"Membunuh Katak"

Hati-hati dengan orang yang terlampau pintar memuji. Jika setiap hari dia memuji Anda, maka ada baiknya Anda secepat mungkin menjauhinya…………
Dalam hal-hal tertentu ada kemiripan antara katak dan manusia. Beberapa otot keduanya mirip. Misalnya, otot betis memiliki asal, tempat perlekatan dan kerja yang sama. Sebagian otot badan juga demikian. Organ-organ dalaman juga hampir mirip. Karena itu, mahasiswa kedokteran yang baru tahun pertama biasanya diajari anatomi katak sebelum diajari anatomi manusia. Jauh lebih murah biayanya, lebih sedikit resikonya dan lebih mudah caranya membedah katak ketimbang membedah manusia. Hitung-hitung, habis dipakai daging katak ini cukup berguna menjadi makanan ikan dan ayam. Kalau ada yang mau dan berani daging katak ini bisa jadi gorengan yang empuk. Tahun 1988, harga seekor katak bisa mencapai 10 ribu. Jika sudah dibikin rangka harganya bisa 20-an ribu.

Di beberapa bagian dunia paha katak merupakan makanan empuk. Ekspor daging katak dari Indonesia cukup besar. Tidak heran dari 400 jenis katak di Nusantara beberapa jenis di antaranya sudah punah karena diburu, dibunuh dan diekspor. Ada jauh lebih banyak katak di Irian ketimbang bagian timur Nusantara. Tersedikit ada di kepulauan Sunda kecil.

Membunuh katak gampang-gampang susah. Kami diajari teknik membunuh katak dengan menikam bagian belakang leher mencapai lubang tempat masuknya saraf-saraf tulang belakang ke kepala. Katak bisanya mati tiba-tiba. Satu tikaman menghasilkan satu tarikan nafas terakhir. Dengan cara ini katak mati dengan kaget, tersiksa dan cenderung melawan. Beberapa kali terjadi katak bisa berlompatan dengan benda penikam yang tertancap di belakang lehernya. Ia lolos dan berlompatan keluar ruangan. Adakalanya katak pura-pura mati dan lari ketika penikam dicabut.

Seorang kawan mengajari saya cara sederhana membunuh katak. Dijamin katak tidak akan melawan, kaget, apalagi lari. Alih-alih katak malah keenakan. Padahal ia sedang dibunuh. Ia menikmati pembunuhan itu. Bagi katak, ini cara mudah untuk mati. Mudah karena anda tidak susah payah menikam di daerah foramen magnum-nya. Anda tidak butuh pisau, atau benda tajam apapun. Anda cukup memasukkannya ke dalam kaleng berisi air dingin yang disukainya. Perlahan-lahan anda panasi kaleng itu. Biarkan suhu air naik perlahan-lahan hingga mendidih. Beberapa saat kemudian tengoklah. Katak sudah mati tanpa melawan. Ini mata sehat gaya katak.

‘MEMBUNUH’ DENGAN PUJIAN

Dalam beberapa hal kita kadang-kadang bertingkah seperti katak. Kita ‘dibunuh’ tanpa sadar. Bahkan, matipun dalam keadaan tertawa. Tempat dan suasana yang menyenangkan, termasuk kata-kata yang indah di telinga dan acungan dua jari jempol. Saya sering memperhatikan bagaimana acungan dua jari jempol, sebagai simbol puji-pujian, justru menjadi lebih tajam dari sebilah belati. Pujian itu membuat kita terlena, dan andaikata pujian diulang-ulang, maka kita seperti melayang tinggi.

Kebanyakan raja, pemimpin, atau tokoh jatuh bukan karena kritikan orang luar, tetapi oleh karena pujian yang berlebih-lebihan dari orang dekat. Apalagi bila pujian itu dikemas dengan sedikit kata-kata ilmiah dan data palsu. Konon, Gus Dur sewaktu menjadi presiden pernah mengalami fenomena ‘membunuh katak’ ini. Ketika itu, ribuan orang sudah berkumpul di depan istana. Ketika Gus Dur bertanya pada orang dekatnya informasi yang Gus Dur peroleh bahwa hanya ada segelintir orang di depan istana. Ia kemudian mengabaikan para demonstran itu. Walhasil, Gus Dur jatuh dan diganti oleh Megawati. Ir.Soekarno, dalam masa-masa akhir jabatan presidennya, mengalami fenomena ‘pembunuhan katak’. Soeharto pun, presiden yang hampir tak terjatuhkan, bahkan jatuh dengan cara ‘membunuh katak’ justru oleh orang-orang dekatnya. Ingatkah anda bagaimana salah seorang menterinya, orang yang mungkin paling dekat dengan keluarga Soeharto, menyampaikan bahwa seluruh rakyat Indonesia masih mendukung Soeharto? Sementara fakta di lapangan menunjukkan makin banyak orang yang tidak suka lagi pada Soeharto.

Sudah jadi tabiat manusia untuk suka kepada puji-pujian. Semua orang cenderung tidak suka dikritik, apalagi dimaki dan dikata-katai. Hati manusia lebih terharu pada pujian daripada kritikan. Pengkritik umumnya dianggap musuh. Jika ada orang menyampaikan sesuatu yang kurang mengenakkan di telinga, hampir semua kita merespon secara reaktif. Respon amygdala (bagian otak yang berurusan dengan emosi dan instink) mendahului respon cortex cerebri (yang mengurusi nalar dan rasionalitas). Orang yang tidak terbiasa dikritik, reaktif atau tidak biasa berbeda pendapat mengembangkan hubungan yang lebih kuat dan padat antara stasiun relay otak bernama thalamus menuju pusat emosi otak (amygdala) dibandingkan hubungan thalamus dengan pusat nalar otak. Joseph leDoux, ahli otak yang penemuan-penemuannya menjadi dasar teori kecerdasan emosi dari Daniel Golleman, menyebut gejala ini sebagai ‘pembajakan amygdala’. Artinya, rasionalitas dan nalar kita menghadapi suatu masalah sering dibajak oleh emosi dan instink kita.

‘Pembajakan emosi’ yang disebut leDoux itu melahirkan dua hal yang sangat kentara pada kebanyakan tokoh, raja atau pemimpin yang jatuh dari kekuasaannya; pertama, mereka senang sekali kepada puji-pujian, dan kedua, mereka reaktif terhadap kritikan dan masukkan yang tampak tidak menyenangkan. Tokoh, raja, dan pemimpin seperti ini mengalami ‘pembunuhan katak’ oleh segelintir orang dekat, para kerabat, para pembisik dan para pencari muka di sekitar mereka.

SWORD DAN WORDS

Kata-kata (words) dan pedang (swords) memiliki kemiripan. Keduanya bisa menjadi alat pembunuh yang jitu. Bahkan, kata-kata sering lebih tajam dari pedang. Dengan organ-organ bicara di mulut dan otak manusia bisa mengemas 26 abjad menjadi ribuan kata. Encyclopaedia Americana yang puluhan jilid itu ternyata hanya disusun oleh 26 buah abjad Latin. Ini artinya, ketajaman kata melebihi ketajaman pedang yang paling tajam sekalipun. Manusia diberi anugerah ketrampilan mengolah kata dengan baik. Karena dengan kata yang dioleh secara baik, maka kehidupan menjadi bermakna.

Oleh sedikit orang kata menjadi seperti mantera. Dikemas dengan apik, diucap berulang-ulang, didengungkan dimana-mana, dan diperbaharui jika perlu. Jika kata-kata yang indah penuh pujian disampaikan kepada Tuhan, maka ia menjadi doa. Jika disampaikan pada manusia, maka ia menjadi obat dan racun sekaligus. Jika kata itu membuai, melenakan si pendengar, sehingga kehilangan daya nalarnya, maka kata-kata itu menjadi racun. Sebaliknya, jika didengar dan dianalisis dengan baik, maka kata-kata pujian dapat menjadi obat. Tak selamanya pujian itu jelek. Pujian memang menyenangkan hati, membesarkan hati yang sempit dan meluaskan kegembiraan. Angin surga dapat bertiup melalui kata-kata. Dan telinga yang kurang awas akan terbuai dengan angin surga.

Sebenarnya, musuh yang paling berbahaya adalah mereka yang kerap menggunakan kata-kata sebagai perangkap dan dua jari jempol yang menghadap ke atas sebagai bentuk pujian. Nalarlah kata-kata yang didengar, kajilah secara dalam, jangan cepat senang dengan pujian dan cepat marah dengan kritikan atau kata-kata pedas.

Saya sarankan. Jika anda mau ‘membunuh’ orang dengan mudah dan tanpa biaya, maka pujilah dia setinggi langit, biarkan dia melayang setinggi-tingginya dan tiuplah angin surga setiap saat melalui telinganya. (Manado Post, 06 07 09)

Penulis:
Taufik Pasak (08 Juni 2009)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar