Membuat Keranjang dari Gelas Kemasan

Siapa sih yang tidak kenal dengan Teh Gelas? Teh dalam kemasan yang fenomenal dan banyak yang menyukainya. Meskipun banyak kemasan serupa, tapi kemasan "Teh Gelas" ini lebih mendominasi alias lebih banyak di tong sampah dan pinggir jalan dibanding kemasan merk lain. Berawal dari masalah ini, penulis merasa perlu untuk menanggulanginya. Meskipun tidak bisa membuat bersih total tapi paling tidak, sedikit bisa mengurangi pencemaran lingkungan oleh kemasan gelas ini. Setelah utak-atik cukup lama, hingga berhari-hari mengumpulkan kemasan gelas ini, akhirnya jadilah sebuah karya. Bagi yang ingin mencoba membuatnya, berikut ini cara pembuatannya, itung-itung memelihara lingkungan. Caranya mudah!

1. Siapkan alat pemotong dalam hal ini pisau cutter

2. Kumpulkan sampah gelas kemasan yang masih bisa dibersihkan.

3. Setelah dibersihkan, kemudian potong menggunakan cutter sehingga membentuk lingkaran yang keras.

4. Buat terus hingga menjadi banyak.

5. Siapkan tali plastik yang cukup panjang.

6. Langkah selanjutnya adalah merangkai lingkaran yang tadi dibuat kemudian mengikatnya dengan tali

7. Ikat dengan tali, buat sepanjang lebih kurang 60 biji

8. Kemudian ikat sebagai satu lingkaran seperti ini

9. Susunlah lingkaran-lingkaran plastik tersebut seperti ini.

10. Ulangi langkah yang sama dan tehnik yang sama untuk membuat alasnya dan hasil akhirnya adalah sebuah keranjang cucian murah meriah, bahkan gratis, cocok untuk agan yang buka usaha loundry.

Hal yang menakjubkan, tidak ada bagian yang dibuang sama sekali, semua termanfaatkan.

Kalau bosan dengan satu warna, bisa juga dibuat warna-warni hasil kolaborasi Teh Gelas, Mountea dan sepupunya.

Tutorial ini akan tetap menjadi tutorial tanpa dipraktikkan di dunia nyata. Selamat berkarya!

sumber: kaskus.co.id

Saat Anak Atau Adikmu Main iPad, Anak-Anak Bos Google dan Apple Asyik Main Tanah di Sekolah

Oleh: Nabila Inaya

Di Indonesia, mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) adalah salah satu muatan lokal yang umum ditemui. Banyak juga sekolah yang mengizinkan murid-muridnya membawa laptop untuk kepentingan mencatat atau browsing informasi saat di kelas. Selesai sekolah, anak-anak ini pun bukannya pulang ke rumah untuk istirahat; mereka justru kembali akrab dengan iPad atau game konsol mereka dengan alasan refreshing setelah seharian belajar. Saking sudah umumnya, sebagian dari kita mungkin menganggap fenomena ini sah-sah saja.

Tapi tunggu! Mari sejenak jalan-jalan ke Silicon Valley, sebuah kawasan di Amerika dimana perusahaan-perusahaan teknologi top dunia berkantor. Di tempat ini terdapat fakta yang akan membuat kita berpikir ulang,

“Apakah keputusan mengenalkan komputer pada anak sejak usia dini itu tepat?”

Ketika sekolah-sekolah lain memasukkan komputer dalam kurikulum dan berlomba membangun sekolah digital, Waldorf School of the Peninsula justru melakukan sebaliknya. Sekolah ini dengan sengaja menjauhkan anak-anak dari perangkat komputer.

Sekolah Waldorf justru fokus pada aktivitas fisik, kreativitas, dan kemampuan ketrampilan tangan para murid. Anak-anak tak diajarkan mengenal perangkat tablet atau laptop. Mereka biasa mencatat dengan kertas dan pulpen, menggunakan jarum rajut dan lem perekat ketika membuat prakarya, hingga bermain-main dengan tanah setelah selesai pelajaran olahraga.

Guru-guru di Waldorf percaya bahwa komputer justru akan menghambat kemampuan bergerak, berpikir kreatif, berinteraksi dengan manusia, hingga kepekaan dan kemampuan anak memperhatikan pelajaran.

Para petinggi di dunia IT ini membela keputusan sekolah Waldorf untuk tak memperkenalkan komputer ke anak-anak mereka metode belajar tanpa komputer justru mendapat kritikan. Banyak yang menganggap bahwa kebijakan yang dibuat Waldorf itu keliru. Meski metode pembelajaran yang mereka gunakan sudah berusia lebih dari satu abad, perdebatan soal penggunaan komputer dalam proses belajar-mengajar masih terus berlanjut.

Menurut para pendidik dan orangtua murid di Sekolah Waldorf, sekolah dasar yang baik justru harus menghindarkan murid-muridnya dari komputer. Ini disetujui oleh Alan Eagle (50), yang menyekolahkan anaknya Andie di Waldorf School of the Peninsula:

“Anak saya baik-baik saja, meskipun tak tahu bagaimana caranya menggunakan Google. Anak saya yang lain, yang sekarang di kelas dua SMP, juga baru saja dikenalkan pada komputer,” tutur Eagle, yang bekerja untuk Google.

Tanpa perangkat komputer atau kabel, kelas-kelas di Waldorf punya tampilan klasik dengan papan tulis dan kapur warna-warni. Sekolah Waldorf tampil dengan gaya ruangan kelas yang klasik. Tak banyak perangkat elektronik, layar-layar komputer, atau kabel-kabel yang menghiasi ruangan. Berhias dinding-dinding kayu, kamu hanya akan menemukan papan tulis penuh coretan kapur warna-warni. Ada rak-rak penuh berbagai jenis ensiklopedia hingga meja-meja kayu dengan tumpukan buku-buku catatan dan pensil.

Andie yang duduk di kelas 5 mendapat pelajaran membuat kaos kaki. Ketrampilan merajut dipercaya membantu anak-anak belajar memahami pola dan hitungan. Menggunakan jarum dan benang bisa mengasah kemampuan memecahkan masalah dan belajar koordinasi. Saat pelajaran bahasa di kelas 2, anak-anak akan diajak berdiri melingkar. Mereka diminta mengulang kalimat yang diucapkan guru secara bergiliran. Gilirannya ditentukan dengan melempar penghapus atau bola. Ternyata, metode belajar ini bisa jadi salah satu cara untuk mensinkronkan tubuh dan otak.

Guru kelas Andie, Cathy Waheed, mengajarkan anak-anak mengenal pecahan dengan metode yang sangat sederhana. Yup, Waheed menggunakan buah apel, kue pai, atau roti yang dipotong-potong lalu dibagikan pada murid-muridnya.

“Saya yakin dengan cara ini mereka bisa lebih mudah mengenal hitungan pecahan,” ujar Waheed, yang merupakan lulusan Ilmu Komputer dan sempat bekerja sebagai teknisi. Menurut guru-guru Waldorf, mengajarkan siswa memakai komputer tak akan membuat mereka bertambah pintar. Sampai saat ini belum ada penelitian yang bisa menjelaskan kaitan keduanya. Belum ada fakta yang mengaitkan penggunaan komputer dan prestasi siswa.

Selain dari pengajar dan orang tua murid, para ahli pendidikan pun menegaskan: “Penggunaan komputer di ruang kelas sebenarnya tidak ada alasan ilmiahnya. Sampai saat ini toh belum ada penelitian yang membuktikan bahwa keterampilan menggunakan komputer akan berpengaruh pada nilai tes atau prestasi mereka.”

Nah, apakah belajar hitungan pecahan dengan memotong apel atau merajut jauh lebih baik? Bagi Waldorf, pertanyaan ini sulit dibuktikan. Sebagai sekolah swasta, Waldorf tak berpedoman pada tes-tes dasar yang serupa dengan sekolah-sekolah lain. Mereka pun memang mengakui bahwa murid-muridnya tak akan dapat nilai setinggi anak-anak sekolah negeri jika diminta mengerjakan soal-soal tes umum. Bukan karena mereka bodoh, namun karena murid-murid Waldorf memang tak dijejali teori-teori matematika dasar sesuai kurikulum.

Namun, ketika diminta membuktikan efektivitas pendidikan di Waldorf, Association of Waldorf School di Amerika Utara menayangkan hasil penelitian yang tak main-main: “94% siswa lulusan SMA Waldorf di Amerika Serikat di antara tahun 1994 sampai 2004 berhasil masuk di berbagai jurusan di kampus-kampus bergengsi seperti Oberlin, Berkeley, dan Vassar.”

Selain faktor minimnya teknologi, kualitas pengajar yang baik di Waldorf juga dinilai berpengaruh pada keberhasilan sekolah tersebut mengirim anak-anaknya ke universitas-universitas bergengsi di Amerika. Waldorf memang tak sembarangan dalam memilih guru. Selain berpendidikan tinggi, mereka harus memiliki jam terbang yang mumpuni. Wajar saja jika Waldorf kemudian berhasil mengembangkan anak didik mereka menjadi hebat dan berprestasi.

Kualitas inilah yang kemudian membuat para orangtua percaya pada metode pengajaran Waldorf. Salah satu orangtua tersebut adalah Pierre Laurent (50), pendiri startup yang sebelumnya bekerja di Intel dan Microsoft. Bahkan saking terkesannya dengan metode Waldorf, Monica Laurent, istri Pierre, bergabung menjadi guru di sekolah ini sejak tahun 2006.

Waldorf memegang filosofi bahwa belajar-mengajar bukan perkara sederhana. Ini tentang bagaimana seharusnya menjadi manusia. Sebenarnya menurut Waldorf, memilih menggunakan teknologi komputer atau tidak bisa jadi sifatnya subyektif  atau perkara pilihan. Terserah saja, menurut kebijakan sekolah masing-masing. Namun yang harus dicatat: ketika anak sudah dibiarkan lekat dengan komputer sejak dini, bisa saja ia akan ketergantungan dan sulit melepaskan gawai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Ann Flynn — petinggi National School Boards Association yang membawahi sekolah-sekolah negeri di Amerika — tetap bersikeras bahwa pelajaran komputer itu penting. Sementara Paul Thomas, mantan guru dan profesor pendidikan yang sudah menulis lebih dari 12 buku tentang metode pendidikan publik, lebih setuju pada Waldorf. Baginya, pendekatan yang minim teknologi di dalam kelas justru sangat bermanfaat.

“Mengajar adalah pengalaman manusia. Teknologi justru bisa jadi gangguan ketika mengenal huruf dan angka, belajar hitungan, dan berpikir kritis, “ ungkap Thomas.

Keahlian di bidang IT adalah modal untuk bersaing di dunia kerja. Tapi, haruskah itu menjadi alasan untuk mengenalkan komputer pada anak sejak dini?

“Komputer itu sangat mudah. Kami di Google sengaja membuat perangkat yang ibaratnya bisa digunakan tanpa harus berpikir. Anak-anak toh tetap bisa mempelajari komputer sendiri jika usia mereka sudah dewasa.” – Alan Eagle.

Singkatnya, Eagle menjelaskan bahwa komputer itu mudah dan bisa dipelajari lewat kursus kilat sekalipun. Jadi buat apa “membunuh” kreativitas alami anak dengan memaksa mereka mempelajari komputer sejak dini?

Bukan berarti anak-anak di Waldorf dan Silicon Valley sama sekali tak melek teknologi. Siswa-siswa kelas V di Waldorf mengaku sering menghabiskan waktu mereka dengan menonton film di rumah. Seorang siswa yang ayahnya bekerja sebagai teknisi di Apple mengaku sering diminta mencoba game baru ciptaan sang ayah. Sementara seorang murid biasa berkutat dengan flight control system di akhir pekan bersama orang tuanya.

Justru anak-anak ini sudah mendapat pengetahuan teknologi dalam porsi yang pas, mengingat kebanyakan orangtua mereka adalah penggiat industri teknologi. Berkat didikan di Waldorf, anak-anak Silicon Valley mengaku tak nyaman saat melihat orang-orang di sekitarnya sibuk dengan gadget mereka.

“Aku lebih suka menulis dengan kertas dan pulpen. Ini membuatku bisa membandingkan tulisanku saat kelas I dengan yang sekarang. Kalau aku menulis di komputer ‘kan… gaya tulisannya sama semua. Dan kalau komputermu tiba-tiba rusak atau mendadak mati listrik, pekerjaanmu jadi tak selesai ‘kan?” ungkap Finn Heilig, yang ayahnya bekerja di Google.

Sekali lagi, metode pendidikan tanpa komputer bukannya bermaksud menutup akses anak untuk mengenal teknologi. Kelak, di usia tertentu mereka tetap punya kesempatan untuk mempelajarinya. Sementara di masa kanak-kanak, mereka berhak mendapat kesempatan menjadi sebenar-benarnya anak-anak.

Bagaimana nasib adik-adikmu atau anak-anakmu sendiri kelak? Apakah lebih baik mereka dikenalkan dengan gadget dan perangkat teknologi sejak dini, atau lebih baik menunggu sampai saat yang benar-benar tepat?

sumber: hipwee.com

Memunculkan Paranoid dalam Barisan Lawan, Strategi Ampuh Minim Biaya


Sebuah gagasan yang coba dimunculkan oleh seorang kolumnis Barat, David Ignatius hendaknya dapat dijadikan perhatian. Dalam laman yang dirilis oleh Washingtonpost, pada Selasa (02/12), David membeberkan idenya yang berjudul “Paranoia could be the best weapon against the Islamic State”, paranoid bisa menjadi senjata terbaik melawan Daulah Islam.

Tulisan itu dimulai dari satu hal menarik yang terkait dengan Daulah Islam. Pekan lalu, sebuah kicauan di twitter muncul menyebarkan selebaran dari Daulah Islam yang menawarkan hadiah $5.000 AS bagi siapa pun yang dapat memberikan informasi tentang “agen tentara salib” dalam jajaran mereka.

Selebaran itu dapat dinilai bahwa dalam tubuh mereka benar-benar ada agen Barat. Namun, bukan tidak mungkin selebaran itu adalah palsu. Tujuannya untuk mempengaruhi mentalitas mereka, sehingga muncul kecurigaan dan keraguan di antara pendukung Daulah, bahkan sampai ke jajaran pimpinannya.

Bagi David, selebaran itu menjadi satu bahan pemikiran sendiri. Ini merupakan sebuah tehnik peperangan untuk melemahkan, bahkan menghancurkan Daulah Islam, yaitu “Perang Non Konvensional”. Ini seperti seni berperang yang diajarkan Sun Tzu dalam karya terkenalnya “The Art of War”. Trik tipuan ini dapat membuat musuh melemah dengan sendirinya, menimbulkan tanda tanya atas doktrin mereka dan membuat keraguan atas pemimpin mereka.

Gaya bertempur non konvensional ini dapat menekan biaya perang, jauh lebih murah daripada konfrontasi langsung di medan perang. Dibandingkan dari serbuan rudal dari helikopter Apache, tehnik ini dapat membunuh musuh dengan sendirinya. Dengan menggunakan tehnik penipuan, koalisi pimpinan AS akan dapat menyaingi infiltrasi “tentara hijau” Rusia di Ukraina.

Beberapa gaya pertempuran semacam ini dicontohkan David Ignatius berikut ini:

Pada akhir tahun 1980an, Organisasi Abu Nidal hancur karena perselisihan internal yang dibangun oleh intelijen AS, Inggris, dan Yordan.

Koran The New York Times, November 1989 memuat headline yang berjudul “Arabs Say Deadly Power Struggle Has Split Abu Nidal Terror Group” (Orang-orang Arab Mengatakan Hancurnya Kekuatan Perjuangan Kelompok Teroris Abu Nidal yang Telah Terpecah).

Perpecahan itu bukanlah kebetulan. Seorang sumber mengatakan bahwa anggota kelompok teroris diberikan informasi yang membuat mereka mencurigai adanya pencurian, penculikan wanita, dan penyerangan yang dilakukan oleh teman mereka. Pada akhirnya, terjadi benturan dalam kelompok mereka, antara satu dengan yang lain.

Perang Dunia II juga memberi contoh rangkaian kasus penipuan dan manipulasi. Kasus paling terkenal adalah operasi “Double Cross” yang dilakukan Inggris. Ben Macintyre tahun 2012 menjelaskan dalam bukunya bahwa Inggris berhasil mengendalikan dan memanipulasi setiap agen Jerman yang diutus untuk memata-matai mereka. Mereka (Inggris) meniupkan kedustaan yang dapat meyakinkan mereka bahwa Komandan Jerman pada hari-H akan datang di Calais, bukan di Normandia.

Bentuk penipuan lain adalah dalam karya Macintyre tahun 2010 yang berjudul “Operation Mincemeat”. Diceritakan tentang kejadian mengambangnya mayat orang Inggris di pantai Spanyol yang diduduki Jerman – dihembuskanlah isu bahwamayat-mayat tersebut membawa surat rahasia yang menggambarkan rencana sekutu untuk menyerang Jerman melalui Yunani.Operasi ini dimaksudkan untuk menyembunyikan musuh Jerman yang sebenarnya yang menyerang melalui Sisilia.

Selain memuat contoh, David juga mengemukakan tulisan blogger favoritnya, Clint Watts, seorang mantan perwira angkatan darat dan agen khusus FBI. Pada 20 Oktober, dia memposting dalam tulisan berjudul “War on Rocks” sebuah penjelasan tentang berbagai cara untuk mendorong perselisihan dan perpecahan. “Cobalah untuk menaruh seiris keju antara (Negara Islam) Iraq yang menguasai masalah kepemimpinan dan pasukan tentara asing mereka,” kata Watts dalam blog militernya.

Atheel al-Nujaifi, Gubernur Provinsi aNinawa di Iraq mengatakan kepada David dalam sebuah wawancara hari Senin lalu bahwa gesekan antara orang asing dan warga setempat sudah mulai ada antara para jihadis di Mosul, di samping ketegangan yang terjadi antara orang Turki dan anggota kelompok dari Arab sunni.

Clint Watts juga menunjukkan harapan dari perselisihan yang semakin melebar antara kelompok preman dengan Daulah Islam dan kelompok agama yang lain. Dia mengusulkan untuk mengirim infiltran untuk membuat ekstrimis menjadi “paranoid terhadap mata-mata” dalam barisan mereka. Agen ganda semacam ini sudah berhasil dilakukan di Somalia dan Aljazair.

Tampaknya, Ignatius mendapat inspirasi dari blogger favoritnya. Ia menyarankan agar AS dan sekutu-sekutunya memikirkan operasi yang “tidak biasa” ini atas Iraq dan Suriah untuk merusak Daulah Islam.

Seni berperang tersebut diharapkan menjadi cara efektif menghancurkan Daulah Islam. Sebenarnya bukan terbatas pada Daulah Islam, tetapi terhadap musuh-musuh AS yang lain. Operasi yang minim biaya, namun berdampak maksimal.

sumber: http://www.washingtonpost.com/opinions/david-ignatius-paranoia-could-be-the-best-weapon-against-the-islamic-state/2014/12/02/771de21e-7a5f-11e4-9a27-6fdbc612bff8_story.html

dikutip dari: kiblat.net

Paradigma Baru Bisnis Penerbitan Buku di Era Digital

Oleh: Bambang Trim

Memintal Bisnis Digital untuk “Anak BerBuDI”

Bulan November dan awal Desember  2014 ini rasa-rasanya saya terkoneksi terus dengan isu BuDI alias buku digital Indonesia. Pertama, ketika diundang menjadi pembicara dalam sharing session bersama Qbaca Telkom pertengahan November lalu. Kedua, ketika beraudiensi dengan Menteri Anies Baswedan pada minggu yang sama. Terakhir, ketika menjadi peserta sekaligus moderator untuk acara Digital Creative Camp & Business Gathering bersama Kemenpar dan Ikapi.

Topiknya semua menjurus pada pengembangan buku digital di samping isu krusial soal minat baca. Tentu yang menjadi sasaran adalah anak-anak kini yang umumnya lahir pada tahun 2000-an atau disebut-sebut sebagai Generasi Z. Generasi yang menunjukkan tanda-tanda mampu beradaptasi sangat cepat dengan teknologi.

Event-event itu menggumpalkan semangat bahwa bagaimanapun penerbitan digital sudah menjadi tantangan sekaligus peluang di depan mata. Bakal lahir anak-anak yang berBuDI alias belajar dan bermain dengan buku digital. Dari semula muncul buku digital generasi pertama dengan hanya menyajikan teks, kini telah ada buku digital Gen III dan Gen IV yang mulai menggabungkan unsur video, audio, animasi, dan game.

Hari S. Tjandra, pendiri perusahaan pengembang konten edukasi Pesona Edu dan juga Ketua Komunitas Pengembang Software Edukasi MIKTI, menyebutkan betapa peluang bisnis konten digital ini terbuka di ranah edukasi. Indonesia memiliki puluhan juta siswa yang tersebar di seluruh Nusantara dan pola belajar multimedia akan menjadi pilihan yang membuat peserta didik atau siswa menikmati proses belajar sekaligus bermain.

Dua hal pokok dari pengembangan produk penerbitan digital ini disebutkan adalahscript dan programming sehingga para penerbit akan menggabungkan dua kekuatan, yaitu pengembangan konten (content developing) dan penggunaan teknologi IT. Dengan kekayaan konten yang dimiliki penerbit Indonesia, semuanya dapat ditampilkan kini secara audio-visual sekaligus interaktif.

Dalam pertemuan dengan Menteri Anies, beliau menyampaikan salah satu kompetensi yang harus ditanamkan pada guru adalah kemampuan berkisah. Secara teori akademis, ini disebut kemampuan komunikasi naratif. Berkisah itu tidak harus identik dengan story telling atau mendongeng karena story telling adalah bagian dari berkisah. Namun, berkisah contohnya adalah kemampuan menyampaikan materi pembelajaran dengan pengantar  yang membangkitkan rasa ingin tahu anak.

Saya jadi teringat teman saya, Tasaro GK, penulis novel yang kini senang menyebut dirinya sebagai juru cerita. Tasaro yang juga memiliki sekolah PAUD di Jatinangor ini dalam beberapa bulan terakhir kerap mengisi kelas untuk guru terkait teknik menyampaikan pembelajaran secara berkisah. Akhirnya, kami berdua bersepakat ampuhnya komunikasi naratif ini digunakan dalam metode pembelajaran. Bahkan, hal itu semakin menemukan momentumnya dengan pembelajaran multimedia.

Nah, dalam hal ini perangkat pembelajaran digital atau multimedia akan sangat membantu guru mengembangkan sebuah kisah. Contoh sederhana dari sebuah video yang diunduh melalui Youtube, guru sudah bisa menyampaikan pembelajaran secara berkisah berbasis multimedia. Tentu akan lebih mantap jika ada produk yang menyiapkan segalanya untuk guru menjelaskan sebuah pembelajaran dilengkapi animasi, game edukasi, dan tentunya audio-video.

Guru dan  peserta didik sama-sama menikmati aktivitas BerBuDI tadi alias belajar dan bermain dengan buku digital. Ya, produk ini tetap dinamakan sebagai BUKU yang menghimpun segalanya, bukan dinamakan bahan ajar multimedia atau game edukasi. Sebut saja BUKU atau biar lebih spesifik disebut BuDI alias buku digital Indonesia. Jadi, BuDI adalah buku generasi terbaru untuk generasi kini dan masa mendatang Indonesia.

Benang merah, kuning, dan hijau untuk masuk ke dalam ranah atau rimba digital sudah tersedia. Ada Ikapi atau Ikatan Penerbit Indonesia yang memiliki kompetensi pengembangan skrip atau konten dasar buku digital. Ada MIKTI atau Masyarakat Industri Kreatif Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia yang memiliki kompetensi di bidang programming. Tentulah Indonesia tidak kalah-kalah amat dari negara maju seperti Amerika Serikat ataupun Korea Selatan dalam soal pengembangan teknologi digital. Jadi, tinggal bagaimana benang-benang itu dipintal menjadi sebuah peluang dan kompetensi di ranah bisnis buku digital.

Saya sendiri sudah coba memintal jalan digital itu sejak 2013. Teknologi begitu digjaya dan tidak ada yang mampu membendungnya, termasuk kita. Bahwa buku fisik masih akan tetap bertahan, ya. Namun, bahwa buku digital tidak akan berpengaruh hebat, ini yang masih bisa didebat.

Tidak ada kata lain memang bahwa content is king dan king maker-nya adalah orang-orang kreatif yang mampu membaca peluang dan menciptakan karya yang bergigi. Jadi, tidak peduli apa pun medianya, mau kertas atau bukan kertas, orang-orang kreatif tetap punya lahan untuk berkarya, termasuk di ranah BuDI. Karena itu, bersiaplah menyambut Generasi BerBuDI itu.

Catatan dari Digital Creative Camp: Ko-Penerbitan, Era yang Segera Tiba

Eloklah saya mengulas kembali tentang penerbitan digital setelah beberapa waktu lalu diselenggarakan Digital Creative Camp & Business Gathering, kerja sama Kemenpar dan Ikapi. Banyak hal sebagai catatan tersisa dan tentunya menarik untuk diungkapkan.

Salah satunya paparan Pak Hari S. Tjandra, pendiri Pesona Edu yang juga menjadi Ketua Bidang Pengembangan Komunitas Software Edukasi MIKTI, tentang peluang para penerbit untuk masuk ke dalam bisnis digital. Hal menarik yang dikemukakan Pak Hari bahwa peluang terbesar untuk pengembangan produk digital adalah di dunia edukasi dengan pangsa pasar jutaan siswa di Indonesia, terutama untuk siswa PAUD dan SD.

Ya, kita maklumi bersama bahwa kini telah lahir generasi Z atau disebut juga generasi digital yang begitu mampu beradaptasi dengan perangkat (gadget) berbasis digital. Mungkin untuk generasi kita saat ini, buku fisik masih menjadi pilihan. Namun, tiada yang dapat menebak apakah buku fisik masih akan tetap menarik bagi anak-anak generasi digital tersebut?

Mau tidak mau, penerbit harus masuk ke dalam “rimba digital”. Mau tidak mau karena jika tidak mau, ya alamat tidak akan mampu berkiprah banyak di tengah geliat bisnis digital yang terus tumbuh.

Melanjutkan paparan Pak Hari, patut dicatat bahwa pengembangan produk digital, semacam aplikasi pembelajaran, buku digital, ataupun game sebaiknya tidak berbasis internet (online) karena belum ada satu pun negara yang berhasil melaksanakan. Ya, bayangkan jika jutaan siswa mengakses konten yang sama pada satu waktu, bisa dipastikan server akan down.

Karena itu, basis offline adalah yang paling mungkin dilakukan. Pesona Edu contohnya, hanya menggunakan internet untuk verifikasi dan seterusnya dijalankan secara offline.

Lebih jauh Pak Hari mengungkapkan bahwa kunci pengembangan penerbitan digital ada dua, yaitu script dan programming. Dua hal ini memerlukan kompetensi spesifik. Dalam hal skrip, tentu diperlukan para penulis dan editor berjiwa pengembang konten. Lalu, dalam hal pemograman tentu diperlukan progamer komputer yang andal. Plus tambahannya dalam konteks pengembangan buku, terutama buku anak yaitu ilustrator/desainer yang juga mantap.

Kompetensi penerbit tentu ada sebagai pengembang konten alias mengembangkan buku cetak menjadi skrip penerbitan digital. Di sini terjadi kolaborasi antara penulis, editor, ilustrator, dan desainer. Hal ini terutama berlaku untuk buku-buku digital generasi II, III, dan IV yang menanamkan (embedded) konten, seperti animasi, game, film, berikut audio.

Kompetensi pemograman tentu dimiliki beberapa perusahaan berbasis IT. Lebih mudah menandai perusahaan seperti ini adalah dengan melihat anggota asosiasi Masyarakat Industri Kreatif Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia (MIKTI) yang memang bergerak dalam bidang pengembangan komunitas industri kreatif berbasis digital, seperti animasi, game, dan software. Hal lain terkait pemograman ini tentu soal sekuriti untuk melindungi karya digital dari pembajakan yang tidak bertanggung jawab.

Karena itu, satu hal yang lebih cepat dilakukan daripada penerbit harus berinvestasi di bidang IT adalah melakukan kerja sama ko-penerbitan (co-publishing) dengan perusahaan berbasis digital. Pola ini sangat dimungkinkan seperti halnya ditawarkan Pesona Edu yang mulai membuka peluang kerja sama seperti ini pada awal 2015.

Saya sangat bersetuju dengan pendapat Mas Putut Widjanarko dari Mizan bahwa sebaiknya penerbit berkonsentrasi atau mengubah pola pikirnya sebagai pengembang konten, bukan sekadar produsen buku fisik. Sebagai pengembang konten, penerbit tidak akan terpengaruh dengan perubahan yang terjadi pada media penyampai informasi.

Going digital? Tentu hal itu tidak semestinya menjadi kebimbangan lagi. Era generasi digital sudah di depan mata. [BT]

sumber: manistebu.com

Mimpi Bertemu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam

Disalin dari Ceramah Syaikh Muhammad Hassan

“Bagaimana aku bisa bertemu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam mimpi?”

Ada seorang murid yang bertanya kepada gurunya: ”Oh guruku, tolong ajari aku untuk bertemu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam didalam mimpiku”

Kemudian gurunya bertanya balik kepada muridnya: “Apakah engkau sungguh-sungguh ingin bertemu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam mimpimu?”

Muridnya menjawab : “Benar, guruku”

Sang guru: “Bila begitu, kau aku undang untuk makan malam dirumahku. malam ini, makanlah bersama ku”

Muridnya menjawab: “Masya Allah, rezeki dan berkah”.

Kemudian muridnya pergi ke gurunya yang mendidik dan mencerahkan itu. Lalu gurunya menyiapkan makan malam untuk muridnya, dengan makanan yang sangat asin karena banyak garam, dan muridnya juga tidak diperbolehkan minum. Sang murid pun makan dan dia kehausan, tapi gurunya tidak memperbolehkan dia minum.

Selesai makan, muridnya meminta gurunya untuk mengajarinya. Tapi sang guru belum mengajarinya, dan muridnya disuruh untuk segera tidur. Dan gurunya akan mengajarkan kepadanya bagaimana bertemu Rasul dalam mimpi nanti sebelum fajar. Muridnya menjawab: “Baiklah”

Dan dia pun tertidur dan dia sangat menantikan pelajaran yang akan diajarkan oleh gurunya nanti. Tiba waktunya sebelum fajar, gurunya memanggil murid tersebut, “Kemarilah anakku”. Muridnya pun mendatangi beliau dan berkata: “Ajari aku guruku”.

Gurunya berkata: “Tunggu sebentar. pertama, apakah engkau melihat (bermimpi) sesuatu dalam tidurmu semalam?”

Muridnya menjawab: “Iya guruku”

Gurunya bertanya: “Apa yang engkau lihat?”

Muridnya menjawab: “Aku melihat langit yang sedang hujan, aku melihat sungai yang mengalir, dan aku melihat ombak lautan didepanku.”

Oh, dia tertidur disaat sangat kehausan, oleh karena itu ia bermimpi melihat langit yang sedang hujan, melihat sungai yang mengalir dan melihat lautan yang berombak.

Kemudian gurunya berkata: “Benar anakku, kau telah berkata jujur, bila niat mu benar, maka mimpimu juga akan terwujud. Dan bila cintamu kepada rasul itu benar, maka engkau akan bertemu rasul”.

Dan itulah jawabannya dari pertanyaan yang diawal telah ditanyakan.

Lalu kemudian ada seseorang yang bertanya kepada Syekh: “Apakah mungkin Rasulullah shallallahu alaihi wasallam datang dalam mimpi kita apabila kita memakan makanan yang haram?  Kepada orang yang gemar melihat yang haram? Kepada orang yang berkata bohong atau berbuat curang? Kepada orang yang bersepakat dengan riba? Kepada orang yang munafik? Apakah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam akan datang kepada orang yang seperti itu?”

Syekh muhammad menjawab: “Tidak, tidak, tidak! Demi Allah, Allah dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak akan datang kecuali kepada orang-orang yang Allah dan Rasul cintai.”

Ada orang yang berziarah kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan ada orang yang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ziarahi.

Ada cerita seorang wanita yang mulia, seorang ibu, kita memohon kepada Allah untuk memberkahi dan diberikan ampunan oleh Allah. Seorang ibu yang mengirimkan anaknya kepadaku disaat sedang mengajar di Al-Mansurah.

Anak itu berkata: “Maafkan aku ya syekh, aku harus menyampaikan ini. Ibuku berpesan bahwa ibuku menunggu syekh untuk berkunjung ke rumahnya malam ini.”

Kemudian Syekh Muhammad berkata: “Baiklah, ayo kita kerumahmu.”

Syekh dan anak tadi pergi ke sebuah desa dan tiba di rumah yang terbuat dari tanah liat, rumah yang miskin. Dan didalamnya ada seorang wanita yang berumur 70tahun. MasyaAllah, wanita tersebut tidak pernah berhenti tidak semenit, tidak sedetik bershalawat kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Ketika ia melihatmu dan mengucapkan salam, ia langsung bershalawat kembali, dan seterusnya.

Syekh Muhammad merasa rendah diri di dekat seorang ibu yang mulia ini, Subhanallah. Kemudian Syekh Muhammad berkata: “Oh ibuku, engkau memanggilku dan aku datang, sekarang katakan kepadaku, apa yang mengganggumu? InsyaAllah, aku berjanji kepadamu pekan depan, aku akan membawa saudaraku seorang spesialis medis, sesuai dengan yang engkau butuhkan, dan ia akan memeriksamu disini.”

Kemudian wanita tersebut melihat Syekh Muhammad dan tersenyum dengan indah. Dia berkata: ”Oh anakku, oh anakku, aku tahu penyakitku dan aku tahu obatnya, aku tahu penyakitku dan aku tahu obatnya.”

Syekh Muhammad berkata: “Demi Allah, katakan kepadaku”

Wanita itu berkata kepadaku: “Oh anak ku, Nabi kita Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak datang dalam mimpiku selama tiga malam”

Ya Allah…

Syekh muhammad bertanya kepadanya: ”Beliau tidak datang dalam mimpimu selama tiga malam? apakah Beliau selalu datang kepadamu setiap malam?”

Wanita itu menjawab: “Demi Allah, bila satu malam saja berlalu tanpa melihat Rasul, aku menjadi sakit, aku telah sakit selama tiga malam, aku belum melihat Rasul lagi”.

Sudah berapa tahunkah saudara dan saudari semua tidak berjumpa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam?

Kecintaan dan ketaatan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah sejalan cinta dan ketaatan kepada Allah Yang Maha Tinggi. Jadi cinta ini adalah perkara besar. Ingat kembali niatmu benar, jadi mimpimu akan benar. Dan jika cintamu benar, engkau akan bertemu rasul. Kuatkan cintamu, kuatkan cintamu saudara-saudaraku, dan demi Allah pemilik Kabbah, engkau akan senang bertemu dengan utusan Allah.

Rasulullah bersabda: “Siapa yang melihatku di dalam mimpi, ia telah benar-benar melihatku, karena syaitan tidak bisa menyerupaiku.” [HR. Tirimidzi, dia berkata ini adalah hadits hasan shahih]

Anda sudah tahu jawabannya wahai bapak-bapak yang mulia, saudara-saudaraku dan anak-anak yang aku cintai, bagai mana cara bertemu dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam? Yaitu dengan MENGIKUTINNYA DAN MENCINTAINYA.

Mengikutinya adalah buah dari mencintainya, mematuhi adalah hasil dari mencintai. Siapapun yang mengklaim mencintai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, akan tetapi tidak mendapat manfaat (tidak mengamalkan) dari ajarannya, maka akan menjadi sia-sia saja.

video

sumber: smstauhiid.com

Benua Amerika Adalah Negeri Muslim yang Dimurtadkan, Ini Fakta Sejarahnya


Benua Amerika yang kita kenal saat ini ternyata memiliki hubungan sejarah yang sangat kuat dengan Islam. Nampak sekali dari banyaknya jejak-jejak peninggalan yang tersisa dan masih bisa kita saksikan sampai detik ini, yang paling banyak adalah jejak tentang nama-nama wilayah yang sangat identik dengan Islam. Amerika sudah mengenal Islam, jauh sebelum para perompak dari Eropa datang. Islam sudah menjadi kultur budaya di Amerika hingga akhirnya punah dan dimurtadkan oleh para misionaris kristen asal Eropa.

Jika Anda mengunjungi Washington DC, datanglah ke Perpustakaan Kongres (Library of Congress). Lantas, mintalah arsip perjanjian pemerintah Amerika Serikat dengan suku Cherokee, salah satu suku Indian, tahun 1787. Di sana akan ditemukan tanda tangan Kepala Suku Cherokee saat itu, bernama Abdel Khak dan Muhammad Ibnu Abdullah.

Isi perjanjian itu antara lain adalah hak suku Cherokee untuk melangsungkan keberadaannya dalam perdagangan, perkapalan, dan bentuk pemerintahan suku cherokee yang saat itu berdasarkan hukum Islam. Lebih lanjut, akan ditemukan kebiasaan berpakaian suku Cherokee yang menutup aurat, sedangkan kaum laki-lakinya memakai turban (surban) dan terusan hingga sebatas lutut.

Cara berpakaian ini dapat ditemukan dalam foto atau lukisan suku cherokee yang diambil gambarnya sebelum tahun 1832. Kepala suku terakhir Cherokee sebelum akhirnya benar-benar punah dari daratan Amerika adalah seorang Muslim bernama Ramadan Ibnu Wati.

Ramadhan Ibnu Wati
Berbicara tentang suku Cherokee, tidak bisa lepas dari Sequoyah. Ia adalah orang asli suku cherokee yang berpendidikan dan menghidupkan kembali Syllabary, suku mereka pada 1821. Syllabary adalah semacam aksara. Jika kita sekarang mengenal abjad A sampai Z, maka suku Cherokee memiliki aksara sendiri.

Yang membuatnya sangat luar biasa adalah, aksara yang dihidupkan kembali oleh Sequoyah ini mirip sekali dengan aksara Arab. Bahkan, beberapa tulisan masyarakat cherokee abad ke-7 yang ditemukan terpahat pada bebatuan di Nevada sangat mirip dengan kata ”Muhammad” dalam bahasa Arab.

Bukti dalam sumber-sumber Barat:

1. Profesor Barry Fell, pensiunan dosen dari Harvard University dan juga anggota dari American Academy of Science dan Seni, Royal Society, epigrafi Society dan Masyarakat Penemuan Ilmiah dan Purbakala, bersikeras tentang kedatangan Islam di Amerika pada tahun 650-an, 2 prediksi pendapat ini pada kaligrafi Cufic adalah peradaban yang ditemukan di berbagai penggalian di seluruh Amerika. Jika kata-kata Profesor Fell memiliki nilai kebenaran, maka umat Islam telah tiba di Amerika selama era Khalifah Utsman, atau setidaknya di masa Ali, khalifah keempat.

2. Bukti kedua yang ditawarkan oleh Profesor Fell adalah bahwa tulisan “In the Name of Allah” (gambar 1). Demikian juga, batu bantalan tulisan “Muhammad adalah Nabi Allah” (gambar 2) adalah berkaitan dengan era yang sama. Seperti terlihat dengan perbandingan dua gambar, prasasti tidak dalam gaya modern Arab, sebaliknya mereka berada dalam gaya Cufic, relevan dengan abad ketujuh. Orang-orang Arab, sesuai dengan temuan Profesor Fell, menetap di Nevada selama abad ketujuh dan kedelapan. Keberadaan awal dari sebuah sekolah, yang diajarkan Islam dan ilmu pengetahuan, khususnya navigasi, telah terungkap setelah penyelidikan arkeologi yang dilakukan oleh Profesor Heizer dan Baumhoff of California Universitas sekitar WA 25 di situs Nevada. Penggalian di Nevada telah menemukan tulisan di naskhi Arab dan gaya Cufic yang tertulis di batu yang membawa informasi tentang sekolah ini (gambar 3).

3. Pada abad kedua belas, Athapcan Tribe, terdiri dari Apache asli dan Navajos, menyerbu wilayah yang dihuni oleh orang-orang Arab. Pribumi yang buta huruf terpesona dengan sekolah-sekolah yang didirikan oleh orang-orang Arab, dan, mungkin dengan bantuan tawanan, berusaha meniru subyek yang sama, mengubah bentuk geometris menjadi binatang mitos, yang dilakukan selama berabad-abad.

4. Gambar ini adalah tulisan Cufic ditemukan pada tahun 1951 di White Mountains, dekat dengan kota Benton di perbatasan Nevada. Kata-kata Setan maha mayan, yaitu Iblis adalah sumber dari segala kebohongan, telah ditulis dalam gaya Cufic khas abad ketujuh.

5. Sekali lagi, sebuah prasasti batu milik pasca-650 CE, bantalan huruf Cufic H-M-I-D,  kata Hamid (gambar 6). Tulisan Arab lain yang ditemukan di bebatuan Atlata di Valley of Fire di Nevada.

6. Seorang Penulis Jurnal Amerika, saat bepergian dari Malden ke Cambridge di negara bagian Massachusetts pada tahun 1787, menulis, Pendeta Thaddeus Mason Harris melihat beberapa koin ditemukan oleh pekerja selama pembangunan jalan. Para pekerja, tidak mempedulikan koin tersebut. Akibatnya, Harris memutuskan untuk mengirim uang tersebut ke perpustakaan Harvard College untuk pemeriksaan (gambar 7). Penelitian menghasilkan bahwa ini sebenarnya adalah Samarqand Dirham dari abad kedelapan dan kesembilan. Seperti dapat dilihat pada gambar, koin nyata menampilkan prasasti La ilaha illa-Allah Muhammadun Rasulullah (Tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah Rasul-Nya) dan Bismillah (dengan nama Allah).

7. Gambar ini menunjukkan tulisan dari sepotong batu yang ditemukan di sebuah gua di wilayah Corinto di El Salvador. Bantalan prasasti Malaka Haji Malaya ini telah diidentifikasi sebagai prasasti abad ketiga belas yang menunjukkan kedatangan Muslim di Amerika Selatan, yang mungkin datang dari suatu tempat di daerah Indonesia.

Secara umum, suku-suku Indian di Amerika juga percaya adanya Tuhan yang menguasai alam semesta. Tuhan itu tidak teraba oleh panca indera. Mereka juga meyakini, tugas utama manusia yang diciptakan Tuhan adalah untuk memuja dan menyembah-Nya. Seperti penuturan seorang Kepala Suku Ohiyesa: ”In the life of the Indian, there was only inevitable duty-the duty of prayer-the daily recognition of the Unseen and the Eternal.” Bukankah Al-Qur’an juga memberitakan bahwa tujuan penciptaan manusia dan jin semata-mata untuk beribadah pada Allah.

Subhanallah… Bagaimana bisa Kepala suku Indian Cheeroke itu Muslim? Sejarahnya panjang.

Penemu Pertama Benua Amerika adalah Laksamana Cheng Ho (Seorang Muslim Dari Cina), Bukan Colombus


Semangat orang-orang Islam dari Cina saat itu untuk mengenal lebih jauh planet (tentunya saat itu nama planet belum terdengar) tempat tinggalnya, selain untuk melebarkan pengaruh, mencari jalur perdagangan baru dan tentu saja memperluas dakwah Islam, mendorong beberapa pemberani di antara mereka untuk melintasi area yang masih dianggap gelap dalam peta-peta mereka saat itu.

Beberapa nama tetap begitu kesohor sampai saat ini bahkan hampir semua orang pernah mendengarnya, sebut saja Tjeng Ho dan Ibnu Batutta, namun beberapa lagi hampir-hampir tidak terdengar dan hanya tercatat pada buku-buku akademis.

Para ahli geografi dan intelektual dari kalangan Muslim yang mencatat perjalanan ke benua Amerika itu adalah Abul-Hassan Ali Ibn Al Hussain Al Masudi (meninggal tahun 957), Al Idrisi (meninggal tahun 1166), Chihab Addin Abul Abbas Ahmad bin Fadhl Al Umari (1300 – 1384) dan Ibn Battuta (meninggal tahun 1369).

Menurut catatan ahli sejarah dan ahli geografi muslim Al Masudi (871 – 957), Khashkhash Ibn Saeed Ibn Aswad seorang navigator muslim dari Cordoba di Andalusia, telah sampai ke benua Amerika pada tahun 889 Masehi. Dalam bukunya, ‘Muruj Adh-dhahab wa Maadin al-Jawhar’ (The Meadows of Gold and Quarries of Jewels), Al Masudi melaporkan bahwa semasa pemerintahan Khalifah Spanyol Abdullah Ibn Muhammad (888 – 912), Khashkhash Ibn Saeed Ibn Aswad berlayar dari Delba (Palos) pada tahun 889, menyeberangi Lautan Atlantik, hingga mencapai wilayah yang belum dikenal yang disebutnya Ard Majhoola, dan kemudian kembali dengan membawa berbagai harta yang menakjubkan.

Sesudah itu banyak pelayaran yang dilakukan untuk mengunjungi daratan di seberang Lautan Atlantik, yang gelap dan berkabut itu. Al Masudi juga menulis buku ‘Akhbar Az Zaman’ yang memuat bahan-bahan sejarah dari pengembaraan para pedagang ke Afrika dan Asia.

Dr. Youssef Mroueh juga menulis bahwa selama pemerintahan Khalifah Abdul Rahman III (tahun 929-961) dari dinasti Umayah, tercatat adanya orang-orang Islam dari Afrika yang berlayar juga dari pelabuhan Delba (Palos) di Spanyol ke barat menuju ke lautan lepas yang gelap dan berkabut, Lautan Atlantik. Mereka berhasil kembali dengan membawa barang-barang bernilai yang diperolehnya dari tanah yang asing.

Beliau juga menuliskan menurut catatan ahli sejarah Abu Bakr Ibn Umar Al-Gutiyya bahwa pada masa pemerintahan Khalifah Spanyol, Hisham II (976-1009), seorang navigator dari Granada bernama Ibn Farrukh tercatat meninggalkan pelabuhan Kadesh pada Februari tahun 999 melintasi Lautan Atlantik dan mendarat di Gando (Kepulaun Canary).

Ibn Farrukh berkunjung kepada Raja Guanariga dan kemudian melanjutkan ke barat hingga melihat dua pulau dan menamakannya Capraria dan Pluitana. Ibn Farrukh kembali ke Spanyol pada Mei 999.

Perlayaran melintasi Lautan Atlantik dari Maroko dicatat juga oleh penjelajah laut Shaikh Zayn-eddin Ali bin Fadhel Al-Mazandarani. Kapalnya berlepas dari Tarfay di Maroko pada zaman Sultan Abu-Yacoub Sidi Youssef (1286 – 1307), raja keenam dalam dinasti Marinid. Kapalnya mendarat di pulau Green di Laut Karibia pada tahun 1291. Menurut Dr. Morueh, catatan perjalanan ini banyak dijadikan referensi oleh ilmuwan Islam.

Sultan-sultan dari kerajaan Mali di Afrika barat yang beribukota di Timbuktu, ternyata juga melakukan perjalanan sendiri hingga ke benua Amerika. Sejarawan Chihab Addin Abul-Abbas Ahmad bin Fadhl Al Umari (1300 – 1384) memerinci eksplorasi geografi ini dengan seksama. Timbuktu yang kini dilupakan orang, dahulunya merupakan pusat peradaban, perpustakaan dan keilmuan yang maju di Afrika. Ekspedisi perjalanan darat dan laut banyak dilakukan orang menuju Timbuktu atau berawal dari Timbuktu.

Sultan yang tercatat melanglang buana hingga ke benua baru saat itu adalah Sultan Abu Bakari I (1285 – 1312), saudara dari Sultan Mansa Kankan Musa (1312 – 1337), yang telah melakukan dua kali ekspedisi melintas Lautan Atlantik hingga ke Amerika dan bahkan menyusuri sungai Mississippi.

Sequoyah atau George Gist
Sultan Abu Bakari I melakukan eksplorasi di Amerika tengah dan utara dengan menyusuri sungai Mississippi antara tahun 1309-1312. Para eksplorer ini berbahasa Arab. Dua abad kemudian, penemuan benua Amerika diabadikan dalam peta berwarna Piri Re’isi yang dibuat tahun 1513, dan dipersembahkan kepada raja Ottoman Sultan Selim I tahun 1517. Peta ini menunjukkan belahan bumi bagian barat, Amerika selatan dan bahkan benua Antartika, dengan penggambaran pesisiran Brasil secara cukup akurat.

Dua abad kemudian, penemuan benua Amerika diabadikan di dalam peta berwarna Piri Re’isi yang dibuat pada tahun 1513, dan dipersembahkan kepada raja Ottoman Sultan Selim I tahun 1517.

Peta ini menunjukkan letak belahan bumi bagian barat, Amerika Selatan dan bahkan benua Antartika, dengan penggambaran pesisiran Brasil secara cukup akurat.

Voyages of Zheng He 1405-33
Columbus sendiri mengetahui bahwa orang-orang Carib (Karibia) adalah pengikut Nabi Muhammad. Dia paham bahwa orang-orang Islam telah berada di sana, terutama orang-orang dari Pantai Barat Afrika. Mereka mendiami Karibia, Amerika Utara dan Selatan. Namun tidak seperti Columbus yang ingin menguasai dan memperbudak rakyat Amerika, orang-Orang Islam datang untuk berdagang dan bahkan menikahi orang-orang pribumi.

Sultan Abdul Hamid II Ottoman

Lebih lanjut Columbus mengakui pada 21 Oktober 1492, 70 tahun dalam pelayarannya antara Gibara dan Pantai Kuba melihat sebuah masjid (berdiri di atas bukit dengan indahnya menurut sumber tulisan lain). Sampai saat ini sisa-sisa reruntuhan masjid telah ditemukan di Kuba, Mexico, Texas dan Nevada.

Namun, tidak seperti Columbus yang ingin menguasai dan memperbudak, bahkan membantai rakyat Amerika asli (baca: Kebohongan Amerika tentang Christopher Columbus), Orang-Orang Islam datang untuk berdagang dan bahkan beberapa di antaranya menikahi orang-orang pribumi.

Dan tahukah Anda? Bahwa 2 orang nahkoda kapal yang dipimpin oleh Columbus, kapten kapal Pinta dan Nina adalah orang-orang Islam, yaitu dua bersaudara Martin Alonso Pinzon dan Vicente Yanex Pinzon yang masih keluarga dari Sultan Maroko Abuzayan Muhammad III (1362). (THACHER, JOHN BOYD: Christopher Columbus, New York 1950).

Sekitar 70 tahun sebelum Columbus menancapkan benderanya di tanah Amerika, Laksamana Cheng Ho sudah terlebih dahulu datang ke sana. Para peserta seminar yang diutus oleh Royal Geographical Society di London sangat kaget  karena penemuan seorang kru kapal selam dan uraian sejarawan bernama Gavin Menzies. Dia juga seorang mantan perwira Angkatan Laut Kerajaan Inggris  (baca: Biography Gavin Menzies).

Menzies yang tampil dengan penuh keyakinan, menjelaskan teorinya tentang pelayaran terkenal dari pelaut mashur asal Cina, Laksamana Cheng Ho. Bersama bukti-bukti yang ditemuinya dari catatan sejarah, dia lantas membuat kesimpulan bahawa pelaut serta pengembara ulung dari Dinasti Ming itu adalah penemu awal benua Amerika, dan bukannya Columbus.

Bahkan menurutnya, Cheng Ho ‘mengalahkan’ Columbus dengan jarak (perbedaan) waktu sekitar 70 tahun. Apa yang dikemukakan Menzies tentu membuat semua orang tertipu karena masyarakat dunia selama ini mengetahui bahawa Columbus-lah penemu benua Amerika pada sekitar abad ke-15. Penjelasan Menzies ini dikuatkan dengan sejumlah bukti sejarah.


Menzies menunjukkan sebuah peta  sebelum Columbus memulai ekspedisinya, lengkap dengan gambar benua Amerika serta sebuah peta astronomi milik Cheng Ho yang disandarkan sebagai bahan bukti. Menzies sangat yakin setelah ia meneliti ketepatan dan kesahihan bahan-bahan bersejarah tersebut.

Perbandingan kapal layar Colombus dengan Laksamana Cheng Ho

dikutip dari: salam-online.com

Empat Penyebab Sekolah Menjadi Mandek Tidak Berkembang


Perubahan adalah hak setiap sekolah yang ingin berkembang. Tanpa perubahan maka sekolah akan jalan ditempat dan akan ditinggalkan oleh orang tua siswa. Namun jangan terkejut apabila ada sekolah yang inginnya langsung jadi sekolah yang besar tanpa mau berubah dan menjalani proses. Mungkin sekolah tersebut mau berkembang, hanya saja kalau boleh memilih, mereka ingin perubahannya yang murah, simpel dan langsung bisa berdampak besar bagi organisasinya serta sedikit saja tanpa mesti melibatkan orang lain.

Padahal kita semua tahu betapa berbahayanya keengganan akan perubahan, dengan kata lain sekolah masuk ke zona nyaman. Jika ada organisasi yang inginnya berubah namun jika dibiarkan memilih mereka inginnya tidak mau jauh-jauh dari zona nyaman, maka berarti siap-siap saja sekolah itu akan terasa hambar dan tanpa greget. Kegiatannya rutinitas semata, hanya melaksanakan yang sudah-sudah, itupun kalau biayanya ada, angka keluar masuk (turn over) gurunya tinggi dan muridnya pun makin lama makin sedikit.

Mengapa ada sekolah yang ‘memilih’ untuk jalan ditempat dan tidak mau berkembang? Ada beberapa hal penyebabnya.

1. Sekolah tidak mengetahui pasti kemana ‘arah’ mereka sebagai sebuah organisasi pembelajar.

Visi dan misi sekolah mungkin ada, karena sudah merupakan kewajiban dari dinas pendidikan untuk sebuah sekolah mengadakan visi dan misi. Sayangnya sekolah hanya sibuk dengan urusan dari rutin ke rutin. Dari ujian nasional ke ujian nasional berikutnya. Jika ditanya apa perbedaan murid di sekolahnya dengan murid sekolah lain, tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan tersebut. Jika ditanya apa perbedaan hasil lulusan antara sekolah itu dengan sekolah lainnya maka jawabannya hanya semata persoalan nilai yang dicapai. Padahal masa depan siswa bukan hanya ditentukan dari nilai tetapi juga oleh karakter dan penguasaan keterampilan hidup yang penting sebagai bekal di masa depan. Jadi untuk tipe sekolah seperti ini, yang penting satu tahun ajaran bisa lewat dengan sukses dilalui tidak masalah jika tanpa inovasi. Menyedihkan bukan? Karena alih-alih melakukan perubahan, berjalan kemana arahnya pun sekolah ini tidak tahu.

2. Pengelolaan keuangan yang tidak tepat sasaran.

Jangan malu mengakui bahwa sekolah swasta menggunakan prinsip bisnis. Prinsip bisnis diperlukan karena demi tumbuh berkembangnya sekolah itu sendiri secara sehat sebagai lembaga pendidikan formal yang siap dijadikan tempat kepercayaan bagi banyak keluarga-keluarga yang tinggal berada di sekolah itu untuk menyekolahkan putra-putrinya. Bayangkan jika sekolah disubsidi terus menerus, atau tetap berjalan apa adanya dan dibiarkan merugi dan tidak bisa mandiri. Sayangnya karena terlalu khawatir merugi atau akan tutup, banyak sekolah yang terlalu cepat berniat mengambil keuntungan atau terlalu cepat melakukan ekspansi alias pengembangan tanpa mengukuhkan dahulu ‘pondasi’ di dalamnya. Bagi semua yang gunakan prinsip bisnis dengan ‘saklek’ atau dengan hitam putih.

Praktek yang dilakukan oleh guru-guru di kelas adalah sebuah pemborosan dalam arti yang sebenar-benarnya. Sehari saja bersama dengan guru-guru di kelas, akan membuat seorang yang berasal dari kalangan pebisnis akan heran karena banyak sekali hal yang akan dianggap sebagai pemborosan. Misalnya kertas yang begitu saja dipakai berlembar-lembar hanya untuk siswa latihan menulis sampai kertas tisu berlembar-lembar yang diperlukan untuk mengelap hidung siswa yang sedang sakit pilek di kelas. Hal-hal yang saya contohkan adalah contoh kecil hal yang mungkin saja dianggap pemborosan namun diperlukan karena sesuai dengan konteks sekolah yang menjadi wadah bagi anak didik untuk berkembang. Dalam banyak kasus sekolah memaksa guru untuk berhemat atau bahkan mempersulit proses permintaan sumber belajar yang sebenarnya sudah menjadi hak siswa, dengan harapan guru yang meminta akan bosan dan malas untuk meminta lagi. Sekolah yang seperti ini akan sulit untuk menerima perubahan karena perubahan selalu dianggap memboroskan biaya dan mengurangi keuntungan sekolah.

3. Kepemimpinan yang lemah.

Kepemimpinan yang lemah akan membuat sekolah jalan ditempat. Uniknya sebenarnya para pemimpin yang menurut kita punya kepemimpinan yang tidak efektif sebenarnya tahu bahwa cara memimpinnya tidak efektif. Hanya saja rutinitaslah yang membuat seorang pemimpin menjadi kebal terhadap complain dan memilih begitu-begitu saja dalam mengelola sekolahnya. Ada pemimpin sekolah yang katakan, ‘saya ini sudah kebal sama complain dan makian dari orang tua siswa”. Saya pun demikian, saya memilih untuk kebal, namun kebal tanpa mau mencari solusi sama saja membiarkan orang lain menganggap kita ‘bebal’ alias tidak punya perasaan atau cuek terhadap kritik dan umpan balik dari orang lain. Pemimpin tipe seperti ini tidak bisa disalahkan juga, karena sebagai orang dewasa siapa yang tidak mau perubahan dan perbaikan. Namun pilihan berikutnya apakah ia mau memperjuangkan atau memilih untuk tiarap bermain aman atau yang penting ‘yayasan’ atau bos senang.

4. Guru yang tidak punya motivasi

Ada banyak sebab mengapa guru menjadi sosok yang tidak punya motivasi. Padahal menjadi pendidik mesti punya rasa antusias terhadap semua hal yang menyangkut bidangnya. Guru yang tahunya menjadi guru hanya menjadi pengajar saja mungkin tidak begitu diperlukan lagi di jaman ini. Sekolah yang ingin perubahan akan terbentur oleh sosok guru yang enggan perubahan. Sebab utama bukan masalah kesejahteraan, karena saya juga menjumpai guru yang mengajarnya biasa-biasa saja padahal kesejahteraannya sudah baik bila dibandingkan dengan sesama rekan seprofesi. Guru adalah aktor utama dari semua perubahan yang akan dan sedang terjadi di sekolah. Menyertakan guru adalah langkah terbaik dalam mengubah sebuah sekolah. Jika ingin cepat, melalui yayasan atau kepala sekolah bisa saja meminta dan menyuruh gurunya ini dan itu dan ujung-ujungnya akan frustasi juga karena lambannya guru bergerak. Membuat guru termotivasi pun tidak mudah, perlu langkah dan cara dalam membuat guru merasa bahwa perubahan demi anak didik adalah suatu keharusan.

Ketiga hal diatas sebenarnya hanyalah gambaran kecil dari situasi yang terjadi di sekolah. Kabar baiknya adalah tidak ada yang tidak mungkin, jika sekolah sebagai sebuah organisasi pembelajar ingin perubahan demi perkembangan pasti ada jalan.

sumber: gurukreatif.wordpress.com