Snouck Hurgronje Pelajari Islam untuk Hancurkan Islam

PROF. Dr. Snouck Hurgronje (1857-1936) selama ini merupakan tokoh yang sangat kontroversial. Disanjung dipuja sebagai sarjana Islam yang cemerlang, tetapi juga dicaci maki sebagai seorang ahli muslihat yang hendak menghancurkan Islam dari dalam dengan pura-pura masuk Islam. Betapapun diakui oleh semua pihak bahwa pemerintah Belanda baru mempunyai garis kebijaksanaan tentang Islam didaerah jajahannya yang bernama Hindia Belanda (Indonesia) setelah Snouck Hurgronje menjadi penasehat pemerintah dalam hal-hal yang berkaitan dengan Islam.

Christiaan Snouck Hurgronje , lahir pada 8 Februari 1857, di Oosterhout, dari pasangan pendeta J.J. Snouck Hurgronje dan Anna Maria de Visser. Christiaan adalah nama kakeknya sehingga namanya adalah gabungan nama kakeknya dan bapaknya. Ia mengawali pendidikan dasar (lagere school) di tempat kelahirannya, Oosterhout. Kemudian ia melanjutkan ke Hogere Burgerschool (HBS) di Breda. Setelah selesai di HBS, ia melanjutkan ke Universitas Leiden, dan menyelesaikan Sarjana Muda bidang teologi pada tahun 1878.

Setelah menyelesaikan Sarjana Muda dibidang teologi, Snouck Hurgronje mengalihkan studinya ke ilmu Sastera Samiyah dengan spesialisasi bahasa Arab dan Islam. Ia mengakhiri studinya dalam bidang itu pada tanggal 24 November 1880 dengan yudicium cum laude dan menjadi Doktor dalam bidang ilmu tersebut berdasarkan sebuah disertasi yang berjudul Het Mekkaansche feest.

Di sini, ada satu hal yang menarik untuk dicermati, yaitu pengalihan bidang studi Snouck Hurgronje dari ilmu teologi ke ilmu Sastera Samiyah. Peralihan ini menunjukkan adanya perkembangan pemikiran pada diri Snouck Hurgronje. Namun, perkembangan itu bukan disebabkan oleh perpecahannya dengan kekristenan, melainkan agaknya disebabkan oleh perkembangan teologi Kristen pada Universitas Leiden ketika itu. Perkembangan inilah yang menentukan gagasan-gagasannya tentang Islam dan politik kolonial Belanda di kemudian hari.

Misi politik Islam Snouck Hurgronje diawali pada tahun 1884, ketika ia pergi ke Mekkah untuk memperoleh pengetahuan praktis Bahasa Arab dan mempelajari kehidupan Islam di kota pusatnya. Di pusat kota Muslim ini, ia meneliti pengaruh Mekkah terhadap dunia Islam lainnya, terutama Hindia Belanda. Dalam salah satu suratnya kepada Th. Noldeke (1-8-1885), ia menyatakan tujuan utamanya pergi ke Mekkah adalah menelaah kehidupan Islam dengan mengamati cara berpikir, cara berbuat, dan perilaku kaum ulama dan bukan ulama di pusat kehidupan Muslimin.

Saat tinggal di Jedah, ia berkenalan dengan dua orang Indonesia yaitu Raden Abu Bakar Jayadiningrat dan Haji Hasan Musthafa. Dari keduanya Snouck belajar bahasa Melayu dan mulai bergaul dengan para haji jemaah Dari Indonesia untuk mendapatkan informasi yang ia butuhkan.

Pada saat itu pula, ia menyatakan ke-Islam-annya dan mengucapkan Syahadat di depan khalayak dengan memakai nama “Abdul Ghaffar.” Seorang Indonesia berkirim surat kepada Snouck yang isinya menyebutkan “Karena Anda telah menyatakan masuk Islam di hadapan orang banyak, dan ulama- ulama Mekah telah mengakui keIslaman Anda”. “Seluruh aktivitas Snouck selama di Saudi tercatat dalam dokumen-dokumen di Universitas Leiden, Belanda.

Ada cerita bahwa H Hasan Mustapa-lah yang mengislamkan Snouck Hurgronje. Tapi cerita yang lebih dapat diterima mestinya Aboebakar Djajadiningratlah–paman Pangeran Ahmad Djajadiningrat dan Prof Dr Hoesein Djajadiningrat–yang mengislamkannya atau yang mengatur pengislamannya.

Pada waktu itu, Aboebakar Djajadiningrat bekerja di Kantor Konsulat Belanda di Jeddah. Dialah yang banyak memberikan bahan-bahan tentang Mekkah sehingga Snouck Hurgronje berhasil menulis bukunya Mekka dalam bahasa Jerman dua jilid yang dipuji banyak orang–dan Snouck samasekali tidak menyebut Aboebakar Djajadiningrat sebagai sumbernya.

Mestinya Snouck lebih dahulu berkenalan dengan Aboebakar Djajadiningrat daripada dengan H Hasan Mustapa yang ditemuinya di Jeddah daripada H Hasan Mustapa yang mungkin baru ditemuinya ketika dia ke Mekkah–beberapa lama setelah tinggal di Jeddah.

Dr. P. Sj. Van Koningsveld dalam bukunya Snouck Hurgronje dan Islam (Girimukti Pasaka, Jakarta, 1989) menggambarkan kemungkinan Snouck masuk Islam oleh Qadi Jeddah dengan dua orang saksi setelah Snouck pindah tinggal bersama-sama dengan Aboebakar Djajadiningrat (1989: 95-107).

Snouck menetap di Mekah selama enam bulan dan disambut hangat oleh seorang ‘Ulama besar Mekah, yaitu Waliyul Hijaz. Ia lalu kembali ke negaranya pada tahun 1885. Selama di Saudi Snouck memperoleh data-data penting dan strategis bagi kepentingan pemerintah penjajah. Informasi itu ia dapatkan dengan mudah karena tokoh-tokoh Indonesia yang ada di sana sudah menganggapnya sebagai saudara seagama. Kesempatan ini digunakan oleh Snouck untuk memperkuat hubungan dengan tokoh-tokoh yang berasal dari Aceh yang menetap di negeri Hijaz saat itu.

Snouck kemudian menjabat sebagai penasihat pemerintah (Hindia Belanda) untuk urusan Islam dari 1889 hingga 1906. Karena dianggap mualaf dan dengan reputasinya sebagai sarjana teologi, Snouck ditemani oleh sahabat Sunda-nya dari Mekah, Haji Hasan Moestapha, dengan mudah bisa berkeliling dan meninjau pesantren-pesantren di Jawa. Di Aceh tahun 1891, Snouck berhasil memperoleh kepercayaan dari ulama Tengkoe Noerdin.

Di Jawa Barat, Snouck alias Abdul Ghaffar dengan perantaraan Haji Hasan Moestapha menikah dengan dua putri ulama terkenal. Jika dia tidak diakui sebagai seorang Muslim, mustahil diizinkan menikah dengan gadis Sunda. Dia memenuhi segala persyaratan dari Islam. “Dia telah disunat (besneden), melakukan salat, berpuasa di bulan Ramadan, dan menjauhi makanan serta minuman yang terlarang”

Snouck mempunyai dua istri orang Sunda. Yang pertama, bernama Sangkana, anak tunggal Penghulu Besar Ciamis. Raden Haji Muhammad Ta’ib, dan dari pernikahan ini lahir empat anak yaitu Ibrahim, Aminah, Salmah Emah, dan Oemar. Yang kedua setelah Sangkana meninggal adalah Siti Sadijah, putri penghulu Bandung Haji Muhammad Soe’eb yang dikenal dengan nama Kalipah Apo, Snouck berusia 41 tahun dan Sadijah 13 tahun tatkala pernikahan berlangsung tahun 1898. Dari pernikahan dengan Siti Sadiyah melahirkan seorang anak bernama Joesoef.

Van Koningsveld juga memberikan petunjuk-petunjuk yang memberikan kesan ketidaktulusan Snouck Hurgronje masuk Islam. Dia masuk Islam hanyalah untuk melancarkan tugasnya atau tujuannya yang hendak mengukuhkan kekuasaan Belanda di Indonesia, jadi bersifat politik–bukan ilmiah murni.

Tentu saja ketidaktulusan Snouck dalam memeluk agama Islam itu tidak diberitahukan dan tidak diketahui oleh kawan-kawannya orang Islam, termasuk H Hasan Mustapa. Dalam naskah yang ditulis H Hasan Mustapa berjudul Istilah terdapat bagian yang melukiskan hubungannya dengan guru-gurunya baik di Mekah maupun di Tanah Air, dan juga dengan beberapa orang pejabat Belanda yang dikenalnya, seperti K F Holle, Branders, van Ronkel, dan terutama tentang Snouck Hurgronje.

Dia mengatakan bahwa Snouck adalah “dulur kaula”, tur “sili bélaan salawasna keur deukeut keur jauh,” (”saudaraku” serta “selamanya saling jaga dan saling bela baik waktu berdekatan maupun waktu berjauhan”) (H Hasan Mustapa jeung karya-karyana, oleh Ajip Rosidi, Pustaka, Bandung, 1989: 56).

H Hasan Mustapa menjadi Penghulu Besar (Hoofdpenghoeloe) di Kotaraja (Banda Aceh) atas desakan Snouck Hurgronje kepada Gubernur Militer dan Sipil Acéh, Jenderal Deykerhoff. Menurut Snouck dalam suratnya kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda tanggal 8 Maret 1896, tidaklah mudah dia membujuk H Hasan Mustapa supaya mau menduduki jabatan di lingkungan pemerintahan. Dari H Hasan Mustapa lah Snouck mengetahui dan mengikuti perkembangan Aceh dengan seksama meskipun Snouck berada di Batavia melalui laporan-laporan yang dikirim oleh Hasan Mustapa.

Dalam meneliti Islam, menurut G.W.J. Drewes, ada tiga hal masalah penting yang menarik perhatian Snouck Hurgronje :
– Pertama, dengan cara bagaimana sistem Islam didirikan
– Kedua, apa arti Islam di dalam kehidupan sehari-hari dari pengikutnya yang beriman
– Ketiga, bagaimana cara memerintah orang Islam sehingga melapangkan jalan untuk menuju dunia modern dan bila mungkin mengajak orang-orang Islam bekerjasama guna membangun suatu peradaban universal.

Pemikiran Snouck Hurgronje Tentang Islam di Indonesia

Christiaan Snouck Hurgronje merupakan tokoh peletak dasar kebijakan “Islam Politiek” yang merupakan garis kebijakan “Inlandsch politiek” yang dijalankan pemerintah kolonial Belnda terhadap pribumi Hindia Belanda. Konsep strategi kebijakan yang diciptakan Snouck terasa lebih lunak dibanding dengan konsep strategi kebijakan para orientalis lainnya, namun dampaknya terhadap umat Islam terus berkepanjangan bahkan berkelanjutan sampai dengan saat ini.

Berdasarkan konsep Snouck, pemerintah kolonial Belanda dapat mengakhiri perlawanan rakyat Aceh dan meredam munculnya pergolakan-pergolakan di Hindia Belanda yang dimotori oleh umat Islam. Pemikiran Snouck -berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya- menjadi landasan dasar doktrin bahwa “musuh kolonialisme bukanlah Islam sebagai Agama, melainkan Islam sebagai Doktrin Politik”.

Konsep Snouck berlandaskan fakta masyarakat Islam tidak mempunyai organisasi yang “Hirarkis” dan “Universal”. Disamping itu karena tidak ada lapisan “Klerikal” atau kependetaan seperti pada masyarakat Katolik, maka para ulama Islam tidak berfungsi dan berperan pendeta dalam agama Katolik atau pastur dalam agama Kristen. Mereka tidak dapat membuat dogma dan kepatuhan umat Islam terhadap ulamanya dikendalikan oleh dogma yang ada pada Al-Qur’an dan Al-Hadits -dalam beberapa hal memerlukan interprestasi- sehingga kepatuhan umat Islam terhadap ulamanya tidak bersifat mutlak.

Tidak semua orang Islam harus diposisikan sebagai musuh, karena tidak semua orang Islam Indonesia merupakan orang fanatik dan memusuhi pemerintah “kafir” belanda. Bahkan para ulamanya pun jika selama kegiatan Ubudiyah mereka tidak diusik, maka para ulama itu tidak akan menggerakkan umatnya untuk memberontak terhadap pemerintah kolonial Belanda. Namun disisi lain, Snouck menemukan fakta bahwa agama Islam mempunyai potensi menguasai seluruh kehidupan umatnya, baik dalam segi sosial maupun politik.

Snouck memformulasikan dan mengkategorikan permasalahan Islam menjadi tiga bagian, yaitu ; bidang Agama Murni, bidang Sosial Kemasyarakatan, bidang Politik. Pembagian kategori pembidangan ini juga menjadi landasan dari doktrin konsep “Splitsingstheori”.

Pada hakikatnya, Islam tidak memisahkan ketiga bidang tersebut, oleh Snouck diusahakan agar umat Islam Indonesia berangsur-angsur memisahkan agama dari segi sosial kemasyarakatan dan politik. Melalui “Politik Asosiasi” diprogramkan agar lewat jalur pendidikan bercorak barat dan pemanfaatan kebudayaan Eropa diciptakan kaum pribumi yang lebih terasosiasi dengan negeri dan budaya Eropa. Dengan demikian hilanglah kekuatan cita-cita “Pan Islam” dan akan mempermudah penyebaran agama Kristen.

Dalam bidang politik haruslah ditumpas bentuk-bentuk agitasi politik Islam yang akan membawa rakyat kepada fanatisme dan Pan Islam, penumpasan itu jika perlukan dilakukan dengan kekerasan dan kekuatan senjata. Setelah diperoleh ketenangan, pemerintah kolonial harus menyediakan pendidikan, kesejahteraan dan perekonomian, agar kaum pribumi mempercayai maksud baik pemerintah kolonial dan akhirnya rela diperintah oleh “orang-orang kafir”.

Dalam bidang Agama Murni dan Ibadah, sepanjang tidak mengganggu kekuasaan, maka pemerintah kolonial memberikan kemerdekaan kepada umat Islam untuk melaksanakan ajaran agamanya. Pemerintah harus memperlihatkan sikap seolah-olah memperhatikan agama Islam dengan memperbaiki tempat peribadatan, serta memberikan kemudahan dalam melaksanakan ibadah haji.

Sedangkan dibidang Sosial Kemasyarakatan, pemerintah kolonial memanfaatkan adat kebiasaan yang berlaku dan membantu menggalakkan rakyat agar tetap berpegang pada adat tersebut yang telah dipilih agar sesuai dengan tujuan mendekatkan rakyat kepada budaya Eropa. Snouck menganjurkan membatasi meluasnya pengaruh ajaran Islam, terutama dalam hukum dan peraturan. Konsep untuk membendung dan mematikan pertumbuhan pengaruh hukum Islam adalah dengan “Theorie Resptie”. Snouck berupaya agar hukum Islam menyesuaikan dengan adat istiadat dan kenyataan politik yang menguasai kehidupan pemeluknya. Islam jangan sampai mengalahkan adat istiadat, hukum Islam akan dilegitimasi serta diakui eksistensi dan kekuatan hukumnya jika sudah diadopsi menjadi hukum adat.

Sejalan dengan itu, pemerintah kolonial hendaknya menerapkan konsep “Devide et Impera” dengan memanfaatkan kelompok Elite Priyayi dan Islam Abangan untuk meredam kekuatan Islam dan pengaruhnya dimasyarakat. Kelompok ini paling mudah diajak kerjasama karena ke- Islaman mereka cenderung tidak memperdulikan “kekafiran” pemerintahkolonial Belanda.

Kelompok ini dengan didukung oleh konsep “Politik Asosiasi” melalui program jalur pendidikan, harus dijauhkan dari sistem Islam dan ajaran Islam, serta harus ditarik kedalam orbit “Wearwenization”. Tujuan akhir dari program ini bukanlah Indonesia yang diperintah dengan corak adat istiadat, namun Indonesia yang diper-Barat-kan. Oleh karena itu orang-orang Belanda harus mengajari dan menjadikan kelompok ini sebagai mitra kebudayaan dan mitra kehidupan sosial.

Kaum pribumi yang telah mendapat pendidikan bercorak barat dan telah terasosiasikan dengan kebudayaan Eropa, harus diberi kedudukan sebagai pengelola urusan politik dan administrasi setempa. Mereka secara berangsur-angsur akan dijadikan kepanjangan tangan pemerintah kolonial dalam mengemban dan mengembangkan amanat politik asosiasi.

Secara tidak langsung, asisiasi ini juga bermanfaat bagi penyebaran agama Kristen, sebab penduduk pribumi yang telah berasosiasi akan lebih mudah menerima panggilan misi. Hal itu dikarenakan makna asosiasi sendiri adalah penyatuan antara kebudayaan Eropa dan kebudayaan pribumi Hindia Belanda. Asosiasi yang dipelopori oleh kaum Priyayi dan Abangan ini akan banyak menuntun rakyat untuk mengikuti pola dan kebudayaan asosiasi tersebut.

Pemerintah kolonial harus menjaga agar proses transformasi asosiasi kebudayaan ini seiring dengan evolusi sosial yang berkembang dimasyarakat. Harus dihindarkan, jangan sampai hegemoni pengaruh dimasyarakat beralih kepada kelompok yang menentang program peng-asosiasi-an budaya ini.

Secara berangsur-angsur pejabat Eropa dikurangi, digantikan oleh pribumi pangreh praja yang telah menjadi ahli waris hasil budaya asosiasi hasil didikan sistem barat. Akhirnya Indonesia akan diperintah oleh pribumi yang telah ber-asosiasi dengan kebudayaan Eropa.

Konsep-konsep Snouck tidak seluruhnya dapat dijalankan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda, sehingga tak seluruhnya dapat mencapai hasil yang maksimal. Namun setidaknya selama itu telah mampu meredam dan mengurangi aksi politik yang digerakkan oleh umat Islam. Pada akhirnya, umat Islam pula yang menjadi motor penggerak gerakan kemerdekaan Indonesia di tahun 1945.

Tanggal 12 Maret 1906 Snouck kembali ke negeri Belanda. Ia diangkat sebagai Guru Besar Bahasa dan Sastra Arab pada Universitas Leiden. Disamping itu ia juga mengajar para calon-calon Zending di Oestgeest. Snouck meninggal dunia pada tanggal 26 Juni 1936, diusianya yang ke 81 tahun.

Kebesaran Snouck selalu dikenang, dialah ilmuwan yang dijuluki `dewa” dalam bidang Arabistiek-Islamologi dan Orientalistik, salah satu pelopor penelitian tentang Islam, Lembaga-Lembaganya, dan Hukum-Hukumnya. Ia “berjasa” menunjukkan “kekurangan-kekurangan” dalam dunia Islam dan perkembangannya di Indonesia. Di Rapenburg didirikan monumen “Snouck Hurgronjehuis” untuk mengenang jasa-jasanya dan kebesarannya. Christiaan Snouck Hurgronje, tokoh penting peletak dasar kebijakan “Islam Politiek” merupakan “Pembaratan Islam Pribumi” kini diteruskan oleh para pewarisnya di Indonesia yang dikenal sebagai cendekiawan Islam Liberal Indonesia.

Sumber buku :
Strategi Belanda Melumpuhkan Islam Biografi C. Snouck Hurgronje, Lathiful Khuluq, Pustaka Pelajar, 2002.
Dr. Daud Rasyid, MA, Fenomena Sunnah di Indonesia, Potret Pergulatan Melawan Konspirasi Hal. 196-199 (Usamah Press, Jakarta Cet I Agustus 2003)
Sumber lain :
– indrayogi.blog.friendster.com
– indrayogi.multiply.com
– http://ajip-rosidi.com/esai-bahasa-indonesia/snouck-hurgronje-dan-h-hasan-mustapa
– http://www.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=10681

disalin dari: islampos.com

Pembahasan Hadits tentang Hijrah


إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لِامْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

"Sesungguhnya amal itu dengan niyat. Sesungguhnya bagi setiap orang tergantung pada yang ia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya pada Allah dan rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya untuk kepentingan dunia, atau yang hijrahnya karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya sesuai dengan apa yang harapkannya." [HR. Bukhari]


Pengertian Hijrah

Hijrah adalah perpindahan dari satu situasi atau kondisi yang satu ke kondisi atau situasi yang lain. Hijrah merupakan perbuatan yang dianjurkan oleh Allah subhanahu wata'ala, bahkan bisa wajib tatkala sangat diperlukan. Secara garis besarnya hijrah itu terdiri yang bersifat fisik yaitu perpindahan tempat, dan yang bersifat non fisik yaitu perpindahan situasi atau mengubah keadaan. Hijrah bisa bernilai ibadah, jika untuk Allah dan mengikuti Rasul-Nya, dan tidak bernilai ibadah bila dilakukan bukan untuk mencarai ridla Allah subhanahu wata'ala. Beliau menandaskan lagi dalam sabdanya:

ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
Barangsiapa yang hijrahnya untuk kepentingan duniawi, atau kepentingan wanita yang dinikahi, maka manfaat hijrahnya pun sesuai dengan apa yang dituju.

Hadits ini juga mengisyaratkan bahwa hijrah itu ada yang syar’i, ada pula yang tidak. Hijrah yang syar’i adalah perpindahan untuk kepentingan tegaknya al-Islam, demi meraih ridla Allah. Sedangkan hijrah yang tidak bernilai syar’i adalah yang bukan kepentingan jalan Allah, dan tidak bertujuan meraih ridla-Nya. Oleh karena itu, supaya segalanya bernilai ibadah, ikhlaskan tujuan untuk mencari ridla Allah dan melakukannya berdasar syari’ah Allah, serta mengikuti sunnah Rasul-Nya.

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ أُنْزِلَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ ابْنُ أَرْبَعِينَ فَمَكَثَ بِمَكَّةَ ثَلَاثَ عَشْرَةَ سَنَةً ثُمَّ أُمِرَ بِالْهِجْرَةِ فَهَاجَرَ إِلَى الْمَدِينَةِ فَمَكَثَ بِهَا عَشْرَ سِنِينَ ثُمَّ تُوُفِّيَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Ibnu Abbas[1], meriwayatkan bahwa Rasûl shallallahu 'alaihi wasallam menerima wahyu ketika berusia empat puluh tahun, kemudian tetap di Mekah selama tiga belas tahun, kemudian diperintah hijrah. Beliau hijrah ke Madinah dan berada di sana selama sepuluh tahun hingga wafat. [HR. Ahmad (164-241H), al-Bukhari (194-256H)] [2]

Da’wah Islam yang dilakukan Rasul shallallahu 'alaihi wasallam pada awalnya secara sembunyi-sembunyi, kemudian bertambah luas hingga jumlah kaum muslimin empat puluh orang, yang kemudian dibina secara khusus di Bait al-Arqam.[3] Kaum Quraisy berusaha menghalangi risalah dengan berbagai usaha, mulai dari berbagai tawaran, rayuan hingga kekerasan. Sejak tahun keempat kenabian, banyak kaum muslimin yang disiksa secara kejam, hingga mendorong Rasul untuk menghijrahkan shahabatnya ke Habsyah pada pertengahan tahun kelima. Rombongan pertama sebanyak sepuluh orang, antara lain Utsman bin Affan beserta istrinya, Ruqayah putri Rasul; Abdurrahman bin Auf, dan Zubair bin Awwam. Rombongan kedua dipimpin Ja’far sebanyak seratus orang. Pada bulan Dzul-hijah tahun keenam kenabian, Umar bin Khathab dan Hamzah masuk Islam, yang mengakibatkan semakin menambah kebencian musyrikin.

Pada tahun ketujuh dari kenabian, Bani Hasyim diboikot perekonomiannya hingga menyengsarakan. Walaupun kaum muslimin mendapat cobaan berat dari segala penjuru, terutama penindasan kaum musyrikin, baik dalam bidang ekonomi maupun politik, semua itu tidak menurunkan semangat Rasul shallallahu 'alaihi wasallam dalam berda’wah. Pada tahun itu juga, Abu Thalib sebagai pimpinan suku Bani Hasyim dan Siti Khadijah isteri Rasul yang mendukung da’wah baik materil maupun immateril, wafat.

Pada bulan syawal tahun kesepuluh dari kenabian (Mei-Juni 619 M), Rasul berangkat ke Tha’if. Namun ternyata orang Tha`if belum meraih hidayah, Rasul diperlakukan tidak layak oleh mereka bahkan mendapat lemparan batu dan kotoran hingga terluka. Menurut sebagian riwayat, setelah Rasul shallallahu 'alaihi wasallam kembali ke Mekkah maka tahun itu pula Isra dan Mi’raj terjadi, sekaligus turun perintah shalat lima waktu.

Da’wah selanjutnya dilakukan dengan mendatangi berbagai lapisan masyarakat seperti Bani Kilab, Bani Hanifah, Bani Amir, dan ternyata mendapat sambutan yang menggembirakan. Pada musim haji berikutnya, berdatanganlah masyarakat dari berbagai penjuru, yang dimanfaatkan Rasul shallallahu 'alaihi wasallam untuk menda’wahi berbagai kafilah dari luar penduduk Mekah. Di awal tahun kesebelas dari kenabian banyak orang Yatsrib  yang masuk Islam seperti: Suwaib bin Shamit, Iyas bin Mu’adz, Tufail bin Amr, dan Dlamad al-Azdi.

Pada musim haji tahun kesebelas dari kenabian (Juli 620 M), jamaah Yatsrib masuk Islam. Mereka adalah kaum muda Bani Najar seperti As’ad bin Zararah dan Auf bin Haris,  dari Bani  Zuraiq seperti Rafi’ bin Malik, dari bani Salmah seperti Qathbah bin Amir, dari Bani Haram bernama Uqbah, dan dari Bani Ubaid bernama Jabir bin Abdillah. Mereka bertekad akan menda’wahkan Islam di Yatsrib sebagai kampung halamannya.

Pada musim haji tahun keduabelas (Juli 621 M), bersama lima orang yang sudah masuk Islam tahun sebelumnya (di luar Jabir), tujuh penduduk Yatsrib bangsa Khazraj yaitu Mu’adz, Dzakwan, Ubadah, Yazid dan Abbas serta bangsa Aus yaitu Abul-Haitsam dan Uwaim berbai’at kepada Rasul di Aqabah untuk diangkat menjadi juru da’wah. Inilah yang dinamakan Bai’at al-Aqabah pertama. Rasul pun mengutus Mush’ab bin Umair untuk ikut ke Yatsrib sebagai utusan dan melihat situasi di sana.

Pada musim haji tahun berikutnya (Juni 622 M), sebanyak 73 orang Yatsrib menunaikan haji dan berbai’at pada Rasul sebagai juru da’wah Islam, yang dinamakan Baiat al-Aqabah kedua. Mereka juga mengundang Rasul untuk hijrah ke Yatsrib, dilatarbelakangi antara lain: (1) memperluas da’wah, (2) menyelamatkan muslimin yang tertindas di Mekah dan (3) menjalin persaudaraan antara Aus dan Khazraj yang telah lama bermusuhan.

Di sisi lain, semakin luasnya jangkauan da’wah Rasul dan bertambahnya jumah muslimin, berakibat kaum musyrikin semakin membenci Rasul. Mulai saat itu kaum muslimin diperintah Rasul untuk hijrah ke Yatsrib secara berangsur. Pada hari Kamis, 26 Shafar (12-september- 622 M) para pembesar Quraisy semacam parlemen, berkumpul di Dar al-Nadwa yang diikuti oleh Abu Jahl bin Hisyam, Jubair bin Muth’im, Tha’imah, Harits, Syaibah, Utbah, Abu Sufyan, al-Nazhr, Abu al-Bukhturi, Zam’ah, Hakim, Nabih, Munabbih, dan Umayah bin Khalaf. Mereka bersepakat untuk mengepung dan membunuh Rasul shallallahu 'alaihi wasallam. Rasul mengetahui ancaman kaum musyrikin tersebut dan siang harinya beliau mengunjungi rumah Abu Bakr untuk mengajak hijrah, dan kembali ke rumahnya menunggu waktu malam tiba.[4]

Pada malam 27 Shafar (13-9-622 M), Rasul shallallahu 'alaihi wasallam dan Abu Bakr meninggalkan rumah, setelah berpesan pada Ali bin Abi Thalib,[5] untuk menempati tempat tidur beliau, kemudian menuju Goa Tsur.[6] Pada malam itu pula pembesar Quraisy sebanyak sebelas orang mengepung rumah Rasul shallallahu 'alaihi wasallam untuk melaksanakan pesan Dar al-Nadwa, padahal di rumah tersebut hanya ada Ali bin Abi Thalib. Rasul dan Abu Bakr berada di Goa Tsur selama tiga malam, hingga malam Ahad tanggal 30 Shafar.

Pada hari Senin 1 Rabi al-Awal, Rasul melanjutkan perjalanan menuju Yatsrib.[7] Senin 8 Rabi’ul-Awal /23-September-622 M (perjalanan Tsur-Quba ditempuh dalam waktu satu pekan), Rasul dengan Abu Bakr tiba di Quba dan mendirikan Masjid di depan Rumah Kalstum bin al-Hadm.[8] Di Quba, Rasul menginap empat malam dan hari Jum’at melanjutkan perjalanan. Waktu zhuhur sampai di daerah Bani Salim bin ‘Awf, perintah shalat Jum’at turun dan melakukan shalat Jum’at dengan berjamaah bersama seratus muslimin.[9] Setelah shalat Jum’at Rasul melanjutkan perjalanan dan sampai di Yatsrib tanggal 12 rabi’ul Awal. Inilah hijrah terbesar yang dilakukan Rasul shallallahu 'alaihi wasallam bersama kaum muslimin. Kota Yatsrib kemudian diberi nama al-Madinah al-Munawarah, sebagai pusat bersinarnya syi’ar Islam ke seluruh penjuru dunia.

Hijrah menurut bahasa berarti pindah, baik secara fisik maupun non fisik. Al-Qurthubi (w.671H) menandaskan:

الهجْرة معْنَاهَا الإنْتِقَال مِنْ مَوْضِعٍ إلَى مَوْضِعٍ وَقَصْدُ تَرْكِ الأوَّل إِيْثَارًا لِلثَّانِي
Hijrah berarti pindah dari satu tempat ke tempat lain dan menyengaja meninggalkan satu posisi awal menuju posisi yang ke dua.[10]

Pengertian semacam ini bisa dipahami bahwa hijrah itu perpindahan posisi, baik secara fisik maupun non fisik. Perpindahan fisik adalah pindah dari tempat yang diduduki, sedangkan pindah non fisik adalah pindah pendirian, pergantian sikap, atau perubahan tingkah laku. Menurut mufasir, orang yang berhijrah adalah:

تَرَكُوا دِيَارَهُم خَوْفَ الفِتْنة وَالإضْطِهَاد فِي ذَات الله
Meninggalkan kampung halaman karena Allah demi menyelamatkan diri dari kekacauan dan penindasan.[11]

Mahmud Hijazi[12] menjelaskan bahwa yang berhijrah adalah:

فََارَقُوا الأهْلَ وَالأوْطَانَ لإعْلاَءِ كَلِمَةِ الله وَنَصْرِ دِيْنِهِ وَلَحَقُوا بِالنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم
Meninggalkan keluarga dan kampung halaman untuk menegakkan kalimah Allah, membela agama dan mengikuti Rasul shallallahu 'alaihi wasallam.[13]

Orang yang berhijrah karena didasari iman dan untuk jihad, maka akan meraih rahmat dan ampunan Allah subhanahu wata'ala. Firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَةَ اللَّهِ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Qs.2:218.

Selanjutnya arti hijrah tersirat dalam sabda Rasul shallallahu 'alaihi wasallam, sebagai berikut:

الُمهَاجِرُمَنْ هَاجَرَ  مَا نَهَى الله عَنْهُ
Orang hijrah adalah yang meninggalkan segala yang dilarang  Allah subhanahu wata'ala. [HR. Ahmad (164-241H), Ibn Hibban (w.354 H)] [14]

Menurut  riwayat al-Thabarani (260-360H), dalam khutbah Haji Wada, Rasul bersabda:

المُهَاجِرُ مَنْ  هَاجَرَ السَّيِّئَاتِ
Orang yang berhijrah adalah yang meninggalkan segala keburukan.[15]

Hikmah dan Fungsi Hijrah

Wahbah al-Zuhayli[16], berpendapat bahwa hijrah fisik yang dilakukan Rasul dan para shahabatnya, cukup banyak hikmah dan fungsinya. Hikmah dan fungsi hijrah yang paling penting antara lain: (1) Tegaknya  syi’ar  Islam  dan  menghindarkan konflik keagamaan. (2) Mencari dan mendapatkan kemungkinan tersebarnya ajaran Islam. Jika kaum muslimin yang tidak memiliki peluang untuk mendapat bimbingan Islam dan memahami hukumnya di suatu tempat, maka sebaiknya hijrah ke tempat lain untuk mendapatkannya. (3) Persiapan program untuk terwujudnya pemerintahan Islami dan penyebarluasan syari’at Islam ke seluruh penjuru dunia. Semua itu nampak sekali dapat diwujudkan melalui hijrah dari Mekah ke Madinah.[17]

Hijrah Fisik

Ibn al-Arabi,[18] berpendapat bahwa hijrah fisik diperlukan sepanjang masa hingga hari kiamat apabila berlatar belakang sebagai berikut: (1) Melepaskan diri dari  desakan perang yang merugikan muslimin, menuju ke tempat yang menguntungkan Islam dan muslimin, seperti perpindahan dari Dar al-Harbi ke Dar al-Islam. (2) Menghindarkan  diri  dari  perbuatan  bid’ah  demi  menyelamatkan al-Sunnah. (3) Perpindahan dari suatu tempat yang penuh maksiat dan perbuatan haram, ke tempat bersih supaya tidak terbawa arus orang durhaka. (4) Melepaskan diri dan ancaman penyakit yang apabila tidak berpindah akan membahayakan badan. (5)Menyelamatkan diri dari ancaman orang jahat karena berada di tempat yang kurang aman. (6) Menyelamatkan kekayaan yang sangat berguna bagi perjuangan Islam.

Memerhatikan uraian di atas, jelaslah bahwa hijrah fisik itu tetap diperlukan, hanya bentuk dan sifatnya bisa beraneka ragam. Namun tentang perpindahan dari Mekah ke Madinah yang diperintah Rasul shallallahu 'alaihi wasallam kepada shahabatnya hanya berlaku sebelum Futuh Mekah. Perhatikan hadits riwayat al-Bukhari berikut.

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا هِجْرَةَ بَعْدَ الْفَتْحِ وَلَكِنْ جِهَادٌ وَنِيَّةٌ وَإِذَا اسْتُنْفِرْتُمْ فَانْفِرُوا
Ibn Abbas  menerangkan bahwa Rasul shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Tidak ada kewajiban hijrah setelah Futuh Mekah, melainkan jihad dan niat, maka jika diseru perang segeralah penuhi panggilan tersebut.
Hr. al-Bukhari (194-256H).[19]

Dengan demikian, semua hijrah itu dilakukan demi fi sabil Allah yaitu membela agama Allah. Adapun yang dimaksud لَا هِجْرَةَ بَعْدَ الْفَتْحِ tidak ada hijrah setelah Futuh Mekah, adalah tidak ada kewajiban hijrah dari Mekah ke Madinah. Hal ini tampak sekali, bahwa Rasul shallallahu 'alaihi wasallam tidak mewajibkan muslim Mekah hijrah ke Madinah, setelah Mekah beliau taklukkan dalam Futuhnya. Tanggal 10 Ramadlan tahun 8H, Rasul shallallahu 'alaihi wasallam meraih Futuh Mekah dan turun Qs. Al-Nashr, dilanjutkan dengan umrah al-Fath. Tanggal 25 Ramadlan tahun tersebut, Khalid bin Walid menghancurkan berhala di jazirah Arab. Inilah kemenangan gemilang yang diraih kaum muslimin pada bulan Ramadlan. Setelah Futuh Mekah itu, berdasar hadits ini hijrah dimanifestasikan dalam memperbaiki kualitas umat dalam segala aspek kehidupannya. Itulah salah satu makna dari jihad dan niyyah, sebagaimana ditandaskan hadits ini.

Footnote:
[1]  Abd Allah ibn Abbas, lahir tahun 3 sebelum hijrah,  seorang shahabat yang dido’akan Rasul agar menjadi muslim yang faham tentang agama dan memiliki keunggulan dalam mena’wil ayat. Saudara sepupu Rasul ini cukup terkenal di kalangan ahli tafsir maupun hadis. Ia juga dijuluki oleh ibn Mas’ud (w.32H) sebagai Turjuman al-Qur`an (juru bicara dalam memehami al-Qur`an). Hadits yang diriayatkan oleh berbagai muhadits darinya  berjumlah 1660 Hadits, wafat di Tha`if tahun 68H
[2]  Musnad ahmad, I h.236, Shahih al-Bukhari, III h.1398
[3] rumah milik al-Arqam bin Abu al-Arqam bin Asad bin Abd Allah bin Amr bin Makhzum yang dijuluki Abu Ubaid Allah. Menurut sebagian ulama wafat bertepatan dengan tahun wafatnya Abu Bakr (12H), yang lain berpendapat pada masa pemerintah Mu’awiyah bin Abi Sufyan, (40H). Rumah tersebut berlokasi di kawasan kaki bukit Shafa dekat Masjid al-Haram yang digunakan rasul shallallahu 'alaihi wasallam untuk membina shahabatnya hingga menghasilkan 150 pemimpin umat yang berkualitas.
[4] Shahih al-Bukhari, I h.553
[5]  Ali bin Abi Thalib (18sH-40H), Shahabat, , Khalifah keempat dari al-Khulafa al-Rasyidin, sejak usia 6 tahun diasuh oleh rasul shallallahu 'alaihi wasallam, kemudian dinikahkan pada Fatimah. Dari pernikahannya mempunyai dua putra Hasan dan Husen, dua putri bernama Zainab dan Umm Kurtsum yang dinikah oleh Umar bin al-Khathab.
[6] Zad al-Ma’ad, II h.52
[7]  Fath al-Bari, VII h.336
[8]  menurut kitab rahmatan li al-Alamin, I h.102, saat itu Rasul, genap berusia 53 tahun.
[9]  Shahih al-Bukhari, I h.555
[10]  al-jami li Ahkam al-Qur`an, III h.49
[11] Abu Bakr al-Jaza`iri, Aysar al-Tafasir, I h.198
[12]  Tahun 1969M masih menjadi Guru Besar di universitas al-Azhar Mesir, menyusun tafsir al-Wadlih yang diselsaikannya pada 15 sya’ban 1373H (1954).
[13]  Mahmud Hijazi, al-Tafsir al-Wadlih, II h.52
[14]  Musnad Ahmad, II h.205, Shahih Ibn Hibban, I  h.467
[15]  al-Mu’jam al-kabir, III h.293
[16] Prof Dr.Wahbah al-Zuhayli, pada tahun 1991M masih menjabat Kepala Program Fiqih Islam di Universitas Damascus. Kitab terbesar karya beliau antara lain al-tafsir al-Munir, 15 jilid yang tebalnya rata-rata di atas 500 halaman, dan al-Fuqh al-Islami, 8 jilid yang setiap jilidnya berkisar 900 halaman.
[17] al-Tafsir al-Munir,V:232
[18]  Ahkam al-Qur’an, I h.484-486
[19] Shahih al-Bukhari, no.1703


sumber: saifuddinasm.com

Jalani SMA Hanya Setahun, Lulus Cum Laude di UI

”Saya tidak memaksa murid untuk punya nilai bagus. Tapi, menekankan pentingnya kejujuran. Lihat, koruptor itu adalah orang-orang pintar, namun sudah tidak jujur sejak dalam pikiran”

Bunyi lonceng di salah satu sudut sekolah menandai berakhirnya ujian nasional (unas) pada pertengahan 2006 lalu. Andri Rizki Putra yang saat itu masih SMP bergegas keluar kelas. Terik siang yang menyelimuti Jakarta kala itu menemani langkah kakinya yang cepat menyusuri teras-teras panjang kelas. Dia buru-buru ingin bertemu kepala sekolah. Belum sampai mengetuk pintu ruang kepala sekolah, dia bertemu salah seorang guru.

”Kenapa ingin ke kantor kepala sekolah?” tanya sang guru. Tanpa takut, remaja dengan seragam putih biru itu bilang bahwa dirinya ingin mengadukan buruknya sistem ujian nasional. Bagaimana bisa, tanya Rizki, guru-guru tutup mata bahwa murid-murid peserta ujian menyontek dengan bebas? Bahkan, guru mengirim kunci jawaban lewat pesan pendek? ”Buat apa pintar kalau didapat dari ketidakjujuran?” tegasnya.

Bagi Rizki, apa yang dia alami adalah suatu yang tidak masuk akal. Apalagi, saat sang guru justru balik bertanya kenapa. ”Kenapa Rizki tak bilang ke saya (untuk dapat sontekan)? Nanti pasti kamu dapat nilai yang lebih bagus,” kata guru itu, lantas mencegah Rizki bertemu kepala sekolah.

Padahal, tanpa menyontek, Rizki bisa lulus dengan nilai bagus. Rata-rata nilai yang dia dapatkan dalam tiga mata pelajaran, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan Matematika, adalah 8,75. Ironi tak mandek di situ. Teman-teman sekolah Rizki yang notabene siswa salah satu SMP unggulan di Jakarta Selatan justru mengucilkannya.

Keluar dari Sekolah

Tentangan sosial membuat hari-hari kelulusan semakin berat. Sempat dia berpikir hendak melapor ke Indonesia Corruption Watch (ICW) dan mengekspose ke media, namun ditahan orang-orang dekatnya. Rizki drop dan depresi. Dia menghabiskan masa-masa menjelang SMA dengan mengurung diri di kamar dan enggan keluar rumah.

Saat masuk SMA pada 2006 juga, Rizki merasakan kekosongan hati yang luar biasa. Meski diterima di SMA unggulan, mendapat beasiswa prestasi, dan mencetak nilai tertinggi, dia sudah tak bersemangat sekolah. Akhirnya Rizki hanya satu bulan di SMA dan memilih putus sekolah. Kepercayaannya terhadap sekolah formal luntur.

Namun, jangan dikira Rizki akan menyerah untuk mendapat pendidikan. Dia meyakinkan sang ibu, Arlina Sariani, 50, bahwa dirinya mencari pola belajar dengan caranya sendiri. ”Saya menamakan jalur pendidikan SMA saya adalah unschooling,” ceritanya saat ditemui Jawa Pos di Grand Indonesia akhir pekan lalu (26/7).

Bukan homeschooling yang harus membayar mahal biaya pendidikannya. Bukan juga bimbingan belajar yang masuk pendidikan nonformal. Unschooling merupakan jalur pendidikan tanpa lembaga, bahkan tanpa pengawasan orang tua. Dia belajar sendiri di rumah. Sumber pendidikannya dia raih dari membaca dan mempelajari buku-buku bekas dari saudara-saudaranya.

Belajar Sendiri untuk Ikut Ujian Nasional

Sebetulnya unschooling yang dijalani Rizki merupakan program pemerintah untuk pendidikan informal berupa pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM). Sistem itulah yang melahirkan ijazah paket. Sayang, ijazah paket sudah kadung bercitra negatif. Hanya karena lulusan ijazah paket, mayoritas anak-anak putus sekolah dan tak mampu secara akademik. Akses ke perguruan tinggi juga susah karena beberapa kampus tidak menerima pelamar dengan ijazah tersebut.

Selain research melalui internet, Rizki pergi ke dinas pendidikan untuk meyakinkan tetap bisa mengikuti ujian kesetaraan dengan pola pendidikan seperti itu. Bahkan, dia tertantang mengambil ujian paket C setara SMA dengan sistem akselerasi. Ternyata, diknas mengizinkan Rizki dengan beberapa syarat. Salah satunya, mengikuti placement test yang berisi ujian akademik dan tes IQ. Rupanya Rizki berhasil melampaui syarat ujian paket kesetaraan di bawah 17 tahun.

Untuk lolos tes paket, dalam sehari dia menghabiskan 22 jam untuk belajar. Dia melumat pelajaran yang normalnya diambil tiga tahun menjadi setahun saja. Pelajaran yang dirasa sulit dia cari jawabannya lewat internet. Dia juga rajin membaca surat kabar. ”Ujian paket seharusnya juga lebih sulit karena saya harus belajar enam mata pelajaran. Sebaliknya, ujian nasional hanya tiga mata pelajaran,” tuturnya yang saat ditemui mengenakan setelan jaket kuning dan celana jins warna cerah. Begitu hasil ujian paket keluar, Rizki mencetak nilai sangat tinggi dengan rata-rata 9 tiap pelajaran. Dia lulus SMA pada usia 16 tahun! ”Saat itu pun pengawas ujian sempat menyodori saya kunci jawaban agar saya lulus. Pasti saja saya tolak,” ujarnya, lantas tersenyum mengenang kisah ironi itu. Pendidikan pun dia dapatkan dengan sangat murah. Selama unschooling, dia hanya mengeluarkan biaya Rp 100 ribu. ”Untuk fotokopi ijazah,” candanya.

Kuliah di UI dan Lulus Cum Laude

Pada 2007 Rizki tembus SNM PTN dan diterima sebagai mahasiswa Fakultas Hukum (FH) Universitas Indonesia (UI). Bahkan, dekan fakultasnya heran karena ada mahasiswa dengan ijazah paket. Toh, pada 2011, pada usia 20 tahun, dia justru menjadi lulusan terbaik dengan predikat cum laude.

Mendirikan Masjidschooling

Pengalaman panjangnya dalam bersekolah itu memicu Rizki untuk membuat sekolah gratis. Tak sekadar gratis, dia membantu murid-muridnya mendapatkan ijazah paket A, B, dan C. Yayasan pertama yang dia dirikan adalah masjidschooling. Dia menamai masjidschooling karena proses pembelajarannya bertempat di teras Masjid Baiturrahman di bilangan Bintaro.

Rizki pun menjadi guru bagi puluhan muridnya yang putus sekolah. Selain itu, dia dibantu mengajar oleh ibu-ibu rumah tangga dan para mahasiswa STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara). Hingga kini masjidschooling berjalan empat tahun.

Mendirikan Yayasan untuk Orang Tidak Mampu

Selain samping itu, Rizki yang saat ini menjadi konsultan di firma hukum Baker and MzKenzie juga menjadi founder Yayasan Pemimpin Anak Bangsa (YPAB) pada 2012. Berbeda dengan masjidschooling yang cenderung segmented untuk warga muslim karena dikelola ibu-ibu pengajian, YPAB lebih plural. Konsep pendidikan di YPAB juga fleksibel. Sebab, tutor di YPAB merupakan anak-anak muda berusia 20–30 tahun dengan berbagai latar belakang pendidikan dan profesional. Mereka menjadi relawan setia yang mengajar tanpa bayaran.

Tantangan dan Capaiannya

Terkadang Rizki juga menjalin kerja sama dengan relasinya di luar negeri seperti Meksiko dan Malaysia untuk mengajar di YPAB. Tidak pelak, murid-murid putus sekolah yang selama ini dipandang sebelah mata oleh masyarakat akhirnya mau tidak mau belajar ngomong Inggris. Yang membanggakan, sudah banyak murid ”schooling” Rizki yang ”naik kelas”. Dari tukang jual koran menjadi pegawai admin di media. Dari pembantu rumah tangga (PRT) menjadi admin di perkantoran.

Bahkan, Prihatin, salah seorang murid yang sehari-hari berjualan pisang goreng di Tanah Abang, menjadi peraih nilai ujian nasional paket B tertinggi nasional. Kini Prihatin melanjutkan paket C. Dua murid lainnya yang bekerja sebagai PRT, ungkap Rizki, akan melanjutkan kuliah.

Kendati demikian, mengembangkan YPAB hingga memiliki ratusan murid dari hanya dua murid bukan hal mudah. Banyak pula tekanan dari masyarakat. Misalnya, warga pernah memprotes Rizki karena mengira yayasannya adalah tempat berbuat mesum. Sebab, awal-awal berdiri, proses pembelajaran YPAB di dalam kamar dan garasi. ”Pernah juga dikira tengah melakukan kristenisasi dengan antek-antek asing,” papar Rizki yang ingin melanjutkan kuliah school of education di Amerika Serikat.

Namun, semua itu dilalui dengan baik. YPAB kini memiliki beberapa cabang. Selain di Tanah Abang, juga di Bintaro, kantor Badan Koordinasi Penanaman Modal, dan Medan. Rencananya Rizki juga mendirikan YPAB di luar Jawa. Dari sisi kurikulum, selain menggenjot kemampuan bahasa, dia akan menambahkan praktik entrepreneurship.

”Saya tidak memaksa murid untuk punya nilai bagus. Tapi, menekankan pentingnya kejujuran. Lihat, koruptor itu adalah orang-orang pintar, namun sudah tidak jujur sejak dalam pikiran,” tegas Rizki yang juga giat di Brunch Club, komunitas pencetus ide-ide pemula bisnis TI atau Start Up itu.

sumber: jawapos.com

Menengok Warung Sodaqoh untuk Fakir Miskin dan Kaum Dhuafa di Alun-Alun Kota Pekalongan


Anggapan bahwa tidak ada yang gratis di zaman serba mahal saat ini, ternyata salah. Buktinya, di Kota Pekalongan, tepatnya di kawasan Alun-alun, sejak sekitar 10 hari terakhir berdiri sebuah tempat makan sederhana bernama’Warung Sodaqoh’. Warung ini khusus untuk fakir miskin dan kaum dhuafa yang ingin makan. Seperti apa?

SESUAI namanya, warung itu memang diperuntukkan bagi mereka orang-orang yang tidak mampu. Namun, siapapun boleh ikut makan di situ. Tidak akan dipungut bayaran sama sekali. Maka, bagi siapa saja yang merasa lapar, ingin makan tetapi tidak punya uang, bisa mampir ke warung yang buka setiap hari, sejak pukul 06.00 sampai 09.00 itu. Lokasi tepatnya berada di sisi timur Alun-Alun Kota Pekalongan.

Sebuah 'Warung Sodaqoh' khusus untuk fakir miskin dan kaum dhuafa sejak sekitar dua minggu ini berdiri di salah satu sisi Alun-Alun Kota Pekalongan. Warung ini melayani para warga, terutama dari golongan tidak mampu, untuk menikmati makanan dengan harga super murah bahkan gratis.

Sekilas, warung itu tak beda dengan warung makan lainnya. Namun bentuknya sangat sederhana. Dipayungi selembar terpal berwarna biru, dengan tiang penyangga terbuat dari batang-batang bambu. Yang cukup mencolok adalah, adanya tulisan merah pada selembar kain putih, yang juga digunakan sebagai tabir untuk menutupi ‘para pembeli’ yang makan di situ. Kain itu dipasang di sisi luar sebelah timur, menghadap ke pusat perbelanjaan di situ.

Tulisannya sangat jelas, ditulis dengan huruf balok. Bunyinya: “Warung Sodaqoh. Khusus untuk Fakir Miskin & Kaum Dhuafa”. Selembar kain dengan tulisan yang sama juga dipasang di sisi satunya, namun menghadap ke dalam warung.

Adapun menu makanan yang disajikan, cukup beragam. Seperti nasi megono, opor ayam, telur ceplok, sayur lodeh, telur bacem, sampai rendang daging. Semuanya diletakkan di atas meja panjang yang ada di situ. ‘Para pembeli’, atau lebih tepatnya, warga-warga yang kurang mampu yang menikmati makanan di situ, bebas memilih menu apa saja yang tersedia. Juga, memesan minum teh hangat ataupun es teh.

Setiap hari, ada lebih dari lima orang yang akan melayani warga yang akan makan di situ dengan sepenuh hati. Sedangkan para pelanggannya, berlatarbelakang dari berbagai macam profesi. Namun sebagian besar adalah golongan tidak mampu. Mereka diantaranya, para tukang becak, kuli panggul, pengemis, dan sebagainya.

Salah satu warga yang menikmati pelayanan makanan gratis di warung tersebut adalah Slamet Riyadi (32), warga Kelurahan Poncol, Pekalongan Timur. Pria yang sehari-harinya berprofesi sebagai tukang becak ini, Kamis (13/2) pagi datang bersama sang istri, Fatonah, dan seorang anaknya yang masih berusia 8 bulan. Slamet sengaja datang ke situ untuk menikmati sarapan, sembari mengajak jalan-jalan sang istri dan anaknya. “Alhamdulillah, kok ya ada warung seperti ini. Ini sangat membantu orang-orang seperti kami ini yang kurang mampu, supaya bisa makan. Menunya juga cukup enak,” ujarnya.

Slamet mengaku, dirinya mengetahui keberadaan warung tersebut sejak empat hari lalu. Saat itu, ungkap dia, kebetulan dia hendak berangkat menarik becak di kawasan alun-alun, sembari mencari penumpang. “Saya pas kebetulan lewat, kok lihat ada warung tulisannya warung sodaqoh untuk fakir miskin. Akhirnya saya mencoba makan di sini. Ternyata memang gratis, tidak ditarik biaya,” ungkapnya.

Hamba Allah

Lantas, siapakah sosok dermawan yang punya inisiatif untuk membuka warung khusus untuk warga miskin seperti itu? Ternyata, sang dermawan tersebut menolak untuk disebutkan namanya. Seperti yang disampaikan Karmin (30), warga Noyontaan, Pekalongan Timur, yang diberi amanah untuk melayani para warga yang akan makan di situ. “Beliau berpesan, kalau ada yang tanya, bilang saja dari hamba Allah,” ujarnya.

Setiap hari, sejak pagi hari pukul 06.00 sampai 09.00, Karmin dan beberapa orang lainnya bersama-sama diberi tugas untuk membuka warung tersebut. Selain Karmin, ada lagi beberapa orang, seperti Topan, Lilis, Mila, Amel, dan lainnya, bekerja sebagai ‘relawan sosial’ di warung tersebut. “Ada sekitar delapan orang yang tiap hari menjaga warung ini. Beberapa dari kami juga ada yang bertugas belanja, memasak, memasang tenda, menghidangkan ke warga, mencuci gelas dan piring, sampai membongkar warung setelah selesai. Ini sudah kita lakukan sejak sekitar dua minggu lalu,” imbuh Topan.

Mereka membenarkan bahwa siapapun yang menikmati makanan di situ tidak akan ditarik bayaran. “Kalau tidak punya uang, tidak usah bayar. Kalau misal, punya uang sedikit, silakan kalau mau bersodaqoh. Berapa saja. Apakah itu seribu rupiah, atau berapapun. Tapi rata-rata, uang yang disedekahkan di sini sekitar seribu sampai dua ribu rupiah,” tambahnya.

Untuk menampung uang sedekah itu, sudah disediakan sebuah tempat terbuat dari plastik yang ditaruh di atas meja. Tempat sedekah itu transparan dan tidak diberi tutup. Sehingga, berapapun uang yang disedekahkan akan bisa dilihat oleh siapa saja yang berada di warung itu.

Dikatakan, setiap hari jumlah sedekah yang didapat berkisar antara Rp 90 ribu sampai Rp 120 ribu. Tergantung dari berapa banyak orang yang memberikan sedekahnya setelah makan di situ. Hasil dari sedekah itu, sementara ini dipakai untuk tambahan belanja bahan makanan yang akan dimasak.

Namun, tandas Karmin, jumlah uang sedekah yang didapat itu masih jauh di bawah uang dari si dermawan yang dibelanjakan untuk keperluan warung tersebut setiap hari.

Ia mengungkapkan, setiap hari, ia dan rekan-rekannya berbelanja beberapa bahan-bahan makanan sampai Rp 650 ribu. Itu hanya untuk belanja saja.

Uang itu antara lain untuk membeli 15 kilogram beras, 8 kg telur ayam, 4 sampai 5 kg daging ayam, beberapa kilo daging sapi, dan bahan-bahan lainnya.

Setiap hari, ungkapnya, jumlah orang yang datang untuk makan di warung tersebut bervariasi. Sehingga, terkadang dalam tempo dua jam, masakan yang disajikan sudah habis. “Bahkan kalau hari Minggu, setengah jam sudah habis,” ungkapnya.

Ditambahkan, setiap pagi, warung itu akan ditutup sekitar pukul 09.00. Meskipun masih ada menu makanan yang tersisa. Makanan yang masih ada itu selanjutnya dikirimkan ke sejumlah panti asuhan di kota batik menggunakan sebuah becak. “Jadi, makanannya tetap bermanfaat untuk mereka yang membutuhkan,” tuturnya.

Sentilan

Dia membeberkan, maksud dari pendirian warung tersebut selain untuk membantu pemenuhan gizi warga tidak mampu, juga punya maksud lain. “Dengan adanya warung seperti ini, sekaligus untuk menyentil orang-orang kaya, para saudagar, pejabat, atau siapapun untuk ikut peduli terhadap nasib rakyat miskin yang kesusahan,” bebernya.

Tujuan lainnya, adalah untuk mengembalikan fungsi Alun-alun Kota Pekalongan agar kembali menjadi tempat pilihan rakyat kecil untuk berkumpul dan menikmati makanan murah namun sehat dan bergizi.

Sebab, katanya, saat ini seolah Alun-alun sudah tidak lagi menjadi milik rakyat kecil. “Saat ini, makanan yang ada di kawasan alun-alun ini harganya mahal. Maka, fakir miskin tidak lagi bisa menikmati makan makanan murah di Alun-alun. Dengan adanya warung seperti ini, Alun-alun kembali menjadi pilihan rakyat kecil untuk bisa menikmati makanan,” ujarnya.

Sedangkan mengenai jam buka dan jam tutup warung sedekah itu, menurut dia sengaja dibuka sejak pagi, dan tutup di pagi itu juga. Hal ini karena mereka menghormati aturan dari Pemkot setempat yang sebenarnya tidak membolehkan lokasi itu untuk berdirinya sebuah warung makan. “Padahal kalau boleh buka di sini sampai sore, ya kita akan buka sampai sore. Bahkan kalau perlu, sampai malam hari maupun selama 24 jam,” tandasnya.

Maka dari itu, pihaknya berharap agar Pemkot mengizinkan warung tersebut buka di lokasi tersebut sampai malam, ataupun sampai 24 jam. Jika tidak diizinkan di lokasi sekarang pun tidak masalah, namun setidaknya harus diberi lokasi khusus asal masih di sekitar Alun-alun Kota Pekalongan. “Sehingga rakyat kecil bisa tetap menikmati makan murah di sini, selama 24 jam. Alun-alun Kota Pekalongan akan kembali menjadi tempat pilihan masyarakat kecil untuk menikmati makanan dengan harga murah bahkan gratis,” pungkasnya. (way)

sumber: radarpekalonganonline.com

Aneka Resep Kue dengan Bahan Kacang Hijau

Selain memiliki rasa yang enak, kacang hijau juga bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Kacang hijau memiliki kandungan protein yang cukup tinggi dan merupakan sumber mineral penting, antara lain kalsium dan fosfor. Sedangkan kandungan lemaknya merupakan asam lemak tak jenuh. Kandungan kalsium serta fosfor pada kacang hijau berguna untuk memperkuat tulang.

Selain itu, kacang hijau juga memiliki kandungan rendah lemak yang amat baik untuk mereka yang ingin hindari mengonsumsi lemak tinggi. Kandungan lemak yang rendah di dalam kacang hijau juga menjadikan bahan makanan atau minuman yang terbuat dari kacang hijau tidak mudah berbau.

Berikut adalah aneka resep kue dari kacang hijau yang kami kumpulkan dari berbagai sumber untuk anda.

Bubur Kacang Hijau

Bubur ini enak dicampur bersama ketan hitam atau ketan putih, apalagi kalau pake durian sungguh sangat spesial. Sajian bubur kacang ijo kali ini dicampur dengan beras ketan putih, dimana penggunaan ketan ini bukan saja untuk menambah citarasa tetapi juga berfungsi untuk mengentalkan.

Bahan:
300 gram kacang hijau, rendam 2 jam, tiriskan atau gunakan yang siap pakai
50 gram beras ketan putih, cuci bersih
3 lembar daun pandan
4 cm jahe, memarkan
1 liter santan dari 1 butir kelapa
250 gram gula merah , sisir
1 sdt garam
200 gram kelapa muda, serut
air untuk merebus

Cara Pembuatan:
  1. Masak kacang hijau bersama beras ketan. Masukkan juga daun pandan dan jahe. Untuk ukuran air jangan terlalu banyak dulu, bila terlalu kental tinggal menambahkan airnya. Jika sudah mulai mendidih kecilkan api dan sesekali diaduk. Bila kacang hijau dan beras ketan sudah mekar dan empuk serta air perebusnya tinggal sedikit berarti sudah matang, angkatlah.
  2. Masak santan, gula merah, garam dan daun pandan, jerang di atas api sambil ditimba-timba hingga mendidih.
  3. Masukkan campuran kacang hijau dan beras ketan, aduk rata dan masak terus hingga mendidih kembali dan matang.
  4. Tambahkan kelapa muda serut ke dalamnya, aduk sebentar, angkat dan sajikan. 

Rempeyek Kacang Hijau

Bahan :
250 gr kacang hijau, cuci, rebus sebentar (tidak sampai pecah kulit), tiriskan
5 siung bawang putih
5 lembar daun jeruk dirawis
1 sdt ketumbar sangrai yang dihaluskan
1/2 sdt jintan sangrai yang dihaluskan
7 btr kemiri
1 btr telur ayam
300 gr tepung beras
150 gr tepung tapioka
1/2 jari kunyit jika suka
250 ml air (tambahannya sesuaikan kekentalan yang diperlukan)
garam secukupnya
1 lt minyak goreng

Cara Pembuatan :
  1. haluskan bumbu-2, kecuali daun jeruk
  2. campur bumbu halus dan telur kocok,masukkan ke dalam campuran tepung tapioka dan tepung beras,
  3. beri garam secukupnya, masukkan air, aduk,
  4. masukkan daun jeruk, aduk, sisihkan
  5. panaskan minyak goreng di atas api sedang (selalu gunakan wajan yang hanya untuk menggoreng/tidak memasak masakan lain, supaya rempeyek tidak lengket di wajan)
  6. ambil adonan tepung semangkuk, beri kacang hijau
  7. goreng sesendok-sesendok adonan di pinggir wajan dan ketika setengah kering, dengan sotil masukan ke dalam minyak
  8. ulangi lagi semangkuk adonan berikutnya sampai adonan habis (jika kacang dan adonan langsung dijadikan satu, kacang akan mekar dan terlalu basah sehingga tidak cepat kering saat digoreng)
  9. biarkan rempeyek sampai kuning kecoklatan,
  10. angkat, tiriskan, setelah dingin masukkan ke toples 

Kue Kacang Hijau Panggang

Bahan:
Kacang hijau kupas 150 gram
Gula pasir 100 gram
Santan dari 1 butir kelapa 500 ml
Tepung beras 50 gram
Garam 1/4 sdt
Kelapa parut 50 gram
Pewarna oranye 2 tetes
Kiwi dan stroberi secukupnya
Air secukupnya, untuk merebus

Cara Pembuatan:
  1. Pertama-tama masak kacang hijau hingga lunak, angkat, lalu haluskan dengan cara di blander.
  2. Kemudian campurkan kacang hijau halus dengan gula, santan, tepung beras, garam, dan kelapa parut, sambil aduk hingga rata.Tambahkan pewarna, aduk hingga benar-benar rata.
  3. Tuang adonan dalam loyang, panggang kedalam oven hingga matang. Sisihkan
  4. Setelah matang angkat, potong-potong sesuai selera, lalu hias dengan irisan kiwi dan stroberi, siap disajikan. 

Kue Bolu Kacang Hijau

Bahan:
Telur 3 butir
Gula pasir 100 gram
Emulsifier 1 sendok teh
Tepung terigu protein sedang 75 gram
Tepung kacang hijau 25 gram, dari kacang hijau kupas, disangrai api kecil, dinginkan, diblender, dan diayak halus
Margarin 20 gram, dilelehkan
Santan kental instan 1 sendok makan
Garam ¼ sendok teh

Bahan Hiasan:
Buttercream 200 gram
Wijen sangrai 3 sendok makan

Cara Pembuatan:
  1. Pertama-tama kocok telur, gula pasir, dan emulsifier terlebih dahulu hingga mengembang. Setelah itu masukkan tepung terigu dan tepung kacang hijau sambil diayak dan diaduk rata.
  2. Tambahkan margarin yang sudah dilelehkan, santan kental instan, dan garam. Aduk secara perlahan.
  3. Tuang di cetakan muffin tinggi yang dialas cup kertas.
  4. Masukkan adonan ke dalam oven selamat 20 menit dengan suhu 190 derajat Celsius, tunggu hingga matang.
  5. Semprot dengan buttercream. Tabur wijen sangrai. 

Kue Kering Kacang Hijau

Bahan:
Kuning telur 3
Gula pasir halus 1/2 sendok makan
Telur 3 putih
Garam 1/4 sendok teh
Gula pasir halus 50 gram
Tepung terigu protein sedang 15 gram
Tepung maizena 30 gram
Kacang hijau kupas 50 gram, disangrai 5 menit dengan api kecil, dinginkan, blender halus, diayak, timbang 30 gram

Cara Pembuatan:
  1. Kocok kuning telur dan gula pasir halus sampai putih. Sisihkan.
  2. Kocok putih telur dan garam sampai setengah mengembang.
  3. Tambahkan gula pasir halus sedikit-sedikit sambil dikocok sampai mengembang.
  4. Masukkan kocok kuning telur sedikit-sedikit sambil dikocok secara perlahan.
  5. Tambahkan tepung terigu, tepung maizena, dan tepung kacang hijau sambil diayak dan diaduk rata.
  6. Masukkan dalam kantung plastik segitiga. Semprot di loyang yang sudah diberi alas kertas roti tanpa harus dioles margarin.
  7. Panggang dalam oven selama 8 menit dengan suhu 180 derajat Celsius. Kemudian turunkan suhu oven menjadi 150 derajat Celsius. Lalu oven lagi selama 8 menit sampai matang dan kering.
  8. Sajikan. 

Kue Kacang Hijau Keju

Bahan Kulit:
Tepung ketan 100 gram
Tepung terigu 50 gram
Air daun suji dan pandan 100 ml
Garam ¼ sendok teh

Bahan Isi:
Kacang hijau kupas kulit 100 gram, rendam
Air 500 ml
Susu 100 gram
Keju parut 50 gram

Cara Pembuatan:
  1. Untuk memproses bahan isi: Pertama rebus kacang hijau hingga matang dan kental, angkat.
  2. Tunggu hingga agak dingin (asap sudah tidak mengepul) lalu tuang larutan susu sambil diaduk hingga rata. Bulatkan adonan lalu sisihkan.
  3. Untuk memproses bahan kulit: campur semua bahan, aduk hingga rata. Ambil sedikit adonan, bulatkan lalu tekan bagian tengahnya, lakukan hal yang sama hingga bahan habis.
  4. Didihkan air kemudian masukkan adonan kulit, masak hingga terapung dan matang, angkat dan tiriskan.
  5. Ambil satu buah kulit lalu letakkan kacang hijau dibagian tengahnya, taburi keju parut. Sajikan. 

Puding Santan Kacang Hijau

Bahan:
½ bungkus agar-agar bening
100 gram gula pasir
450 ml santan
1 sdm tepung maizena, larutkan dengan 2 sdm air
1 lembar daun pandan, simpul

Bahan puding kacang hijau :
½ bungkus agar-agar bening
100 gram gula merah, sisir halus
450 ml air
50 gram kacang hijau, rebus sampai mekar

Cara Pembuatan:
  1. Puding santan dibagi dua adonan dimana cara membuatnya adalah dengan mencampurkan agar-agar, gula pasir, daun pandan dan santan lalu masak di atas api sedang hingga mendidih sambil sesekali diaduk rata. Tambahkan larutan maizena sambil diaduk rata, masak sampai mendidih kembali lalu angkat. Tuang adonan pertama ke dalam cetakan puding yang sudah dibasahi air supaya mudah dilepaskan, sedangkan bagian adonan lainnya untuk dituangkan di atas puding kacang hijau.
  2. Puding kacang hijau dibuat dengan mencampurkan agar-agar, gula merah dan air lalu masak di atas api sedang hingga mendidih sambil diaduk rata. Masukkan kacang hijau yang sudah direbus, aduk rata kemudian angkat.
  3. Segera tuang adonan puding kacang hijau selagi panas di atas puding santan yang mulai mengeras atau tusuk-tusuk permukaannya dengan lidi sate bila sudah terlanjur mengeras. Begitu juga saat menuangkan bagian puding santan di atas puding kacang hijau.
  4. Setelah puding mengeras, keluarkan dari cetakan lalu potong-potong menurut selera saat disajikan. 

Dessert Puding Jahe Kacang Hijau

Bahan Puding Jahe:
1.000 ml santan dari 1/2 butir kelapa
200 gram jahe bakar, dimemarkan
100 gram kacang hijau, direbus hingga empuk
1 bungkus agar-agar bubuk
1 sendok teh jeli instan bubuk
100 gram gula palem
50 gram gula pasir
2 kuning telur

Bahan Saus Jahe:
100 gram jahe, dibakar hingga harum, kupas, memarkan
500 ml air
150 gram gula merah
1/4 sendok teh garam
1 1/2 sendok makan maizena, dilarutkan dalam 1 1/2 sendok makan air

Cara Pembuatan:
  1. Rebus santan dan jahe hingga harum. Saring. Tambahkan kacang hijau, agar-agar bubuk, jeli instan bubuk, gula palem, dan gula pasir sambil diaduk sampai mendidih. Matikan api.
  2. Ambil sedikit rebusan puding. Tuang ke kuning telur. Aduk rata. Masukkan kembali ke dalam rebusan puding. Aduk rata. Nyalakan api kembali. Masak sambil diaduk hingga mendidih. Tuang ke dalam gelas kecil. Biarkan beku.
  3. Saus jahe, rebus air bersama jahe sampai mendidih. Masukkan gula merah dan garam. Aduk rata. Saring. Kentalkan dengan larutan maizena. Aduk sampai meletup-letup.
  4. Sajikan puding bersama saus jahe.

Puding jahe kacang hijau ini lebih enak bila disantap dalam keadaan dingin, masukkan ke dalam kulkas lebih dahulu.

Bagaimana, mudah semua kan? Selamat mencoba mempraktekkan sendiri di rumah. Semoga bermanfaat.

Temuan Penelitian Ilmiah Seputar Kucing

Kucing adalah binatang piaraan yang paling sering kita temui di berbagai tempat. Telah banyak bukti ilmiah bahwa kucing memiliki banyak manfaat bagi manusia. Berikut beberapa hasil penelitian yang dilakukan berbagai pakar seputar kucing.

1. Kucing adalah sebaik-baik binatang yang mampu memberikan terapi

Kucing mampu memberikan dukungan sosial selama masa-masa sulit, seperti kehilangan orang yang dicintai. Mengajak bicara kucing, bercanda dengan kucing, terbukti mampu lebih cepat meringankan gejala fisik semisal nyeri dan juga menangis. Mungkin kucing tidak akan merespon seperti kita harapkan dari manusia, akan tetapi lihatlah apa yang ditunjukkan dari kucing tersebut.

2. Pemilik kucing lebih cerdas daripada pemilik anjing

Kucing dan anjing adalah hewan yang paling umum dipelihara manusia. Mereka bisa menjadi sahabat bagi pemiliknya. Hanya, penelitian Carroll University di Wisconsin, Amerika Serikat menemukan perbedaan yang signifikan antara pemelihara kucing dan pemelihara anjing. Temuan ini didasarkan pada survei terhadap sekitar 600 siswa di satu sekolah. Mereka menjalani tes uji coba. Hasilnya? Penelitian ini mengungkapkan bahwa pemelihara kucing memiliki kepribadian dan kecerdasan yang lebih tinggi daripada pemelihara anjing. Alasan lainnya, menurut seorang psikolog adalah sifat introvert pemilik kucing turut menentukan juga dalam hal ini.

3. Pecinta dan pemilik kucing, pemikiran mereka lebih terbuka, sensitif, dan anti kemapanan

Mungkin mirip dengan binatang kesayangannya, para pemilik kucing dinilai tidak terlalu suka mengikuti aturan, dan cenderung berpikiran lebih terbuka.

4. Kucing memiliki Carbon Footprint (jejak Karbon) lebih rendah daripada jejak karbon anjing

Sebuah penelitian yang dilakukan pada 2009 menyatakan bahwa kucing memiliki jejak kaki dengan kandungan karbon yang lebih sedikit daripada anjing. Hal ini disebabkan karena kucing lebih gemar memakan ikan daripada biskuit hewan yang berupa sayur beraroma daging sapi.

5. Kucing adalah teman terbaik pada masa tumbuh kembang anak

Dalam sebuah penelitian terhadap anak-anak yang tinggal dengan kucing, 81% mengatakan bahwa mereka lebih suka mengobrol dengan kucing mereka tentang perasaan mereka daripada orang tua dan teman-teman mereka. Sekitar 87% dari anak-anak menganggap kucing mereka menjadi 'teman dekat.'

6. Kucing dapat menurunkan kolesterol

Ilmuwan Kanada percaya bahwa memiliki kucing dapat membantu menurunkan kadar senyawa kimia yang disebut trigliserida, yang menyebabkan kolesterol tinggi. Meskipun demikian bukan berarti memiliki kucing menjadi alasan untuk tidak makan dengan baik dan berolahraga.

7. Kucing membantu memberikan ketenangan pada orang yang sedang depresi

Memiliki kucing juga dapat membantu meringankan depresi. Kalaupun kucing mungkin tidak benar-benar "menyembuhkan" depresi , tetapi ia dapat membantu mengalihkan pikiran Anda dari masalah Anda. Universitas Missouri menemukan bahwa memiliki kucing dapat mengurangi tingkat stres pada manusia. Studi ini melihat 240 pasangan menikah yang diberikan tekanan/stres dalam mengerjakan tugas, mereka yang memiliki kucing pada saat itu mereka mengalami jauh lebih sedikit stres daripada mereka yang tidak. Membelai kucing juga dapat meningkatkan kadar oksitosin yang ditemukan dalam tubuh. Oksitosin dikenal sebagai "hormon cinta" yang dihasilkan oleh sentuhan dan akan meningkatkan perasaan bahagia.

8. Kucing dapat menurunkan tekanan darah

The University of Missouri College of Veterinary Medicine Research Center for Human-Animal Interaction telah menemukan bahwa memberikan perhatian kucing membantu mengurangi tingkat hormon yang disebut kortisol, yang berfungsi menstabilkan tingkat tekanan darah.

9. Kucing dapat mengurangi serangan jantung

Sebuah penelitian panjang selama 10 tahun dari University of Minnesota menemukan bahwa dengan memiliki kucing dapat mengurangi tingkat stres dan juga mengurangi terjadinya serangan jantung hingga 40%.

10. Kucing membantu anak autis

Autisme ditandai dengan kesulitan dalam interaksi sosial dan komunikasi. Penelitian di Universitas Queensland menemukan bahwa mereka dengan penyakit autisme sulit berkomunikasi dengan cara yang sama seperti orang lain. Memiliki kucing benar-benar dapat membantu dalam kasus ini . Ada kasus di mana kucing telah berperan dalam terapi untuk anak autis. Gangguan perkembangan lain dapat dibantu dengan terapi kucing juga.

11. Dengkuran kucing memiliki efek penyembuhan

Kucing mendengkur dalam rentang 20-140 Hz, yang dikenal secara medis terapi untuk beberapa penyakit. Mendengkur telah dikenal untuk menurunkan stres, mengurangi gejala dyspnea, membantu dalam penyembuhan tulang dan jaringan lunak serta menurunkan tekanan darah.

12. Kucing punya kepedulian terhadap penderita Alzheimer

Ketika mereka memiliki kucing di rumah mereka, orang -orang dengan penyakit Alzheimer akan berkurang kecemasan mereka. Kucing adalah hewan peliharaan yang sangat baik bagi penderita Alzheimer karena mereka membutuhkan perawatan yang lebih sederhana daripada anjing.

sumber: kaskus.co.id

Yang jelas, sejumlah dalil-dalil Hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tentang kucing menunjukkan hal-hal positif dari hewan ini.

عُذِّبَتْ امْرَأَةٌ فِي هِرَّةٍ حَبَسَتْهَا حَتَّى مَاتَتْ جُوعًا فَدَخَلَتْ فِيهَا النَّارَ قَالَ فَقَالَ وَاللَّهُ أَعْلَمُ لَا أَنْتِ أَطْعَمْتِهَا وَلَا سَقَيْتِهَا حِينَ حَبَسْتِيهَا وَلَا أَنْتِ أَرْسَلْتِهَا فَأَكَلَتْ مِنْ خَشَاشِ الْأَرْضِ
"Ada seorang wanita disiksa karena mengurung seekor kucing hingga mati kelaparan maka wanita itupun masuk neraka karenanya". Nafi' berkata; Beliau bersabda: "Sungguh Allah Maha Mengetahui bahwa kamu tidak memberinya makan dan minum ketika engkau mengurungnya dan tidak membiarkannya berkeliaran sehingga dia dapat memakan hewan-hewan kecil di tanah"
. [HR. Bukhari]

عَنْ كَبْشَةَ بِنْتِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ وَكَانَتْ تَحْتَ ابْنِ أَبِي قَتَادَةَ أَنَّ أَبَا قَتَادَةَ دَخَلَ فَسَكَبَتْ لَهُ وَضُوءًا فَجَاءَتْ هِرَّةٌ فَشَرِبَتْ مِنْهُ فَأَصْغَى لَهَا الْإِنَاءَ حَتَّى شَرِبَتْ قَالَتْ كَبْشَةُ فَرَآنِي أَنْظُرُ إِلَيْهِ فَقَالَ أَتَعْجَبِينَ يَا ابْنَةَ أَخِي فَقُلْتُ نَعَمْ فَقَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ إِنَّهَا مِنْ الطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ وَالطَّوَّافَاتِ
Dari Kabsyah binti Ka'b bin Malik dan ketika itu dia dinikahi oleh Ibnu Abi Qatadah, bahwasanya Abu Qatadah masuk, lalu dia menuangkan (mempersiapkan) air wudhu baginya, lalu datang seekor kucing dan minum darinya, maka dia memiringkan bejana untuk kucing tersebut hingga ia selesai minum. Kabsyah berkata; Dia melihatku (ketika dia merasa bahwa) aku sedang memperhatikannya, maka dia berkata; "Apakah engkau heran wahai anak saudaraku?" Saya menjawab; "Ya." Dia berkata; Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya kucing tidaklah najis, ia di antara binatang jantan dan betina yang selalu mengelilingi kalian." [HR. Abu Dawud]

عَنْ دَاوُدَ بْنِ صَالِحِ بْنِ دِينَارٍ التَّمَّارِ عَنْ أُمِّهِ أَنَّ مَوْلَاتَهَا أَرْسَلَتْهَا بِهَرِيسَةٍ إِلَى عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا فَوَجَدَتْهَا تُصَلِّي فَأَشَارَتْ إِلَيَّ أَنْ ضَعِيهَا فَجَاءَتْ هِرَّةٌ فَأَكَلَتْ مِنْهَا فَلَمَّا انْصَرَفَتْ أَكَلَتْ مِنْ حَيْثُ أَكَلَتْ الْهِرَّةُ فَقَالَتْ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ إِنَّمَا هِيَ مِنْ الطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ وَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَوَضَّأُ بِفَضْلِهَا
Dari Dawud bin Shalih bin Dinar At Tammar dari Ibunya, bahwasanya tuan wanitanya memerintahkan kepadanya untuk membawa kue (terbuat dari tepung gandum) kepada Aisyah radliallahu 'anha, namun dia mendapati Aisyah sedang shalat, maka Aisyah memberikan isyarat kepadanya untuk meletakkan apa yang dia bawa. Lalu seekor kucing datang dan langsung memakan sesuatu darinya. Setelah Aisyah selesai shalat, dia memakan dari bagian yang dimakan oleh kucing tersebut seraya berkata; Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya kucing tidaklah najis, ia di antara binatang yang selalu mengelilingi kalian." Dan aku pernah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berwudhu dengan air sisa jilatan kucing. [HR. Abu Dawud]

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كُنْتُ أَتَوَضَّأُ أَنَا وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ قَدْ أَصَابَتْ مِنْهُ الْهِرَّةُ قَبْلَ ذَلِكَ
Dari Aisyah ia berkata; "Aku dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berwudlu dari satu bejana yang sebelumnya telah dijilat kucing." [HR. Ibnu Majah]

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْهِرَّةُ لَا تَقْطَعُ الصَّلَاةَ لِأَنَّهَا مِنْ مَتَاعِ الْبَيْتِ
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Kucing tidak memutus (membatalkan) shalat, karena ia termasuk perhiasan rumah." [Ibnu Majah]

عَنْ خَالَتِهَا كَبْشَةَ بِنْتِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ وَكَانَتْ تَحْتَ ابْنِ أَبِي قَتَادَةَ الْأَنْصَارِيِّ أَنَّهَا أَخْبَرَتْهَا أَنَّ أَبَا قَتَادَةَ دَخَلَ عَلَيْهَا فَسَكَبَتْ لَهُ وَضُوءًا فَجَاءَتْ هِرَّةٌ لِتَشْرَبَ مِنْهُ فَأَصْغَى لَهَا الْإِنَاءَ حَتَّى شَرِبَتْ قَالَتْ كَبْشَةُ فَرَآنِي أَنْظُرُ إِلَيْهِ فَقَالَ أَتَعْجَبِينَ يَا ابْنَةَ أَخِي قَالَتْ فَقُلْتُ نَعَمْ فَقَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ إِنَّمَا هِيَ مِنْ الطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ أَوْ الطَّوَّافَاتِ
Kabsyah binti Ka'ab bin Malik - dan dia dibawah asuhan Abu Qatadah Al Anshari, dia mengabarkan kepadanya bahwa Abu Qatadah mengunjunginya, Kabsyah pun menuangkan air wudlu kepadanya, tiba-tiba datang seekor kucing yang minum dari air wudlunya, maka dia mendekatkan bejana sehingga kucing itu meminumnya. Kabsyah berkata; Lalu dia melihatku yang sedang memperhatikannya dan berkata; "Apakah kamu heran Wahai putri saudaraku?" Dia berkata; lalu saya menjawab, "Ya." Abu Qatadah menerangkan, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Kucing itu tidak najis, karena dia adalah hewan yang berada di sekitar kita." [HR. Malik]

السِّنَّوْرُ مِنْ أَهْلِ الْبَيْتِ وَإِنَّهُ مِنْ الطَّوَّافِينَ أَوْ الطَّوَّافَاتِ عَلَيْكُمْ
Abu Qatadah berkata; Aku mendengar Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Kucing termasuk penghuni rumah dan ia memang hewan-hewan yang suka berkeliaran diantara kalian." [HR. Ahmad]

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ رَافِعٍ قَالَ قُلْتُ لِأَبِي هُرَيْرَةَ لِمَ كُنِّيتَ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ أَمَا تَفْرَقُ مِنِّي قُلْتُ بَلَى وَاللَّهِ إِنِّي لَأَهَابُكَ قَالَ كُنْتُ أَرْعَى غَنَمَ أَهْلِي وَكَانَتْ لِي هُرَيْرَةٌ صَغِيرَةٌ فَكُنْتُ أَضَعُهَا بِاللَّيْلِ فِي شَجَرَةٍ فَإِذَا كَانَ النَّهَارُ ذَهَبْتُ بِهَا مَعِي فَلَعِبْتُ بِهَا فَكَنَّوْنِي أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ
Dari Abdullah bin Rafi' dia berkata; aku berkata kepada Abu Hurairah; "Kenapa anda di juluki dengan Abu Hurairah?" dia menjawab; "apakah kamu mengkhawatirkanku?" jawabku; "Ya, demi Allah, sungguh aku mengkhawatirkanmu." Abu Hurairah berkata; "Dahulu aku seorang penggembala kambing miliki keluargaku, dan aku memiliki seekor kucing kecil, jika malam hari, aku menaruhnya di pepohonan, dan jika siang hari, aku pergi dan bermain bersamanya, oleh karena itu, aku di juluki dengan Abu Hurairah." Abu Isa berkata; "Hadits ini adalah hadits hasan gharib." [HR. Tirmidzi]

Menyorot Pemberontakan dan Kudeta terhadap Pemerintah di Era Kontemporer

Tak terhingga jumlah dan ragam nas-nas syariat yang mengharamkan pemberontakan kepada pemerintahan yang legal secara syar'i. Wajar jika muncul pertanyaan seputar bentuk-bentuk pemberontakan  tersebut di era kontemporer ini.

Sebelum mengkaji beberapa bentuk pemberontakan kontemporer, perlu terlebih dahulu kita memahami makna al-baghyu/pemberontakan dan al-khuruj/kudeta.

Makna al-Baghyu / Pemberontakan

Dalam bahasa Arab, kata al-baghyu bermakna melampaui batas. Al-Thabari menyatakan:

Al-Baghyu merupakan bentuk masdar dari ungkapan: "baghaa fulan ala fulanin baghyan" si fulan menganiaya fulan dengan penganiayaan yang sebenarnya, apabila ia bertindak sewenang-wenang dan melampaui batas kepadanya. Karenanya kata baghyu dipakai dan dikatakan kepada luka yang dalam apabila kelewat batas, laut apabila meluap airnya, gumpalan awan yang menurunkan hujan hingga bumi menjadi subur. Karena semuanya mengandung arti melampai batas. [1]

Dalam kajian fiqh siyasah syar'iyah, kata baghyu biasanya digunakan untuk menggambarkan tindakan yang melampaui batas dalam berinteraksi dengan pemimpin yang legal secara syar'i. Yaitu dengan keengganan menjalankan kewajiban dan ketaatan kepada pemerintah atau wakil pemerintah hingga tingkat melakukan perlawanan dan peperangan kepadanya.

Ibn al-Arabi menyatakan:

Permasalahan kedelapan adalah firman Allah:

فَإن بَغَتْ إحْدَاهُمَا عَلَى الأُخْرَى
Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain (QS. al-Hujurat: 9)

Rangkain kata dari huruf (ba-gha-ya) dalam dalam bahasa Arab bermakna mencari dan menuntut, Allah berfirman:   {ذَلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِ} "Itulah (tempat) yang kita cari." (QS. al-Kahfi: 64).  Di sini, ungkapan tersebut dipakai terhadap orang yang menuntut sesuatu yang tidak pantas, mengikuti tradisi Arab yang sering mengungkapkan sesuatu dengan menyebut sebagian dari karakter obyeknya. Dalam hal ini, orang yang keluar dari ketaatan kepada pemimpin itu menuntut agar ia melepas jabatannya, atau memboikotnya dengan tidak mau taat kepadanya, atau menahan hak yang wajib ditunaikan kepada pemimpin tersebut dengan dalih yang ditakwilkan.[2]

Imam Nawawi menyatakan: "Al-Baaghiy/pemberontak dalam terminologi ulama adalah orang yang menyelisihi pemimpin yang memiliki komitmen keagamaan, yang keluar dari ketaatan kepadanya dengan keengganan menunaikan kewajiban atau bentuk keengganan lainnya dengan ketentuan tertentu…"

Selanjutnya beliau menyatakan:

"Orang-orang yang menantang pemimpin dengan keluar dari ketaatan kepadanya atau tidak mau tunduk, dan enggan menunaikan kewajiban kepadanya itu terbagi dua, bughat/pemberontak dan bukan bughat. Masing-masing kelompok tersebut memiliki hukum tersendiri, hingga semi bughat juga memiliki hukum tersendiri tergantung pada karakter yang dominan pada diri mereka.

Adapun para pemberontak, maka ciri yang dominan pada mereka ada dua:

Pertama, memiliki dan menyakini takwil yang menyebabkan mereka keluar dari ketaatan kepada pemimpin atau enggan menunaikan hak yang wajib atas mereka. Maka seandainya suatu kelompok keluar dari ketaatan dan enggan menunaikan kewajiban mereka tanpa dasar takwil, baik berupa had/pidana, qishas, harta yang harus dikeluarkan di jalan Allah atau harta milik orang lain atas dasar pembangkangan dan kesombongan, dan bukan karena takwil, maka mereka itu tidak diperlakukan kepadanya hukum-hukum bughat/pemberontak.

Kedua, memiliki kekuatan dan pasukan yang mengharuskan seorang pemimpin mengeluarkan biaya besar, mengerahkan pasukan dan menempuh jalan perang untuk menundukkan dan mengembalikan mereka kepada ketaatan. Kalau mereka hanya beberapa orang saja dan mudah ditundukkan maka mereka bukanlah bughat. [3]

Al-Hatthab menulis:

"Mengutip dari al-Jauhari,  al-baghyu secara etimologi adalah melampaui batas. Dalam Ahkam Al-Quran, Ibn al-Arabi menyatakan: "Rangkaian kata dari huruf (ba-gha-ya) digunakan untuk menuntut, tetapi dalam tradisi penggunaannya terbatas pada tuntutan khusus, yaitu menuntut sesuatu yang tidak pantas dituntut." Dan secara terminologi, Ibn Arafah mendefinisikan al-baghyu adalah: "Enggan taat kepada pemimpin yang legal dalam perkara yang tidak mengandung unsur kemaksiatan dengan mughalabah/pertikaian, meski dengan dasar takwil."

Lalu al- Hatthab mendefinisikan al-bagiyah sebagai kelompok pemberontak, dengan menyatakan:

"Sekelompok dari kaum muslim yang menantang pemimpin dengan dua hal: enggan menunaikan hak yang wajib atasnya berupa zakat atau salah satu di antara hukum-hukum syariat. Atau enggan taat kepadanya sebagaimana mestinya. Atau ia menantangnya dengan tujuan untuk melengserkannya dari jabatan. Ibn Abd al-Salam menegaskan bahwa yang dimaksud dengan pemimpin di sini adalah khalifah/presiden atau wakilnya." [4]

Ibn Qudamah membagi orang-orang yang keluar dari kekuasaan pemimpin menjadi empat kelompok:

Pertama, kaum yang enggan taat dan keluar dari kekuasaan pemimpin tanpa memiliki alasan takwil. Mereka adalah quththa' al-thariq/penyamun, yang senantiasa melakukan keonaran di muka bumi.

Kedua, kaum yang memiliki alsan takwil, tetapi jumlah mereka hanya segelintir orang dan tidak memiliki kekuatan, jumlahnya satu, dua, hingga sekitar sepuluh orang saja. Mereka juga dipandang sebagai quththa' al-thariq menurut mayoritas mazhab kami (Mazhab Hanbali) dan Mazhab Syafi'i.

Ketiga, kaum Khawarij yang mengkafirkan pelaku dosa. . . Menurut pandangan para fuqaha mutaakhkhirin dalam mazhab kami, mereka itu adalah bughat. Pendapat ini juga merupakan pendapat Imam Abu Hanifah, Imam Syafi'i, dan mayoritas fuqaha dan ahli hadits. Sedang Imam Malik berpendapat bahwa mereka harus disuruh bertaubat, dan kalau mereka tidak mau taubat maka mereka harus diperangi karena kejahatannya, bukan karena kekafirannya.

Sedang kelompok lainnya dari ahli hadits berpendapat bahwa mereka itu kafir dan keluar dari Islam, hukuman mereka sama dengan hukuman orang-orang murtad. Jiwanya halal dibunuh dan hartanya halal diambil. . . Sedang mayoritas fuqaha berpendapat bahwa mereka adalah bughat dan tidak memandang mereka kafir.

Ibn al-Munzir menyatakan: "Saya tidak mengetahui seseorang yang sependapat dengan ahli hadits dalam mengkafirkan dan menjadikan mereka sama dengan orang-orang murtad."

Keempat, kaum pengusung kebenaran yang keluar dari kekuasaan pemimpin dan berusaha menurunkannya dari jabatan dengan alasan takwil tertentu yang legal, sedang mereka memiliki kekuatan yang membutuhkan kekuatan pasukan untuk menundukkannya. Mereka itu adalah bughat. [5]

Al-Syaukani berpendapat bahwa:

"Al-baghiy/pemberontak adalah orang yang keluar dari ketaatan kepada pemimpin yang wajib ditaati karena perintah Allah, dan berimbas kepada pelaksanaan tugas yang membawa kemaslahatan kaum muslim dan mencegah kemafsadatan dari mereka tanpa alasan yang tepat dan bukan dalam rangka menasehati pemimpin. Kalau hal itu dibarengi dengan peperangan kepada pemimpin tersebut maka hal itu sudah benar-benar pemberontakan penuh." [6]

Kesimpulan dari ulasan para ulama di atas adalah pemberontakan itu merupakan keengganan taat kepada pemimpin yang legal tanpa alasan yang tepat, berupa keengganan menunaikan hak yang wajib atasnya, atau keengganan melakukan ketaatan kepada pemimpin atau kepada wakilnya, serta berperang di atas jalan tersebut.

Dengan demikian, jelaslah bahwa dianggapnya suatu perbuatan atau tindakan sebagai bentuk pemberontakan membawa beberapa konsekwensi, yaitu:

1. Keengganan taat kepada pemimpin itu terjadi pada pemimpin legal secara syar'i yang wajib ditaati seperti khalifah, presiden ataupun wakilnya. Apabila pemimpin itu bukan pemimpin legal secara syar'i atau yang tidak wajib ditaati, maka keengganan taat kepadanya bukanlah tindakan pemberontakan, sebab tidak terdapat larangan ataupun  celaan dalam meninggalkan ketaatan terhadap orang yang tidak wajib ditaati.

2. Keengganan taat itu terjadi pada hak-hak pihak lain, misalnya enggan menunaikan tugas yang diwajibkan Allah atas dirinya, enggan menunaikan hak pemimpin ataupun hak orang lain. Apabila ia enggan taat dalam bermaksiat kepada Allah maka keengganan itu bukan baghyu. Justru keengganan taat dalam kemaksiatan itu merupakan kewajiban.

3. Keeangganan itu dilakukan atas dasar takwil yang dijadikan pegangan. Apabila keengganannya didasarkan kepada pembangkangan dan kesombongan tanpa ada takwil maka hal itu bukan baghyu, tetapi hanya kemaksiatan yang mungkin besar ataupun kecil tergantung bentuknya.

4. Keengganan itu dilakukan oleh kelompok yang memiliki kekuatan dan memerlukan biaya, pasukan, dan peperangan untuk menundukkan mereka. Apabila mereka hanya segelintir orang yang terpencar di mana-mana sehingga mudah menaklukkannya tanpa pasukan dan biaya besar, maka mereka bukan bughat tetapi mereka hanya quththau' thariq/penyamun atau muharib.

Dalam penjelasan di atas, sebagian ulama menjadikan upaya menggulingkan seorang pemimpin dari jabatannya sebagai bentuk baghyu/pemberontakan. Tetapi menurut hemat penulis, yang lebih tepat adalah menjadikan upaya tersebut sebagai bentuk khuruj/kudeta dan bukan baghyu. Karena khuruj terhadap seorang pemimpin syar'i dan memeranginya dengan tujuan mencopot jabatannya jauh lebih besar resikonya daripada baghyu. Dengan demikian, nampak perbedaan antara aksi baghyu dan aksi khuruj, berbeda kalau memasukkan upaya menggulingkan pemimpin ke dalam upaya baghyu, sebab tidak dapat dibedakan antara baghyu dan khuruj.

Makna al-Khuruj/kudeta

Secara etimologi, khuruj dalam bahasa Arab berarti berpindah dan memisahkan diri, yang mencakup dimensi waktu, tempat dan aktivitas. Khuruj merupakan antonim dukhul/masuk.

Dalam kajian fiqh siyasah syar'iyah, kata khuruj biasanya digunakan untuk menggambarkan oposisi yang dilakukan dalam menentang pemimpin legal yang lazimnya dibarengi dengan peperangan untuk menggulingkan pemimpin tersebut dan menggantikannya dengan yang lain.

Kalau penentangan itu hanya sebatas keengganan taat dan berujung pada peperangan tetapi tidak memiliki agenda menggulingkan pemimpin yang ada dan menggantikannya dengan yang lain maka upaya itu hanya baghyu saja.

Sejumlah fuqaha menggunakan istilah khuruj sebagai sinonim dari perang revolusi terhadap para pemimpin.

Para ulama tidak menggunakan istilah khuruj dalam menghukumi pengingkaran terhadap para pemimpin yang melakukan kemaksiatan atau menyelisihi kebenaran. Mereka juga tidak menggunakan istilah tersebut untuk menvonis orang yang tidak taat kepada pemimpin dalam melakukan perintah dan meninggalkan larangannya.

Atas dasar itu, seluruh ulama konsensus atas haramnya melakukan kudeta terhadap para pemimpin (legal secara syar'i, pent.) meskipun mereka zalim ataupun fasik. Meski tetap diakui bahwa pada abad Islam pertama (generasi sahabat) sempat terjadi silang pendapat tentang status hukumnya tetapi hal itu tidak berlangsung lama, hingga akhirnya terjadi konsensus atas keharamannya.

Dalam mengomentari para pemimpin zalim, Ibn Batthal menegaskan bahwa:

"Pendapat jumhur mengatakan tidak wajib memerangi dan menggulingkan mereka, kecuali kalau mereka kafir setelah beriman (murtad) dan tidak menegakkan shalat. Adapun penyimpangan dan kezaliman lainnya maka tidak boleh melakukan tindak khuruj atas mereka selama pemerintahannya bersatu dan masyarakat tetap setuju dan bersatu bersama mereka. Alasannya karena meninggalkan tindak khuruj dapat memelihara harga diri, harta benda dan mencegah terjadinya pertumpahan darah. Sebaliknya, tindakan khuruj menyebabkan perpecahan dan menimbulkan permusuhan. Juga tidak boleh membantu mereka memerangi orang-orang yang melakukan khuruj akibat kezaliman yang mereka lakukan kepada masyarakatnya." [7]

Di tempat lain, Ibn Batthal menulis:

"Dalam hadits-hadits ini, terdapat hujjah untuk meninggalkan khuruj atas pemimpin zalim, dan tetap konsisten taat kepadanya. Para fuqaha konsensus atas keharusan taat kepada pemimpin yang menang atas rivalnya setelah melakukan khuruj atasnya, selama ia menegakkan shalat jum'at dan jama'ah, dan selama ia menegakkan jihad. Mereka juga konsensus bahwa mentaati pemimpin tersebut lebih baik daripada melakukan tindak khuruj atasnya. Hal itu karena sikap seperti itu dapat mencegah terjadinya pertumpahan darah dan menjaga ketertiban umum." [8]

Dalam hal ini, Ibn Hajar menukil pendapat al-Gazali. Ibn Hajar menulis:

"Dalam memvonis orang-orang Khawarij yang mengkafirkan pelaku dosa besar, dalam kitab al-Wasith,[9] Gazali berpendapat, sebagaimana pendapat ulama lainnya bahwa hukuman mereka ada dua pendapat. Pendapat pertama menvonis mereka sama dengan vonis terhadap orang-orang murtad. Sedang pendapat kedua menvonis mereka sama dengan vonis kepada ahl al-baghyi . Imam al-Rafi'i mentarjih pendapat pertama."

Selanjutnya, Ibn Hajar mengomentari pernyataan tersebut:

"Pendapat yang ia kemukakan itu tidak berlaku secara konsekuen pada setiap orang yang melakukan tindak khuruj. Karena orang-orang yang melakukan khuruj itu terbagi dua. Pertama adalah kelompok yang telah dikemukakan sebelumnya. Kedua adalah sekelompok orang yang melakukan khuruj dan menuntut kekuasaan tanpa melakukan dakwah kepada akidahnya. Kelompok ini juga terbagi dua.

1. Kelompok yang khuruj atas dasar pembelaan terhadap agama, akibat kezaliman dan penyimpangan pemimpin dengan meninggalkan penerapan sunnah Nabi. Kelompok ini adalah kelompok yang benar, di antara yang masuk dalam kategori ini adalah Husain ibn Ali, dan penduduk Kota Medinah yang melakukan khuruj pada perang al-Harrah, juga para qari' yang melakukan khuruj atas Hajjaj ibn Yusuf.

2. Kelompok yang khuruj semata-mata untuk menuntut kekuasaan, baik karena mereka memiliki dalih syubhat atau tidak, mereka itu  adalah bughat."[10]

Mengingkari Pemerintah Tidak Termasuk Aksi Khuruj

Ibn Rajab berpendapat bahwa:

"Melakukan perubahan dengan tangan tidak otomatis mengakibatkan perang. Menurut riwayat Shaleh, Imam Ahmad menegaskan bahwa melakukan perubahan dengan tangan tidak dikategorikan perang dengan pedang atau senjata.  Dengan demikian memerangi pemerintah dengan tangan adalah menghilangkan kemungkaran yang mereka lakukan, seperti menumpahkan khamar, atau menghancurkan alat-alat musik mereka dan semacamnya dengan tangan. Atau jika  mampu membatalkan kezaliman yang mereka perintahkan dengan tangan. Semua itu dibolehkan dan tidak termasuk dalam kategori memerangi pemerintah. Juga tidak termasuk aksi khuruj atas mereka yang terlarang. Hal yang dikhawatirkan terjadi dalam hal ini hanya berimplikasi pada dibunuhnya orang yang menyerukan hal itu saja. Sementara khuruj dengan pedang, yang dikhawatirkan adalah implikasinya kepada pertumpahan darah kaum muslim yang meluas." [11]

Jadi mengingkari kesalahan pemerintah bukan aksi khuruj, demikian pula halnya dengan menyelisihi dan menyalahi pemerintah dalam menjelaskan dan menentukan kebenaran tidak termasuk tindakan khuruj. Allah berfirman:

{فإن تنازعتم في شيء فردوه إلى الله والرسول}
Maka jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya). (QS. an-Nisa: 59).

Ibn Jarir menafsirkan: Allah Azza wa Jalla maksudkan bahwa jika kalian sebagai orang-orang beriman berselisih pendapat dalam suatu perkara agama di antara sesama mukmin, atau antara kalian dengan pemerintah kalian hingga kalian bertengkar di dalamnya.[12]

Beliau tidak menganggap perselisihan dengan pemerintah dalam mencari dan memahami kebenaran sebagai aksi khuruj. Bahkan mereka diperintahkan mengembalikan perselisihan mereka kepada Allah dan Rasul.

Haramnya Aksi Kudeta Atas Pemerintah Zalim Tidak Berarti Selalu Pro Kepadanya

Haramnya melakukan aksi khuruj atas pemerintah yang zalim atau fasik tidak berarti harus memberikan dukungan kepadanya dalam memerangi orang yang melakukan aksi khuruj atasnya.

Ibn Batthal berpendapat bahwa:

"Jika pemerintah itu tidak memiliki komitmen keagamaan, maka yang wajib menurut pendapat ulama Ahl al-Sunnah adalah tidak melakukan aksi khuruj atas pemerintah tersebut. Lalu berupaya menegakkan bersamanya hudud Allah, shalat, haji, jihad, dan  membayar zakat.

Barang siapa di antara masyarakat melakukan tindak khuruj atas pemerintah itu dengan alasan takwil yang menyelisihi sunnah, atau karena kezalimannya, atau untuk memilih pemimpin yang lain, maka ia dinamakan fasik, zalim, perampas. Hal itu karena aksi khuruj tersebut berakibat pecahnya keutuhan jama'ah kaum muslim dan biasanya menimbulkan pertumpahan darah. . .

Apabila pemerintah zalim itu memerangi para pelaku aksi khuruj tersebut, maka kaum muslim tidak boleh menumpahkan darahnya sendiri untuk membela pemerintah yang zalim tersebut. 

Banyak tokoh di kalangan sahabat yang diakui kapabelitas ilmu dan ketokohannya tidak mau ikut berperang bersama Ali (dalam perang Jamal dan Shiffin, pent.) karena mereka menganggap hal itu sebagai perang "fitnah" dan karena masing-masing pihak bertikai menuduh lawannya sebagai kelompok bersalah dan melampaui batas. Begitulah kondisi asabiah dalam pandangan para ulama. Dan Ali tidak memandang orang yang tidak mendukung ataupun berperang bersamanya sebagai orang berdosa yang perlu dibenci." [13]

Sedang Ibn al-Arabi menulis:

"Masalah kesembilan, menurut riwayat Sahnun, para ulama kita (Mazhab Malikiyah, pent.) berpendapat bahwa dukungan perang itu hanya diberikan kepada pemerintah yang memiliki komitmen keagamaan. Baik yang pertama memimpin ataupun pemimpin yang melakukan aksi khuruj atasnya. Kalau kedua pemimpin tersebut tidak memenuhi standar komitmen keagamaan maka anda harus menahan diri untuk ikut berperang bersamanya, kecuali kalau perang itu ditujukan kepada jiwa atau harta anda, atau dimaksudkan untuk menzalimi kaum muslim maka hendaklah anda melakukan pembelaan.

Masalah kesepuluh, jangan ikut berperang kecuali bersama pemimpin adil yang dipilih oleh para ahlinya untuk menjadi pemimpin. Pemimpin (khalifah, pent.) itu tidak boleh kecuali dari keturunan Quraisy. Selain mereka tidak berhak menjadi pemimpin, kecuali jika ia menggalang dukungan untuk memilih pemimpin dari kalangan Quraisy. Demikian pendapat Imam Malik. Karena hak kepemimpinan itu tidak boleh diberikan kecuali kepada keturunan Quraisy.

Ibn al-Qasim meriwayatkan dari Imam Malik bahwa apabila pemerintah yang memiliki komitmen keagamaan itu dikudeta maka ia wajib dibela, seperti Umar ibn Abdul Aziz. Adapun pemerintah yang tidak adil itu, maka biarlah Allah mengatur orang zalim seperti dirinya untuk membalasnya kemudian Allah membalas mereka semuanya. Allah berfirman:

{فَإذَا جَاءَ وَعْدُ أُولاهُمَا بَعَثْنَا عَلَيْكُمْ عِبَادًا لَّنَا أُوْلِي بَأْسٍ شَدِيدٍ فَجَاسُوا خِلالَ الدِّيَارِ وَكَانَ وَعْدًا مَّفْعُولاً} [الإسراء: ?]
Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana. (QS. al-Isra': 5).

Imam Malik menegaskan: "Apabila seorang pemimpin telah dibaiat lalu dikudeta oleh saudara-saudaranya, maka mereka harus diperangi jika pemimpin yang telah dibaiat itu memiliki komitmen keagamaan. Adapun orang-orang yang melakukan kudeta itu maka mereka tidak berhak mendapatkan baiat selama pemimpin pertama itu telah dibaiat untuk mereka meski dalam kondisi takut. Imam Malik juga menegaskan bahwa harus selalu ada pemimpin, baik ataupun jahat." [14]

Antara Pemberontakan dan Kudeta

Barang siapa menyelisihi pemimpin atau wakilnya dan enggan taat kepadanya tanpa memeranginya atau tanpa melakukan upaya mengubah dan menggantinya dengan pemimpin lain, maka tindak itu bukan kudeta dan buka pemberontakan. Orang yang melakukan aksi tersebut tidak disebut sebagai pengkudeta ataupun pemberontak, ia hanya disebut sebagai pelaku maksiat.

Perbedaan antara kudeta dan pemberontakan adalah kudeta merupakan aksi menjatuhkan pemimpin dan menggantikannya dengan pemimpin yang lain. Sedang pemberontakan terbatas pada aksi penyelisihan dan keengganan melakukan ketaatan yang disertai dengan perlawanan.

Sebagian ulama memandang upaya menjatuhkan pemimpin itu sebagai pemberontakan. Dengan pendapat ini, tidak terdapat perbedaan yang jelas antara kudeta dan pemberontakan.

Tetapi, kalau kita analisa lebih cermat berbagai ungkapan dan sikap para ulama, kita akan dapatkan bahwa mereka tidak menganggap upaya menjatuhkan pemimpin dan menggantinya dengan pemimpin lain itu sebagai karakter para pemberontak. Untuk membuktikan hal itu penulis sebutkan dua pernyataan berikut sebagai contoh:

Contoh pertama:

Para penahan zakat. Mereka menahan zakatnya dan enggan menyerahkannya kepada Abu Bakar radhiyallahu anahu. Mereka tidak pernah berupaya menjatuhkan Abu Bakar dan menggantikannya dengan yang lain. Sedang dalam memvonis mereka, para fuqaha berselisih menjadi dua pendapat. Pendapat pertama memvonis mereka sebagai murtad, dan pendapat kedua memvonis mereka sebagai pemberontak.

Kelompok yang memandang mereka sebagai pemberontak nampaknya tidak memandang upaya menjatuhkan pemimpin dan menggantikannya dengan yang lain sebagai karakater atau syarat bagi pemberontakannya. Oleh karena itu, mereka memvonis para penahan zakat sebagai pemberontak, yaitu mereka yang saat menahan zakat tidak bermaksud ingin menjatuhkan pemimpin.

Contoh kedua:

Para pendukung Mu'awiyah radhiyallahu anhu enggan membaiat Amirul Mukminin Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu anhu tetapi mereka tidak pernah berupaya menjatuhkannya dan menggantikannya dengan pemimpin yang lain. 

Meski demikian, para ulama tetap menjadikan mereka sebagai kelompok pemberontak sebagaimana disebutkan dalam hadits: "Ammar akan dibunuh oleh kelompok pemberontak".[15] Kenyataannya, yang membunuh Ammar radhiyallahu anhu adalah kelompok pendukung Mu'awiyah radhiyallahu anhu sehingga mereka dikategorikan sebagai pemberontak sebagaimana ditegaskan oleh nas hadits tersebut.

Pada saat kita menerapkan berbagai kategori ini terhadap berbagai persoalan kontemporer seperti aksi mogok, demonstrasi, aksi protes, dan revolusi akan nampak bagi kita hal yang dapat dikategorikan sebagai pemberontakan ataupun kudeta dan hal tidak termasuk pemberontakan ataupun kudeta. Juga akan nampak hal yang dapat dikatakan sebagai kemaksiatan dan hal yang dapat diterima..

Ya Allah, pahamkanlah agama kepada kami, ilhamkan kepada kami akal pikiran, dan arahkanlah kami kepada pemahaman yang benar terhadap firman-Mu dan sabda Rasul-Mu!

[1] Tafsir Ibn Jarir al-Thabari, Juz IV, hal. 281.
[2] Ahkam al-Quran, Juz IV, hal 153.
[3] Raudhah al-Thalibin wa Umdah al-Muttaqin, Juz X, hal. 50-52.
[4] Mawahib al-Jalil Syarh Mukhtashar al-Khalil, Juz VI, hal. 278.
[5] Ibn Qudamah, al-Mugni, Juz VIII, hal. 522-526.
[6] Al-Sail al-Jarrar al-Mutadaffiq 'ala Hadaiq al-Azhar, Juz I, hal 965. Cet. Dar Ibn Hazm.
[7] Syarh Ibn Batthal 'ala Shahih al-Bukhari, Juz V, hal. 126.
[8] Syarh Ibn Batthal 'ala Shahih al-Bukhari, Juz X, hal.8.
[9] Lihat, al-Wasith, Juz VI, hal. 416.
[10] Fath al-Bari, Juz XII, hal. 285-286.
[11] Ibn Rajab, Jami' al-Ulum wa al-Hikam, Juz II, hal. 245-249.
[12] Tafsir Ibn Jarir, Juz VIII, hal. 504.
[13] Syarh Ibn Batthal 'ala Shahih al-Bukhari, Juz V, hal. 128.
[14]  Ibn al-Arabi, Ahkam al-Quran, Juz IV, hal 153-154.
[15] HR. Muslim, No. 2916.


sumber: http://www.albayan.co.uk/id/article.aspx?id=161