Masa Depan Muhammadiyah

Meskipun tulisan ini ditujukan untuk Muhammadiyah, tapi patut jadi bahan renungan untuk semua organisasi pergerakan Islam, utamanya yang ada di Indonesia. Semoga bermanfaat.

Oleh: M Amien Rais (Ketua Umum PP Muhammadiyah tahun 1995-1998)

Persyarikatan kita dinamakan Muhammadiyah tentu dengan tujuan jelas, yakni menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai uswah hasanah dan tarikh SAW sebagai rujukan baku perjuangan Muhammadiyah. Pada dasarnya kita memiliki dua uswah hasanah, yaitu Nabi Muhammad SAW dan Nabi Ibrahim AS (QS al-Ahzab [33]: 21 dan al-Mumtahanah [60]: 4).

Nabi Ibrahim sebagai Bapak Monotheisme mengemban misi penegakan tauhid dan menunaikan tugas memimpin kemanusiaan (QS al-Baqarah: 124). Sebagai khalilullah, Nabi Ibrahim melakukan perlawanan terhadap Namrud yang merupakan simbol kemusyrikan dan kezaliman.

Tauhid yang ditancapkan Nabi Ibrahim pada gilirannya diikuti tiga agama samawi, yakni Yahudi, Nasrani, dan Islam. Tauhid mencapai kulminasi pada agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW.

Nabi Muhammad SAW sebagai nabi pamungkas dan penyempurna millah Ibrahim, kita jadikan satu-satunya pemimpin yang mutlak harus kita ikuti. Komitmen kita menjadi pengikut perjuangan Rasullullah bersifat total. Bahkan, sayap perempuan Muhammadiyah dinisbatkan dengan salah satu istri tercinta Nabi, yakni ‘Aisyah dan jadilah ‘Aisyiyyah.

Kini Muhammadiyah menapaki abad kedua kehidupan perjuangannya. Satu hal yang perlu kita ingat, sejarah terus berubah, bergerak ke depan dan Alquran memberi tahu bahwa nasib manusia, organisasi, dan bangsa serta negara berputar secara cakra-manggilingan (QS Ali Imran: 140).

Wajib kita syukuri bahwa Muhammadiyah mampu melewati satu abad perjuangan dengan sehat, sukses, dan tidak menunjukkan gejala sakit maupun melemah karena usia. Syajarah thayyibah atau pohon indah Muhammadiyah tetap segar, makin banyak buah amal salehnya sepanjang masa dan dinikmati segenap bangsa (QS Ibrahim: 24).

Kita bersyukur punya Alquran dan sunnah sahihah yang bersifat abadi dan mampu memberikan pijakan kokoh untuk menjawab segala tantangan itu. Dalam Anggaran Dasar Muhammadiyah Pasal 6 disebutkan, maksud dan tujuan Muhammadiyah ialah menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Ketika Muhammadiyah didirikan pada 8 Dzulhijah 1330 H bertepatan dengan 18 November 1912 M, bangsa Indonesia masih berada dalam zaman kolonial, belum merdeka, sehingga konteks historis, sosial, politik, dan ekonominya sangat berbeda dengan zaman sekarang, 106 tahun (sesuai dengan kalender Hijriyah) atau 103 tahun (sesuai kalender Masehi) kemudian.

Muhammadiyah pernah mengalami zaman kolonial, revolusi, demokrasi liberal, demokrasi terpimpin, demokrasi Pancasila, dan sekarang zaman reformasi atau pasca-reformasi, dan entah apalagi di masa depan. Tujuh Presiden Indonesia dan visi politik serta ekonomi nasional boleh bergonta-ganti, tapi kapal Muhammadiyah terus melaju.

KONTEKS GLOBAL

Bila kita bicara masa depan Muhammadiyah, tidak bisa tidak kita harus meletakkan Muhammadiyah dalam konteks Islam internasional karena hakikatnya umat Islam adalah umat yang satu. Para musuh Islam pada tataran global atau mondial sejak dulu menerapkan strategi dasar yang sama, sekalipun bentuk permusuhannya berubah. Kita insya Allah tidak akan pernah terkecoh bilamana kita selalu mencari petunjuk abadi dari Alquran.

Banyak orang awam menyangka dan banyak pula intelektual Muslim mengira, setelah usai Perang Dunia II, kekuatan Barat yang diikat oleh Judeo-Christian Ethics tidak mungkin lagi melancarkan invasi militer, politik, ekonomi, dan ghazwul fikri pada dunia Islam. Persangkaan itu keliru besar. Kekuatan dajal dari Barat itu datang kembali dengan invasi ekonomi, sosio-kultural, dan proses westernisasi pendidikan, gagasan neolib dan neocon ke arah kaum terpelajar Muslim.

Hasilnya, muncul barisan westomaniac, manusia dengan pikiran yang tergila-gila pada apa saja yang datang dari Barat dan memandang rendah khazanah Islam sendiri. Malahan secara sangat ironis muncul kelompok Muslim Zionist, yakni pembela utama zionisme yang beragama Islam.

Sejak usai Perang Dunia II sampai dekade 1970-an, tidak banyak orang percaya kekuatan imperialisme Barat yang dulu berslogan Gospel, Gold, and Glory akan kambuh, yaitu melakukan kembali pendudukan militer atas negara yang akan dijajah lagi, walaupun bukan dengan cara persis sama.

Amerika Serikat melakukan pendudukan militer kembali. Sejak 2003 hingga kini, Amerika Serikat tetap bercokol di Irak dengan segala macam alasan, juga di sebagian Afghanistan, dan militer Amerika berkeliaran di seantero dunia Islam dengan berbagai dalih. Bahkan, beberapa negara Arab menyediakan pangkalan udaranya bagi Angkatan Udara Amerika Serikat untuk mengagresi Irak, Afghanistan, Libya, dan lain-lain.

Ketika dunia Arab sebagai bagian sangat penting dari dunia Islam disapu Musim Semi Arab yang bergulir sejak 2010, rakyat awam di negeri itu berharap hilangnya kekangan otoriter para penguasa Arab, berganti yang menghargai hak asasi manusia. Juga diharapkan muncul proses demokrasi yang egaliter untuk membentuk pemerintahan yang baru dan membersihkan korupsi serta ekonomi diatur kembali dengan memperhatikan kepentingan rakyat banyak.

Karena nilai-nilai Islam telah berperan besar dalam mendorong proses perubahan itu, ada yang menilai bangsa-bangsa Arab sedang menikmati musim semi Islami. Namun, musim semi Arab atau musim semi Islami yang dimulai dari Tunisia itu kini telah berbalik arah dan pada umumnya gagal. Musim semi Arab telah berubah jadi musim dingin yang gelap, mencekam, dan menakutkan.

Negara-negara Arab yang disapu cita-cita musim semi Arab telah terbenam perang saudara, pertumpahan darah, pembonekaan para raja, presiden, sultan, dan amir oleh kekuatan penjajah Barat. Israel yang kolonialis, rasialis, dan Zionis makin kuat dan menjadi ujung tombak kekuatan Barat yang mengibarkan Judeo-Christian Ethics.

Sebab kegagalan musim semi Arab itu cukup banyak. Satu sebab terpenting adalah ketidakmampuan para pemimpin mereka membebaskan diri dari cengkeraman asing secara politik, diplomatik, ekonomi, dan hankam. Mentalitas ketergantungan itu sudah berurat-berakar sehingga mereka tidak sanggup berdiri dan berjalan tanpa dibimbing master dan mentor politik, ekonomi, dan militer mereka.

Saya yakin pelemahan dan bahkan penghancuran negara-negara Arab Muslim di Timur Tengah itu merupakan bagian dari strategi dan skenario global kekuatan Barat yang belum pernah sembuh dari penyakit imperialisme dan kolonialisme lama. Seperti penyakit kambuhan, imperialisme kambuhan beraksi lebih ganas dan destruktif.

Keinginan Muslimin dunia pada awal abad 15 Hijriyah menyaksikan kebangkitan Islam di abad ini, kini tampak kandas, paling tidak untuk sementara. Dunia Islam didera berbagai masalah, seperti perang, kemiskinan dan pengangguran, kekuasaan zalim dan otoriter, konflik antaretnik, penegakan hukum yang diskriminatif, buta huruf yang masih sangat luas, dan lainnya.

Dibandingkan dunia Barat, kelihatan dunia Islam lebih lemah, lebih tidak terdidik, lebih miskin, dan lebih terbelakang. Padahal, doa sapu jagat Islam memohon kepada Tuhan YME agar dikaruniai kebahagiaan dunia akhirat dan dilindungi dari api neraka (QS al-Qashash: 77).

Salah besar kalau ada orang beriman berpendapat tidak mengapa di dunia menjadi manusia yang lemah, miskin, bodoh, dan tersisih menjadi pelengkap penderita, tetapi esok akan bahagia di akhirat. Ini gejala self-defeatism, mengaku kalah dan jadi pecundang tanpa berani bertanding, dan memilih kehinaan daripada kemuliaan. Agaknya akhlak ini dikutuk agama karena hakikatnya menghina agama itu sendiri.

Sayangnya, sebagian fakta dan angka belum berpihak pada dunia Islam. UN Report on Human Development Index tahun 2009 mencatat, mayoritas negeri Muslim berada pada urutan atas merajalelanya korupsi. Dalam indeks pembangunan manusia yang diukur lewat harapan hidup, melek huruf, dan penghasilan berbagai bangsa, mayoritas bangsa-bangsa Muslim berada di urutan menengah bawah dan urutan bawah.

Lebih dari 30 negara di dunia Islam, hanya ada sekitar 500 universitas, sementara di Amerika Serikat ada 5.758 universitas, bahkan di India 8.407 universitas. UNDP pada 2004 mencatat, dari 500 universitas terkemuka, tak ada satu pun dari dunia Islam.

Di Barat yang mayoritas Nasrani, jumlah melek huruf 90 persen, sementara dunia Islam baru 50 persen. Yang selesai sekolah dasar di Barat 90 persen, di dunia Islam 50 persen. Di Barat 40 persen penduduknya mengenyam perguruan tinggi, di negeri-negeri Muslim hanya 2 persen. Yang pertama mengeluarkan biaya R&D 5 persen, yang kedua hanya 0,2 persen. Apalagi bila kita bicara perbandingan kekuatan militer Barat dan dunia Islam, kesenjangan itu kian lebar.

Mengapa sekarang umat Islam menjadi terbelakang? Pasti bukan karena Islam itu sendiri. Islam sudah terbukti menggelar revolusi kemanusiaan yang paling dahsyat sepanjang sejarah ketika Nabi Muhammad SAW memimpin transformasi zaman jahiliyah dunia Arab menjadi zaman pencerahan segala bidang dalam tempo satu generasi.

Islam juga melahirkan Khilafah ‘Abbasiyah selama separuh milenium yang menghadirkan puncak ilmu pengetahuan dan peradaban. Islam juga memunculkan imperium terbesar sepanjang sejarah, yakni Imperium Osmaniah. Khilafah Osmaniah ini berlangsung sekitar 7 abad (1299-1923) dan menjadi penghubung utama peradaban Timur dan Barat. Ia berakhir pada 1923 dengan meninggalkan kemegahan sejarah Islam di beranda Eropa.

Dewasa ini kita menyaksikan pemikiran dan gerakan Islamofobia. Mereka yang membenci Islam demi membenci tanpa alasan apa pun dinamakan Islamophobes. Manusia pembenci Islam ini di Barat maupun di Timur semakin bertambah dengan menggunakan media cetak, media sosial, dan ceramah di kampus dengan tujuan tunggal: mencemarkan nama baik Islam, melakukan disinformasi dan distorsi, sekaligus demonisasi Islam agar agama samawi terakhir ini berwajah seram, seolah-olah pendendam, dan menyukai kekejaman.

Di Amerika Serikat saja ada 46 lembaga yang melancarkan serangan Islamofobia. Para Islamophobes di AS itu terdiri atas akademisi, orientalis, wartawan, ketua lembaga studi, pendeta, dan lainnya. Di antara mereka ada juga bekas pegiat sosial Islam, penulis, dan aktivis LSM yang sudah murtad atau meninggalkan Islam.

Jangan lupa, di Indonesia ada juga lingkaran Islamofobia itu, meskipun omongan dan aksinya tidak sejelas kelompok Islamofobia Barat. Saya melihat dengan kasihan ada sejumlah aktivis Muslim, junior dan senior, tampak menikmati pujian yang datang dari lingkaran Islamophobes Indonesia.

KONDISI KITA

Kita harus terus berpikir membuat peta jalan perjuangan persyarikatan di masa depan. Berikut beberapa realitas yang perlu kita cermati tentang Muhammadiyah.

Pertama, semangat beramal saleh di kalangan persyarikatan agak lesu. Banyak bangunan Muhammadiyah yang sudah diresmikan peletakan batu pertamanya, setelah beberapa tahun bangunan itu tak kunjung selesai. Sebab utamanya, pembiayaan yang macet atau berjalan sangat pelan.

Kedua, proses kaderisasi di Muhammadiyah berjalan cukup lamban. Makin jarang terdengar latihan kepemimpinan Darul Arqam di daerah.

Ketiga, kecintaan pada Alquran masih terlihat belum menyeluruh di kader dan pimpinan.

Keempat, kantor persyarikatan cukup megah tetapi sering kali lengang. Sedikit aneh, gerakan tajdid tidak sering menyaksikan para kadernya bermusyawarah memecahkan berbagai masalah.

Kelima, semboyan tidak ada kejayaan Islam tanpa dakwah dan tidak ada dakwah tanpa pengorbanan agaknya tidak bergaung lagi di kalangan keluarga besar Muhammadiyah.

Keenam, semangat menjalankan ibadah makhdhah, seperti shalat berjamaah di masjid terasa sepi. Masjid-masjid Muhammadiyah tak lagi jadi pusat bertemunya pimpinan dan kader serta anggota Muhammadiyah.

Ketujuh, kecintaan sebagian pimpinan Muhammadiyah pada sekolah sendiri sering kali basa-basi. Malah acap kali kita saksikan sebagian tokoh atau kader Muhammadiyah baru mau menyekolahkan anaknya di sekolah Muhammadiyah setelah ditolak ke sana kemari.

Kedelapan, semangat berjuang atau berjihad tampak melempem. Tak sedikit aktivis kita yang mengeluh kalau harus turun ke bawah, membina persyarikatan di tempat yang relatif jauh dan sedikit sulit perjalanannya.

Kesembilan, sering kali kita lihat fenomena aneh, sebagian pimpinan Muhammadiyah tidak begitu cinta dan bangga dengan Muhammadiyah. Mungkin agak mirip dengan sikap sebagian kiai pimpinan pesantren yang tidak bangga dan cinta dengan pesantrennya.

Kesepuluh, kadang kala ada fenomena aneh, sebagian pimpinan Muhammadiyah menderita penyakit rendah diri. Islam tak pernah mengajarkan umatnya bersikap rendah diri (kompleks inferioritas) maupun jemawa dan percaya diri berlebihan (kompleks superioritas).

Saya ingat rumus Pak AR, kalau pemimpin Muhammadiyah bertemu pejabat negara setinggi apa pun harus wajar-wajar saja. Tidak perlu membungkuk sampai nyaris tiarap, tetapi juga tidak perlu berkacak pinggang.

Tentu masih banyak potret Muhammadiyah masa kini yang dapat kita bicarakan, yang menggambarkan betapa Muhammadiyah agak lesu darah, kurang bertenaga dalam menggerakkan amal saleh, cenderung dijangkiti penyakit malas dan kurang percaya diri. Pertanyaan pentingnya, apa yang mesti kita kerjakan agar usaha izzul Islam wal muslimin kembali meriah, penuh syiar, bertenaga, dan lebih efektif?

Mengingat cukup besarnya tantangan, kita perlu membuat langkah penting.

Pertama, menegaskan dan memperluas doktrin perjuangan kita. Dalam menegakkan dan menjunjung tinggi Islam sehingga terwujud masyarakat Islam, selama ini Muhammadiyah melaksanakan dakwah amar ma'ruf nahi mungkar dan tajdid melalui amal usaha, program tertentu.

Sudah tiba saatnya bagi Muhammadiyah juga mengembangkan da'wah al-amru bil 'adli dan an-nahyu 'anil dhulmi, yakni berjuang menegakkan keadilan dan memberantas kezaliman (QS an-Nahl: 76 dan 90). Barangkali, al-amru bil ma'ruf dan an-nahyu 'anil munkar lebih menitikberatkan pada kehidupan moral atau akhlak. Sedangkan, al-amru bil 'adli dan an-nahyu 'anil dhulmi lebih menyangkut persoalan sosial, ekonomi, politik, dan hukum.

Alangkah baiknya bila dua doktrin Alquran ini kita jadikan motivasi pokok pemikiran dan gerakan Muhammadiyah. Dengan perhatian yang lebih tajam lagi pada persoalan kezaliman sosial, ekonomi, politik, dan hukum, kiprah Muhammadiyah akan menjadi lebih relevan, lebih terasa, dan lebih menggigit.

Menurut Nabi Muhammad SAW, ketika kita memberantas kemunkaran caranya harus ma'ruf maka ketika kita memberantas kezaliman caranya pun harus adil. Tidak boleh memberantas kemunkaran dan kezaliman malahan memunculkan kemunkaran dan kezaliman baru.

Kedua, selama ini sebuah kata yang indah, penuh makna, dan dapat menghidupkan (ihyaa) kaum beriman, yakni kata jihad, jarang kita bahas dan dalami di berbagai latihan kepemimpinan. Kata jihad dalam berbagai bentuknya di Alquran disebut 41 kali sementara zakat hanya 31 kali. Demikian pentingnya jihad dalam Islam hingga ada sebagian ulama yang mengusulkan agar jihad dijadikan rukun Islam keenam.

Secara sangat padat dan singkat, jihad berati badhlul juhdi atau kerah total dari segenap kesanggupan untuk memperbaiki keadaan dari kezaliman ke keadilan, dari masyarakat yang bodoh ke yang berilmu, dari masyarakat yang sakit ke yang sehat, dari penjajahan ke kemerdekaan, dari ketergantungan ke kemandirian, dari kegelapan ke pencerahan, dan seterusnya.

Jihad dalam bidang apa pun pasti memerlukan pengorbanan harta (untuk logistik) dan pengorbnan jiwa (manusia yang bertanggung jawab mengatur strategi, program, dan rangkaian aksi). Tidak ada jihad tanpa pengorbanan amwal dan anfus.

Cerita tentang KH Ahmad Dahlan pada suatu pagi buta memukul kentongan sehingga menggegerkan warga Kauman perlu kita ambil moral lesson-nya. Warga Kauman menyangka ada pencurian atau musibah besar. Ternyata KH Ahmad Dahlan mau melelang jam dinding, perhiasan istrinya, dan perabotan rumah tangga untuk membiayai amal saleh (dakwah) Muhammadiyah. Jihad dengan harta bukan hanya diajarkan oleh pendiri Muhammadiyah, tetapi dilaksanakan dalam perbuatan nyata.

Ketiga, semangat jihad yang lembek. Kadang kala kita menemukan kader Muhammadiyah yang terlalu mudah mengkritik sesama Muslim dengan tuduhan bid'ah. Dengan segala kerendahan hati, kita harus ingat, pada dasarnya ada dua jenis bid'ah atau ibtida'. Yang pertama bid'ah bi ziyadah, yakni menambah-nambah apa yang tak diajarkan. Kedua, bid'ah bi nuqshan, yakni mengurang-ngurangi apa yang diajarkan.

Daripada kita mencari kesalahan pihak lain, lebih baik kita bertanya, "Jangan-jangan kita tanpa sadar melakukan ibtida' bi nuqshan?" Misalnya, ajaran jihad yang demikian sentral dalam Alquran maupun sunah Nabi cenderung kita lupakan?

Keempat, posisi yang diambil Muhammadiyah, cukup jelas dan mantap, seperti dijelaskan dalam Alquran. Ada yang berpegang teguh pada kalimah thayyibah sehingga memunculkan syajarah thayyibah yang memberi manfaat ke alam sekitarnya sepanjang masa dengan izin Tuhannya. Ada pula yang berpegang pada kalimah khabitsah dan melahirkan syajarah khabitsah, bagaikan pohon buruk yang tumbang menjadi penghalang kebaikan.

Kelima, Alquran memberi petunjuk bahwa kaum Muslim harus memerangi kaum musyrikin secara kaaffah/ (menyeluruh, totalitas) sebagaimana mereka memerangi kaum Muslim secara kafah (at-Taubah: 36). Perintah Alquran agar kita menghadapi serbuan kaum musyrikin secara kafah itu dalam konteks perang yang sedang berjalan.

Jangan disalahpahami, seolah-olah kita harus menyerbu kaum musyrikin dalam keadaan damai, tanpa sebab, sehingga kita disuruh Alquran membuat gara-gara. Sangat jauh dari hal itu. Yang penting kita pahami, geliat dan postur yang diambil kaum musyrikin itu harus kita wapadai supaya kita tidak mudah terkejut karena tak membaca langkah mereka yang sama sekali tidak pernah kenal lelah.

Hanya ada lima kata kafah dalam Alquran dan ada dua kata itu dalam satu ayat. Dari petunjuk Alquran ini, bahwa orang-orang musyrik dalam arti luas menggunakan totalitas kemampuan mereka untuk meredupkan cahaya Allah. Musuh-musuh kebenaran, sejak dulu sampai kapan pun, akan secara total menggunakan organisasi, koordinasi yang rapi, dan pembagian kerja untuk melemahkan kaum pendukung kebenaran dan keadilan.

Keenam, mengingat masalah dakwah terus bergerak makin kompleks, semakin mendesak perlunya think tank atau semacam pusat pemikiran yang dilembagakan, apakah di bawah Majelis Tarjih dan Tajdid atau berdiri sendiri. Tugasnya menyiapkan pemikiran yang relatif solid dan meyakinkan, tentu lewat proses R&D agar Muhammadiyah bukan saja memiliki kemampuan anticipation of change, tapi juga management of change.

Kita bersyukur pada Allah makin banyak barisan intelektual muda dan ulama muda yang dapat dikerahkan untuk keperluan penajaman pemikiran dan doktrin perjuangan Muhammadiyah. Kita juga dapat mengajak intelektual dan ulama dari kalangan UII (Ummat Islam Indonesia) yang lain.

Ketujuh, kita menghadapi sumber informasi yang tak seimbang karena informasi yang kita hadapi setiap hari berjalan searah, yaitu dari pihak yang kuat menyasar ke pihak lemah. Kuat dalam arti kemampuan finansial, kecanggihan jaringan, dan konsistensi pencapaian target atau tujuan, serta seni manipulatif yang cukup halus dan bergerak perlahan, tapi pasti. Dalam peperangan informasi, dunia Islam banyak tersudut.

Bila kita tidak kritis menyaring informasi, bukan mustahil kita akan menari-nari sesuai gendang orang lain. Pergeseran opini yang kita alami bisa bergerak sejengkal demi sejengkal, tapi akhirnya kita terseret jauh tanpa disadari. Untuk menghindari ini, berhenti menari mengikuti gendang orang lain. Kita harus waspada, cerdas, dan paham, ke arah mana lagu yang ditabuh pihak lain.

Kedelapan, hubungan sedikit pelik yang akan selalu bersama Muhammadiyah adalah dengan pemerintah. Pada masing-masing zaman, hubungan itu bisa berbeda dalam nuansa, bahkan posisi. Tetapi, satu hal yang jelas, keduanya saling membutuhkan.

Ada ratusan ribu murid dan mahasiswa ditampung dan dididik di ribuan SD, SMP, dan SLTA serta ratusan perguruan tinggi Muhammadiyah. Setiap hari ada ribuan anggota masyarakat yang sakit pergi ke rumah sakit atau klinik Muhammadiyah. Dan, ada ribuan anak yatim piatu yang diasuh di ratusan panti asuh yatim Muhammadiyah dan 'Aisyiyah, dididik, disantuni secara sangat manusiawi hingga berangkat dewasa.

Muhammadiyah telah membantu meringankan tugas konstitusional pemerintah atau negara. Sebaliknya, Muhammadiyah juga tetap memerlukan bantuan pemerintah. Dalam pendidikan, hampir seluruh sekolah dan perguruan tinggi Muhammadiyah/ 'Aisyiyah masih perlu akreditasi pemerintah.

Kesembilan, sedikit mau'idhah hasanah atau saling wasiat (QS al-'Asr: 1-3) saya sampaikan untuk kebaikan persyarikatan kita pada masa datang. Pada masa silam, persyarikatan pernah mencoba meretas usaha ekonomi. Kita akuisisi sebuah bank dengan proses kurang teliti.

Ternyata, bank yang kita akuisisi lewat pembagian saham baru yang bernama Bank Persyarikatan Indonesia (BPI) menjadi bank bermasalah. Hampir saja bank bermasalah itu menyeret Muhammadiyah ke persoalan berat, tapi Allah masih berkenan menolong Muhammadiyah sehingga kita lolos dari kemelut.

Kesepuluh, apresiasi dibarengi rasa syukur dan harapan dibarengi doa. Satu langkah cerdas Mas Din Syamsuddin adalah Jihad Konstitusi. Jihad Konstitusi ini autentik dan orisinal dari Din.

Ditinjau dari sudut pandang agama ataupun asas manfaat, jihad ini sungguh tepat dan efektif. Muhammadiyah di bawah kepemimpinan Din mencatat ada 100 UU yang dianggap melenceng dari UUD. Muhammadiyah berjuang untuk meluruskannya lewat gugatan Mahkamah Konstitusi (MK).

Sudah ada 4 UU yang dibatalkan karena bertentangan dengan UUD 1945 dan menyengsarakan rakyat Indonesia. Dua di antaranya UU No 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air dan UU No 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi. Dua UU ini lebih membela kepentingan asing daripada kepentingan bangsa sendiri.

Akhirnya saya berharap, Muhammadiyah yang sekarang lebih baik dari Muhammadiyah masa silam dan Muhammadiyah masa depan akan lebih baik dari Muhammadiyah sekarang. Muhammadiyah adalah kumpulan hamba Allah yang beriman yang berpegang teguh pada hukum Allah dan menjauhi hukum jahiliyyah.

Mari, kita terus meningkatkan tahlilan kita pada tiga level. Tahlilan bil qalbi (dengan hati), tahlilan bil lisan (dengan ucapan), dan lebih penting lagi tahlilan bil arkan (dengan anggota badan) dalam wujud amal saleh. Yang terakhir ini paling penting karena dengan menjalankan amal saleh tanpa henti, kita insya Allah dapat masuk golongan as-shalihin. Amin.

sumber: republika.co.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar