Aneka Resep Kue dengan Bahan Kacang Hijau

Selain memiliki rasa yang enak, kacang hijau juga bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Kacang hijau memiliki kandungan protein yang cukup tinggi dan merupakan sumber mineral penting, antara lain kalsium dan fosfor. Sedangkan kandungan lemaknya merupakan asam lemak tak jenuh. Kandungan kalsium serta fosfor pada kacang hijau berguna untuk memperkuat tulang.

Selain itu, kacang hijau juga memiliki kandungan rendah lemak yang amat baik untuk mereka yang ingin hindari mengonsumsi lemak tinggi. Kandungan lemak yang rendah di dalam kacang hijau juga menjadikan bahan makanan atau minuman yang terbuat dari kacang hijau tidak mudah berbau.

Berikut adalah aneka resep kue dari kacang hijau yang kami kumpulkan dari berbagai sumber untuk anda.

Bubur Kacang Hijau

Bubur ini enak dicampur bersama ketan hitam atau ketan putih, apalagi kalau pake durian sungguh sangat spesial. Sajian bubur kacang ijo kali ini dicampur dengan beras ketan putih, dimana penggunaan ketan ini bukan saja untuk menambah citarasa tetapi juga berfungsi untuk mengentalkan.

Bahan:
  • 300 gram kacang hijau, rendam 2 jam, tiriskan atau gunakan yang siap pakai
  • 50 gram beras ketan putih, cuci bersih
  • 3 lembar daun pandan
  • 4 cm jahe, memarkan
  • 1 liter santan dari 1 butir kelapa
  • 250 gram gula merah , sisir
  • 1 sdt garam
  • 200 gram kelapa muda, serut
  • air untuk merebus

Cara Pembuatan:
  1. Masak kacang hijau bersama beras ketan. Masukkan juga daun pandan dan jahe. Untuk ukuran air jangan terlalu banyak dulu, bila terlalu kental tinggal menambahkan airnya. Jika sudah mulai mendidih kecilkan api dan sesekali diaduk. Bila kacang hijau dan beras ketan sudah mekar dan empuk serta air perebusnya tinggal sedikit berarti sudah matang, angkatlah.
  2. Masak santan, gula merah, garam dan daun pandan, jerang di atas api sambil ditimba-timba hingga mendidih.
  3. Masukkan campuran kacang hijau dan beras ketan, aduk rata dan masak terus hingga mendidih kembali dan matang.
  4. Tambahkan kelapa muda serut ke dalamnya, aduk sebentar, angkat dan sajikan. 

Rempeyek Kacang Hijau

Bahan :
  • 250 gr kacang hijau, cuci, rebus sebentar (tidak sampai pecah kulit), tiriskan
  • 5 siung bawang putih
  • 5 lembar daun jeruk dirawis
  • 1 sdt ketumbar sangrai yang dihaluskan
  • 1/2 sdt jintan sangrai yang dihaluskan
  • 7 btr kemiri
  • 1 btr telur ayam
  • 300 gr tepung beras
  • 150 gr tepung tapioka
  • 1/2 jari kunyit jika suka
  • 250 ml air (tambahannya sesuaikan kekentalan yang diperlukan)
  • garam secukupnya
  • 1 lt minyak goreng

Cara Pembuatan :
  1. haluskan bumbu-2, kecuali daun jeruk
  2. campur bumbu halus dan telur kocok,masukkan ke dalam campuran tepung tapioka dan tepung beras,
  3. beri garam secukupnya, masukkan air, aduk,
  4. masukkan daun jeruk, aduk, sisihkan
  5. panaskan minyak goreng di atas api sedang (selalu gunakan wajan yang hanya untuk menggoreng/tidak memasak masakan lain, supaya rempeyek tidak lengket di wajan)
  6. ambil adonan tepung semangkuk, beri kacang hijau
  7. goreng sesendok-sesendok adonan di pinggir wajan dan ketika setengah kering, dengan sotil masukan ke dalam minyak
  8. ulangi lagi semangkuk adonan berikutnya sampai adonan habis (jika kacang dan adonan langsung dijadikan satu, kacang akan mekar dan terlalu basah sehingga tidak cepat kering saat digoreng)
  9. biarkan rempeyek sampai kuning kecoklatan,
  10. angkat, tiriskan, setelah dingin masukkan ke toples 

Kue Kacang Hijau Panggang

Bahan:
  • Kacang hijau kupas 150 gram
  • Gula pasir 100 gram
  • Santan dari 1 butir kelapa 500 ml
  • Tepung beras 50 gram
  • Garam 1/4 sdt
  • Kelapa parut 50 gram
  • Pewarna oranye 2 tetes
  • Kiwi dan stroberi secukupnya
  • Air secukupnya, untuk merebus

Cara Pembuatan:
  1. Pertama-tama masak kacang hijau hingga lunak, angkat, lalu haluskan dengan cara di blander.
  2. Kemudian campurkan kacang hijau halus dengan gula, santan, tepung beras, garam, dan kelapa parut, sambil aduk hingga rata.Tambahkan pewarna, aduk hingga benar-benar rata.
  3. Tuang adonan dalam loyang, panggang kedalam oven hingga matang. Sisihkan
  4. Setelah matang angkat, potong-potong sesuai selera, lalu hias dengan irisan kiwi dan stroberi, siap disajikan. 

Kue Bolu Kacang Hijau

Bahan:
  • Telur 3 butir
  • Gula pasir 100 gram
  • Emulsifier 1 sendok teh
  • Tepung terigu protein sedang 75 gram
  • Tepung kacang hijau 25 gram, dari kacang hijau kupas, disangrai api kecil, dinginkan, diblender, dan diayak halus
  • Margarin 20 gram, dilelehkan
  • Santan kental instan 1 sendok makan
  • Garam ¼ sendok teh

Bahan Hiasan:
  • Buttercream 200 gram
  • Wijen sangrai 3 sendok makan

Cara Pembuatan:
  1. Pertama-tama kocok telur, gula pasir, dan emulsifier terlebih dahulu hingga mengembang. Setelah itu masukkan tepung terigu dan tepung kacang hijau sambil diayak dan diaduk rata.
  2. Tambahkan margarin yang sudah dilelehkan, santan kental instan, dan garam. Aduk secara perlahan.
  3. Tuang di cetakan muffin tinggi yang dialas cup kertas.
  4. Masukkan adonan ke dalam oven selamat 20 menit dengan suhu 190 derajat Celsius, tunggu hingga matang.
  5. Semprot dengan buttercream. Tabur wijen sangrai. 

Kue Kering Kacang Hijau

Bahan:
  • Kuning telur 3
  • Gula pasir halus 1/2 sendok makan
  • Telur 3 putih
  • Garam 1/4 sendok teh
  • Gula pasir halus 50 gram
  • Tepung terigu protein sedang 15 gram
  • Tepung maizena 30 gram
  • Kacang hijau kupas 50 gram, disangrai 5 menit dengan api kecil, dinginkan, blender halus, diayak, timbang 30 gram

Cara Pembuatan:
  1. Kocok kuning telur dan gula pasir halus sampai putih. Sisihkan.
  2. Kocok putih telur dan garam sampai setengah mengembang.
  3. Tambahkan gula pasir halus sedikit-sedikit sambil dikocok sampai mengembang.
  4. Masukkan kocok kuning telur sedikit-sedikit sambil dikocok secara perlahan.
  5. Tambahkan tepung terigu, tepung maizena, dan tepung kacang hijau sambil diayak dan diaduk rata.
  6. Masukkan dalam kantung plastik segitiga. Semprot di loyang yang sudah diberi alas kertas roti tanpa harus dioles margarin.
  7. Panggang dalam oven selama 8 menit dengan suhu 180 derajat Celsius. Kemudian turunkan suhu oven menjadi 150 derajat Celsius. Lalu oven lagi selama 8 menit sampai matang dan kering.
  8. Sajikan. 

Kue Kacang Hijau Keju

Bahan Kulit:
  • Tepung ketan 100 gram
  • Tepung terigu 50 gram
  • Air daun suji dan pandan 100 ml
  • Garam ¼ sendok teh

Bahan Isi:
  • Kacang hijau kupas kulit 100 gram, rendam
  • Air 500 ml
  • Susu 100 gram
  • Keju parut 50 gram

Cara Pembuatan:
  1. Untuk memproses bahan isi: Pertama rebus kacang hijau hingga matang dan kental, angkat.
  2. Tunggu hingga agak dingin (asap sudah tidak mengepul) lalu tuang larutan susu sambil diaduk hingga rata. Bulatkan adonan lalu sisihkan.
  3. Untuk memproses bahan kulit: campur semua bahan, aduk hingga rata. Ambil sedikit adonan, bulatkan lalu tekan bagian tengahnya, lakukan hal yang sama hingga bahan habis.
  4. Didihkan air kemudian masukkan adonan kulit, masak hingga terapung dan matang, angkat dan tiriskan.
  5. Ambil satu buah kulit lalu letakkan kacang hijau dibagian tengahnya, taburi keju parut. Sajikan. 

Puding Santan Kacang Hijau

Bahan:
  • ½ bungkus agar-agar bening
  • 100 gram gula pasir
  • 450 ml santan
  • 1 sdm tepung maizena, larutkan dengan 2 sdm air
  • 1 lembar daun pandan, simpul

Bahan puding kacang hijau :
  • ½ bungkus agar-agar bening
  • 100 gram gula merah, sisir halus
  • 450 ml air
  • 50 gram kacang hijau, rebus sampai mekar

Cara Pembuatan:
  1. Puding santan dibagi dua adonan dimana cara membuatnya adalah dengan mencampurkan agar-agar, gula pasir, daun pandan dan santan lalu masak di atas api sedang hingga mendidih sambil sesekali diaduk rata. Tambahkan larutan maizena sambil diaduk rata, masak sampai mendidih kembali lalu angkat. Tuang adonan pertama ke dalam cetakan puding yang sudah dibasahi air supaya mudah dilepaskan, sedangkan bagian adonan lainnya untuk dituangkan di atas puding kacang hijau.
  2. Puding kacang hijau dibuat dengan mencampurkan agar-agar, gula merah dan air lalu masak di atas api sedang hingga mendidih sambil diaduk rata. Masukkan kacang hijau yang sudah direbus, aduk rata kemudian angkat.
  3. Segera tuang adonan puding kacang hijau selagi panas di atas puding santan yang mulai mengeras atau tusuk-tusuk permukaannya dengan lidi sate bila sudah terlanjur mengeras. Begitu juga saat menuangkan bagian puding santan di atas puding kacang hijau.
  4. Setelah puding mengeras, keluarkan dari cetakan lalu potong-potong menurut selera saat disajikan. 

Dessert Puding Jahe Kacang Hijau

Bahan Puding Jahe:
  • 1.000 ml santan dari 1/2 butir kelapa
  • 200 gram jahe bakar, dimemarkan
  • 100 gram kacang hijau, direbus hingga empuk
  • 1 bungkus agar-agar bubuk
  • 1 sendok teh jeli instan bubuk
  • 100 gram gula palem
  • 50 gram gula pasir
  • 2 kuning telur

Bahan Saus Jahe:
  • 100 gram jahe, dibakar hingga harum, kupas, memarkan
  • 500 ml air
  • 150 gram gula merah
  • 1/4 sendok teh garam
  • 1 1/2 sendok makan maizena, dilarutkan dalam 1 1/2 sendok makan air

Cara Pembuatan:
  1. Rebus santan dan jahe hingga harum. Saring. Tambahkan kacang hijau, agar-agar bubuk, jeli instan bubuk, gula palem, dan gula pasir sambil diaduk sampai mendidih. Matikan api.
  2. Ambil sedikit rebusan puding. Tuang ke kuning telur. Aduk rata. Masukkan kembali ke dalam rebusan puding. Aduk rata. Nyalakan api kembali. Masak sambil diaduk hingga mendidih. Tuang ke dalam gelas kecil. Biarkan beku.
  3. Saus jahe, rebus air bersama jahe sampai mendidih. Masukkan gula merah dan garam. Aduk rata. Saring. Kentalkan dengan larutan maizena. Aduk sampai meletup-letup.
  4. Sajikan puding bersama saus jahe.

Puding jahe kacang hijau ini lebih enak bila disantap dalam keadaan dingin, masukkan ke dalam kulkas lebih dahulu.

Bagaimana, mudah semua kan? Selamat mencoba mempraktekkan sendiri di rumah. Semoga bermanfaat.

Temuan Penelitian Ilmiah Seputar Kucing

Kucing adalah binatang piaraan yang paling sering kita temui di berbagai tempat. Telah banyak bukti ilmiah bahwa kucing memiliki banyak manfaat bagi manusia. Berikut beberapa hasil penelitian yang dilakukan berbagai pakar seputar kucing.

1. Kucing adalah sebaik-baik binatang yang mampu memberikan terapi

Kucing mampu memberikan dukungan sosial selama masa-masa sulit, seperti kehilangan orang yang dicintai. Mengajak bicara kucing, bercanda dengan kucing, terbukti mampu lebih cepat meringankan gejala fisik semisal nyeri dan juga menangis. Mungkin kucing tidak akan merespon seperti kita harapkan dari manusia, akan tetapi lihatlah apa yang ditunjukkan dari kucing tersebut.

2. Pemilik kucing lebih cerdas daripada pemilik anjing

Kucing dan anjing adalah hewan yang paling umum dipelihara manusia. Mereka bisa menjadi sahabat bagi pemiliknya. Hanya, penelitian Carroll University di Wisconsin, Amerika Serikat menemukan perbedaan yang signifikan antara pemelihara kucing dan pemelihara anjing. Temuan ini didasarkan pada survei terhadap sekitar 600 siswa di satu sekolah. Mereka menjalani tes uji coba. Hasilnya? Penelitian ini mengungkapkan bahwa pemelihara kucing memiliki kepribadian dan kecerdasan yang lebih tinggi daripada pemelihara anjing. Alasan lainnya, menurut seorang psikolog adalah sifat introvert pemilik kucing turut menentukan juga dalam hal ini.

3. Pecinta dan pemilik kucing, pemikiran mereka lebih terbuka, sensitif, dan anti kemapanan

Mungkin mirip dengan binatang kesayangannya, para pemilik kucing dinilai tidak terlalu suka mengikuti aturan, dan cenderung berpikiran lebih terbuka.

4. Kucing memiliki Carbon Footprint (jejak Karbon) lebih rendah daripada jejak karbon anjing

Sebuah penelitian yang dilakukan pada 2009 menyatakan bahwa kucing memiliki jejak kaki dengan kandungan karbon yang lebih sedikit daripada anjing. Hal ini disebabkan karena kucing lebih gemar memakan ikan daripada biskuit hewan yang berupa sayur beraroma daging sapi.

5. Kucing adalah teman terbaik pada masa tumbuh kembang anak

Dalam sebuah penelitian terhadap anak-anak yang tinggal dengan kucing, 81% mengatakan bahwa mereka lebih suka mengobrol dengan kucing mereka tentang perasaan mereka daripada orang tua dan teman-teman mereka. Sekitar 87% dari anak-anak menganggap kucing mereka menjadi 'teman dekat.'

6. Kucing dapat menurunkan kolesterol

Ilmuwan Kanada percaya bahwa memiliki kucing dapat membantu menurunkan kadar senyawa kimia yang disebut trigliserida, yang menyebabkan kolesterol tinggi. Meskipun demikian bukan berarti memiliki kucing menjadi alasan untuk tidak makan dengan baik dan berolahraga.

7. Kucing membantu memberikan ketenangan pada orang yang sedang depresi

Memiliki kucing juga dapat membantu meringankan depresi. Kalaupun kucing mungkin tidak benar-benar "menyembuhkan" depresi , tetapi ia dapat membantu mengalihkan pikiran Anda dari masalah Anda. Universitas Missouri menemukan bahwa memiliki kucing dapat mengurangi tingkat stres pada manusia. Studi ini melihat 240 pasangan menikah yang diberikan tekanan/stres dalam mengerjakan tugas, mereka yang memiliki kucing pada saat itu mereka mengalami jauh lebih sedikit stres daripada mereka yang tidak. Membelai kucing juga dapat meningkatkan kadar oksitosin yang ditemukan dalam tubuh. Oksitosin dikenal sebagai "hormon cinta" yang dihasilkan oleh sentuhan dan akan meningkatkan perasaan bahagia.

8. Kucing dapat menurunkan tekanan darah

The University of Missouri College of Veterinary Medicine Research Center for Human-Animal Interaction telah menemukan bahwa memberikan perhatian kucing membantu mengurangi tingkat hormon yang disebut kortisol, yang berfungsi menstabilkan tingkat tekanan darah.

9. Kucing dapat mengurangi serangan jantung

Sebuah penelitian panjang selama 10 tahun dari University of Minnesota menemukan bahwa dengan memiliki kucing dapat mengurangi tingkat stres dan juga mengurangi terjadinya serangan jantung hingga 40%.

10. Kucing membantu anak autis

Autisme ditandai dengan kesulitan dalam interaksi sosial dan komunikasi. Penelitian di Universitas Queensland menemukan bahwa mereka dengan penyakit autisme sulit berkomunikasi dengan cara yang sama seperti orang lain. Memiliki kucing benar-benar dapat membantu dalam kasus ini . Ada kasus di mana kucing telah berperan dalam terapi untuk anak autis. Gangguan perkembangan lain dapat dibantu dengan terapi kucing juga.

11. Dengkuran kucing memiliki efek penyembuhan

Kucing mendengkur dalam rentang 20-140 Hz, yang dikenal secara medis terapi untuk beberapa penyakit. Mendengkur telah dikenal untuk menurunkan stres, mengurangi gejala dyspnea, membantu dalam penyembuhan tulang dan jaringan lunak serta menurunkan tekanan darah.

12. Kucing punya kepedulian terhadap penderita Alzheimer

Ketika mereka memiliki kucing di rumah mereka, orang -orang dengan penyakit Alzheimer akan berkurang kecemasan mereka. Kucing adalah hewan peliharaan yang sangat baik bagi penderita Alzheimer karena mereka membutuhkan perawatan yang lebih sederhana daripada anjing.

sumber: kaskus.co.id

Yang jelas, sejumlah dalil-dalil Hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tentang kucing menunjukkan hal-hal positif dari hewan ini.

عُذِّبَتْ امْرَأَةٌ فِي هِرَّةٍ حَبَسَتْهَا حَتَّى مَاتَتْ جُوعًا فَدَخَلَتْ فِيهَا النَّارَ قَالَ فَقَالَ وَاللَّهُ أَعْلَمُ لَا أَنْتِ أَطْعَمْتِهَا وَلَا سَقَيْتِهَا حِينَ حَبَسْتِيهَا وَلَا أَنْتِ أَرْسَلْتِهَا فَأَكَلَتْ مِنْ خَشَاشِ الْأَرْضِ
"Ada seorang wanita disiksa karena mengurung seekor kucing hingga mati kelaparan maka wanita itupun masuk neraka karenanya". Nafi' berkata; Beliau bersabda: "Sungguh Allah Maha Mengetahui bahwa kamu tidak memberinya makan dan minum ketika engkau mengurungnya dan tidak membiarkannya berkeliaran sehingga dia dapat memakan hewan-hewan kecil di tanah"
. [HR. Bukhari]

عَنْ كَبْشَةَ بِنْتِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ وَكَانَتْ تَحْتَ ابْنِ أَبِي قَتَادَةَ أَنَّ أَبَا قَتَادَةَ دَخَلَ فَسَكَبَتْ لَهُ وَضُوءًا فَجَاءَتْ هِرَّةٌ فَشَرِبَتْ مِنْهُ فَأَصْغَى لَهَا الْإِنَاءَ حَتَّى شَرِبَتْ قَالَتْ كَبْشَةُ فَرَآنِي أَنْظُرُ إِلَيْهِ فَقَالَ أَتَعْجَبِينَ يَا ابْنَةَ أَخِي فَقُلْتُ نَعَمْ فَقَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ إِنَّهَا مِنْ الطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ وَالطَّوَّافَاتِ
Dari Kabsyah binti Ka'b bin Malik dan ketika itu dia dinikahi oleh Ibnu Abi Qatadah, bahwasanya Abu Qatadah masuk, lalu dia menuangkan (mempersiapkan) air wudhu baginya, lalu datang seekor kucing dan minum darinya, maka dia memiringkan bejana untuk kucing tersebut hingga ia selesai minum. Kabsyah berkata; Dia melihatku (ketika dia merasa bahwa) aku sedang memperhatikannya, maka dia berkata; "Apakah engkau heran wahai anak saudaraku?" Saya menjawab; "Ya." Dia berkata; Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya kucing tidaklah najis, ia di antara binatang jantan dan betina yang selalu mengelilingi kalian." [HR. Abu Dawud]

عَنْ دَاوُدَ بْنِ صَالِحِ بْنِ دِينَارٍ التَّمَّارِ عَنْ أُمِّهِ أَنَّ مَوْلَاتَهَا أَرْسَلَتْهَا بِهَرِيسَةٍ إِلَى عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا فَوَجَدَتْهَا تُصَلِّي فَأَشَارَتْ إِلَيَّ أَنْ ضَعِيهَا فَجَاءَتْ هِرَّةٌ فَأَكَلَتْ مِنْهَا فَلَمَّا انْصَرَفَتْ أَكَلَتْ مِنْ حَيْثُ أَكَلَتْ الْهِرَّةُ فَقَالَتْ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ إِنَّمَا هِيَ مِنْ الطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ وَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَوَضَّأُ بِفَضْلِهَا
Dari Dawud bin Shalih bin Dinar At Tammar dari Ibunya, bahwasanya tuan wanitanya memerintahkan kepadanya untuk membawa kue (terbuat dari tepung gandum) kepada Aisyah radliallahu 'anha, namun dia mendapati Aisyah sedang shalat, maka Aisyah memberikan isyarat kepadanya untuk meletakkan apa yang dia bawa. Lalu seekor kucing datang dan langsung memakan sesuatu darinya. Setelah Aisyah selesai shalat, dia memakan dari bagian yang dimakan oleh kucing tersebut seraya berkata; Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya kucing tidaklah najis, ia di antara binatang yang selalu mengelilingi kalian." Dan aku pernah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berwudhu dengan air sisa jilatan kucing. [HR. Abu Dawud]

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كُنْتُ أَتَوَضَّأُ أَنَا وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ قَدْ أَصَابَتْ مِنْهُ الْهِرَّةُ قَبْلَ ذَلِكَ
Dari Aisyah ia berkata; "Aku dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berwudlu dari satu bejana yang sebelumnya telah dijilat kucing." [HR. Ibnu Majah]

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْهِرَّةُ لَا تَقْطَعُ الصَّلَاةَ لِأَنَّهَا مِنْ مَتَاعِ الْبَيْتِ
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Kucing tidak memutus (membatalkan) shalat, karena ia termasuk perhiasan rumah." [Ibnu Majah]

عَنْ خَالَتِهَا كَبْشَةَ بِنْتِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ وَكَانَتْ تَحْتَ ابْنِ أَبِي قَتَادَةَ الْأَنْصَارِيِّ أَنَّهَا أَخْبَرَتْهَا أَنَّ أَبَا قَتَادَةَ دَخَلَ عَلَيْهَا فَسَكَبَتْ لَهُ وَضُوءًا فَجَاءَتْ هِرَّةٌ لِتَشْرَبَ مِنْهُ فَأَصْغَى لَهَا الْإِنَاءَ حَتَّى شَرِبَتْ قَالَتْ كَبْشَةُ فَرَآنِي أَنْظُرُ إِلَيْهِ فَقَالَ أَتَعْجَبِينَ يَا ابْنَةَ أَخِي قَالَتْ فَقُلْتُ نَعَمْ فَقَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ إِنَّمَا هِيَ مِنْ الطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ أَوْ الطَّوَّافَاتِ
Kabsyah binti Ka'ab bin Malik - dan dia dibawah asuhan Abu Qatadah Al Anshari, dia mengabarkan kepadanya bahwa Abu Qatadah mengunjunginya, Kabsyah pun menuangkan air wudlu kepadanya, tiba-tiba datang seekor kucing yang minum dari air wudlunya, maka dia mendekatkan bejana sehingga kucing itu meminumnya. Kabsyah berkata; Lalu dia melihatku yang sedang memperhatikannya dan berkata; "Apakah kamu heran Wahai putri saudaraku?" Dia berkata; lalu saya menjawab, "Ya." Abu Qatadah menerangkan, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Kucing itu tidak najis, karena dia adalah hewan yang berada di sekitar kita." [HR. Malik]

السِّنَّوْرُ مِنْ أَهْلِ الْبَيْتِ وَإِنَّهُ مِنْ الطَّوَّافِينَ أَوْ الطَّوَّافَاتِ عَلَيْكُمْ
Abu Qatadah berkata; Aku mendengar Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Kucing termasuk penghuni rumah dan ia memang hewan-hewan yang suka berkeliaran diantara kalian." [HR. Ahmad]

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ رَافِعٍ قَالَ قُلْتُ لِأَبِي هُرَيْرَةَ لِمَ كُنِّيتَ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ أَمَا تَفْرَقُ مِنِّي قُلْتُ بَلَى وَاللَّهِ إِنِّي لَأَهَابُكَ قَالَ كُنْتُ أَرْعَى غَنَمَ أَهْلِي وَكَانَتْ لِي هُرَيْرَةٌ صَغِيرَةٌ فَكُنْتُ أَضَعُهَا بِاللَّيْلِ فِي شَجَرَةٍ فَإِذَا كَانَ النَّهَارُ ذَهَبْتُ بِهَا مَعِي فَلَعِبْتُ بِهَا فَكَنَّوْنِي أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ
Dari Abdullah bin Rafi' dia berkata; aku berkata kepada Abu Hurairah; "Kenapa anda di juluki dengan Abu Hurairah?" dia menjawab; "apakah kamu mengkhawatirkanku?" jawabku; "Ya, demi Allah, sungguh aku mengkhawatirkanmu." Abu Hurairah berkata; "Dahulu aku seorang penggembala kambing miliki keluargaku, dan aku memiliki seekor kucing kecil, jika malam hari, aku menaruhnya di pepohonan, dan jika siang hari, aku pergi dan bermain bersamanya, oleh karena itu, aku di juluki dengan Abu Hurairah." Abu Isa berkata; "Hadits ini adalah hadits hasan gharib." [HR. Tirmidzi]

Menyorot Pemberontakan dan Kudeta terhadap Pemerintah di Era Kontemporer

Tak terhingga jumlah dan ragam nas-nas syariat yang mengharamkan pemberontakan kepada pemerintahan yang legal secara syar'i. Wajar jika muncul pertanyaan seputar bentuk-bentuk pemberontakan  tersebut di era kontemporer ini.

Sebelum mengkaji beberapa bentuk pemberontakan kontemporer, perlu terlebih dahulu kita memahami makna al-baghyu/pemberontakan dan al-khuruj/kudeta.

Makna al-Baghyu / Pemberontakan

Dalam bahasa Arab, kata al-baghyu bermakna melampaui batas. Al-Thabari menyatakan:

Al-Baghyu merupakan bentuk masdar dari ungkapan: "baghaa fulan ala fulanin baghyan" si fulan menganiaya fulan dengan penganiayaan yang sebenarnya, apabila ia bertindak sewenang-wenang dan melampaui batas kepadanya. Karenanya kata baghyu dipakai dan dikatakan kepada luka yang dalam apabila kelewat batas, laut apabila meluap airnya, gumpalan awan yang menurunkan hujan hingga bumi menjadi subur. Karena semuanya mengandung arti melampai batas. [1]

Dalam kajian fiqh siyasah syar'iyah, kata baghyu biasanya digunakan untuk menggambarkan tindakan yang melampaui batas dalam berinteraksi dengan pemimpin yang legal secara syar'i. Yaitu dengan keengganan menjalankan kewajiban dan ketaatan kepada pemerintah atau wakil pemerintah hingga tingkat melakukan perlawanan dan peperangan kepadanya.

Ibn al-Arabi menyatakan:

Permasalahan kedelapan adalah firman Allah:

فَإن بَغَتْ إحْدَاهُمَا عَلَى الأُخْرَى
Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain (QS. al-Hujurat: 9)

Rangkain kata dari huruf (ba-gha-ya) dalam dalam bahasa Arab bermakna mencari dan menuntut, Allah berfirman:   {ذَلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِ} "Itulah (tempat) yang kita cari." (QS. al-Kahfi: 64).  Di sini, ungkapan tersebut dipakai terhadap orang yang menuntut sesuatu yang tidak pantas, mengikuti tradisi Arab yang sering mengungkapkan sesuatu dengan menyebut sebagian dari karakter obyeknya. Dalam hal ini, orang yang keluar dari ketaatan kepada pemimpin itu menuntut agar ia melepas jabatannya, atau memboikotnya dengan tidak mau taat kepadanya, atau menahan hak yang wajib ditunaikan kepada pemimpin tersebut dengan dalih yang ditakwilkan.[2]

Imam Nawawi menyatakan: "Al-Baaghiy/pemberontak dalam terminologi ulama adalah orang yang menyelisihi pemimpin yang memiliki komitmen keagamaan, yang keluar dari ketaatan kepadanya dengan keengganan menunaikan kewajiban atau bentuk keengganan lainnya dengan ketentuan tertentu…"

Selanjutnya beliau menyatakan:

"Orang-orang yang menantang pemimpin dengan keluar dari ketaatan kepadanya atau tidak mau tunduk, dan enggan menunaikan kewajiban kepadanya itu terbagi dua, bughat/pemberontak dan bukan bughat. Masing-masing kelompok tersebut memiliki hukum tersendiri, hingga semi bughat juga memiliki hukum tersendiri tergantung pada karakter yang dominan pada diri mereka.

Adapun para pemberontak, maka ciri yang dominan pada mereka ada dua:

Pertama, memiliki dan menyakini takwil yang menyebabkan mereka keluar dari ketaatan kepada pemimpin atau enggan menunaikan hak yang wajib atas mereka. Maka seandainya suatu kelompok keluar dari ketaatan dan enggan menunaikan kewajiban mereka tanpa dasar takwil, baik berupa had/pidana, qishas, harta yang harus dikeluarkan di jalan Allah atau harta milik orang lain atas dasar pembangkangan dan kesombongan, dan bukan karena takwil, maka mereka itu tidak diperlakukan kepadanya hukum-hukum bughat/pemberontak.

Kedua, memiliki kekuatan dan pasukan yang mengharuskan seorang pemimpin mengeluarkan biaya besar, mengerahkan pasukan dan menempuh jalan perang untuk menundukkan dan mengembalikan mereka kepada ketaatan. Kalau mereka hanya beberapa orang saja dan mudah ditundukkan maka mereka bukanlah bughat. [3]

Al-Hatthab menulis:

"Mengutip dari al-Jauhari,  al-baghyu secara etimologi adalah melampaui batas. Dalam Ahkam Al-Quran, Ibn al-Arabi menyatakan: "Rangkaian kata dari huruf (ba-gha-ya) digunakan untuk menuntut, tetapi dalam tradisi penggunaannya terbatas pada tuntutan khusus, yaitu menuntut sesuatu yang tidak pantas dituntut." Dan secara terminologi, Ibn Arafah mendefinisikan al-baghyu adalah: "Enggan taat kepada pemimpin yang legal dalam perkara yang tidak mengandung unsur kemaksiatan dengan mughalabah/pertikaian, meski dengan dasar takwil."

Lalu al- Hatthab mendefinisikan al-bagiyah sebagai kelompok pemberontak, dengan menyatakan:

"Sekelompok dari kaum muslim yang menantang pemimpin dengan dua hal: enggan menunaikan hak yang wajib atasnya berupa zakat atau salah satu di antara hukum-hukum syariat. Atau enggan taat kepadanya sebagaimana mestinya. Atau ia menantangnya dengan tujuan untuk melengserkannya dari jabatan. Ibn Abd al-Salam menegaskan bahwa yang dimaksud dengan pemimpin di sini adalah khalifah/presiden atau wakilnya." [4]

Ibn Qudamah membagi orang-orang yang keluar dari kekuasaan pemimpin menjadi empat kelompok:

Pertama, kaum yang enggan taat dan keluar dari kekuasaan pemimpin tanpa memiliki alasan takwil. Mereka adalah quththa' al-thariq/penyamun, yang senantiasa melakukan keonaran di muka bumi.

Kedua, kaum yang memiliki alsan takwil, tetapi jumlah mereka hanya segelintir orang dan tidak memiliki kekuatan, jumlahnya satu, dua, hingga sekitar sepuluh orang saja. Mereka juga dipandang sebagai quththa' al-thariq menurut mayoritas mazhab kami (Mazhab Hanbali) dan Mazhab Syafi'i.

Ketiga, kaum Khawarij yang mengkafirkan pelaku dosa. . . Menurut pandangan para fuqaha mutaakhkhirin dalam mazhab kami, mereka itu adalah bughat. Pendapat ini juga merupakan pendapat Imam Abu Hanifah, Imam Syafi'i, dan mayoritas fuqaha dan ahli hadits. Sedang Imam Malik berpendapat bahwa mereka harus disuruh bertaubat, dan kalau mereka tidak mau taubat maka mereka harus diperangi karena kejahatannya, bukan karena kekafirannya.

Sedang kelompok lainnya dari ahli hadits berpendapat bahwa mereka itu kafir dan keluar dari Islam, hukuman mereka sama dengan hukuman orang-orang murtad. Jiwanya halal dibunuh dan hartanya halal diambil. . . Sedang mayoritas fuqaha berpendapat bahwa mereka adalah bughat dan tidak memandang mereka kafir.

Ibn al-Munzir menyatakan: "Saya tidak mengetahui seseorang yang sependapat dengan ahli hadits dalam mengkafirkan dan menjadikan mereka sama dengan orang-orang murtad."

Keempat, kaum pengusung kebenaran yang keluar dari kekuasaan pemimpin dan berusaha menurunkannya dari jabatan dengan alasan takwil tertentu yang legal, sedang mereka memiliki kekuatan yang membutuhkan kekuatan pasukan untuk menundukkannya. Mereka itu adalah bughat. [5]

Al-Syaukani berpendapat bahwa:

"Al-baghiy/pemberontak adalah orang yang keluar dari ketaatan kepada pemimpin yang wajib ditaati karena perintah Allah, dan berimbas kepada pelaksanaan tugas yang membawa kemaslahatan kaum muslim dan mencegah kemafsadatan dari mereka tanpa alasan yang tepat dan bukan dalam rangka menasehati pemimpin. Kalau hal itu dibarengi dengan peperangan kepada pemimpin tersebut maka hal itu sudah benar-benar pemberontakan penuh." [6]

Kesimpulan dari ulasan para ulama di atas adalah pemberontakan itu merupakan keengganan taat kepada pemimpin yang legal tanpa alasan yang tepat, berupa keengganan menunaikan hak yang wajib atasnya, atau keengganan melakukan ketaatan kepada pemimpin atau kepada wakilnya, serta berperang di atas jalan tersebut.

Dengan demikian, jelaslah bahwa dianggapnya suatu perbuatan atau tindakan sebagai bentuk pemberontakan membawa beberapa konsekwensi, yaitu:

1. Keengganan taat kepada pemimpin itu terjadi pada pemimpin legal secara syar'i yang wajib ditaati seperti khalifah, presiden ataupun wakilnya. Apabila pemimpin itu bukan pemimpin legal secara syar'i atau yang tidak wajib ditaati, maka keengganan taat kepadanya bukanlah tindakan pemberontakan, sebab tidak terdapat larangan ataupun  celaan dalam meninggalkan ketaatan terhadap orang yang tidak wajib ditaati.

2. Keengganan taat itu terjadi pada hak-hak pihak lain, misalnya enggan menunaikan tugas yang diwajibkan Allah atas dirinya, enggan menunaikan hak pemimpin ataupun hak orang lain. Apabila ia enggan taat dalam bermaksiat kepada Allah maka keengganan itu bukan baghyu. Justru keengganan taat dalam kemaksiatan itu merupakan kewajiban.

3. Keeangganan itu dilakukan atas dasar takwil yang dijadikan pegangan. Apabila keengganannya didasarkan kepada pembangkangan dan kesombongan tanpa ada takwil maka hal itu bukan baghyu, tetapi hanya kemaksiatan yang mungkin besar ataupun kecil tergantung bentuknya.

4. Keengganan itu dilakukan oleh kelompok yang memiliki kekuatan dan memerlukan biaya, pasukan, dan peperangan untuk menundukkan mereka. Apabila mereka hanya segelintir orang yang terpencar di mana-mana sehingga mudah menaklukkannya tanpa pasukan dan biaya besar, maka mereka bukan bughat tetapi mereka hanya quththau' thariq/penyamun atau muharib.

Dalam penjelasan di atas, sebagian ulama menjadikan upaya menggulingkan seorang pemimpin dari jabatannya sebagai bentuk baghyu/pemberontakan. Tetapi menurut hemat penulis, yang lebih tepat adalah menjadikan upaya tersebut sebagai bentuk khuruj/kudeta dan bukan baghyu. Karena khuruj terhadap seorang pemimpin syar'i dan memeranginya dengan tujuan mencopot jabatannya jauh lebih besar resikonya daripada baghyu. Dengan demikian, nampak perbedaan antara aksi baghyu dan aksi khuruj, berbeda kalau memasukkan upaya menggulingkan pemimpin ke dalam upaya baghyu, sebab tidak dapat dibedakan antara baghyu dan khuruj.

Makna al-Khuruj/kudeta

Secara etimologi, khuruj dalam bahasa Arab berarti berpindah dan memisahkan diri, yang mencakup dimensi waktu, tempat dan aktivitas. Khuruj merupakan antonim dukhul/masuk.

Dalam kajian fiqh siyasah syar'iyah, kata khuruj biasanya digunakan untuk menggambarkan oposisi yang dilakukan dalam menentang pemimpin legal yang lazimnya dibarengi dengan peperangan untuk menggulingkan pemimpin tersebut dan menggantikannya dengan yang lain.

Kalau penentangan itu hanya sebatas keengganan taat dan berujung pada peperangan tetapi tidak memiliki agenda menggulingkan pemimpin yang ada dan menggantikannya dengan yang lain maka upaya itu hanya baghyu saja.

Sejumlah fuqaha menggunakan istilah khuruj sebagai sinonim dari perang revolusi terhadap para pemimpin.

Para ulama tidak menggunakan istilah khuruj dalam menghukumi pengingkaran terhadap para pemimpin yang melakukan kemaksiatan atau menyelisihi kebenaran. Mereka juga tidak menggunakan istilah tersebut untuk menvonis orang yang tidak taat kepada pemimpin dalam melakukan perintah dan meninggalkan larangannya.

Atas dasar itu, seluruh ulama konsensus atas haramnya melakukan kudeta terhadap para pemimpin (legal secara syar'i, pent.) meskipun mereka zalim ataupun fasik. Meski tetap diakui bahwa pada abad Islam pertama (generasi sahabat) sempat terjadi silang pendapat tentang status hukumnya tetapi hal itu tidak berlangsung lama, hingga akhirnya terjadi konsensus atas keharamannya.

Dalam mengomentari para pemimpin zalim, Ibn Batthal menegaskan bahwa:

"Pendapat jumhur mengatakan tidak wajib memerangi dan menggulingkan mereka, kecuali kalau mereka kafir setelah beriman (murtad) dan tidak menegakkan shalat. Adapun penyimpangan dan kezaliman lainnya maka tidak boleh melakukan tindak khuruj atas mereka selama pemerintahannya bersatu dan masyarakat tetap setuju dan bersatu bersama mereka. Alasannya karena meninggalkan tindak khuruj dapat memelihara harga diri, harta benda dan mencegah terjadinya pertumpahan darah. Sebaliknya, tindakan khuruj menyebabkan perpecahan dan menimbulkan permusuhan. Juga tidak boleh membantu mereka memerangi orang-orang yang melakukan khuruj akibat kezaliman yang mereka lakukan kepada masyarakatnya." [7]

Di tempat lain, Ibn Batthal menulis:

"Dalam hadits-hadits ini, terdapat hujjah untuk meninggalkan khuruj atas pemimpin zalim, dan tetap konsisten taat kepadanya. Para fuqaha konsensus atas keharusan taat kepada pemimpin yang menang atas rivalnya setelah melakukan khuruj atasnya, selama ia menegakkan shalat jum'at dan jama'ah, dan selama ia menegakkan jihad. Mereka juga konsensus bahwa mentaati pemimpin tersebut lebih baik daripada melakukan tindak khuruj atasnya. Hal itu karena sikap seperti itu dapat mencegah terjadinya pertumpahan darah dan menjaga ketertiban umum." [8]

Dalam hal ini, Ibn Hajar menukil pendapat al-Gazali. Ibn Hajar menulis:

"Dalam memvonis orang-orang Khawarij yang mengkafirkan pelaku dosa besar, dalam kitab al-Wasith,[9] Gazali berpendapat, sebagaimana pendapat ulama lainnya bahwa hukuman mereka ada dua pendapat. Pendapat pertama menvonis mereka sama dengan vonis terhadap orang-orang murtad. Sedang pendapat kedua menvonis mereka sama dengan vonis kepada ahl al-baghyi . Imam al-Rafi'i mentarjih pendapat pertama."

Selanjutnya, Ibn Hajar mengomentari pernyataan tersebut:

"Pendapat yang ia kemukakan itu tidak berlaku secara konsekuen pada setiap orang yang melakukan tindak khuruj. Karena orang-orang yang melakukan khuruj itu terbagi dua. Pertama adalah kelompok yang telah dikemukakan sebelumnya. Kedua adalah sekelompok orang yang melakukan khuruj dan menuntut kekuasaan tanpa melakukan dakwah kepada akidahnya. Kelompok ini juga terbagi dua.

1. Kelompok yang khuruj atas dasar pembelaan terhadap agama, akibat kezaliman dan penyimpangan pemimpin dengan meninggalkan penerapan sunnah Nabi. Kelompok ini adalah kelompok yang benar, di antara yang masuk dalam kategori ini adalah Husain ibn Ali, dan penduduk Kota Medinah yang melakukan khuruj pada perang al-Harrah, juga para qari' yang melakukan khuruj atas Hajjaj ibn Yusuf.

2. Kelompok yang khuruj semata-mata untuk menuntut kekuasaan, baik karena mereka memiliki dalih syubhat atau tidak, mereka itu  adalah bughat."[10]

Mengingkari Pemerintah Tidak Termasuk Aksi Khuruj

Ibn Rajab berpendapat bahwa:

"Melakukan perubahan dengan tangan tidak otomatis mengakibatkan perang. Menurut riwayat Shaleh, Imam Ahmad menegaskan bahwa melakukan perubahan dengan tangan tidak dikategorikan perang dengan pedang atau senjata.  Dengan demikian memerangi pemerintah dengan tangan adalah menghilangkan kemungkaran yang mereka lakukan, seperti menumpahkan khamar, atau menghancurkan alat-alat musik mereka dan semacamnya dengan tangan. Atau jika  mampu membatalkan kezaliman yang mereka perintahkan dengan tangan. Semua itu dibolehkan dan tidak termasuk dalam kategori memerangi pemerintah. Juga tidak termasuk aksi khuruj atas mereka yang terlarang. Hal yang dikhawatirkan terjadi dalam hal ini hanya berimplikasi pada dibunuhnya orang yang menyerukan hal itu saja. Sementara khuruj dengan pedang, yang dikhawatirkan adalah implikasinya kepada pertumpahan darah kaum muslim yang meluas." [11]

Jadi mengingkari kesalahan pemerintah bukan aksi khuruj, demikian pula halnya dengan menyelisihi dan menyalahi pemerintah dalam menjelaskan dan menentukan kebenaran tidak termasuk tindakan khuruj. Allah berfirman:

{فإن تنازعتم في شيء فردوه إلى الله والرسول}
Maka jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya). (QS. an-Nisa: 59).

Ibn Jarir menafsirkan: Allah Azza wa Jalla maksudkan bahwa jika kalian sebagai orang-orang beriman berselisih pendapat dalam suatu perkara agama di antara sesama mukmin, atau antara kalian dengan pemerintah kalian hingga kalian bertengkar di dalamnya.[12]

Beliau tidak menganggap perselisihan dengan pemerintah dalam mencari dan memahami kebenaran sebagai aksi khuruj. Bahkan mereka diperintahkan mengembalikan perselisihan mereka kepada Allah dan Rasul.

Haramnya Aksi Kudeta Atas Pemerintah Zalim Tidak Berarti Selalu Pro Kepadanya

Haramnya melakukan aksi khuruj atas pemerintah yang zalim atau fasik tidak berarti harus memberikan dukungan kepadanya dalam memerangi orang yang melakukan aksi khuruj atasnya.

Ibn Batthal berpendapat bahwa:

"Jika pemerintah itu tidak memiliki komitmen keagamaan, maka yang wajib menurut pendapat ulama Ahl al-Sunnah adalah tidak melakukan aksi khuruj atas pemerintah tersebut. Lalu berupaya menegakkan bersamanya hudud Allah, shalat, haji, jihad, dan  membayar zakat.

Barang siapa di antara masyarakat melakukan tindak khuruj atas pemerintah itu dengan alasan takwil yang menyelisihi sunnah, atau karena kezalimannya, atau untuk memilih pemimpin yang lain, maka ia dinamakan fasik, zalim, perampas. Hal itu karena aksi khuruj tersebut berakibat pecahnya keutuhan jama'ah kaum muslim dan biasanya menimbulkan pertumpahan darah. . .

Apabila pemerintah zalim itu memerangi para pelaku aksi khuruj tersebut, maka kaum muslim tidak boleh menumpahkan darahnya sendiri untuk membela pemerintah yang zalim tersebut. 

Banyak tokoh di kalangan sahabat yang diakui kapabelitas ilmu dan ketokohannya tidak mau ikut berperang bersama Ali (dalam perang Jamal dan Shiffin, pent.) karena mereka menganggap hal itu sebagai perang "fitnah" dan karena masing-masing pihak bertikai menuduh lawannya sebagai kelompok bersalah dan melampaui batas. Begitulah kondisi asabiah dalam pandangan para ulama. Dan Ali tidak memandang orang yang tidak mendukung ataupun berperang bersamanya sebagai orang berdosa yang perlu dibenci." [13]

Sedang Ibn al-Arabi menulis:

"Masalah kesembilan, menurut riwayat Sahnun, para ulama kita (Mazhab Malikiyah, pent.) berpendapat bahwa dukungan perang itu hanya diberikan kepada pemerintah yang memiliki komitmen keagamaan. Baik yang pertama memimpin ataupun pemimpin yang melakukan aksi khuruj atasnya. Kalau kedua pemimpin tersebut tidak memenuhi standar komitmen keagamaan maka anda harus menahan diri untuk ikut berperang bersamanya, kecuali kalau perang itu ditujukan kepada jiwa atau harta anda, atau dimaksudkan untuk menzalimi kaum muslim maka hendaklah anda melakukan pembelaan.

Masalah kesepuluh, jangan ikut berperang kecuali bersama pemimpin adil yang dipilih oleh para ahlinya untuk menjadi pemimpin. Pemimpin (khalifah, pent.) itu tidak boleh kecuali dari keturunan Quraisy. Selain mereka tidak berhak menjadi pemimpin, kecuali jika ia menggalang dukungan untuk memilih pemimpin dari kalangan Quraisy. Demikian pendapat Imam Malik. Karena hak kepemimpinan itu tidak boleh diberikan kecuali kepada keturunan Quraisy.

Ibn al-Qasim meriwayatkan dari Imam Malik bahwa apabila pemerintah yang memiliki komitmen keagamaan itu dikudeta maka ia wajib dibela, seperti Umar ibn Abdul Aziz. Adapun pemerintah yang tidak adil itu, maka biarlah Allah mengatur orang zalim seperti dirinya untuk membalasnya kemudian Allah membalas mereka semuanya. Allah berfirman:

{فَإذَا جَاءَ وَعْدُ أُولاهُمَا بَعَثْنَا عَلَيْكُمْ عِبَادًا لَّنَا أُوْلِي بَأْسٍ شَدِيدٍ فَجَاسُوا خِلالَ الدِّيَارِ وَكَانَ وَعْدًا مَّفْعُولاً} [الإسراء: ?]
Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana. (QS. al-Isra': 5).

Imam Malik menegaskan: "Apabila seorang pemimpin telah dibaiat lalu dikudeta oleh saudara-saudaranya, maka mereka harus diperangi jika pemimpin yang telah dibaiat itu memiliki komitmen keagamaan. Adapun orang-orang yang melakukan kudeta itu maka mereka tidak berhak mendapatkan baiat selama pemimpin pertama itu telah dibaiat untuk mereka meski dalam kondisi takut. Imam Malik juga menegaskan bahwa harus selalu ada pemimpin, baik ataupun jahat." [14]

Antara Pemberontakan dan Kudeta

Barang siapa menyelisihi pemimpin atau wakilnya dan enggan taat kepadanya tanpa memeranginya atau tanpa melakukan upaya mengubah dan menggantinya dengan pemimpin lain, maka tindak itu bukan kudeta dan buka pemberontakan. Orang yang melakukan aksi tersebut tidak disebut sebagai pengkudeta ataupun pemberontak, ia hanya disebut sebagai pelaku maksiat.

Perbedaan antara kudeta dan pemberontakan adalah kudeta merupakan aksi menjatuhkan pemimpin dan menggantikannya dengan pemimpin yang lain. Sedang pemberontakan terbatas pada aksi penyelisihan dan keengganan melakukan ketaatan yang disertai dengan perlawanan.

Sebagian ulama memandang upaya menjatuhkan pemimpin itu sebagai pemberontakan. Dengan pendapat ini, tidak terdapat perbedaan yang jelas antara kudeta dan pemberontakan.

Tetapi, kalau kita analisa lebih cermat berbagai ungkapan dan sikap para ulama, kita akan dapatkan bahwa mereka tidak menganggap upaya menjatuhkan pemimpin dan menggantinya dengan pemimpin lain itu sebagai karakter para pemberontak. Untuk membuktikan hal itu penulis sebutkan dua pernyataan berikut sebagai contoh:

Contoh pertama:

Para penahan zakat. Mereka menahan zakatnya dan enggan menyerahkannya kepada Abu Bakar radhiyallahu anahu. Mereka tidak pernah berupaya menjatuhkan Abu Bakar dan menggantikannya dengan yang lain. Sedang dalam memvonis mereka, para fuqaha berselisih menjadi dua pendapat. Pendapat pertama memvonis mereka sebagai murtad, dan pendapat kedua memvonis mereka sebagai pemberontak.

Kelompok yang memandang mereka sebagai pemberontak nampaknya tidak memandang upaya menjatuhkan pemimpin dan menggantikannya dengan yang lain sebagai karakater atau syarat bagi pemberontakannya. Oleh karena itu, mereka memvonis para penahan zakat sebagai pemberontak, yaitu mereka yang saat menahan zakat tidak bermaksud ingin menjatuhkan pemimpin.

Contoh kedua:

Para pendukung Mu'awiyah radhiyallahu anhu enggan membaiat Amirul Mukminin Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu anhu tetapi mereka tidak pernah berupaya menjatuhkannya dan menggantikannya dengan pemimpin yang lain. 

Meski demikian, para ulama tetap menjadikan mereka sebagai kelompok pemberontak sebagaimana disebutkan dalam hadits: "Ammar akan dibunuh oleh kelompok pemberontak".[15] Kenyataannya, yang membunuh Ammar radhiyallahu anhu adalah kelompok pendukung Mu'awiyah radhiyallahu anhu sehingga mereka dikategorikan sebagai pemberontak sebagaimana ditegaskan oleh nas hadits tersebut.

Pada saat kita menerapkan berbagai kategori ini terhadap berbagai persoalan kontemporer seperti aksi mogok, demonstrasi, aksi protes, dan revolusi akan nampak bagi kita hal yang dapat dikategorikan sebagai pemberontakan ataupun kudeta dan hal tidak termasuk pemberontakan ataupun kudeta. Juga akan nampak hal yang dapat dikatakan sebagai kemaksiatan dan hal yang dapat diterima..

Ya Allah, pahamkanlah agama kepada kami, ilhamkan kepada kami akal pikiran, dan arahkanlah kami kepada pemahaman yang benar terhadap firman-Mu dan sabda Rasul-Mu!

[1] Tafsir Ibn Jarir al-Thabari, Juz IV, hal. 281.
[2] Ahkam al-Quran, Juz IV, hal 153.
[3] Raudhah al-Thalibin wa Umdah al-Muttaqin, Juz X, hal. 50-52.
[4] Mawahib al-Jalil Syarh Mukhtashar al-Khalil, Juz VI, hal. 278.
[5] Ibn Qudamah, al-Mugni, Juz VIII, hal. 522-526.
[6] Al-Sail al-Jarrar al-Mutadaffiq 'ala Hadaiq al-Azhar, Juz I, hal 965. Cet. Dar Ibn Hazm.
[7] Syarh Ibn Batthal 'ala Shahih al-Bukhari, Juz V, hal. 126.
[8] Syarh Ibn Batthal 'ala Shahih al-Bukhari, Juz X, hal.8.
[9] Lihat, al-Wasith, Juz VI, hal. 416.
[10] Fath al-Bari, Juz XII, hal. 285-286.
[11] Ibn Rajab, Jami' al-Ulum wa al-Hikam, Juz II, hal. 245-249.
[12] Tafsir Ibn Jarir, Juz VIII, hal. 504.
[13] Syarh Ibn Batthal 'ala Shahih al-Bukhari, Juz V, hal. 128.
[14]  Ibn al-Arabi, Ahkam al-Quran, Juz IV, hal 153-154.
[15] HR. Muslim, No. 2916.


sumber: http://www.albayan.co.uk/id/article.aspx?id=161

Fase Tadrib dan Fase Taklif pada Anak


Oleh: Adriano Rusfi

Dari sisi beban tanggung jawab agamanya, maka perjalanan hidup manusia terbagi dalam tiga periode: masa pra-latih (di bawah 7 tahun), masa pelatihan/ tadrib (7 - 12 tahun), dan masa pembebanan/taklif (di atas 12 tahun).

Maka orangtua yang bijak adalah orangtua yang menempatkan sang anak pada tempatnya. Mereka tak akan membebani anak sebelum masanya. Dalam hal ini tak berlaku kaidah lebih cepat lebih baik. Hendaklah para orangtua takut akan datangnya Hari Pengadilan, di mana seorang anak mengadukan orangtuanya kepada Allah, karena mereka dipaksa latih sebelum waktunya, dan dibebani taklif syar'ie sebelum waktunya.

Saat ini banyak para orangtua dengan semangat beragama menggebu-gebu ingin sesegera mungkin melekatkan identitas syar'iyyah kepada anak-anaknya. Padahal agama menetapkan bahwa pelatihan dan pembiasaan syari'ah dimulai pada usia 7 tahun. Contohnya : banyak orangtua yang telah menjilbabkan anak gadisnya pada usia yang masih sangat kecil, jauh sebelum 7 tahun, bahkan bayi. Maksudnya tentunya sangat baik, dalam rangka pembiasaan sejak dini.

Begitu juga dengan orangtua yang menargetkan jumlah hafalan Al-Qur'an tertentu pada anak usia dini. Status ini saya buat karena saya sedang menghadapi kasus siswa-siswa SMA yang dilaporkan orangtua mereka sebagai "tak lagi berkomitmen pada Islam". Padahal waktu kecilnya mereka ditanamkan Al-Islam dengan baik dan ketat.

Dalam Islam, ada tiga periodisasi pendidikan yang diajarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, dan dibakukan oleh sejumlah ulama, seperti DR. Abdullah Nasih 'Ulwan dalam kitab "Tarbiyatul Aulad".

Usia tadrib dimulai dari 7 tahun. "Perintahkanlah anakmu shalat saat dia telah berusia 7 tahun" [Hadits]. Sedangkan usia taklif adalah saat aqil-baligh (agama menyebut mereka sebagai mukallaf).

Kalau toh ada sejumlah ulama yang mengalami akselerasi, saya yakin itu bukan hasil drilling para orangtua mereka. Tapi atas kesadaran sendiri karena nilai-nilai cinta yang telah ditanamkan para orangtua. Lalu orangtua memandu anak yang atas cinta dan kesadaran sendiri ingin menghafal AlQur'an dsb.

Jadi, walaupun kewajiban belajar calistung baru dimulai pada usia 7 tahun, tapi jika anak atas kemauan sendiri ingin belajar pada usia 5 tahun, ya silakan langsung dipandu. Jangan ditunda-tunda dengan alasan "belum waktunya". Dan kunci dari "kesadaran sendiri" ini adalah KETELADANAN.

Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Perintahkanlah anak-anakmu shalat ketika mereka telah berusia tujuh tahun".

Saat itu saya bertanya-tanya, kenapa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak berkata: "Perintahkanlah anak-anakmu shalat sedini mungkin" ???

Ternyata masa 7 tahun itu adalah masa memulai sebuah proses tadrib syar'ie. Teori-teori psikologi sangat banyak bicara rentang usia 7 - 12 tahun ini. Ternyata, Allah dan RasuNya selalu benar. Maka sebagai ummatnya, kita ya mengikut Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam saja lah...

Tidak ada salahnya anak melatih dirinya sebelum itu, selama atas kesadarannya sendiri, hasil motivasi dan keteladanan dari kedua orangtuanya. Itulah yang disebut dalam psikologi sebagai Learning Readiness.

Tugas pendidikan sebelum 7 tahun adalah: TANAMKAN CINTA ATAS ALLAH. AL-ISLAM, RASULULLAH DAN ALQUR'AN, MELALUI MOTIVASI DAN KETELADANAN. Jika karena dorongan cinta itu akhirnya anak atas KEHENDAKNYA SENDIRI ingin mentadrib dirinya dengan syari'ah sebelum 7 tahun, maka tak dilarang membantu anak untuk melakukannya.

Misalkan contoh tadi, memaksakan berjilbab pada usia pra-latih itu nggak boleh, Tapi kalau anaknya sendiri yang kepengen, karena termotivasi atas keteladanan orangtuanya, ya silakan. Itu alhamdulillah banget.

Sekali lagi, jangan sampai anak kita kelak di Mahkamah Allah mengcomplain kita, karena kita merampas hak-hak yang telah Allah berikan pada mereka.

KENYANGKAN HAK ANAK PADA WAKTUNYA, MAKA IA AKAN MELAKSANAKAN KEWAJIBANNYA PADA WAKTUNYA.

Lebih banyak orang tua yang "santai" namun bertanggung jawab dalam pendidikan agama anak-anaknya, ternyata menghasilkan anak-anak yang lebih komit pada agamanya, daripada analk-anak hasil drilling dan paksaan orangtua.

Jangan lupa : KEHIDUPAN BAGAIKAN LARI MARATHON, DAN AKHIR ITU LEBIH PENTING DARIPADA PERMULAAN.

Pendidikan dasar harus kuat landasan agamanya. Yang salah adalah kalau di sekolah agama tersebut anak-anak kurang mendapatkan sentuhan aqidah, tapi malah syari'ah dan akhlaq melulu. Walau yang utama adalah tanggung jawab pendidikan agama itu di rumah, bukan di sekolah.

Allah menyatakan bahwa syariah itu taklif (beban), sesuatu yang anak nggak suka. Hanya aqidah lah yang membuat segala hal yang berat menjadi terasa ringan.

TAK AKAN ADA ANAK YANG MENCINTAI SHALAT. NAMUN JIKA DIA MENCINTAI ALLAH, MAKA DIA AKAN MENEGAKKAN SHALAT DENGAN PENUH KECINTAAN.

Landasan dari semua amal shaleh adalah iman/aqidah. Iman itu yang akan melahirkan kecintaan pada alhaq dan kebencian pada albathil. Rasulullah sendiri membangun iman selama 13 tahun di Makkah, baru menegakkan sebagian besar syari'ah di Madinah. Maka, kunci utama pendidikan aanak adalah keimanan. Inilah yang harus ditekankan pada pendidikan usia dini.

MISI PENDIDIKAN ANAK KITA ADALAH MEMBENTUK MUSLIM KAAFFAH, BUKAN MEMBENTUK MUSLIM SPESIALIS AGAMA.

Ada anak dari kecil sudah dipesantrekan, sudah hafidz qur'an. Tapi menginjak dewasa malah kabur dari pesantren. Ada dua penyebabnya:
Pertama, iman dan keridhaan atas Allah sebagai rabb, Islam sebagai AdDiin, Muhammad sebagai Rasul tidak lagi menjadi landasan pendidikan agama anak-anak kita. Segalanya dibentuk paksa.
Kedua, segalanya dilakukan tidak pada waktunya. Ada semangat keislaman yang menggebu-gebu, tapi tanpa ilmu.

ANAK-ANAK YANG DIPESANTRENKAN, MAKA DO'A ANAK TAK AKAN SAMPAI PADA ORANGTUANYA, KARENA BUKAN ORANGTUA MEREKA YANG MENDIDIK MEREKA DIWAKTU KECIL.

Pesantrenkanlah anak setelah mereka aqil-baligh. Karena tujuan dari pendidikan adalah imunisasi, bukan sterilisasi. Yang kita inginkan adalah  nak yang imun: anak yang kebel dari penyakit, walau disekitarnya banyak penyakit. Anak yang disterilisasi dari "penyakit" justru akan mudah terkena penyakit. Dan Allah baru akan mengakui hambaNya beriman jika hambaNya telah melalui ujian iman.

sumber: www.facebook.com/adriano.rusfi

Aneka Resep Makanan dengan Mie Instan

Siapa sih orang Indonesia yang tidak suka mie instan? Dari kalangan tua, muda, hingga anak-anak pasti gemar menyantap hidangan yang mudah dibuat ini. Apalagi anak kost. Mie instan menjadi pilihan waktu sedang malas makan di luar atau saat uang bulanan sudah mulai menipis.

Masalahnya, kita pasti bakal bosan kalau mie instan yang kita makan dihidangkan dengan cara yang itu-itu saja. Buat mengakali rasa bosan ini berikut disajikan kreasi-kreasi mudah dalam mengolah mie instan. Nilai plusnya? Beberapa olahan di bawah ini juga menambah nilai gizi mie instan kamu! 

Mie Nyemek

Memasak dengan cara nyemek atau lembek biasanya dipakai ketika membuat bakmi jawa. Rasanya akan lebih gurih karena bumbu meresap dengan lebih baik. Tapi dengan mie instan, kamu juga bisa kok membuat mie nyemek ala bakmi jawa ini di kost! Yang harus kamu siapkan adalah 1 bungkus mi instan, 1 butir telur, kornet secukupnya, gula, dan lada juga secukupnya. Untuk membuatnya, kamu hanya perlu merebus mie instan seperti biasa hingga matang. Lalu, buang sedikit airnya hingga tidak lagi menutupi permukaan mi. Masukkan telur, aduk dengan cepat hingga hancur. Kemudian, tambahkan kornet, bumbu mi, gula, dan lada sesuai selera. Aduk rata dan tunggu sebentar hingga telur matang. Santap selagi panas dan jangan lupa tambahkan cabai rawit! 

Mie Yamin

Ketika ingin makan mie instan goreng tetapi hanya punya mie instan rebus, kamu bisa mencoba kreasi satu ini. Bahan yang diperlukan hanya 1 bungkus mie dan kecap manis saja! Pertama, rebus mie instan seperti biasa hingga matang, lalu buang semua airnya. Tuang mie ke dalam mangkuk dan campurkan dengan bumbunya sedikit saja (sekitar 1/3 bungkus). Jangan lupa bubuhkan bubuk cabai dan minyak bumbu. Setelah diaduk rata, tambahkan kecap sesuai selera hingga rasanya menurutmu seimbang. Selamat menikmati mie goreng rasa baru! 

Martabak Mie

Kreasi yang ini pasti sudah sering kamu buat dan makan. Nggak heran, karena cara membuatnya mudah banget. Kamu cukup menyediakan 1 bungkus mi instan, 1 butir telur, dan minyak goreng. Cara membuatnya: Rebus air hingga mendidih, lalu masukkan mie instan dan masak selama ± 3 menit. Matikan api dan tiriskan mie. Kocok rata telurmu di mangkuk yang agak besar. Masukkan ke mangkuk itu mie yang telah ditiriskan bersama bumbunya. Aduk rata. Kalau di lemari es kamu terdapat sosis atau kornet, bisa ditambahkan dan aduk rata kembali. Panaskan minyak goreng di wajan anti lengket. Goreng kocokan mi dan telur hingga kecoklatan. Santap selagi panas. Kamu bisa menyantap kreasi ini dengan cocolan sambal atau saus tomat. Bisa juga disantap dengan nasi, jika kamu sedang sangat lapar.

Mie Gulung Sosis

Kalau sedang mengerjakan tugas di kamar dan butuh camilan, kenapa nggak nyoba mie gulung sosis ini? Siapkan 1 bungkus mi instan, 1 bungkus sosis, dan minyak goreng. Langkah-langkah membuatnya: Rebus mie instan hingga matang. Sambil menunggu, potong sosis menjadi 2 atau 3 bagian. Lalu, bentuk ujung sosis menjadi bentuk bunga. Tiriskan mie dan biarkan hingga dingin. Taburi mie dengan bumbunya. Lilitkan mie pada sosis. Biarkan ujung-ujung sosis tetap terlihat. Panaskan minyak pada wajan dan goreng sosis yang telah dililit mie hingga coklat keemasan. Hidangkan dengan sambal atau saus tomat. 

Sandwich Mie

Kalau kamu punya roti tawar, telur, keju, dan mie instan di kost, kreasi ini bisa menjadi alternatif di saat kamu bosan dengan mi instan yang begitu-begitu saja. Untuk membuatnya, ikuti langkah-langkah berikut: Rebus mie hingga matang, kemudian tiriskan. Kocok mie bersama bumbu dan telur. Lalu, buat martabak mie dengan mengikuti langkah di atas. Panggang dua lembar roti tawar di atas wajan dengan api kecil. Tambahkan keju dan martabak mie di atasnya. Bila kedua sisi roti telah terpanggang dengan baik, sandwich mie bisa segera kamu santap dengan sambal atau saus tomat.  

Wafel Mie

Kreasi mie instan satu ini nikmat disantap sebagai makanan penutup. Mie instan dijadikan sebagai pengganti waffle yang biasanya bertekstur seperti kue dan dihidangkan dengan es krim di atasnya. Untuk membuat makanan penutup ini, siapkan 1 bungkus mi instan, margarin, maple syrup (bisa diganti dengan madu), stroberi atau anggur, dan es krim dengan rasa sesuai selera. Cara membuatnya: Rebus mie hingga matang dan tiriskan sebentar saja. Panaskan margarin pada wajan anti lengket, lalu goreng mie kamu selagi panas. Tekan-tekan merata hingga bagian bawah mi berwarna keemasan. Lakukan langkah yang sama pada sisi mie yang satunya.Setelah kedua sisi berwarna keemasan, tiriskan mie supaya tidak berminyak. Hidangkan di piring dengan es krim, buah, dan maple syrup.  

Mie Bolognaise

Nah, sekarang giliran saus pasta terkenal bolognese yang bersanding dengan mie instan. Yang kamu butuhkan hanya dua, yaitu satu bungkus mie instan dan satu bungkus saus bolognaise instan yang banyak dijual di pasaran. Pertama, rebus mi instan hingga matang dan tiriskan. Lalu, panaskan saus bolognaise instan di atas wajan dan siramkan ke atas mi instan selagi panas. Mi instan dengan saus bolognaise siap untuk disantap!


Mie Carbonara

Biasanya hidangan carbonara dibuat dengan menggunakan pasta spaghetti, fettuccine, atau makaroni. Kalau kamu nggak punya salah satu pasta itu, kamu bisa menggunakan mi instan sebagai penggantinya. Bahan yang diperlukan pun nggak begitu mahal: cukup 1 bungkus mi instan, 1 gelas susu putih (sekitar 500ml), sosis sapi secukupnya, dan keju cheddar. Cara membuatnya: Rebus mi instan seperti biasa. Jika kamu ingin merasakan sensasi seperti memakan makaroni, remukkan dulu mie instanmu sebelum direbus. Setelah 2 menit, kecilkan api dan buang sedikit air rebusannya. Masukkan sosis dan susu. Masak hingga sosis matang dan kuah mie mulai sedikit mengental. Matikan api, masukkan bumbu, aduk rata. Tuang mie dan kuah ke mangkuk. Hidangkan dengan parutan cheddar sesuai selera di atasnya.

sumber: kaskus.co.id

Hukum Boikot dalam Tinjauan Islam

Tanya: Apa hukum memboikot produk-produk orang kafir yang melakukan kedhaliman (penindasan) terhadap kaum muslimin, seperti memboikot produk-produk Yahudi dan produk-produk yang dihasilkan oleh produsen yang membela kepentingan Yahudi?

Jawab : Para ulama telah menjelaskan bahwa asal hukum memboikot produk-produk orang kafir adalah diperbolehkan, dan jika ada maslahat syar’iy dalam pemboikotan tersebut, maka ia dapat dihukumi sunnah atau bahkan wajib.

Dalil-dalil tentang masyru’nya pemboikotan antara lain adalah:

Firman Allah ta’ala:

وَلَمَّا جَهَّزَهُمْ بِجَهَازِهِمْ قَالَ ائْتُونِي بِأَخٍ لَكُمْ مِنْ أَبِيكُمْ أَلا تَرَوْنَ أَنِّي أُوفِي الْكَيْلَ وَأَنَا خَيْرُ الْمُنْزِلِينَ * فَإِنْ لَمْ تَأْتُونِي بِهِ فَلا كَيْلَ لَكُمْ عِنْدِي وَلا تَقْرَبُونِ
“Dan tatkala Yusuf menyiapkan untuk mereka bahan makanannya, ia berkata: "Bawalah kepadaku saudaramu yang se ayah dengan kamu (Bunyamin), tidakkah kamu melihat bahwa aku menyempurnakan sukatan dan aku adalah sebaik-baik penerima tamu?. Jika kamu tidak membawanya kepadaku, maka kamu tidak akan mendapat sukatan lagi dari padaku dan jangan kamu mendekatiku” [QS. Yuusuf : 59-60].

Sisi pendalilan : Yuusuf ‘alaihis-salaam menjadikan ditahannya makanan kepada saudara-saudaranya sebagai sarana (wasiilah) untuk membawa saudaranya (Bunyamin) kepadanya.

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ
“Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka” [QS. At-Taubah : 73].

Sisi pendalilan : Jalan pemboikotan/pemutusan hubungan perdagangan (jual-beli) merupakan salah satu jalan melawan orang kafir dan munafiq dengan cara memberikan kemudlaratan secara ekonomi, sehingga ia termasuk dalam cabang jihad secara umum.

ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ لا يُصِيبُهُمْ ظَمَأٌ وَلا نَصَبٌ وَلا مَخْمَصَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلا يَطَئُونَ مَوْطِئًا يَغِيظُ الْكُفَّارَ وَلا يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَيْلا إِلا كُتِبَ لَهُمْ بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ
“Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah. dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal shalih” [QS. At-Taubah : 120].

Sisi pendalilan : pemboikotan perdagangan merupakan salah satu upaya yang menyebabkan bencana, kesulitan, dan kemudlaratan bagi orang kafir.

Dari hadits :

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ، حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، قَالَ: حَدَّثَنِي سَعِيدُ بْنُ أَبِي سَعِيدٍ، أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: بَعَثَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْلًا قِبَلَ نَجْدٍ فَجَاءَتْ بِرَجُلٍ مِنْ بَنِي حَنِيفَةَ، يُقَالُ لَهُ: ثُمَامَةُ بْنُ أُثَالٍ، فَرَبَطُوهُ بِسَارِيَةٍ مِنْ سَوَارِي الْمَسْجِدِ، فَخَرَجَ إِلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: " مَا عِنْدَكَ يَا ثُمَامَةُ؟ " فَقَالَ: عِنْدِي خَيْرٌ يَا مُحَمَّدُ، إِنْ تَقْتُلْنِي تَقْتُلْ ذَا دَمٍ، وَإِنْ تُنْعِمْ تُنْعِمْ عَلَى شَاكِرٍ، وَإِنْ كُنْتَ تُرِيدُ الْمَالَ، فَسَلْ مِنْهُ مَا شِئْتَ، فَتُرِكَ حَتَّى كَانَ الْغَدُ، ثُمَّ قَالَ لَهُ: " مَا عِنْدَكَ يَا ثُمَامَةُ؟ " قَالَ: مَا قُلْتُ لَكَ: إِنْ تُنْعِمْ تُنْعِمْ عَلَى شَاكِرٍ، فَتَرَكَهُ حَتَّى كَانَ بَعْدَ الْغَدِ، فَقَالَ: " مَا عِنْدَكَ يَا ثُمَامَةُ؟ " فَقَالَ: عِنْدِي مَا قُلْتُ لَكَ، فَقَالَ: " أَطْلِقُوا ثُمَامَةَ "، فَانْطَلَقَ إِلَى نَجْلٍ قَرِيبٍ مِنَ الْمَسْجِدِ فَاغْتَسَلَ، ثُمَّ دَخَلَ الْمَسْجِدَ، فَقَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، يَا مُحَمَّدُ وَاللَّهِ مَا كَانَ عَلَى الْأَرْضِ وَجْهٌ أَبْغَضَ إِلَيَّ مِنْ وَجْهِكَ، فَقَدْ أَصْبَحَ وَجْهُكَ أَحَبَّ الْوُجُوهِ إِلَيَّ، وَاللَّهِ مَا كَانَ مِنْ دِينٍ أَبْغَضَ إِلَيَّ مِنْ دِينِكَ، فَأَصْبَحَ دِينُكَ أَحَبَّ الدِّينِ إِلَيَّ، وَاللَّهِ مَا كَانَ مِنْ بَلَدٍ أَبْغَضُ إِلَيَّ مِنْ بَلَدِكَ، فَأَصْبَحَ بَلَدُكَ أَحَبَّ الْبِلَادِ إِلَيَّ، وَإِنَّ خَيْلَكَ أَخَذَتْنِي وَأَنَا أُرِيدُ الْعُمْرَةَ، فَمَاذَا تَرَى؟ فَبَشَّرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَمَرَهُ أَنْ يَعْتَمِرَ، فَلَمَّا قَدِمَ مَكَّةَ، قَالَ لَهُ قَائِلٌ: صَبَوْتَ، قَالَ: لَا، وَلَكِنْ أَسْلَمْتُ مَعَ مُحَمَّدٍ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا وَاللَّهِ لَا يَأْتِيكُمْ مِنْ الْيَمَامَةِ حَبَّةُ حِنْطَةٍ حَتَّى يَأْذَنَ فِيهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yuusuf : Telah menceritakan kepada kami Al-Laits, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku Sa’iid bin Abi Sa’iid, bahwasannya ia mendengar Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu berkata : “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengirim pasukan berkuda menuju Najd. Mereka kembali dengan membawa tawanan seseorang dari Bani Haniifah yang bernama Tsumaamah bin Atsaal.  Lalu mereka mengikatnya pada salah satu tiang diantara tiang-tiang masjid. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam keluar menemuinya dan bersabda kepadanya : “Apa yang engkau miliki wahai Tsumaamah?”. Ia menjawab : “Aku memiliki yang lebih baik wahai Muhammad.  Jika engkau membunuhku maka engkau telah membunuh orang yang memiliki darah. Jika engkau memberi (kebebasan), maka engkau telah memberi pada orang yang tahu berterima kasih. Jika engkau menginginkan harta, maka mintalah apa yang engkau minta”. Lalu ia pun ditinggalkan hingga keesokan harinya. Beliau bersabda : “Apa yang engkau miliki wahai Tsumaamah ?”. Ia menjawab : “Apa yang telah aku katakan kepadamu (sebelumnya). Jika engkau berbuat baik, maka engkau telah berbuat baik pada orang yang tahu berterima kasih”. Maka beliau meninggalkannya hingga keesokan harinya. Beliau kembali bersabda : “Apa yang engkau miliki wahai Tsumaamah ?”. Ia menjawab : “Aku memiliki apa yang telah aku katakan kepadamu sebelumnya”. Beliau bersabda : “Bebaskan Tsumaamah”. Lalu ia pergi ke sebuah batang phon kurma di dekat masjid, dan kemudian mandi. Setelah itu ia masuk masjid dan berkata : “Aku bersaksi tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan aku bersaksi Muhammad adalah utusan Allah. Wahai Muhammad, dulu tidak ada wajah seorang pun di muka bumi ini yang paling aku benci daripada wajahmu. Namun sekarang, wajahmu adalah wajah yang paling aku cintai. Demi Allah, dulu tidak ada agama yang paling aku benci daripada agamamu. Namun sekarang, agamamu adalah agama yang paling aku cintai. Demi Allah, dulu tidak ada negeri yang paling aku benci daripada negerimu ini. Namun sekarang, negerimu adalah negeri yang paling aku cintai. Dan sesungguhnya pasukanmu telah menangkapku, sedangkan aku hendak melaksanakan ‘umrah. Bagaimana pendapatmu ?”. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memberikan kabar gembira dan memerintahkannya untuk melaksanakan ‘umarh. Ketika ia sampai di Makkah, seseorang berkata kepadanya (Tsumaamah) : “Apakah engkau telah murtad ?”. Tsumaamah menjawab : “Tidak, namun aku telah memeluk agama Islam bersama Muhammad Rasulillah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Demi Allah, engkau tidak akan mendapatkan gandum dari Yamaamah hingga diizinkan oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 4372].

Sisi pendalilan : Tsumaamah memberikan ultimatum bahwa orang kafir di Makkah tidak akan mendapatkan pasokan gandum dari wilayahnya hingga diizinkan oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Ini adalah salah satu bentuk pemboikotan perdagangan yang dilakukan Tsumaamah. Perbuatannya sama sekali tidak diingkari oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat lainnya.

Akad muamalah maaliyyah (yang berkaitan dengan harta) masuk dalam bab sarana (wasilah), bukan tujuan [lihat : Al-Mughniy, 6/7]. Maka, hukum muamalah mengikuti tujuannya. Jika tujuannya adalah untuk jihad di jalan Allah ta’ala memberikan kemudlaratan kepada orang kafir, maka muamalah tersebut disyari’atkan.

Hukum pemboikotan ada beberapa keadaan:

1. Apabila diperintahkan ulil-amri.

Dalam keadaan ini, wajib hukumnya untuk melakukan pemboikotan berdasarkan firman Allah ta’ala:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” [QS. An-Nisaa’ : 59].

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اسْمَعُوا وَأَطِيعُوا، وَإِنِ اسْتُعْمِلَ حَبَشِيٌّ كَأَنَّ رَأْسَهُ زَبِيبَةٌ
“Dengar dan taatlah, meskipun yang memerintahkan kalian adalah seorang budak Habsyiy yang kepalanya seperti kismis” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 693 & 696 & 7142, Ibnu Maajah no. 2860, dan yang lainnya, dari Anas bin Maalik radliyallaahu ‘anhu].

Perintah ulil amri didapat melalui pertimbangan adanya kemaslahatan umum dan menolak adanya mafsadat. Dan memang seharusnya begitu, sebagaimana kaedah:

تَصَرُّفُ الْأِمَاِم عَلَى الرَّاعِيَّةِ مَنُوْطٌ بِالْمَصْلَحَةِ
“Kebijakan imam terhadap rakyat harus dikaitkan pada kemaslahatan”.

2. Apabila tidak diperintahkan ulil-amri; maka dalam hal ini ada dua keadaan:

a. Ia yakin atau berprasangka kuat bahwa hasil/keuntungan dari muamalah jual-beli dengan kuffar dipergunakan untuk memerangi kaum muslimin, melakukan kekufuran, atau keharaman lainnya; maka haram bermuamalah dengan mereka dan wajib untuk memboikotnya.

Misalnya : Menjual senjata kepada orang kafir harbi, atau menjual semen kepada orang yang menggunakannya untuk membuat berhala. Atau bermuamalah dengan orang yang hasil muamalahnya itu diketahui dipergunakan membeli senjata untuk memerangi kaum muslimin, atau mendirikan kuil dan gereja tempat ibadah orang kafir; maka haram hukumnya bermuamalah dengan mereka sehingga wajib memboikot mereka.

An-Nawawiy rahimahullah berkata:

وَقَدْ أَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ عَلَى جَوَاز مُعَامَلَة أَهْل الذِّمَّة وَغَيْرهمْ مِنْ الْكُفَّار إِذَا لَمْ يَتَحَقَّق تحريم ما مَعَهُ ، لَكِنْ لَا يَجُوز لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَبِيع أَهْل الْحَرْب سِلَاحًا وَآلَة حَرْب ، وَلَا مَا يَسْتَعِينُونَ بِهِ فِي إِقَامَة دِينهمْ ، وَلَا بَيْع مُصْحَف ، وَلَا الْعَبْد الْمُسْلِم لِكَافِرٍ مُطْلَقًا . وَاللَّهُ أَعْلَم .
“Kaum muslimin telah bersepakat tentang bolehnya bermuamalah dengan ahludz-dzimmah dan selain mereka dari kalangan orang-orang kafir, selama tidak mengandung keharaman. Akan tetatpi tidak diperbolehkan bagi muslim untuk menjual senjata dan peralatan perang pada orang kafir harbi. Tidak diperbolehkan pula menjual sesuatu yang dapat menolong tegaknya agama mereka, (menjual) mushhaf, dan budak muslim kepada orang kafir secara mutlak, wallaahu a’lam” [Syarh Shahiih Muslim, 11/40].

Ibnu Taimiyyah rahimahullah pernah ditanya tentang hukum bermuamalah dengan orang Tataar, ia menjawab:

أما معاملة التتار فيجوز فيها ما يجوز فى أمثالهم و يحرم فيها ما يحرم من معاملة أمثالهم فيجوز أن يبتاع الرجل من مواشيهم و خيلهم و نحو ذلك كما يبتاع من مواشي التركمان و الأعراب و الأكراد و خيلهم و يجوز أن يبيعهم من الطعام و الثياب و نحو ذلك ما يبيعه لأمثالهم فاما ان باعهم و باع غيرهم ما يعينهم به على المحرمات كالخيل و السلاح لمن يقاتل به قتالا محرما فهذا لا يجوز قال الله تعالى و تعاونوا على البر و التقوى و لا تعاونوا على الاثم و العدوان
“Adapun bermuamalah dengan orang Tataar, diperbolehkan padanya apa saja yang diperbolehkan terhadap orang yang semisal mereka. Begitu juga diharamkan padanya apa saja yang diharamkan dalam perkara muamalah terhadap orang yang semisal mereka. Diperbolehkan bagi seseorang membeli hewan ternak, kuda, dan semacamnya (dari orang Tataar) sebagaimana diperbolehkan membeli hewan ternak dan kuda orang Turkmenistan, A’raab, dan Kurdi. Dan diperbolehkan pula menjual makanan, pakaian, dan yang semacamnya kepada mereka, sebagaimana diperbolehkan menjualnya kepada orang yang semisal mereka.
Adapun ia menjual kepada mereka dan selain mereka sesuatu yang dapat membantu pada hal-hal yang diharamkan, seperti kuda dan senjata pada orang yang melakukan peperangan yang diharamkan, maka tidak diperbolehkan. Allah ta’ala berfirman: ‘Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran’
(QS. Al-Maaidah : 3)” [Majmuu’ Al-Fataawaa, 29/275].

Dasarnya adalah firman Allah ta’ala – sebagaimana telah disebut oleh Ibnu Taimiyyah - :

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran” [QS. Al-Maaidah : 3].

Kewajiban pemboikotan ini dikecualikan untuk barang komoditas yang bersifat dlaruriy atau berkaitan dengan hajat hidup kaum muslimin yang tidak ada penggantinya dimana ia hanya diperoleh denga cara membeli dari orang kafir. Contohnya peralatan kedokteran, peralatan/suku cadang alat tempur/perang, dan yang semisalnya. Ini perlu pertimbangan dari para ulama dan para ahli akan maslahat dan mafsadatnya.

b.  Ia tidak tahu atau tidak yakin atau mempunyai prasangka yang tidak kuat bahwa hasil/keuntungan muamalah tersebut dari muamalah jual-beli dengan kuffar dipergunakan untuk memerangi kaum muslimin, melakukan kekufuran, atau keharaman lainnya; maka muamalah dengan mereka diperbolehkan.

Pembolehan ini merupakan madzhab jumhur ulama meski diketahui bahwa orang kafir memperoleh keuntungan dalam muamalah jual-beli tersebut. Dalilnya adalah:

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ، حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ، قَالَ: تَذَاكَرْنَا عِنْدَ إِبْرَاهِيمَ الرَّهْنَ وَالْقَبِيلَ فِي السَّلَفِ، فَقَالَ إِبْرَاهِيمُ: حَدَّثَنَا الْأَسْوَدُ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اشْتَرَى مِنْ يَهُودِيٍّ طَعَامًا إِلَى أَجَلٍ، وَرَهَنَهُ دِرْعَهُ "
Telah menceritakan kepada kami Musaddad : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-Waahid : Telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, ia berkata : Kami pernah mengadakan diskusi di sisi Ibraahiim tentang gadai dan pembayaran tunda dalam jual beli. Lalu Ibraahiim berkata : Telah menceritakan kepada kami Al-Aswad, dari ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah membeli makanan dari orang Yahudi dengan pembayaran tunda, yang beliau menggadaikan baju besinya (untuk itu)” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 2509].

حَدَّثَنَا أَبُو النُّعْمَانِ، حَدَّثَنَا مُعْتَمِرُ بْنُ سُلَيْمَانَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي عُثْمَانَ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: " كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ جَاءَ رَجُلٌ مُشْرِكٌ مُشْعَانٌّ طَوِيلٌ بِغَنَمٍ يَسُوقُهَا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: بَيْعًا أَمْ عَطِيَّةً، أَوْ قَالَ أَمْ هِبَةً، قَالَ: لَا، بَلْ بَيْعٌ فَاشْتَرَى مِنْهُ شَاةً "
Telah menceritakan kepada kami Abun-Nu’maan : Telah menceritakan kepada kami Mu’tamir bin Sulaimaan, dari ayahnya, dari Abu ‘Utsmaan, dari ‘Abdurrahmaan bin Abi Bakr radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : “Kami pernah bersama Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian datanglah seorang laki-laki musyrik yang tingginya lebih dari rata sambil menggiring kambingnya. Lalu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Kambing itu mau dijual atau diberikan ?” – atau beliau bersabda : “atau dihadiahkan ?”. Laki-laki itu menjawab : “Dijual”. Maka beliau pun membeli darinya seekor kambingnya [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 2216].

Al-Bukhaariy rahimahullah memasukkan hadits di atas (no. 2216) dalam kitab Shahiih-nya pada bab:
باب الشِّرَاءِ وَالْبَيْعِ مَعَ الْمُشْرِكِينَ وَأَهْلِ الْحَرْبِ
“Bab : Jual Beli dengan Orang-Orang Musyrik dan Orang Kafir Harbi”.

Ibnu Hibbaan membawakan hadits tersebut (no. 1239), dan kemudian berkata:

فِي هَذَا الْخَبَرِ دَلِيلٌ عَلَى إِبَاحَةِ التِّجَارَةِ إِلَى دُورِ الْحَرْبِ لأَهْلِ الْوَرَعِ
“Dalam khabar/hadits ini terdapat dalil diperbolehkannya aktivitas perdagangan di daarul-harb bagi orang yang wara’” [Shahiih Ibni Hibbaan, 4/44].

Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

قَوْلُهُ : ( بَابُ الشِّرَاءِ وَالْبَيْعِ مَعَ الْمُشْرِكِينَ وَأَهْلِ الْحَرْبِ )
قَالَ اِبْنُ بَطَّالٍ : مُعَامَلَةُ الْكُفَّارِ جَائِزَةٌ ، إِلَّا بَيْعَ مَا يَسْتَعِينُ بِهِ أَهْلُ الْحَرْبِ عَلَى الْمُسْلِمِينَ . ...... وَفِيهِ جَوَازُ بَيْعِ الْكَافِرِ وَإِثْبَاتُ مِلْكِهِ عَلَى مَا فِي يَدِهِ

“Perkataannya : (Bab : Jual Beli dengan Orang-Orang musyrik dan Kafir Harbi). Ibnu Baththaal berkata : “Muamalah dengan orang kafir diperbolehkan, kecuali menjual sesuatu yang dapat menolong orang kafir harbi memerangi kaum muslimin. ….. Dan dalam hadits tersebut terdapat faedah diperbolehkannya pembeliaan orang kafir dan penetapan atas kepemilikan barang yang ada di tangannya” [Fathul-Baariy, 4/410].

Namun, jika seseorang yang melakukan pemboikotan dalam keadaan ini memandang bahwa dalam pemboikotannya tersebut terdapat maslahat dalam melemahkan perekonomian orang kafir, maka pemboikotan tersebut dianjurkan. Dalilnya adalah sebagaimana disebutkan di awal artikel.

Atau ia sekedar berniat melakukan pemboikotan untuk turut andil berjihad membela kaum muslimin dengan melemahkan perekonomian orang kafir, pemboikotan itupun dianjurkan, karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Setiap  perbuatan hanyalah tergantung niatnya.  Dan sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1, Muslim no. 1907, Abu Dawud no. 2201, At-Tirmidzi no. 1647, dan yang lainnya].

Tidak ada larangan apapun bagi kita untuk tidak membeli produk-produk orang kafir dan pro kafir seandainya kita memang mampu untuk tidak membeli dan mendapatkan substitusinya dari produk yang lain. Pemboikotan ini akan berdampak besar jika dilakukan melalui gerakan massal, apalagi diserukan oleh ulil-amri. Seandainya dilakukan oleh individu, meski dampaknya lebih kecil – atau katakanlah sangat kecil – maka ia tetap akan diberi pahala sesuai dengan niatnya, insya Allah.

Apakah pemboikotan ini dipersyaratkan harus ada izin dari imam?. Yang raajih – wallaahu a’lam – tidak dipersyaratkan izin dari imam, karena Tsumaamah ketika memboikot orang kafir Makkah atas inisiatifnya sendiri tanpa ada perintah dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam sebelumnya.

Masyru’-nya pemboikotan produk kafir ini telah difatwakan oleh banyak masyayikh Ahlus-Sunnah seperti Asy-Syaikh Ahmad Syaakir, Asy-Syaikh ‘Abdurrahmaan bin Naashir As-Si’diy, Asy-Syaikh Al-Albaaniy, Asy-Syaikh Ibnu Jibriin rahimahumullah, Asy-Syaikh Al-Barraak, Asy-Syaikh Ar-Raaijihiy hafidhahumallah, dan yang lainnya.

Semoga jawaban ini ada manfaatnya.
Wallaahu a’lam bish-shawwaab.

sumber: abul-jauzaa.blogspot.com

Engkau Bisa Menerbitkan Bukumu Sendiri

Menerbitkan buku sendiri secara indie atau biasa disebut dengan “self publishing” nampaknya mulai mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Banyak penulis yang memilih menerbitkan bukunya sendiri, dan tidak menyerahkannya ke penerbit besar yang sudah mapan. Alasannya, antara lain, dengan menerbitkan buku sendiri, seorang penulis bisa terlibat secara penuh terhadap proses penerbitan bukunya, mulai dari layout, pembuatan desain cover, bahkan sampai pencetakan dan pendistribusiannya. Hal ini bisa menambah kepuasan jiwa dibanding bila bukunya diterbitkan oleh penerbit lain.

Di samping itu, alasan lainnya, margin keuntungan yang diperoleh juga jauh lebih besar dibanding ketika bukunya diterbitkan penerbit lain. Jikalau diterbitkan penerbit lain, paling-paling ia hanya memperoleh 10% dari harga jual bukunya (itupun masih dikurangi pajak 15%). Akan tetapi bila diterbitkan sendiri, ia akan mendapatkan seluruh laba dari penjualan bukunya.

Banyak penulis yang memilih jalan ini, yaitu menerbitkan bukunya sendiri. Yudi Pramuko adalah contoh penulis yang memilih menerbitkan bukunya sendiri. Penulis yang banyak menelorkan karya cemerlang itu, memulai mendirikan wirausaha penerbitan buku Taj Mahal pada akhir tahun 2003 dengan karya perdananya “Rahasia Sukses Dakwah dan Bisnis Aa Gym".

Tak sekedar menerbitkan bukunya sendiri, Yudi Pramuko juga terlibat aktif untuk mendorong lahirnya banyak penerbitan mandiri (selfpublishing). Sampai sekarang mungkin sudah ratusan penulis yang berhasil mendirikan penerbitan sendiri berkat motivasi penulis yang pernah meraih penghargaan ADIKARYA IKAPI tahun 2002 terbaik kedua kategori sastra anak itu.

Bahkan dalam bukunya “Rapor Merah Jaringan Islam Liberal, Hartono Ahmd Jaiz Dkk…” dengan tegas Yudi Pramuko menulis, “Apakah Anda ingin jadi pengarang yang kaya raya dan banyak uang? Jika jawabannya ya, maka jalannya adalah mendirikan dan mengelola penerbitan sendiri.”

“Katakanlah, mengarang adalah proyek idealis. Sedang, penerbitan adalah proyek bisnis. Maka gabungkan saja keduanya, mengarang dan penerbitan. Otomatis Anda menjadi pengarang yang banyak uang,” tulis Yudi Pramuko lebih lanjut.

Tak sekedar omdo alias omong doang, Yudi Pramuko telah membuktikan diri sebagai penulis yang sukses mendirikan wirausaha penerbitan buku. Sebagaimana ditulis dalam bukunya, ia menyebutkan banyak hal positif yang diperolehnya setelah menerbitkan bukunya sendiri, antara lain: bebas utang, menjadi pemilik penerbitan sendiri (bussines owner), ilmu bertambah, pergaulan dengan teman bisnis bertambah, citra diri kian positif, kebebasan menulis relatif besar (karena tidak kuatir ditolak dan diedit oleh penerbit lain), kemampuan infaq dan zakat mal bertambah, ibadah qurban menyembelih kambing dapat terlaksana setiap tahun, dan sebagainya.

Bahkan dengan suara gagah ia menulis, “Marilah berpikir bersamaku dengan teduh hati. Naskah buku yang sudah jadi, usahakan diterbitkan sendiri. Menjual naskah ke penerbit lain hanya dilakukan oleh orang yang menghindari sikap wirausaha. Namun, perlu kuingatkan juga, jalan wirausaha hanyalah sebuah kemungkinan yang selalu terbuka, dan menjanjikan. Bukan satu-satunya pilihan hidup yang tersedia.”

“Tidak semua orang tahan hidup sebagai seorang entrepreneur. Namun, lelaki yang ingin merintis jalan baru, jalan wirausaha, sebaiknya ia berenang dengan gagah perwira di lautan yang baru dan asing. Jangan jual naskah ke penerbit lain,“ tulisnya.

Pelajaran dari Mujahid Press

Apakah Anda pernah mendengar nama Mujahid Press? Ya, Mujahid Press adalah nama sebuah penerbit buku-buku Islami di Bandung. Penerbit ini sempat meroket namanya. Buku-buku yang diterbitkannya sempat merajai pasar buku. Di antara bukunya yang laris manis antara lain Kudung Gaul Berjilbab Tapi Telanjang, Pacaran Islami Adakah?, Bila Jodoh Tak Kunjung Datang, Muslimah yang Kehilangan Harga Diri, Remaja Korban Mode, Gelombang Kejahatan Seks Remaja Modern, dan sebagainya.

Tahukah Anda, buku-buku laris bak kacang goreng itu ditulis sendiri oleh Abu Al-Ghifari, yang merupakan nama pena dari Toha Nasrudin, yang tak lain adalah owner (pemilik) dari penerbit Mujahid Press itu sendiri. Memang, Toha Nasrudin alias Abu Al-Ghifari merintis penerbitan Mujahid Press melalui apa yang disebut self publishing.

Mujahid Press dirintis pada tahun 2002 dengan modal minim. Seperti yang dikemukakan Toha Nasrudin dalam e-book-nya berjudul Peta Harta Karun, ia mendirikan Mujahid Press dengan pinjaman modal satu juta rupiah hasil jual emas istrinya. Emas itu adalah mahar yang diberikan saat menikahi istrinya.

Buku pertama yang diterbitkannya berjudul Muslimah yang Kehilangan Harga Diri. Buku pertama itu beroplag seribu eksemplar, dengan hanya mengeluarkan dana kurang dari Rp 1.500.000,-. Toha Nasrudin bisa menekan biaya cetak sedemikian rupa, karena memang hampir semua proses penerbitan bukunya dilakukannya sendiri, seperti membeli kertas dan penjilidan.

Buku pertamanya terbilang sukses di pasaran. Cetakan pertamanya ludes terserap pasar dalam hitungan hanya tiga minggu. Kemudian disusul cetakan kedua. Begitu seterusnya, sehingga Toha Nasrudin mencetak buku-buku lainnya, seperti Kudung Gaul Berjilbab Tapi Telanjang, kemudian Gelombang Kejahatan Seks Remaja Modern, kemudian Bila Jodoh Tak Kunjung Datang.

Nyaris buku-buku yang diterbitkannya meledak di pasaran. Sehingga menjadikan Mujahid Press melesat bak meteor. Kurang dari tiga tahun sejak resmi berdiri januari 2002, omzet yang dihasilkan mencapai lebih dari lima milyar rupiah. Dari omset itu, di tempat kelahirannya, Toha Nasrudin dapat membangun bangunan cukup megah senilai Rp 2 milyar sebagai tempat tinggal sekaligus kantor utama Mujahid Press, lengkap dengan gudang dan tempat (sebagian) proses cetak serta sarana olah raga. Gedung itu dibangun kurang lebih satu tahun setelah Mujahid Press dikukuhkan badan hukumnya sebagai CV pada September 2003.

Semua capaian itu berawal dari statement seorang penulis kawakan yang didengarnya. Statement itu berbunyi “Penulis Indonesia tak mungkin kaya”. Dalam kesempatan lain ia mendengar, “Penulis harus siap miskin”. Benarkah?

Bertahun-tahun pertanyaan itu membekas di hatinya dan menjadi bahan pemikirannya. Apalagi realitas menunjukkan, penulis kawakan itu memang hidup miskin. Telah berkiprah di dunia kepenulisan selama 50 tahun, namun belum mampu membangun rumah sendiri. Hingga usianya yang hampir kepala tujuh, ia masih saja ngontrak.

Namun, Toha Nasrudin tidak serta merta terbuai dengan statement itu. Bartahun ia berpikir untuk menumbangkan statement itu. Ia yakin nasib penulis tidak akan separah itu jika menjalaninya dengan penuh kreativitas. Dan kini, Toha Nasrudin telah membuktikan, bahwa penulis itu bisa kaya.

“Penulis insya Allah kaya, bukan sekedar kaya hati, wawasan dan pengalaman, tapi sejahtera dari segi materi. Menerbitkan karya sendiri (self publishing) adalah satu-satunya jalan pintas untuk semua itu,” tulis Toha Nasrudin alias Abu Al-Ghifari dalam sebuah e-booknya.

Masih banyak sebenarnya kisah-kisah sukses penulis yang melakukan self publishing. Namun cukuplah dua kisah saja yang saya hadirkan, guna memberikan spirit dan suntikan motivasi bagi Anda untuk BERANI menerbitkan buku sendiri. Pertanyaan yang menyeruak di benak Anda barangkali adalah, sebenarnya apakah yang dimaksud self publishing itu? Dan bagaimana melakukannya?

Inti dari self publishing sebenarnya adalah menerbitkan karya kita sendiri, tidak menyerahkannya ke penerbit lain untuk diterbitkan mereka. Dengan demikian, kitalah yang menjadi penerbit bagi karya kita sendiri. Untuk lebih memudahkan pemahaman, mungkin bisa meminjam penjelasan yang disampaikan oleh Jonru, seorang writerpreneur, dalam e-book-nya yang berjudul Menerbitkan Buku Itu Gampang.

Jonru menulis, “menerbitkan sendiri” (self publishing) sebenarnya tak ubahnya seperti seorang ibu rumah tangga yang berbisnis kue. Ia mencari sendiri bahan-bahannya ke pasar, mulai dari tepung terigu, telur, minyak goreng, dan sebagainya. Lalu, ia pulang ke rumah dan mengolah bahan-bahan itu menjadi kue yang lezat cita rasanya. Setelah jadi, kue-kue itu dikemas semenarik mungkin, lalu ia distribusikan ke sejumlah toko di dekat rumahnya. Esoknya, ia mendatangi toko-toko itu satu per satu untuk menagih uang hasil penjualan.

Menurut Jonru, self publishing sama dengan do it yourself. Semua Anda kerjakan sendiri, mulai dari menulis buku, mengeditnya, mendesain tampilannya, mencetaknya, mendistribusikannya, hingga mempromosikannya. Anda adalah penulis merangkap editor, merangkap penerbit, merangkap desainer, merangkap distributor, merangkap staf marketing dan promosi. [halaman 74].

Pada praktiknya, Anda tidak harus melakukan semua deretan pekerjaan itu. Karena toh Anda mungkin tidak bisa melay-out isi buku, apalagi membuat desain sampul buku yang menawan. Anda pun tidak memiliki mesin cetak dan mesin wrapping untuk mengemas buku. Untuk itu, Anda bisa menyewa orang atau meminta lembaga yang melayani jasa penerbitan buku.

Tugas Anda hanya menulis naskah dan mengeditnya serapi mungkin untuk siap diterbitkan, kemudian pihak lembaga jasa yang akan melay-out naskah Anda, membuatkan desain sampul yang menarik, mengurus ISBN (International Standard Book Number), kemudian mencetaknya, dan mengemasnya menjadi buku siap jual. Anda tinggal menyiapkan biayanya.

Kemudian kalau Anda masih buta terhadap cara mendistribusikan buku ke toko-toko buku besar seperti Gramedia, Anda juga bisa sekaligus meminta bantuan lembaga jasa itu. Pertanyaan yang mungkin ada di benak Anda, berapa perkiraan dana yang harus dipersiapkan untuk menerbitkan sebuah buku dan menyewa lembaga jasa? Mahalkah?

Insya Allah hal itu akan dibahas di pembahasan selanjutnya. Sekarang, kita cukupi sekian dulu pembahasan “Engkau Bisa Menerbitkan Bukumu Sendiri”. Simak catatan-catatan kami selanjutnya. Semoga bermanfaat!

Memperkirakan Kebutuhan Dana Selfpublishing

Berapakah dana yang dibutuhkan untuk menerbitkan sebuah buku? Pertanyaan ini banyak dilontarkan, terutama oleh mereka yang tertarik dengan wacana selfpublishing alias ingin menerbitkan bukunya sendiri.

Tentu, pertanyaan di atas tidak bisa dijawab dengan memberikan kepastian, karena kebutuhan dana self publishing ditentukan oleh banyak variabel menyangkut spesifikasi dan atau kualifikasi buku yang akan diterbitkan, termasuk juga sejauh mana Anda bisa menyiapkan sendiri tahapan-tahapan dalam penerbitan buku Anda.

Untuk lebih mudahnya, Anda akan saya ajak untuk menyimak simulasi berikut ini:

Misalnya Anda mau menerbitkan buku setebal 200 halaman, dengan oplag 500 eksemplar, maka perkiraaan dana yang dibutuhkan adalah sebagai berikut:

Tahap 1: Proses Pra Cetak

Tahap pra cetak ini meliputi:
1. Penyuntingan dan mengemasan naskah sehingga siap untuk diterbitkan.
2. Lay out isi buku.
3. Pengurusan ISBN
4. Pembuatan sampul buku (cover)

Asumsinya Anda belum memiliki pengalaman, sehingga seluruh proses pra cetak Anda serahkan kepada lembaga jasa, maka dana yang harus Anda keluarkan untuk tahap pra cetak penerbitan buku Anda adalah:

1. Jasa penyuntingan : -+ Rp 500.000,-
2. Jasa Lay out : -+ Rp 400.000,-
3. Jasa Pengurusan ISBN : Rp 100.000,-
4. Jasa pembuatan cover : -+ Rp 500.000,-

Hasilnya, total naskah siap terbit, dana yang perlu Anda persiapkan adalah: -+ Rp. 1.500. 000,-

Tahap 2: Proses Cetak

Tahap selanjutnya adalah proses pencetakan buku Anda. Tentu, karena tidak memiliki percetakan sendiri, Anda mempercayakannya ke lembaga jasa atau pihak percetakan. Adapun spesifikasi buku Anda sebagai berikut:

~Ukuran : 20,5 x 14 cm
~Tebal : 200 halaman
~Isi : HVS putih 70 gr
~Perlakuan cover : DOFT (cover lembut permukaan dan warnanya)
~Jumlah/oplag : 500 eks
~Finishing : jilid binding + sring plastik

Berdasarkan spesifikasi di atas, harga per buku jatuhnya sekitar Rp 8.500,-.
Dengan demikian, perkiraan biaya cetak adalah 500 eks x @ Rp 8.500,- = Rp 4.250.000,-

Berarti jasa penerbitan (prose pra cetak) + jasa percetakan adalah:

Total biaya = Rp. 1.500.000 + Rp 4.250. 000 = Rp. 5.750.000,- (Lima Juta Tujuh ratus Lima Puluh Ribu rupiah)

Jumlah di atas masih bisa berkurang jika Anda bisa melakukan tahap-tahap pracetak sendiri. Juga jika Anda mencetak lebih banyak lagi (misalnya sampai 3000 atau 5000 eks), maka harga per buku pun akan jauh semakin murah.

Demikian, mudah-mudahan bermanfaat. Selamat Menerbitkan Buku Anda Sendiri!

10 Langkah Penting Selfpublishing

Ketika Anda memutuskan untuk menerbitkan buku sendiri (self publishing), berarti semua proses penerbitan, mulai dari penyuntingan naskah, lay out isi, pembuatan sampul/desain cover, pengurusan ISBN, pencetakan, pengemasan, bahkan sampai distribusi, Andalah yang mengerjakannya. Meskipun pada akhirnya, karena sesuatu dan lain hal, misalnya karena kesibukan dan keterbatasan kemampuan, Anda tidak mengerjakannya sendiri semua proses itu, namun Andalah yang memimpin dan mengendalikan “proyek” itu. Andalah yang mengorganisir semua pekerjaan itu.

Sulitkah melakukan semua itu? Kalau belum pernah melakukannya dan mengerti tahapan-tahapannya, mungkin terasa njlimet. Namun pada dasarnya sangat mudah. Apalagi kalau sudah terbiasa melakukannya. Untuk lebih jelasnya, berikut ini saya sampaikan langkah-langkah atau tahapan-tahapan penting yang harus Anda persiapkan dan lalui ketika ingin melakukan selfpublishing. Apa saja itu? Simak berikut ini:

Pertama, menyiapkan naskah. Sebelum semuanya dimulai, siapkanlah naskah yang akan diterbitkan. Naskah yang siap diterbitkan adalah naskah yang sudah lengkap dan telah tersunting rapi. Bila naskah itu diterbitkan untuk tujuan komersial, naskah yang akan diterbitkan harus sudah dipertimbangkan kemungkinan akan bisa diterima pasar. Artinya, buku itu berpotensi untuk laris karena memiliki nilai jual tinggi. Dalam hal ini, yang penting dicatat, dalam logika dan fakta buku laris, “buku berkualitas” tidak identik dengan “buku laris”.

Banyak buku yang berkualitas, namun tidak laku di pasaran. Dan banyak buku yang “biasa-biasa saja”, namun laris tersedot pasar. Fakta ini bukan lantas menyurutkan langkah untuk menulis buku yang berkualitas, tapi justru merupakan tantangan untuk menulis buku laris yang berkualitas. [Insya Allah di kesempatan lain akan saya ulas tentang “Rahasia Buku Best Seller”].

Kedua, menyiapkan dana. Setelah mempersiapkan naskah, dana untuk membiayai proses penerbitan buku Anda harus Anda persiapkan. Besaran dana yang perlu Anda persiapkan bersifat relatif menyesuaikan spesifikasi dan kualifikasi buku yang akan Anda terbitkan, misalnya ketebalan buku dan jenis kertas.

Hitungan besaran dana juga menyesuaikan, apakah proses penerbitan pada tahap pra cetak, seperti penyuntingan, lay out isi, pembuatan sampul, dan pengurusan ISBN, bisa Anda kerjakan sendiri, atau menyewa lembaga jasa. Bila Anda lakukan sendiri (baik sebagian atau keseluruhan), hal itu akan menekan kebutuhan dana penerbitan. Namun, bila dikerjakan oleh lembaga jasa, maka dana penerbitan akan sedikit membengkak. Bila belum berpengalaman, langkah amannya memang menggandeng lembaga jasa yang sudah berpengalaman.

Ketiga, menciptakan nama dan logo penerbitan. Namanya juga self publishing, menerbitkan karya sendiri, maka nama penerbitan juga harus Anda persiapkan dan rumuskan, berikut logonya. Jangan asal memberi nama. Nama penerbitan itu harus mengandung brand yang kuat, mudah diingat, dan memuat intisari visi penerbitan yang akan Anda bangun. Saya misalnya, menamai penerbitan saya dengan OASE QALBU. Nama itu saya pilih karena saya bertujuan untuk menggugah jiwa dan mencerahkan hati masyarakat dengan serangkaian buku-buku penuh hikmah dan motivasi ibadah yang saya terbitkan.

Keempat, melay-out naskah. Ini pekerjaan cukup vital yang menjadi salah satu inti dari penerbitan buku Anda. Bila Anda tidak terbiasa atau belum bisa melay-out sendiri naskah Anda, maka sebaiknya, pekerjaan ini diserahkan kepada lay-outer freelance yang terbiasa menerima order lay-out naskah buku atau bisa lewat lembaga jasa yang memiliki tim yang berpengalaman di dalamnya. Tugas Anda cukup menyampaikan naskah mentah (biasanya dalam file microsoft word) dan ukuran buku serta style layout yang Anda inginkan.

Kelima, membuat desain cover. Cover memegang peranan penting dalam sebuah penerbitkan buku. Nilai jual buku Anda, salah satunya ditentukan oleh daya tarik cover buku Anda. Karena itulah, jangan main-main dengan desain cover. Buatkah desain cover yang bagus dan menarik. Bila Anda tidak bisa membuat desain cover yang bagus dan menawan, Anda bisa memesannya kepada desainer freelance yang biasa menerima order pembuatan cover buku. Anda tinggal mempersiapkan teks dan ornamen atau ilustrasi (bila ada) yang akan dimasukkan dalam cover buku tersebut.

Keenam, mengurus ISBN. Apa itu ISBN? ISBN adalah kepanjangan dari International Standard Book Number. Menurut Pamusuk Eneste dalam “Buku Pintar Penyuntingan Naskah” [edisi 2], ISBN adalah “….bahasa internasional sebagai sarana informasi, komunikasi, dan transaksi perbukuan, memiliki manfaat sangat banyak, antara lain dapat digunakan sebagai unsur-unsur inventarisasi, pemesanan, dan pengangkutan….”.

Di Indonesia, lembaga yang mengelola ISBN adalah Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI), berkedudukan di Jakarta. Pengurusannya relatif mudah dengan biaya yang murah. Per bukunya hanya Rp 60.000,- untuk mendapatkan nomor ISBN dan Barcode.

Ketujuh, menentukan kualifikasi buku. Setelah semuanya beres, naskah telah dilayout dan cover telah dibuat, maka langkah penting selanjutnya adalah menentukan kualifikasi buku Anda, misalnya menyangkut jenis kertas, proses percetakan, dan perlakuan untuk finishing cover buku.

Jenis kertas misalnya, apakah Anda akan menggunakan kertas buram atau HVS putih. Proses percetakan misalnya, apakah halaman isi buku akan dicetak dengan kalkir atau film. Dan finishing cover buku Anda, misalnya akan menggunakan UV atau DOF, semuanya Andalah yang menentukan. Kalau Anda belum memahami istilah-istilah itu, bisa ditanyakan kepada pihak percetakan. Anda mungkin bisa memberikan contoh kualifikasi buku yang Anda inginkan dengan menyodorkan buku yang sudah ada.

Kedelapan, mencetak dan mengemas buku. Dalam mencetak dan mengemas (wraping) buku, pilihlah percetakan yang telah berpengalaman. Jangan mengambil risiko dengan menyerahkan naskah Anda untuk dicetak di percetakan yang masih coba-coba. Pilih percetakan yang berpengalaman dan telah terbukti hasil cetakannya bagus dan berkualitas. Apa jadinya bila cetakan buku Anda buruk? kredibilitas buku Anda diragukan, dan di pasaran bisa-bisa buku Anda jeblok alias tidak laku.

Kesembilan, menentukan harga jual buku. Setelah buku jadi dan terkemas rapi serta menjadi produk yang siap dipasarkan, maka tugas Anda adalah menentukan harga jual buku Anda. Bagaimana caranya? Rumus yang umum digunakan adalah, keseluruhan biaya produksi (biaya penyuntingan, layout, cover, ISBN, dan biaya cetak) dibagi jumlah oplag buku, lalu dikalikan lima [bahkan ada yang mengalikan 5,5 atau 6]. Hasilnya adalah harga buku Anda.

Contoh, biaya produksi Rp 10.000.000,- dibagi jumlah cetak 2.000,- eksemplar (ketemu harga produksi @ Rp 5.000,-) dikalikan 5 = Rp 25.000,-. Dengan demikian, harga jual (bruto) buku Anda di toko adalah Rp 25.000,-. Gampang bukan?

Kesepuluh, menditribusikan buku. Dalam mendistribusikan buku, misalnya ke Gramedia, Anda tidak perlu susah payah mengantarkannya sendiri. Anda bisa bekerja sama dengan lembaga distribusi profesional. Merekalah yang akan mendistribusikan buku Anda ke seluruh tokoh buku di seluruh Indonesia. Biasanya mereka meminta rabat, yang kemudian akan di-share dengan toko buku, sekitar 50 – 55 %.

Apakah rabat sebesar itu akan membuat Anda rugi? InsyaAllah tidak. Toh Anda telah mengkalikan biaya produksi lima kali lipat, sehingga apabila dikurangi rebat sebesar itu, Anda masih akan tetap untung. Sekedar contoh, dengan asumsi hitungan di atas, keseluruhan asset Anda bila terjual adalah harga jual buku (Rp 25.000,-) dikali jumlah oplag buku (2000 eks) hasilnya adalah Rp 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah). Inilah asset keseluruhan Anda sebelum dishare dengan distributor.

Bila dikurangi, misalnya 50% untuk distributor, maka total asset bersih Anda menjadi Rp 25.000.000,- (dua puluh lima juta rupiah). Sedang modal Anda tadi adalah Rp 10.000.000,-. Masih untung bukan?

Begitulah kira-kira, langkah-langkah atau tahapan-tahapan penting yang perlu Anda persiapkan dan lalui dalam melakukan selfpublishing. Sangat mudah bukan? Semoga bermanfaat dan selamat menerbitkan buku sendiri, semoga sukses! Amin.

*)Catatan kreatif: Badiatul Muchlisin Asti
Godong, Grobogan, 3 Mei 2010 http://jasapenerbitanbuku.blogspot.com/2010/05/10-langkah-penting-selfpublishing.html

Abadikan Namamu dengan Menerbitkan Buku

Alangkah bahagianya bila buku yang kita tulis itu terbit dan dibaca oleh banyak orang. Itulah kebahagiaan jiwa seorang penulis yang tidak bisa dikalkulasi dengan uang. Dengan buku, berarti kita telah mendokumentasikan ide dan pikiran kita, untuk terus dikenang dan terus abadi. Simaklah dua kutipan berikut ini:

“Karya-karya tulis akan kekal sepanjang masa. Sementara penulisnya hancur terkubur di bawah tanah.” [Ali Mustafa Yaqub]

"Jika engkau tidak ingin dilupakan segera setelah berkalang tanah nantinya, tulislah sesuatu yang layak dibaca, atau lakukan sesuatu yang layak ditulis." [Benjamin Franklin]

Ketika mengisi pelatihan menulis buku, saya sering mengajukan ke peserta sebuah pertanyaan? “Tahukah Anda nama kakek-nenek dari kakek-nenek Anda?” Kebanyakan peserta menjawab, “Tidak tahu.”

Kemudian saya bertanya lagi, “Tahukah Anda Imam Al-Ghazali atau Imam Syafi’i?” Mereka rata-rata menjawab “Tahu.” Imam Al-Ghazali adalah penulis kitab Ihya’ Ulumuddin, dan Imam Syafi’i adalah ulama besar pendiri madzhab Syafi’i.
Saya pun bertanya, “Mengapa Anda tahu Imam Al-Ghazali dan Imam Syafi’i yang hidup ratusan tahun lalu, sementara Anda tidak tahu nama kakek-nenek dari kakek-nenek Anda sendiri?”

“Jawabannya adalah,” kata saya kemudian, “Karena Imam Al-Ghazali dan Imam Syafi’i menulis buku, sedang kakek-nenek dari kakek-nenek Anda tidak.”.

Ya, menulis buku memang merupakan salah satu cara mengabadikan nama kita, sekaligus mengabadikan ide dan pikiran kita, agar terus memancarkan manfaatnya sepanjang waktu. Ide dan pikiran yang tidak dibukukan, akan hilang tergerus zaman seiring kematian pemiliknya. Sedang ide dan pikiran yang dibukukan, manfaatnya akan terus abadi menembus zaman.

*) Catatan kreatif: Badiatul Muchlisin Asti

sumber: trimudilah.blogspot.com.