5 Metode Yang Bisa Merevolusi Pendidikan Pada 20 Tahun Mendatang

5 Ways Education Could Be Revolutionized Over the Next 20 Years
5 Metode Yang Bisa Merevolusi Pendidikan Pada 20 Tahun Mendatang

By Sofia Rasmussen

Over the next twenty years, within an increasingly global economy, better technology, less public funding for schools, and more diversity, education in the United States will change dramatically. Below are five areas in education that will be altered in the next two decades.
Dua puluh tahun ke depan, dalam  perekonomian yang semakin global, teknologi yang lebih baik, dana yang kurang untuk sekolah, dan keragaman masyarakat yang lebih kompleks, pendidikan AS (juga di negara kita) akan berubah secara dramatis. Di bawah ini adalah lima area di bidang pendidikan yang akan berubah dalam dua dekade mendatang.

Better Online Education
Pendidikan Online Yang Lebih Baik

Because of students’ increasing ability with computers, and because of the growing ubiquity of the Internet, online education is transitioning from outside-the-box to the norm. Look no further than North Carolina, which now has a Virtual Public School, which provides online courses to school-age residents who are unable to take difficult or unusual courses in their area. Currently, distance-learning programs like Stanford’s EPGY are geared towards gifted children, but there are plans to change this so that children at all learning levels have access to top-tier virtual instruction.  Universities have already implemented bachelor’s, master’s, and PhD programs online with a high degree of success; primary and secondary schools are eager to use this model to their advantage.
Karena kemampuan siswa meningkat dalam penggunaan  komputer dan Internet berkembang di mana-mana, pendidikan online adalah salah satu pilihan yang perlu dipertimbangkan. Semakin bangyak negara bagian di Amerika yang kini memiliki Virtual Public School , yang menyediakan sekolah online untuk warga yang tidak mampu atau tidak tersedia di daerah mereka. Saat ini, program pembelajaran seperti EPGY Stanford diarahkan pada anak-anak berbakat, tetapi ada rencana untuk mengubah ini sehingga anak-anak pada semua tingkatan  memiliki akses belajar secara virtual. Universitas telah dilaksanakan program  online sarjana, master, dan PhD  dengan tingkat keberhasilan yang tinggi. Sekolah dasar dan menengah juga sangat ingin untuk menggunakan model ini untuk kemanfaatan dan keuntungan mereka.

The Rise of Homeschooling
Bangkitnya Homeschooling

While homeschooling has been around for centuries, by the twentieth century it was a fringe, seldom-used movement, and was shunned. That’s changing in the twenty-first century for three reasons. The first is that many public schools are not receiving the funding necessary to provide adequate education. Considering the current economy, this trend is only getting worse, which makes pulling one’s child out of school to educate him or her at home all the more appealing. Second, with significant online educational advances (see below), teaching a child at home through a broad base of classes online is relatively easy. Third, a large segment of the United States population are evangelical Christians (approximately 30% based on a poll released by CNN), many of whom want their children to have a Christian-centered education, which is often not available in public schools. Therefore, because of the confluence of these three factors, homeschooling is on the rise.
Homeschooling telah ada selama berabad-abad. Namun pada abad kedua puluh, ini gerakan yang jarang digunakan dan dihindari. Itu berubah di abad kedua puluh satu untuk tiga alasan. Yang pertama adalah bahwa banyak sekolah umum yang tidak menerima dana yang diperlukan untuk menyediakan pendidikan yang memadai. Mengingat perekonomian saat ini, tren ini semakin parah, yang menarik anak  keluar dari sekolah untuk mendidiknya di rumah. Kedua, dengan kemajuan signifikan pendidikan secara online, mengajar anak di rumah relatif mudah. Ketiga, segmen besar dari populasi Amerika Serikat adalah orang yang taat bergama, banyak dari mereka ingin anak-anak mereka memiliki pendidikan yang berpusat pada keagamaan, yang seringkali tidak tersedia di sekolah umum. Oleh karena itu, karena tiga faktor di atas, homeschooling terus meningkat.

Teaching Computer Literacy
Pengajaran Literasi Komputer

While there have been computer courses in school for approximately two decades, the courses often focused on very discrete tasks (such as how to enter numbers into a spreadsheet) and served in large part as a medium through which children were taught how to type effectively. Such limited computer education is no longer viable – students today need to know how to use a variety of programs and apps. For example, look for students to be formally trained in the intricacies of PowerPoint and Excel, but also on video-editing and using Google Map in orienteering.
Meskipun telah ada kursus komputer di sekolah selama kurang lebih dua dekade, kursus sering terfokus pada tugas-tugas yang sangat spesifik (seperti cara memasukkan angka ke dalam spreadsheet). Serta hal ini disajikan sebagian besar dimana anak-anak diajarkan bagaimana untuk mengetik secara efektif. Pendidikan komputer tersebut terbatas dan tidak layak lagi  - siswa saat ini perlu tahu bagaimana menggunakan berbagai program dan aplikasi. Misalnya, selain mengajari siswa untuk secara resmi dilatih dalam seluk-beluk PowerPoint dan Excel, tetapi juga  video-editing dan cara menggunakan Google Map.

Using Computer Literacy
Menggunakan Literasi Komputer

Going hand-in-hand with the above, students will likely be expected to use computers in every class – not just computer class. The most stable jobs require employees to use computers for hours a day – so look for computer education integrated into daily school life.
Bersamaan dengan hal di atas, siswa diharapkan untuk menggunakan komputer pada setiap pelajaran di kelas – bukan hanya kelas komputer. Pekerjaan yang paling stabil  dan menjajikan, membutuhkan karyawan yang menggunakan komputer selama berjam-jam sehari – sehingga pendidikan komputer harus diintegrasikan ke dalam kehidupan sekolah sehari-hari.

After all, in today’s world, a laptop or smartphone is used in conjunction with a person’s intelligence to help them learn and express themselves. This is a topic covered just about every single day on Edudemic and is going to be absolutely critical to any teacher looking to embrace the future of learning.
Selain itu, di dunia saat ini laptop atau smartphone  digunakan dalam membangun kecerdasan seseorang untuk membantu mereka belajar dan mengekspresikan diri. Ini adalah topik yang dibahas hampir setiap hari di Edudemic dan akan menjadi sangat penting untuk setiap guru yang ingin “merangkul” masa depan pembelajaran.

More Bilingual Education
Lebih Banyak Pendidikan Bilingual

According to the LA Times, the Hispanic population is now over 50 million, and has increased 43% in the past decade, with 23% of all Americans under the age of eighteen currently identifying as Hispanic. Moreover, Hispanic Americans are now the United States’ largest minority group. As the country moves to a bicultural nation, the focus on teaching Spanish and English in the classroom will increase, and more students will be truly fluent in both languages. In many areas, teachers will be expected to know both Spanish and English.
Menurut LA Times, populasi orang AS yang berbahasa Spanyol sekarang lebih dari 50 juta, dan telah meningkat 43% dalam dekade terakhir. Serta 23% dari semua orang Amerika di bawah usia delapan belas tahun saat ini diidentifikasi sebagai Hispanik. Selain itu, Amerika Hispanik sekarang kelompok minoritas terbesar di Amerika Serikat. Sebagai negara yang bergerak ke suatu negara Dwibudaya, fokus pada pengajaran bahasa Spanyol dan Inggris di dalam kelas akan meningkat, dan lebih banyak siswa akan benar-benar fasih dalam kedua bahasa. Di banyak daerah, guru akan diharapkan untuk mengetahui bahasa Spanyol dan Inggris.


sumber: edudemic.com | manajemenpembebas.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar