pewarisan ilmu pengetahuan kepada sesama manusia

Alangkah indahnya jika ulama dan kaum cendikia menuliskan pemikiran dan mewariskan ilmu pengetahuan yang dimilikinya di internet, kemudian pembaca yang berasal dari berbagai pelosok bumi mengambil ilmu tersebut untuk kemudian ia sebarkan ke orang lain di sekitarnya. Semoga ke depan, di pelosok negeri ini lahir cendikiawan-cendikiawan muslim yang ilmunya bermanfaat bagi ummat manusia, tak hanya berasal dari Jawa. Semoga! (Ahmad-Yunus)

sumber: insanmadanilearning.wordpress.com

The Best Education System in the World

Tahukah Anda negara mana yang kualitas pendidikannya menduduki peringkat pertama di dunia? Kalau Anda tidak tahu, tidak mengapa karena memang banyak yang tidak tahu bahwa peringkat pertama untuk kualitas pendidikan adalah Finlandia. Kualitas pendidikan di negara dengan ibukota Helsinki , dimana perjanjian damai dengan GAM dirundingkan, ini memang begitu luar biasa sehingga membuat iri semua guru di seluruh dunia.

Peringkat I dunia ini diperoleh Finlandia berdasarkan hasil survei internasional yang komprehensif pada tahun 2003 oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD). Tes tersebut dikenal dengan nama PISA mengukur kemampuan siswa di bidang Sains, Membaca, dan juga Matematika. Hebatnya, Finlandia bukan hanya unggul secara akademis tapi juga menunjukkan unggul dalam pendidikan anak-anak lemah mental. Ringkasnya, Finlandia berhasil membuat semua siswanya cerdas.

Lantas apa kuncinya sehingga Finlandia menjadi Top No 1 dunia? Dalam masalah anggaran pendidikan Finlandia memang sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara di Eropa tapi masih kalah dengan beberapa negara lainnya.

Finlandia tidaklah mengenjot siswanya dengan menambah jam-jam belajar, memberi beban PR tambahan, menerapkan disiplin tentara, atau memborbardir siswa dengan berbagai tes. Sebaliknya, siswa di Finlandia mulai sekolah pada usia yang agak lambat dibandingkan dengan negara-negara lain, yaitu pada usia 7 tahun, dan jam sekolah mereka justru lebih sedikit, yaitu hanya 30 jam perminggu. Bandingkan dengan Korea , ranking kedua setelah Finnlandia, yang siswanya menghabiskan 50 jam perminggu

Lalu apa dong kuncinya? Ternyata kuncinya memang terletak pada kualitas gurunya. Guru-guru Finlandia boleh dikata adalah guru-guru dengan kualitas terbaik dengan pelatihan terbaik pula. Profesi guru sendiri adalah profesi yang sangat dihargai, meski gaji mereka tidaklah fantastis. Lulusan sekolah menengah terbaik biasanya justru mendaftar untuk dapat masuk di
sekolah-sekolah pendidikan dan hanya 1 dari 7 pelamar yang bisa diterima, lebih ketat persaingainnya ketimbang masuk ke fakultas bergengsi lainnya seperti fakultas hukum dan kedokteran! Bandingkan dengan Indonesia yang guru-gurunya dipasok oleh siswa dengan kualitas seadanya dan dididik oleh perguruan tinggi dengan kualitas seadanya pula.

Dengan kualitas mahasiswa yang baik dan pendidikan dan pelatihan guru yang berkualitas tinggi tak salah jika kemudian mereka dapat menjadi guru-guru dengan kualitas yang tinggi pula. Dengan kompetensi tersebut mereka bebas untuk menggunakan metode kelas apapun yang mereka suka, dengan kurikulum yang mereka rancang sendiri, dan buku teks yang mereka pilih sendiri. Jika negara-negara lain percaya bahwa ujian dan evaluasi bagi siswa merupakan
bagian yang sangat penting bagi kualitas pendidikan, mereka justru percaya bahwa ujian dan testing itulah yang menghancurkan tujuan belajar siswa. Terlalu banyak testing membuat kita cenderung mengajar siswa untuk lolos ujian, ungkap seorang guru di Finlandia. Padahal banyak aspek dalam pendidikan yang tidak bisa diukur dengan ujian. Pada usia 18 th siswa mengambil ujian untuk mengetahui kualifikasi mereka di perguruan tinggi dan dua pertiga lulusan melanjutkan ke perguruan tinggi.

Siswa diajar untuk mengevaluasi dirinya sendiri, bahkan sejak Pra-TK!

Ini membantu siswa belajar bertanggungjawab atas pekerjaan mereka sendiri, kata Sundstrom, kepala sekolah di SD Poikkilaakso, Finlandia.

Dan kalau mereka bertanggungjawab mereka akan bekeja lebih bebas. Guru tidak harus selalu mengontrol mereka.

Siswa didorong untuk bekerja secara independen dengan berusaha mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Siswa belajar lebih banyak jika mereka mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Kita tidak belajar apa-apa kalau kita tinggal menuliskan apa yang dikatakan oleh guru. Disini guru tidak mengajar dengan metode ceramah, Kata Tuomas Siltala, salah
seorang siswa sekolah menengah. Suasana sekolah sangat santai dan fleksibel. Terlalu banyak komando hanya akan menghasilkan rasa tertekan dan belajar menjadi tidak menyenangkan, sambungnya.

Siswa yang lambat mendapat dukungan yang intensif. Hal ini juga yang membuat Finlandia sukses. Berdasarkan penemuan PISA , sekolah-sekolah di Finlandia sangat kecil perbedaan antara siswa yang berprestasi baik dan yang buruk dan merupakan yang terbaik menurut OECD.

Remedial tidaklah dianggap sebagai tanda kegagalan tapi sebagai kesempatan untuk memperbaiki. Seorang guru yang bertugas menangani masalah belajar dan prilaku siswa membuat program individual bagi setiap siswa dengan penekanan tujuan-tujuan yang harus dicapai, umpamanya: Pertama, masuk kelas; kemudian datang tepat waktu; berikutnya, bawa buku, dlsb. Kalau mendapat PR siswa bahkan tidak perlu untuk menjawab dengan benar, yang penting mereka berusaha.

Para guru sangat menghindari kritik terhadap pekerjaan siswa mereka.

Menurut mereka, jika kita mengatakan “Kamu salah” pada siswa, maka hal tersebut akan membuat siswa malu. Dan jika mereka malu maka ini akan menghambat mereka dalam belajar. Setiap siswa diperbolehkan melakukan kesalahan. Mereka hanya diminta membandingkan hasil mereka dengan nilai sebelumnya, dan tidak dengan siswa lainnya. Jadi tidak ada sistem ranking-rankingan. Setiap siswa diharapkan agar bangga terhadap dirinya masing-masing.

Ranking-rankingan hanya membuat guru memfokuskan diri pada segelintir siswa tertentu yang dianggap terbaik di kelasnya. Kehebatan sistem pendidikan di Finlandia adalah gabungan antara kompetensi guru yang tinggi, kesabaran, toleransi dan komitmen pada keberhasilan melalui tanggung jawab pribadi. Kalau saya gagal dalam mengajar seorang siswa, kata seorang guru, maka itu berarti ada yang tidak beres dengan pengajaran saya! Benar-benar ucapan guru yang sangat bertanggungjawab.

Diambil dari Top of the Class – Fergus Bordewich

Multiple Choice Agama

Media Indonesia, 12 Oktober 2009

Seorang teman Edu mengeluh soal bagaimana anaknya belajar agama di sekolah. Awalnya dia tak cukup peduli dengan pemahaman agama anaknya yang masih duduk di kelas 4 SD, sampai suatu ketika anaknya mengajaknya untuk salat berjemaah. Habis salat, anaknya menunjukkan lembar hasil ulangan agama harian. Dengan perasaan cemas bercampur geli sekaligus, teman Edu akhirnya mencoba membaca hasil ulangan tersebut.

Sebuah pertanyaan terbuka dalam soal ujian agama berbunyi “Di manakah turunnya surah al-Baqarah?” Dengan enteng dan lugu anaknya menjawab “Surah al-Baqarah turun di Klaten.” Jelas sekali si anak memaknai konsep turun seperti konsep keseharian dia yang terbiasa naik-turun bus kota ketika pergi dan pulang sekolah. Artinya, ada yang salah dari guru ketika menyampaikan konsep turunnya sebuah surah di dalam Alquran.

Yang lebih mengagetkan tentu saja ketika anak teman Edu ini menjawab beberapa pertanyaan berbentuk multiple choices. Salah satunya adalah soal yang berbunyi “Siapakah yang wajib menerima zakat?” Dari sekian banyak pilihan, si anak dengan percaya diri menjawab malaikat sebagai satu-satunya makhluk yang berhak menerima zakat.

Terjadinya miskonsepsi pada diri seorang siswa dalam menangkap pesan moral pelajaran agama jelas menunjukkan hal yang sangat ironis. Jawaban-jawaban si anak sangat mengganggu teman Edu, persis karena jawaban anaknya menjadi daya tarik tersendiri yang menggelikan sekaligus mencemaskan. Bagaimana tidak, apa yang sebenarnya terjadi pada proses pelajaran agama anak-anak kita di tengah hiruk-pikuk era digital tentu saja membuat kita khawatir. Kita menjadi bertanya-tanya, apa yang salah dengan cara, metodologi, dan materi agama yang diajarkan kepada anak-anak kita di sekolah?

Sejauh yang Edu pahami, pelajaran agama sesungguhnya dimaksudkan untuk menumbuhkan keimanan anak-anak. Namun yang terjadi kemudian adalah konsep iman seperti dipaksa untuk diteskan dalam pengertian tes mata pelajaran pada umumnya. Mata pelajaran agama dapat menjadi lahan untuk merangsang dan menumbuhkan iman anak-anak kita, asal dia tidak diujikan melalui nomor-nomor soal untuk dijawab. Dengan geram teman Edu bertanya, “Apakah siswa yang hafal empat rukun iman lebih beriman dari yang hafal dua? Apakah siswa yang dapat menghafal 15 asmaul husna lebih beriman daripada yang hafal 14?”

Sekali lagi pelajaran agama adalah proses menumbuhkan sikap dan perilaku yang baik, positif, dan prososial. Selain itu, pelajaran agama adalah proses mengembangkan respons etis siswa, supaya (sehingga) mereka tersentuh dan memberikan respons kalau melihat lingkungannya jorok, peduli dan tergerak ketika melihat kemiskinan, dan tergugah setiap kali berhadapan dengan ketidakadilan-baik di kelas, di sekolah, di rumah, maupun di masyarakat. Di sini kita pada dasarnya melihat iman dalam aksi.

Perlu diingat kembali falsafah pendidikan agama sebagai praktik-bukan hafalan materi. Melalui pelajaran agama, siswa dari berbagai level-dari SD sampai SMA-tidak belajar substansi pelajaran agama dalam rangka menghadapi ujian atau tes dan sesudah itu mereka lupakan. Selain itu, guru juga jangan berperan sebagai pengajar yang mempersiapkan siswanya menghadapi tes pelajaran agama. Agama sebagai praktik berarti agama yang sudah dihayati dan diamalkan di berbagai konteks kehidupan siswa, khususnya di kelas, lingkungan sekolah, dan masyarakatnya.

Menurut teman Edu, hampir semua buku teks pelajaran agama yang ada bukanlah buku yang tepat bagi pentingnya pendidikan agama yang kita maksudkan. Hampir semua soal dalam buku tersebut berbentuk multiple-choice! Seperti kegalauan teman Edu tadi, bahkan konsep-konsep keagamaan pun harus dikaitkan dan dibicarakan dalam konteks pengalaman siswa sehari-hari, tidak diujikan sebagai hafalan apalagi dalam bentuk multiple-choice atau benar-salah.

Karena itu sistem penilaian dalam bentuk portofolio dan bentuk soal yang terbuka terhadap kesadaran siswa merupakan metode yang perlu dilatihkan kepada guru-guru agama kita. Selaras dengan mekanisme penilaian portofolio di atas, penilaian dalam pelajaran agama tidak selalu berarti mengoreksi lembar jawaban soal yang diujikan pada hari dan tanggal ujian. Penilaian guru terhadap siswa bertolak dari bahan-bahan portofolio yang telah dikumpulkan dari minggu ke minggu berdasarkan evaluasi dan revisi terhadap target kinerja siswa. Malcolm Forbes memiliki kata kunci yang baik tentang ini, yaitu The goal of education is to replace an empty mind with an open mind.

sumber: klipingut.wordpress.com

Tips Cara Belajar yang Baik dan Benar

Belajar merupakan hal yang wajib dilakukan oleh para pelajar dan mahasiswa. Belajar pada umumnya dilakukan di sekolah ketika jam pelajaran berlangsung dibimbing oleh Bapak atau Ibu Guru. Belajar yang baik juga dilakukan di rumah baik dengan maupun tanpa PR / pekerjaan rumah. Belajar yang dilakukan secara terburu-buru akibat dikejar-kejar waktu memiliki dampak yang tidak baik.

Berikut ini adalah tips dan triks yang dapat menjadi masukan berharga dalam mempersiapkan diri dalam menghadapi ulangan atau ujian :

1. Belajar Kelompok

Belajar kelompok dapat menjadi kegiatan belajar menjadi lebih menyenangkan karena ditemani oleh teman dan berada di rumah sendiri sehingga dapat lebih santai. Namun sebaiknya tetap didampingi oleh orang dewasa seperti kakak, paman, bibi atau orang tua agar belajar tidak berubah menjadi bermain. Belajar kelompok ada baiknya mengajak teman yang pandai dan rajin belajar agar yang tidak pandai jadi ketularan pintar. Dalam belajar kelompok kegiatannya adalah membahas pelajaran yang belum dipahami oleh semua atau sebagian kelompok belajar baik yang sudah dijelaskan guru maupun belum dijelaskan guru.

2. Rajin Membuat Catatan Intisari Pelajaran

Bagian-bagian penting dari pelajaran sebaiknya dibuat catatan di kertas atau buku kecil yang dapat dibawa kemana-mana sehingga dapat dibaca di mana pun kita berada. Namun catatan tersebut jangan dijadikan media mencontek karena dapat merugikan kita sendiri.

3. Membuat Perencanaan Yang Baik

Untuk mencapai suatu tujuan biasanya diiringi oleh rencana yang baik. Oleh karena itu ada baiknya kita membuat rencana belajar dan rencana pencapaian nilai untuk mengetahui apakah kegiatan belajar yang kita lakukan telah maksimal atau perlu ditingkatkan. Sesuaikan target pencapaian dengan kemampuan yang kita miliki. Jangan menargetkan yang yang nomor satu jika saat ini kita masih di luar 10 besar di kelas. Buat rencana belajar yang diprioritaskan pada mata pelajaran yang lemah. Buatlah jadwal belajar yang baik.

4. Disiplin Dalam Belajar

Apabila kita telah membuat jadwal belajar maka harus dijalankan dengan baik. Contohnya seperti belajar tepat waktu dan serius tidak sambil main-main dengan konsentrasi penuh. Jika waktu makan, mandi, ibadah, dan sebagainya telah tiba maka jangan ditunda-tunda lagi. Lanjutkan belajar setelah melakukan kegiatan tersebut jika waktu belajar belum usai. Bermain dengan teman atau game dapat merusak konsentrasi belajar. Sebaiknya kegiatan bermain juga dijadwalkan dengan waktu yang cukup panjang namun tidak melelahkan jika dilakukan sebelum waktu belajar. Jika bermain video game sebaiknya pilih game yang mendidik dan tidak menimbulkan rasa penasaran yang tinggi ataupun rasa kekesalan yang tinggi jika kalah.

5. Menjadi Aktif Bertanya dan Ditanya

Jika ada hal yang belum jelas, maka tanyakan kepada guru, teman atau orang tua. Jika kita bertanya biasanya kita akan ingat jawabannya. Jika bertanya, bertanyalah secukupnya dan jangan bersifat menguji orang yang kita tanya. Tawarkanlah pada teman untuk bertanya kepada kita hal-hal yang belum dia pahami. Semakin banyak ditanya maka kita dapat semakin ingat dengan jawaban dan apabila kita juga tidak tahu jawaban yang benar, maka kita dapat membahasnya bersama-sama dengan teman. Selain itu

6. Belajar Dengan Serius dan Tekun

Ketika belajar di kelas dengarkan dan catat apa yang guru jelaskan. Catat yang penting karena bisa saja hal tersebut tidak ada di buku dan nanti akan keluar saat ulangan atau ujian. Ketika waktu luang baca kembali catatan yang telah dibuat tadi dan hapalkan sambil dimengerti. Jika kita sudah merasa mantap dengan suatu pelajaran maka ujilah diri sendiri dengan soal-soal. Setelah soal dikerjakan periksa jawaban dengan kunci jawaban. Pelajari kembali soal-soal yang salah dijawab.

7. Hindari Belajar Berlebihan

Jika waktu ujian atau ulangan sudah dekat biasanya kita akan panik jika belum siap. Jalan pintas yang sering dilakukan oleh pelajar yang belum siap adalah dengan belajar hingga larut malam / begadang atau membuat contekan. Sebaiknya ketika akan ujian tetap tidur tepat waktu karena jika bergadang semalaman akan membawa dampak yang buruk bagi kesehatan, terutama bagi anak-anak.

8. Jujur Dalam Mengerjakan Ulangan Dan Ujian

Hindari mencontek ketika sedang mengerjakan soal ulangan atau ujian. Mencontek dapat membuat sifat kita curang dan pembohong. Kebohongan bagaimanapun juga tidak dapat ditutup-tutupi terus-menerus dan cenderung untuk melakukan kebohongan selanjutnya untuk menutupi kebohongan selanjutnya. Anggaplah dengan nyontek pasti akan ketahuan guru dan memiliki masa depan sebagai penjahat apabila kita melakukan kecurangan.

Semoga tips cara belajar yang benar ini dapat memberikan manfaat untuk kita semua, amin.

sumber: freezta.wordpress.com

Seperti Inikah Matematika yang Menyenangkan?

Banyak cara membuat Matematika menjadi pelajaran yang mudah dan menyenangkan. Dari yang tradisional menggunakan batang lidi, sampai yang mutakhir ala Glenn Doman. Kuncinya cuma kreativitas.

Penuturan Djomon Bapila, Kepala SD 008 Kalampising, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur, ini misalnya. Djomon mengaku, dia mewajibkan para siswa kelas I untuk membawa batang-batang lidi ke sekolah.

“Lalu, saya minta mereka mengikatnya dengan jumlah untuk masing-masing ikat sebanyak 10 lidi. Itulah alat hitung mereka,” ujar Djomon, awal Oktober lalu.

“Sederhana memang, tetapi hanya itu yang termurah, tercepat, dan termudah untuk diserap oleh siswa. Dengan lidi-lidi ini, mereka menjadi aktif belajar dan tak sadar bisa menghitung dengan tangkas,” tambahnya.

Lain Djomon, lain pula Sugimun. Guru Matematika SMPN I Lumbis, Kabupaten Nunukan, ini punya cara jitu untuk membuat siswanya tertarik dan mudah mengerti pelajaran Matematika yang ia ajarkan. Salah satunya, Sugimun mengajak para siswa bermain gaple atau yang lebih akrab disebut domino.

Ya, “domino Matematika”. Sugimun sudah membuktikan bahwa domino tersebut bisa memudahkan siswa mengenal pelajaran Matematika tentang bilangan pecahan.

Tak ubahnya bermain domino, setelah kartu pertama dilempar, kartu berikutnya akan mengikuti. Namun, jika pada domino sesungguhnya berisi kumpulan atau urutan angka-angka, maka kartu pada “domino Matematika” berisi berbagai bilangan pecahan.

“Saya berpikir, apa pun yang ada di sekitar kita, baik itu di lingkungan rumah maupun sekolah bisa dimanfaatkan. Sederhananya, Matematika itu tidak rumit dan mudah dimengerti siswa, asalkan gurunya bisa memudahkan siswa menyerapnya,” ujar Sugimun.

“Pernah, waktu pelajaran tentang bangun bidang, seperti kubus, balok, segitiga, atau kerucut, saya minta siswa melihat ke semua sisi bangunan (sekolah), mulai dari dinding sampai atap, ternyata itu lebih mudah dimengerti ketimbang hanya teori di papan tulis,” ujar lulusan Universitas Mulawarman ini.

Glenn Doman

Khusus anak balita, mereka memerlukan sistem pembelajaran, metode, dan sarana yang tepat supaya bisa merasa senang dan mudah saat mempelajari Matematika.

Berangkat dari fungsi otak yang memiliki kemampuan menyerap informasi yang luar biasa pada seorang anak, Dr Glenn Doman menunjukkan betapa mudahnya mengajarkan Matematika ke anak balita dan menjadikan proses belajar tersebut begitu menyenangkan.

Menurut Irene F Mongkar, seorang praktisi metode Glenn Doman, pada masa tiga tahun pertama, otak balita mengalami perkembangan yang sangat pesat. Akibatnya, stimulasi yang diberikan pada masa ini akan merangsang kecerdasannya.

Pertanyaannya, bagaimana metode ini mampu membuat pelajaran Matematika menjadi begitu menarik dan menyenangkan buat anak-anak Anda?

- Tahap Pertama, Perkenalkan Jumlah

Perlihatkan kepada anak, kartu-kartu putih berukuran 28 x 28 cm dengan gambar dot (lingkaran berdiameter 2 cm) berwarna merah, mulai dari kartu berjumlah dot 1 sampai dengan 100.

Untuk memperkenalkan jumlah, cukup dengan memberikan 5 kartu, dengan sangat cepat (2 kartu untuk 1 detik) dan diulang maksimum sebanyak 3 kali sehari.

- Tahap Kedua, Perkenalkan Persamaan

Kembali kita menunjukkan kartu-kartu dot, misalnya dot berjumlah 7, 5, dan 12. Tunjukkan kartu tersebut dengan mengatakan ”tujuh ditambah lima sama dengan dua belas”.

Berikan tiga persamaan dalam setiap pengajaran, dan sehari berikan 3 kali pengajaran. Harus dicatat, setiap persamaan tidak diulang lagi.

- Tahap ketiga, Pemecahan Masalah

Siapkan kartu dot berjumlah 4, 7, 11, dan 16. Lalu, tunjukkan kartu tersebut dengan mengatakan ”Empat ditambah tujuh sama dengan 11 atau 16?”

Biarkan si anak memilih, dan berikan dia cukup waktu berpikir dan menunjukkan jawabannya. Berikan anak balita kesempatan untuk menggunakan kemampuannya.

- Tahap keempat, Pengenalan Angka

Pengenalan ini prinsipnya seperti pada tahap 1. Adapun pada tahap kelima, perkenalkan persamaan dengan angka yang ditulis dalam karton panjang berukuran 10 x 50 cm, dengan berbagai jenis persamaan, misalnya 7 + 1 + 11 – 5 + 2 – 4.

Dengan cara yang sederhana, waktu yang singkat, sikap gembira dan menyenangkan, kita dapat mengenalkan Matematika kepada anak balita. Dengan begitu, anak balita akan mulai menyenangi Matematika.

sumber: kompas.com

Kreatif Cara Belajar Siswa Aktif

Kalau saya punya kampus, saya akan menerapkan Student-Centered Learning secara total. Nah, jalannya perkuliahan akan seperti ini:

Satu, mahasiswa menentukan sendiri materi yang dia ingin pelajari, dan cara belajarnya. Sembilan puluh lima persen dia yang menentukan; dosen atau Prodi hanya memberikan uraian garis besar kurikulum plus penjabaran isi mata kuliah, setelah itu mereka hanya duduk-duduk di ruangannya menunggu permintaan mahasiswa.

Lho, kan mahasiswa tuh masih baru? Masih ijo? Belum tahu apa-apa tentang mata kuliah? Lha ya itu makanya mereka harus memBACA! Baca itu penjabaran isi mata kuliah; kalau tertarik untuk ingin tahu lebih banyak, baru datang ke seorang dosen dan minta diajar. Kalau ternyata sudah tahu, atau merasa bisa belajar sendiri lewat Internet atau perpustakaan, ya datang saja ke perpustakaan dan belajar disana.

Dua, sekelompok mahasiswa yang menyatakan sudah berniat mengikuti satu mata kuliah berunding untuk menentukan cara belajarnya. Paling enak tuh belajar dengan cara membaca materi, terus presentasi di depan teman-teman di bawah supervisi dosen. Dosen ini yang bisa memberitahu jika diskusinya macet atau menyimpang dari arah topik utama, dan pada saat itulah dia memberikan pelurusan lewat ceramah. Jadi nggak ada ceritanya dosen memulai kuliah dengan berbicara pertama kali. Inisiatif atau tindakan belajar pertama SELALU dari mahasiswanya.

Tiga, kalau sekelompok mahasiswa sudah merasa mendapatkan cukup pengetahuan tentang suatu materi, mereka bisa menyetop perkuliahan itu, dan dosennya nggak perlu merasa sakit hati.

Empat, untuk mengukur hasil belajar mahasiswa, dosen memberikan ujian kira-kira dua bulan setelah awal masa kuliah; materi ujiannya adalah segala yang termasuk dalam satu pokok bahasan, misalnya Pengantar Ilmu Ekonomi, terentang dari pertanyaan bertipe Recall sampai Evaluasi pada taksonomi Bloom. Mahasiswa mengukur penguasaannya dengan mengerjakan tes tersebut, dan meminta dosen memberikan nilainya.

Tapi tes ini tidak wajib. Seorang mahasiswa bisa saja tidak percaya bahwa penguasaan suatu topik ditentukan oleh kemampuannya melalap soal-soal tes dan mendapat nilai A. Ya enggak papa, dia nggak usah ikut tes. Nanti di transkripnya diberikan keterangan seperti ini: “Ybs sudah melaksanakan pembelajaran tentang Pengantar Ilmu Ekonomi, yang terdiri dari sekian jam studi di perpustakaan, sekian jam berdiskusi kelompok di bawah panduan dosen, sekian jam menulis paper dengan judul Anu dengan tebal sekian belas halaman”.

Dengan demikian, lenyap sudah problem ngerpek dan segala macam ekses negatif ujian.

Jadi suasana pembelajaran bisa sangat cair, tidak terstruktur, tidak kaku mematuhi standar baku jumlah peserta, jumlah pertemuan, lama pertemuan, jumlah kuis segala macam. Pembelajaran bisa dilakukan di bawah pohon, di kantin, via YM atau milis, di depan laptop atau ruang komputer, atau di kelas; lamanya bisa hanya setengah jam, atau delapan jam penuh, tergantung daya serap dan daya tahan mahasiswa dan dosennya saja.

Hayoo, gimana ya kalau gagasan ini terwujud? Cita-citanya hanya satu: membuat mahasiswa secara mandiri menentukan nasibnya; dengan memberi mereka pilihan mana suka yang bagaimanapun akan menentukan profil kompetensi dan masa depan mereka, mereka pasti terlecut untuk menjadi lebih dewasa. Menjadi lebih dewasa artinya: sadar untuk lebih banyak membaca, mendengarkan penjelasan dengan penuh perhatian, dan mau bersusah payah menempuh proses untuk menjadi lebih tahu.

sumber: http://patrisius.wordpress.com/

Mengenal Gaya Belajar




Oleh: Yusrizal, S.Pd.

Gaya belajar adalah kombinasi dari bagaimana informasi diserap, diatur serta diolah. Jadi, gaya belajar seseorang merupakan kombinasi dari bagaimana ia menyerap suatu informasi, kemudian mengatur dan mengolah informasi tersebut. (DePorter:2002)

Sebuah penelitian ekstensif, khususnya di Amerika Serikat, yang dilakukan oleh Profesor Ken dan Rita Dunn dari universitas St. John di Jamaica, New York, dan para pakar pemrograman Neuro Linguistik seperti, Richard Bandler dan John Grinder dan michael Grinder, telah mengidentifikasi tiga gaya belajar dan komunikasi yang berbeda.(Rose:2003)

1. Visual

Gaya belajar seperti ini lebih mengutamakan kekuatan penglihatan(mata). Belajar melalui melihat sesuatu. Orang dengan gaya belajar visual menyukai gambar, diagram, pertunjukkan, peragaan, pemutaran film atau video sebagai media pembelajaran. Berikut beberapa kharakteristik pembelajar visual:

  • Suka membaca; menonton televisi, film; menerka teka-teki atau mengisi TTS; lebih suka membaca ketimbang dibacakan; lebih suka memperhatikan ekspresi wajah ketika berbicara dengan orang lain.
  • Mengingat orang melalui penglihatan(tak pernah melupakan wajah); mengingat kata-kata dengan melihat dan biasanya bagus dalam mengeja atau melafalkan; tetapi butuh waktu lama untuk mengingat susunan atau urutan abjad jika tidak disebutkan awalnya.
  • Kalu memberi/menerima penjelasan arah lebih suka memakai peta /gambar
  • Selera pakaian: bergaya, penampilan penting, warna pilihannya sesuai, tertata atau terkoordinasi
  • Menyatakan emosi melalui ekspresi muka.
  • Menggunakan kata da ungkapan seperti: melihat, menonton, menggambarkan, sudut pandang, mencerahkan, perspektif, mengungkapkan, tampak bagiku, meneropong, fokus, cemerlang, bersemangat, dan sebagainya.
  • Aktivitas kreatif: menulis, menggambar, melukis, merancang, melukis di udara.
  • Cenderung berbicara cepat, tetapi mungkin cukup pendiam di dalam kelas.
  • Berhubungan dengan orang lain lewat kontak mata dan ekspresi wajah
  • Saat diam suka melamun atau menatap ke atas.
  • Menjalankan bisnis atas dasar hubungan personal antarwajah
  • Punya ingatan visual bagus. (ingat dimana meninggalkan sesuatu beberapa hari yang lalu.
  • Merespon lebih bagus ketika diperlihatkan sesuatu ketimbang diceritakan sesuatu.

2. Auditori

Gaya belajar Auditory lebih mengutamakan kekuatan pendengaran (telinga) Belajar melalui mendengarkan sesuatu. Orang dengan gaya belajar auditory lebih menyukai kaset audio, ceramah perkuliahan, diskusi, debat dan instruksi dalam proses belajar mengajar. Kharakteristik pembelajar auditori yaitu:

  • Suka mendengar radio, musik, sandiwara, drama, debat; lebih suka cerita yang dibacakan kepadanya dengan berbagai ekspresi
  • Ingat dengan baik nama orang; bagus dalam mengingat fakta; suka berbicara dan mempunyai perbendaharaan kata yang luas
  • Menerima dan memberikan penjelasan arah dengan kata-kata (verbal); senang menerima instruksi secara verbal
  • Selera: yang penting label, mengetahui siapa perancangnya dan dapat menjelaskan pilihan pakaiannya.
  • Mengungkapkan emosi secara verbal melalui perubahan nada bicara atau vokal
  • Menggunakan kata-kata dan ungkapan seperti: kedengarannya benar, membangkitkan lonceng, mendengarkan apa yang anda katakan, ceritakan, dengarkan, panggil, lantang, jelas, lebih dari cukup, teguran, jaga lidah anda, ungkapkan diri anda, memberi perhatian, berkata benar, dan sebagainya
  • Aktivitas kreatif: menyanyi, mendongeng, mengobrol apa saja, bermain musik, membuat cerita lucu, berdebat, berfilosofi.
  • Berbicara dengan kecepatan sedang; suka bicara bahkan dalam kelas.
  • Berhubungan dengan orang lain lewat dialog, diskusi terbuka.
  • Dalam keadaan diam, suka bercakap-cakap dengan dirinya sendiri atau bersenandung,
  • Suka menjalankan bisnis melalui telepon.
  • Cenderung mengingat dengan baik dan menghafal kata-katadan gagasan-gagasan yang pernah diucapkan.
  • Merespons lebih baik tatkala mendengar informasi ketimbang membacanya.

3. Kinestetik

Gaya belajar kinestetik lebih mengutamakan keterlibatan aktivitas fisik secara langsung. Belajar melalui aktivitas fisik. Media pembelajaran yang disukai antara lain bermain peran, kunjungan wisata, lebih menyukai pelajaran praktek ketimbang teori. Berikut kharakteristik pembelajar kinestetik:

  • Menyukai kegiatan aktif, baik sosial maupun olahraga, seperti menari dan lintas alam.
  • Ingat kejadian-kejadian; hal-hal yang terjadi.
  • Memberikan dan menerima penjelasan arah dengan mengikuti jalan yang dimaksud-“lebih mudah apabila anda mengikuti saya saja”.
  • Selera: nyaman dan “rasa” bahan lebih penting daripada gaya.
  • Mengungkapkan emosi melalui bahasa tubuh-gerak/nada otot.
  • Menggunakan kata dan ungkapan seperti: merasa, menyentuh, menangani, mulai dari awal, menaruh kartu di meja, meraba, memegang, memetik dawai, mendidihkan bergandengan tangan, mengatasi, menahan, tajam laksana pisau.
  • Aktivitas kreatif: kerajinan tangan, berkebun, menari, berolahraga
  • Berbicara agak lambat.
  • Berhubungan dengan orang lain lewat kontak fisik, mendekat/akrab, menyentuh.
  • Dalam keadaan diam selalu merasa gelisah; tidak bisa duduk tenang.
  • Suka melakukan urusan seraya mengerjakan sesuatu.
  • Ingat lebih baik menggunakan alat bantu belajar tiga dimensi
  • Belajar konsep lebih baik dengan menangani objek secara fisik.

Seseorang bisa saja memiliki sebagian kharakteristik pelajar visual, auditori dan kinestetik sekaligus. Artinya, dia bisa saja menjadi pelajar visual, sekaligus menjadi pelajar auditori; atau pelajar kinestetik, yang juga mampu untuk belajar secara visual.. Kita bisa menggunakan salah satu gaya belajar dalam menyerap informasi. Kita juga bisa menggunakan kombinasi diantara ketiga gaya belajar tersebut. Namun, tentu saja ada suatu kecenderungan dalam diri kita, gaya belajar mana yang lebih cocok dengan kita. Jika seseorang mampu mengidentifikasi gaya belajar yang cocok dengan dirinya, maka dia akan mampu menyerap informasi secara efesien.

Dalam dunia pendidikan, mengenal dan mengetahui gaya belajar merupakan suatu hal yang penting. Guru harus bisa mengidentifikasi dan mengetahui gaya belajar muridnya. Apakah muridnya lebih tertarik dengan ceramah, atau diskusi dalam preses pembelajaran? Atau lebih menyukai bermain peran dan pelajaran yang lebih bersifat praktek? Karena dalam suatu kelas terdiri dari banyak siswa dengan gaya belajar yang berbeda-beda, maka dituntut kreativitas guru untuk lebih inovatif dan kreatif menggunakan metode mengajar serta media yang digunakan. Gunakanlah berbagai metode mengajar yang berbeda, serta pakailah media pembelajaran yang variatif, sehingga mampu mengakomodir semua siswa dengan gaya belajar yang berbeda.

Nah, gaya belajar mana yang cocok dengan Anda, Visual, Auditori atau Kinestetik? Selamat belajar!!

sumber: yusrizalfirzal.wordpress.com

Pendidikan Jarak Jauh "On-Line"

Kualitas sumber daya manusia yang tangguh, unggul, kreatif dan berdaya saing tinggi merupakan aset yang sangat penting bagi kehidupan. Perbedaan kualitas sumber daya manusia antara seseorang, kelompok usaha atau suatu bangsa dengan bangsa lain menyebabkan perbedaan dalam penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan keterampilan.Hal ini menyebabkan perbedaan dalam penguasaan bidang ekonomi, politik, sosial, pertahanan dan keamanan. Bangsa yang mempunyai kualitas SDM tinggi tidak akan berada di garda depan dan dapat memimpin dunia ini. Sebaliknya, mereka yang mempunyai kualitas SDM rendah akan tertinggal, ditinggalkan dan terpinggirkan di arena percaturan kehidupan dunia. Mereka yang mempunyai kualitas SDM unggul akan menjadi penentu bagi jalannya kehidupan ekonomi, politik dan militer.

Pendidikan adalah salah satu sarana untuk meningkatkan kualitas SDM. Karena itu, kualitas pendidikan pada semua jenjang dan jenis harus ditingkatkan. Kendati keadaan perekonomian kita saat ini sedang dilanda krisis dan resesi, tetapi sektor pendidikan harus tetap mendapat prioritas. Sebab, kalau tidak, kualitas SDM semakin terpuruk, yang pada gilirannya membuat bangsa kita semakin tertinggal. Memang tepat apa yang ditayangkan dalam layanan iklan sosial di televisi bahwa kita harus tetap sekolah meskipun keadaan sangat sulit.

Untuk mengenyam pendidikan, terutama jenjang pendidikan menengah dan tinggi tidak selalu harus pergi ke sekolah atau kampus, yang berdaya tampung sangat terbatas. Seiring dengan kemajuan teknologi komunikasi dan pemanfaatan jaringan internet maupun intranet, dimungkinkan untuk bisa memperoleh pendidikan jarak jauh. Atau, apa yang disebut dengan pendidikan jarak jauh on-line, seperti dilakukan negara-negara maju. Apa lagi Indonesia merupakan negara yang terdiri atas beribu-ribu pulau dengan jumlah populasi penduduk yang sangat banyak, sangat tepat untuk menjalankan pendidikan jarak jauh on-line.

Masyarakat yang berada di Irian Jaya atau Timor Timur tidak usah jauh-jauh datang ke Jakarta hanya untuk mendapatkan pendidikan. Mereka cukup duduk di depan komputer dan dengan jari-jari bisa belajar dengan membuka internet. Dunia pendidikan, ilmu pengetahuan dan berbagai sumber informasi ada di ujung jari.

Keunggulan Dan Kelemahan

Pendidikan jarak jauh on-line melalui internet ini sangat tepat untuk diterapkan di Indonesia. Mengingat luas Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke dan jumlah penduduk yang sangat banyak, tidak mungkin tertampung di sekolah atau universitas yang sudah ada sekali pun. Dengan sarana pendidikan seperti ini dimungkinkan pencapaian upaya pemerataan distribusi pendidikan ke seluruh wilayah Tanah Air.

Sarana pendidikan jarak jauh ini memiliki beberapa keunggulan dan kelemahan. Sebagaimana dikemukakan Victor L. Magdaraog, Vice President SGV-Development Dimension International dalam seminar On-Line Learning yang diselenggarakan STMB dan PT Telkom di Bandung baru-baru ini.

Beberapa keunggulan program pembelajaran jarak jauh on-line ini adalah pertama, dimungkinkan terjadinya distribusi pendidikan ke semua penjuru Tanah Air dengan kapasitas daya tampung yang tidak terbatas, karena tidak memerlukan ruang kelas. Guru dan murid tidak perlu bertatap muka secara langsung dalam ruang kelas, karena yang digunakan adalah fasilitas komputer yang dihubungkan dengan internet atau intranet. Sehingga, dengan belajar seperti ini akan mengurangi biaya operasional pendidikan, seperti biaya pembangunan dan pemeliharaan gedung, transportasi, pemondokan, kertas, alat tulis dan sebagainya.

Kedua, tidak terbatas oleh waktu. Pembelajar dapat menentukan kapan saja waktu untuk belajar, sesuai dengan ketersediaan waktu masing-masing. Proses pembelajaran ini sangat cocok diterapkan bagi karyawan/pegawai. Proses pendidikan tidak perlu mengganggu waktu bekerja mereka. Sehingga, karyawan/pegawai masih tetap berkontribusi bagi perusahaan tempat mereka bekerja.

Ketiga, pembelajar dapat memilih topik atau bahan ajar sesuai dengan keinginan dan kebutuhan masing-masing. Hal ini sangat baik karena dapat mendukung tercapainya tujuan pembelajaran. Seperti diyakini kaum pendidik, bahwa pembelajar akan sangat efektif manakala sesuai dengan keinginan dan kebutuhan peserta didik.

Keempat, lama waktu belajar juga bergantung pada kemampuan masing-masing pembelajar. Kalau si pembelajar telah mencapai tujuan pembelajaran, ia dapat menghentikannya. Sebaliknya, apabila si pembelajar masih memerlukan waktu untuk mengulangi kembali subjek pembelajarananya, dia bisa langsung mengulanginya tanpa tergantung pada pembelajar lain atau pengajar.

Kelima adalah keakuratan dan kekinian materi pembelajaran. Mengingat, materi pembelajaran disimpan dalam komputer, berarti materi itu mudah diperbarui sesuai dengan perkembangan iptek. Kaum pembelajar dapat menanyakan hal-hal yang kurang dipahami secara langsung kepada pengajar, sehingga keakuratan jawaban dapat terjamin.

Keenam, pembelajar jarak jauh ini dapat dilaksanakan secara interaktif, sehingga menarik perhatian pembelajar.

Selain keunggulan-keunggulan tersebut, ada beberapa kelemahan yang mungkin timbul dalam sistem belajar jarak jauh on-line ini. Pertama, tingginya kemungkinan gangguan belajar. Karena sifat cara pendidikan jarak jauh ini merupakan belajar mandiri, sehingga kemungkinan terjadi gangguan selama belajar sangat mungkin, hal ini bergantung pada motivasi masing-masing pembelajar. Demikian pula dengan kemungkinan terhentinya program pembelajaran.

Kedua, kesulitan mendapat penjelasan pengajar/fasilitator yang sesegera mungkin apabila si pembelajar mendapatkan kesulitan. Si pembelajar harus menunggu pengajar untuk membuka internetnya.

Ketiga, adalah pemahaman pembelajar terhadap bahan ajar. Bisa saja terjadi kesalahan visi dan persepsi terhadap tujuan yang ditentukan. Si pembelajar merasa bahwa dia telah mencapai tujuan pembelajaran; sedangkan pengajar/fasilitator masih menganggap belum tercapai sepenuhnya. Tetapi, kesalahan visi dan persepsi ini dapat ditanggulangi, karena setiap akhir paket pembelajaran diadakan evaluasi dan refleksi.

Prospek dan Kendala

Mengingat jumlah penduduk Indonesia yang sangat banyak dan tersebar di berbagai wilayah Nusantara, serta keterbatasan daya tampung sekolah dan lembaga pendidikan lain, sehingga tidak mungkin dapat menampung semua sumber daya yang ingin belajar. Prospek pendidikan jarak jauh on-line merupakan suatu alternatif yang cukup cerah. Selain itu, perkembangan masa depan telekomunikasi Indonesia sangat mendukung terciptanya fasilitas untuk pembelajaran jarak jauh on-line ini.

Menurut perhitungan Hexindo Consult, jumlah pelanggan internet di Indonesia sampai akhir 1997 berjumlah 50.000. Sedangkan jumlah perusahaan penyelenggara jasa internet atau internet service provider yang berizin sebanyak 44 perusahaan walaupun yang aktif berjumlah 33 (SWA, edisi 17-30 September 1998). Munculnya bisnis berbagai tempat akses internet umum menunjukkan betapa besar dan antusias masyarakat terhadap jasa internet. Hal ini menunjukkan perkembangan yang cukup cerah terhadap daya dukung terciptanya pendidikan jarak jauh on-line.

Sektor telekomunikasi Indonesia pada abad ke-21 meluncurkan program Nusantara 21 yang bertujuan mengembangkan archipelago super lane dan mengembangkan nusantara multimedia community access centers untuk kepentingan seluruh lapisan masyarakat. Program ini menggabungkan seluruh sistem jaringan telekomunikasi, yaitu satelit, kabel serat optik, seluler, TV kabel, dan broadcast dalam satu konfigurasi jaringan. Jaringan ini terkoneksi langsung dengan jaringan internasional yang berkoneksi secara superhighway (SWA, edisi 17-30 September 1998). Program ini sangat mendukung terciptanya program pembelajaran jarak jauh on-line, karena akan memudahkan masyarakat untuk mengakses program pendidikan yang didistribusikan melalui jaringan internet.

Namun demikian, ada beberapa kendala penyelenggaraan pembelajaran jarak jauh on-line ini.

Pertama, pengguna jasa internet masih sedikit. Meskipun bisnis internet sudah cukup berkembang pesat, tetapi jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang lebih dari 200 juta jiwa, itu berarti dapat dikatakan jumlah 50.000 pelanggan masih sangat sedikit.

Kedua, jumlah perusahaan internet service provider juga dirasakan masih kurang, sehingga saat ini masih banyak perusahaan internet service provider yang bandwidth-nya sudah penuh sesak. Hal ini akan menghambat terjadinya proses pembelajaran jarak jauh on-line.

Ketiga, mengubah paradigma pendidikan konvensional tatap muka dalam kelas menjadi belajar mandiri dalam menghadapi komputer tidaklah mudah. Hal ini memerlukan proses pengedukasian masyarakat secara terus-menerus.

Keempat, harga perangkat komputer masih dirasakan sangat mahal. Meksipun ada beberapa kelemahan dalam sistem pembelajaran jarak jauh on-line dan kendala dalam penyelenggaraannya, tetapi mengingat keunggulan dan prospek penyelenggaraan ke depan serta untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat secara luas, — terutama bagi mereka yang tidak tertampung dalam ruang belajar di kelas, atau masyarakat yang masih jauh dari pusat pendidikan — program itu perlu bagi penyelenggara pendidikan untuk menyelenggarakan sistem pendidikan jarak jauh on-line ini.

Penyelenggara pendidikan harus sudah memulai memikirkan kembali isi (content) dalam proses pembelajaran jarak jauh on-line secara tepat. Kiranya dengan acara belajar jarak jauh on-line ini cita-cita untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sekaligus mengangkat harkat dan martabat bangsa secara keseluruhan dapat tercapai.

Manusia Indonesia di mana pun berada tetap eksis menjadi yang berkualitas unggul, tangguh, kreatif dan berdaya saing tinggi. Bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar, bukan hanya karena jumlah penduduknya melainkan karena ditopang oleh sistem pendidikan yang berkualitas.

sumber: sofiansukentes.wordpress.com

Pembelajaran Berdasarkan Masalah (PBI)



Pembelajaran berdasarkan masalah merupakan model pembelajaran yang mengikuti pola Top-down. Pembelajaran yang demikian ini merupakan implementasi dari teori belajar konstruktivisme. Penerapan pembelajaran ini adalah memecahkan masalah keseharian (authentik) sehingga anak sudah dibiasakan dengan situasi nyata sehari-hari.

Selain itu, dengan PBI, guru dapat melatih siswa untuk menjadi pembelajar mandiri, meniru peran orang dewasa dan terbiasa memandang suatu masalah dari berbagai sudut pandang disiplin ilmu yang berbeda.

Pembelajaran Berdasarkan Masalah (PBI) dikenal melalui berbagai nama seperti Pembelajaran Projek (Project Based –Learning), Pendidikan Berdasarkan Pengalaman (Experienced Based education), Belajar autentik (Autentic learning), Pembelajaran Berakar pada kehidupan nyata (Anchored instruction).

Secara garis besar PBI terdiri dari menyajikan kepada siswa situasi masalah yang autentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kapada mereka untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri. Untuk memberi gambaran tentang konsep ini, berikut ini adalah skenario yang terjadi pada suatu sekolah dasar.

Dalam skenario ini, siswa-siswa dari berbagai sekolah dasar memerankan peranan orang dewasa. Ada siswa yang berperan sebagai petani, ada siswa yang berperan sebagai penduduk kebanyakan yang sangat awam, ada juga siswa yang berperan sebagai ahli biologi yang mampu memberi penjelasan tentang bahaya pupuk bagi pantai dan lautan di daerah itu. Siswa-siswa itu seadng membahas masalah yang terjadi di lingkungan mereka, yaitu di suatu daerah di pinggiran pantai.

Nandha (10 tahun) : (sambil mengacungkan jarinya) “Saya ingin mendiskusikan tentang UU No. 130”. Setelah mendapat giliran berbicara, dia mulai berbicara; “Undang-undang itu mengatakan bahwa petani tidak dapat menggunakan pupuk pada tanahnya yang berjarak 60 meter dari teluk/pantai karena hal itu akan menyebabkan polusi pada teluk dan membunuh ikan. Petani masih dapat menanam tanaman asal tidak terlalu dekat dengan air. Kita semua akan dapat hidup lebih baik jika kita dapat menghentikan polusi di teluk itu. Bagaimana pendapat Anda?”

Ayu (10 tahun) : Mengacungkan jarinya sambil mengajukan pertanyaan “Bagaimana mungkin pupuk membahayakan petani?”

Katarina (10 tahun) : Pupuk memasok nutrient bagi alga, dan bila cukup banyak alga akan tumbuh, dan mengkonsumsi oksigen yang dibutuhkan ikan dan mahkluk hidup lain di pantai.

Farhan (11 tahun) : “Saya petani, saya tidak mungkin dapat membayar utang-utang saya kalau begini, padahal saya memiliki tiga orang anak yang harus makan. Saya akan bangkrut jika tidak dapat memupuk seluruh tanah saya?”

Pada skenario diatas, kita dapat melihat beberapa ciri-ciri PBI yang khas, yaitu siswa dilatih memerankan orang dewasa dalam memecahkan masalah nyata sehari-hari (authentic)

Pada pembelajaran ini guru melakukan scaffolding, yaitu suatu kerangka dukungan yang memperkaya inkuiri dan pertumbuhan intelektual. PBI tidak dapat terjadi tanpa guru mengembangkan lingkungan kelas yang memungkinkan terjadinya pertukaran ide cerita terbuka.

Lingkungan belajar PBI adalah berpusat pada siswa dan mendorong inkuiri terbuka dan berfikir bebas, Seluruh proses belajar mengajar yang berorientasi PBI adalah membantu siswa untuk menjadi mandiri. Siswa yang mandiri (otonom) yang percaya diri pada keterampilan intelektual mereka sendiri memerlukan keterlibatna aktif dalam lingkungan yang berorientasi pada inkuiri. Meskipun PBI memiliki sintaks yang terstruktur dengan tahapan yang jelas, norma disekitar pembelajaran adalah inkuiri terbuka dan bebas mengemukakan pendapat.

Landasan Teoritik dan Berpikir PBI

PBI berlandaskan pada psikologi kognitif. Fokus pengajaran tidak begitu menekankan kepada apa yang sedang dilakukan siswa (perilaku siswa) melainkan kepada apa yang mereka pikirkan (kognisi) pada saat mereka melakukan kegiatan itu. Oleh karena itu peran utama guru pada PBI adalah membimbing dan memfasilitasi sehingga siswa dapat belajar berfikir dan memecahkan masalah oleh mereka sendiri.

PBI dilandasi oleh tiga pikiran ahli, yaitu sebagai berikut :

1. John Dewey dan kelas Demokrasi

Akar intelektual pembelajaran PBI adalah penelitian John Dewey. Dalam tulisannya yang berjudul Demokrasi dan Pendidikan (1916), Dewey mengemukakan pandangan bahwa sekolah seharusnya mencerminkan masyarakat yang lebih besar dan kelas merupakan laboratorium untuk pemecahan masalah yang ada dalam kehidupan nyata. Dewey menganjurkan agar guru memberi dorongan kepada siswanya terlibat dalam proyek atau tugas-tugas berorientasi masalah dan membantu mereka menyelidiki masalahnya.

2. Kill Patrick (1918) mengemukakan bahwa pembelajaran di sekolah seharusnya bermanfaat dan tidak abstrak. Agar pembelajaran itu bermanfaat serta nyata, seharusnya siswa terlibat menyelesaikan proyek yang menarik dan merupakan pilihan mereka sendiri.

3. Piaget, Vygotsky dan Kontruktivisme

Piaget menjelaskan bahwa anak kecil memiliki rasa ingin tahu bawaan dan secara terus –menerus berusaha memahami dunia sekitarnya. Rasa ingin tahu ini menurut Piaget, memotivasi mereka untuk aktif membangun pemahaman mereka tentang lingkungan yang mereka hayati. PBI dikembangkan berdasarkan kepada teori Piaget ini.

4. Bruner dan Pembelajaran Penemuan

Teori pendukung penting yang dikemukakan oleh Bruner terhadap PBI adalah pembelajaran penemuan. Pembelajaran penemuan adalah suatu model pengajaran yang menekankan pentingnya membantu siswa memahami struktur/ide kunci dari suatu disiplin ilmu. Bruner yakin pentingnya siswa terlibat di dalam pembelajaran dan dia meyakini bahwa pembelajaran yang terjadi sebenarnya melalui penemuan pribadi.

Menurut Bruner tujuan pendidikan tidak hanya meningkatkan banyaknya pengetahuan siswa tetapi juga menciptakan kemungkinan-kemungkinan untuk penemuan siswa.

Pembelajaran ini diterapkan dalam sains dan ilmu sosial, dikenal dengan penalaran induktif dan proses-proses inkuiri yang merupakan ciri metode ilmiah.

Konsep lain Bruner adalah scaffoding yang didefinisikan sebagai seseorang siswa dibantu menuntaskan masalah tertentu melampaui kapasitas perkembangannya melalui bantuan dari seorang guru atau orang lain yang memiliki kemampuan lebih.

Ciri-ciri PBI

Ciri utama PBI meliputi mengorientasikan siswa kepada masalah atau pertanyaan yang autentik, multidisiplin, menuntut kerjasama dalam penyelidikan dan menghasilkan karya. Dengan demikian secara terinci ciri PBI adalah sebagai berikut :
Mengorientasikan siswa kepada masalah autentik. Pada tahap ini guru menyusun skenario yang dapat menarik perhatian siswa, sekaligus memunculkan pertanyaan yang benar-benar nayat di lingkungan siswa serta dapat diselidiki oleh siswa kepada masalah yang autentik ini dapat berupa cerita, penyajian fenomena tertentu, atau mendemontrasikan suatu kejadian yang mengundang munculnya permasalahan atau pertanyaan. Mendemonstrasikan kejadian-kejadian yang memunculkan konfliks kognitif diyakini sangat baik untuk mengorientasikan siswa kepada masalah ini.

Berfokus pada keterkaitan antar disiplin. Meskipun PBI berpusat pada pelajaran tertentu, misalnya biologi, masalah yang dipilih benar-benar nyata agar dalam pemecahannya, siswa dapat meninjau dari berbagi mata pelajaran yang lain. Sebagai contoh masalah polusi pada contoh di atas, mencakup aspek akademis dan terapan mata pelajaran ekonomi sosiologi, parawisata, dll. Begitu pula pada masalah menyajikan makanan untuk kakek, melibatkan biologi, kesehatan, kimia dan sebagainya.

Penyelidikan autentik. PBI mengharuskan siswa melakukan penyelidikan autentik untuk mencari penyelesaian nyata terhadap masalah nyata. Mereka menganalisis dan mendefinisikan masalah, menyusun hipotesis, mengumpulkan dan menganalisis informasi/data, melakukan percobaan, membuat inferensi dan merumuskan simpulan. Metode yang digunakan sangat bergantung kepada masalah yang sedang dipelajari. Menghasilkan produk/karya dan memamerkannya. PBI menuntut siswa untuk menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya nyata atau artifak dan memamerkan. Karya tersebut dapat berupa rekaman debat, laporan, model fisik, video dan program komputer.

Tujuan PBI

PBI utamanya dikembangkan untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah dan keterampilan intelektual, belajar berbagi peran orang dewasa dengan melibatkan mereka dalam pengalaman nyata atau simulasi. PBI juga membuat siswa menjadi pembelajar yang otonom, mandiri. Secara terinci tujuan PBI adalah sebagai berikut :

  1. Keterampilan berpikir dan keterampilan memecahkan masalah. Kerjasama yang dilakukan dalam PBI, mendorong munculnya berbagi keterampilan inkuiri dan dialog dengan demikian akan berkembang keterampilan sosial dan berpikir.
  2. Permodelan Peranan Orang Dewasa
  3. Pembelajar Otonom dan Mandiri

Sintaks PBI

PBI terdiri dari lima tahap utama, yang dimulai dengan guru mengorientasikan siswa kepada situasi masalah yang autentik dan diakhiri dengan penyajian karya. Jika jangkauan masalahnya sedang-sedang saja, kelima tahapan tersebut dapat diselesaikan dalam dua sampai tiga kali pertemuan. Namun masalah yang kompleks mungkin akan membutuhkan setahun penuh untuk menyelesaikannya.

Tabel 1 Sintaks Pembelajaran Berdasarkan Masalah

Tahap-1: Orientasi siswa kepada masalah
Tingkah Laku Guru: Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, Menjelaskan logistic yang dibutuhkan, mengajukan fenomena atau demonstrasi atau cerita untuk memunculkan masalah, memotivasi siswa untuk terlibat dalam pemecahan masalah yang dipilihnya

Tahap-2: Mengorganisasi siswa untuk belajar
Tingkah Laku Guru: Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut

Tahap-3: Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok
Tingkah Laku Guru: Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah

Tahap-4: Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Tingkah Laku Guru: Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model dan membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya

Tahap-5: Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Tingkah Laku Guru: Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan

sumber: wyw1d.wordpress.com

Pembiayaan Pendidikan dalam Islam

Pendahuluan

“Orang miskin dilarang sekolah!” Demikian jeritan pilu masyarakat saat ini menanggapi mahalnya biaya pendidikan, khususnya biaya pendidikan tinggi. Betapa tidak, pembiayaan sejumlah PTN yang berformat BHMN (Badan Hukum Milik Negara) tak lagi sepenuhnya ditanggung negara. Perguruan tinggi BHMN harus mencari biaya sendiri. Pembiayaan pendidikan lalu dibebankan kepada mahasiswa. Sebagai contoh, untuk masuk fakultas kedokteran sebuah PTN melalui “jalur khusus”, ada mahasiswa yang harus membayar Rp 250 juta bahkan Rp 1 miliar (www.wikimu.com).

Mahalnya biaya pendidikan itu buah dari kebijakan Pemerintah yang mengadopsi ideologi penjajah kafir khususnya AS, yakni neo-liberalisme. Sebagai salah satu varian Kapitalisme—seperti Keynesian yang mengutamakan intervensi Pemerintah—neo-liberalisme justru sebaliknya. Neo-liberalisme merupakan bentuk baru liberalisme klasik dengan tema-tema pasar bebas, peran negara yang terbatas, dan individualisme (Adams, 2004).

Sayang sekali. Pemerintah yang semestinya bertindak bagaikan penggembala, telah berubah fungsi menjadi serigala buas yang tega menghisap darah rakyatnya sendiri. Di tengah kesulitan hidup yang berat karena kemiskinan, pendidikan mahal akibat tunduk pada agenda neo-liberalisme global semakin melengkapi kegagalan Pemerintah sekular saat ini.

Pendidikan Tanggung Jawab Negara

Beda dengan neo-liberalisme, dalam Islam pembiayaan pendidikan untuk seluruh tingkatan sepenuhnya merupakan tanggung jawab negara. Seluruh pembiayaan pendidikan, baik menyangkut gaji para guru/dosen maupun infrastruktur serta sarana dan prasarana pendidikan, sepenuhnya menjadi kewajiban negara. Ringkasnya, dalam Islam pendidikan disediakan secara gratis oleh negara (Usus at-Ta‘lîm al-Manhaji, hlm. 12).

Mengapa demikian? Sebab, negara berkewajiban menjamin tiga kebutuhan pokok masyarakat: pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Berbeda dengan kebutuhan pokok individu (sandang, pangan, dan papan) yang dijamin secara tak langsung oleh negara, pendidikan, kesehatan dan keamanan dijamin secara langsung oleh negara. Maksudnya, tiga kebutuhan ini diperoleh secara cuma-cuma sebagai hak rakyat atas negara (Abdurahman al-Maliki, 1963).

Dalilnya adalah as-Sunnah dan Ijmak Sahabat. Nabi saw. bersabda:

الإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Imam bagaikan penggembala dan dialah yang bertanggung jawab atas gembalaannya itu. (HR Muslim).

Setelah Perang Badar, sebagian tawanan musush yang tidak sanggup menebus pembebasannya diharuskan mengajarkan baca tulis kepada sepuluh anak-anak Madinah sebagai ganti tebusannya (Al-Mubarakfuri, 2005; Karim, 2001).

Ijmak Sahabat juga telah terwujud dalam hal wajibnya negara menjamin pembiayaan pendidikan. Khalifah Umar dan Utsman memberikan gaji kepada para guru, muazin, dan imam shalat jamaah. Khalifah Umar memberikan gaji tersebut dari pendapatan negara (Baitul Mal) yang berasal dari jizyah, kharaj (pajak tanah), dan usyur (pungutan atas harta non-Muslim yang melintasi tapal batas negara) (Rahman, 1995; Azmi, 2002; Muhammad, 2002).

Sejarah Islam pun telah mencatat kebijakan para khalifah yang menyediakan pendidikan gratis bagi rakyatnya. Sejak abad IV H para khalifah membangun berbagai perguruan tinggi dan berusaha melengkapinya dengan berbagai sarana dan prasarananya seperti perpustakaan. Setiap perguruan tinggi itu dilengkapi dengan “iwan” (auditorium), asrama mahasiswa, juga perumahan dosen dan ulama. Selain itu, perguruan tinggi tersebut juga dilengkapi taman rekreasi, kamar mandi, dapur, dan ruang makan (Khalid, 1994).

Di antara perguruan tinggi terpenting adalah Madrasah Nizhamiyah dan Madrasah al-Mustanshiriyah di Baghdad, Madrasah an-Nuriyah di Damaskus, serta Madrasah An-Nashiriyah di Kairo. Madrasah Mustanshiriyah didirikan oleh Khalifah al-Mustanshir abad VI H dengan fasilitas yang lengkap. Selain memiliki auditorium dan perpustakaan, lembaga ini juga dilengkapi pemandian dan rumah sakit yang dokternya siap di tempat (Khalid, 1994).

Pada era Khilafah Utsmaniyah, Sultan [Khalifah] Muhammad al-Fatih (w. 1481 M) juga menyediakan pendidikan secara gratis. Di Konstantinopel (Istanbul) Sultan membangun delapan sekolah. Di sekolah-sekolah ini dibangun asrama siswa, lengkap dengan ruang tidur dan ruang makan. Sultan memberikan beasiswa bulanan untuk para siswa. Dibangun pula sebuah perpustakaan khusus yang dikelola oleh pustakawan yang cakap dan berilmu (Shalabi, 2004).

Namun, perlu dicatat, meski pembiayaan pendidikan adalah tanggung jawab negara, Islam tidak melarang inisiatif rakyatnya, khususnya mereka yang kaya, untuk berperan serta dalam pendidikan. Melalui wakaf yang disyariatkan, sejarah mencatat banyak orang kaya yang membangun sekolah dan universitas. Hampir di setiap kota besar seperti Damaskus, Baghdad, Kairo, Asfahan, dan lain-lain terdapat lembaga pendidikan dan perpustakaan yang berasal dari wakaf (Qahaf, 2005).

Di antara wakaf ini ada yang bersifat khusus, yakni untuk kegiatan tertentu atau orang tertentu; seperti wakaf untuk ilmuwan hadis, wakaf khusus untuk dokter, wakaf khusus untuk riset obat-obatan, wakaf khusus untuk guru anak-anak, wakaf khusus untuk pendalaman fikih dan ilmu-ilmu al-Quran. Bahkan sejarah mencatat ada wakaf khusus untuk Syaikh Al-Azhar atau fasilitas kendaraannya. Selain itu, wakaf juga diberikan dalam bentuk asrama pelajar dan mahasiswa, alat-alat tulis, buku pegangan, termasuk beasiswa dan biaya pendidikan (Qahaf, 2005).

Walhasil, dengan Islam rakyat akan memperoleh pendidikan formal yang gratis dari negara. Adapun melalui inisiatif wakaf dari anggota masyarakat yang kaya, rakyat akan memperoleh pendidikan non-formal yang juga gratis atau murah bagi rakyat.

Pembiayaan Pendidikan Dalam Khilafah

Sistem pendidikan formal yang diselenggarakan Negara Khilafah memperoleh sumber pembiayaan sepenuhnya dari Negara (Baitul Mal). Dalam sejarah, pada masa Khalifah Umar bin al-Khaththab, sumber pembiayaan untuk kemaslahatan umum (termasuk pendidikan) berasal dari jizyah, kharaj, dan usyur (Muhammad, 2002).

Terdapat 2 (dua) sumber pendapatan Baitul Mal yang dapat digunakan membiayai pendidikan, yaitu: (1) pos fai’ dan kharaj—yang merupakan kepemilikan negara—seperti ghanîmah, khumuûs (seperlima harta rampasan perang), jizyah, dan dharîbah (pajak); (2) pos kepemilikan umum seperti tambang minyak dan gas, hutan, laut, dan hima (milik umum yang penggunaannya telah dikhususkan). Adapun pendapatan dari pos zakat tidak dapat digunakan untuk pembiayaan pendidikan, karena zakat mempunyai peruntukannya sendiri, yaitu delapan golongan mustahik zakat (QS 9 : 60). (Zallum, 1983; an-Nabhani, 1990).

Jika dua sumber pendapatan itu ternyata tidak mencukupi, dan dikhawatirkan akan timbul efek negatif (dharar) jika terjadi penundaan pembiayaannya, maka Negara wajib mencukupinya dengan segera dengan cara berhutang (qardh). Utang ini kemudian dilunasi oleh Negara dengan dana dari dharîbah (pajak) yang dipungut dari kaum Muslim (Al-Maliki,1963).

Biaya pendidikan dari Baitul Mal itu secara garis besar dibelanjakan untuk 2 (dua) kepentingan. Pertama: untuk membayar gaji segala pihak yang terkait dengan pelayanan pendidikan seperti guru, dosen, karyawan, dan lain-lain. Kedua: untuk membiayai segala macam sarana dan prasana pendidikan, seperti bangunan sekolah, asrama, perpustakaan, buku-buku pegangan, dan sebagainya. (An-Nabhani, 1990).

Potensi Sumber Pembiayaan Pendidikan Saat ini

Telah dibahas sebelumnya ketentuan normatif mengenai sumber pembiayaan pendidikan gratis dalam Khilafah. Pertanyaannya, mampukah kita menggratiskan pendidikan sekarang dengan potensi sumber-sumber pembiayaan saat ini?

Dalam APBN 2007, anggaran untuk sektor pendidikan adalah sebesar Rp 90,10 triliun atau 11,8 persen dari total nilai anggaran Rp 763,6 triliun. (www.tempointeraktif.com, 8/1/2007). Angka Rp 90,10 triliun itu belum termasuk pengeluaran untuk gaji guru yang menjadi bagian dari Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk bidang pendidikan, serta anggaran kedinasan.

Misalkan kita ambil angka Rp 90,1 triliun sebagai patokan anggaran pendidikan tahun 2007 yang harus dipenuhi. Dengan melihat potensi kepemilikan umum (sumber daya alam) yang ada di Indonesia, dana sebesar Rp 90,1 triliun akan dapat dipenuhi, asalkan penguasa mau menjalankan Islam, bukan neo-liberalisme. Berikut perhitungannya yang diolah dari berbagai sumber:

1. Potensi hasil hutan berupa kayu [data 2007] sebesar US$ 2.5 miliar (sekitar Rp 25 triliun).
2. Potensi hasil hutan berupa ekspor tumbuhan dan satwa liar [data 1999] sebesar US$ 1.5 miliar (sekitar Rp 15 triliun).
3. Potensi pendapatan emas di Papua (PT. Freeport) [data 2005] sebesar US$ 4,2 miliar (sekitar Rp 40 triliun)
4. Potensi pendapatan migas Blok Cepu pertahun sebesar US$ 700 juta – US$ 1,2 miliar (sekitar Rp 10 triliun.

Dari empat potensi di atas saja setidak-tidaknya sudah diperoleh total Rp 90 triliun. Kalau masih kurang, jalankan penegakan hukum dengan tegas, insya Allah akan diperoleh tambahan sekitar Rp 54 triliun. Sepanjang tahun 2006, ICW (Indonesia Corruption Watch) mencatat angka korupsi Indonesia sebesar Rp 14,4 triliun. Nilai kekayaan hutan .

Indonesia yang hilang akibat illegal logging tahun 2006 sebesar Rp 40 triliun. Jadi, mewujudkan pendidikan gratis di Indonesia sebenarnya sangatlah dimungkinkan. Yang menjadi masalah sebenarnya bukan tidak adanya potensi pembiayaan, melainkan ketidakbecusan Pemerintah dalam mengelola negara. Pendidikan mahal bukan disebabkan tidak adanya sumber pembiayaan, melainkan disebabkan kesalahan Pemerintah yang bobrok dan korup.

Pemerintah seperti ini jelas tidak ada gunanya. Yang dibutuhkan rakyat adalah pemerintah yang amanah, yang setia pada Islam dan umatnya; bukan pemerintah yang tidak becus, yang hanya puas menjadi komprador asing dengan menjalankan neoliberalisme yang kafir. [KH M. Shiddiq Al-Jawi]

Daftar Pustaka

Al-Maliki, Abdurrahman, As-Siyâsah al-Iqtishâdiyah Al-Mutsla. (Hizbut Tahrir: t.p.), 1963.

Adams, Ian, Ideologi Politik Mutakhir (Political Ideology Today). Penerjemah Ali Noerzaman. (Yogyakarta: Penerbit Qalam), 2004.

Ash-Shalabi, Ali Muhammad, Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah (Ad-Dawlah al-Utsmaniyah ‘Awâmil an-Nuhûdh wa Asbâb as-Suqûth), Penerjemah Samson Rahman, (Jakarta: Pustaka al-Kautsar), 2004.

An-Nabhani, Taqiyuddin, An-Nizhâm al-Iqtishâdi fî al-Islâm. (Beirut: Darul Ummah), 1990.

Azmi, Sabahuddin, Islamic Economics. (New Delhi: Goodword Books), 2002.

Karim, Adiwarman (Ed.), Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam. (Jakarta : IIIT), 2001

Khalid, Abdurrahman Muhammad, Soal Jawab Seputar Gerakan Islam. (Bogor: Pustaka Thariqul Izzah), 1994.

Muhammad, Quthb Ibrahim, Kebijakan Ekonomi Umar bin Khaththab (As-Siyâsah al-Mâliyah li ‘Umar bin al-Khaththab), Penerjemah Ahmad Syarifuddin Shaleh. (Jakarta: Pstaka Azzam), 2002.

Qahaf, Mundzir, Manajemen Wakaf Produktif (Al-Waqf al-Islâmi Tathawwuruhu Idâratuhu Tanmiyatuhu). Penerjemah Muhyiddin Mas Rida. (Jakarta: Khalifa), 2005.

Rahman, Afzalur, Doktrin Ekonomi Islam (Economics Doctrines of Islam), Jilid 1, Penerjemah Soeroyo & Nastangin. (Yogyakarta: PT. Dhana Bhakti Wakaf), 1995.

Yurino, Ari, “Privatisasi Dunia Pendidikan: Hancurnya Pendidikan Bangsa”, http://www.wikimu.com/News/DisplayNe…id=1533&post=3.

Zallum, Abdul Qadim, Al-Amwâl fî Dawlah al-Khilâfah. (Beirut: Darul ‘Ilmi lil Malayin), 1983.


sumber: rifqiemaulana.wordpress.com