E-Learning (Sebuah Harapan dan Tantangan)

Dewasa ini sistem pembelajaran tradisional yang terlalu berpusat pada kegiatan guru mulai ditinggalkan. Proses pembelajaran akan berhasil dengan baik, jika terdapat komunikasi yang baik antara murid, guru, dan lingkungan belajar mereka. Proses pembelajaran yang baik adalah proses belajar yang memberikan makna bagi peserta didik. Dan yang lebih penting lagi, bahwa proses belajar tersebut harus menyenangkan bagi siswa. Maksud dari pengertian menyenangkan di sini adalah bukan berarti proses pembelajaran yang berlangsung dengan santai, guru memberikan nilai yang baik (tidak sesuai dengan penguasaan kompetensi belajar siswa), guru tidak pernah memberikan tugas, guru jarang masuk, disiplin yang longgar, dan sebagainya, yang itu semua mendorong siswa untuk malas belajar. Akan tetapi yang dimaksud menyenangkan dalam pengertian ini adalah proses belajar, di mana guru dapat memberikan variasi model pembelajaran yang menarik, menggunakan media pembelajaran yang menarik, serta mengelola proses pembelajaran dengan baik, sehingga siswa merasa senang, dan dengan penuh kesadaran siswa akan belajar dan menyelesaikan tugas-tugas mereka dengan senang hati. Model pembelajaran yang demikian seringkali dikenal dengan pembelajaran ”PAKEM” (Pembelajaran Aktif, Kreatif dan menyenangkan).

Salah satu bentuk sarana pembelajaran yang dapat membuat anak aktif belajar adalah dengan E-learning. Dengan E-learning ini anak dapat belajar dengan tidak terikat pada ruang dan waktu. Anak akan dapat belajar kapan saja, tidak terikat pada kegiatan pembelajaran di dalam kelas. Dengan E-learning kegiatan belajar siswa akan sangat menyenangkan, sebab dengan proses pembelajaran berbasis komputer ini disajikan materi pembelajaran yang interaktif. Siswa dapat memilih sendiri materi pembelajaran yang diperlukan, sehingga pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran dapat ditingkatkan.

Memang E-learning memberikan harapan besar pada peningkatan mutu pendidikan di Indonesia, akan tetapi bukan berarti proses pembelajaran dengan E-learning mudah untuk dilaksanakan. Sistem pembelajaran seperti ini akan dapat dilaksanakan di kota-kota, di mana semua fasilitas pendidikan dan dukungan dari orang tua sangat memadai. Sebaliknya di daerah pedesaan apalagi di daerah pelosok, E-learning akan sulit sekali di laksanakan. Kita benar-benar memahami bahwa di daerah pelosok belum banyak tersentuk oleh teknologi, khususnya teknologi di bidang pendidikan. Kita masih sangat kesulitan untuk mendapatkan materi-materi pembelajaran berbasis E-learning, apalagi untuk mengakses internet. Bahkan di daerah-daerah yang jauh dari kota hal tersebut merupakan kemustahilan. Jangankan mengakses internet. Bentuk dari komputer saja masih banyak yang asing.

Kondisi tersebut masih diperparah dengan ketersediaan sumber daya pendidik, yang sebagian besar masih dikategorikan ”gaptek”. Sebagian besar tenaga pendidik kita masih belum siap untuk melaksanakan E-learning ini. Jangankan mengakses internet. Mengoperasionalkan komputer saja masih banyak yang belum mampu.

Dari uraian di atas jelaslah bahwa E-learning itu merupakan kebutuhan yang memberikan harapan besar pada peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia, tetapi untuk melaksanakan E-learning dibutuhkan perjuangan yang besar, baik dalam hal penyediaan sarana/prasarana penunjang maupun kesiapan sumber daya manusianya.

Sebuah Harapan

Pada umumnya banyak orang tua yang merasa khawatir karena anaknya telah kehilangan motivasi dalam belajarnya. Apalagi pada era globalisasi seperti sekarang ini, jenis permainan yang menarik sangat banyak diproduksi. Sehingga anak kehilangan perhatian pada pelajaran, karena dalam pikirannya masih teringat permainan yang baru selesai dimainkannya. Jenis permainan yang dimainkan anak-anak pada masa kini sudah sangat modern. Tidak sedikit anak-anak yang masih kecil sudah dapat mengoperasikan alat-alat teknologi canggih, seperti komputer, handphone, dan lain-lain. Bahkan sering terjadi orang tuanya tidak mampu mengoperasi alat tersebut dibandingkan anaknya. Sebenarnya keadaan ini menunjukkan kemajuan anak-anak bangsa kita, hanya tinggal bagaimana kita mengarahkan permainan teknologi tersebut menjadi sesuatu bermanfaat manfaatnya dan berfungsi banyak dalam pendidikan.

Perkembangan teknologi pada era globalisasi saat ini telah memberikan pengaruh yang signifikan terhadap dunia pendidikan. Model pembelajaran konvensional yang banyak mewarnai pembelajaran di Indonesia, dirasakan masih terdapat kekurangan, baik dalam proses pembelajaran maupun hasil belajarnya. Selain model pembelajaran konvensional masih berpusat pada guru, juga model pembelajaran ini belum dapat melayani peserta didik sesuai dengan kebutuhan masing-masing, karena proses pembelajarannya yang dilakukan di ruang kelas dalam jangka waktu tertentu.

Model pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi belajar anak dengan memanfaatkan teknologi adalah melalui e-learning (pembelajaran elektronik). E-learning adalah pembelajaran yang relatif baru di Indonesia, oleh karena itu belum begitu banyak dimanfaatkan oleh masyarakat, selain memang membutuhkan infrastruktur yang relatif masih mahal.

E-learning (electronic learning) adalah pembelajaran baik secara formal maupun informal yang dilakukan melalui media elektronik, seperti internet, intranet, CD-ROM, video tape, DVD, TV, handphone, PDA, dan lain-lain (Lende, 2004). Akan tetapi, dalam e-lear­ning pembelajaran yang lebih dominan menggunakan internet (berbasis web).

Dengan e-learning, siswa dapat belajar di mana saja dan kapan saja tanpa hadirnya guru di dekat mereka. Misalnya e-learning menggunakan CD-ROM (multimedia), siswa dapat membuka pelajaran tersebut kembali di rumah dan dapat belajar sendiri. Mengapa demikian? Dalam multimedia, pelajaran dapat dipelajari sendiri karena terdapat feedback dan dilengkapi animasi yang cukup menarik. Sehingga siswa akan termotivasi dalam belajarnya karena penyajiannya yang seperti permainan. Selain itu, sesuatu hal yang baru biasanya membuat seseorang lebih tertarik untuk mengetahui dan mencobanya. Apalagi dengan kemajuan teknologi, siswa akan merasa tertantang untuk mampu menggunakannya.

Begitu pula e-learning berbasis web, guru dapat memberikan materi pelajarannya lewat sarana internet yang dapat diakses oleh siswa setiap saat dan di mana saja. Siswa juga tidak perlu harus selalu belajar di kelas untuk mendapatkan informasi mengenai materi yang ingin diperolehnya. Bahkan, siswa dapat mengembangkan proses belajarnya dengan mencari referensi dan informasi dari sumber lain, sehingga wawasan siswa menjadi berkembang.

Kemampuan akses ke internet tidak hanya didasarkan kemampuan memiliki komputer yang dapat memasuki jaringan internet, melainkan juga dibutuhkan keterampilan menjelajah dunia maya tersebut dalam rangka memperoleh informasi yang dibutuhkan. Apabila seseorang tidak memiliki keterampilan menjelajah internet maka ia akan mengeluarkan dana yang cukup besar dan waktu yang lama untuk memperoleh situs informasi yang dibutuhkan. Pada posisi inilah e-learning berfungsi mendekatkan seseorang dengan sumber informasi yang diperlukan.

Setidaknya ada tiga fungsi e-learning terhadap kegiatan pembelajaran di dalam kelas (classroom instruction), yaitu: (1) sebagai tambahan (suplemen) yang sifatnya pilihan (opsional); tidak ada kewajiban bagi peserta didik untuk mengakses materi e-learning. Sekalipun sifatnya opsional, peserta didik yang memanfaatkannya tentu akan memiliki tambahan pengetahuan atau wawasan. (2) pelengkap (complement); materi e-learning diprogramkan untuk menjadi materi reinforcement (pengayaan) atau remedial bagi peserta didik di dalam mengikuti kegiatan pembelajaran konvensional. (3) pengganti (substitusi); e-learning sebagai alternatif model pembelajaran.

Pemanfaatan e-learning berpengaruh terhadap tugas guru dalam proses pembelajaran. Dahulu, proses pembelajaran didominasi oleh peran guru, karena itu disebut the era of teacher. Kini, proses pembelajaran banyak didominasi oleh peran guru dan buku (the era of teacher and book). Di masa mendatang proses pembelajaran akan didominasi oleh peran guru, buku, dan teknologi (the era of teacher, book, and technology).

Indonesia yang luas dan terdiri dari beberapa pulau, mengakibatkan terjadinya kesenjangan kesempatan memperoleh pendidikan untuk masyarakat yang ingin belajar. Peran e-learning sangat sesuai dengan kondisi geografis kita seperti ini. Dengan berkembangnya teknologi informasi, kita dapat mengambil manfaat dari teknologi tersebut dalam menciptakan pembelajaran yang berkualitas, efektif, dan efisien.

Dengan kegiatan e-learning terutama melalui internet, dimungkinkan berkembangnya fleksibilitas belajar yang tinggi. Artinya, peserta didik dapat mengakses bahan-bahan belajar setiap saat dan berulang-ulang. Peserta didik juga dapat berkomunikasi dengan pendidik setiap saat. Dengan kondisi yang demikian ini, peserta didik dapat lebih memantapkan penguasaannya terhadap materi pembelajaran.

Dengan adanya kegiatan e-learning, beberapa manfaat yang diperoleh guru/dosen antara lain adalah bahwa guru/dosen dapat lebih mudah melakukan pemutakhiran bahan-bahan belajar yang menjadi tanggung jawabnya sesuai dengan tuntutan perkembangan keilmuan yang terjadi; mengembangkan diri atau melakukan penelitian guna peningkatan wawasannya karena waktu luang yang dimiliki relatif lebih banyak.

Walaupun demikian, pemanfaatan internet atau e-learning juga tidak terlepas dari berbagai kekurangan dan berbagai kritik, antara lain: kurangnya interaksi secara psikologis antara guru dan siswa, atau bahkan antarsiswa itu sendiri. Hal ini bisa memperlambat terbentuknya values dalam proses pembelajaran. Selain itu, tidak semua tempat tersedia fasilitas internet; kurangnya mereka yang mengetahui dan memiliki keterampilan mengenai komputer dan internet.

Akan tetapi, kita harus berani untuk memulainya, karena setiap perubahan atau inovasi selalu ada kelebihan dan kekurangannya. Banyak pihak yang berpendapat bahwa pembelajaran e-learning sebagai cara belajar baru yang cukup menjanjikan untuk orang belajar sendiri, mandiri, tidak terbatas oleh jarak, ruang, dan waktu. Pelaksanaan pembelajaran ini menuntut profesionalisme yang tinggi dari berbagai pihak penyelenggaranya. Oleh karena itu, perlu dipersiapkan sumber daya manusia, baik penyelenggara maupun instruktur pembelajaran yang mempunyai kemampuan yang cukup memadai.

Agar e-learning ini dapat memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap pembelajaran dengan kondisi masyarakat kita, sebaiknya e-learning ini dilakukan secara bertahap, dari mulai e-learning sebagai suplemen sampai pada e-learning sebagai substitusi. Di Indonesia, memang e-learning baru sesuai sebagai suplemen karena banyak faktor yang berpengaruh, terutama e-learning masih relatif baru. Selain itu, perlu dipikirkan mengenai evaluasi pembelajaran dengan cara e-learning yang dapat mengukur hasil belajar peserta didik dengan baik, walaupun masih terjadi diskusi akademik yang intensif dalam hal evaluasi pembelajaran ini.

Tantangan

Seperti diungkapkan di atas, bahwa pelaksanaan e-learning tidaklah mudah. Banyak sekali faktor penghambat bagi pelaksanaan e-learning ini. Terutama di daerah pedesaan, hambatan-hambatan dalam pelaksanaan e-learning adalah sebagai berikut:

1. Kesiapan Tenaga Pengajar

Dalam pelaksanaan e-learning ini menuntut guru untuk dapat mengoperasionalkan berbagai bentuk media pembelajaran elektronik, seperti misalnya, VCD, komputer, internet, dan sebagainya. Akan tetapi tampaknya sebagian besar guru masih mengalami hambatan dalam mengoperasionalkan alat-alat tersebut, terutama mengoperasionalkan komputer. Padahal dalam pembelajaran berbasis e-learning ini guru dituntut untuk dapat mengoperasionalkan komputer, membuat bahan-bahan ajar berbasis komputer yang bersifat interaktif, misalnya dengan menggunakan powerpoint, flash, dan mengakses internet. Akan tetapi komptensi dalam menggunakan media pembelajaran elektronik terutaman pemanfaatan komputer dan internet ternyata masih jauh dari yang diharapkan. Dengan kata lain sebagian besar tenaga pengajar belum siap untuk menerapkan e-learning secara utuh. Walaupun dengan e-learning siswa dapat belajar tanpa kehadiran seorang guru, akan tetapi peran guru tetaplah sangat penting. Gurulah yang memimpin proses pembelajaran.

2. Kesiapan dan Motivasi Siswa

Dalam pembelajaran berbasis e-learning ini, siswa sebagai pelaku utama dalam proses pembelajaran diharapkan memiliki motivasi dan kemampuan dasar yang cukup dalam kegiatan pembelajaran. Kondisi geografis, dan sosial ekonomi siswa yang berada di daerah pegunungan, menjadikan motivasi dan kemampuan dasar siswa dalam penggunaan alat-alat yang berkaitan dengan e-learning sangat bervariasi. Siswa yang berada di lingkungan sekitar sekolah mungkin masih mempunyai motivasi yang besar dan kemampuan awal dalam mengoperasionalkan alat-alat ekeltronik yang lumayan. Akan tetapi bagi siswa yang tempat tinggalnya jauh dari sekolah, ditambah dengan kondisi sosial ekonomi yang kurang mendukung mengakibatkan sebagian besar siswa masih sangat ketinggalan dalam hal pengunaan alat-alat teknologi informasi dan komunikasi, misalnya komputer dan internet.

3. Dukungan Orang Tua

Wilayah Kecamatan Punung dapat dikategorikan berada di daerah pedesaan, bahkan lebih tepat dikatakan berada pada daerah pegunungan. Akan tetapi sebenarnya orang tua siswa memiliki kepedulian yang sangat besar dalam hal pendidikan anak-anak mereka. Akan tetapi kondisi sosial ekonomi yang beraneka ragam, maka dukungan orang tua terhadap sistem pembelajaran seperti ini juga masih kurang. Ini terbukti sebagian besar siswa masih sangat tergantung dengan alat-alat pembelajaran elektronik yang disediakan di sekolah. Mereka rata-rata belum dapat menggunakan alat-alat pembelajaran elektronik di luar sekolah. Di lain pihak, kondisi daerah yang jauh dari pusat kota, juga belum banyak penyedia jasa-jasa layanan teknologi informasi dan komunikasi, misalnya Warnet. Dengan kondisi ini anak akan kesulitan jika mendapatkan tugas untuk mencari sumber-sumber belajar yang disediakan oleh internet.

4. Ketersediaan Sarana dan Prasarana

Diakui atau tidak, sebagan besar sekolah terutama yang berada di daerah pedesaan belum tersedia jasa layanan internet, terkecuali untuk sekolah-sekolah yang “nekat” untuk menyediakan jasa layanan tersebut. Jauhnya sekolah ini dari pusat kota mengakibatkan jangkauan telekomunikasi yang sangat terbatas, sehingga penggunaan internet masih dalam tataran yang sangat terbatas. Itulah sebabnya para guru dan siswa sebagian besar belum dapat menggunakan jasa internet ini sebagai media pembelajaran. Selain masih rendahnya penggunaan internet dalam proses pembelajaran, juga kurang didukung oleh teknisi yang baik. Sekolah kebayakan belum memiliki teknisi dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi yang profesional. Itulah sebabnya jika terdapat kesulitan dan kerusakan masih sangat tergantung pada teknisi dari luar.

sumber: edyhr.wordpress.com

1 komentar: