Keutamaan Waqaf (Wakaf)

Oleh: Aunur Rofiq Ghufron

Wakaf termasuk amal ibadah yang paling mulia bagi kaum muslim, yaitu berupa membelanjakan harta benda. Dianggap mulia, karena pahala amalan ini bukan hanya dipetik ketika pewakaf masih hidup, tetapi pahalanya juga tetap mengalir terus, meskipun pewakaf telah meninggal dunia. Bertambah banyak orang yang memanfaatkannya, bertambah pula pahalanya; terlebih bila yang memanfaatkan hasil wakaf ini orang yang berilmu dinul Islam, ahli ibadah menurut Sunnah dan ahli da’wah Salafiyah, tentunya akan lebih bermanfaat lagi . Ini semua akan dipetik oleh pekawakafnya besok pada hari kiamat.

Dari Abu Mas’ud Al Anshari Radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Ada seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Orang itu berkata kepadanya: ”Saya kehabisan bekal dalam perjalananku ini, maka antarkan aku ke tempat tujuan?” Beliau menjawab,”Saya tidak punya kendaraan,” lalu ada seorang laki-laki yang berkata,”Wahai, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Aku tunjukkan orang yang dapat mengantarkan dia,” lalu Beliau bersabda:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya. [HR Muslim, 3509].

Bayangkan, orang yang menunjukkan kebaikan, yang modalnya hanya berupa lisan atau tenaga, dijamin akan mendapatkan pahala semisal orang yang mengerjakannya. Maka, bagaimana dengan orang yang menunjukkan kebaikan disertai harta bendanya? Bukankah lebih utama dan lebih banyak pahalanya? Tentunya ini hanya dapat diterima dan diamalkan oleh orang yang kuat imannya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan berharap pahalaNya besok pada hari pembalsan. Misalnya, sahabat Thalhah Radhiyallahu 'anhu tatkala mendengar ayat :

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ
Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. [Ali Imran:92].

Anas Radhiyallahu 'anhu berkata: Abu Thalhah Radhiyallahu 'anhu datang kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam seraya berkata,”Wahai, Rasulullah! Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman (Ali Imran:92). Sesungguhnya harta yang paling aku senangi adalah tanah bairoha. Dan sesungguhnya tanah ini aku shadaqahkan untuk Allah. Aku berharap sorgaNya dan simpanannya di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Wahai, Rasulullah, aturlah tanah ini sebagaimana Allah telah memberi petunjuk kepadamu … [HR Bukhari, Kitab Az Zakat, 1368].

Demikianlah suri tauladan sahabat yang wajib kita contoh. Barangsiapa yang ingin menirunya, silahkan simak tata cara wakaf ini, agar amal kita diterima Allah Subhanahu wa Ta'ala dan mendapat pahala yang banyak. Dan harta kita tidak sia-sia di dunia.

DEFINISI WAKAF

Waqaf menurut bahasa, berasal dari bahasa Arab الوقف bermakna الحبس , artinya menahan. [Lihat Mu’jam Al Wasith (2/1051].

Imam Abu Bakar Muhamad bin Abi Sahel As Sarkhasi mengartikan waqaf menurut bahasa sebagaimana di atas, lalu berdalil dengan firmanNya:

وَقِفُوهُمْ إِنَّهُمْ مَسْئُولُونَ
Dan tahanlah mereka (di tempat perhentian) karena sesungguhnya mereka akan ditanya. (Ash Shofat:24). Lihat kitab Al Mabsuth, 12/39.

Maksud pengambilan ayat ini karena ada kalimat waqofa, artinya menahan.

Sedangkan wakaf menurut istilah, yaitu menahan benda yang pokok dan menggunakan hasil atau manfaatnya untuk kepentingan dinul Islam. Lihat kitab Al Muhgni oleh Ibn Qudamah (8/184), Fiqhus Sunnah (3/377), Al Hidayah , Al Kafi , Al Talhish, Al Mustau’ib, Al Hawy Ash Shaghir. Lihat kitab Al Inshaf oleh Mardawi (7/3), Hasyiah Ibn Abidin (4/398), Subulus Salam (3/87).

Atau istilah yang lain, yaitu menahan barang yang dimiliki, tidak untuk dimiliki barangnya, tetapi untuk dimanfaatkan hasilnya untuk kepentingan orang lain. [Lihat kitab Al Mabsuth, 12/39]

DALIL DISYARI’ATKAN WAKAF

Wakaf termasuk amal ibadah yang berupa harta benda, telah disyari’atkan Islam semenjak Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam masih hidup, dan kemudian dilanjutkan oleh para sahabatnya serta para pengikutnya yang setia. Sahabat Abdullah bin Umar Radhiyallahu 'anhu berkata :

أَصَابَ عُمَرُ بِخَيْبَرَ أَرْضًا فَأَتَى النَّبِيَّ فَقَالَ أَصَبْتُ أَرْضًا لَمْ أُصِبْ مَالًا قَطُّ أَنْفَسَ مِنْهُ فَكَيْفَ تَأْمُرُنِي بِهِ قَالَ إِنْ شِئْتَ حَبَّسْتَ أَصْلَهَا وَتَصَدَّقْتَ بِهَا , فَتَصَدَّقَ عُمَرُ , أَنَّهُ لَا يُبَاعُ أَصْلُهَا وَلَا يُوهَبُ وَلَا يُورَثُ , فِي الْفُقَرَاءِ وَالْقُرْبَى وَالرِّقَابِ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالضَّيْفِ وَابْنِ السَّبِيلِ , لَا جُنَاحَ عَلَى مَنْ وَلِيَهَا أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا بِالْمَعْرُوفِ أَوْ يُطْعِمَ صَدِيقًا غَيْرَ مُتَمَوِّلٍ فِيهِ
Umar Radhiyallahu 'anhu telah memperoleh bagian tanah di Khaibar, lalu ia datang kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, seraya berkata,”Aku telah mendapatkan bagian tanah, yang saya tidak memperoleh harta selain ini yang aku nilai paling berharga bagiku. Maka bagaimana engkau, wahai Nabi? Engkau memerintahkan aku dengan sebidang tanah ini?” Lalu Beliau menjawab,”Jika engkau menghendaki, engkau wakafkan tanah itu (engkau tahan tanahnya) dan engkau shadaqahkan hasilnya,” lalu Umar menyedekahkan hasilnya. Sesungguhnya tanah ini tidak boleh dijual, tidak boleh dihibahkan dan tidak boleh diwaris, tetapi diinfakkan hasilnya untuk fuqara, kerabat, untuk memerdekakan budak, untuk kepentingan di jalan Allah, untuk menjamu tamu dan untuk ibnu sabil. Orang yang mengurusinya, tidak mengapa apabila dia makan sebagian hasilnya menurut yang makruf, atau memberi makan temannya tanpa ingin menimbunnya. [HR Bukhari no. 2565, Muslim 3085].

Imam Nawawi berkata: Hadits ini menunjukkan asal disyari’atkan wakaf. Dan inilah pendapat jumhurul ulama’, serta menunjukkan kesepakatan kaum muslimin, bahwa mewakafkan masjid dan sumber mata air adalah sah. [Lihat Syarah Muslim, 11/86].

Dalil dari hadits yang lain, Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu berkata:

لَمَّا قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ الْمَدِينَةَ أَمَرَ بِبِنَاءِ الْمَسْجِدِ وَقَالَ يَا بَنِي النَّجَّارِ ثَامِنُونِي بِحَائِطِكُمْ هَذَا ؟ قَالُوا : لَا، وَاللَّهِ لَا نَطْلُبُ ثَمَنَهُ إِلَّا إِلَى اللَّهِ
Tatkala Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam datang di Madinah, Beliau menyuruh agar membangun masjid. Lalu Beliau berkata,”Wahai, Bani Najjar! Juallah kebunmu ini kepadaku!” Lalu Bani Najjar berkata,”Tidak kujual. Demi Allah, tidaklah kami jual tanah ini, kecuali untuk Allah. [HR Bukhari].

Berdasarkan hadits di atas, jelaslah bahwa Bani Najjar mewakafkan tanah kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sala untuk dibangun masjid, dan wakaf termasuk amal jariyah (yang mengalir terus pahalanya).

KEUTAMAAN WAKAF

Syaikh Abdullah Ali Bassam berkata: Wakaf adalah shadaqah yang paling mulia. Allah menganjurkannya dan menjanjikan pahala yang sangat besar bagi pewakaf, karena shadaqah berupa wakaf tetap terus mengalir menuju kepada kebaikan dan maslahat. Adapun keutamaannya, (meliputi):

Pertama : Berbuat baik kepada yang diberi wakaf, berbuat baik kepada orang yang membutuhkan bantuan. Misalnya kepada fakir miskin, anak yatim, janda, orang yang yang tak memiliki usaha dan perkerjaan, atau untuk orang yang berjihad fi sabilillah, untuk pengajar dan penuntut ilmu, pembantu atau untuk pelayanan kemaslahatan umum.

Kedua : Kebaikan yang besar bagi yang berwakaf, karena dia menyedekahkan harta yang tetap utuh barangnya, tetapi terus mengalir pahalanya, sekalipun sudah putus usahanya, karena dia telah keluar dari kehidupan dunia menuju kampung akhirat. [Lihat Kitab Taisiril Allam, 2/246].

HUKUM WAKAF

Hukum wakaf adalah sunnah, dengan mengingat dalil di atas dan hadits Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Apabila manusia meninggal dunia, maka terputus amalnya kecuali tiga perkara: shadaqah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya. [HR Muslim 3084].

Syaikh Ali Bassam berkata: Adapun yang dimaksud dengan shadaqah dalam hadits ini ialah wakaf. Hadits ini menunjukkan, bahwa amal orang yang mati telah terputus. Dia tidak akan mendapat pahala dari Allah setelah meninggal dunia, kecuali (dari) tiga perkara ini; karena tiga perkara ini termasuk usahanya. Para sahabat dan tabi’in mengizinkan orang berwakaf, bahkan menganjurkannya. [Lihat kitab Taisiril Allam, 2/132].

Imam Tirmidzi berkata: Kami tidak melihat salah seorang sahabat dan orang Ahli Ilmu pada zaman dahulu mempermasalahkan kebolehan mewakafkan tanah, melainkan hanya Syuraih yang mengingkarinya. [Lihat Fathul Bari, 5/402].

Imam Syafi’i berkata: Kami tidak pernah mengetahui orang Jahiliyah mewakafkan sesuatu, tetapi orang Islam yang mewakafkan hartanya. Ini menunjukkan, bahwa di dalam Islam, wakaf adalah masyru’. [Lihat Taisiril Allam Syarah Umdatul Ahkam, 2/245].

RUKUN WAKAF

Adapun rukun wakaf ada empat, yaitu : orang yang wakaf, benda yang diwakafkan, orang yang diserahi wakaf, dan sighat atau akad wakaf. Rukun ini telah disepakati oleh jumhurul ulama. [Lihat kitab Al Fiqhul Islami Waadillatihi, 8/159].

Syarat Orang Yang Wakaf (Wakif)

Orang yang wakaf, hendaknya merdeka, pemilik barang yang diwakafkan, berakal, baligh dan cerdas (mengerti dan tanggap). Dalilnya ialah:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
Allah tidak membebani seseorang, melainkan sesuai dengan kesanggupannya. [Al Baqarah:236].

Dari A’isyah Radhiyallahu 'anha, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ
Tidak dicatat tiga keadaan; orang yang tidur sehingga dia bangun, anak kecil sehingga dia baligh dan orang gila sehingga dia sadar. [HR Abu Dawud, 4398; Ibn Majah, 2041; Bukhar, 6/169. Lihat Al Irwa’, 297].

Ayat dan hadits di atas menunjukkan, bahwa kesanggupan merupakan syarat seseorang dalam mengerjakan ibadah. Begitu pula dalam masalah wakaf; mengingat wakaf termasuk ibadah, maka kesanggupan pewakaf terpenuhi bila orang itu telah baligh, berakal, punya kecerdasan dan harta yang diwakafkan miliknya sendiri.

Abu Bakar Al Jazairi berkata: Pewakaf hendaknya mempunyai hak mewakafkan, cedas, mengerti. [Lihat Minhajul Muslim, 349].

Pewakaf hendaknya tidak memberi syarat yang haram atau memadharatkan. Ibn Taimiyah berkata: Mengingat syarat orang yang wakaf terbagi menjadi dua; pewakaf yang sah dan yang batil menurut kesepakan ulama. Maka, apabila pewakaf memberikan syarat yang haram, maka syaratnya batil. Demikian berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
Tidak boleh taat kepada makhluq yang mengajak maksiat kepada Allah. [HR Imam Ahmad, no. 1041. Lihat Majmu’ Fatawa, 31/49].

Untuk lebih jelasnya tentang persyaratan pewakaf, akan dibahas pada pembahasan berikutnya.

Syarat Benda Wakaf

Ulama bersepakat, bahwa benda yang diwakafkan disyaratkan sebagai berikut: benda yang diwakafkan kelihatan, tetap utuh sekalipun diambil manfaatnya, dan benda tersebut merupakan milik orang yang wakaf. Demikian ini berdasarkan hadits Abdullah bin Umar Radhiyallahu 'anhu yang menceritakan keadaan ayahnya bernama Umar Radhiyallahu 'anhu, telah mewakafkan tanah miliknya di Khaibar, sebagaimana hadits di atas.

Imam Syafi’i berkata: Benda waqaf tidak diperbolehkan, melainkan bila bendanya tetap utuh, tidak berkurang karena diambil manfaatnya. Oleh karenanya, tidak boleh mewakafkan makanan, karena akan habis segera. [Lihat Fathul Bari, 5/403].

Adapun persyaratan bendanya harus kekal selamanya -menurut ulama’ yang mu’tabar- tidaklah menjadi persyaratan, karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mewakafkan kendaraannya, sebagaimana akan dijelaskan pada pembahasan berikutnya.

Syarat Yang Menerima Wakaf

Adapun syarat orang yang diserahi wakaf, hendaknya orang yang mampu memiliki manfaatnya dan mampu membelanjakannya. Tidak boleh wakaf kepada binatang, karena dia tak berakal. Tidak boleh pula kepada orang yang bodoh (tidak pandai membelanjakan harta), karena Allah melarang orang bodoh membelanjakan harta. Allah berfirman.

وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا
Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik. [An Nisa’ : 5].

Ibn Taimiyah berkata : ”Ayat ini mengandung penjelasan, yaitu orang yang bodoh tidak boleh membelanjakan atau mengatur dirinya atau mengatur orang lain, baik karena diserahi (sebagai wakil) atau mengatur; karena membelanjakan harta yang tidak bermanfaat bagi agama dan dunyawinya termasuk kebodohan yang paling besar, sehingga dilarang oleh Allah”. [Lihat kitab Majmu’ Fatawa Ibn Taimiyah, 31/33].

Selanjutnya tidak boleh wakaf, melainkan kepada orang yang dikenal, misalnya seperti anaknya, kerakabatnya, dan orang yang shalih lagi jujur, seperti diserahkan untuk membangun masjid. Jika wakaf kepada orang yang tidak jelas, seperti diserahkan sembarang orang laki-laki, atau orang perempuan, atau untuk maksiat, seperti wakaf untuk gereja, kapel, maka tidak sah. [Lihat kitab Fiqhus Sunnah, 3/381; Al Mughni, 8/195 dan Fiqih Sunnah, 8/189].

Bagaimanakah bila orang Islam mewakafkan kepada orang kafir ahli dzimmah? Apakah diperbolehkan? Apabila mewakafkan kepada ahli dzimmah, seperti orang Kristen, hukumnya sah. Dan boleh pula bersedekah kepada mereka, karena Shafiyah binti Huyyai, isteri Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan wakaf kepada suadaranya, yaitu orang Yahudi. [Lihat Fiqih Sunnah, 3/381; Majmu’ Fatawa, 31/30; Al Fiqhul Islami, 8/193; Al Mufashal Fi Ahkamil Mar’ah, 10/425].

Ibn Hajar berkata: “Di dalam hadits ini, terdapat kisah wakaf sahabat Umar. (Ini) menunjukkan bolehnya wakaf kepada orang kaya; karena istilah penyebutan kerabat dan tamu, tidaklah ada ikatan, karena mereka membutuhkan bantuan atau karena kemiskinannya”. [Lihat Fathul Bari, 5/403].

IKRAR WAKAF

Orang yang wakaf dapat diketahui, bila dia berikrar atau menyampaikan pernyataan. Misalnya:

Pertama : Perbuatan yang mengandung makna wakaf. Misalnya membangun masjid dan orang diizinkan shalat di dalamnya, membangun pendidikan agama dan lainnya.

Kedua : Perkataan; hal ini ada dua macam. Dengan menggunakan kalimat yang jelas, seperti وقفتُ (aku wakafkan) حبستُ (aku tahan pokoknya) atau سبلتُ ثمرَتها (aku pergunakan hasilnya untuk fi sabilillah), atau dengan sindiran kata lain, misalnya seperti تصدقت ُ (aku shadaqahkan hasilnya) حرمت ً (ku haramkan mengambil hasilnya) أبدت ُ (aku abadikannya). Contohnya, bila ada orang yang berkata ”saya sedekahkan rumahku ini, aku abadikan rumah ini, atau tidak aku jual rumah ini, dan aku tidak menghibahkannya”.

Ketiga : Wasiat, misalnya, bila aku meninggal dunia, maka aku wakafkan rumah ini. Akad semacam ini dibolehkan, sebagaimana pendapat Imam Ahmad, karena kalimat ini merupakan wasiat. [Lihat Al Mughni, 8/189; Al Mifsal Fi Ahkamil Mar’ah, 10/429; Fiqih Sunnah, 3/380. Lihat Fathul Bari, 5/403; Taisirul Allam, 2/132]

PERSAKSIAN WAKAF

Wakif, sebaiknya mempersaksikan barang wakafnya, agar dia tetap amanat dan dapat menghindari khianat. Dalilnya, sebagaimana hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari, no. 2551, bersumber dari sahabat Ibn Abbas Radhiyallahu 'anhu.

Sahabat Sa’ad bin Ubadah Radhiyallahu 'anhu, ketika ibunya meninggal dunia, ketika itu dia tidak ada. Lalu ia lapor kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّي تُوُفِّيَتْ وَأَنَا غَائِبٌ عَنْهَا أَيَنْفَعُهَا شَيْءٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ بِهِ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ قَالَ فَإِنِّي أُشْهِدُكَ أَنَّ حَائِطِيَ الْمِخْرَافَ صَدَقَةٌ عَلَيْهَا
Wahai, Rasulullah. Sesungguhnya ibuku meninggal dunia. Ketika itu saya tidak ada. Apakah dapat bermanfaat kepadanya bila aku bershadaqah sebagai gantinya?” Beliau menjawab,”Ya,” maka Sa’ad berkata,”Sesungguhnya aku menjadikan kamu sebagai saksi, bahwa pekarangan yang banyak buahnya ini aku shadaqahkan untuk ibuku. [HR Bukhari, 2551].

Ibn Hajar berkata: Hadits di atas, bila dijadikan dasar adanya saksi wakaf, belum jelas; karena boleh jadi, maksud hadits di atas adalah pemberitahuan. Sedangkan Al Mulhib beralasan perlunya wakaf ada saksi, berdasarkan firmanNya:

وَأَشْهِدُوا إِذَا تَبَايَعْتُمْ
Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli. [Al Baqarah:282].

Al Mulhib berkata: Apabila orang berjual beli dianjurkan adanya saksi, padahal makna jual beli adalah penukaran barang, maka wakaf dianjurkan adanya saksi itu lebih utama. [Lihat Fathul Bari, 5/391].

Kami tambahkan, terlepas dari pembahasan hukum, maka bila wakaf, sebaiknya ada yang menyaksikannya, agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Wallahu a’lam.

PENCATATAN WAKAF

Wakaf, sebaiknya dicatat sebagaimana dijelaskan hadits di atas, yaitu kisah sahabat Umar Radhiyallahu 'anhu ketika mewakafkan tanahnya, ada pesan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.

إِنْ شِئْتَ حَبَّسْتَ أَصْلَهَا وَتَصَدَّقْتَ بِهَا
Jika engkau menghendaki, engkau wakafkan tanah itu (engkau tahan tanahnya) dan engkau shadaqahkan hasilnya.
[HR Bukhari, sebagaimana tercantum di atas].

Ahli Ilmu menjadikan hadits ini sebagai dalil perlunya pencatatan wakaf, sebagai bukti bila terjadi perselisihan dan untuk maslahah pada hari kemudian.

Disebutkan di dalam kitab Al Muhadzab: Apabila pemilik wakaf memperselisihkan di dalam persyaratan wakaf dan penggunaannya, sedangkan tidak ada bukti, maka bila wakifnya masih hidup, yang dijadikan pegangan adalah perkataan wakif; karena dialah yang menetapkan syarat dan penggunaannya. [Lihat kitab Al Muhadzab, 1/446].

STATUS HARTA WAKAF

Harta wakaf, bukanlah milik pewakaf lagi ; karena hadits di atas menerangkan

أَنَّهُ لَا يُبَاعُ أَصْلُهَا وَلَا يُوهَبُ وَلَا يُورَثُ
Sesungguhnya tanah ini tidak boleh dijual, tidak boleh dihibahkan dan tidak boleh diwaris.

Abu Yusuf dan Muhamad berkata : Harta, bila diwakafkan tidaklah menjadi milik pewakaf lagi. Tetapi, dia hanya berhak menahan benda pokoknya, agar tidak dimiliki orang lain. Oleh karena itu, bila pewakaf meninggal dunia, ahli warisnya tidak mewarisi harta wakafnya. [Lihat kitab Al Mabsuth, 12/39].

Imam Syafi’i berkata : Tatakala Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam membolehkan pewakaf menahan pokok hartanya dan memanfaatkan hasilnya, menunjukkan bahwa benda yang diwakafkan bukan milik pewakaf lagi. [Lihat Al Umm, Imam Syafi’i, kitab Athaya Wash Shadaqah Wal Habsi].

WAKAF BERKELOMPOK

Wakaf tidak harus dilakukan oleh perorangan, tetapi boleh dengan berjama’ah. Misalnya, iuran membeli tanah untuk membangun masjid, pendidikan Islam dan lainnya.

Adapun dalilnya, Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada pemilik kebun yang merupakan milik orang banyak:

يَا بَنِي النَّجَّارِ ثَامِنُونِي بِحَائِطِكُمْ هَذَا قَالُوا لَا وَاللَّهِ لَا نَطْلُبُ ثَمَنَهُ إِلَّا إِلَى اللَّهِ
Wahai, Bani Najjar! Juallah kebunmu ini kepadaku!” Lalu Bani Najjar berkata,”Tidak kujual. Demi Allah, tidaklah kami jual tanah ini, kecuali untuk Allah. [HR Bukhari, kitab Al Washaya, no. 2564].

Sabda Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam ”Wahai, Bani Najjar!” menunjukkan bahwa wakaf dapat dilakukan lebih dari satu orang.

MENUNDA PENYERAHAN WAKAF

Orang yang telah berikrar wakaf tetapi belum menyerahkannya, maka ulama berbeda pendapat. Ada yang membolehkannya, dan ada yang tidak membolehkannya.

Ibnu Hajar berkata : Apabila ada orang wakaf, sedangkan barangnya belum diserahkan, (maka) hukumnya boleh dan sah wakafnya. Begitulah pendapat jumhur ulama’. Sedangkan menurut Imam Malik dan Imam Syafi’i tidak membolehkannya, tetapi hendaknya segera diserahkan. Adapun alasan Imam Thahawi dan jumhur membolehkannya, karena kedudukan wakaf seperti memerdekakan budak, sebab keduanya memiliki kesamaan, yaitu milik Allah. Oleh karena itu, (wakaf tersebut, Red) sah, sekalipun baru diucapkan dengan lisan. Berbeda dengan pemberian hadiah, maka harus diserahkan segera. Adapun dalil lain yang membolehkan penundaan penyerahan wakaf, (yaitu) kisah sahabat Umar Radhiyallahu 'anhu. Beliau menjelaskan ”tidak mengapa yang mengurusinya ikut makan hasilnya”. [Lihat Fathul Bari, 5/384].

Terlepas dari pembahasan hukum boleh menunda penyerahan harta wakaf, maka sebaiknya harta wakaf itu segera diserahkan, kalau memang yang mengurusinya orang lain dan dapat dipercaya, agar selamat dari hal-hal yang tidak diinginkan oleh pewakaf atau keluarganya pada kemudian hari.

PERSYARATAN WAKIF

Wakif boleh memberi persyaratan, sebagaimana disebutkan hadits di bawah ini:
Sahabat Ibn Mas’ud Radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

الْمُسْلِمُونَ عِنْدَ شُرُوطِهِمْ
Orang muslim tergantung persyaratannya. [HR Bukhari, kitab Al Ijaroh].

Tetapi hendaknya, wakif tidak memberi persyaratan yang melanggar sunnah, atau persyaratan yang menyebabkan madhorot, sebagaimana disebutkan oleh Abdullah bin Amr bin Auf, dari ayahnya, dari kakeknya, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

الصُّلْحُ جَائِزٌ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ إِلَّا صُلْحًا حَرَّمَ حَلَالًا أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا وَالْمُسْلِمُونَ عَلَى شُرُوطِهِمْ إِلَّا شَرْطًا حَرَّمَ حَلَالًا أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا
Damai itu dibolehkan sesama kaum muslimin, kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram, orang muslim menurut persyaratannya, kecuali persyaratan yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. [HR Tirmidzi, no. 1271. Hadits hasan shahih].

Aisyah Radhiyallahu 'anha berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَا بَالُ أُنَاسٍ يَشْتَرِطُونَ شُرُوطًا لَيْسَ فِي كِتَابِ اللَّهِ مَن ِ اشْتَرَطَ شَرْطًا لَيْسَ فِي كِتَابِ اللَّهِ فَهُوَ بَاطِلٌ وَإِنِ اشْتَرَطَ مِائَةَ شَرْطٍ شَرْطُ اللَّهِ أَحَقُّ وَأَوْثَقُ
Mengapa manusia membuat syarat yang tidak tercantum di dalam kitab Allah, maka barangsiapa yang membuat syarat yang tidak ada di dalam kitab Allah , ia adalah bathil, sekalipun dengan seratus syarat. Syarat Allah lebih berhak dan lebih mantap. [HR Bukhari, 2010].

Syaikh Abdullah Ali Bassam berkata : Ulama berbeda pendapat dalam memahami syarat di atas. Pertama. Syaratnya batal, bila menyelisihi Al Qur’an dan Sunnah, atau syarat yang tidak ada nashnya dari Al Qur’an atau Sunnah. Kedua. Selagi tidak ada larangan dalam hal yang mubah, maka berarti boleh. Dan karena boleh, berarti disyari’atkan di dalam Al Qur’an. [Lihat kitab Taisirul Allam, 2/250].

Syaikh Islam Ibnu Taimiyah, ketika ditanya tentang wakif yang mensyaratkan wakafnya untuk anaknya kemudian cucunya, kemudian untuk anak cucunya sampai seterusnya, beliau menjawab : Bagiannya tadi berpindah untuk anaknya, bukan untuk saudaranya dan anak pamannya. [Lihat Majmu’ Fatawa Ibn Taimiyah, 31/100].

Jawaban Ibnu Taimiyah ini memberi penjelasan contoh persyaratan yang mubah. Adapun wakaf yang melanggar Sunnah, misalnya wakaf untuk gedung bioskop, wakaf untuk penyanyi, wakaf untuk menghalangi da’wah, wakaf untuk membantu kelancaran bid’ah, kemusyrikan dan lainnya; semua ini hukumnya haram.

WAKIF MENCABUT WAKAFNYA

Ulama’berbeda pendapat apabila pewakaf mencabut wakafnya.

Abdullah bin Ali Bassam berkata : Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa harta wakaf boleh dijual dan dicabut. Pendapat ini adalah keliru. Abu Yusuf berkata, jikalau Abu Hanifah mendengar hadits Umar (sebagaimana di atas), tentu dia akan mencabut perkataannya. Sedangkan Imam Qurthubi berpendapat, mencabut wakaf adalah menyelisihi Ijma’. Kita tidak perlu memperhatikan pendapat yang membolehkannya. [Lihat kitab Taisirul Allam, 2/252].

Syaikh Muhamad Amin berkata : Seharusnya wakif tidak mencabut wakafnya, apabila sebelumnya telah meletakkan syarat, kecuali apabila dia melihat barang wakafnya tidak dimanfaatkan, atau merasa diabaikan amanahnya; maka pewakaf boleh mencabut wakafnya. Selanjutnya, jika yang disyaratkan, seperti muadzin, Imam shalat, atau pengajar; jika dirasa kurang bermanfaat atau mereka meremehkan amanat yang dipikulkan kepadanya, maka wakif boleh menyelisihi persyaratannya. [Lihat kitab Khasiyah Ibn Abidin, 4/459].

Kesimpulannya, menurut asalnya, harta wakaf hukumnya tidak boleh dicabut kembali, kecuali bila tidak dimanfaatkan, atau diabaikan amanatnya, maka boleh mencabutnya untuk dialihkan yang lebih bermanfaat. Allahu a’lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun VIII/1425H/2004M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]


sumber: almanhaj.or.id

Cara Mudah Membuat Tabulampot

Metode budidaya tanaman buah dalam pot (tabulampot) dibuat untuk menjawab tantangan keterbatasan lahan. Tanaman buah biasanya berpostur tinggi dengan perakaran dalam. Tanaman ini membutuhkan ruang tumbuh yang cukup luas. Hal ini tentunya menyulitkan bagi penduduk perkotaan dengan lahan yang sangat terbatas.

Sejak tahun 1970-an, berkembang metode menanam buah dalam lingkungan terbatas atau tabulampot. Metode ini terus berkembang, baik dari sisi teknologi maupun jumlah jenis tanaman buah yang bisa dijadikan tabulampot.

Saat ini, banyak bermunculan nursery-nursery penyedia bibit tabulampot. Dalam berbagai pameran pertanian, tabulampot selalu jadi incaran favorit. Pehobi tertarik pada tabulampot untuk alasan fungsional maupun estetika.

Jenis-jenis tabulampot

Hampir semua jenis tanaman buah bisa tumbuh dalam bentuk tabulampot. Tapi tidak semua tabulampot bisa menghasilkan buah. Karena meskioun bisa tumbuh subur, jenis-jenis tanaman tertentu belum bisa berbuah dalam lingkungan tabulampot.

Terdapat beberapa jenis tanaman buah yang lazim dijadikan tabulampot. Tingkat keberhasilan berbuahnya dikategorikan mudah, sulit dan belum berhasil. Beberapa tanaman dengan kategori mudah berbuah diantaranya jeruk, belimbing, sawo, mangga, jambu biji dan jambu air. Tanaman yang sulit berbuah antara lain rambutan, lengkeng, manggis, duku dan jambu bol.  Sedangkan tanaman alpukat dan durian masih belum berhasil berbuah optimal dalam lingkungan tabulampot.

Menyiapkan bibit tabulampot

Bibit tanaman merupakan hal yang sangat menentukan tingkat keberhasilan tabulampot. Terdapat dua jenis bibit tanaman, yaitu bibit hasil perbanyakan generatif (dari biji) dan bibit hasil perbanyakan vegetatif (cangkok, okulasi dan penyambungan).

Untuk budidaya tabulampot sebaiknya gunakan bibit hasil perbanyakan vegetatif. Kelebihan bibit hasil vegetatif yaitu sifat tanamannya bisa dipastikan, karena sama dengan sifat induknya. Sehingga keberhasilannya lebih mudah diprediksi. Selain itu, bibit perbanyakan vegetatif lebih cepat berbuah. Kekurangan bibit jenis ini akarnya kurang kuat sehingga tanaman mudah roboh atau mengalami kekeringan.

Tingkat keberhasilan tabulampot sangat ditentukan oleh bibit tanaman. Oleh karena itu pilihlah bibit yang kita tahu persis sifat-sifatnya. Bebas dari hama dan penyakit tanaman. Untuk memastikannya biasanya bibit tersebut telah memiliki sertifikat dari komunitas atau lembaga terpercaya.

Menyiapkan media tanam

Media tanam tabulampot bermacam-macam. Media tanam berfungsi sebagai tempat tumbuhnya akar dan untuk menopang postur tanaman. Media tanam tabulampot harus bisa menyimpan air dan memasok nutrisi yang dibutuhkan tanaman.

Media tanam yang sering digunakan para pehobi antara lain campuran tanah, kompos dan arang sekam dengan komposisi 1:1:1. Bisa juga campuran tanah, pupuk kambing dan sekam padi dengan komposisi 1:1:1. Untuk menekan biaya, gunakan bahan baku yang banyak ditemui di lingkungan sekitar.

Tanah dan material organik di daerah tropis biasanya memiliki tingkat keasaman yang cukup tinggi. Bila bahan-bahan media tanam tersebut terlalu asam campurkan kapur pertanian atau dolomit ke dalamnya.

Setelah menyiapkan media tanam, selanjutnya siapkan pot sebagai wadah. Jenis pot bisa terbuat dari tanah liat, logam (drum), plastik, semen atau kayu. Pot dari berbahan tanah liat dan kayu sangat baik untuk tabulampot karena memiliki pori-pori sehingga kelembaban dan temperatur media tanam lebih stabil. Namun kelemahannya bahan-bahan tersebut tidak tahan lama.

Wadah tabulampot yang baik harus memiliki kaki atau alas yang memisahkan dasar pot dengan tanah. Hal ini penting untuk aliran drainase dan memudahkan pengawasan agar akar tanaman tidak menembus tanah.

Penanaman bibit tanaman

Berikut ini langkah-langkah untuk menanam bibit tanaman ke dalam wadah tabulampot:

  • Siapkan bahan-bahan media tanam, kemudian ayak dan buang kerikil-kerikil yang ada didalamnya. Campurkan bahan-bahan itu hingga merata.
  • Siapkan pot dengan ukuran yang disesuaikan dengan ukuran tanaman. Sebaiknya dimulai dari ukuran pot yang kecil. Sehingga apabila tanaman semakin besar pot bisa diganti, sekaligus sebagai penanda untuk meremajakan media tanam.
  • Letakkan pecahan genteng pada dasar pot, satu lapis saja. Kemudian letakkan juga satu lapis ijuk atau sabut kelapa.
  • Kemudian isi dengan media tanam yang sudah disiapkan hingga setengah tinggi pot.
  • Untuk mengurangi penguapan, pangkas sebagian daun atau batang bibit tanaman. Kemudian buka polybag bibit tanaman, letakkan tepat ditengah-tengah pot. Timbun dengan media tanam hingga pangkal batang.
  • Padatkan media tanam di sekitar pangkal batang, pastikan tanaman sudah kuat tertopang. Siram dengan air untuk mempertahankan kelembaban.
  • Simpan tabulampot di tempat yang agak teduh untuk beradaptasi. Siram setiap pagi atau sore hari. Setelah satu minggu, letakkan tabulampot di tempat terbuka.

Perawatan tabulampot

a. Penyiraman

Tabulampot yang telah jadi harus di letakkan di tempat terbuka dan terkena cahaya matahari sepenuhnya. Pada musim kemarau penyiraman dilakukan setiap hari, bisa pagi atau sore hari. Pada musim hujan penyiraman hanya dilakukan apabila media tanam terlihat kering. Penyiraman menggunakan selang air atau gembor.

Bila jumlah tabulampot banyak, penyiraman bisa diprogram dengan membangun sistem irigasi. Sistem irigasi yang paling cocok adalah irigasi tetes. Irigasi ini irit tenaga kerja, hemat air dan mudah dikontrol. Namun memerlukan investasi yang cukup besar. Silahkan baca tentang  irigasi tetes di sini.

b. Pemangkasan

Setidaknya terdapat tiga tujuan pemangkasan tabulampot yaitu pemangkasan bentuk, pemangkasan produksi dan pemangkasan peremajaan. Pemangkasan bentuk dilakukan untuk membentuk tajuk baru dan mengatur postur tanaman agar sinar matahari bisa menembus semua bagian tanaman. Selain dua fungsi itu, pemangkasan bentuk juga terkait dengan estetika.

Salah satu teori umum dalam memangkas bentuk tabulampot adalah 1-3-9. Artinya, dalam setiap 1 batang primer terdapat maksimum 3 batang sekunder dan dalam 1 batang sekunder maksimum terdapat 3 batang tersier. Batang yang dipilih untuk dibiarkan tumbuh adalah yang sehat dan kuat, sekaligus juga memiliki unsur estetika pada tanaman.

Pemangkasan produksi berkaitan dengan fungsi produksi tanaman. Pemangkasan dilakukan terhadap tunas air untuk merangsang pembungaan. Selain itu, pemangkasan dilakukan terhadap batang yang terlihat berpenyakit.

Terakhir pemangkasan peremajaan, dilakukan terhadap tanaman yang telah tua. Pada tabulampot yang sudah tua biasanya dilakukan penggantian media tanam dan pot (repotting). Pada fase ini, beberapa cabang perlu dipangkas. Bahkan pada kasus-kasus tertentu hanya menyisakan batang primer saja.

c. Pemupukan

Media tabulampot memiliki cadangan nutrisi yang terbatas. Oleh karena itu pemupukan menjadi hal yang sangat vital. Pemupukan pertama dilakukan satu bulan setelah tanam. Selanjutnya dilakukan setiap 3-4 bulan sekali.

Pupuk yang digunakan sebaiknya pupuk organik. Jenisnya bisa kompos, pupuk kandang atau pupuk organik cair. Meskipun kandungan haranya tidak seakurat pupuk kimia, pupuk organik memiliki unsur hara yang lebih lengkap. Selain itu penambahan bahan-bahan organik akan merangsang aktivitas biologi dalam media tanam.

Pupuk kimia diperlukan pada saat-saat tertentu saja. Misalnya pada saat pembungaan dan pembuahan dimana tanaman memerlukan unsur-unsur hara makro seperti P dan K dalam jumlah banyak. Dan beberapa unsur mikro seperti Ca, Mn, Fe, dll. Dalam pupuk kimia unsur-unsur tersebut bisa dipastikan takarannya.

d. Pengendalian hama dan penyakit

Pengendalian hama dan penyakit pada tabulampot sebaiknya dilakukan sejak dini, yakni sejak memilih bibit. Bibit unggul biasanya memiliki ketahanan terhadap hama dan penyakit tertentu. Belilah bibit dari sumber yang terpercaya dan memiliki sertifikat bibit.

Pencegahan serangan hama dan penyakit juga bisa dilakukan dengan menjaga kebersihan media tanam dan kebun. Gulma dan semak belukar disekitar kebun bisa menjadi sumber hama dan penyakit.

Bila tabulampot sudah kadung terserang hama atau penyakit, langkah pertama bisa diberantas secara manual. Misalnya dengan memungut ulat yang menyerang atau memangkas dahan yang terkena penyakit.

Pada saat tabulampot berbuah, lindungi buah dengan plastik atau jaring pelindung. Atau juga bisa dengan memasang perangkap hama, seperti penggunaan hormon feromon untuk memerangkap lalat buah.

Penyemprotan tabulampot dengan pestisida menjadi dilema. Biasanya tabulampot ditanam di pekarangan yang dekat dengan pemukiman. Pestisida kimia tentunya akan sangat berbahaya dan mencemari lingkungan sekitar. Oleh karena itu, gunakan selalu pestisida organik. Silahkan baca tentang pestisida organik.

Apabila sangat terpaksa, penyemprotan dengan pestisida kimia bisa dilakukan. Lakukan dengan hati-hati, baca aturan dan dosis pakainya secara seksama. Penyemprotan hendaknya dilakukan secara terbatas.

sumber: alamtani.com

e. Pergantian media dan pot

Salah satu kendala yang biasanya dihadapi oleh penghobi tanaman adalah pertumbuhan tanaman buah dalam pot yang terhenti dan cenderung stagnan. Salah satu penyebab stagnasi pertumbuhan tanaman adalah karena media tanam yang telah memadat dan mengeras dalam pot, yang mungkin terjadi karena beberapa sebab :

1. Periode tanam yang panjang dan menahun,
2. Pertumbuhan akar yang telah memenuhi seluruh bidang pot,
3. Keterbatasan asupan nutrisi bagi tanaman, baik jenis, jumlah dan waktu pemberiannya,
4. Penggunaan media tanam yang keliru, baik jenis maupun komposisinya
5. Kemampuan tanaman yang menurun untuk tumbuh dan berkembang secara normal

Penggantian media tanam tabulampot sebenarnya bukanlah hal mutlak yang harus dilakukan. Meskipun media tanam tabulampot tidak pernah diganti, namun jika pemberian nutrisi organik dan anorganik berlangsung secara teratur dan dalam jumlah yang cukup, tanaman akan tetap tumbuh dengan baik, untuk menyelesaikan semua siklus hidupnya serta berproduksi dengan baik pula. Meskipun demikian, sebagian penghobi beranggapan bahwa penggantian media tanam tabulampot secara periodik adalah suatu keharusan untuk memberikan “ruangan” baru yang lebih ideal bagi pertumbuhan akar tanaman di bagian bawah dan pertumbuhan akar yang sehat akan tercermin pada pertumbuhan tanaman yang sehat secara keseluruhan di bagian atas.

Penggantian media tanam umumnya dilakukan dengan mengikuti dua cara :

1. Penggantian media tanam sekaligus penggantian ukuran pot yang lebih besar. 



Prinsipnya sederhana, hanya memindahkan tanaman secara keseluruhan ke dalam pot yang berukuran lebih besar, misalnya tanaman mangga dalam pot berukuran diameter 30 cm dipindah ke dalam pot berukuran 40, 50, atau 60 cm, tanpa melakukan pemotongan akar. Hanya ujung-ujung akar saja yang dipotong dan dibersihkan agar kelihatan lebih rapi. Setelah tanaman dikeluarkan dan dibersihkan, siapkan pot baru dengan ukuran lebih besar. Tutup lubang pot yang baru dengan menggunakan pecahan genteng, keramik, atau kaca, kemudian berikan sekam setinggi minimal 3 cm sebagai lapisan terbawah yang sekaligus berfungsi sebagai penyaring. Masukkan media tanam secukupnya, sebarkan merata dan tekan-tekan dengan tangan agar memadat. Masukkan tanaman tepat di tengah pot dan tambahkan media tanam baru di sekeliling akar tanaman, tekan dan padatkan lagi dengan tangan. Tinggi media tanam baru sebaiknya maksimum 5 cm sebelum bibir pot. Siram dengan air secukupnya untuk membuat media tanam baru menjadi lembab dan tidak perlu sampai air menetes dari lubang di bagian bawah pot.

2. Penggantian media tanam tanpa diikuti dengan penggantian pot

Berarti harus dilakukan pengurangan massa akar dari volume akar sebelumnya agar diperoleh ruangan baru untuk mengganti media tanam yang juga baru. Keringkan media tanam selama 1-2 hari dengan penjemuran agar mudah dikeluarkan dari pot. Siapkan gergaji yang tajam dan potong akar tegak lurus, maksimum 10 cm dari batang (jika diameter pot 30 cm) dan maksimum 15 cm dari batang (jika diameter pot 40 cm). Potong massa akar di setiap sisi sehingga hasil akhirnya akan berbentuk bujur sangkar. Jika dipandang perlu, potong juga akar bagian bawah, dengan arah mendatar, minimum setinggi 5 cm, dengan mata gergaji diarahkan ke samping, sejajar permukaan tanah/lantai. Siapkan pot yang telah digunakan sebelumnya, tutup lubang pot menggunakan pecahan genteng, keramik, atau kaca, kemudian berikan sekam setinggi minimal 2 cm sebagai lapisan terbawah yang sekaligus berfungsi sebagai penyaring air siraman. Masukkan media tanam secukupnya, sebarkan merata dan tekan-tekan dengan tangan agar memadat. Masukkan tanaman tepat di tengah pot dan tambahkan media tanam baru di sekeliling akar tanaman yang telah dipotong, tekan dan padatkan lagi dengan tangan. Tinggi media tanam baru sebaiknya maksimum 5 cm sebelum bibir pot. Siram dengan air secukupnya untuk membuat media tanam baru menjadi lembab dan tidak perlu sampai air menetes dari lubang di bagian bawah pot. Berbeda dengan metode sebelumnya, pasca pruning akar dan penggantian media tanam baru, pot harus diletakkan di tempat teduh setidaknya selama dua minggu untuk memberikan kesempatan pemulihan pasca pemotongan akar, setelahnya baru dapat dilakukan penjemuran sebagai mana bisanya tabulampot diperlakukan. Selama proses pemulihan berlangsung, hindari pemberian air siraman yang berlebihan, secukupnya saja untuk menjaga agar media tanam tetap lembab.

sumber: leira-fruit.blogspot.com

Video tutorial membuat Tabulampot


Download videonya di sini: http://www.4shared.com/video/GLvtoGD6ba/tabulampot.html

al-Hilm, al-Anah dan ar-Rifq: Ketinggian Akhlaq Lemah Lembut

Oleh: Abu Umar Al Bankawy

Tiga perkara ini (Al Hilm, Al Anah dan Ar Rifq) memiliki makna yang berdekatan. Ketiganya mengandung makna berlemah lembut dalam bermuamalah dengan sesama. Oleh karena itu, para ulama menjadikan pembahasannya dalam satu bab.

Al Hilm (الحلم) maknanya adalah seseorang bisa menguasai dirinya ketika marah.  Jika seseorang dilanda amarah maka dengan segera dia bisa menguasai dirinya, tidak terburu-buru merespon atau memberikan balasan.

Sedangkan Al ‘Anah (الأناة) maknanya adalah berhati-hati dalam menghadapi permasalahan dan tidak tergesa-gesa. Artinya seseorang tidaklah mengambil sebuah permasalahan dengan zhahirnya belaka, lalu dia pun dengan tergesa-gesa menghukumi permasalahan tersebut sebelum dia menelitinya dengan lebih lanjut.

Adapun Ar Rifq (الرفق) maknanya adalah: Bermuamalah dengan manusia dengan lemah lembut bahkan sampai-sampai jika orang tersebut berhak untuk mendapat hukuman dan sanksi maka dia pun tetap memperlakukannya dengan lemah lembut.

Tingginya kedudukan tiga sifat ini

Ketiga sifat ini banyak mendapat pujian dalam di syariat Islam.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Asyaj ‘Abdul Qais,

إنَّ فيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللهُ : الْحِلْمُ وَالأنَاةُ
“Sesungguhnya pada dirimu ada dua perangai yang dicintai Allah yaitu al hilm dan al anah”. (HR. Muslim)

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللهَ رَفِيْقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ ، وَيَعْطِي عَلَى الرِّفْقَ مَا لاَ يَعْطِي عَلَى الْعُنْفِ ، وَمَا لاَ يَعْطِي عَلَى سِوَاهُ
“Sesungguhnya Allah Rafiq (Maha Lembut), dan mencintai rifq/kelembutan, Dia memberikan pada rifq, apa-apa yang tidak diberikan pada sikap ‘anaf (keras), dan tidak pula Dia memberikan pada yang selainnya”. (HR. Muslim)

Dari beliau (‘Aisyah) radhiyallahu ‘anha juga, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَلَيْكِ بِالرِّفْقِ ، وَإِيَّاكَ وَالْعُنْفِ ، وَالْفَحْشِ ، إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُوْنُ فِيْ شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ ، وَلاَ يَنْزِعُ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ
“Wajib bagimu untuk berbuat lemah lembut, berhati-hatilah dari sikap keras dan keji, sesungguhnya tidaklah sikap lemah lembut ada pada suatu perkara kecuali akan menghiasinya, dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu, melainkan akan memburukkan perkara tersebut”. (HR. Muslim)

Dari Jarir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ يُحْرَمُ الرِّفْقَ ، يُحْرَمُ الْخَيْرَ كُلَّهُ
“Barang siapa yang diharamkan baginya rifq, diharamkan baginya kebaikan seluruhya”. (HR. Muslim)

Kelembutan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalh figur yang penuh kasih sayang dan kelemahlembutan. Allah ta’ala berfirman,

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, Amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (At-Taubah: 128)

Kasih sayang dan kelemahlembutan beliau nampak pada Hadits-hadits berikut:

1. Kisah Arab Badui yang Kencing di Masjid

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Tatkala kami dimasjid bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba datang seorang A’rabi  (Arab dusun) kencing di masjid, maka para sahabat menghardiknya, “Mah mah (yaitu pergi/tinggalkan)”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Jangan kalian hardik, biarkan dia (jangan putus kencingnya)”. Para sahabat membiarkan A’rabi  tersebut untuk menunaikan kencingnya, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memanggilnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Sesungguhnya masjid-masjid tidak boleh untuk kencing, tetapi dipergunakan untuk berdzikir kepada Allah, shalat dan membaca Al Qur’an”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada para sahabat-sahabatnya, “Sungguh kalian diutus untuk memudahkan dan tidak untuk menyulitkan, guyurlah air kencing tadi dengan satu ember air”. A’rabi  itu berkata, “Ya Allah, rahmatilah aku dan Muhammad, dan jangan Engkau rahmati selain kami”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Sungguh engkau telah mempersempit perkara yang luas.” (Muttafaqun ‘alaihi)

2. Metode Beliau dalam Menegur Para Sahabat

Dari Mu’awiyah bin Al-Hakam ‘Aisyah-Sulami radhiyallahu ‘anhu berkata, “Tatkala aku shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba ada seseorang yang shalat itu bersin. Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu mendoakan, “Semoga Allah merahmatimu”. Orang-orang yang shalat melihat kepadaku dalam rangka mengingkari. Mu’awiyah mengatakan kepada mereka, “Kenapa kalian melihatku begitu?” Orang-orang yang shalat memukulkan tangan-tangan mereka ke paha-paha mereka dengan tujuan supaya diam, maka Muawiyah pun diam tatkala mereka diam sampai selesai shalat. Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu memuji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Demi ibu bapakku, aku tidak pernah melihat seorang pengajar sebelum atau sesudahnya yang paling baik pengajarannya dibanding beliau, maka demi Allah, beliau tidak memojokkan aku, tidak memukulku dan tidak mencelaku”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya shalat ini tidak boleh sesuatu pun padanya yang berupa ucapan manusia, tetapi shalat itu tasbih, takbir dan membaca Al-Qur’an”. Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku baru lepas dari masa jahiliyah, dan Allah datangkan Islam. Dan sesungguhnya ada di antara kami orang-orang yang mendatangi dukun yang mereka mengakui ilmu ghaib”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jangan kamu mendatangi mereka!!” Mua’wiyah radhiyallahu ‘anhu, “Dan di antara kami ada orang-orang yang ber-tathayur (menganggap sial dengan sesuatu).” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Itu adalah sesuatu yang didapatkan pada dada-dada mereka, maka jangan sampai menghalangi mereka dari tujuan-tujuan mereka, karena yang demikian itu tidak berpengaruh, tidak mendatangkan manfaat mau pun mudharat.” (HR. Muslim)

3. Bimbingan Beliau terhadap ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhu

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Orang-orang Yahudi mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Kebinasaan bagimu”. Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bagi kalian juga”. ‘Aisyah berkata, “Kebinasaan bagi kalian, laknat dan murka Allah atas kalian”. Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tahan wahai ‘Aisyah, wajib bagimu untuk lemah lembut, hati-hati kamu dari sikap keras dan keji”. ‘Aisyah, “Apakah kamu tidak mendengar apa yang mereka ucapkan?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Apakah kamu tidak mendengar apa yang aku ucapkan, aku telah membalas mereka dan itu dikabulkan bagiku dan ucapan mereka terhadapku tidaklah dikabulkan “. (HR. Al Bukhari)

Dalam riwayat Muslim, “Jangan kamu (wahai ‘Aisyah) menjadi orang yang berbuat keji, karena sesungguhnya Allah tidak suka terhadap perkataan kotor/keji dan mengatakan dengan ucapan kotor”.

4. Wasiat Beliau ketika Mengutus Para Da’i

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika mengutus sahabatnya dalam suatu urusan, beliau bersabda,

 بَشِّرُوْا وَلاَ تُنَفِّرُوْا وَيَسِّرُوْا وَلاَ تُعَسِّرُوْا
“Gembirakanlah mereka, jangan bikin lari, permudah urusan mereka, jangan mempersulit”. (Muttafaqun ‘alaihi)

Lemah Lembut dalam Mengajak Orang kepada Kebaikan

Lemah lembut dalam berdakwah adalah salah satu modal utama di dalam berdakwah. Allah ta’ala berfirman,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Ali Imran: 159)

Dikatakan kepada Al-Imam Ahmad bin Hanbal, “Bagaimana sepantasnya seseorang memerintahkan kepada yang ma’ruf?” Beliau menjawab, “Hendaknya dia memerintah dengan lemah lembut dan merendahkan diri.” Kemudian beliau berkata, “Jika mereka memperdengarkan kepadanya perkara yang dia benci, jangan dia marah, sehingga jadilah dia ingin membela dirinya.” (Al Amr bil Ma’ruf wan Nahi ‘anil Munkar, Abu Bakr bin Al Khallal, hal 52)

Al-Imam Sufyan berkata, “Janganlah memerintahkan kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang munkar kecuali orang yang di dalamnya ada tiga perkara: Berlemah-lembut dengan apa yang ia perintahkan dan lemah-lembut dengan apa yang ia larang, adil dengan apa yang ia perintahkan dan adil dengan apa yang ia larang, mengilmui apa yang ia perintahkan dan mengilmui apa yang ia larang.” (Al Amr bil Ma’ruf wan Nahi ‘anil Munkar, Abu Bakr bin Al Khallal, hal 37)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Maka semestinya untuk mempunyai tiga hal: Ilmu, sikap lemah lembut, dan kesabaran. Ilmu sebelum memerintahkan dan melarang, sikap lemah-lembut bersamanya, dan kesabaran setelahnya. Dan setiap dari tiga hal ini mesti menemaninya dalam keadaan-keadaan ini.” (Al Amr bil Ma’ruf wan Nahi anil Munkar, Ibnu Taimiyyah, hal 18)

Wallahu ta’ala a’lam bish shawab.

Referensi:
  • Syarh Riyadhis Shalihin, Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
  • Qutufun min Syamaaili Al Muhammadiyyah, Asy Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu
  • Al Amr bil Ma’ruf wan Nahi anil Munkar, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah
  • Al Amr bil Ma’ruf wan Nahi anil Munkar, Abu Bakr bin Al Khallal

sumber: salafy.or.id

Cara Cerdas Mengajarkan Anak Berpuasa

Bulan Ramadan adalah bulan yang sempurna untuk mengajarkan anak berbagai aspek kebaikan. Meski begitu, mengajarkan hal yang baik pada anak tentu tak akan mudah.Terutama mengajari mereka berpuasa. Anak-anak memerlukan waktu untuk berlatih berpuasa dengan baik.

Hal pertama yang perlu diketahui oleh orangtua bahwa berpuasa bisa memberi dampak positif bagi perkembangan fisik dan mental anak. Beberapa pakar meyakini bahwa puasa meningkatkan hormon pertumbuhan anak dan meningkatkan daya tahan tubuh. Secara psikologis anak yang berpuasa memiliki pola hidup lebih disiplin, sabar, mau berbagi dan mengendalikan diri.

Sejatinya, puasa bukanlah kewajiban yang harus dilakukan anak-anak, mengingat mereka belum memasuki fase baligh (usia pubertas). Namun mendidiknya untuk belajar berpuasa sejak dini bisa menjadi sebuah rencana dan merupakan kewajiban bagi orang tua.

Meski ngajarin anak itu gampang-gampang susah, tapi tidak perlu panik ataupun kikuk, karena ada beberapa cara yang bisa dilakukukan orang tua untuk melatih anak-anaknya berpuasa. Berikut kita simak tips-tipsnya:

1. Ajarkan pada sang anak apa makna dari puasa itu? Kenapa berpuasa di bulan ramadhan itu penting? Apa manfaatnya?
Dengan mengajarkan konsep dasar dari berpuasa kita dapat memicu semangat sang anak untuk menjalankan ibadahnya di bulan ramadhan.Tentu peran orang tua sangat penting disini. Sebab, ketika si anak menyadari akan pentingnya berpuasa maka si anak akan dengan senang menjalankan ibadah puasa tanpa adanya paksaan dari orang tua.

2. Beri Suntikan Semangat
"Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu, minta tolonglah pada Allah, dan jangan bersikap lemah!" [Al-Hadits]
Berikan suntikan semangat setiap harinya agar sang anak sanggup melanjutkan puasanya dalam satu bulan penuh. Terkadang rasa jenuh dapat meruntuhkan semangat berpuasa. Oleh karena itu, ajak sang anak dalam kegiatan-kegiatan yang positif. Intinya jangan buat sang anak hanya duduk terdiam menunggu datangnya adzan maghrib.

3. Puasa Setengah Hari
Melatih anak puasa itu baiknya fokus pada proses bukan fokus pada hasil yang harus dicapai anak. Bagi sang anak, memang tidak mudah menjalankan puasa untuk pertama kalinya. Maka dari itu ajarkan sang anak untuk puasa secara bertahap. Misalnya puasa setengah hari, yakni membiarkan sang anak untuk berbuka puasa pada tengah hari atau jam 12 siang, setelah itu lanjutkan kembali puasa hingga maghrib. Dengan begitu kita telah mengajarkan sang anak untuk beradaptasi dalam masa orientasi pertama puasanya. Ala bisa karena biasa, lama kelamaan sang anak pun akan sanggup menjalankan puasa dari adzan subuh sampai adzan maghrib.

4. Berikan Hadiah
Apresiasikanlah setiap apa yang telah dicapainya, agar tumbuh dalam dirinya sikap menghargai. Untuk memberikan motivasi kepada sang anak, para orang tua sah-sah saja memberikan hadiah apabila sang anak dapat menjalani puasa sesuai dengan kesepakatan. Ini adalah cara cerdas mengajarkan anak berpuasa, sedini mungkin pendidikan berpuasa harus diterapkan. Dan memberikan hadiah kepada sang anak adalah bentuk apresiasi atas prestasi yang telah dicapai.

5. Sahur yang Bergizi
Anda harus memastikan anak, makan yang cukup saat sahur. Menu makanan sahur dibuat sesuai dengan kesukaan anak, tentunya dengan mengutamakan kandungan gizi, karbohidrat dan nutrisi yang cukup. Ini untuk merangsang anak agar mau makan sahur. Istri anda juga bisa menyiapkan menu favorit anak untuk sahur atau bebuka puasa. Sebelumnya, anda bisa bertanya pada anak ingin sahur dan berbuka dengan makanan apa. Dengan begitu, si anak akan lebih termotivasi lagi untuk berpuasa.

6. Jauhkan Godaan
Jauhkan makanan-makanan yang bisa menggodanya, seperti cokelat atau es krim. Sembunyikan dulu makanan tersebut darinya. Usahakan juga agar anak tetap 'sibuk' selama puasa agar dia tidak terlalu ingat akan rasa lapar dan hausnya. Misalnya saja Anda bisa mengajak anak untuk membaca buku bersama, menggambar, bermain, dan aneka kegiatan yang bermanfaat bagi anak-anak. Utamanya kegiatan-kegiatan yang ada hubungannya dengan peningkatan pengetahuan dan pengamalan keislaman anak-anak.

7. Bersikap Sabar Dihadapannya
Semua orang mampu berpuasa untuk menahan lapar. Tapi tidak semua orang mampu menahan kesabaran. Tanpa kesabaran yang kuat, keistiqomahan tidak akan pernah ada dalam hal apapun. Sangat penting untuk anda dan anggota keluarga lainnya tidak menunjukkan rasa lapar dan haus saat berpuasa di depan anak-anak. Tunjukkan pada anak kalau puasa itu harus dijalani dengan kesabaran dan tak boleh mengeluh.

8. Jangan Memarahinya
Jika anak tidak kuat berpuasa atau berbohong, maka sebaiknya jangan langsung dimarahi. Jika anda mau mencermati dengan lebih bijaksana, sebenarnya anda tidak pantas marah untuk hal-hal tersebut. Dan meskipun anda mengatakan hal yang benar, jika anda mengatakannya sambil marah, apa gunanya? Anak berbohong biasanya dikarenakan dirinya tak mau mengecewakan orangtuanya. Alangkah baiknya anda menasihatinya secara baik-baik saja.

9. Berikan Contoh Yang Baik
Berikanlah anak contoh yang baik saat berpuasa. Ajaklah anak-anak untuk ikut ke masjid menunaikan shalat lima waktu dan tarawih. Sesekali tinggallah di masjid (i'tikaf) untuk membaca al-Quran, mendengarkan pengajian, membaca buku, atau sekadar duduk-duduk beristirahat sambil bercengkerama dengan anak. Janganlah saat berpuasa anda menunujukkan sikap yang buruk, contoh marah-marah dan hal semacam itu. Maka anak akan melihat hikmah puasa lebih dari menahan lapar.

sumber: kaskus.co.id

Batasan Peran Negara Dalam Menegakkan Syariat Islam

Assalamualaikum wr.wb.

Semoga ustadz sekeluarga beserta kru Rumah Fiqih Indonesia selalu mendapatkan berkah dari Allah subhanahu wata'ala.

Saya mau bertanya, dalam negara Islam atau pemimpin Islam, peran apa saja yang diambil dinegara atau pemimpin yang sifatnya wajib dalam menegakkan syariat Islam? Apa batas-batasan negara "ikut serta" mengatur warga negaranya? Apakah dalam bidang muamalah saja, atau sampai ke keshalehan pribadi warga negaranya?

Saya mengambil contoh, misal di Aceh. Apakah tepat apabila negara menghukum orang yang tidak pakai jilbab (khimar)? Menghukum yang tidak melaksanakan shalat Jumat karena malas? Menghukum orang yang kedapatan khalwat? Atau ada di salah satu Pemda yang menghukum PNS nya yang tidak ikut shalat Subuh Jamaah di Mesjid sesuai ketentuan?

Pertanyaan saya tidak bermaksud tendensi apa-apa. Sama sekali tidak, hanya ingin mengetahui secara ilmu nya saja. Dan tentu sangat  saya senang, bila syariah bisa menyebarar lewat negara/pemimpin Islam.

Atas jawaban ustadz, saya ucapkan terima kasih.


Wassalam

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Seharusnya pertanyaan ini menjadi sebuah diskusi yang panjang dan berbelit, sebab memang apa yang Anda tanyakan ini merupakan titik pangkal perbedaan pandangan poitik umat Islam selama ini.

Tetapi saya ingin sedikit menyederhanakan jawabannya dengan membuatkan coretan peta masalahnya. Kalau kita petakan, maka setidaknya ada beberapa kutub besar umat Islam memandang masalah ini.

1. Kelompok Pertama

Kelompok pertama berpandangan bahwa agama tidak bisa dipisahkan dari negara. Demikian juga negara tidak bisa lepas dari negara. Sehingga dalam pandangan mereka, jabatan-jabatan dalam negara harus direbut dan dikuasai, agar nanti pemimpinnya bisa menjalankan syariat Islam.

Dan tentunya menurut pandangan ini, sebagai negara yang resmi menjalankan agama, maka semua peraturan agama wajib diterapkan dalam bernegara. Secara otomatis menjadi negara secara langsung bertanggung-jawaban untuk memastikan penduduknya menjalankan agama.

Maka negara berhak menghukum orang yang tidak shalat, atau melanggar puasa Ramadhan, temasuk merampas harta orang yang tidak mau bayar zakat dan seterusnya. Bahkan ada orang terlalu ganteng pun bisa dilarang masuk ke negeri itu.

2. Kelompok Kedua

Kelompok kedua adalah antitesis dari pandangan pertama, yaitu pandangan sekulerisme ala barat yang 100% memisahkan agama dan negara. Bahkan negara cenderung memusuhi agama, sampai ke level syiar khas keagamaan pun dimusuhi.

Negara-negara Barat di Eropa dan Amerika umumnya menganut pemisahan sistem ini. Dan semua ajaran yang kita terima dari Barat lewat para sarjana kita yang belajar kesana, warna seragam, yaitu urusan agama tidak boleh mencampuri urusan negara, sebagaimana negara juga tidak boleh mencampuri urusan agama.

Maka jangan kaget kalau di negeri itu seringkali hak-hak warga dalam menjalankan agama seringkali terabaikan. Contoh yang sederhana, di semua negeri itu Idul Fitri bukan hari libur dan warga yang beragama Islam tetapi wajib bekerja seperti biasa.

Bahkan untuk shalat pun seringkali sulit bisa dijalankan, lantaran kepentingan agama sama sekali tidak boleh mengganggu aktifitas normal. Shalat di sembarang tempat pun merupakan hal yang terlarang.

Kalau boleh kita sebut, negara yang modelnya seperti ini adalah Turki. Meski mayoritas berpenduduk muslim, tetapi disana Islam benar-benar dijauhkan dari negara. Berjilbab itu termasuk pelanggaran kriminal kalau dikenakan di gedung pemerintahan seperti sekolah dan kampus negeri, serta kantor-kantor pemerintahan. Ibaratnya, wanita pakai jilbab ke kelurahan bisa masuk penjara karena dianggap melanggar hukum.

3. Kelompok Ketiga

Sementara kelompok ketiga adalah gabungan dari pemikiran kelompok pertama dan kedua. Di satu sisi, pemikirannya adalah memisahkan antara negara dan agama, tetapi di sisi lain, pemisahannya bukan sekulersime total model Barat yang 100% memisahkan agama dan negara. Agama masih diakui negara dan diberikan hak-haknya dalam batas tertentu. Tetapi ada masalah negara yang tidak boleh dicampuri oleh agama.

Maka dalam pandangan kelompok ini, kepala negara tidak secara otomatis menjadi kepala agama. Walaupun kepala agama tetap berada dalam struktur pemerintahan.

Model negara yang seperti ini cukup banyak, salah satunya yang bisa kita sebut adalah Indonesia.

Sebenarnya masing-masing tipe pemahaman di atas masih bisa dibreakdown lagi, tetapi kita cukupkan dulu saja hingga tiga tipe besar ini.

Analisa dan Perbandingan

Sebenarnya yang paling ideal tentu yang pertama, yaitu tidak memisahkan antara agama dan negara, sebagaimana yang dahulu dijalankan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan para shahabat khulafaurrasyidin. Saya kira kita semua pasti sepakat untuk mengatakan bahwa tipologi negara ideal adalah Madinah di masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan empat khalifahnya.

Namun jangan lupa untuk mencatat bahwa meski negara mengurusi agama, tetapi kualitas pemegang kekuasaan itu sendiri sangat luar biasa. Mereka adalah orang yang ahli agama sekaligus ahli negara.

Sebut saja Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sendiri. Jabatan beliau shallallahu 'alaihi wasallam adalah kepala negara, tetapi standar moral beliau adalah manusia terbaik yang pernah ada, orang paling jujur (al-amin), berakhlaq paling luhur, sekaligus sumber ilmu agama.

Secara kualitas keagamaan, beliau shallallahu 'alaihi wasallam adalah orang yang paling tinggi nilainya. Dan secara kapasitas untuk menjadi pemimpin bangsa, seluruh kelompok masyarakat pun mengamini kemampuannya.

Orang-orang yang bekerja di sekeliling beliau shallallahu 'alaihi wasallam sendiri juga bukan orang sembarang. Mereka adalah para kader terbaik yang beliau shallallahu 'alaihi wasallam bina sendiri dengan kedua tangan beliau. Hasil 'cetakan' itu benar-benar 100% sempurna.

Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam wafat, posisi istimewa kepala negara sekaligus agama ini dengan mudah bisa digantikan dengan kader terbaiknya, yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Al-Khattab, Utsman bin Al-Affan dan Ali bin Abi Thalib ridhwanullahi 'alaihim.

Maka ketika negara mengatur agama di masa itu, hasilnya pasti sempurna. Tidak ada kezaliman negara yang mengatas-namakan agama. Tidak ada politisasi agama. Tidak ada ulama penjilat penguasa, sebab penguasa itu sendirilah yang jadi ulama. Di masa itu ciri yang bisa dengan mudah kita temukan adalah imam masjid adalah imam negara dan imam negara otomatis jadi imam masjid.

Oleh karena itu meski tidak pakai Pemilu atau Pilkada, tetapi kepemimpinan beliau sangat sangat legitimate dan dijamin seluruh penduduk Madinah dan wilayah kekuasaannya mendukung 100% kepemimpinannya. Belum pernah kita dengar ada kelompok oposisi apalagi yang sampai mau meng-impeach beliau shallallahu 'alaihi wasallam.

Yang terjadi tiap hari ada saja orang Yahudi, Nasrani, Majusi atau penyembah berhala yang dengan suka rela masuk Islam, tanpa harus membagikan sembako atau mie instan. Sebab mereka masuk Islam bukan karena rayuan, melainkan telah membuktikan sendiri, ketika negara dipimpin oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan para khalifahnya, maka antara teori di mulut dengan praktek di lapangan tidak ada bedanya.

Pemimpin Yang Tidak Becus Beragama Dan Tidak Ideal Mengurus Negara

Sayangnya, menyatukan negara dan agama itu tidak selalu bisa mendapatkan hasil yang ideal, manakala kualitas pemimpinnya bermasalah. Baik bermasalah dalam menjalankan prinsip agama ataupun dalam tugas kenegaraan. Bahkan yang lebih sering terjadi, si pemimpin tidak becus dalam beragama sekaligus tidak ideal mengurus negara, bahkan tidak paham bagaimana caranya bernegara.

Di masa kini, ketika negara dipimpin kalangan agamawan, maka apa yang mereka sebutkan di bibir itu jauh berbeda dengan apa yang menjadi kenyataan. Akibatnya, orang tidak percaya mereka jadi pemimpin agama dan juga negara.

Tetapi dia tetap ngotot ingin jadi pemimpin agama sekaligus pemimpin negara juga. Maka yang terjadi justru kehancuran dua-duanya.

Berbagai negara yang mau ikut mengatur agama saat ini adalah contoh buruknya. Alih-alih bisa meniru apa yang dahulu secara ideal dijalankan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan para khulafaurrasyidin, justru mereka malah jadi pengekor penguasa Barat (Eropa) di zaman kegelapan (the Dark Ages), yaitu ketika negara ikut mengatur agama. Ternyata bentuk realnya tidak lain adalah raja dan penguasa zalim yang berlaku curang, korup, dan menindas rakyatnya dengan mengatas-namakan agama. Agama sekedar dijadikan tameng dan alibi, tidak lebih.

Kalau di Barat sampai muncul gerakan sekulerisme, sebenarnya adalah reaksi logis dari dirusaknya agama oleh para penguasa. Masalah agama dibawa-bawa dalam urusan politik kenegaraan, lalu terjadi pembusukan agama itu sendiri. Maka ide sekulerisme di barat itu sebenarnya untuk menyelamatkan agama dari pembusukan politik. Prinsipnya, bebaskan agama biar berjalan sendiri, negara jangan ikut campur melakukan politisasi agama.

Maka disana kita kenal ungkapan masyhur : Berikan kepada raja apa yang menjadi hak raja dan berikan pada agama apa yang menjadi hak agama.

Apakah Mungkin Mewujudkan Kembali Seperti di Masa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam?

Yang jadi pertanyaan penting saat ini ketika kita diskusi tentang apakah sebaiknya agama ini diatur oleh negara atau tidak, jawabannya tergantung ketersediaan sosok pemimpinnya dulu.

Kalau pemimpinnya mumpuni, mengapa tidak? Tetapi kalau pemimpinnya tidak pantas jadi pemimpin agama, juga tidak pantas jadi pemimpin negara, terus apa masih mau ngotot menyatukan agama dan negara?

Oleh karena itu ketika kita bicara ideal, seharusnya negara disatukan dengan agama dan agama tidak bisa dipisah dengan negara. Tetapi giliran kita bicara tataran teknis pelaksanaan di alam nyata, paling tidak kita harus menjawab dulu tiga pertanyaan mendasar :

Pertama : Mampukah kita melahirkan sosok pemimpin agama yang yang paling tinggi ilmu agamanya dan mampu menjalankan agamanya dengan benar berkualitas nomor satu?

Kedua : Mampukah kita mendidik dan melahirkan sumber daya manusia yang menjadi orang terbaik dan berkualitas nomor satu dalam urusan kenegaraan?

Ketiga : Mampukah kita melahirkan dua sifat ini biar bisa terdapat pada satu sosok manusia, sehingga kita angkat menjadi ulama yang berkualits khalifah?

Jujur saja nampaknya memang masih terlalu sulit. Jangankan untuk menjawab masalah ketiga, justru untuk saat ini sekedar menjawab pertanyaan pertama saja sudah nyaris mustahil, yaitu bagaimana melahirkan para ulama yang ahli di bidang agama secara ideal.

Dan bangsa ini juga masih kesulitan bagaimana menjawab masalah kedua, yaitu melahirkan pemimpin negara yang berkualitas.

Apalagi sampai ke level menjawab pertanyaan ketiga, yaitu melahirkan pemimpin agama yang ideal sekaligus dia merupakan sosok pemimpin negara yang berkulias. Tentu akan jadi semakin jauh lagi.

Sehingga ide untuk menyatukan negara dengan agama rasanya masih terlalu jauh ada di alam mimpi, masih jauh di luar batas jangkauan kita. Kalaulah ada yang mengangkat topik ini, pastilah dia sedang bicara wacana jangka panjang.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

sumber: rumahfiqih.com

Membuat Sendiri Rak Gantung dari Limbah Botol Plastik

Botol bekas shampoo, sabun cair, tissue basah, handbody, atau apapun, mulai sekarang jangan lagi dibuang. Mari kita kumpulkan dan ciptakan kerajinan tangan seperti yang satu ini. Kita bisa menyimpan banyak barang dalam botol-botol bekas ini. Seperti, benang-benang, alat-alat tulis, mur-baut, paku, dan masih banyak lagi. Sungguh serba guna bukan?


















sumber: loexie.wordpress.com

Homeschooling's Frequently Ask Questions (Pertanyaan-pertanyaan yang Sering Diajukan Orangtua tentang Homeschooling)

Oleh: AYAH EDY

Kami melihat banyak pertanyaan yang sama, yang berulang-ulang ditanyakan tentang homeschooling. Nah izinkan saya menjelaskan berdasarkan keterbatasan pengalaman kami:

1. Homeschooling itu kan mahal dan hanya untuk orang-orang kaya?
Homeschooling itu seperti kita makan, kita bisa masak yang enak dengan biaya yang sangat murah tapi juga bisa dengan biaya yang disesuaikan dengan kantong kita masing-masing. Kuncinya adalah bukan pada bahan apa yang diolah melainkan pada kemampuan mengolah bahan-bahan tersebut. Sepeti kebanyakan ibu kita dulu di kampung, meskipun bahannya diperoleh hanya dari kebun sekitar yang murah-murah saja, tapi rasanya wow luar biasa!! Itulah homeschooling. Jadi kuncinya belajarlah mengolah apa yang ada di sekitar kita sebagai bahan pembelajaran bagi anak kita. Itulah yang dulu dilakukan oleh ibunda Nancy Alliot untuk anaknya Thomas Edison.

2. Homeschooling itukan untuk anak bermasalah?
Sejarah homeschooling di Inggris dan Eropa dulu bukan karena anak-anaknya bermasalah tapi karena sistem sekolahnya yang lebih banyak membuat anak jadi bermasalah. Jadi dulu pertama kali ada homeschooling di Inggris dan Eropa itu adalah untuk menyelamatkan anak masing-masing dari sistem pendidikan yang di anggap bermasalah kala itu oleh para orangtua yang peduli anak dan pendidikan. Di Indonesia pun awalnya seperti itu. Itulah mengapa orang yang pertama-tama memulai HS secara terbuka adalah Kak Seto, dan terus di ikuti oleh para intelektual pendidikan lainnya seperti bu Ratna Megawangi istri Menag BUMN, Bunda Elly Risman dan bunda-bunda lainya yang peduli anak.

3. Siapa yang mengajar?
Karena namanya homeschooling tentu saja yang utama sebagai pengajar adalah kedua orangtuanya. Jika orang tuanya bekerja, bisa jadi salah satu orang tuanya. Bila orang tuanya dua-duanya bekerja, maka di inisiatifkan oleh Kak Seto untuk bisa datang ke komunitas homeschooling dengan tempat yang ditentukan dan belajar bersama pengajar yang ada disana. Tentu saja jika kita sendiri tidak menjadi pengajarnya maka ada biaya tambahan, wajar bukan?

4. Tapi sayakan orang bodoh, mana mungkin bisa mendidik anak?
Orang tua Thomas Edison juga bukan orang pintar dan ahli pendidikan. Zaman itu juga belum ada internet, tapi mampu melahirkan seorang ilmuan dunia. Padahal menurut cerita, orang tuanya single parent pula. Apa yang dilakukan oleh ibunya adalah meminta anaknya bertanya tentang apa saja yang ingin diketahuinya dan ibunya berusaha mengajak Thomas Edison mencari buku-buku yang bisa menjelaskannya, orang-orang yang bisa mengajarinya, dst. Dan akhirnya Thomas pun belajar sendiri tentang apa yang ingin di pelajarinya. Hingga akhirnya suatu ketika tidak ada lagi orang yang mampu menjawab pertanyaan Thomas tentang dunia ilmu pengetahuan yang sedang digelutinya. Lalu apa kata ibunya: Thomas jika tak satupun orang bisa menjawab pertanyaanmu, itu artinya Tuhan meminta kamulah yang menemukan jawabannya bagi orang lain. Karena kalimat itulah, akhirnya Thomas Edison menjadi Ilmuan dengan 1000 temuan lebih yang dipatenkan atas namanya. Ingat kata kuncinya adalah belajar dimana saja, melalui apa saja dan pada siapa saja. Anak itu sudah memiliki potensi pintar sejak lahir sepanjang dia masih punya rasa ingin tahu dan sering bertanya. Maka kita harus siap memfasilitasi mereka dengan media belajar apa saja, siapa saja dan dimana saja yang kita bisa dapatkan.

5. Dimana letak HOME SCHOOLING ayah Edy ?
Homeschooling itu adalah belajar di rumah, di lingkungan rumah, di alam dan dimana saja. Jadi jika ditanya dimana letaknya, ya yang pertama di rumah Ayah Edy, kedua di lingkungan rumah Ayah Edy, ketiga dimana saja di alam semesta ini. Ketika Ayah Edy pergi bersama anak-anaknya maka di situlah kelas dan tempat belajarnya dengan Ayah Edy sebagai tutor/mentor pendamping anak-anaknya belajar tentang kehidupan dan ilmu pengetahuan nyata.

6. Di tempat kami tinggal tidak ada home schooling?
Pasti ada, karena Homeschooling itu terletak dirumah yang kita tinggali tersebut :-) .Silahkan cari via Google tentang info homeschooling terdekat dengan tempat/lokasi kita tinggal atau segera bergabung di FB Rumah Inspirasi untuk mendapatkan info lebih jelas lagi tentang Homeschooling di Indonesia. Jadi ingat bahwa HOMESCHOOLING BUKANLAH SEBUAH GEDUNG YANG DIBERI TULISAN BESAR-BESAR "HOMESCHOOLING" (seperti sekolah). Homeschooling itu adanya di rumah kita sendiri.

7. Kurikulumnya bagaimana?
Ada jenis homeschooling yang mengadopsi kurikulum sekolah hanya dipelajari di rumah. Tapi kurikulum homeschooling kami cuma 2 macam. Yang pertama adalah membangun prilaku moral anak yang baik dengan menjadikan orang tua sebagai contoh langsung yang ditiru oleh anak. Dan yang kedua adalah menemukan minat dan bakat anak kemudian mencarikan kursus dan sekolah yang bisa mengembangkan minat dan bakat tersebut. Sisanya bekerja sama dengan lembaga bimbingan belajar untuk mempersiapkan anak ikut ujian penyetaraan agar bisa mendapat ijazah untuk melanjutkan ke perguruan tinggi.

8. Ijazahnya bagaimana? Apa bisa dapat ijazah?
Ijazah resmi dari Departemen Pendidikan sama seperti izajah anak bersekolah formal, dan bisa digunakan untuk melanjutkan perguruan tinggi, dengan cara mengikuti ujian penyetaraan pada institusi yang ditunjuk (lebih lengkap silahkan bergabung di FB Rumah Inspirasi)

9. Pergaulannya bagaimana? Nanti bisa-bisa jadi orang yang tidak pandai bergaul?

Kemampuan bergaul anak itu bukan ditentukan oleh apakah ia Homeschooling atau sekolah formal, melainkan dari bawaan lahir anak. Ada anak yang bawaan lahirnya memang pandai bergaul dan ada yang lebih suka diam menyendiri di rumah atau di kamar. Cobalah perhatikan pasangan kita atau salah satu keluarga kita, yang kebetulan kurang pandai/kurang suka bergaul. Apakah ia dulu sekolahnya Homeschooling? Anak yang bawaan lahirnya pandai bergaul memang oleh Tuhan dipersiapkan untuk profesi yang berhubungan dengan manusia dan sebaliknya anak yang tidak pandai bergaul biasanya memiliki kelebihan di bidang sains atau seni dan disiapkan oleh Tuhan untuk berprofesi di dalam ruangan tertentu untuk menghasilkan karya seni dan temuan-temuan sains.

10. Bagaimana kita ingin mendaftar Homeschooling dan umur berapa bisa dimulainya? 
(selengkapnya bisa ibu baca pada buku Apa itu home schooling, yang bisa di beli via fb. Rumah Inspirasi). Mulai dari balita hingga SMA, bahkan sekarang di Eropa sudah ada Homeschooling University.

11. Adakah anak yang home schooling yang hidupnya berhasil?
Yang paling utama adalah Nabi Besar Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam yang homeschooling melalui kakeknya kemudian dilanjutkan oleh pamannya sebagai tutor pendamping. Hanya saja zaman itu belum dikenal istilah homeschooling. Yang lainnya, Leonardo Da Vinci jenius di segala bidang, Thomas Edison, jenius di bidak Elektrika Mekanika, KH Hasyim Ashari, KH Wachid Hasyim, Buya Hamka (tertulis di buku Homeschooling Kak Seto). Dan ada salah satu professor termuda di sekolah paling bergensi MIT di AS, Erik Demaine, juga Homeschooling.

12. Jika saya tertarik kemana saya harus belajar?
Nah ini saya suka, orang tua yang siap untuk menjadi pembelajar. Sekarang sangat mudah sekali, silahkan cari komunitas2 home schooling di seluruh dunia via google, atau jika ingin yang gampang silahkan bergabung di FB Rumah Inspirasi.

13. Apakah Universitas di Luar Negeri mengenal juga yang namanya HOMESCHOOLING?
Pertanyaan yang bagus sekali, bahkan jika ibu/bapak mau anak kita bisa bergabung secara on-line dengan Homeschooling yang di selenggarakan oleh Harvard University, Sekolah jarak jauh, overseas learning by home schooling. Itu info yang saya dapat dari klien-klien anak bimbingan saya yang ingin lebih mudah untuk bisa masuk ke Universitas Harvard di AS. Ada satu lagi anak bimbingan kami yang ingin bersekolah Psikology Forensik di Denver, juga mengambil Homeschooling di Primagama (Homeschooling plus Bimbel).

14. Kalo Universitas lokal bagaimana?
Salah satu putera dari ibu Herawati, Karima Edukasi, adalah anak homeschooling yang di terima di Universitas Padjajaran, dan sekarang kuliah disana. Dan saya yakin masih banyak anak-anak lainnya.

15. Apakah ada juga yang dapat beasiswa International?
Oh tentu saja ada karena HS itu di akui secara Internasional. Jadi jika anak kita bisa lulus ujian saringan penerima beasiswa dari universitas lokal dan International akan bisa mendapatkan beasiswa. Salah satu contoh yang tercatat tergabung di fb kita adalah anaknya Pak Suprajaka yang sempat mendapat beasiswa di salah satu perguruan tinggi di Australia.

16. Apa nanti gak kesepian karena Homescholing sering dirumah?
Jangan bayangkan bahwa anak yang Homeschooling itu setiap harinya di rumah, justru mereka sering pergi-pergi berkunjung ke tempat-tempat pembelajaran sesuai dengan bidang minat ketertarikan masing-masiang, seperti ke museum, pusat-pusat seni, pusat-pusat teknologi, pameran-pameran dsb. Jadi HOMESCHOOLING ITU TIDAK SAMA DENGAN HOME ALONE.

17. Kenapa kok kebanyakan Artist?
Mungkin karena artist itu dikenal masyarakat jadi langsung mendapat sorotan media. Tapi jika disensus, jumlah artis justru kalah jauh dengan para orang tua bukan artis yang menghomeschoolingkan anaknya. Bahkan Salatiga pernah menjadi pusat pertemuan komunitas Homeschooling seluruh Indonesia.

18. Katanya yang Homeschooling itu untuk anal-anak yang bermasalah prilakunya di sekolah?
Ada satu klien dari Bandung sebut saja Andi, prilakunya sangat bermasalah di sekolahnya, sudah minuman keras, merokok dsb. Kemudian konsultasi pada kami dan kami membantu anaknya untuk keluar dari stress sekolah, dengan MEMETAKAN POTENSI UNGGULNYA, dan Alhamdullilah ketemu. Lalu ibunya berhenti bekerja dan membantu anaknya untuk fokus pada potensi unggulnya dan memperbaiki prilaku anaknya di rumah. Dua tahun kemudian datang lagi konsultasi kedua bersama kami dan orangtuanya menangis karena anaknya kini sudah berubah total prilakunya, menjadi lebih baik, meninggalkan semua kebiasaan lamanya saat bersekolah dulu.

19. Kenapa Ayah Edi menghomeschoolingkan anaknya? Padahal katanya ayah juga memiliki sekolah dan bahkan di beberapa tempat?
Sekolah yang baik akan sama baiknya dengan Homeschooling. Bahkan kalau boleh saya mengatakan bahwa Homeschooling itu sebenarnya terjadi karena orangtua tidak lagi percaya pada sistem pendidikan yang ada (sebagaimana yang terjadi di Inggris dan negara Eropa pada tahun 1990an). Jadi jika di tempat kita tinggal belum ada sekolahnya baik yang ramah anak dan mengedepankan akhlak etika perilaku moral, maka Homeschooling bisa dijadikan jalan keluar.
Nah, sekolah yang baik mungkin sering kali tidak terjangkau oleh kita karena jaraknya yang terlalu jauh dari tempat kita tinggal atau biayanya yang tidak pas dengan penghasilan kita. Jadi saya ingin memberikan contoh bahwa kita boleh memilih MENYEKOLAHKAN ANAK DI TEMPAT YANG BAIK SEPERTI SEKOLAH PERCONTOHAN KAMI atau jika tidak bisa, ya jangan mengeluh terus, Homeschoolingkan saja seperti yang kami contohkan langsung dengan anak-anak kami.

20. Apa pandangan agama tentang Homeschooling?
Jika ingin jawaban singkat; lihatlah para Nabi, semuanya dididik langsung oleh orang tuanya, atau kakeknya atau pamannya. Dan hasilnya Para Nabi melahirkan nabi-nabi berikutnya. Jika ingin jawaban lebih panjang begini, Ada perintah Tuhan pada setiap orang tua, “Selamatkanlah diri dan keluargamu dari api neraka”.Jadi sesungguhnya yang diberi amamanah mendidik itu adalah setiap kepala keluarga dan bukan lembaga lainnya. Anak itu amanah Tuhan pada setiap orang tua jadi yang akan dimintai pertanggung jawaban adalah setiap orang tua dan bukan guru atau sekolahnya.

Tujuan utama didirikan sekolah pada awalnya adalah untuk MENGAWAL orang tua yang mungkin kurang mampu mendidik anak untuk bisa bersama-sama dengan para guru mendidik anak untuk bisa menghasilkan generasi yang baik, berakhlak, bermoral dan cerdas. Sekolah semestinya adalah Agent of Change yang memaksa orang tua yang kurang baik mendidik anak untuk menjadi baik; kalau tidak, pada siapa lagi anak-anak yang memiliki orang tua tidak baik bisa meminta pertolongan. Idealnya adalah sekolah dan rumah bekerjasama, tapi zaman sekarang kita dihadapkan pada masalah simalakama, terkadang guru sekolahnya yang tidak baik, tapi juga sering kali pola asuh orang tuanya yang tidak baik.

Oleh karena itu kami menggagas dan mendirikan sekolah yang mewajibkan orangtua bekerjasama dengan guru untuk menyelesaikan masalah prilaku buruk anak sampai tuntas selama 3-6 bulan sebelum memulai pembelajaran. Orang tua kami minta menandatangani kesepakantan kerjasama dan jika melanggar kami minta untuk mengundurkan diri dari sekolah kami. Tapi kami juga berkomitmen untuk menjadikan guru kami baik dan teladan terlebih dahulu sebelum memaksa orang tua belajar menjadi orang tua yang lebih baik bagi anaknya. Nah tapi kan tidak semua sekolah mau dan bisa melakukan ini, jadi akhirnya pilihan kedua kami menggagas Homeschooling dan memberikan contoh dengan menghomeschoolingkan anak-anak kami.

Semoga penjelasan ini bisa membantu kita semua dan memberikan jalan keluar bagi permasalah pendidikan yang ada di negeri kita. Selamat beraktifitas, dan salam syukur penuh berkah.

-ayah edy- www.ayahkita.com