Menengok Warung Sodaqoh untuk Fakir Miskin dan Kaum Dhuafa di Alun-Alun Kota Pekalongan


Anggapan bahwa tidak ada yang gratis di zaman serba mahal saat ini, ternyata salah. Buktinya, di Kota Pekalongan, tepatnya di kawasan Alun-alun, sejak sekitar 10 hari terakhir berdiri sebuah tempat makan sederhana bernama’Warung Sodaqoh’. Warung ini khusus untuk fakir miskin dan kaum dhuafa yang ingin makan. Seperti apa?

SESUAI namanya, warung itu memang diperuntukkan bagi mereka orang-orang yang tidak mampu. Namun, siapapun boleh ikut makan di situ. Tidak akan dipungut bayaran sama sekali. Maka, bagi siapa saja yang merasa lapar, ingin makan tetapi tidak punya uang, bisa mampir ke warung yang buka setiap hari, sejak pukul 06.00 sampai 09.00 itu. Lokasi tepatnya berada di sisi timur Alun-Alun Kota Pekalongan.

Sebuah 'Warung Sodaqoh' khusus untuk fakir miskin dan kaum dhuafa sejak sekitar dua minggu ini berdiri di salah satu sisi Alun-Alun Kota Pekalongan. Warung ini melayani para warga, terutama dari golongan tidak mampu, untuk menikmati makanan dengan harga super murah bahkan gratis.

Sekilas, warung itu tak beda dengan warung makan lainnya. Namun bentuknya sangat sederhana. Dipayungi selembar terpal berwarna biru, dengan tiang penyangga terbuat dari batang-batang bambu. Yang cukup mencolok adalah, adanya tulisan merah pada selembar kain putih, yang juga digunakan sebagai tabir untuk menutupi ‘para pembeli’ yang makan di situ. Kain itu dipasang di sisi luar sebelah timur, menghadap ke pusat perbelanjaan di situ.

Tulisannya sangat jelas, ditulis dengan huruf balok. Bunyinya: “Warung Sodaqoh. Khusus untuk Fakir Miskin & Kaum Dhuafa”. Selembar kain dengan tulisan yang sama juga dipasang di sisi satunya, namun menghadap ke dalam warung.

Adapun menu makanan yang disajikan, cukup beragam. Seperti nasi megono, opor ayam, telur ceplok, sayur lodeh, telur bacem, sampai rendang daging. Semuanya diletakkan di atas meja panjang yang ada di situ. ‘Para pembeli’, atau lebih tepatnya, warga-warga yang kurang mampu yang menikmati makanan di situ, bebas memilih menu apa saja yang tersedia. Juga, memesan minum teh hangat ataupun es teh.

Setiap hari, ada lebih dari lima orang yang akan melayani warga yang akan makan di situ dengan sepenuh hati. Sedangkan para pelanggannya, berlatarbelakang dari berbagai macam profesi. Namun sebagian besar adalah golongan tidak mampu. Mereka diantaranya, para tukang becak, kuli panggul, pengemis, dan sebagainya.

Salah satu warga yang menikmati pelayanan makanan gratis di warung tersebut adalah Slamet Riyadi (32), warga Kelurahan Poncol, Pekalongan Timur. Pria yang sehari-harinya berprofesi sebagai tukang becak ini, Kamis (13/2) pagi datang bersama sang istri, Fatonah, dan seorang anaknya yang masih berusia 8 bulan. Slamet sengaja datang ke situ untuk menikmati sarapan, sembari mengajak jalan-jalan sang istri dan anaknya. “Alhamdulillah, kok ya ada warung seperti ini. Ini sangat membantu orang-orang seperti kami ini yang kurang mampu, supaya bisa makan. Menunya juga cukup enak,” ujarnya.

Slamet mengaku, dirinya mengetahui keberadaan warung tersebut sejak empat hari lalu. Saat itu, ungkap dia, kebetulan dia hendak berangkat menarik becak di kawasan alun-alun, sembari mencari penumpang. “Saya pas kebetulan lewat, kok lihat ada warung tulisannya warung sodaqoh untuk fakir miskin. Akhirnya saya mencoba makan di sini. Ternyata memang gratis, tidak ditarik biaya,” ungkapnya.

Hamba Allah

Lantas, siapakah sosok dermawan yang punya inisiatif untuk membuka warung khusus untuk warga miskin seperti itu? Ternyata, sang dermawan tersebut menolak untuk disebutkan namanya. Seperti yang disampaikan Karmin (30), warga Noyontaan, Pekalongan Timur, yang diberi amanah untuk melayani para warga yang akan makan di situ. “Beliau berpesan, kalau ada yang tanya, bilang saja dari hamba Allah,” ujarnya.

Setiap hari, sejak pagi hari pukul 06.00 sampai 09.00, Karmin dan beberapa orang lainnya bersama-sama diberi tugas untuk membuka warung tersebut. Selain Karmin, ada lagi beberapa orang, seperti Topan, Lilis, Mila, Amel, dan lainnya, bekerja sebagai ‘relawan sosial’ di warung tersebut. “Ada sekitar delapan orang yang tiap hari menjaga warung ini. Beberapa dari kami juga ada yang bertugas belanja, memasak, memasang tenda, menghidangkan ke warga, mencuci gelas dan piring, sampai membongkar warung setelah selesai. Ini sudah kita lakukan sejak sekitar dua minggu lalu,” imbuh Topan.

Mereka membenarkan bahwa siapapun yang menikmati makanan di situ tidak akan ditarik bayaran. “Kalau tidak punya uang, tidak usah bayar. Kalau misal, punya uang sedikit, silakan kalau mau bersodaqoh. Berapa saja. Apakah itu seribu rupiah, atau berapapun. Tapi rata-rata, uang yang disedekahkan di sini sekitar seribu sampai dua ribu rupiah,” tambahnya.

Untuk menampung uang sedekah itu, sudah disediakan sebuah tempat terbuat dari plastik yang ditaruh di atas meja. Tempat sedekah itu transparan dan tidak diberi tutup. Sehingga, berapapun uang yang disedekahkan akan bisa dilihat oleh siapa saja yang berada di warung itu.

Dikatakan, setiap hari jumlah sedekah yang didapat berkisar antara Rp 90 ribu sampai Rp 120 ribu. Tergantung dari berapa banyak orang yang memberikan sedekahnya setelah makan di situ. Hasil dari sedekah itu, sementara ini dipakai untuk tambahan belanja bahan makanan yang akan dimasak.

Namun, tandas Karmin, jumlah uang sedekah yang didapat itu masih jauh di bawah uang dari si dermawan yang dibelanjakan untuk keperluan warung tersebut setiap hari.

Ia mengungkapkan, setiap hari, ia dan rekan-rekannya berbelanja beberapa bahan-bahan makanan sampai Rp 650 ribu. Itu hanya untuk belanja saja.

Uang itu antara lain untuk membeli 15 kilogram beras, 8 kg telur ayam, 4 sampai 5 kg daging ayam, beberapa kilo daging sapi, dan bahan-bahan lainnya.

Setiap hari, ungkapnya, jumlah orang yang datang untuk makan di warung tersebut bervariasi. Sehingga, terkadang dalam tempo dua jam, masakan yang disajikan sudah habis. “Bahkan kalau hari Minggu, setengah jam sudah habis,” ungkapnya.

Ditambahkan, setiap pagi, warung itu akan ditutup sekitar pukul 09.00. Meskipun masih ada menu makanan yang tersisa. Makanan yang masih ada itu selanjutnya dikirimkan ke sejumlah panti asuhan di kota batik menggunakan sebuah becak. “Jadi, makanannya tetap bermanfaat untuk mereka yang membutuhkan,” tuturnya.

Sentilan

Dia membeberkan, maksud dari pendirian warung tersebut selain untuk membantu pemenuhan gizi warga tidak mampu, juga punya maksud lain. “Dengan adanya warung seperti ini, sekaligus untuk menyentil orang-orang kaya, para saudagar, pejabat, atau siapapun untuk ikut peduli terhadap nasib rakyat miskin yang kesusahan,” bebernya.

Tujuan lainnya, adalah untuk mengembalikan fungsi Alun-alun Kota Pekalongan agar kembali menjadi tempat pilihan rakyat kecil untuk berkumpul dan menikmati makanan murah namun sehat dan bergizi.

Sebab, katanya, saat ini seolah Alun-alun sudah tidak lagi menjadi milik rakyat kecil. “Saat ini, makanan yang ada di kawasan alun-alun ini harganya mahal. Maka, fakir miskin tidak lagi bisa menikmati makan makanan murah di Alun-alun. Dengan adanya warung seperti ini, Alun-alun kembali menjadi pilihan rakyat kecil untuk bisa menikmati makanan,” ujarnya.

Sedangkan mengenai jam buka dan jam tutup warung sedekah itu, menurut dia sengaja dibuka sejak pagi, dan tutup di pagi itu juga. Hal ini karena mereka menghormati aturan dari Pemkot setempat yang sebenarnya tidak membolehkan lokasi itu untuk berdirinya sebuah warung makan. “Padahal kalau boleh buka di sini sampai sore, ya kita akan buka sampai sore. Bahkan kalau perlu, sampai malam hari maupun selama 24 jam,” tandasnya.

Maka dari itu, pihaknya berharap agar Pemkot mengizinkan warung tersebut buka di lokasi tersebut sampai malam, ataupun sampai 24 jam. Jika tidak diizinkan di lokasi sekarang pun tidak masalah, namun setidaknya harus diberi lokasi khusus asal masih di sekitar Alun-alun Kota Pekalongan. “Sehingga rakyat kecil bisa tetap menikmati makan murah di sini, selama 24 jam. Alun-alun Kota Pekalongan akan kembali menjadi tempat pilihan masyarakat kecil untuk menikmati makanan dengan harga murah bahkan gratis,” pungkasnya. (way)

sumber: radarpekalonganonline.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar