Inilah 5 Tanda Bisnis Anda Akan Gagal

Jika Anda merasakan tanda-tanda berikut, itu artinya bisnis Anda akan segera mengalami kegagalan.

Ketika Anda memulai suatu bisnis, Anda harus membenahi sifat Anda terlebih dahulu. Pertama yang harus Anda benahi adalah, membuat bisnis tidak dalam sekejap mata, Anda harus melalui proses. Bahkan proses kegagalan bisa Anda alami berulang-ulang kali sebelum Anda sukses. Nah, sekarang Anda harus tahu 5 sifat yang membuat bisnis Anda akan gagal.

Tujuan Anda

Sekali lagi, dalam berbisnis, tujuan Anda bukanlah uang. Memang siapa yang tidak mau mendapatkan uang dengan berbisnis. Menjadi seorang entrepreneur adalah untuk memecahkan masalah disekitar Anda, Anda membuat produk atau membuat inovasi agar masyarakat dapat memperoleh kemudahan. Misalnya Anda membuat website untuk melihat cuaca di suatu daerah, bukan lagi kota tetapi lebih detail. Atau Anda membuat kuliner baru. Ketika Anda berfokus dalam mengembangkan produk, uang akan datang dengan sendirinya.

Dukungan

Anda jangan terlalu sok untuk membuat bisnis hanya seorang diri. Perlu diketahui, setiap bisnis yang sudah terkenal diseluruh dunia, pasti dikerjakan oleh 2 orang lebih atau minimal 2 orang. Kenapa? Karena kekuatan kolaborasi sangat tinggi. Anda tidak akan bisa bertahan selama 1 tahun jika semuanya Anda kerjakan sendiri, walaupun Anda mempunyai karyawan sekalipun. Ingat, we better me.

Terlalu percaya diri

Ketika Anda memutuskan untuk menjadi seorang entrepreneur, Anda pasti mempunyai pikiran yang liar. Anda mempunyai pikiran liar tersebut karena membaca kisah-kisah sukses, Anda pasti ingin menjadi seperti mereka. Tetapi, jangan terlalu percaya diri. Dalam dunia entrepreneur, semuanya serba mendadak. Anda bisa mendadak bangkrut atau bahkan Anda bisa mendadak kaya mendadak. Jadi, pertama yang harus Anda lakukan adalah selalu berkonsultasi. Anda dapat menjadikan entrepreneur yang sukses menjadi panutan. Tetapi ingat, selalu percaya pada diri Anda sendiri, bukan orang lain.

Melupakan nilai

Seperti yang disebutkan di nomor pertama, apa tujuan Anda menjadi seorang entrepreneur. Untuk mendapatkan uang? Itu sudah pasti, tetapi itu bukan tujuan sebenarnya. Anda harus mempunyai nilai, nilai yang bisa bermanfaat. Misalnya, Anda mengetahui bahwa ada website, sebut saja Studentpreneur.co, website tersebut ternyata sangat sukses dalam bisnis untuk anak muda. Lalu Anda mencoba hal yang sama, membeli domain dan menulis soal bisnis. Padahal, Anda tidak mempunyai passion dibidang itu. Anda harus fokus pada bidang yang memang Anda kuasai dan memang berguna untuk masyarakat nantinya.

Waktu

Anda tidak membuat bisnis dan mendapatkan kesuksesan hanya selama 2 bulan atau bahkan setahun. Anda tidak boleh menentukan deadline kapan Anda sukses, misalnya “Saya harus sukses selama 1 tahun, jika tidak sukses maka saya akan mundur”. Anda boleh menentukan deadline agar bisnis Anda terus berjalan, tetapi jangan sampai Anda akhirnya mundur karena lamanya mendapatkan kesuksesan.

 Itulah 5 sifat yang harus Anda hindari sebagai seorang entrepreneur.

sumber: studentpreneur.co

Contoh Kisah Sukses Orang yang Pantang Menyerah

Miliarder Ini Pernah Ditolak untuk 30 Pekerjaan Berbeda

Jack Ma saat ini merupakan salah satu pengusaha paling sukses di dunia. Perusahaannya, Alibaba, menarik 100 juta konsumen dalam sehari. Kekayaannya saat ini diperkirakan $20,4 miliar.

Tapi sebelum memiliki kekayaan lebih dari Rp 262 triliun, yang membuatnya menjadi orang terkaya di China, dia ternyata telah mengalami banyak penolakan saat melamar pekerjaan.

Dikutip dari laman Business Insider, Rabu, 18 Februari 2015, Ma mengungkap setelah lulus kuliah, dia melamar 30 pekerjaan berbeda, termasuk di restoran cepat saji KFC. Semuanya ditolak.

"Saya melamar pekerjaan di kepolisian, mereka bilang Anda tidak cukup bagus. Saya melamar ke KFC, ada 24 orang yang juga melamar dan 23 orang diterima. Saya satu-satunya yang ditolak," kata Ma.

Saat Ma membuat Alibaba pada 1998, dia menemui lebih banyak kendala. Situs retail di internet itu tidak mendatangkan keuntungan selama tiga tahun pertama, memaksanya untuk kreatif.

Salah satu tantangan utamanya adalah, karena Alibaba tidak menyediakan cara melakukan pembayaran, serta tidak ada bank yang mau bekerjasama dengannya.

Ma kemudian memutuskan untuk membuat sendiri program pembayaran, yang dinamakannya Alipay. Program itu secara otomatis menukarkan kurs, pada pembayaran antara pembeli dan penjual internasional.

"Begitu banyak orang yang saya ajak bicara saat itu tentang Alipay, mengatakan bahwa ini ide terbodoh yang pernah saya miliki. Saya tidak peduli jika itu bodoh, selama orang dapat menggunakannya," ucap Ma.

Hari ini, 800 juta orang menggunakan Alipay. Jadi, apakah itu ide terbodoh?

sumber: viva.co.id

Riddah atau Murtad

Penulis: Ahmad Sarwat, Lc., MA

Tiga Jenis Penyebab Murtadnya Seorang Muslim

Menurut umumnya para ulama, setidaknya ada tiga cara seseorang untuk bisa jadi murtad, yaitu terkait dengan keyakinan tertentu di dalam hati, atau tindakan nyata tertentu dalam bentuk perbuatan, atau ucapan tertentu secara lisan.

Para ulama umumnya membuat batas-batas yang bisa dijadikan patokan untuk diperhatikan, antara lain;

1. Murtad Terkait Dengan Keyakinan

Di antara bentuk kemurtadan secara keyakinan misalnya mengingkari sifat Allah, atau menolak kebenaran Al-Quran, atau mengingkari kenabian Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

a. Mengingkari Sifat Allah

Para ulama sepakat bahwa siapa saja dari umat Islam yang meyakini bahwa tuhan itu tidak ada alias atheis, dia telah murtad dari agama Islam. Demikian juga bila mengingkari satu dari sifat-sifat Allah yang jelas, tegas, dan tsabit, maka dia telah murtad keluar dari agama Islam, seperti menyatakan Allah punya anak, istri dan sebagainya. Termasuk bila seseorang mengatakan bahwa Allah itu tidak abadi, atau sebaliknya malah mengatakan alam ini kekal abadi, maka dia telah murtad.

b. Mengingkari Kebenaran Al-Quran

Orang yang menolak kebenaran Al-Quran, bahwa kitab itu turun dari Allah subhanahu wata'ala kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, turun dengan tawatur, melalui Jibril alaihissalam, dengan bahasa Arab, serta menjadi mukjizat buat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, dan dengan itu Allah menantang orang Arab untuk membuat yang setara, maka dia sudah murtad. Termasuk di dalamnya kategori murtad adalah orang yang menolak kebenaran satu ayat dari ribuan ayat Quran, kecuali bila ayat itu memang multi tafsir atau sudah dinasakh hukumnya.

c. Mengingkari Kenabian Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam

Menolak kenabian Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam termasuk keyakinan yang sesat dan mengakibatkan murtad dari agama Islam. Sebab dasar agama Islam itu diletakkan pada keyakinan bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam adalah seorang nabi yang menjadi utusan Allah secara resmi. Maka mengingkari kenabian beliau shallallahu 'alaihi wasallam sama saja menngingkari keberadaan agama Islam. Berarti orang yang mengingkarinya telah ingkar atau kafir dari agama Islam.

2. Murtad Terkait Dengan Perkataan

Selain dengan jalan penyimpangan keyakinan, kemurtadan itu bisa terjadi akibat ucapan atau lafadz secara lisan, yaitu apabila seseorang mengucapkan sab (سبّ). Selain itu murtad juga bisa terjadi ketika seseorang melontarkan tuduhan kafir (takfir) kepada seorang muslim tanpa hak.

a. Sab

Istilah sab (سبّ) sering diartikan sebagai penghinaan atau kalimat yang merendahkan, menjelekkan, mencaci, melaknat, menghina.

Menghina Allah

Para ulama telah mencapai kata sepakat bahwa orang yang menghina Allah subhanahu wata'ala, atau mencaci, memaki, menjelekkan-Nya sebagai orang yang murtad dan keluar dari agama Islam. Walaupun hal itu hanya sekedar candaan, atau main-main belaka. [1] Dasarnya adalah firman Allah subhanahu wata'ala di dalam Al-Quran :

وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِؤُونَ لاَ تَعْتَذِرُواْ قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِن نَّعْفُ عَن طَآئِفَةٍ مِّنكُمْ نُعَذِّبْ طَآئِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُواْ مُجْرِمِينَ
Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab: "Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja". Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?" Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan daripada kamu (lantaran mereka tobat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa. (QS. At-Taubah : 65-66)

Menghina Rasulullah

Demikian juga para ulama sepakat tanpa ada perbedaan pendapat, bahwa orang yang menghina Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah murtad. Termasuk ke dalam penghinaan ketika seseorang menghina kekurangan baik pada diri beliau shallallahu 'alaihi wasallam, atau nasab dan agama. Termasuk juga melaknat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, mengejeknya, menuduhnya dengan tuduhan palsu.[2]

Menghina Para Nabi

Di antara para nabi dan rasul yang jumlahnya mencaiap 124 ribu orang itu, sebagiannya ada yang sudah jelas identitasnya dan kita mengenalnya dengan baik. Kedudukan mereka menurut para ulama sama dan sederajat dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Maka menghina atau menjelekkanpara nabi dan rasul, sama dengan dengan menghina Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, maka perbuatan seperti itu termasuk juga hal-hal yang berakibat pada kemurtadan.[3] Sedangkan menghina orang-orang yang belum masih jadi perbedaan pendapat ulama tentang status kenabiannya, meski tidak termasuk perbuatan murtad, namun menghinanya tetap saja bisa dihukum, walaupun bukan hukuman mati.

Menghina Istri-istri Nabi

Para ulama telah sepakat bahwa menghina istri Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, khususnya Asiyah radhiyallahuanha termasuk perbuatan murtad. Pelakunya bisa divonis kafir dan halal darahnya dengan dasar yang hak. Sebab pelakunya berhadapan dengan ayat Al-Quran yang sharih tentang kesuciannya di dalam surat [4]

يَعِظُكُمُ اللَّهُ أَن تَعُودُوا لِمِثْلِهِ أَبَدًا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman. (QS. An-nuur : 17)

Sedangkan istri-istri Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam selain Aisyah, apakah kedudukannya sama, dalam arti kalau ada yang menghinanya bisa divonis kafir dan halal darahnya? Pada ulama agak berbeda dalam hal ini. Mazhab Al-Hanafiyah dan Al-Hanabilah menyamakan antara semua istri Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dengan Aisyah dalam kemuliaan dan kedudukannya. Maka orang yang menghina salah satu istri beliau shallallahu 'alaihi wasallam, bisa divanis murtad dan halal darahnya. Sedangkan mazhab Al-Malikiyah dan Asy-Syafi'iyah berpendapat bahwa kedudukan para istri nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang lain selain Aisyah sama dengan para shahabat nabi yang lain. Yang menghina mereka tentu dihukum tetapi bukan divonis kafir dan murtad, serta tidak dihukum mati.

b. Takfir

Para ulama sepakat bahwa salah satu penyebab kemurtadan adalah ketika seorang muslim menuduh saudaranya yang muslim sebagai kafir tanpa bisa mempertahankan tuduhannya secara legal di majelis mahkamah syar'iyah. Dasarnya adalah sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam :

أَيُّماَ امْرِئٍ قَالَ لأَِخِيْهِ: ياَ كَافِر فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا إِنْ كاَنَ كَمَا قَالَ وَإِلاَّ رَجَعَتْ عَلَيْهِ
Siapa pun orang yang menyapa saudaranya yang muslim, 'wahai kafir', maka dia akan mendapat salah satu dari kedunyanya, yaitu benar tuduhannya atau tuduhannya kembali kepadanya. (HR. Muslim)

مَنْ دَعَا رَجُلاً بِاْلكُفْرِ أَوْ قَالَ عَدُوَّ اللهِ وَلَيْسَ كَذَلِكَ إِلاَّ حَارَ عَلَيْهِ
Orang yang menyapa seorang muslim dengan kafir atau memanggilnya dengan sebutan 'musuh Allah', padahal tidak benar, maka tuduhan itu akan berbalik kepada dirinya sendiri. (HR. Muslim)

Dari kedua hadits di atas bisa disimpulkan bahwa menuduh seorang muslim sebagai kafir atau musuh Allah, akan beresiko besar. Sebab tuduhan itu harus bisa dibuktikannya di mahakamah syar'iyah. Bila tuduhannya benar, maka penuduhnya selamat. Namun bila tidak bisa dibuktikannya, maka dirinya sendirilah yang beresiko menerima vonis kafir atau murtad. Kurang lebih ada kemiripan dengan tuduhan zina (qadzaf), dimana penuduhnya justru diancam dengan 80 cambukan apabila tidak bisa membuktikannya di mahkamaha syar'iyah.

3. Murtad Terkait Dengan Perbuatan

Di antara contoh bentuk murtad dengan perbuatan misalnya membuang mushaf ke tempat sampah, bersujud kepada berhala, meninggalkan shalat fardhu atau zakat sambil mengingkari kewajibannya.

a. Membuang Mushaf ke Tempat Sampah

Orang yang membuang mushaf Al-Quran dengan sengaja dan diniatkan untuk menghinanya, hukumnya murtad dari agama Islam, karena termasuk melakuka penghinaan kepada agama. Sedangkan bila karena ketidak-sengajaan, ada tulisan yang merupakan ayat Quran tetapi terbuang ke tempat sampah, hukumnya tidak murtad. Karena tidak dilakukan dengan sengaja dan tidak diniatkan untuk menghina Al-Quran. Untuk itu apabila ada sobekan kertas yang tidak berguna, namun terdapat potongan ayat Al-Quran, sebaiknya dibakar saja. Dasarnya adalah ketika khalifah Utsman bin Affan radhiyallahuanhu melaksanakan proses penulisan ulang khat Quran, mushaf-mushaf yang pernah ditulis oleh shahabat sebelumnya dikumpulkan lalu dibakar. Sehingga yang tersisa hanya mushaf yang sudah menjadi standar penulisan yang resmi.

b. Sujud Kepada Berhala

Seorang muslim yang bersujud kepada berhala dengan sengaja dan berniat untuk mengagungkan atau menyembahnya, maka dia telah murtad dari agam Islam. Yang termasuk berhala bukan hanya patung, tetapi juga matahari, bulan atau bintang di langit.

c. Meninggalkan Shalat Fardhu

Seorang muslim yang secara sengaja meninggalkan shalat fardhu lima waktu, dengan disertai keyakinan bahwa shalat itu tidak wajib atasnya, maka dia termasuk orang yang murtad dari agama Islam. Dalam istilah fiqih, orang yang mengingkari kewajiban shalat fardhu lima waktu disebut jahidus-shalah (جاحد الصلاة).

d. Mengingkari Kewajban Zakat

Demikian juga seorang muslim yang menolak membayar zakat, seraya mengingkari kewajiban zakat di dalam syariat Islam.

Footnote:
[1] Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 8 hal. 565
[2] Asy-Syamil, jilid 2 hal. 171
[3] Al-Qalyubi, jilid 4 hal. 175
[4] Hasyiatu Ibnu Abdin, jilid 4 hal. 237

Hukuman Dan Konsekuensi Murtad

Di antara konsekuensi vonis murtad adalah gugurnya amal, haramnya menggauli istri, haramnya pernikahan serta gugurnya hak waris. Namun dari kesemuanya, yang paling berat adalah bahwa vonis murtad dari pengadilan atau mahkamah syar'iyah adalah halalnya darah orang yang murtad, alias hukuman mati.

1. Gugur Amal Sebelumnya

Seorang muslim yang murtad dan keluar dari agama Islam, maka gugurlah amal-amal yang pernah dilakukan sebelumnya. Dasarnya adalah firman Allah subhanahu wata'ala :

وَمَن يَرْتَدِدْ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُوْلَـئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Baqarah : 217)

Al-Alusy dalam kitab tafsir beliau, Ruhul Ma'ani, menyebutkan bahwa makna hubuth di dalam ayat di atas adalah fasad atau rusak.[1]

وَمَن يَكْفُرْ بِالإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Barangsiapa yang kafir sesudah beriman maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi. (QS. Al-Maidah : 5)

An-Naisaburi menyebutkan orang yang murtad datang dengan amal yang tidak ada faidahnya, justru yang dibawa adalah madharat. Artinya, amal-amal yang dibawanya nanti di akhirat dianggap sah secara syariah.[2]

Mazhab Al-Hanafiyah memandang bahwa yang dimaksud dengan terhapusnya amalan orang yang murtad adalah hilangnya pahala. Sedangkan amalnya dianggap masih ada.[3]

Sedangkan mazhab Asy-Syafi'iyah memandang bahwa hilangnya amal orang murtad itu hanya apabila dia telah wafat. Sedangkan bila masih hidup, amal-amalnya tidak hilang. Dasarnya adalah firman Allah subhanahu wata'ala yang menyebutkan bahwa orang itu mati.

وَمَن يَرْتَدِدْ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ
Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran. (QS. Al-Baqarah : 217)

Bila orang murtad itu bertaubat, dia hanya kehilangan pahala amalnya saja, sedangkan amalnya sendiri dianggap sudah sah, sehingga tidak perlu diulangi lagi. [4]

Para ulama mengatakan bisa seorang sudah pernah mengerjakan ibadah haji dalam Islam, lalu murtad dan kembali lagi masuk Islam, maka ibadah haji yang pernah dikerjakannya menjadi gugur, seolah-olah dia belum pernah mengerjakannya. Dan oleh karena itu ada kewajiban untuk mengulangi ibadah haji.

2. Haram Menggauli Istri

Seseorang yang murtad keluar dari agama Islam, maka bila dia punya istri atau suami, secara otomatis menjadi haram untuk melakukan hubungan suami istri. Hal itu karena Islam mengharamkan terjadinya pernikahan antara muslim dan kafir.

Mazhab Al-Hanafiyah mengatakan bila salah satu pasangan murtad dari agama Islam, maka status pernikahan mereka menjadi fasakh (dibatalkan) tetapi bukan perceraian.

Mazhab Al-Malikiyah memandang bahwa bila salah satu pasangan suami istri murtad, maka statusnya adalah talak bain. Konsekuensinya, mereka diharamkan menjalankan kehidupan rumah tangga sebagaimana layaknya suami istri. Bila yang murtad itu kembali lagi memeluk agama Islam dengan bersyahadat, maka mereka harus menikah ulang dari awal.

Mazhab Asy-Syafi’iyah menyebutkan bahwa bila salah satu pasangan murtad, maka belum terjadi furqah di antara mereka berdua kecuali setelah lewat masa iddah. Dan bila pada masa iddah itu, si murtad kembali memeluk Islam, mereka masih tetap berstatus suami istri. Namun bila sampai lewat masa iddah sementar si murtad tetap dalam kemurtadannya, maka hukum pernikahan di antara mereka bukan cerai tetapi fasakh.

3. Haram Menikah Dengan Siapa pun

Pasangan suami istri bila salah satunya murtad, maka terlepaslah ikatan pernikahan di antara mereka berdua. Tetapi bila orang yang murtad ini belum menikah, maka para ulama sepakat bahwa haram hukumnya untuk menikah, baik dengan pasangan muslim, atau pun pasangan yang beragam lain, atau pun dengan pasangan yang sama-sama murtad.

Hal itu karena orang yang murtad itu statusnya tidak beragama. Disini ada perbedaan mendasar antara murtad dan pindah agama. Murtad itu sebatas divonis keluar dari agama Islam, namun tidak lantas memeluk agama yang lain. Jadi status orang murtad itu tidak memeluk agama Islam dan juga tidak memeluk agama selain Islam, dia adalah orang yang statusnya tanpa agama.

4. Gugurnya Hak Waris

Jumhur ulama, diantaranya Al-Imam Malik, Al-Imam Asy-Syafi'i dan Al-Imam Ahmad bin Hanbal sepakat bahwa oang yang murtad dan keluar dari agama Islam, maka haknya seorang ahli waris gugur dengan sendirinya. Dasarnya adalah sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam :

لاَ يَرِثُ المُسْلِمُ الكَافِرَ وَلاَ الكَافِرُ المُسْلِمَ
Tidaklah berhak seorang muslim mewarisi orang kafir, dan tidak pula orang kafir mewarisi muslim." (Bukhari dan Muslim)

Namun sebagian ulama yang mengaku bersandar pada pendapat Mu'adz bin Jabal radhiayllahuanhu mengatakan bahwa seorang muslim boleh mewarisi harta dari pewaris orang kafir, tetapi tidak boleh mewariskan kepada orang kafir. Alasan mereka adalah :

الإِسْلاَمُ يَعْلُو وَلاَ يُعْلَى عَلَيْهِ
Islam itu unggul dan tidak ada yang mengunggulinya

Sedangkan menurut mazhab Al-Hanafiyah, seorang muslim dapat saja mewarisi harta kerabatnya yang murtad. Bahkan kalangan ulama mazhab Hanafi sepakat mengatakan bahwa seluruh harta peninggalan orang murtad diwariskan kepada kerabatnya yang muslim. Pendapat ini diriwayatkan dari Abu Bakar ash-Shiddiq, Ali bin Abi Thalib, Ibnu Mas'ud, dan lainnya.

5. Hukuman Mati

Seluruh ulama sepakat bahwa hukuman buat orang yang murtad adalah hukuman mati atau dibunuh. Dasarnya adalah sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam hadits-hadits berikut ini :

لاَ يَحِلُّ دَمٍ امٍرَئٍ مُسْلِمٍ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَنّيِ رَسُولُ اللهِ إِلاَّ بِإِحْدَى ثَلاَثٍ: النَّفْسُ بِالنَّفْسِ وَالثَّيِّبُ الزَّانِي وَالتَّارِكُ لِدِيْنِهِ المُفَارِقُ لِلْجَمَاعَةِ
Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Aku (Muhammad) utusan Allah, kecuali dengan salah satu dari tiga sebab; nyawa dengan nyawa (qishash), tsayyib (orang sudah menikah) yang berzina, dan orang yang meninggalkan agamanya memisahkan diri dari jamaah (umat Islam)". (HR. Bukhari)

مَنْ بَدَّلَ دِيْنَهُ فَاقْتُلُوْهُ
Orang yang mengganti agamanya, maka bunuhlah dia (HR. Bukhari)

6. KonsekuensiHukuman Mati

Selain dihukum mati dengan cara dibunuh, ada konsekuensi lainnya, yaitu

a. Jenazahnya Tidak Dimandikan

Para ulama sepakat bahwa jenazah orang yang murtad dan dihukum mati tidak perlu dimandikan secara syar'i, karena statusnya sudah bukan muslim lagi. Padahal kewajiban memandikan jenazah hanya berlaku pada jenazah muslim.

b. Jenazahnya Tidak Dishalatkan

Para ulama juga menyepakati haramnya menshalati jenazah orang yang murtad dan dihukum mati. Karena jenazah orang yang murtad sama kedudukannya dengan jenazah orang kafir yang tidak boleh dishalatkan.

وَلاَ تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِّنْهُم مَّاتَ أَبَدًا وَلاَ تَقُمْ عَلَىَ قَبْرِهِ إِنَّهُمْ كَفَرُواْ بِاللّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُواْ وَهُمْ فَاسِقُونَ
Dan janganlah kamu sekali-kali menshalati seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik. (QS. At-Taubah : 84)

c. Jenazahnya Tidak Dikuburkan di Kuburan Muslim

Para ulama juga sepakat bahwa jenazah orang yang murtad dan dihukum mati tidak boleh dikuburkan di pekuburan orang-orang Islam. [5]

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Footnote:
[1] Al-Alusy, ruhul Ma'ani, jilid 2 hal. 157
[2] Tafsir Al-Kabir, jilid 11 hal. 148
[3] Hasyiatu Ibnu Abdin, jilid 4 hal. 400
[4] Al-Qalyubi, jilid 4 hal, 174
[5] Kifayatul Akhyar jilid 4 hal. 204

sumber: rumahfiqih.com

Membuat Keranjang dari Gelas Kemasan

Siapa sih yang tidak kenal dengan Teh Gelas? Teh dalam kemasan yang fenomenal dan banyak yang menyukainya. Meskipun banyak kemasan serupa, tapi kemasan "Teh Gelas" ini lebih mendominasi alias lebih banyak di tong sampah dan pinggir jalan dibanding kemasan merk lain. Berawal dari masalah ini, penulis merasa perlu untuk menanggulanginya. Meskipun tidak bisa membuat bersih total tapi paling tidak, sedikit bisa mengurangi pencemaran lingkungan oleh kemasan gelas ini. Setelah utak-atik cukup lama, hingga berhari-hari mengumpulkan kemasan gelas ini, akhirnya jadilah sebuah karya. Bagi yang ingin mencoba membuatnya, berikut ini cara pembuatannya, itung-itung memelihara lingkungan. Caranya mudah!

1. Siapkan alat pemotong dalam hal ini pisau cutter

2. Kumpulkan sampah gelas kemasan yang masih bisa dibersihkan.

3. Setelah dibersihkan, kemudian potong menggunakan cutter sehingga membentuk lingkaran yang keras.

4. Buat terus hingga menjadi banyak.

5. Siapkan tali plastik yang cukup panjang.

6. Langkah selanjutnya adalah merangkai lingkaran yang tadi dibuat kemudian mengikatnya dengan tali

7. Ikat dengan tali, buat sepanjang lebih kurang 60 biji

8. Kemudian ikat sebagai satu lingkaran seperti ini

9. Susunlah lingkaran-lingkaran plastik tersebut seperti ini.

10. Ulangi langkah yang sama dan tehnik yang sama untuk membuat alasnya dan hasil akhirnya adalah sebuah keranjang cucian murah meriah, bahkan gratis, cocok untuk agan yang buka usaha loundry.

Hal yang menakjubkan, tidak ada bagian yang dibuang sama sekali, semua termanfaatkan.

Kalau bosan dengan satu warna, bisa juga dibuat warna-warni hasil kolaborasi Teh Gelas, Mountea dan sepupunya.

Tutorial ini akan tetap menjadi tutorial tanpa dipraktikkan di dunia nyata. Selamat berkarya!

sumber: kaskus.co.id

Saat Anak Atau Adikmu Main iPad, Anak-Anak Bos Google dan Apple Asyik Main Tanah di Sekolah

Oleh: Nabila Inaya

Di Indonesia, mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) adalah salah satu muatan lokal yang umum ditemui. Banyak juga sekolah yang mengizinkan murid-muridnya membawa laptop untuk kepentingan mencatat atau browsing informasi saat di kelas. Selesai sekolah, anak-anak ini pun bukannya pulang ke rumah untuk istirahat; mereka justru kembali akrab dengan iPad atau game konsol mereka dengan alasan refreshing setelah seharian belajar. Saking sudah umumnya, sebagian dari kita mungkin menganggap fenomena ini sah-sah saja.

Tapi tunggu! Mari sejenak jalan-jalan ke Silicon Valley, sebuah kawasan di Amerika dimana perusahaan-perusahaan teknologi top dunia berkantor. Di tempat ini terdapat fakta yang akan membuat kita berpikir ulang,

“Apakah keputusan mengenalkan komputer pada anak sejak usia dini itu tepat?”

Ketika sekolah-sekolah lain memasukkan komputer dalam kurikulum dan berlomba membangun sekolah digital, Waldorf School of the Peninsula justru melakukan sebaliknya. Sekolah ini dengan sengaja menjauhkan anak-anak dari perangkat komputer.

Sekolah Waldorf justru fokus pada aktivitas fisik, kreativitas, dan kemampuan ketrampilan tangan para murid. Anak-anak tak diajarkan mengenal perangkat tablet atau laptop. Mereka biasa mencatat dengan kertas dan pulpen, menggunakan jarum rajut dan lem perekat ketika membuat prakarya, hingga bermain-main dengan tanah setelah selesai pelajaran olahraga.

Guru-guru di Waldorf percaya bahwa komputer justru akan menghambat kemampuan bergerak, berpikir kreatif, berinteraksi dengan manusia, hingga kepekaan dan kemampuan anak memperhatikan pelajaran.

Para petinggi di dunia IT ini membela keputusan sekolah Waldorf untuk tak memperkenalkan komputer ke anak-anak mereka metode belajar tanpa komputer justru mendapat kritikan. Banyak yang menganggap bahwa kebijakan yang dibuat Waldorf itu keliru. Meski metode pembelajaran yang mereka gunakan sudah berusia lebih dari satu abad, perdebatan soal penggunaan komputer dalam proses belajar-mengajar masih terus berlanjut.

Menurut para pendidik dan orangtua murid di Sekolah Waldorf, sekolah dasar yang baik justru harus menghindarkan murid-muridnya dari komputer. Ini disetujui oleh Alan Eagle (50), yang menyekolahkan anaknya Andie di Waldorf School of the Peninsula:

“Anak saya baik-baik saja, meskipun tak tahu bagaimana caranya menggunakan Google. Anak saya yang lain, yang sekarang di kelas dua SMP, juga baru saja dikenalkan pada komputer,” tutur Eagle, yang bekerja untuk Google.

Tanpa perangkat komputer atau kabel, kelas-kelas di Waldorf punya tampilan klasik dengan papan tulis dan kapur warna-warni. Sekolah Waldorf tampil dengan gaya ruangan kelas yang klasik. Tak banyak perangkat elektronik, layar-layar komputer, atau kabel-kabel yang menghiasi ruangan. Berhias dinding-dinding kayu, kamu hanya akan menemukan papan tulis penuh coretan kapur warna-warni. Ada rak-rak penuh berbagai jenis ensiklopedia hingga meja-meja kayu dengan tumpukan buku-buku catatan dan pensil.

Andie yang duduk di kelas 5 mendapat pelajaran membuat kaos kaki. Ketrampilan merajut dipercaya membantu anak-anak belajar memahami pola dan hitungan. Menggunakan jarum dan benang bisa mengasah kemampuan memecahkan masalah dan belajar koordinasi. Saat pelajaran bahasa di kelas 2, anak-anak akan diajak berdiri melingkar. Mereka diminta mengulang kalimat yang diucapkan guru secara bergiliran. Gilirannya ditentukan dengan melempar penghapus atau bola. Ternyata, metode belajar ini bisa jadi salah satu cara untuk mensinkronkan tubuh dan otak.

Guru kelas Andie, Cathy Waheed, mengajarkan anak-anak mengenal pecahan dengan metode yang sangat sederhana. Yup, Waheed menggunakan buah apel, kue pai, atau roti yang dipotong-potong lalu dibagikan pada murid-muridnya.

“Saya yakin dengan cara ini mereka bisa lebih mudah mengenal hitungan pecahan,” ujar Waheed, yang merupakan lulusan Ilmu Komputer dan sempat bekerja sebagai teknisi. Menurut guru-guru Waldorf, mengajarkan siswa memakai komputer tak akan membuat mereka bertambah pintar. Sampai saat ini belum ada penelitian yang bisa menjelaskan kaitan keduanya. Belum ada fakta yang mengaitkan penggunaan komputer dan prestasi siswa.

Selain dari pengajar dan orang tua murid, para ahli pendidikan pun menegaskan: “Penggunaan komputer di ruang kelas sebenarnya tidak ada alasan ilmiahnya. Sampai saat ini toh belum ada penelitian yang membuktikan bahwa keterampilan menggunakan komputer akan berpengaruh pada nilai tes atau prestasi mereka.”

Nah, apakah belajar hitungan pecahan dengan memotong apel atau merajut jauh lebih baik? Bagi Waldorf, pertanyaan ini sulit dibuktikan. Sebagai sekolah swasta, Waldorf tak berpedoman pada tes-tes dasar yang serupa dengan sekolah-sekolah lain. Mereka pun memang mengakui bahwa murid-muridnya tak akan dapat nilai setinggi anak-anak sekolah negeri jika diminta mengerjakan soal-soal tes umum. Bukan karena mereka bodoh, namun karena murid-murid Waldorf memang tak dijejali teori-teori matematika dasar sesuai kurikulum.

Namun, ketika diminta membuktikan efektivitas pendidikan di Waldorf, Association of Waldorf School di Amerika Utara menayangkan hasil penelitian yang tak main-main: “94% siswa lulusan SMA Waldorf di Amerika Serikat di antara tahun 1994 sampai 2004 berhasil masuk di berbagai jurusan di kampus-kampus bergengsi seperti Oberlin, Berkeley, dan Vassar.”

Selain faktor minimnya teknologi, kualitas pengajar yang baik di Waldorf juga dinilai berpengaruh pada keberhasilan sekolah tersebut mengirim anak-anaknya ke universitas-universitas bergengsi di Amerika. Waldorf memang tak sembarangan dalam memilih guru. Selain berpendidikan tinggi, mereka harus memiliki jam terbang yang mumpuni. Wajar saja jika Waldorf kemudian berhasil mengembangkan anak didik mereka menjadi hebat dan berprestasi.

Kualitas inilah yang kemudian membuat para orangtua percaya pada metode pengajaran Waldorf. Salah satu orangtua tersebut adalah Pierre Laurent (50), pendiri startup yang sebelumnya bekerja di Intel dan Microsoft. Bahkan saking terkesannya dengan metode Waldorf, Monica Laurent, istri Pierre, bergabung menjadi guru di sekolah ini sejak tahun 2006.

Waldorf memegang filosofi bahwa belajar-mengajar bukan perkara sederhana. Ini tentang bagaimana seharusnya menjadi manusia. Sebenarnya menurut Waldorf, memilih menggunakan teknologi komputer atau tidak bisa jadi sifatnya subyektif  atau perkara pilihan. Terserah saja, menurut kebijakan sekolah masing-masing. Namun yang harus dicatat: ketika anak sudah dibiarkan lekat dengan komputer sejak dini, bisa saja ia akan ketergantungan dan sulit melepaskan gawai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Ann Flynn — petinggi National School Boards Association yang membawahi sekolah-sekolah negeri di Amerika — tetap bersikeras bahwa pelajaran komputer itu penting. Sementara Paul Thomas, mantan guru dan profesor pendidikan yang sudah menulis lebih dari 12 buku tentang metode pendidikan publik, lebih setuju pada Waldorf. Baginya, pendekatan yang minim teknologi di dalam kelas justru sangat bermanfaat.

“Mengajar adalah pengalaman manusia. Teknologi justru bisa jadi gangguan ketika mengenal huruf dan angka, belajar hitungan, dan berpikir kritis, “ ungkap Thomas.

Keahlian di bidang IT adalah modal untuk bersaing di dunia kerja. Tapi, haruskah itu menjadi alasan untuk mengenalkan komputer pada anak sejak dini?

“Komputer itu sangat mudah. Kami di Google sengaja membuat perangkat yang ibaratnya bisa digunakan tanpa harus berpikir. Anak-anak toh tetap bisa mempelajari komputer sendiri jika usia mereka sudah dewasa.” – Alan Eagle.

Singkatnya, Eagle menjelaskan bahwa komputer itu mudah dan bisa dipelajari lewat kursus kilat sekalipun. Jadi buat apa “membunuh” kreativitas alami anak dengan memaksa mereka mempelajari komputer sejak dini?

Bukan berarti anak-anak di Waldorf dan Silicon Valley sama sekali tak melek teknologi. Siswa-siswa kelas V di Waldorf mengaku sering menghabiskan waktu mereka dengan menonton film di rumah. Seorang siswa yang ayahnya bekerja sebagai teknisi di Apple mengaku sering diminta mencoba game baru ciptaan sang ayah. Sementara seorang murid biasa berkutat dengan flight control system di akhir pekan bersama orang tuanya.

Justru anak-anak ini sudah mendapat pengetahuan teknologi dalam porsi yang pas, mengingat kebanyakan orangtua mereka adalah penggiat industri teknologi. Berkat didikan di Waldorf, anak-anak Silicon Valley mengaku tak nyaman saat melihat orang-orang di sekitarnya sibuk dengan gadget mereka.

“Aku lebih suka menulis dengan kertas dan pulpen. Ini membuatku bisa membandingkan tulisanku saat kelas I dengan yang sekarang. Kalau aku menulis di komputer ‘kan… gaya tulisannya sama semua. Dan kalau komputermu tiba-tiba rusak atau mendadak mati listrik, pekerjaanmu jadi tak selesai ‘kan?” ungkap Finn Heilig, yang ayahnya bekerja di Google.

Sekali lagi, metode pendidikan tanpa komputer bukannya bermaksud menutup akses anak untuk mengenal teknologi. Kelak, di usia tertentu mereka tetap punya kesempatan untuk mempelajarinya. Sementara di masa kanak-kanak, mereka berhak mendapat kesempatan menjadi sebenar-benarnya anak-anak.

Bagaimana nasib adik-adikmu atau anak-anakmu sendiri kelak? Apakah lebih baik mereka dikenalkan dengan gadget dan perangkat teknologi sejak dini, atau lebih baik menunggu sampai saat yang benar-benar tepat?

sumber: hipwee.com

Memunculkan Paranoid dalam Barisan Lawan, Strategi Ampuh Minim Biaya


Sebuah gagasan yang coba dimunculkan oleh seorang kolumnis Barat, David Ignatius hendaknya dapat dijadikan perhatian. Dalam laman yang dirilis oleh Washingtonpost, pada Selasa (02/12), David membeberkan idenya yang berjudul “Paranoia could be the best weapon against the Islamic State”, paranoid bisa menjadi senjata terbaik melawan Daulah Islam.

Tulisan itu dimulai dari satu hal menarik yang terkait dengan Daulah Islam. Pekan lalu, sebuah kicauan di twitter muncul menyebarkan selebaran dari Daulah Islam yang menawarkan hadiah $5.000 AS bagi siapa pun yang dapat memberikan informasi tentang “agen tentara salib” dalam jajaran mereka.

Selebaran itu dapat dinilai bahwa dalam tubuh mereka benar-benar ada agen Barat. Namun, bukan tidak mungkin selebaran itu adalah palsu. Tujuannya untuk mempengaruhi mentalitas mereka, sehingga muncul kecurigaan dan keraguan di antara pendukung Daulah, bahkan sampai ke jajaran pimpinannya.

Bagi David, selebaran itu menjadi satu bahan pemikiran sendiri. Ini merupakan sebuah tehnik peperangan untuk melemahkan, bahkan menghancurkan Daulah Islam, yaitu “Perang Non Konvensional”. Ini seperti seni berperang yang diajarkan Sun Tzu dalam karya terkenalnya “The Art of War”. Trik tipuan ini dapat membuat musuh melemah dengan sendirinya, menimbulkan tanda tanya atas doktrin mereka dan membuat keraguan atas pemimpin mereka.

Gaya bertempur non konvensional ini dapat menekan biaya perang, jauh lebih murah daripada konfrontasi langsung di medan perang. Dibandingkan dari serbuan rudal dari helikopter Apache, tehnik ini dapat membunuh musuh dengan sendirinya. Dengan menggunakan tehnik penipuan, koalisi pimpinan AS akan dapat menyaingi infiltrasi “tentara hijau” Rusia di Ukraina.

Beberapa gaya pertempuran semacam ini dicontohkan David Ignatius berikut ini:

Pada akhir tahun 1980an, Organisasi Abu Nidal hancur karena perselisihan internal yang dibangun oleh intelijen AS, Inggris, dan Yordan.

Koran The New York Times, November 1989 memuat headline yang berjudul “Arabs Say Deadly Power Struggle Has Split Abu Nidal Terror Group” (Orang-orang Arab Mengatakan Hancurnya Kekuatan Perjuangan Kelompok Teroris Abu Nidal yang Telah Terpecah).

Perpecahan itu bukanlah kebetulan. Seorang sumber mengatakan bahwa anggota kelompok teroris diberikan informasi yang membuat mereka mencurigai adanya pencurian, penculikan wanita, dan penyerangan yang dilakukan oleh teman mereka. Pada akhirnya, terjadi benturan dalam kelompok mereka, antara satu dengan yang lain.

Perang Dunia II juga memberi contoh rangkaian kasus penipuan dan manipulasi. Kasus paling terkenal adalah operasi “Double Cross” yang dilakukan Inggris. Ben Macintyre tahun 2012 menjelaskan dalam bukunya bahwa Inggris berhasil mengendalikan dan memanipulasi setiap agen Jerman yang diutus untuk memata-matai mereka. Mereka (Inggris) meniupkan kedustaan yang dapat meyakinkan mereka bahwa Komandan Jerman pada hari-H akan datang di Calais, bukan di Normandia.

Bentuk penipuan lain adalah dalam karya Macintyre tahun 2010 yang berjudul “Operation Mincemeat”. Diceritakan tentang kejadian mengambangnya mayat orang Inggris di pantai Spanyol yang diduduki Jerman – dihembuskanlah isu bahwamayat-mayat tersebut membawa surat rahasia yang menggambarkan rencana sekutu untuk menyerang Jerman melalui Yunani.Operasi ini dimaksudkan untuk menyembunyikan musuh Jerman yang sebenarnya yang menyerang melalui Sisilia.

Selain memuat contoh, David juga mengemukakan tulisan blogger favoritnya, Clint Watts, seorang mantan perwira angkatan darat dan agen khusus FBI. Pada 20 Oktober, dia memposting dalam tulisan berjudul “War on Rocks” sebuah penjelasan tentang berbagai cara untuk mendorong perselisihan dan perpecahan. “Cobalah untuk menaruh seiris keju antara (Negara Islam) Iraq yang menguasai masalah kepemimpinan dan pasukan tentara asing mereka,” kata Watts dalam blog militernya.

Atheel al-Nujaifi, Gubernur Provinsi aNinawa di Iraq mengatakan kepada David dalam sebuah wawancara hari Senin lalu bahwa gesekan antara orang asing dan warga setempat sudah mulai ada antara para jihadis di Mosul, di samping ketegangan yang terjadi antara orang Turki dan anggota kelompok dari Arab sunni.

Clint Watts juga menunjukkan harapan dari perselisihan yang semakin melebar antara kelompok preman dengan Daulah Islam dan kelompok agama yang lain. Dia mengusulkan untuk mengirim infiltran untuk membuat ekstrimis menjadi “paranoid terhadap mata-mata” dalam barisan mereka. Agen ganda semacam ini sudah berhasil dilakukan di Somalia dan Aljazair.

Tampaknya, Ignatius mendapat inspirasi dari blogger favoritnya. Ia menyarankan agar AS dan sekutu-sekutunya memikirkan operasi yang “tidak biasa” ini atas Iraq dan Suriah untuk merusak Daulah Islam.

Seni berperang tersebut diharapkan menjadi cara efektif menghancurkan Daulah Islam. Sebenarnya bukan terbatas pada Daulah Islam, tetapi terhadap musuh-musuh AS yang lain. Operasi yang minim biaya, namun berdampak maksimal.

sumber: http://www.washingtonpost.com/opinions/david-ignatius-paranoia-could-be-the-best-weapon-against-the-islamic-state/2014/12/02/771de21e-7a5f-11e4-9a27-6fdbc612bff8_story.html

dikutip dari: kiblat.net

Paradigma Baru Bisnis Penerbitan Buku di Era Digital

Oleh: Bambang Trim

Memintal Bisnis Digital untuk “Anak BerBuDI”

Bulan November dan awal Desember  2014 ini rasa-rasanya saya terkoneksi terus dengan isu BuDI alias buku digital Indonesia. Pertama, ketika diundang menjadi pembicara dalam sharing session bersama Qbaca Telkom pertengahan November lalu. Kedua, ketika beraudiensi dengan Menteri Anies Baswedan pada minggu yang sama. Terakhir, ketika menjadi peserta sekaligus moderator untuk acara Digital Creative Camp & Business Gathering bersama Kemenpar dan Ikapi.

Topiknya semua menjurus pada pengembangan buku digital di samping isu krusial soal minat baca. Tentu yang menjadi sasaran adalah anak-anak kini yang umumnya lahir pada tahun 2000-an atau disebut-sebut sebagai Generasi Z. Generasi yang menunjukkan tanda-tanda mampu beradaptasi sangat cepat dengan teknologi.

Event-event itu menggumpalkan semangat bahwa bagaimanapun penerbitan digital sudah menjadi tantangan sekaligus peluang di depan mata. Bakal lahir anak-anak yang berBuDI alias belajar dan bermain dengan buku digital. Dari semula muncul buku digital generasi pertama dengan hanya menyajikan teks, kini telah ada buku digital Gen III dan Gen IV yang mulai menggabungkan unsur video, audio, animasi, dan game.

Hari S. Tjandra, pendiri perusahaan pengembang konten edukasi Pesona Edu dan juga Ketua Komunitas Pengembang Software Edukasi MIKTI, menyebutkan betapa peluang bisnis konten digital ini terbuka di ranah edukasi. Indonesia memiliki puluhan juta siswa yang tersebar di seluruh Nusantara dan pola belajar multimedia akan menjadi pilihan yang membuat peserta didik atau siswa menikmati proses belajar sekaligus bermain.

Dua hal pokok dari pengembangan produk penerbitan digital ini disebutkan adalahscript dan programming sehingga para penerbit akan menggabungkan dua kekuatan, yaitu pengembangan konten (content developing) dan penggunaan teknologi IT. Dengan kekayaan konten yang dimiliki penerbit Indonesia, semuanya dapat ditampilkan kini secara audio-visual sekaligus interaktif.

Dalam pertemuan dengan Menteri Anies, beliau menyampaikan salah satu kompetensi yang harus ditanamkan pada guru adalah kemampuan berkisah. Secara teori akademis, ini disebut kemampuan komunikasi naratif. Berkisah itu tidak harus identik dengan story telling atau mendongeng karena story telling adalah bagian dari berkisah. Namun, berkisah contohnya adalah kemampuan menyampaikan materi pembelajaran dengan pengantar  yang membangkitkan rasa ingin tahu anak.

Saya jadi teringat teman saya, Tasaro GK, penulis novel yang kini senang menyebut dirinya sebagai juru cerita. Tasaro yang juga memiliki sekolah PAUD di Jatinangor ini dalam beberapa bulan terakhir kerap mengisi kelas untuk guru terkait teknik menyampaikan pembelajaran secara berkisah. Akhirnya, kami berdua bersepakat ampuhnya komunikasi naratif ini digunakan dalam metode pembelajaran. Bahkan, hal itu semakin menemukan momentumnya dengan pembelajaran multimedia.

Nah, dalam hal ini perangkat pembelajaran digital atau multimedia akan sangat membantu guru mengembangkan sebuah kisah. Contoh sederhana dari sebuah video yang diunduh melalui Youtube, guru sudah bisa menyampaikan pembelajaran secara berkisah berbasis multimedia. Tentu akan lebih mantap jika ada produk yang menyiapkan segalanya untuk guru menjelaskan sebuah pembelajaran dilengkapi animasi, game edukasi, dan tentunya audio-video.

Guru dan  peserta didik sama-sama menikmati aktivitas BerBuDI tadi alias belajar dan bermain dengan buku digital. Ya, produk ini tetap dinamakan sebagai BUKU yang menghimpun segalanya, bukan dinamakan bahan ajar multimedia atau game edukasi. Sebut saja BUKU atau biar lebih spesifik disebut BuDI alias buku digital Indonesia. Jadi, BuDI adalah buku generasi terbaru untuk generasi kini dan masa mendatang Indonesia.

Benang merah, kuning, dan hijau untuk masuk ke dalam ranah atau rimba digital sudah tersedia. Ada Ikapi atau Ikatan Penerbit Indonesia yang memiliki kompetensi pengembangan skrip atau konten dasar buku digital. Ada MIKTI atau Masyarakat Industri Kreatif Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia yang memiliki kompetensi di bidang programming. Tentulah Indonesia tidak kalah-kalah amat dari negara maju seperti Amerika Serikat ataupun Korea Selatan dalam soal pengembangan teknologi digital. Jadi, tinggal bagaimana benang-benang itu dipintal menjadi sebuah peluang dan kompetensi di ranah bisnis buku digital.

Saya sendiri sudah coba memintal jalan digital itu sejak 2013. Teknologi begitu digjaya dan tidak ada yang mampu membendungnya, termasuk kita. Bahwa buku fisik masih akan tetap bertahan, ya. Namun, bahwa buku digital tidak akan berpengaruh hebat, ini yang masih bisa didebat.

Tidak ada kata lain memang bahwa content is king dan king maker-nya adalah orang-orang kreatif yang mampu membaca peluang dan menciptakan karya yang bergigi. Jadi, tidak peduli apa pun medianya, mau kertas atau bukan kertas, orang-orang kreatif tetap punya lahan untuk berkarya, termasuk di ranah BuDI. Karena itu, bersiaplah menyambut Generasi BerBuDI itu.

Catatan dari Digital Creative Camp: Ko-Penerbitan, Era yang Segera Tiba

Eloklah saya mengulas kembali tentang penerbitan digital setelah beberapa waktu lalu diselenggarakan Digital Creative Camp & Business Gathering, kerja sama Kemenpar dan Ikapi. Banyak hal sebagai catatan tersisa dan tentunya menarik untuk diungkapkan.

Salah satunya paparan Pak Hari S. Tjandra, pendiri Pesona Edu yang juga menjadi Ketua Bidang Pengembangan Komunitas Software Edukasi MIKTI, tentang peluang para penerbit untuk masuk ke dalam bisnis digital. Hal menarik yang dikemukakan Pak Hari bahwa peluang terbesar untuk pengembangan produk digital adalah di dunia edukasi dengan pangsa pasar jutaan siswa di Indonesia, terutama untuk siswa PAUD dan SD.

Ya, kita maklumi bersama bahwa kini telah lahir generasi Z atau disebut juga generasi digital yang begitu mampu beradaptasi dengan perangkat (gadget) berbasis digital. Mungkin untuk generasi kita saat ini, buku fisik masih menjadi pilihan. Namun, tiada yang dapat menebak apakah buku fisik masih akan tetap menarik bagi anak-anak generasi digital tersebut?

Mau tidak mau, penerbit harus masuk ke dalam “rimba digital”. Mau tidak mau karena jika tidak mau, ya alamat tidak akan mampu berkiprah banyak di tengah geliat bisnis digital yang terus tumbuh.

Melanjutkan paparan Pak Hari, patut dicatat bahwa pengembangan produk digital, semacam aplikasi pembelajaran, buku digital, ataupun game sebaiknya tidak berbasis internet (online) karena belum ada satu pun negara yang berhasil melaksanakan. Ya, bayangkan jika jutaan siswa mengakses konten yang sama pada satu waktu, bisa dipastikan server akan down.

Karena itu, basis offline adalah yang paling mungkin dilakukan. Pesona Edu contohnya, hanya menggunakan internet untuk verifikasi dan seterusnya dijalankan secara offline.

Lebih jauh Pak Hari mengungkapkan bahwa kunci pengembangan penerbitan digital ada dua, yaitu script dan programming. Dua hal ini memerlukan kompetensi spesifik. Dalam hal skrip, tentu diperlukan para penulis dan editor berjiwa pengembang konten. Lalu, dalam hal pemograman tentu diperlukan progamer komputer yang andal. Plus tambahannya dalam konteks pengembangan buku, terutama buku anak yaitu ilustrator/desainer yang juga mantap.

Kompetensi penerbit tentu ada sebagai pengembang konten alias mengembangkan buku cetak menjadi skrip penerbitan digital. Di sini terjadi kolaborasi antara penulis, editor, ilustrator, dan desainer. Hal ini terutama berlaku untuk buku-buku digital generasi II, III, dan IV yang menanamkan (embedded) konten, seperti animasi, game, film, berikut audio.

Kompetensi pemograman tentu dimiliki beberapa perusahaan berbasis IT. Lebih mudah menandai perusahaan seperti ini adalah dengan melihat anggota asosiasi Masyarakat Industri Kreatif Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia (MIKTI) yang memang bergerak dalam bidang pengembangan komunitas industri kreatif berbasis digital, seperti animasi, game, dan software. Hal lain terkait pemograman ini tentu soal sekuriti untuk melindungi karya digital dari pembajakan yang tidak bertanggung jawab.

Karena itu, satu hal yang lebih cepat dilakukan daripada penerbit harus berinvestasi di bidang IT adalah melakukan kerja sama ko-penerbitan (co-publishing) dengan perusahaan berbasis digital. Pola ini sangat dimungkinkan seperti halnya ditawarkan Pesona Edu yang mulai membuka peluang kerja sama seperti ini pada awal 2015.

Saya sangat bersetuju dengan pendapat Mas Putut Widjanarko dari Mizan bahwa sebaiknya penerbit berkonsentrasi atau mengubah pola pikirnya sebagai pengembang konten, bukan sekadar produsen buku fisik. Sebagai pengembang konten, penerbit tidak akan terpengaruh dengan perubahan yang terjadi pada media penyampai informasi.

Going digital? Tentu hal itu tidak semestinya menjadi kebimbangan lagi. Era generasi digital sudah di depan mata. [BT]

sumber: manistebu.com

Mimpi Bertemu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam

Disalin dari Ceramah Syaikh Muhammad Hassan

“Bagaimana aku bisa bertemu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam mimpi?”

Ada seorang murid yang bertanya kepada gurunya: ”Oh guruku, tolong ajari aku untuk bertemu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam didalam mimpiku”

Kemudian gurunya bertanya balik kepada muridnya: “Apakah engkau sungguh-sungguh ingin bertemu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam mimpimu?”

Muridnya menjawab : “Benar, guruku”

Sang guru: “Bila begitu, kau aku undang untuk makan malam dirumahku. malam ini, makanlah bersama ku”

Muridnya menjawab: “Masya Allah, rezeki dan berkah”.

Kemudian muridnya pergi ke gurunya yang mendidik dan mencerahkan itu. Lalu gurunya menyiapkan makan malam untuk muridnya, dengan makanan yang sangat asin karena banyak garam, dan muridnya juga tidak diperbolehkan minum. Sang murid pun makan dan dia kehausan, tapi gurunya tidak memperbolehkan dia minum.

Selesai makan, muridnya meminta gurunya untuk mengajarinya. Tapi sang guru belum mengajarinya, dan muridnya disuruh untuk segera tidur. Dan gurunya akan mengajarkan kepadanya bagaimana bertemu Rasul dalam mimpi nanti sebelum fajar. Muridnya menjawab: “Baiklah”

Dan dia pun tertidur dan dia sangat menantikan pelajaran yang akan diajarkan oleh gurunya nanti. Tiba waktunya sebelum fajar, gurunya memanggil murid tersebut, “Kemarilah anakku”. Muridnya pun mendatangi beliau dan berkata: “Ajari aku guruku”.

Gurunya berkata: “Tunggu sebentar. pertama, apakah engkau melihat (bermimpi) sesuatu dalam tidurmu semalam?”

Muridnya menjawab: “Iya guruku”

Gurunya bertanya: “Apa yang engkau lihat?”

Muridnya menjawab: “Aku melihat langit yang sedang hujan, aku melihat sungai yang mengalir, dan aku melihat ombak lautan didepanku.”

Oh, dia tertidur disaat sangat kehausan, oleh karena itu ia bermimpi melihat langit yang sedang hujan, melihat sungai yang mengalir dan melihat lautan yang berombak.

Kemudian gurunya berkata: “Benar anakku, kau telah berkata jujur, bila niat mu benar, maka mimpimu juga akan terwujud. Dan bila cintamu kepada rasul itu benar, maka engkau akan bertemu rasul”.

Dan itulah jawabannya dari pertanyaan yang diawal telah ditanyakan.

Lalu kemudian ada seseorang yang bertanya kepada Syekh: “Apakah mungkin Rasulullah shallallahu alaihi wasallam datang dalam mimpi kita apabila kita memakan makanan yang haram?  Kepada orang yang gemar melihat yang haram? Kepada orang yang berkata bohong atau berbuat curang? Kepada orang yang bersepakat dengan riba? Kepada orang yang munafik? Apakah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam akan datang kepada orang yang seperti itu?”

Syekh muhammad menjawab: “Tidak, tidak, tidak! Demi Allah, Allah dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak akan datang kecuali kepada orang-orang yang Allah dan Rasul cintai.”

Ada orang yang berziarah kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan ada orang yang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ziarahi.

Ada cerita seorang wanita yang mulia, seorang ibu, kita memohon kepada Allah untuk memberkahi dan diberikan ampunan oleh Allah. Seorang ibu yang mengirimkan anaknya kepadaku disaat sedang mengajar di Al-Mansurah.

Anak itu berkata: “Maafkan aku ya syekh, aku harus menyampaikan ini. Ibuku berpesan bahwa ibuku menunggu syekh untuk berkunjung ke rumahnya malam ini.”

Kemudian Syekh Muhammad berkata: “Baiklah, ayo kita kerumahmu.”

Syekh dan anak tadi pergi ke sebuah desa dan tiba di rumah yang terbuat dari tanah liat, rumah yang miskin. Dan didalamnya ada seorang wanita yang berumur 70tahun. MasyaAllah, wanita tersebut tidak pernah berhenti tidak semenit, tidak sedetik bershalawat kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Ketika ia melihatmu dan mengucapkan salam, ia langsung bershalawat kembali, dan seterusnya.

Syekh Muhammad merasa rendah diri di dekat seorang ibu yang mulia ini, Subhanallah. Kemudian Syekh Muhammad berkata: “Oh ibuku, engkau memanggilku dan aku datang, sekarang katakan kepadaku, apa yang mengganggumu? InsyaAllah, aku berjanji kepadamu pekan depan, aku akan membawa saudaraku seorang spesialis medis, sesuai dengan yang engkau butuhkan, dan ia akan memeriksamu disini.”

Kemudian wanita tersebut melihat Syekh Muhammad dan tersenyum dengan indah. Dia berkata: ”Oh anakku, oh anakku, aku tahu penyakitku dan aku tahu obatnya, aku tahu penyakitku dan aku tahu obatnya.”

Syekh Muhammad berkata: “Demi Allah, katakan kepadaku”

Wanita itu berkata kepadaku: “Oh anak ku, Nabi kita Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak datang dalam mimpiku selama tiga malam”

Ya Allah…

Syekh muhammad bertanya kepadanya: ”Beliau tidak datang dalam mimpimu selama tiga malam? apakah Beliau selalu datang kepadamu setiap malam?”

Wanita itu menjawab: “Demi Allah, bila satu malam saja berlalu tanpa melihat Rasul, aku menjadi sakit, aku telah sakit selama tiga malam, aku belum melihat Rasul lagi”.

Sudah berapa tahunkah saudara dan saudari semua tidak berjumpa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam?

Kecintaan dan ketaatan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah sejalan cinta dan ketaatan kepada Allah Yang Maha Tinggi. Jadi cinta ini adalah perkara besar. Ingat kembali niatmu benar, jadi mimpimu akan benar. Dan jika cintamu benar, engkau akan bertemu rasul. Kuatkan cintamu, kuatkan cintamu saudara-saudaraku, dan demi Allah pemilik Kabbah, engkau akan senang bertemu dengan utusan Allah.

Rasulullah bersabda: “Siapa yang melihatku di dalam mimpi, ia telah benar-benar melihatku, karena syaitan tidak bisa menyerupaiku.” [HR. Tirimidzi, dia berkata ini adalah hadits hasan shahih]

Anda sudah tahu jawabannya wahai bapak-bapak yang mulia, saudara-saudaraku dan anak-anak yang aku cintai, bagai mana cara bertemu dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam? Yaitu dengan MENGIKUTINNYA DAN MENCINTAINYA.

Mengikutinya adalah buah dari mencintainya, mematuhi adalah hasil dari mencintai. Siapapun yang mengklaim mencintai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, akan tetapi tidak mendapat manfaat (tidak mengamalkan) dari ajarannya, maka akan menjadi sia-sia saja.

video

sumber: smstauhiid.com