Pengantar tentang Taubat dalam Islam

Manusia adalah tempat lupa dan dosa, penuh dengan khilaf dan alpa. Oleh karena itu Allah memerintahkan seluruh manusia khususnya orang-orang yang beriman untuk selalu bertaubat kepada Allah sepanjang hidupnya. Allah ta’ala berfirman,

وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لاَتُنصَرُونَ
“Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang adzab kepadamu Kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. Az-Zumar: 54)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Bersegeralah bertaubat dan beramal sholih sebelum datangnya siksa.” (Tafsir Ibnu Katsir 4/61-62)

Dari Anas bin Malik rahimahullah bahwasanya Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Setiap anak Adam sering berdosa dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang banyak bertaubat”. (HR Tirmidzi 2499, Shohih at-Targhib 3139)

Dan Allah berjanji menerima taubat semua manusia, seberapapun besar dosa seorang hamba. Allah ta’ala berfirman,

وَمَن يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللهَ يَجِدِ اللهَ غَفُورًا رَّحِيمًا
“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, Kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. an-Nisa: 110).

Allah azza wa jalla berfirman tentang ashabul ukhdud yang membunuh kaum mukmin:

إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ
“Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, Maka bagi mereka adzab Jahannam dan bagi mereka adzab (neraka) yang membakar.” (QS. Al-Buruj:10)

Allah ta’ala melarang berputus asa dari Rohmat-Nya sebagaimana firman-Nya:

قُلْ يَاعِبَادِي الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لاَتَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
”Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (az-Zumar: 53)

Syaikhul Islam rahimahullah berkata, ”Maksud ayat ini adalah larangan berputus asa dari rahmat Allah sekalipun dosanya sangat besar dan banyak. Berputus asa bisa dengan menganggap bahwasanya Allah tidak akan mengampuninya baik itu dengan anggapan taubatnya tidak akan diterima atau dengan mengatakan jiwanya tidak sanggup bertaubat dan telah bergelimang dosa dan setan telah menggelincirkannya dengan dugaan tersebut. Menjadilah dia berputus asa dari taubat meskipun dia mengetahui jika ia bertaubat Allah akan menerima taubatnya. Ini banyak menipu manusia.” (al-Istiqomah 2/190)

PENGERTIAN TAUBAT

Taubat adalah kembali dari kemaksiatan menuju ketaatan. (Lisanul ’Arob 1/233)

Ibnul Qoyyim al-Jauziyah rahimahullah mengatakan: ”Taubat adalah kembali dari suatu yang dibenci Allah, baik nampak maupun tersembunyi menuju sesuatu yang dicintai Allah baik nampak maupun tersembunyi”. (Madarijus Salikin 1/313)

KEUTAMAAN TAUBAT

1. Taubat adalah sebab kebahagiaan

Allah ta’ala berfirman:

وَتُوبُوا إِلَى اللهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
”Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung” (QS. An-Nur:31)

2. Taubat akan menghapuskan dosa

Allah ta’ala berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا تُوبُوا إِلَى اللهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ
”Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat nasuha, mudah-mudahan Robb-mu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan ke dalam Jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai” (QS. At-Tahrim:8)

3. Dengan Taubat Allah akan mengganti kejelekan dengan kebaikan

Allah ta’ala berfirman:

إِلاَّ مَنْ تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ عَمَلاً صَالِحًا فَأُوْلَئِكَ يُبَدِّلُ اللهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا
”Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqon: 70)

4. Taubat adalah sebab mendapatkan kenikmatan dunia dan akhirat

Allah ta’ala berfirman:

وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُم مَّتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِن تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ
”Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang Telah ditentukan...” (QS. Hud:3)

5. Taubat adalah salah satu sebab turunnya hujan, tambahan kekuatan, harta dan anak.

Allah ta’ala berfirman:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا {10} يُرْسِلِ السَّمَآءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا {11} وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا {12}
”Maka Aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya dia adalah Maha Pengampun. Niscaya dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12)

6. Akan mendapat kecintaan dari Allah.

Sebagaimana dalam firman-Nya:

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
”Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqoroh:222)

Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah: ”Karena cinta kepada hamba-Nya Allah mengujinya dengan dosa yang merupakan sebab yang mengantarkan kepada sesuatu yang dicintai-Nya yaitu taubat. Sesungguhnya orang-orang yang suka bertaubat di sisi Allah ada kecintaan yang khusus” (Madarijus Salikin 1/306)

7. Taubat merupakan kebiasaan orang-orang shalih.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: ”Sesungguhnya aku meminta ampun kepada Allah dalam sehari 100 kali”. (HR. Muslim 2702)

SYARAT-SYARAT DITERIMANYA TAUBAT

1. Ikhlas Karena Allah ta’ala

2. Meninggalkan dosa tersebut.

3. Menyesali perbuatan dosa.

Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, ”Penyesalan adalah termasuk taubat” (HR. Ibnu Majah 2499, shahih at-Targhib 3146)

4. Mengetahui akan kejelekan dosa tersebut.

5. Bertekad tidak akan mengulanginya lagi.

6. Mengembalikan apa yang menjadi beban dari orang yang didzolimi.

7. Segera dilakukan sebelum mau menjemput,

Sebagaimana sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam:

”Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama nyawanya belum sampai kerongkongan,” (HR. Ahmad 2/132, al-Hakim 4/286 dan ia menshohihkan dan disepakati oleh Adz-Dzahabi)

KEKELIRUAN DALAM MASALAH TAUBAT

1. Menunda-nunda taubat

Menunda-nunda taubat akan menyebabkan kerasnya hati dan sulit untuk bertaubat. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

”Sesungguhnya seorang hamba jika melakukan suatu dosa ditulis dihatinya satu titik hitam. Jika ia mencabut perbuatan dosa tersebut dan meminta ampun serta bertaubat maka dibersihkan lagi hatinya. Apabila ia mengulanginya maka akan ditambah titik tersebut sampai menutupi hatinya dan itulah yang Allah sebutkan dalam firman-Nya:

كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِم مَّاكَانُوا يَكْسِبُونَ
”Sekali-kali tidak (demikian), Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthoffifin: 14)

(HR. Ahmad 2/297, Tirmidzi 3334, al-Hakim 2/562 dan ia menshohihkannya dan disepakati oleh adz-Dzahabi)

2. Lalai dari bertaubat kepada Allah dari dosa-dosa yang ia tidak ketahui. Oleh karena itu Nabi shallallahu’alaihi wa sallam mengajarkan kita do’a:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ.
“Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari berbuat syirik kepada-Mu, sedang aku mengetahuinya dan aku memohon ampunan dari perbuatan syirik yang tidak aku ketahui.” (HR. Bukhori dalam ‘Adabul Mufrod 716, Shohih al-Adabul Mufrod 554)

3. Tidak segera bertaubat karena khawatir jatuh dalam perbuatan dosa lagi.

Hal ini adalah keliru karena Allah ta’ala tergantung persangkaan hamba-Nya. Ia akan terus memberikan ampunan selama manusia segera bertaubat dan bisa jadi ia meninggal sebelum bertaubat kepada Allah. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: ”Allah ta’ala berkata:

”Saya tergantung persangkaan hamba-Ku kepada-Ku dan Aku bersamanya jika ia mengingat-Ku” (HR. Muslim 275).

4. Tidak bertaubat karena khawatir dicela orang lain, khawatir akan jatuh kedudukannya di tengah masyarakat.

Ini adalah tipuan setan untuk menjerumuskannya ke dalam jurang neraka, padahal akhirat lebih kekal daripada dunia yang hina ini.

5. Terus menerus melakukan dosa karena bergantung kepada luasnya rahmat Allah.

Seorang mukmin hendaknya mengingat bahwa di samping Allah Maha Pengampun namun Ia juga sangat keras siksa-Nya. Allah ta’ala berfirman:

نَبِّىءْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ {49} وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ اْلأَلِيمُ {50}
”Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa Sesungguhnya Aku-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa Sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.” (QS. Al-Hijr: 49-50)

6. Tertipu dengan diluaskannya rezeki dan kesehatan orang-orang yang jahat.

Nabi shallallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda:

”Jika kamu melihat Allah memberikan dunia berupa sesuatu yang ia sukai kepada hamba di atas kemaksiatannya maka itu adalah istidroj (penguluran). Kemudian Nabi shallallahu’alaihi wa sallam membaca ayat:

فَلَمَّا نَسُوا مَاذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَىْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَآأُوتُوا أَخَذْنَاهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ
”Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44)

(HR. Ahmad 4/145 dan rijalnya terpercaya, Silsilah ash-Shohihah 413)

Semoga Allah menjadikan kita termasuk at-Tawwabun dan mengampuni semua dosa-dosa kita

Sumber: 30 Tema Pilihan Kultum Romadhon Berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah oleh Abu Bakr Muhammad Lalu al-Atsari, hal. 59-66

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar