Pembelajaran Aktif melalui Visualisasi dan Multimedia

Diterjemahkan dari : Active Learning and Its Implementasion for Teaching, by Moti Frank (Holon Institute of Technology, Israel)

Oleh : Reza Ervani

Bismilahirrahmanirrahiim



Istilah multimedia merujuk pada kombinasi dari beragam sumber teknis yang digunakan untuk tujuan menyampaikan informasi dengan merepresentasikannya pada beragam format yang bisa ditangkap beragam alat indera (Schnotz & Lowe, 2003)

Karenanya, sumber-sumber multimedia dapat dianggap memiliki tiga level yang berbeda :

  • Level Teknis (misalnya : Komputer, Jaringan, Tampilan, dll)
  • Level Semiotik, merujuk pada format representasinya (Teks, Gambar, Suara dll)
  • Level Sensori/Penginderaan (misalnya : Visual atau Auditori)

Disini kita akan menghubungkan utamanya pada level penginderaan dan semiotik.

Kebanyakan pendidik berasumsi bahwa membuat sebuah lingkungan pembelajaran yang memiliki efek visual dan auditori seperti animasi dan video sudahlah cukup untuk menghasilkan proses kognitif dan membangun struktur pengetahuan terelaborasi.

Padahal, dalam banyak penelitian, ditemukan bahwa penggunaan efek visual dan auditori tidak cukup untuk meningkatkan pembelajaran sehingga karenanya penggunaan teknologi sendiri tidaklah menjamin kesuksesan pembelajaran.

Untuk mencapai peningkatan proses pembelajaran, seorang instruktur mestilah merencanakan secara benar informasi apa yang akan disampaikan dan dilakukan pada aspek sensori dan semiotik.

Ilustrasi : Efek pada Pembelajaran

Dalam serangkaian eksperimen laboratorium, Mayer (2003) meneliti kondisi apa penambahan ilustrasi baik dalam bentuk tulisan maupun vokal teks bisa memberikan makna berarti pada pembelajaran.

Ditemukan bahwa seseorang belajar lebih baik :

  • Dari kata-kata dan gambar, dibandingkan dengan kata-kata saja.
  • Ketika materi tambahan ditempatkan terpisah, bukan disertakan dalam materi utama
  • Ketika kalimat keterangan ditempatkan dekat dengan gambar, bukan terpisah
  • Ketika kata-kata ditampilkan dalam bentuk percakapan, bukan dalam bentuk formal

Penjelasan yang mungkin untuk penemuan ini adalah bahwa pembelajaran lebih bermakna ketika informasi diserap via dua saluran – auditori dan visual, ketika seseorang memberikan perhatian yang sama tingginya pada kalimat dan gambar, dan ketika mereka mengintegrasikan representasi verbal dengan representasi virtual.

Penelitian lab yang lain (Shcnot & Bannert, 2003) menemukan bahwa penyertaan grafis tidak selalu menguntungkan dalam akuisisi pengetahuan.

Penggunaan grafis yang tepat dapat mendukung pembelajaran, sementara penggunaan grafis yang tidak tepat dapat mengganggu konstruksi model mental.

Gambar-gambar dapat memfasilitasi pembelajaran hanya jika pembelajar memiliki pengetahuan yang minim dan jika materi divisualisasikan dengan cara yang tepat.

Jika seorang pembaca yang baik dengan pengetahuan yang bagus mendapati teks dengan gambar yang disampaikan dengan cara yang tidak tepat, maka gambar-gambar tersebut akan tumpang tindih dengan konstruksi model mental.

Para peneliti dibelakang riset ini menyimpulkan bahwa struktur grafis mempengaruhi struktur model mental. Dalam perancangan materi instruksional yang menyertakan teks dan gambar, bentuk visualisasi yang digunakan pada suatu gambar mestilah dipertimbangkan dengan sangat seksama.

Animasi : Efeknya pada Pembelajaran

Animasi adalah penggambaran dinamis yang dapat digunakan untuk membuat proses perubahan menjadi jelas bagi pembelajar (Schnotz & Lowe, 2003).

Banyak pendidik yang percaya bahwa animasi adalah perangkat yang superior dibandingkan ilustrasi statik untuk pembelajaran aktif.

Untuk memahami situasi dinamis yang secara eksternal direpresentasikan oleh suatu grafik statik, pembelajar mestilah pertama-tama membangun sebuah gambaran model dinamis dari suatu informasi statik yang diberikan. Sebaliknya, animasi menawarkan kepada pembelajar suatu representasi dinamis yang jelas dari sebuah keadaan/situasi.

Di sisi lain, sifat sementara (transitory) dari tampilan dinamis dapat menyebabkan beban kognitif lebih tinggi, dikarenakan pembelajar memiliki kendali yang lebih rendah pada kecepatan pemrosesan informasi mereka.

Lowe (2003) dan Lewalter (2003) menunjukkan bahwa sekedar memberikan pembelajar informasi dinamis dalam bentuk yang jelas/eksplisit tidak selalu menghasilkan pembelajaran yang lebih baik.

Eksperimen yang melibatkan pelajar fisika, dilakukan oleh Lewalter (2003), menyelidiki efek penggunaan visual statik atau dinamik dalam suatu tampilan teks terhadap outcome pembelajaran. Dia menemukan bahwa, baik penambahan animasi maupun ilustrasi statis dapat menghasilkan pembelajaran yang lebih baik. Dia tidak menemukan perbedaan antara penggunaan animasi dan ilustrasi statik dalam hal akuisisi pengetahuan tentang fakta-fakta tertentu. Dia juga menemukan hanya ada sedikit perbedaan yang kurang berarti berkaitan dengan pemahaman pengetahuan di kelompok pengguna animasi.

Kozma (2003) menemukan bahwa terkait penggunaan representasi semacam animasi dan potongan-potongan video eksperimen laboratorium kimia, membuat seorang ahli kimia dapat menggali informasi lebih banyak, tapi tidak bagi seorang pembelajar kimia pemula.

Lowe (2003) mendapati bahwa presentasi yang gamblang tentang suatu aspek dinamis dalam suatu konten di lingkungan pembelajaran berbasis/berorientasi multimedia tidak selalu memberikan dampak positif bagi pembelajaran. Dalam banyak kasus, penggunaan tampilan statis yang menyertakan tanda-tanda konvensional untuk gerakan, seperti tanda panah, atau penggunaan serangkaian gambar, sudah cukup untuk pembelajaran.

Sebagai kesimpulan, penggunaan animasi, visualisasi, eksperimen virtual dalam suatu pembelajaran aktif tidak menjamin efek positif pada pembelajaran. Guna meningkatkan pembelajaran, pendidik/instruktur mestilah memiliki rencana penggunaan gambar-gambar dan animasi berdasarkan prinsip-prinsip berikut :

  1. Siswa belajar lebih banyak dari gambar-gambar dan kata-kata, dibandingkan dengan kata-kata saja
  2. Gambar hanya memfasilitasi pembelajaran jika pembelajar memiliki pengetahuan yang sedikit dan jika subjek terkait divisualisasikan dengan cara yang tepat.
  3. Animasi menjadi lebih efektif jika pembelajar dapat mengendalikan kecepatan dan arahnya, tapi walaupun ada suatu animasi yang memungkinkan kendali penuh bagi pengguna, penyertaan lebih banyak dukungan dan panduan mestilah dipertimbangkan jika ingin difungsikan sebagai perangkat yang efektif bagi pembelajaran.
  4. Lebih jauh, ketika mengajarkan sains, tidaklah cukup untuk menampilkan eksperimen virtual. Pelajar mestilah berpartisipasi dalam sebuah eksperimen langsung.

Referensi

  • Schnotz, W., & Lowe, R. (2003) Introduction. Learning and Instruction: The Journal of the European Association for Research on Learning and Instruction, 13(2), 117-124.
  • Mayer, R. E. (2003). The promise of multimedia learning: using the same instructional design methods across different media. Learning and Instruction: The Journal of the European Association for Research on Learning and Instruction, 13(2), 125-140.
  • Schnotz, W., & Bannert, M. (2003). Construction and interference in learning from multiple representations. Learning and Instruction: The Journal of the European Association for Research on Learning and Instruction, 13(2), 141-156.
  • Kozma, R. (2003). The material features of multiple representations and their cognitive and social affordances for science understanding. Learning and Instruction: The Journal of the European Association for Research on Learning and Instruction, 13(2), 205-226.
  • Lewalter, D. (2003). Cognitive strategies for learning from static and dynamic visuals. Learning and Instruction: The Journal of the European Association for Research on Learning and Instruction, 13(2), 177-190.
  • Lowe, R. K. (2003). Animation and learning: Selective processing of information in dynamic graphics. Learning and Instruction: The Journal of the European Association for Research on Learning and Instruction, 13(2), 157-176.
  • Schnotz, W., & Lowe, R. (2003) Introduction. Learning and Instruction: The Journal of the European Association for Research on Learning and Instruction, 13(2), 117-124.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar